BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Penyajian Data
4.2.2 Hasil Temuan Lapangan
Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan Informan kunci yaitu Bapak Hamid selaku Pimpinan Bidang CSR PT Bank Sumut, yaitu:
A. Implementasi CSR PT Bank Sumut
CSR sudah dianggarkan sejak tahun 2011, namun booming dan aktifnya itu pada tahun 2014. Kenapa? Karena melihat minat dan kepedulian tadi, sudah saatnya perusahaan berkonsentrasi memulai program CSR untuk membantu pemerintah mendorong perekonomian masyarakat. Selama kurun waktu tahun 2011 sampai 2013, perusahaan tetap aktif menjalankan CSR, tapi tidak terlalu berkonsentrasi. Karena bukan bagian konsentrasi perusahaan ada disitu, namun sejak tahun 2014 barulah perusahaan membentuk tim khusus bidang CSR sehingga CSR sendiri ditangani oleh tim tersebut. Kemudian untuk hal ini tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab bersama, yaitu pihak pemberi CSR maupun penerima CSR atau panitia program. Kedua pihak tersebut menjadi penanggung jawab untuk program ini. CSR itukan sifatnya bantuan dari pemerintah melalui perusahaan, contohnya Bank Sumut. Jadi jika pemerintah mempunyai program pemberdayaan UMKM misalnya : bidang pameran, pemberdayaan dll, kita membantu pemerintah untuk mewujudkan program tersebut dengan dana CSR yang telah dicover oleh APBD.
Program CSR itu terkait tiga pilar, yang pertama pilar lingkungan kedua pilar pendidikan dan kewirausahaan dan yang ketiga adalah pilar ekonomi. Bentuk bantuan dari perusahaan sendiri yaitu bantuan pendanaan dan bantuan fisik atau materi. Jadi setiap lembaga atau organisasi masyarakat yang ingin membuat permohonan bantuan, pihak lembaga atau organisasi masyarakat tersebut harus membuat proposal pengajuan. Bentuk bantuan yang diberikan tergantung dengan apa yang diminta oleh lembaga tersebut. Biasanya kami akan melaksanakan pembinaan maupun bantuan tergantung dari permintaan proposal dari pihak lain atau dinas yang mengajukan. Setiap proposal memiliki ADRT, dalam proposal ini harus ada anggaran biaya apa yang ingin dibuat dalam program CSR ini. Apakah dia berbentuk fisik atau pemberdayaan. Permberdayaan ini biasanya sulit, dari sepuluh orang yang kita beri pelatihan, belum tentu semuanya bisa. Jadi setiap program itu case nya berbeda. Tidak semuanya diberi peralatan dan kemudian dilatih, semua tergantung permintaan dari penerima bantuan. Hanya saja secara moral pasti kita memotivasi penerima CSR agar memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik.
Tahapan dalam penyaluran CSR yang kami lakukan terhadap pengajuan proposal UMKM itu yaitu dengan menerima usulan program bantuan terhadap UMKM dari tim koordinasi maupun dari panitia program atau organisasi masyarakat, lalu unit CSR melakukan analisa terhadap kelayakan proposal atau usulan program tersebut. Apabila disetujui maka dilakukan realisasi melalui kantor cabang atau unit CSR langsung ke rekening panitia program atau organisasi masyarakat. Kemudian panitia program atau organisasi masyarakat tersebut dapat membelanjakan dana yang telah diberikan sesuai dengan yang ada
didalam RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang tercantum diproposal, misalnya : dana pembelian steling, pembelian mesin jahit, pembelian meja, dan sebagainya.
