• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami Proses Pengambilan Keputusan dalam Pemilihan Jenis

BAB III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

4.6 Menyusun Rekomendasi Skenario Antisipasi Terhadap Kejadian Iklim

4.6.1 Memahami Proses Pengambilan Keputusan dalam Pemilihan Jenis

Teknologi Budidaya Antisipasi Iklim Ekstrim di Tingkat Petani

Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan para responden, proses pengambilan keputusan dalam pemilihan jenis teknologi budidaya antisipasi iklim ekstrim masih sangat sederhana. Para anggota kelompok dikumpulkan oleh ketua kelompok masing-masing untuk mendiskusikan tindakan yang perlu dilakukan mengantisipasi iklim ekstrim.

Untuk musim tanam pertama beberapa petani di kecamatan tertentu menggunakan sistem Gogo Rancah jika petani melihat bahwa hujan sudah mulai sedikit.

Beberapa petani di Indramayu telah melakukan sistem Culik untuk mengantisipasi keterlambatan tanam, sehingga teknik ini selalu dilakukan oleh petani (sudah merupakan kebiasaan) memasuki musim tanam ke dua.

Menyikapi kedua pernyataan oleh petani di atas, dapat disimpulkan bahwa petani tersebut cenderung melakukan tindakan berdasarkan apa yang mereka lihat pada saat itu atau hanya mengikuti tindakan-tindakan yang telah dilakukan dari dahulu, tanpa mempertimbangkan informasi iklim yang mereka peroleh. Hal ini disebabkan kurangnya

pengetahuan petani akan pentingnya informasi iklim tersebut

4.6.2 Rekomendasi Skenario

Antisipasi Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim

Nilai Ya (Potensi Hasil) yang telah diperoleh diasumsikan masing-masing petani yang tidak melakukan tanam padi pada saat gadu melakukan usaha lain seperti menanam kacang panjang, kacang hijau, cabe dan semangka di masing-masing lahan sawah yang mereka miliki. Petani diasumsikan melakukan pola seperti yang telah dijelaskan pada metode penelitian ini.

Hasil ketiga asumsi awal musim tanam, untuk pola tanam kacang panjang, cabe, kacang hijau dan semangka lebih menguntungkan jika melakukan penanaman pada awal bulan April baik pada saat normal maupun pada saat El-Nino. Sedangkan untuk tanaman padi, pada saat El-Nino tanaman padi akan menguntungkan bila ditanam pada awal bulan Juni dan pada saat Normal pada awal bulan April.

Melihat masing-masing pola tersebut dapat diketahui pola mana yang sangat menguntungkan petani dan pola tanam alternatif lainnya yang dapat dilakukan oleh petani selain pola tanam yang sangat menguntungkan tersebut.

Pola yang sangat menguntungkan petani pada saat Normal dan El-nino adalah pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang. Pada pola di atas beberapa hal diasumsikan sebagai berikut :

a. Lahan yang digunakan petani untuk

menanam dengan wawancara dengan petani

b. Analisis biaya untuk rendengan sesuai

dengan wawancara dengan petani

c. Petani yang diasumsikan melakukan

pola diatas adalah petani yang hanya melakukan penanaman pada saat rendengan saja.

d. Pola-pola di atas diasumsikan digunakan

petani pada saat Tahun El-nino (Tahun 1997) dan tahun Normal (1999)

Gambar 16. Bantuan yang di inginkan oleh Petani 0 5 10 1 2 3 4 5 6 Bantuan

1 (Pompa), 2 (Dana), 3 (Pupuk), 4 (Traktor), 5 (Bor Pantek), 6 (Perbaikan Saluran/Bendungan) Ju m lah B an tu an

21

0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 30000000 35000000 40000000 P-KP P-KH P-C P-S P e rb e d a a n Ke unt unga n de nga n Pata n i P-P (R p /h a ) El-Nino Normal 4.7 Mengevaluasi Nilai Ekonomi Prakiraan

Informasi Iklim

Disimpulkan dari ke empat pola di atas, bahwa pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang lebih menguntungkan jika dilakukan pada saat El-Nino maupun pada saat Normal. Pola tanam Padi+Kacang Hijau dan Padi+Semangka juga menguntungkan pada saat El-Nino dan Normal , namun pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang lebih dianjurkan untuk dilakukan.

