(Studi Pada UMKM Binaan PT Bank Sumut)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Disusun Oleh :
ZULFADILLAH 140907040
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
Yang Bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ZULFADILLAH NIM : 140907040
Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:
Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility PT. Bank SUMUT Kantor Pusat Dalam Pemberdayaan Umkm Kota Medan (Studi Pada UMKM Binaan PT Bank SUMUT)
Merupakan hasil karya dan pekerjaan saya sendiri serta seluruh sumber yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar dan sesuai ketentuan. Apabila terbukti tidak demikian, saya bersedia menerima sanksi yang berlaku.
Medan, Maret 2018
Zulfadillah
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS
HALAMAN PERSETUJUAN
Hasil skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh:
Nama : ZULFADILLAH
NIM : 140907040
Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis
Judul : Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility PT. Bank SUMUT Kantor Pusat Dalam Pemberdayaan UMKM Kota Medan (Studi Pada UMKM Binaan PT Bank SUMUT)
Medan, Maret 2018
Dosen Pembimbing Ketua Program Studi
Dr. Beti Nasution, M.Si
NIP: 19610625 198711 2 001 NIP: 19590816 198611 1 003 Prof. Dr. Marlon Sihombing, M.A
Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si
BANK SUMUT KANTOR PUSAT DALAM PEMBERDAYAAN UMKM KOTA MEDAN
(STUDI PADA UMKM BINAAN PT BANK SUMUT)
Nama : Zulfadillah
NIM : 140907040
Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pembimbing : Dr. Beti Nasution, M.Si
Peran strategi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah ikut serta dalam proses pemerataan pembangunan ekonomi, menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi, menciptakan kesempatan berusaha serta menciptakan dan memperluas lapangan kerja sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang banyak.
Namun banyak UMKM yang mendapatkan hambatan terutama modal dan bantuan fisik. Program CSR melalui beberapa perusahaan dianggap penting untuk membantu pelaku UMKM tersebut dalam hal pendanaan materi maupun fisik.
PT Bank Sumut sebagai Bank Badan Usaha Milik Daerah memiliki program berupa tanggung jawab sosial, dimana program ini diharapkan dapat membantu sejumlah industri atau UMKM yang terhambat dalam masalah modal agar dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih baik.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dimana penelitian ini menggunakan metode wawancara kepada informan yang merasakan dampak langsung terhadap program ini.
Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana tahapan dan penyaluran CSR yang dilakukan oleh PT Bank Sumut terhadap lembaga-lembaga masyarakat untuk pemberdayaan UMKM di Kota Medan, juga mengetahui bagaimana pihak lembaga/organisasi masyarakat mengajukan permohonan bantuan untuk menunjang program UMKM Kota Medan. Hasil dari penelitian juga dibuat untuk mengetahui peran CSR PT Bank Sumut dalam pemberdayaan UMKM Kota Medan.
ABSTRACT
THE ANALYSIS OF IMPLEMENTATION CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PT BANK SUMUT KANTOR PUSAT ON
EMPOWERMENT OF UMKM MEDAN CITY (Study At UMKM Built Of PT BANK SUMUT)
Name : Zulfadillah
NIM : 140907040
Study Program : Business Administration Faculty : Social and Political Sciences Supervisor : Dr. Beti Nasution, M.Si
The Role of Micro Small Medium Business Strategy (UMKM) is participating in the process of equitable economic development, to support the growth of economic growth, to create business opportunities and to create the vacancy that can absorb a lot of employees. But there are many UMKM are many obstacles, especially capital and physical assistance. CSR program through several companies that are important to help these UMKM in this terms.
PT Bank Sumut as a Regional Government-Owned Enterprise Bank has a social responsibility program, in which this program can help the industry or UMKM which is hampered by capital problems in order to grow for the better.
This research using the descriptive method with a qualitative approach which is using interview method to the informant that happy with this program.
The result of this research is to know how the stages and channeling of CSR conducted by PT Bank Sumut to community institutions to empower UMKM in Medan, and also to know how institution/institution of the aid program to support UMKM in Medan. The results of the research also to know the role of CSR PT Bank Sumut in empowering UMKM in Medan.
Keywords: Corporate Social Responsibility, UMKM Empowerment
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melimpahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu, yang saya beri Judul “ANALISIS IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PT BANK SUMUT KANTOR PUSAT DALAM PEMBERDAYAAN UMKM KOTA MEDAN (STUDI PADA UMKM BINAAN PT BANK SUMUT)”
Tujuan dari penyusunan skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk bisa menempuh ujian sarjana pendidikan pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Didalam pengerjaan skripsi ini telah melibatkan banyak pihak yang sangat membantu dalam banyak hal. Oleh sebab itu, disini penulis sampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Marlon Sihombing, M.A, Selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Beti Nasution, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sekaligus dosen pembimbing saya yang sudah membimbing skripsi saya hingga selesai , Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Siswati Saragi, S.Sos, MSP dan Bapak Ahmad Farid, S.H selaku Staf Administrasi Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh Staf Pengajar atau Dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis.
6. Yang paling saya cintai dan banggakan kepada Kedua orang tua saya, abang dan kakak saya tercinta yang telah banyak memberikan doa dan dukungan kepada penulis secara moril maupun materil hingga skripsi ini dapat selesai.
7. Dan kepada informan kunci penulis yaitu Bapak Hamid selaku pemimpin bidang CSR di PT Bank Sumut dan Kak Tania selaku sekretaris bidang CSR PT Bank Sumut, kemudian informan utama penulis yaitu Bapak Tri Krisna Irwanda di Lembaga Monumen Persahabatan dan Bapak Ismail selaku Direktur Non-Government of Pilar Indonesia yang telah memberikan waktu dan kesempatan berharga untuk bisa diwawancarai langsung dan membantu penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan baik.
8. Dan yang diistimewakan yaitu Andika Aziz Lubis S.AP yang selalu menemani, mendoakan, membantu, serta memberikan motivasi kepada penulis untuk selalu semangat dalam penyusunan skripsi.
9. Sahabat dan rekan seperjuangan tercinta Mutiara Aisyah, Shinta Srimenda br Ginting, Fitria Annisa Lubis, Izza Hawari Husna, Novi Rizky Amanda
Sagala, Rini Syakina Cahyani, Sri Wahyuni Edr, Ilham Anshari Nainggolan, Dina Elvita, Halimatusaddiah Sinaga, Ainna Chairunnisa Syukur, Irma Yanti Tanjung, Rika Salviyah Sari, Bukhari Rizki Lubis, Lena Berona Barus, Siti Suriati Rahmi, Akhmad Taufiq Rahman Azria, Lely Purnama Sari dan seluruh teman-teman Kelas B Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara 2014 yang lainnya.
10. Dan kepada pemberi motivasi yaitu seluruh member BTOB terkhusus Lee Changsub yang selalu menghibur penulis.
11. Yang tersayang kakak, rekan dan adik yang tergabun g didalam grup Melody Indonesia terkhusus Ari Nurfatimah, Rahmawati Pratiwi, Rara Resmiani, Aulia Syarifah, Maria Ulfah, Kartini Putri, Chintya Meisya, Ummul Mujaahidah, Agniya Fahrannisa dan Karina Oktavia Putri yang selalu menghibur dan memberikan dukungan kepada penulis. Semoga kita semua cepat dipertemukan.