Kemudian untuk struktur organisasi dari tim bidang CSR seperti ini : Gambar 4.2
Hasil Temuan Lapangan
Struktur Organisasi Tim Bidang CSR PT Bank Sumut
Jika unit CSR menerima proposal dengan biaya permohonan bantuan diatas Rp. 1 Milyar pertahunnya, maka unit CSR harus meminta persetujuan langsung kepada Direktur Utama. Namun, jika proposal permohonan bantuan yang diterima tim unit CSR PT Bank Sumut dibawah Rp. 1 Milyar, maka tim unit CSR hanya perlu meminta persetujuan kepada Sekretaris Perusahaan. Sedangkan jumlah total nilai CSR yang diberikan oleh PT Bank Sumut berbeda-beda setiap tahunnya, karena dana CSR diambil dari penyisihan biaya tahun buku berjalan dan nilainya lebih kurang Rp. 1 Milyar lebih pertahun. Dan jumlah total dana CSR yang dipersenkan untuk bantuan tergantung kepada keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang besarannya ditentukan langsung oleh
PT BANK SUMUT
DIREKTUR UTAMA
UNIT CSR
SEKRETARIS PERUSAHAAN Persetujuan di
atas 1 milyar
Persetujuan di bawah 1 milyar
Untuk pengawasan penyaluran dana CSR, PT Bank Sumut melakukan cara dengan cek on the spot progress atau turun langsung dalam mengawasi pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh kantor cabang penyalur apabila penyaluran dana CSR melalui kantor cabang. Misalanya ada sebuah lembaga yang mengajukan proposal permohonan bantuan dana CSR kepada PT Bank Sumut, jika proposal lembaga tersebut disetujui maka penyaluran dana bantuan akan dilakukan oleh kantor cabang yang lokasinya berdekatan dengan kantor lembaga tersebut. Apabila tidak ada kantor cabang PT Bank Sumut terdekat, maka bantuan tersebut akan diturunkan langsung oleh Tim CSR PT Bank Sumut Kantor Pusat.
Untuk kuota yang disediakan oleh PT Bank Sumut untuk penerima bantuan CSR kepada pelaku UMKM tidak pasti setiap tahun nya, karena RAB dalam proposal untuk dana bantuan pelaku UMKM berbeda-beda jumlahnya setiap tahun. PT Bank Sumut mempunyai 3 pilar untuk program CSR, yaitu pilar lingkungan, pilar pendidikan dan kewirausahaan dan yang ketiga adalah pilar ekonomi. Jadi, bantuan yang diberikan PT Bank Sumut berdasarkan berapa banyak proposal yang masuk dan berapa proposal yang disetujui. Misalnya tahun ini proposal permohonan bantuan yang masuk kebanyakan mengenai pendidikan, jadi bantuan dana CSR tersebut banyak dialihkan untuk bantuan pendidikan misalnya perbaikan gedung sekolah. Begitu juga halnya dengan kedua pilar lainnya.
Untuk pengelolaan CSR sendiri kendala yang dihadapi PT Bank Sumut dalam memberikan bantuan CSR kepada pelaku UMKM adalah kelengkapan berkas administrasi. Contohnya adalah proposal yang diajukan isinya tidak sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan oleh PT Bank Sumut. Seringkali proposal yang masuk tidak sesuai dengan format yang diinginkan perusahaan, sehingga
lembaga atau organisasi yang mengajukan proposal tersebut harus melakukan revisi untuk mengurus kelengkapan berkas administrasi. Bahkan ada beberapa lembaga yang mengalami delapan kali revisi agar hasilnya sesuai dengan peraturan dan ketetapan dari pihak perusahaan. Jadi itu merupakan suatu kendala dari kita karena harus berkali-kali merevisi kesalahan proposal tersebut. Setiap kerja sama pasti mempunyai masalah, namun pihak PT Bank Sumut dapat mengantisipasi masalah tersebut. Sebelum memulai kerja sama dengan pihak lain, PT Bank Sumut telah membuat sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut diambil dari Standar Operasional Perusahaan (SOP) dan perjanjian kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disetujui oleh kedua pihak.
Jika suatu hari kerja sama antar kedua belah pihak mengalami masalah, maka pihak perusahaan dapat mengatasi nya dengan baik, karena semua ketentuan sudah ada didalam SOP dan MoU. Untuk saat ini apa yang telah diberikan oleh PT Bank Sumut dalam hal memberikan bantuan CSR kepada pelaku UMKM sudah sangat efektif dan optimal. Dan juga sudah sesuai dengan visi PT Bank Sumut yaitu membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian.
Tantangan terberat yang kami hadapi dalam menjalankan tugas selama menjadi pengaawas CSR adalah sulitnya memenuhi laporan pertanggung jawaban dari seluruh pihak yang menerima bantuan CSR pertahunnya karena mengingat banyaknya pihak yang mendapatkan bantuan dengan dana yang berbeda-beda.