Jika petani melakukan pola di atas yang nantinya dianjurkan oleh Dinas Pertanian dan Perternakan yang telah bekerjasama dengan BMG, maka akan meningkatan pendapatan (keuntungan) yang diperoleh petani. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani disebut nilai ekonomi prakiraan informasi iklim.

Gambar 18 diperoleh dengan mengasumsikan beberapa tingkat harga. Tujuan melakukan asumsi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana keuntungan yang diperoleh petani jika terjadi penurunan harga dan kenaikan harga.

Harga normal masing-masing pola tanam dengan harga Rp 2000 untuk pola Padi+Kacang Panjang, Rp 2000 untuk pola Padi+Kacang Hijau, Rp 3000 untuk pola Padi+Cabe dan Rp 700 untuk pola Padi+Semangka.

Berdasarkan tingkat harga ini pola yang sangat menguntungkan pada saat El-Nino adalah pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang, tetapi dilihat dari keuntungannya pola Padi+Kacang Panjang lebih menguntungkan. Maka petani dianjurkan untuk melakukan pola Padi+Kacang Panjang.

Jika harga naik 25%, terjadi peningkatan keuntungan rata-rata dan terjadi penurunan kerugian jika petani melakukan pola Padi+Kacang Hijau dan pola Padi+Semangka pada saat Normal.

Jika terjadi penurunan harga sebesar 25% dan 50%, pola Padi+Kacang Panjang masih dapat dianjurkan untuk dilakukan pada saat Normal dan El-Nino, untuk pola Padi+Cabe masih dapat dilakukan pada saat El-Nino, namun tidak dianjurkan untuk dilakukan karena akan merugikan petani, sedangkan pola Padi+Semangka dilihat dari keuntungan yang diperoleh pada saat El-Nino sangat sedikit.

Menghitung nilai ekonomi prakiraan informasi iklim diasumsikan dua kelompok petani yaitu : kelompok petani yang responsif dan kelompok petani yang tidak responsif. Kelompok petani yang responsif adalah kelompok petani yang menggunakan pola tanam alternatif (Padi+Kacang Panjang, Padi+ Kacang Hijau, padi+Cabe dan Padi+Semangka) pada saat Normal dan El-Nino. Sedangkan kelompok petani yang tidak responsif adalah kelompok petani yang hanya menggunakan pola tanam Padi+Padi pada saat El-Nino dan Normal. Menghitung nilai ekonomi prakiraan informasi iklim diasumsikan pada tahun 1991-2005, dimana El-Nino terjadi pada tahun 1991, 1992, 1993, 1994,1997, 2002 dan 2003, sedangkan Normal terjadi pada tahun 1995, 1996, 1998, 1999, 2001, 2004 dan 2005.

Gambar 17. Perbedaan Keuntungan dengan Pola Tanam Padi+Padi

Gambar 18. Perbedaan Keuntungan dengan Petani yang Menggunakan Pola tanam Padi-Padi

0 8000000 16000000 24000000 32000000 40000000 48000000 El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al Padi-Kacang Panjang Padi-Kacang Hijau Padi-Cabe Padi-Semangka P e r b e d aan K e u n tu n gan d e ng a n P e ta ni P -P ( R p/ ha ) Harga Normal

Naik 25 % dari Normal Turun 25 % dari Normal Turun 50 % dari Normal

22

Dapat di lihat dari grafik di atas bahwa keuntungan yang diperoleh kelompok petani responsif (yang menggunakan pola P+KP, P+KH, P+C, P+S) lebih besar dari kelompok petani yang tidak responsif.

Asumsikan jika keuntungan menanam padi gadu diperoleh petani pada saat El-Nino 50% dari hasil Normal maka dapat dilihat pada gambar 20 bahwa pola Padi+Kacang Panjang dan pola Padi+Cabe masih dapat dilakukan pada saat Normal dan el-Nino.

