• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

3.2 Kondisi Umum Kabupaten Indramayu

La-Nina merupakan kebalikan dari El-Nino

yang dicirikan dengan mendinginnya permukaan lautan Pasifik Timur, sehingga pusat-pusat konvergensi udara Pasifik tropis akan berada di wilayah Indonesia, yang merupakan kolom-kolom udara panas yang cenderung membentuk awan dan hujan, sehingga jumlah hujan yang jatuh di Indonesia jauh di atas normal (Koesmaryono et al, 1999).

2.2 Pemanfaatan Informasi Prakiraan Iklim

Informasi prakiraan iklim yang dikeluarkan oleh BMG mengandung dua informasi utama. Pertama informasi prakiraaan awal musim dan kedua informasi sifat hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Informasi prakiraan diberikan untuk setiap daerah prakiraan musim. Indramayu dibagi menjadi 6 daerah prakiraan musim (lampiran 1).

Berdasarkan data luas kekeringan dari tahun 1989-2001, rata-rata luas terkena

kekeringan pada tahun El-nino mencapai 50.000-180.000 ha, sementara pada tahun normal antara 500-15.000 ha (Boer and Team, 2003). Kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian kekeringan sangat ditentukan oleh waktu terjadinya kekeringan. Penelitian Zubaida (2004) menunjukkan bahwa kerugian akibat kekeringan petani Indramayu berkisar antara 1.9 sampai 3.6 juta rupiah, tergantung pada tingkat umur tanaman terkena kekeringan.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Boer dan Setyadipratikto (2003), apabila petani Indramayu secara konsisten mengikuti ramalan musim, maka total kerugian kumulatif dari kegagalan panen akibat kejadian El-Nino antara tahun 1990-2001 dapat ditekan sampai 284 milyar rupiah apabila banyak petani yang respon terhadap informasi prakiraan hanya 25%, dan mencapai 400 dan 600 milyar rupiah apabila petani yang respon 50% dan 75%.

Hasil penelitian Ratri (2005) menunjukkan bahwa peran kelembagaan baik pada tingkat petani maupun pada tingkat kabupaten sangat penting dalam meningkatkan kemampuan petani mengatasi risiko iklim. Pada tingkat petani, penguatan kelembagaan dan kerjasama kelompok tani untuk mengantisipasi kejadian iklim ekstrim perlu dikembangkan. Salah satunya ialah pelaksanaan sekolah lapangan iklim atau SLI

(Boer et al, 2004 ). Kegiatan SLI

merupakan salah satu upaya pemberdayaan petani untuk mengatasi kejadian iklim ekstrim melalui pemilihan teknologi.

BAB III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di enam Kecamatan di Kabupaten Indramayu yaitu, Kecamatan Cantigi, Lelea, Terisi, Kroya, Gabuswetan dan Kandanghaur pada bulan Maret sampai Juni 2005. Penentuan lokasi penelitian di Kabupaten Indramayu ini berdasarkan karekteristik Indramayu yang sangat rentan terhadap kejadian Iklim ekstrim, diantaranya kekeringan dan kebanjiran. Keadaan umum lokasi penelitian pada enam Kecamatan pada lampiran 2.

3.2 Kondisi Umum Kabupaten Indramayu

Secara geografis, Kabupaten Indramayu terletak pada 107°52’ – 108°36’ BT dan 61°5’ – 64°0’ LS. Secara administrasi, Sumber : http://www.jason.oceanobs.com/html/applications/

enso/nino_explication_uk.html

Gambar 1 : Ilustrasi Fenomena El-nino

Sumber : http://www.jason.oceanobs.com/html/applications/ enso/nino explication uk.html

10

bagian Timur dan subsidensi di atas kontinen maritim Indonesia. Subsidensi ini akan menghambat pertumbuhan awan konveksi sehingga pada beberapa wilayah di Indonesia terjadi penurunan jumlah hujan yang jauh dari normal (Effendi, 2001)

La-Nina merupakan kebalikan dari El-Nino

yang dicirikan dengan mendinginnya permukaan lautan Pasifik Timur, sehingga pusat-pusat konvergensi udara Pasifik tropis akan berada di wilayah Indonesia, yang merupakan kolom-kolom udara panas yang cenderung membentuk awan dan hujan, sehingga jumlah hujan yang jatuh di Indonesia jauh di atas normal (Koesmaryono et al, 1999).