B. Pemberdayaan UMKM
Menurut saya, jika dilihat dari sisi asset, UMKM Kota Medan masih perlu penataan dan bimbingan, dari segmentasi usahanya UMKM Kota Medan belum bisa dikatakan baik dan kurang bisa dibimbing. Produk yang dihasilkan
sebenarnya bagus dan kreatif, namun UMKM tersebut kurang dapat ditata dengan baik, kemasan produknya tidak bagus, lokasi penjualan belum baik atau kurang strategis. Bahkan ketika kita ingin membeli oleh-oleh khas Medan, kita tidak tau tujuannya harus kemana. Kita butuh tempat yang dapat meyediakan semua oleh-oleh khas Medan disatu tempat tersebut agar UMKM lebih dapat terarah. Jadi sebenarnya UMKM Kota Medan itu butuh bantuan, namun jika ditelaah lagi UMKM Kota Medan itu jauh lebih memerlukan pembinaan. Jika bantuan pendanaan atau fisik, sebenarnya tanpa bantuan tersebut pun UMKM bisa berdiri dan berjualan, namun tanpa pembinaan dan pemberdayaan, UMKM akan sulit mencari tempat yang baik di Kota Medan. Oleh sebab itu harapan saya sebenarnya UMKM itu harus bisa di tata lagi dari segi pemasaran dan kemasannya supaya menarik.
Perusahaan yang menganggarkan dana CSR mempunyai konsep pembinaan. Konsep pembinaan yang dilakukan perusahaan sebenarnya tidak sampai pada pembinaan pelaku UMKM tersebut, karena untuk bantuan CSR sendiri selama ini dinaungi oleh lembaga/organisasi masyarakat yang melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM. PT Bank Sumut dalam hal ini hanya memberikan bantuan berupa dana/fisik . Ada beberapa kekhawatiran yang akan terjadi apabila perusahaan memberikan bantuan CSR kepada individu, salah satunya adalah tidak optimalnya dana yang digunakan sehingga bantuan ysng diberikan tidak dapat berkembang dengan baik. Namun, PT Bank Sumut juga ikut berpartisipasi dengan cara mengawasi jalannya pembinaan yang dilakukan oleh lembaga/organisasi masyarakat tersebut. Harapan saya bantuan CSR yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik agar dana yang dikeluarkan oleh pihak
perusahaan tidak terbuang sia-sia. Serta harapan kami agar usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan benefit bagi UMKM tersebut. Sehingga apabila masa program CSR telah habis, maka pelaku UMKM dapat mengembangkan usahanya dan bergerak sendiri secara mandiri.
4.2.2.2 Informan Utama
1. Bapak Wanda (Lembaga Monumen Persahabatan)
Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan Informan utama pertama yaitu Bapak Wanda selaku pimpinan Lembaga Monumen Persahabatan, yaitu:
A. Implementasi CSR
Lembaga yang kami jalani sebelumnya tidak pernah menerima bantuan dana CSR kepada perusahaan lain, Terkhusus CSR sendiri, ini adalah yang pertama kalinya. PT Bank Sumut merupakan perusahaan pertama yang memberikan bantuan CSR kepada lembaga ini. Untuk meminta permohonan dana, kami harus membuat proposal. Pembuatan proposal pertama kali itu merupakan ide dari pihak lembaga sendiri mengenai format dan sebagainya, namun setelah diajukan kepada PT Bank Sumut, PT Bank Sumut lah yang melakukan revisi jika ada kesalahan yang dibuat oleh pihak lembaga. Dan sejauh ini, kita sudah mengalami tujuah kali revisian isi proposal. Kami harus cantumkan nama dan data diri dari penerima bantuan CSR agar semuanya menjadi jelas. Data penerima bantuan CSR kemudian RAB yang diajukan harus jelas. Terkhusus untuk kedua data tersebut, PT Bank Sumut yang membina pihak lembaga secara langsung. Dan untuk Feedback sendiri, yang diminta PT Bank Sumut sangat sederhana, yaitu menjadi nasabah mereka. Jadi diharapkan bagi pelaku-pelaku yang mendapatkan
bantuan CSR ini dapat menjadi nasabah dan menabung di Bank Sumut. Berbicara mengenai peranan CSR, Pihak lembaga tentunya mengapresiasi bantuan CSR dari PT Bank Sumut agar masyarakat Kota Medan bisa mandiri dalam menjalankan usaha. Peranan CSR tentunya sangat besar, dengan adanya bantuan CSR masyarakat yang mempunyai ide serta kreatifitas dalam menjalankan usaha tidak perlu terhambat lagi oleh masalah modal. Serta bantuan CSR terhadap UMKM Kota Medan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Kota Medan.