Medan , 19 Maret 2018
Penulis Zulfadillah
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusaan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Implementasi ... 7
2.1.1 Pengertian Implementasi... 7
2.1.2 Tahap Implementasi ... 8
2.2 CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ... 9
2.2.1 Definisi CSR ... 9
2.2.2 Bentuk CSR ... 13
2.2.3 Program CSR ... 14
2.2.4 Tujuan CSR ... 18
2.2.5 Manfaat CSR ... 19
2.2.6 Peraturan Peruandang-undangan CSR ... 21
2.2.7 Model Implementasi CSR ... 24
2.3 Pemberdayaan ... 26
2.3.1 Definisi Pemberdayaan ... 26
2.4 UMKM ... 27
2.4.1 Definisi UMKM ... 27
2.4.2 Kriteria UMKM ... 28
2.5 Pemberdayaan UMKM ... 28
2.6 Peneliti Terdahulu ... 29
2.7 Kerangka Berpikir ... 33
2.8 Definisi Konsep ... 33
2.8.1 Implementasi CSR... 33
2.8.2 Pemberdayaan UMKM ... 34
2.8.3 Peranan CSR Dalam Pemberdayaan UMKM ... 35
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian ... 36
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 37
3.3 Informan Penelitian... 37
3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data ... 38
3.5 Teknik Analisis Data... 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan ... 41
4.1.1 Sejarah PT Bank Sumut ... 42
4.1.2 Struktur Organisasi PT Bank Sumut ... 43
4.1.3 Visi Dan Misi PT Bank Sumut ... 43
4.2 Penyajian Data ... 44
4.2.1 Informan Penelitian ... 44
4.2.2 Hasil Temuan Lapangan ... 45
4.3 Pembahasan... 62
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 65
5.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Identitas Informan Penelitian ... 44
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir ... 33 Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 43 Gambar 4.2 Struktur Organisasi Tim CSR Bank Sumut ... 47
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perusahaan merupakan salah satu penggerak roda perekonomian di suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Suatu perusahaan mempunyai tanggung jawab bukan hanya kepada pemegang saham atau pihak-pihak yang mempunyai kepentingan finansial tetapi juga kepada masyarakat luas dan lingkungan sekitarnya. Tanggung jawab sosial tersebut seolah-olah menjadi kewajiban tersendiri bagi perusahaan. Adapun tujuan dari tanggung jawab sosial tersebut adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta melaksanakan program- program perusahaan dalam pembinaan UMKM maupun meningkatkan citra baik perusahaan di masyarakat. Tanggung jawab sosial tersebut biasa dinamakan dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Sulit dipungkiri bahwa wacana Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang sebelumnya merupakan isu marginal kini telah menjelma menjadi isu sentral. CSR kini semakin populer dan bahkan ditempatkan diposisi yang kian terhormat, dibutuhkan pemahaman yang memadai tentang wacana ini. Selain kewajiban yang telah diatur oleh Undang-Undang, setiap perusahaan kini bersaing secara sehat untuk menciptakan citra yang baik di mata masing-masing konsumen serta masyarakat sekitarnya dan kegiatan CSR inilah yang biasanya digunakan pada praktisi PR (Public Relation) dilapangan untuk menjadi senjata dan meningkatkan daya tarik perusahaan ditengah-tengah masyarakat. Corporate Social Responsibility secara umum merupakan peningkatan kualitas kehidupan yang mempunyai arti
adanya kemampuan manusia sebagai individu anggota komunitas untuk dapat menanggapi keadaan sosial yang ada, dan dapat menikmati serta memanfaatkan lingkungan hidup serta perubahan-perubahan yang ada.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat tak sekedar menuntut perusahaan untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan, melainkan juga menuntut untuk bertanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab terhadap masyarakat di luar tanggung jawab ekonomis dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan demi suatu tujuan sosial dengan tidak memperhitungkan untung atau rugi ekonomis. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan operasional tidak hanya mempertimbangkan aspek keuangan dan keuntungan belaka, tetapi juga mempertimbangkan aspek tanggung jawab sosial perusahaan pada lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Kesadaran tentang pentingnya mempraktikan Corporate Social Resposibility (CSR) ini menjadi trend global seiring dengan semakin maraknya kepedulian yang mengutamakan stakeholders. Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, tanggung jawab sosial, dan lingkungan yang berlaku bagi perseroan yang mengelola atau memiliki dampak terhadap sumber daya alam dan tidak dibatasi kontribusinya serta dimuat dalam laporan keuangan. Undang- undang No. 40 Tahun 2007 mengatur tentang Corporate Social Responsibility (CSR), menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) yang saat ini dilakukan bukan lagi bersifat sukarela.
Keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia mempunyai peran dan potensi yang besar dalam membangun perekonomian nasional maupun sektoral. Beberapa peran strategi usaha kecil menengah adalah ikut serta dalam proses pemerataan pembangunan ekonomi, menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi, menciptakan kesempatan berusaha serta menciptakan dan memperluas lapangan kerja sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang banyak. Perspektif dunia mengakui bahwa usaha miko, kecil dan menengah memainkan suatu peran yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di Negara-negara sedang berkembang, tetapi juga Negara-negara maju (Mursitama, 2011).
Meskipun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah telah menunjukkan peranannya dalam perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Sebagai usaha yang ruang lingkup usahanya dan anggotanya adalah (umumnya) rakyat kecil dengan modal terbatas dan kemampuan manajerial yang juga terbatas, UMKM sangat rentan terhadap masalah-masalah perekonomian. Masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: Pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Keempat, pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.
Untuk mengatasi masalah dan meningkatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, dibutuhkannya kemitraan dengan Usaha Besar (UB), seperti perbankan daerah.
PT Bank Sumut adalah sebuah bank pembangunan daerah bersifat devisa didirikan pada tanggal 4 November 1961. PT Bank Sumut dibentuk dengan status Perseroan Terbatas. PT Bank Sumut kemudian dialihkan menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada tahun 1965 sebelum dikembalikan statusnya sebagai Perseroan Terbatas pada tahun 1999. Bank Sumut termasuk dalam jajaran Bank Pembangunan Daerah yang memiliki aset terbesar, saat ini asetnya telah mencapai 27 triliun dengan dukungan 200 unit kantor yang terdiri dari Kantor Cabang Utama, Kantor Cabang, Cabang Pembantu, Cabang Unit Mikro serta payment point, dengan cakupan wilayah kerja hingga DKI Jakarta (Cabang Atrium Senen, Cabang Melawai dan Capem Cideng). PT Bank Sumut mendukung layanan jasa perbankan kepada masyarakat, PT Bank Sumut memiliki program berupa Corporate Social Responsibility atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam bentuk Pemberdayaan UMKM kepada Masyarakat. Pemberdayaan UMKM ini juga dapat membantu pelaku-pelaku UMKM dalam mengatasi keterbatasan yang dimiliki. Pemberdayaan ini diharapkan pelaku UMKM dapat menerapkan pembinaan yang dilakukan oleh PT Bank Sumut agar keterbatasan yang ada dapat diatasi.
Profil perusahaan di atas menyimpulkan bahwa peneliti memilih PT Bank Sumut sebagai tempat penelitian mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah dilaksanakan ke masyarakat sekitar Kota Medan dengan berbagai program-program CSR. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk membahas tentang “Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility PT BANK SUMUT Kantor Pusat Medan Dalam Pemberdayaan UMKM Kota Medan (Studi Pada UMKM Binaan PT Bank Sumut)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi CSR PT Bank Sumut ?