V. KESIMPULAN

Bentuk kejadian iklim ekstrim di Indramayu dapat di ketahui dari data sekunder, dimana dari kejadian banjir dan kekeringan selama 15 tahun, frekuensi kejadian yang sering terjadi adalah kekeringan yang telah merusak lahan seluas 120.136 ha selama 15 tahun.

Besarnya dampak kejadian iklim ekstrim diduga dari selisih keuntungan yang diperoleh petani saat melakukan tanam padi gadu pada saat El-Nino, yaitu sekitar Rp 2.733.500.

Rekomendasi skenario antisipasi

terhadap kejadian iklim ekstrim dimulai dengan menghitung nilai Ya (Perkiraan produksi aktual), kemudian dihitung keuntungan yang diperoleh jika melakukan beberapa pola dan pola yang sangat mengguntungkan adalah pola Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang dilakukan pada saat El-Nino maupun pada saat Normal. Pola tanam Padi+Kacang Hijau dan Padi+Semangka juga menguntungkan pada saat El-Nino dan Normal , namun pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang lebih dianjurkan untuk dilakukan.

Nilai ekonomi prakiraan informasi iklim dapat dihitung dengan cara mengasumsikan dua kelompok petani yaitu petani yang responsif (petani yang menggunakan salah satu pola alteratif (Padi+Kacang Panjang, Padi+Kacang Hijau, Padi+Cabe dan Padi+Semangka)) dan petani yang tidak responsif (petani yang hanya menggunakan pola Padi+Padi), dari keuntungan kumulatif yang diperoleh oleh kedua kelompok petani ini selama 15 tahun diperoleh bahwa pola Padi+Kacang Panjang dan Padi+Cabe sangat mengguntungkan dilakukan pada saat El-Nino.

SARAN

Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang harus diperbaiki, diantaranya perolehan data yang sangat terbatas, untuk kedepannya agar dapat memperoleh data yang cukup, sehingga memudahkan dalam perhitungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Allen RG, et al. 1998. Crop

Evapotranspiration, Guidelines for Computing Crop Water Requirements, FAO Irrigation and Drainage Paper 56. FAO United Nation.

BPS Kabupaten Indramayu. 2002. Indramayu Dalam Angka. BPS Indramayu. Indramayu

BPS Kabupaten Indramayu . 2002. Kecamatan Cantigi. Badan Pusat Statistik dengan Badan Perencanaan

Daerah Kabupaten Indramayu.Indramayu

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Indramayu. 2004. Potensi Gambar 19. Kumulatif Pendapatan Kelompok Petani

yang Responsif dan yang Tidak Responsif

-100000000 0 100000000 200000000 300000000 400000000 500000000 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 Tahun Ru pi a h P-KP P-KH P-C P-S Tidak Responsif 0 8000000 16000000 24000000 32000000 40000000 48000000 El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al Padi-Kacang Panjang Padi-Kacang Hijau Padi-Cabe Padi-Semangka P e r be da a n K e unt ung a n de ng a n P e ta ni P -P ( R p/ ha ) Harga Normal Naik 25 % dari Normal Turun 25 % dari Normal Turun 50 % dari Normal

Gambar 20. Perbedaan Keuntungan dengan Petani yang Menggunakan Pola tanam Padi-Padi

22

Dapat di lihat dari grafik di atas bahwa keuntungan yang diperoleh kelompok petani responsif (yang menggunakan pola P+KP, P+KH, P+C, P+S) lebih besar dari kelompok petani yang tidak responsif.

Asumsikan jika keuntungan menanam padi gadu diperoleh petani pada saat El-Nino 50% dari hasil Normal maka dapat dilihat pada gambar 20 bahwa pola Padi+Kacang Panjang dan pola Padi+Cabe masih dapat dilakukan pada saat Normal dan el-Nino.

V. KESIMPULAN

Bentuk kejadian iklim ekstrim di Indramayu dapat di ketahui dari data sekunder, dimana dari kejadian banjir dan kekeringan selama 15 tahun, frekuensi kejadian yang sering terjadi adalah kekeringan yang telah merusak lahan seluas 120.136 ha selama 15 tahun.