B. Pemberdayaan UMKM
Bantuan CSR yang diberikan dalam bentuk materi oleh PT Bank Sumut.
Dan didalam kasus ini, PT Bank Sumut memberikan bantuan yang sesuai dengan isi proposal pihak lembaga yang mengajukan. Dan dari lembaga kita sendiri, kita meminta bantuan gerobak ice blend. Dan dari rincian biaya, kita hitung bahwa kita membutuhkan sebanyak 45 gerobak ice blend. Dan itu akan kita berikan kepada pihak-pihak yang benar-benar membutuhkan gerobak tersebut. Dan gerobak tersebut sudah memenuhi semuanya, dari barang-barang seperti blender dan isinya, semuanya sudah lengkap dalam satu set gerobak. Dan pihak penerima bantuan tersebut hanya tinggal menjalankan saja usahanya. Kita mempunyai klasifikasi khusus untuk penerima bantuan CSR, pertama usia produktif owner berumur sekitar 15 tahun sampai 50 tahun. Kedua, penerima bantuan tersebut minimal pernah mengecam pendidikan sekolah dasar. Ketiga, penerima bantuan tersebut sedang tidak memiliki pekerjaan. Keempat, harus mempunyai jiwa kreatifitas yang tinggi serta loyal dan bertanggung jawab dalam menjalankan usaha. Kelima, penerima bantuan dikhususkan kepada yang sudah berumah tangga. Bagaimana cara kami menilai bahwa seseorang itu memiliki jiwa kreati?
Jadi sebelumnya pihak lembaga sudah pernah melakukan pertemuan dengan calon penerima bantuan CSR tersebut. Pihak lembaga dapat menilai seseorang tersebut memiliki kreatifitas serta loyalitas yang tinggi itu dari sesi Tanya jawab antar calon penerima CSR dan pihak lembaga. Melalui sesi tersebut, ada beberapa calon penerima yang menunjukkan ketertarikannya dengan cara aktif bertanya serta kemampuan mereka dalam berusaha.
Bagian pengawasan tentunya PT Bank Sumut akan melakukan survey untuk gerobak ice blend ini. Kedua, PT Bank Sumut dan pihak lembaga tetap harus terhubung komunikasinya, bagaimana perkembangan bagi pihak penerima yang sudah berjalan. Ketiga, pihak PT Bank sumut juga akan mendatangi pihak penerima bantuan CSR dan akan membuat rekening untuk menjadi nasabah di PT Bank Sumut, uang tersebut bukanlah menjadi milik PT Bank Sumut namun PT Bank Sumut akan membimbing penerima bantuan CSR untuk menabung. Pihak PT Bank Sumut junga ikut langsung dalam pemberian bantuan CSR yaitu penyerahan gerobak. Sebulan kemudian PT Bank Sumut akan datang lagi kepada para penerima bantuan CSR untuk melakukan survey yang sebelumnya telah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada pihak lembaga. Begitulah pemberdayaan yang diberikan PT Bank Sumut. PT Bank Sumut akan mengontrol terus perkembangan yang ada, sampai pada saatnya PT Bank Sumut sudah menganggap bahwa penerima bantuan CSR tersebut sudah dapat berjalan sendiri dan mandiri.
Pihak lembaga menyalurkan bantuan dari PT Bank Sumut ini secara percuma kepada penerima bantuan CSR, cara mengoptimalisasikannya dengan memberikan gerobak beserta seluruh isi dan barang-barangnya secara adil dan merata kepada semua pelaku UMKM. Jadi pelaku UMKM hanya tinggal
menjalankan usaha. Namun pihak lembaga tetap akan mengontrol dan memberikan pemahaman kepada pelaku UMKM agar usaha yang dijalankan bisa lebih kreatif lagi sehingga materi yang telah diberikan PT Bank Sumut tidak terbuang sia-sia.