2. Bagaimana peran CSR PT Bank Sumut dalam pemberdayaan UMKM di Kota Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis bagaimana Implementasi CSR pada PT Bank Sumut pada UMKM di Kota Medan.
2. Untuk menganalisis bagaimana peran CSR yang dilakukan oleh PT Bank Sumut dalam pemberdayaan UMKM di Kota Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis dalam bidang CSR yang dilakukan oleh PT Bank Sumut dan Pemberdayaan UMKM di Kota Medan.
2. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai saran dan informasi dalam pelaksanaan CSR yang dilakukan serta dapat menambah citra baik bagi perusahaan.
3. Bagi pihak lain
Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul dalam penelitian ini.
BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Implementasi
2.1.1 Pengertian Implementasi
Wibisono (2007) menyebutkan bahwa implementasi CSR dipengaruhi oleh cara pandang dan strategi yang dipilih perusahaan untuk melaksanakan aktivitas tanggung jawab sosialnya. Nurdiana (2008) mengemukakan bahwa implementasi CSR merupakan pelaksanaan program-program aktivitas CSR yang telah dibuat dan direncanakan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada lingkungan dan masyarakat. Implementasi dimaksudkan membawa ke suatu hasil (akibat) melengkapi dan menyelesaikan. Implementasi juga dimaksudkan menyediakan sarana (alat) untuk menyelesaikan sesuatu, memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesuatu. Implementasi dapat dikatakan sebagai suatu aktivitas yang berkaitan dengan penyelesaian suatu pekerjaan dengan penggunaan sarana (alat) untuk memperoleh hasil.
Pengertian Implementasi dikemukakan oleh Solichin Abdul Wahab dalam bukunya analisis kebijakan : Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara yaitu: “Implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan individu- individu atau pejabat-pejabat, kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan” (Wahab, 2001).
Menurut Sobana (2005) implementasi kebijakan merupakan suatu sistem pengendalian untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan dari tujuan kebijakan. Implementasi kebijakan meliputi semua tindakan yang berlangsung
pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa implementasi pada prinsipnya tidak hanya terbatas pada proses pelaksanaan suatu kebijakan namun juga melingkupi tindakan-tindakan atau prilaku individu-individu dan kelompok pemerintah dan swasta, serta badan-badan administratif atau unit birokrasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dalam mencapai tujuan, akan tetapi juga mencermati berbagai kekuatan politik, sosial, ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap sasaran yang ingin dicapai. Dengan demikian, implementasi kebijakan diamksudkan untuk memahami apa yang terjadi setelah suatu program dirumuskan, serta apa dampak yang timbul dari program kebijakan itu.
2.1.2 Tahap Implementasi
Pembuatan suatu sistem pasti ada tahap implementasi, yang dimaksud dengan implementasi adalah merupakan realisasi sistem yang berdasarkan pada desain yang telah dibuat. Tahapan implementasi dibuat menjadi 4 tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Membuat dan menguji basis data dan jaringan
Pada tahap dimana menguji basis data dan jaringan yang telah ada pada sistem dan harus diimplementasikan sebelum pemasangan program komputer.
2. Membuat dan menguji program
Tahap yang kedua adalah tahap membuat dan menguji program. Pada tahap ini rencana yang telah ada dikembangkan lagi menjadi lebih rinci dan dilakukan pengujian terhadap program tersebut.
3. Memasang dan menguji sistem baru
Pada tahapan yang ketiga ini dilakukan uji coba terhadap sistem baru tersebut, untuk meyakinkan bahwa sistem tersebut sudah terpenuhi.
4. Mengirim sistem baru kedalam sistem operasi
Tahapan yang keempat atau tahapan yang terakhir adalah untuk menggantikan sistem yang lama dengan sistem baru yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Pada tahap ini sistem sudah siap untuk dioperasikan.
2.2 CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY 2.2.1. Definisi CSR
Setiap perusahaan di seluruh dunia akan melakukan berbagai macam kegiatan yang terencana untuk dapayt meningkatkan eksistensi perusahaan dan menjadi perusahaan yang Good Businsess. Salah satu kegiatannya adalah Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan dari dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas. Ada beberapa perbedaan dalam penerapan CSR di Negara-negara Eropa dan Amerika. Perusahaan di Eropa menetapkan CSR dilakukan berdasarkan peraturan/regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat, sehingga pelaksanaan CSR didasarkan pada desakan dan sanksi yang harus dipatuhi.
Sedangkan dalam perusahaan Amerika pelaksanaan CSR merupakan tindakan sukarela atas dasar kepedulian perusahaan terhadap dampak lingkungan dan sosial dalam masyarakat (Mursitama, 2011).
Corporate Social Responsibility merupakan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap
masyarakat luas dan lingkungan. Usaha sosial perusahaan telah dikonsepkan lebih luas sebagai tugas manajerial untuk mengambil tindakan melindungi dan mengembangkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus memberikan keuntungan bagi perusahaan. Konsep mengenai CSR mulai diperkenalkan oleh Bowen (Untung, 2014), bahwa tanggung jawab sosial pengusaha diartikan sebagai
“acuan terhadap kewajiban pengusaha untuk mengejar tindakan yang diinginkan dalam jangka waktu tujuan dan nilai-nilai dari masyarakat”. Peningkatan kualitas kehidupan mempunyai arti adanya kemampuan manusia sebagai individu anggota komunitas untuk dapat menanggapi keadaan sosial yang ada, dan dapat menikmati serta memanfaatkan lingkungan hidup termasuk perubahan-perubahan yang ada sekaligus memelihara , atau dengan kata lain CSR merupakan cara perusahaan mengatur proses proses usaha untuk memproduksi dampak positif pada komunitas. Atau dapat dikatakan sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders baik secara internal (pekerja, shareholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain). Sementara itu sejumlah Negara juga mempunyai definisi tersendiri mengenai CSR. Uni Eropa (EU Green Paper on CSR) mengemukakan bahwa “CSR is a concePT whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basic” yang berarti bahwa CSR adalah sebuah konsep dimana perusahaan mengintegrasikan masalah sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan pemangku kepentingan mereka secara sukarela. Dan menurut CSR Forum,
definisi CSR adalah “CSR mean open and transparent business practices that are based on ethical values and respect for employees, communities and environtment” yang berarti bahwa CSR berarti praktik bisnis terbuka dan transparan yang didasarkan pada nilai etika dan penghargaan terhadap karyawan, masyarakat dan lingkungan (Mursitama, 2011).
CSR menurut Sutanto (Mursitama, 2011), membagi CSR ke dalam dua golongan besar tanggung jawab sosial, yaitu tanggung jawab internal dan tanggung jawab eksternal. Tanggung jawab internal meliputi tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan dalam hal profit dan pertumbuhan, serta kepada para pekerja dalam hal pekerjaan dan pengembangan karir yang menguntungkan pekerja dan perusahaan. Sedangkan tanggung jawab eksternal menyajikan perusahaan sebagai pembayar pajak dan penyedia pekerjaan yang berkualitas, meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi masyarakat baik dalam bidang bisnis yang sesuai dengan bisnis perusahaan maupu tidak, serta menjaga lingkungan untuk generasi masa depan.