2.2 Pemanfaatan Informasi Prakiraan Iklim

Informasi prakiraan iklim yang dikeluarkan oleh BMG mengandung dua informasi utama. Pertama informasi prakiraaan awal musim dan kedua informasi sifat hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Informasi prakiraan diberikan untuk setiap daerah prakiraan musim. Indramayu dibagi menjadi 6 daerah prakiraan musim (lampiran 1).

Berdasarkan data luas kekeringan dari tahun 1989-2001, rata-rata luas terkena

kekeringan pada tahun El-nino mencapai 50.000-180.000 ha, sementara pada tahun normal antara 500-15.000 ha (Boer and Team, 2003). Kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian kekeringan sangat ditentukan oleh waktu terjadinya kekeringan. Penelitian Zubaida (2004) menunjukkan bahwa kerugian akibat kekeringan petani Indramayu berkisar antara 1.9 sampai 3.6 juta rupiah, tergantung pada tingkat umur tanaman terkena kekeringan.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Boer dan Setyadipratikto (2003), apabila petani Indramayu secara konsisten mengikuti ramalan musim, maka total kerugian kumulatif dari kegagalan panen akibat kejadian El-Nino antara tahun 1990-2001 dapat ditekan sampai 284 milyar rupiah apabila banyak petani yang respon terhadap informasi prakiraan hanya 25%, dan mencapai 400 dan 600 milyar rupiah apabila petani yang respon 50% dan 75%.

Hasil penelitian Ratri (2005) menunjukkan bahwa peran kelembagaan baik pada tingkat petani maupun pada tingkat kabupaten sangat penting dalam meningkatkan kemampuan petani mengatasi risiko iklim. Pada tingkat petani, penguatan kelembagaan dan kerjasama kelompok tani untuk mengantisipasi kejadian iklim ekstrim perlu dikembangkan. Salah satunya ialah pelaksanaan sekolah lapangan iklim atau SLI

(Boer et al, 2004 ). Kegiatan SLI

merupakan salah satu upaya pemberdayaan petani untuk mengatasi kejadian iklim ekstrim melalui pemilihan teknologi.

BAB III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di enam Kecamatan di Kabupaten Indramayu yaitu, Kecamatan Cantigi, Lelea, Terisi, Kroya, Gabuswetan dan Kandanghaur pada bulan Maret sampai Juni 2005. Penentuan lokasi penelitian di Kabupaten Indramayu ini berdasarkan karekteristik Indramayu yang sangat rentan terhadap kejadian Iklim ekstrim, diantaranya kekeringan dan kebanjiran. Keadaan umum lokasi penelitian pada enam Kecamatan pada lampiran 2.

3.2 Kondisi Umum Kabupaten Indramayu

Secara geografis, Kabupaten Indramayu terletak pada 107°52’ – 108°36’ BT dan 61°5’ – 64°0’ LS. Secara administrasi, Sumber : http://www.jason.oceanobs.com/html/applications/

enso/nino_explication_uk.html

Gambar 1 : Ilustrasi Fenomena El-nino

Sumber : http://www.jason.oceanobs.com/html/applications/ enso/nino explication uk.html

11

Kabupaten Indramayu memiliki luas wilayah administrasi 204,011 ha yang terbagi menjadi 24 kecamatan sejak 2002 (BPS Kabupaten Indramayu, 2002).

Jumlah penduduk Kabupaten Indramayu pada tahun 2004 triwulan ke dua mencapai 1.653.451 jiwa dengan komposisi laki-laki 836.528 jiwa dan perempuan 816.923 jiwa, laju pertumbuhan penduduk mencapai 0,65 % (BPD Kabupaten Indramayu, 2004).

Topografi wilayah Kabupaten Indramayu sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanah rata-rata 0-2 %. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap drainase dan biasanya kalau curah hujan tinggi, maka akan terjadi genangan air di daerah-daerah tertentu (BPS Kabupaten Indramayu, 2002)

Suhu harian di Kabupaten Indramayu berkisar antara 26°-27°C dengan suhu harian tertinggi 3O°C dan terendah 18°C. Kelembaban udara berkisar antara 70-80%. Curah hujan rata-rata tahunan 1.428,45 mm per tahun dengan jumlah hujan 75 hari. Tipe iklim di Kabupaten Indramayu menurut klasifikasi Scmid & Ferguson, termasuk iklim tipe D atau iklim sedang dengan karakteristik sebagai berikut : Suhu udara harian berkisar antara 26° -27° Celcius, dengan suhu udara tertinggi 30°