Besarnya dampak kejadian iklim ekstrim diduga dari selisih keuntungan yang diperoleh petani saat melakukan tanam padi gadu pada saat El-Nino, yaitu sekitar Rp 2.733.500.

Rekomendasi skenario antisipasi

terhadap kejadian iklim ekstrim dimulai dengan menghitung nilai Ya (Perkiraan produksi aktual), kemudian dihitung keuntungan yang diperoleh jika melakukan beberapa pola dan pola yang sangat mengguntungkan adalah pola Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang dilakukan pada saat El-Nino maupun pada saat Normal. Pola tanam Padi+Kacang Hijau dan Padi+Semangka juga menguntungkan pada saat El-Nino dan Normal , namun pola tanam Padi+Cabe dan Padi+Kacang Panjang lebih dianjurkan untuk dilakukan.

Nilai ekonomi prakiraan informasi iklim dapat dihitung dengan cara mengasumsikan dua kelompok petani yaitu petani yang responsif (petani yang menggunakan salah satu pola alteratif (Padi+Kacang Panjang, Padi+Kacang Hijau, Padi+Cabe dan Padi+Semangka)) dan petani yang tidak responsif (petani yang hanya menggunakan pola Padi+Padi), dari keuntungan kumulatif yang diperoleh oleh kedua kelompok petani ini selama 15 tahun diperoleh bahwa pola Padi+Kacang Panjang dan Padi+Cabe sangat mengguntungkan dilakukan pada saat El-Nino.

SARAN

Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang harus diperbaiki, diantaranya perolehan data yang sangat terbatas, untuk kedepannya agar dapat memperoleh data yang cukup, sehingga memudahkan dalam perhitungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Allen RG, et al. 1998. Crop

Evapotranspiration, Guidelines for Computing Crop Water Requirements, FAO Irrigation and Drainage Paper 56. FAO United Nation.

BPS Kabupaten Indramayu. 2002. Indramayu Dalam Angka. BPS Indramayu. Indramayu

BPS Kabupaten Indramayu . 2002. Kecamatan Cantigi. Badan Pusat Statistik dengan Badan Perencanaan

Daerah Kabupaten Indramayu.Indramayu

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Indramayu. 2004. Potensi Gambar 19. Kumulatif Pendapatan Kelompok Petani

yang Responsif dan yang Tidak Responsif

-100000000 0 100000000 200000000 300000000 400000000 500000000 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 Tahun Ru pi a h P-KP P-KH P-C P-S Tidak Responsif 0 8000000 16000000 24000000 32000000 40000000 48000000 El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al El -Ni n o No rm al Padi-Kacang Panjang Padi-Kacang Hijau Padi-Cabe Padi-Semangka P e r be da a n K e unt ung a n de ng a n P e ta ni P -P ( R p/ ha ) Harga Normal Naik 25 % dari Normal Turun 25 % dari Normal Turun 50 % dari Normal

Gambar 20. Perbedaan Keuntungan dengan Petani yang Menggunakan Pola tanam Padi-Padi

23

Kabupaten Indramayu. Indramayu:Indramayu.

Badan Perencanaan Daerah Indramayu. 2006. Indramayu Online Vol. III Edisi I. [ 5

Maret 2007]. (

http://www.indramayu.go.id/1p

rofil/geografis.php

)

Boer R. and Team. 2003. Climate Forecast Information Application: Case Study at Indramayu District. Report submitted to Asian Disaster Preparedness Centre, Bangkok, Thailand

Boer R. and A. Setyadipratikto. 2003. Nilai ekonomi prakiraan iklim. Paper presented at Workshop ‘Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Pertanian di Sumatera Barat’, Auditorium Universitas Bung Hatta, Padang, 11-13 Agustus 2003

Boer R, Subbiah AR, Tamkani K, Hardjanto H, Alimoeso S. 2004. Institutionalizing Climate Information Application: Indonesian Case. Paper disajikan pada Inter-Regional Workshop on Strengthening Operational Agrometeorological Services at the

National Level, Manila Philippines 22-26 March 2004.

Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu. 2004. Laporan Tahunan 2003. Indramayu Doorenbos J, Pruitt WO. 1977. Crop Water

Ruquirements. FAO Irrigation and Drainage Paper 24. FAO United Nation.