Setiap menjalani program, pasti ada sebuah masalah apalagi menyangkut banyak pihak didalamnya. Namun kami sudah Pertama, jika masalah yang muncul misalnya pelaku UMKM tidak menjalankan usahanya meskipun telah diberikan satu set gerobak, maka gerobak tersebut akan kami ambil kembali dan akan kami cari pengganti pelaku UMKM yang lebih serius dalam menjalankan usaha. namun semua itu tidak terlepas dari arahan PT Bank Sumut selaku pemberi bantuan CSR, jika PT Bank Sumut membebaskan (mengikhlaskan) gerobak tersebut atau tidak ditarik kembali, maka kami akan mengikuti arahan tersebut.
2. Bapak Ismail (Non-Government Organization of Pilar Indonesia)
Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan Informan utama kedua yaitu Bapak Ismail selaku Direktur Non-Government Organization of Pilar Indonesia, yaitu:
A. Implementasi CSR
Dalam pengeertian yang kami pahami, CSR itu adalah tanggung jawab sebuah perusahaan atau institusi terhadap kondisi sosial disekitar dimana perusahaan tersebut beroperasi, dan sesuai dengan perundang-undangan yang ada CSR sudah diatur didalam regulasi Negara kita perusahaan wajib memberikan sumbangsih CSR nya dan itu bersifat mandatory atau wajib, jadi jika tidak diterapkan, perusahaan bisa mendapatkan sanksi, untuk sanksinya apa sesuai dengan regulasi yang ada. Jadi memang sebuah kewajiban yang ada dari
perusahaan untuk sosial, lingkungan, dan apapun yang ada di sekitarnya. Didalam program kami tentu masing-masing pihak mendapatkan feedback. Feedback kami sendiri untuk PT Bank Sumut hanya berbentuk laporan. Kita wajib menyerahkan laporan setiap termin kegiatan. Dana CSR tersebut keluar selama dua kali termin.
Ketika termin pertama keluar, maka kita harus menyerahkan laporan kepada PT Bank Sumut dan PT Bank Sumut sendiri datang untuk mensurvey sejauh apa program kita berjalan dan melihat apakah program tersebut sudah sesuai dengan yang kita rencanakan atau tidak. Pada saat termin satu, kita sudah melakukan banyak program seperti training, kemudian termin kedua kita sudah tahap pengadaan produksi seperti penyediaan boot dan gazebo.
B. Pemberdayaan UMKM
Pilar Indonesia biasa disebut oleh masyarakat iatu LSM, tapi kami lebih biasa disebut NGO (Non-Government Organization), program kami ada 3, pertama adalah lingkungan hidup, kedua adalah pemberdayaan masyarakat termasuk ekonomi didalamnya, dan ketiga adalah bidang pendidikan. Pendidikan ini seperti membangun rumah baca, kami punya rumah baca Bakau di Percut, kegiatan peningkatan minat baca masyarakat, kegiatan literasi, membangun rumah baca di desa lain, dan sebagainya. Belajar itu sendiri merupakan misi pendidikan sesuai dengan program ketiga dari lembaga kami. Sedangkan dengan PT Bank Sumut, kami bekerja sama sesuai dengan community development, didalam lingkungan itu ada penanaman hutan yang ada di sisi pesisir Percut yaitu hutan mangrove, ekowisata, dan sekarang kita sedang membangun resto di Percut yang mengandalkan masyarakat setempat untuk memberdayakannnya. Jadi sekarang kita sedang mengkombinasikan antara lingkungan hidup berupa ekowisata hutan
mangrove dengan resto yang dijalankan oleh para penduduk setempat. Kita bekerja sama dengan Tim CSR PT Bank Sumut pada tahun 2016. Pada tahun itu kita diberikan bantuan dana pembinaan tentang ekonomi berbasis pengolahan mangrove. Dari daun hutan jenis pohon mangrove tersebut, kita menginovasikan nya menjadi bentuk makanan dan olahan lainnya. Daun tersebut kita olah menjadi kerupuk dan minuman, berupa dawet mangrove. Daun tersebut kita blend dan dicampur dengan olahan dawet , kemudian buahnya kita jadikan jus maupun syrup. Jadi CSR tersebut berbentuk pendanaan, termasuk pelatihan-pelatihan didalamnya. Jadi ada dana untuk pelatihan, dana untuk pembelian alat produksi seperti tenda, gazebo, kemudian supporting untuk pemasaran produknya. PT Bank Sumut membina lembaga kami dengan cara: pertama, PT Bank Sumut mensupport pendanaan. Kedua, PT Bank Sumut memonitor dan memimpin dalam sesi pelatihan kepada komunitas dampingan kita.