Celcius dan terendah 18° Celcius. Kelembaban udara berkisar 70-80 %. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 1.428,45 mm dengan jumlah

hari hujan 75 hari (

http://www.indramayu.go.id/1profil/ge

ografis.php

Jenis tanah yang dominan di Kabupaten Indramayu adalah tanah Aluvial (52,52%), Clay Grumosol (15,85%) dan Podzoloik (31,63%). Ketiga jenis tanah ini memiliki permeabilitas yang rendah dan dengan keadaan topografi yang landai akan berpengaruh terhadap sistem drainase, bila curah hujan tinggi maka di daerah tertentu akan terjadi genangan air (BPS Kabupaten Indramayu, 2002). Penggunaan lahan di Kabupaten Indramayu pada tabel 1. Tabel 1. Penggunaan Lahan

3.3 Metode Penelitian 3.3.1 Data

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui pengumpulan data sekunder dan data primer. Data primer diperoleh dari survei dan wawancara dengan petani. Responden yang di wawancarai dibagi dalam beberapa kategori yaitu, penggarap dan pemilik lahan, penyewa dan bagi hasil (Tabel 2).

Tabel 2. Jumlah petani berdasarkan masing masing kategori

No Kategori petani Jumlah Petani

1 Pemilik-penggarap 40

2 Penyewa 13

3 Bagi Hasil 7

Total 60

Data sekunder yang dikumpulkan meliputi, luas daerah dan tinggi tempat di atas permukaan laut (dpl), data rata-rata curah hujan wilayah Indramayu tahun 1996-2002, data evaporasi dari Bendung Rentang dan Bendung Cipanas I tahun 1996-2002, data bencana alam (kekeringan dan kebanjiran selama 15 tahun (1989-2003).

3.3.2 Analisis Data

Jenis data dan informasi yang dikumpulkan melalui survey ialah :

1. Tingkat pemanfaatan informasi ramalan

iklim dalam sistem usaha tani

2. Teknologi budidaya yang digunakan

petani untuk mengantisipasi iklim ekstrim

3. Analisis ekonomi usaha tani

4. Bantuan yang diterima petani ketika

mengalami kerugian yang disebabkan oleh bencana alam

Kuisioner yang digunakan dalam survey terdapat pada lampiran 3.

Bentuk teknologi budidaya yang dievaluasi dalam penelitian ini lima bentuk pola tanam, yaitu pola tanam yang sudah pernah dilakukan oleh petani Indramayu diantaranya:

1. Padi+Kacang Panjang

2. Padi+Kacang Hijau

3. Padi+Semangka

4. Padi+Padi

Pola tanam 5 (padi-padi) merupakan bentuk pola tanam yang umum digunakan oleh petani Indramayu. Penanaman padi kedua yang biasanya sering terkena kekeringan, sehingga pengantian jenis tanaman menjadi non-padi (pola tanam 1-4) diharapkan dapat menghindari atau mengurangi kerugian

No Penggunaan Lahan Luas Lahan (ha) 1 Sawah 118,513 2 Hutan 34,299 3 Lahan Industri 3,505 4 Permukiman 19,472 5 Perkebunan 6,058 6 Tambak/rawa/kolam 16,231 7 Lain-lain 5,916

12

petani akibat dari kekeringan. Besar perbedaan pendapatan antara petani yang selalu menggunakan pola padi-padi tanpa memperhatikan informasi prakiraan iklim dan petani yang menganti tanamannya menjadi non-padi apabila diberikan informasi prakiraan dijadikan sebagai indikator untuk menentukan besarnya nilai ekonomi informasi prakiraan iklim.

Prediksi penurunan hasil tanaman padi dan non-padi penanaman kedua akibat kekeringan diduga dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Allen (1998) dalam FAO

Irrigation and Drainage Paper No 33, yaitu:

⎥⎦

⎢⎣

⎡ −

=

⎥⎦

⎢⎣

⎡ −

ETc

ETa

Ky

Ym

Ya

1

1

... (1) dimana :

Ky = Respon hasil panen akibat ketersediaan air

Ym = Produktivitas maksimum (ton/ha) Ya = Perkiraan Produksi aktual (ton/ha) ETa = Evapotranspirasi aktual

ETc = Evapotranspirasi tanaman

Nilai Ky untuk tanaman padi diasumsikan sama dengan 1.0, sedangkan untuk kacang panjang dan kacang hijau diasumsikan sama dengan nilai Ky rata-rata tanaman kacang-kacangan yaitu 0.87 (FAO, 2000). Untuk semangka nilai Ky ditentukan berdasarkan proporsi antara nilai rata-rata kc semangka dengan kc kacang-kacangan. Berdasarkan data dari FAO (1998), nilai proporsi tersebut ialah sekitar 0.86, sehingga nilai Ky yang digunakan untuk semangka sekitar 0.86*0.87=0.75.