Effendi S. 2001. Urgensi Prediksi Cuaca Dan Iklim Di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana / S3. Institut Pertanian Bogor.

http://www.rudyct.250x.com/se

m1_012/sobri.htm

Karyoto. 1995. Peranan BMG dalam

Mendukung Keberhasilan Pembangunan Pertanian di Indonesia

(Establish BMG Role in Indonesia in supporting the Sourches of Agricultural). Di dalam : Iklim dan Produktivitas Pertanian. Prosiding Simposium Meteorologi Pertanian IV Yogyakarta 26 – 28 Januari 1995. Yogyakarta : Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia. hlm 23.

Kirda C, et al. 2002. Deficit Irrigation

Practices.Water Report 22. FAO United.

Koesmaryono Y et al. 1999. Pendekatan

Iptek dalam Mengantisipasi Penyimpangan Iklim. Di dalam : Strategi Antisipasi Menghadapi Gejala Alam La-Nina & El-Nino Untuk Pembangunan Pertanian. Prosiding Diskusi Panel; Bogor, 1 Desember 1998. Bogor : Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia.

Ratri ND. 2005. Mekanisme Kelembagaan dalam Mengantisispasi Kejadian Iklim Ekstrim Studi Kasus Indramayu. Skripsi. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Sullivan DO. 1994. El-Nino and The

Southern Oscillation. http://www.longpaddock.

qld.gov.au/Help/.htm [11 April 2007]

Zubaida U. 2004. Analisis Kerentanan dan Mekanisme Adaptasi Petani Padi Indramayu Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim. Skripsi. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Sullivan DO. 1994. El-Nino and The

Southern Oscillation. http://www.longpaddock.

qld.gov.au/Help/.htm [11 April 2007]

24

Lampiran 1

N0 DPM Wilayah

1 I Bagian selatan Kecamatan Haurgelis/Gabuswetan/Bangodua

2 II Bagian utara Kecamatan Indramayu

3 III Bagian utara Kecamatan Anjatan/Sukra

4 IV Kecamatan Krangkeng /Karangampel/ Juntinyuat/Sliyeg/Kertasemaya/Jatibarang Widasari/ Sindang/

Lohbener/bagian utara Bangodua

5 V Kecamatan Losarang/Kandanghaur/Bongas/bagian timur Anjatan/bagian utara Gabuswetan

6 VI Kecamatan Lelea/bagian utara Cikedung/bagian utara Haurgelis/bagian utara Gabuswetan

D PM I

D PM I I

D PM I I I

D PM I V

D PM V

D PM V I

25

Lampiran 2

No Kecamatan Batas-Batas Kecamatan Jumlah

Desa Nama Desa

1. Cantigi - Sebelah Selatan : Kecamatan Arahan

- Sebelah Barat : Kecamatan Losarang dan Laut Jawa - Sebelah Utara : Laut Jawa

- Sebelah Timur : Kecamatan Sindang

6 Desa Cangkring, Cantigi

Kulon, Cantigi Wetan, Panyingkiran Kidul, Panyingkiran Lor dan Lamaran Tarung

2. Lelea - Sebelah Selatan : Kecamatan Bangodua

- Sebelah Barat : Kecamatan Cikedung - Sebelah Utara : Kecamatan Lohbener - Sebelah Timur : Kecamatan Widasari

11 Desa Tunggul Payung,

Tugu, Nunuk, Telagasari, Langensari, Tempel, Tempel Kulon, Pengauban, Tamansari, Lelea dan Cempeh.