Menurut Untung (2014), CSR merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungannya bagi kepedulian sosial maupun tanggung jawab lingkungan dengan tidak mengabaikan kemampuan dari perusahaan.
Pelaksanaan kewajiban ini harus memperhatikan dan menghormati tradisi budaya masyarakat di sekitar lokasi kegiatan usaha tersebut. Dan CSR merupakan suatu konsep bahwa perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan, suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak hanya berdasarkan faktor keuangan belaka
seperti misalnya keuntungan atau dividen, melainkan juga harus berdassarkan konsekuensi sosial di lingkungan untuk saat ini maupun jangka panjang.
Menurut The World Business Council for Sustainable Development (Rahmatullah dan Kurniati, 2011), CSR merupakan komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, berikut komunitas-komuntias setempat, masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.
Pemikiran mengenai CSR kini didasarkan pada kebijakan perusahaan sebagai komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas melalui kerjasama antara para pelaku bisnis dan sumber daya yang ada dalam kehidupan komunitas, jadi kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan tentang keuntungan perusahaan semata saja, melainkan sudah meliputi keuntungan, sosial dan aspek lingkungan yang biasa disebut (triple bottom line).
pengertian dari Corporate Social Responsibility (CSR) telah dikemukakan oleh banyak pakar, diantaranya adalah Maigan dan Ferrel (Susanto, 2009) mendefenisikan CSR sebagai “sebuah bisnis bertanggung jawab secara sosial ketika keputusan dan tindakan diperhitungkan untuk menyeimbangkan beragam kepentingan”. Definisi ini menekankan perlunya memberikan perhatian secara seimbang terhadap kepentingan berbagai stakeholder yang beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh para pelaku bisnis melalui perilaku yang secara sosial bertanggung jawab. Menurut Wibisono (2007) Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan
ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerja beserta keluarganya.
Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa CSR merupakan kumpulan kebijakan dan praktek yang dilakukan perusahaan sesuai dengan kemampuan perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar perusahaan berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, serta ketentuan hukum dan komitmen dunia usaha untuk ikut serta dalam pembangunan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas secara berkelanjutan. Secara umum CSR bisa dikatakan tanggung jawab sosial dunia usaha. Memang masih diperlukan kajian tersendiri untuk mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya, dari sisi definisi sendiri, dapat ditemukan bahwa konsep CSR menawarkan sebuah kesamaan, yaitu keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan perhatian terhadap aspek sosial serta lingkungan.
2.2.2 Bentuk CSR
Rudito (2007) membagi kegiatan program yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam konteks tanggung jawab sosialnya ke dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Public Relation
Bentuk ini lebih menekankan pada penanaman persepsi tentang perusahaan kepada komunitas, dengan cara membuat suatu kegiatan sosial sehingga menanamkan image bahwa perusahaan yang bersangkutan telah menyisihkan sebagian dari keuntungannya untuk kegiatan sosial. Pada dasarnya kegiatan atau usaha ini menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan komunitas,
khususnya menanamkan sebuah persepsi yang baik mengenai perusahaan terhadap komunitas.
2. Strategi Defensif
Bentuk ini biasanya dijalankan oleh perusahaan guna menangkis anggapan negatif komunitas luas yang sudah tertanam terhadap kegiatan perusahaan terhadapa karyawannya dan biasanya untuk melawan serngan negatif dari anggapan komunitas yang sudah terlanjur berkembang.
3. Keinginan tulus untuk melakukan kegiatan yang baik, yang benar-benar berasal dari visi perusahaan itu.
Bentuk ini merupakan bentuk keinginan tulus dari suatu perusahaan dalam kegiatan tanggung jawab sosialnya, yang didorong dan berkaitan erat dengan kebudayaan perusahaan yang berlaku sehingga kegiatan tanggung jawab sosial yang dilakukan sudah tersirat dalam etika yang ada pada perusahaan tersebut.
Kegiatan ini selalu selalu berhubungan dengan Corporate Culture yang ada didalam perusahaan.
2.2.3 Program CSR
Wibisono (2007) menjelaskan bahwa penerapan CSR yang dilakukan perusahaan dapat dibagi menjadi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, implementasi, evaluasi dan pelaporan. Tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan di bagi menjadi 3 model, yaitu keterlibatan langsung, melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan, dan bermitra dengan pihak lain.
Adapun bentuknya sebagai berikut :
1. Hibah (Grant) : bantuan dana tanpa ikatan yang diberikan oleh perusahaan untuk membangun investasi sosial.
2. Penghargaan (Award) : pemberian bantuan oleh perusahaan kepada sasaran yang dianggap berjasa bagi masyarakat banyak dan lingkungan usahanya. Biasanya penghargaan dalam bentuk sertifikat dan sejumlah uang kepada perorangan atau institusi atau panti yang diselenggarakan secara berkelanjutan dan dalam waktu tertentu.
3. Dana Komunikasi Lokal (Community Funds) : bantuan dana atau dalam bentuk lain bagi komunitas untuk meningkatkan kualitas di bidangnya secara berkesinambungan.
4. Bantuan Subsidi (Social Subsidies) : bantuan dana atau bentuk lainnya bagi sasaran yang berhak meningkatkan kinerja secara berkelanjutan seperti pemberian bantuan dana buruh lokal atau modal usaha kecil satu kawasan.
5. Bantuan pendanaan jaringan teknis bagi sasaran yang berhak untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Misalnya, bantuan teknis untuk usaha kecil atau mikro.
6. Penyediaan pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, hukum, taman bermain, panti asuhan, beasiswa, dan berbagi pelayanan sosial lainnya bagi masyarakat.
7. Bantuan kredit usaha kecil dengan bunga rendah bagi rumah tangga, baik masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan ataupun masyarakat pada umumnya.
8. Program bina lingkungan melalui pengembangan masyarakat.
9. Penyedian kompetensi sosial bagi masyarakat yang menjadi korban polusi serta kerusakan lingkungan.
Menurut Situmeang (2016), berbagai bentuk program-program sosial yang dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan untuk masyarakat sekitar perusahaan diantaranya dengan melakukan kegiatan:
1. Charity (Perbuatan Amal)
Program Charity merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan bantuan sukarela kepada seseorang atau kelompok masyarakat yang membutuhkan. Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah yang mendesak, dan program ini sangat baik untuk meningkatkan citra dan reputasi positif bagi perusahaan.
Terdapat berbagai jenis dari pelaksanaan Charity, diantaranya yaitu :
a. Corporate Philantrophy yaitu pemberian sumbangan kepada kegiatan amal yang sering kali berbentuk hibah, donasi dan atau dalam bentuk barang.
b. Cause Promotions, yaitu pengalokasian dana atau bantuan dalam bentuk barang dan sumber daya lain, oleh perusahaan untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian tentang masalah sosial atau dalam rangka rekrutmen sukarelawan. Contohnya seperti Body Shop yang mempromosikan larangan penggunaan hewan untuk uji coba kosmetik.
c. Cause-related-Marketing yaitu komitmen perusahaan untuk mendonasikan sejumlah persentase tertentu dari pendapatan untuk hal tertentu yang terkait dengan penjualan produk.
d. Community Volunteering yaitu dukungan dan dorongan perusahaan pada para karyawan, mitra pemasaran dan atau anggota franchise untuk
menyediakan dan mengabdikan waktu dan tenaga mereka untuk membantu kegiatan organisasi tertentu.
e. Social Responsible Business Practice yaitu pengadopsian dan pelaksanaan praktek-praktek bisnis dan investasi yang memberikan dukungan dalam permasalahan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan untuk melindungi lingkungan. Perusahaan dapat melakukan sendiri atau bermitra dengan organisasi lain.