Evapotranspirasi Tanaman (ETc) diduga dengan menggunakan rumus Doorenbos dan Pruitt (1977):

ETc = Kc x ETp ... (2) dimana :

ETc = Evapotranspirasi Tanaman Kc = Koefisien Tanaman ETp = Evapotranspirasi Standard

Evapotranspirasi Standard (ETp) dapat diduga dari Evaporasi panci (Eo), yaitu:

ETp = Kp x Eo ...(3) dimana :

ETp= Evapotranspirasi Standard Kp = Koefisien Panci

Eo = Evaporasi Panci

ETa pada persamaan (1) di asumsikan = CH apabila ETp > CH, ETa = ETp apabila ETp < CH.

Mengukur ETp secara praktis digunakan pengertian evapotranspirasi standar (Doorenboss dan Pruitt 1977). ETp adalah

evapotranspirasi dari lahan yang ditutupi 100% oleh rerumputan hijau dengan tinggi antara 8 – 15 cm dan karakteristik kekasaran aerodinamik yang relatif konstan serta minimum selama musim tumbuhnya.

Penyusunan rekomendasi pola tanam untuk antisipasi kejadian iklim ekstrim

Rekomendasi pola tanam ditentukan berdasarkan pada besar nilai prediksi hasil

aktual (Ya). Pola tanam yang tanaman

keduanya memiliki Ya hampir sama dengan

hasil maksimum (Ym) merupakan pola tanam

yang direkomendasikan. Pendugaan hasil

aktual (Ya) dilakukan untuk tiga waktu

tanam yaitu bulan April, Mei dan Juni karena di Indramayu panen padi pertama biasanya berlangsung mulai dari bulan April sampai Juni. Rata-rata umur tanaman hingga panen diasumsikan ± 3 bulan. Asumsi ini digunakan karena basis waktu untuk perhitungan ialah dengan interval bulanan. Nilai Ya dihitung dengan menggunakan data iklim (hujan dan evaporasi) dari tahun 1996-2002.

Menghitung nilai ekonomi prakiraan informasi iklim

Berdasarkan perhitungan nilai ekonomi petani pada saat Normal dan pada saat El-Nino dapat ditentukan berapa nilai ekonomi prakiraan informasi iklim.

Menghitung nilai ekonomi prakiraan informasi iklim diasumsikan dua kelompok petani yaitu, petani responsif dan petani tidak responsif. Petani responsif adalah petani yang menggunakan pola tanam alternatif (Padi+Kacang Panjang, Padi+Kacang Hijau, Padi+Cabe dan Padi+Semangka), sedangkan petani yang tidak responsif adalah petani yang hanya menggunakan pola tanam Padi+Padi saja. Cara perhitungannya sebagai berikut :

1. Asumsikan pada tahun 1991-2005,

dimana El-Nino terjadi pada tahun 1991, 1992, 1993, 1994,1997, 2002 dan 2003, sedangkan Normal terjadi pada tahun 1995, 1996, 1998, 1999, 2001, 2004 dan 2005

2. Pada tahun El-nino, maka keuntungan

yang diperoleh diasumsikan keuntungan yang telah diperoleh pada perhitungan sebelumnya, begitu juga pada tahun normal.

Kumulatif keuntungan selama 15 tahun tersebut dapat diketahui sehingga diperoleh pola yang paling mengguntungkan.

13

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Bentuk Kejadian Iklim Ekstrim di Indramayu

Tabel 3. Luas Bencana Alam selama 15 tahun (1989-2003) di Indramayu

Tahun Banjir (ha) Kekeringan (ha)

1989 6733 0 1990 0 2474 1991 0 34573 1992 0 0 1993 5038.5 1582 1994 5848 12079 1995 6892 0 1996 18492 100 1997 0 7730 1998 0 0 1999 0 329 2000 0 0 2001 13 0 2002 6598 26787 2003 0 34482 Jumlah 49615 120136

Berdasarkan tabel 3, kejadian kekeringan lebih sering terjadi dari tahun 1989 – 2003.

4.2 Analisis Jawaban Responden

Dokumen terkait