3. Trisi - Sebelah Selatan : Kecamatan Losarang

- Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka - Sebelah Utara : Kecamatan Bangodua - Sebelah Timur : Kecamatan Cikedung

9 Desa Manggungan, Kendayakan, Karangasem, Cibereng, Plosokerep, Rajasinga, Jatimulya, Jatimunggul dan Cikawung

4. Kroya - Sebelah Selatan : Kecamatan Haurgeulis

dan Cikedung - Sebelah Barat : Kecamatan Haurgeulis - Sebelah Utara : Kecamatan Gabuswetan - Sebelah Timur : Kecamatan Cikedung

8 Desa Jaya Mulya, Sukamelang, Temiyang, Sumbon, Temiyang Sari, Kroya, Tanjung Kerta dan Sukaslamet

5. Gabuswetan - Sebelah Selatan : Kecamatan Kroya

- Sebelah Barat : Kecamatan Bongas - Sebelah Utara : Kecamatan Kandanghaur - Sebelah Timur : Kecamatan Losarang

10 Desa Drunten Wetan,

Drunten Kulon, Kedungdawa,

Babakanjaya,

Gabuskulon, Gabuswetan, Rancahan, Rancamulya, Sekarmulya dan Kedokan Gabus

6. Kandanghaur - Sebelah Selatan : Kecamatan Gabuswetan

- Sebelah Barat : Kecamatan Sukra dan Bongas

- Sebelah Utara : Laut Jawa

- Sebelah Timur : Kecamatan Losarang

13 Desa Karang Anyar,

Wirakanan, Karang Mulya, Wirapanjunan, Parean Girang, Ilir, Bulak, Curug, Pranti, Eretan Wetan, Eretan Kulon, Kertawinangun dan Soge

Lampiran 3.

26

Kuisioner untuk Petani

Nama : ……….. Umur : ……… tahun

Kelompok Tani : ………..

Pendapatan Usaha Tani dan Lainnya 1. Luas Lahan : ……….

2. Kelompok petani : a. Penggarap b. Pemilik lahan-penggarap c. Penyewa d. Bagi Hasil e. Lainnya 3. Jenis tanaman yang di tanam No Jenis Tanaman Luas Lahan yang di tanami Biaya Hasil 1 2 3 4. Jenis usaha lain selain bertani : a. Buruh b. Garam c. Dagang d. Ojek e. Batu Bata f. Ternak g. Lainnya ...

5. Apakah usaha diatas dilakukan secara rutin? a. Ya b. Tidak Jika Ya, waktunya kapan………..

6. Berapa rata-rata penghasilan petani dari usa diatas? 7. Apakah hasil dari usaha diatas dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya (pendidikan dan hiburan)? a. Ya b. Tidak Jika Tidak bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut? a. mencari pinjaman b. menggadai barang c. menjual barang Tenaga Kerja dan Biaya Produksi Usahatani 1. Jumlah tenaga kerja No Tanaman Jumlah Tenaga Kerja 1 2 3 2. Jumlah biaya yang dibutuhkan untuk sekali masa tanam Tanaman Kacang No Saprotan Padi Kedele Tanah Kacang Jagung ………

1 Bibit 2 Pupuk 3 Semprotan 4 Pengolahan tanah 5 Irigasi 6 Tenaga kerja 7 Panen 8 Sewa Tanah 9 Pajak Tanah 10 Lainnya TOTAL

3. Hasil tanaman sekali musim No Tanaman Hasil (ton) 1 Padi 2 ...

Sambungan Lampiran 3

27

1. Apakah petani menggunakan informasi ramalan iklim ? a. Ya b. Tidak

Jika Ya,

a. Dari mana informasi iklim diperoleh (dari PPL atau lembaga lainnya), lembaga

...

b. Tindakan apa yang dilakukan seteleh memperoleh informasi iklim?

c. Bagaimana cara memutuskan teknologi yang digunkan untuk menanam

tanaman?

2. Apa bentuk informasi iklim yang diterima?

3. Apakah bentuk informasi ramalan iklim tersebut sesuai dengan kebutuhan petani?

a. Ya b. Tidak

Jika Tidak, bentuk ramalan apa yang dibutuhkan petani agar dapat membantu dalam

mengatur strategi dalam penanaman?

4. Apa yang menyebabkan petani tidak bisa memanfaatkan informasi ramalan iklim secara

efektif?

5. Jelaskan kendala yang dihadapi sehingga tidak efektif dalam bisa memanfaatkan

informasi ramalan iklim dan berikan bentuk program atau kegiatan yang diharapkan sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif?