Komunitas dampingan yang saya maksud adalah masyarakat. Jadi kita tidak memiliki anggota komunitas langsung dari lembaga. Jadi masyarakat lah yang berperan sebagai komunitas dampingan. Karena jika PT Bank Sumut memberikan pendanaan langsung kepada komunitas, maka dana yang dikeluarkan tidak akan berjalan dan terkontrol tanpa adanya pihak lembaga yang mengatur dan memberi bimbingan. Perusahaan pemberi CSR pasti akan mengkhawatirkan jika dana yang dikeluarkan turun langsung kepada masyarakat, maka banyak hal diluar jangkauan yang akan terjadi. Contohnya dana akan stuck ditempat, artinya pihak masyarakat tidak menjalankan dana tersebut sesuai semestinya. PT Bank Sumut memberikan CSR banyak berbentuk fisik, namun kemarin kita mengkombinasikan antara bentuk fisik dan penguatan, seperti training, pada saat
itu saya undang beberapa relasi UMKM yang saya kenal untuk memberikan training dan coaching kepada komunitas dampingan kita untuk menciptakan produk yang baik. Untuk produk es dawet sendiri kita benar-benar memanggil seseorang yang ahli dalam pembuatan es dawet, bukan sembarang orang bisa membuat cendol, namun kita memang membawakan pengusaha cendol untuk memberikan pelatihan. Dana yang diberikan oleh PT Bank Sumut adalah Rp.
30.000.000, sebenarnya dana ini merupakan dana yang kecil untuk bantuan, tapi karena kami merupakan lembaga sosial jadi kami tidak membutuhkan dana yang besar, sekalipun dana itu kecil kami tetap membuat impact yang besar. Dengan dana ini kita harus mampu menindak lanjuti program yang telah kita buat, pada dasarnya ini merupakan komitmen dari lembaga sendiri untuk bertanggung jawab atas dana tersebut. Dengan Bank Sumut kita mengatur bagaimana lembaga menciptakan produk, kemudian step nya kami tindaklanjuti dai hasil yang didukung oleh PT Bank Sumut. Misalkan di kualitas kemasan, jika dulunya kemasan tersebut masih plastik ditempel dengan stiker, sekarang kemasannya diganti menjadi lebih baik dan saat ini sedang proses finishing dengan kemasan yang baru. kemudian dengan dukungan Bank Sumut kita sedang membuat resto yang ada di Percut, untuk resto sendiri kita meminta bantua dari teman-teman kita yang mempuyai café di Kota Medan. Jadi jika kita ke Bagan Percut, akan ada resto baru dari lembaga kita. Di resto ini kita akan buat galeri, kemudian halamannya diberi media-media baca agar pelanggan yang datang tidak bosan (pameran), jadi tidak hanya soal makanan kita juga akan menyediakan information corner yang diberdayakan oleh komuntias dampingan dari lembaga ini.
Bentuk dari kemasan yang terbaru ini seperti paper bag ditambah dengan bolongan diatas agar bisa dibawa seperti tas. Dan kemasan ini adalah untuk
“Pangsit” kita menamakannya pangsit karena ini berupa kemasan dari daun kering yang berasal dari hutan mangrove. Kita menamakannya pangsit karena produk ini mirip dengan kerupuk pansit yang punya struktur keras dan renyah. Dibalik kemasannya, kita akan membuat beberapa quotes masa kini. Dan kita menerima
“Pangsit” kita menamakannya pangsit karena ini berupa kemasan dari daun kering yang berasal dari hutan mangrove. Kita menamakannya pangsit karena produk ini mirip dengan kerupuk pansit yang punya struktur keras dan renyah. Dibalik kemasannya, kita akan membuat beberapa quotes masa kini. Dan kita menerima