2. Community Development (Pembangunan Masyarakat)
Berkembangnya konsep Community Development yang berbasis nilai- nilai pemberdayaan, partisipasi, kemandirian dan kebutuhan masyarakat.
Program Community Development bertujuan untuk pemberdayaan dan kemajuan masyarakat, sehingga dampak yang dirasakan masyarakat adalah jangka panjang. Kemajuan pada setiap aspek kehidupan masyarakat baik dibidang ekonomi, sosial budaya maupun aspek kehidupan lain sehingga tercapai kesejahteraan. Ruang lingkup program Community Development dapat dikelompokkan dalam tiga bidang, yaitu:
a. Community Service, pelayanan korporat untuk memenuhi kepentingan masyarakat ataupun kepentingan umum. Misalnya sarana jalan, sekolah, kesehatan, ibadah, kelestarian lingkungan.
b. Community Enpowering, program-program yang memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang kemandiriannya, seperti peningkatan kapasitas usaha masyarakat.
c. Community Relation, kegiatan yang terkait dengan pengembangan pemahaman melalui komunikasi dan informasi kepada pihak terkait.
2.2.4 Tujuan CSR
Tujuan perusahaan melakukan Corporate Social Responsibility menurut Chuck Williams (2001) dalam (Resturiany 2011) menyebutkan bahwa: “Tujuan perusahaan menerapkan CSR agar dapat memberi manfaat yang terbaik bagi stakeholders dengan cara memenuhi tanggung jawab ekonomi, hukum, etika dan kebijakan.
1. Tanggung jawab ekonomis. Motif utama perusahaan adalah menghasilkan laba.
Laba adalah pondasi perusahaan. Perusahaan harus memiliki nilai tambah ekonomi sebagai prasyarat agar perusahaan dapat terus hidup dan berkembang.
2. Tanggung jawab legal. Perusahaan harus taat hukum. Dalam proses mencari laba, perusahaan tidak boleh melanggar kebijakan dan hukum yang telah ditetapkan pemerintah.
3. Tanggung jawab etis. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menjalankan praktek bisnis yang baik, benar, adil dan fair. Norma-norma masyarakat perlu menjadi rujukan bagi perilaku organisasi perusahaan.
4. Tanggung jawab filantropis. Selain perusahaan harus memperoleh laba, taat hukum dan berperilaku etis, perusahaan dituntut agar dapat memberikan kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan semua. Para pemilik dan pegawai yang bekerja di perusahaan memiliki tanggung jawab ganda, yakni kepada perusahaan dan kepada public.
Keempat poin CSR ini perlu dipahami sebagai satu kesatuan yang dapat diterapakan dalam perusahaan. Walaupun banyak yang menganggap bahwa laba yang harus diutamakan, karena laba merupakan cerminan keberhasilan perusahaan
dalam menjalankan bisnisnya. Namun, keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba tidak bisa dilakukan tanpa adanya kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan taat terhadap hukum yang berlaku. Sebaiknya, kegiatan untuk menghasilkan laba dikaitkan dengan pengembangan masyarakat sekitar dan pembangunan yang berkelanjutan, karena masyarakat memegang peranan penting dalam keberlangsungan bisnis perusahaan.
2.2.5 Manfaat CSR
CSR yang merupakan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan bentuk kepedulian atau keseimbangan antara aspek ekonomis terhadap aspek lingkungan. Banyak sekali keuntungan yang didapatkan perusahaan yang telah mempraktikkan Corporate Social Responsibility (CSR) antara lain (Mursitama, 2011):
1. Manfaat Internal CSR, yaitu :
a. Pengembangan aktivitas yang berkaitan dengan sumber daya manusia.
Serangkaian aktivitas pengembangan sumber daya manusia dicapai dengan menciptakan para karyawan yang memiliki keterampilan tinggi. Karyawan yang berkualitas akan menyumbang pada sistem manajemen sumber daya manusia yang lebih efektif. Misalnya dengan meningkatnya loyalitas dan moral dari karyawan.
b. Adanya pencegahan polusi dan reorganisasi pengelolaan proses produksi dan aliran bahan baku, serta hubungan dengan supplier yang berjalan dengan baik. Muaranya adalah peningkatan performa lingkungan perusahaan.
c. Menciptakan budaya perusahaan, kapasitas sumber daya manusia, dan organisasi yang baik. Pengintrodusian CSR diharapkan perusahaan dan kemauan untuk terus belajar. Integrasi antar fungsi didalam perusahaan diharapkan juga akan terjadi. Selain itu, partisipasi para karyawan di dalam perusahaaan dan keterampilan mereka diharapkan dapat meningkat pula.
d. Kinerja keuangan. Dengan dilakukannya CSR , kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik. Kualitas lingkungan yang turut disumbangkan oleh korporasi bukan hanya secara langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga meningkatkan kepemillikan pemodal.
2. Manfaat eksternal CSR, yaitu :
a. Penerapan CSR akan meningkatkan reputasi perusahaan sebagai badan yang mengemban dengan baik pertanggung jawaban secara sosial.
b. CSR merupakan satu bentuk diferensiasi produk yang baik. Artinya, sebuah produk yang memenuhi persyaratan-persyaratan ramah lingkungan dan merupakan hasil dari perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial.
c. Melaksanakan CSR dan membuka kegiatan CSR secara public merupakan instrument untuk komunikasi yang baik kepada khalayak.
Pada gilirannya semuanya akan membantu menciptakan reputasi dan image `perusahaan yang lebih baik. Dengan demikian, akan membantu perusahaan dan para karyawannya dalam membangun keterikatan dengan komunitas secara lebih kohensif dan terintegrasi.
d. Kontribusi CSR terhadap kinerja perusahaan pun dapat terwujud paling tidak dalam dua bentuk. Pertama, dampak positif yang timbul sebagai insentif atas tingkah laku positif dari perusahaan. Kontribusi ini sering disebut sebagai kesempatan. Kedua, kemampuan perusahaan untuk mencegah munculnya konsekuensi dari tindakan yang buruk atau dikenal sebagai jarring pengaman bagi perusahaan.
2.2.6 Peraturan perundang-undangan CSR
Di Indonesia program CSR semakin menguat setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU Tanggung Jawab Sosial dan Perseroan Terbatas No.47 tahun 2012 antara lain diatur bahwa :
Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UndangUndang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan pelaksanaannya.
2. Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut RUPS adalah organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan/atau anggaran dasar.
3. Direksi adalah organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai
dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.
4. Dewan Komisaris adalah organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi.
Pasal 2 menyebutkan bahwa setiap perseroan selaku subjek hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pasal 3 menyebutkan bahwa:
1. Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 menjadi kewajiban bagi Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam berdasarkan Undang-Undang.
2. Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan baik di dalam maupun di luar lingkungan Perseroan
Pasal 4 menyebutkan bahwa:
1. Tanggung jawab sosial dan lingkungan dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan Perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau RUPS sesuai dengan anggaran dasar Perseroan, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.
2. Rencana kerja tahunan Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rencana kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pasal 5 menyebutkan bahwa:
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, dalam menyusun dan menetapkan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) harus memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
2. Realisasi anggaran untuk pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilaksanakan oleh Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperhitungkan sebagai biaya Perseroan.