Bentuk Program , Strategi atau Kgiatan yang di lakukan Petani untuk Mengatasi Ancaman Kekeringan atau Banjir

1. Kapan waktu tanam padi pertama yang biasa petani lakukan?

2. Jika informasi iklim meramalkan awal musim hujan akan mundur 1 bulan dari biasanya

apa yang akan dilakukan dengan strategi penanaman?

3. Apakah mundurnya awal masuk musim hujan akan mempengaruhi untuk menanam padi

lagi pada musim tanam kedua? a. Ya b. Tidak

Jika Ya,

a. Apakah petani memilih tanaman lain? Apa jenis tanaman itu?

b. Apakah lahan pertanian tersebut diberakan?

4. Jika Informasi iklim meramalkan awal masuk musim hujan akan maju 1 bulan dari

biasanya apa yang akan dilakukan dengan strategi penanaman?

5. Apakah majunya awal masuk musim hujan akan mempengaruhi untuk menanam padi lagi

pada musim tanam kedua? a. Ya b. Tidak

Jika Ya,

c. Apakah petani memilih tanaman lain? Apa jenis tanaman itu?

d. Apakah lahan pertanian tersebut diberakan?

e. Apakah yang mempengaruhi petani untuk membuat keputusan demikian?

Jika Tidak,

Jika tetap tanam padi dan ternyata hujan sudah tidak ada lagi, apa upaya petani? (membuat sumur pompa, ambil air ke sungai dll, biaya yang diperlukan)?

6. Jika petani telah menanam padi dan diramalkan bahwa pada bulan Januari atau Februari

akan terjadi banjir apa yang akan dilakukan petani? (memperbaiki saluran pembuangan dan penampungan air)?

7. Berdasarkan pengalaman petani, jika terjadi banjir apakah tanaman petani gagal?Sebesar

apa banjir yang menurut petani dapat menghancurkan tanamannya (1 meter dan berlangsungnya 1 hari atau 2 hari)

8. Jika tanaman hancur oleh banjir, apakah petani akan menanam kembali?

Jika Ya,

a. Apakah petani mengalami masalah biaya, dan apakah ada jalan keluarnya

(meminjam uang)?

b. Jika meminjam uang bagaimana cara pengembalian uangnya (bagi hasil)?

Jika Tidak apa alsan petani untuk tidak menanam kembali?

9. Jika petani belum menanam dan diramalkan akan terjadi banjir, maka apa yang akan

petani lakukan? Sambungan Lampiran 3

28

Jika tetpa menanam, apa yang akan dilakukan petani agar tanamannya tidak hancur (mengganti dengan varietas yang tinggi sehingga tidak terendam air atau menanam secepat mungkin sehingga pada waktu banjir tinggi tanaman sudah lebih dari 1 meter? 10. Apa yang petani lakukan ketika tidak ke sawah atau ke ladang?

Bentuk Program Bantuan yang diberikan Oleh Pemda ke Ptani jika Terjadi Bencana Alam

1. Apakah petani mendapat bantuan dari Pemda jika terjadi bencana alam ? a. Ya

b. Tidak

Jika Ya

a. Apa bentuk program tersebut ?

b. Apa bantuan tersebut diberikan langsung ke petani atau lewat lembaga lain

misalnya LSM, koperasi (ketua kelompok tani) atau lembaga yang telah ditetapkan oleh Pemda?

2. Apakah ada lembaga lain yang memberikan bantuan selain Pemda ? a. Ya

b. Tidak

Jika Ya

a. Lembaga apa yang memberikan bantuan lepada petani?

b. Apa bentuk bantuan yang diberikan lembaga tersebut?

c. Berapa besar bantuan yang diberikan lembaga tersebut?

d. Kapan waktu pemberian bantuan tersebut?

3. Apakah di desa ini ada LSM, apa nama LSM tersebut dan apakah bantuan atau

keberadaan mereka sangat membantu petani?

4. Apakah menurut petani program atau bantuan yang diberikan pemerintah tidak menandai

atau tidak sesuai dengan yang diharapkan petani? a. Ya b. Tidak

JIka Ya, apa yang diharapkan petani dari bantuan pemerintah yang dapat membantu

Dokumen terkait