Pasal 6 menyebutkan bahwa pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dimuat dalam laporan tahunan Perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS.
Pasal 7 menyebutkan bahwa perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yang tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8 menyebutkan bahwa:
1. Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tidak menghalangi Perseroan berperan serta melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.
2. Perseroan yang telah berperan serta melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan penghargaan oleh instansi yang berwenang.
Pasal 9 menyebutkan bahwa Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
2.2.7 Model Implementasi Corporate Social Responsibility
Sebagai suatu kerjasama, maka implementasi tanggung jawab sosial perusahaan adalah upaya perusahaan dalam meningkatkan peran dan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat setempat dalam hal ini tentu sebagai pemangku kepentingan utama diposisikan sebagai prioritas utama dari implementasi program tanggung jawab sosial perusahaan. Disamping itu, lingkungan fisik juga harus menjadi perhatian tersendiri dengan indikator tunggal, yaitu kelestarian lingkungan. Demikian, dapatlah dipahami bahwa implementasi tanggung jawab perusahaan dan saling bekerja sama yang padu antara semua pihak, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Walaupun banyak pihak yang terlibat dalam kerjasama tersebut, namun fokus perusahaan adalah kesejahteraan masyarakat (Siagian, 2011).
Adapun yang melatarbelakangi munculnya pemikiran mengikutsertakan unsur pemerintah dalam model implementasi tanggung jawab sosial perusahaan adalah sebagai berikut.
1. Asas ideology Welfare State yang dianut oleh hampir semua Negara didunia saat ini melahirkan asumsi, bahwa pemerintah sebagai personifikasi Negara memiliki kepentingan dan komitmen yang kuat dalam mensejahterakan masyarakatnya. Oleh karena itu perumusan dan penetapan kebijakan yang berkenan dengan kesejahteraan masyarakat sepatutnya mengikutsertakan unsur pemerintah.
2. Tanggung jawab sosial perusahaan adalah suatu kewajiban perusahaan yang dianggap sebagai bagian dari performa perusahaan yang secara menyeluruh telah diatur dalam hukum dimana pemerintah merupakan pihak yang dimiliki kepentingan serta komitmen. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari Negara sebagai satu-satunya organisasi yang berdaulat.
Model implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (Wibisono, 2007) mengemukakan model dalam bentuk kerjasama yang melibatkan tiga pihak.
Adapum ketiga pihak tersebut adalah Perusahaan – Masyarakat – Pemerintah. Hal penting yang dapat dipahami adalah antara perusahaan, masyarakat dan pemerintah dalam konteks implementasi CSR dihubungkan dengan garis kepentingan timbal balik. Setidaknya ada tiga bentuk kepentingan yang melibatkan tiga pihak tersebut dalam suatu kerjasama, yaitu :
1. Secara konstitusial perusahaan adalah mitra pemerintah dalam rangka memanfaatkan sumber daya alam, sebagaimana diatur dalam pasal 33 UUD 1945, sehubungan dengan praktek bisnisnya dalam mengelola sumber daya alam, maka perusahaan tergantung pemerintah, khususnya dalam memperoleh izin usaha.
2. Perusahaan merupakan institusi yang senantiasa memberi dukungan kepada pemerintah melalui pembayaran pajak dan kewajiban lainnya sehingga pemerintah memiliki biaya operasional dalam melakukan pengelolaan pemerintah dan pembangunan nasional. Artinya, sumber utama pemenerimaan adalah pajak, dan sumber utama pajak adalah para pelaku usaha atau badan-badan usaha.
3. Kenyamanan aktivitas ekonomi bagi perusahaan sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat setempat terhadap perusahaan. Kondisi seperti ini semakin pekat diera demokrasi dan penghargaan tas hak-hak azasi manusia. Selanjutnya perilaku masyarakat setempat terhadap perusahaan dipengaruhi pula oleh perilaku perusahaan dalam memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
2.3 Pemberdayaan
2.3.1 Definisi Pemberdayaan
Pemberdayaan merupakan upaya memberdayakan (mengembangkan klien dari keadaan tidak atau kurang berdaya menjadi mempunyai daya) guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Payne menjelaskan bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat adalah untuk membantu masyarakat memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan mereka lakukan yang terkait dengan diri mereka sendiri, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan (2005). Menurut Chambers, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai- nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “people centred, participatory, empowering, and sustainable” (1995).
Shardlow (1998) menjelaskan bahwa pengertian mengenai pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok maupun komunitas yang berusaha mengkontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Gagasan ini mengartikan pemberdayaan sebagai upaya mendorong klien untuk menentukan sendiri apa yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan upaya mengatasi
permasalahan yang ia hadapi sehingga klien mempunyai kesadaran dan kekuasan penuh dalam membentuk hari depannya.
2.4 UMKM
2.4.1 Definisi UMKM
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.
2.4.2 Kriteria UMKM
Kriteria UMKM sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000.
2. Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b. Memilki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000.
3. Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000.
2.5 Pemberdayaan UMKM
Dilihat dari pengertian pemberdayaan, maka pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah adalah upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh UMKM itu sendiri. Jadi pendekatan pemberdayaan UMKM titik beratnya adalah penekanan pada pentingnya UMKM yang mandiri sebagai
suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan UMKM yang demikian diharapkan dapat memberi peranan kepada individu bukan sebagai objek, tetapi justru sebagai subjek pelaku pembangunan yang ikut menentukan masa depan dan kehidupan UMKM.
2.6 Peneliti Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan refrensi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Yeriko Putra Widenta (2012) melakukan penelitian yang berjudul
“Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility PT. Indo sat Tbk.
Tahun 2007-2011 Berdasarkan GlobalReporting Initiative”, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan CSR yang dilaksanakan oleh PT. Indosat Tbk. tahun 2007-2011 berdasarkan Global Reporting Initiative. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah PT. Indosat Tbk sangat membantu masyarakat sekitar (ada 8 kota) yang sangat membutuhkan bantuan secara langsung. Program CSR PT. Indosat Tbk di tahun 2007 antara lain: Program Indonesia Sehat yang berfokus pada kesehatan anak-anak dan ibu hamil serta masyarakat di daerah sekitar lingkungan operasional PT. Indosat Tbk.Manfaat bagi masyarakat dari program ini adalah anak-anak dapat berobat secara gratis tanpa harus ke puskesmas ataupun rumah sakit. Ibu hamil pun dapat melakukan check up kandungan gratis ataupun melakukan persalinan tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.
2. Yustisia Ditya Sari (2012) melakukan penelitian yang berjudul
“Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Sikap Komunitas Pada Program Perusahaan” penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Cipinang Besar Utara, Cipinang Besar Selatan dan Manggarai. Dari hasilpengamatan peneliti, nampak bahwa usia 13-15 tahun adalah usia yang jelas dan dekat sekali dengan kehidupan dijalanan yang lebih memfokuskan pada sebuah kebebasan, materi atau uang untuk biaya hidup mereka bersama keluarga.
Namun dengan adanya penyelenggaraan program Hess Indonesia bersama ISCO Foundations, membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah dan berkeinginan untuk melanjutkan studinya dan mempunyai cita-cita untuk bangkit dari sebuah keterpurukan selama ini. Kerjasama antara orang tua dan penyelanggara program memampukan mereka untuk melanjutkan studinya dengan syarat dan prosedur yang harus ditaati oleh orang tua anak untuk menerima bantuan dari penyelenggaraan program. Dimana implementasi CSR difokuskan pada aspek sosial pada program pendidikan yakni memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak jalanan agar mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik serta mengubah perilaku anak-anak jalanan untuk tidak berada dijalanan, yang mana implementasi CSR merupakan sebagai value social responsibilities HESS Indonesia.
3. Netty Dyah Kurniasari (2015) melakukan penelitian yang berjudul
“Program CSR Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Mikro, Kecil Menengah Di Madura)”, lokasi dari penelitian ini adalah Kota Madura. Beberapa permasalahan UMKM di
Madura antara lain packaging (kemasan), pemasaran dan permodalan.
Pertama, kemasan. Packaging (kemasan) menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi usaha kecil dan menengah (UKM) di Madura.
Sebagian besar UKM di Madura masih mengemas produknya dengan tampilan yang tidak menarik. Sebab, masih ada pandangan bahwa kemasan itu mahal. Pandangan itu karena UMKM mengira dibutuhkan alat yang mahal untuk mengemas produk makanan atau pun minumannya agar bagus dilihat konsumen. Padahal, kemasan merupakan kunci bagi produk untuk lebih "menjual" dan memiliki nilai tambah. Beberapa permasalahan UMKM di Madura antara lain packaging (kemasan), pemasaran dan permodalan. Pertama, kemasan. Packaging (kemasan) menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi usaha kecil dan menengah (UKM) di Madura. Sebagian besar UKM di Madura masih mengemas produknya dengan tampilan yang tidak menarik. Sebab, masih ada pandangan bahwa kemasan itu mahal. Pandangan itu karena UMKM mengira dibutuhkan alat yang mahal untuk mengemas produk makanan atau pun minumannya agar bagus dilihat konsumen. Padahal, kemasan merupakan kunci bagi produk untuk lebih "menjual" dan memiliki nilai tambah.
4. Suparnyo, Anggit Wicaksono, dan Wiwit Ariyani (2013) melakukan penelitian yang berjudul “Model Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Industri Rokok Di Kudus”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Perusahaan rokok yang berskala besar di kabupaten Kudus semuanya mengetahui tentang CSR (Corporate Social
Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pemerintah dan dari media massa baik cetak maupun elektronik. Pengetahuan tersebut diperoleh juga karena perkembangan konsep CSR yang semakin memasyarakat. Bantuan yang diberikan tidak dilakukan melalui keterlibatan pemerintah atau LSM, namun langsung dilakukan sendiri oleh perusahaan. Model pemberdayaan yang dilakukan oleh perusahaan rokok berskala besar yaitu ada yang mendirikan yayasan (foundation) dan ada yang dilakukan sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan. Berdasar pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa bentuk bantuan perusahaan besar kepada perusahaan mikro, kecil dan menengah dapat dilakukan/diberikan melalui bantuan peralatan, bantuan berupa hibah uang, bantuan berupa pinjaman modal dengan bunga ringan, bantuan berupa pelatihan manajemen, bantuan berupa pelatihan pemasaran, bantuan berupa pelatihan proses produksi, bantuan berupa tenaga ahli dan bantuan berupa kegiatan magang.
5. Mudjiarto, Amo Sugiharto (2015) telah melakukan penelitian yang berjudul “Pembinaan Usaha Menengah, Kecil & Mikro (UMKM) Melalui Program Kemitraan & Bina Lingkungan (Pkbl) Bumn (Pkbl PT Jasa Marga Persero Cab. Jagorawi 2014)”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Adapun hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pendekatan pembinaan yang dilakukan BUMN terdiri dari bantuan modal usaha, program pelatihan manajemen usaha, pembinaan lapangan (supervisi), dan pameran. Manfaat Program kemitraan bukan hanya terletak pada besarnya jumlah pinjaman yang
diberikan serta pelatihan yang dilakukan. Tetapi bagaimana memberikan wawasan bisnis dan motivasi usaha yang disampaikan secara kontinyu melalui supervisi yang dilakukan. Supervisi pertama, dilaksanakan dua bulan setelah diberikan pelatihan dan pinjaman. Hasil yang ditunjukkan, tidak mengalami peningkatan yang diinginkan dari lima indikator yang diamati. Namun mulai supervisi ke dua sampai dengan ke tiga terlihat adanya kemajuan yang berarti dalam pengelolahan usaha dan wawasan bisnis.
2.7 Kerangka Berfikir
Gambar 2.1
Sumber : Penulis, Tahun 2018 2.8 Definisi Konsep
2.8.1 Implementasi CSR
Implementasi tanggung jawab sosial perusahaan adalah upaya perusahaan dalam meningkatkan peran, memberikan kontribusi serta bantuan lingkungan
PT BANK SUMUT
CSR
PROGRAM CSR
PEMBERDAYAAN UMKM
untuk tujuan kesejahteraan masyarakat. Ada pelaksanaan program-program aktivitas CSR yang telah dibuat dan direncanakan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada lingkungan dan masyarakat, dalam hal ini tentu masyarakat setempat sebagai pemangku kepentingan utama diposisikan sebagai prioritas utama dari implementasi program tanggung jawab sosial perusahaan (Untung, 2014). Adapun program-program CSR yang dijalankan oleh pihak perusahaan, yakni PT Bank Sumut adalah :
1. Pemberian beasiswa
2. Bantuan dana masyarakat miskin
3. Pemberian bantuan materi kepada pelaku UMKM 2.8.2 Pemberdayaan UMKM
Pemberdayaan merupakan upaya memberdayakan (mengembangkan klien dari keadaan tidak atau kurang berdaya menjadi mempunyai daya) guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Pemberdayaan UMKM sendiri dimaksudkan sebagai suatu usaha pembinaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
UMKM sendiri merupakan salah satu roda perekonomian Indonesia dibawah Usaha Besar (UB). Pemberdayaan UMKM tersebut bisa berasal dari kontribusi Badan Usaha Milik Daerah dengan menggunakan bantuan CSR (Corporate Social Responsibility) maupun PKBL (Program Kerja Bina Lingkungan). Pemberdayaan UMKM melalui program CSR perusahaan milik pemerintah daerah setempat diharapkan dapat menjadi bantuan dan pendorong keberhasilan suatu usaha dengan cara pembinaan sumber daya manusia, skill, serta modal yang dibutuhkan (Shardlow, 1998).
2.8.3 Peranan CSR dalam Pemberdayaan UMKM
Menurut Radyati (2008) melakukan kegiatan CSR dapat meningkatkan dampak ekonomi yang menguntungkan perusahaan dalam dua hal, yakni:
1. Mengurangi Resiko Bisnis.
2. Terbukanya Kesempatan Bisnis.
Radyati juga memaparkan bahwa perluasan pasar dapat diperoleh melalui usaha membantu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat di tingkat perekonomian rendah, jika kemampuan ekonomi mereka sudah dapat ditingkatkan CSR maka di kemudian hari mereka dapat menjadi target pasar yang potensial bagi perusahaan. Pembangunan ekonomi masyarakat lokal sebagai bagian dari kegiatan CSR merupakan bagian dari proses pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan tujuan akhir keberlanjutan (sustainability).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif karena peneliti akan mengkaji bagaimana Analisis Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan dalam Pemberdayaan UMKM Kota Medan. Penelitian kualitatif mengijinkan peneliti mempelajari isu-isu, kasus- kasus, kejadian-kejadian terpilih secara mendalam dan rinci. Fakta bahwa pengumpulan data tidak dibatasi oleh kategori yang sudah ditentukan sebelumnya atas analisis menyokong kedalaman dan kerincian data kualitatif melainkan menyediakan kedalaman dan kerincian melalui pengutipan secara langsung dan deskripsi yang teliti tentang situasi program, kejadian, orang, interaksi dan perilaku yang teramati. Penggambaran rinci, pengutipan secara langsung dan dokumentasi kasus dari metode kualitatif dikumpulkan dengan narasi yang dihasilkan dari format pertanyaan terbuka tanpa adanya upaya untuk mencocokkan dalam kegiatan program atau pengalaman orang-orang kedalam hal-hal yang sudah diamsusikan sebelumnya, kategori-kategori yang sudah dibakukan seperti pilihan jawaban yang dibangun dalam kuesioner (Patton, Michael Quinn, 2009).
Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang melibatkan pembaca laporan evaluasi kedalam latar belakang suatu program atau fenomena yang sedang diamati. Hal ini artinya data harus mendalam dan rinci. Data harus tergambar dengan jelas, gambaran yang cukup membuat pembaca dapat memahami apa yang terjadi dan bagaimana hal itu dapat terjadi. Penggambaran
harus faktual, akurat dan menyeluruh tanpa terkacaukan oleh hal-hal kecil dan sepele yang tidak relevan (Patton, Michael Quinn, 2009). Dalam penelitian ini, seluruh data yang dikumpulkan melalui observasi ke lapangan yang meliputi pengambilan data lewat wawancara. Data dikumpulkan kemudian di anlisis untuk mendapatkan hasil yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian berlokasi pada :
1. PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan jalan Imam Bonjol No. 18.
2. Lembaga Monumen Persahabatan Komplek Rajamas No. 8 Pasar III Timur, Medan Marelan.
3. Non-Government Organization of Pilar Indonesia jalan Willem Iskandar Komplek 1 Dosen IAIN-SU Perumahan Al-Fikri No. 6F.
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, Februari hingga Maret 2018.
3.3 Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari penelitiannya. Oleh karena itu pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Subjek penelitian akan memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian dilakukan. Informan penelitian diharapkan mempunyai banyak pengalaman mengenai latar dari penelitian yang dilakukan.
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:
1. Informan kunci, ( key informan ), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Hal ini yang menjadi Informan kunci peneliti adalah Kepala Tim Bidang CSR PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan.
2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Hal ini yang menjadi Informan utama adalah Lembaga Swadaya Masyarakat atau kelompok organisasi masyarakat yang pernah menerima bantuan dari PT Bank Sumut. Pertama, pimpinan Lembaga Monumen Persahabatan. Kedua, Direktur Non-Government Organization of Pilar Indonesia. (Hendarso dalam Suyanto, 2005).
3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dapat dikelompokkan dalam dua kategori yang dapat dilihat dari sumbernya, yaitu:
1. Teknik pengumpulan data primer
Adapun teknik pengambilan data yang dilakukan:
a. Wawancara mendalam yaitu proses Tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan mendalam dengan informan yang dituju dengan pertanyaan yang sudah disiapkan dan disesuaikan. Rumusan masalah yang telah ditetapkan serta menggunakan panduan atau pedoman wawancara dan alat bantu wawancara seperti tape recorder atau catatan kecil.
2. Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung yang dapat diambil dari sumber lain atau instansi yang berkaitan dengan penelitian. Teknik yang dilakukan adalah:
a. Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data melalui buku-buku, makalah, literature terkait yang relevan dengan masalah yang diteliti.
b. Dokumentasi yaitu pengumpulan data berbentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cinderamata, jurnal kegiatan, dan sebagainya.
Data jenis ini mempunyai sifat utama tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi dimasa silam.
c. Penelusuran data online, yaitu data diperoleh dengan akses internet untuk mencari sumber data yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan.
3.5 Teknik Analisis Data
Menurut Mudjiarahardjo dalam Sujarweni (2014) analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga di peroleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Menurut Miles dan Huberman (1994) dan Faisal (2003) dalam Sujarweni (2014) analisis data dilakukan selama pengumpulan data di lapangan dan setelah semua data terkumpul dengan teknis analisis model interaktif. Analisis data berlangsung secarabersama-samadengan proses pengumpulan data dengan alur tahapan sebagai berikut:
Reduksi Data
Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terinci.Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting bagi peneliti.
Penyajian Data
Data yang diperoleh dikategorikan menurut pokok permasalahan dan dibuat dalam bentuk matriks sehingga memudahkan peneliti untuk melihat pola- pola hubungan satu data dengan data lainnya.
Penyimpulan dan Verifikasi
Kegiatan penyimpulan merupakan langkah lebih lanjut dari kegiatan reduksi dan penyajian data. Data yang sudah direduksi dan disajikan secara sistematis akan disimpulkan sementara. Karena kesimpulan pada tahap awal biasanya kurang jelas, maka perlu diverifikasi pada tahap-tahap selanjutnya.
Kesimpulan Akhir
Kesimpulan akhir diperoleh berdasarkan kesimpulan sementara yang telah diverifikasi.Kesimpulan final ini diharapkan dapat diperoleh setelah pengumpulan data selesai.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan
4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan
Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara didirikan pada tanggal 4 November 1961 dengan sebutan BPDSU. Sesuai dengan ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah Tingkat I Sumatera Utara maka pada tahun 1962 bentuk usaha dirubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan modal dasar pada saat itu sebesar Rp.100 Juta dengan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat II se Sumatera Utara.
Pada tahun 1999, bentuk hukum BPDSU dirubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara atau disingkat PT. Bank Sumut yang berkedudukan dan berkantor pusat di Medan, Jl.
Imam Bonjol No. 18 Medan. Modal dasar pada saat itu menjadi Rp. 400 Milyar yang selanjutnya dengan pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan Bank, di tahun yang sama modal dasar kembali ditingkatkan menjadi Rp. 500 Milyar.
Laju pertumbuhan Bank Sumut kian menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan diliat dari kinerja dan prestasi yang di peroleh dari tahun ke tahun, tercatat total asset Bank Sumut mencapai 10,75 Trilyun pada tahun 2009 dan menjadi 12,76 Trilyun pada tahun 2010. Didukung semangat menjadi Bank Profesional dan tangguh menghadapi persaingan dengan digalakkanya program to be the best yang sejalan dengan road map BPD Regional Champion 2014, tentunya dengan konsekuensi harus memperkuat permodalan yang tidak lagi
membuka akses permodalan lain seperti penerbitan obligasi, untuk itu modal dasar Bank Sumut kembali ditingkatkan dari Rp. 1 Trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp. 2 Trilyun pada tahun 2011 dengan total asset meningkat menjadi 18,95 Trilyun.
4.1.2 Struktur Organisasi PT Bank Sumut
Dalam sebuah perusahaan struktur organisasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas. Struktur organisasi menunjukkan kerangka kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi. Struktur organisasi ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran satuan kerja. Struktur organisasi perusahaan mempunyai peran penting dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, maka struktur organisasi harus dirancang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan keadaan perusahaan. Berikut ini merupakan struktur organisasi PT Bank Sumut.