• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan CSR Dalam Pemberdayaan UMKM

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh : ZULFADILLAH (Halaman 47-0)

BAB II LANDASAN TEORI

2.8 Definisi Konsep

2.8.3 Peranan CSR Dalam Pemberdayaan UMKM

Menurut Radyati (2008) melakukan kegiatan CSR dapat meningkatkan dampak ekonomi yang menguntungkan perusahaan dalam dua hal, yakni:

1. Mengurangi Resiko Bisnis.

2. Terbukanya Kesempatan Bisnis.

Radyati juga memaparkan bahwa perluasan pasar dapat diperoleh melalui usaha membantu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat di tingkat perekonomian rendah, jika kemampuan ekonomi mereka sudah dapat ditingkatkan CSR maka di kemudian hari mereka dapat menjadi target pasar yang potensial bagi perusahaan. Pembangunan ekonomi masyarakat lokal sebagai bagian dari kegiatan CSR merupakan bagian dari proses pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan tujuan akhir keberlanjutan (sustainability).

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif karena peneliti akan mengkaji bagaimana Analisis Implementasi CSR (Corporate Social Responsibility) PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan dalam Pemberdayaan UMKM Kota Medan. Penelitian kualitatif mengijinkan peneliti mempelajari isu-isu, kasus- kasus, kejadian-kejadian terpilih secara mendalam dan rinci. Fakta bahwa pengumpulan data tidak dibatasi oleh kategori yang sudah ditentukan sebelumnya atas analisis menyokong kedalaman dan kerincian data kualitatif melainkan menyediakan kedalaman dan kerincian melalui pengutipan secara langsung dan deskripsi yang teliti tentang situasi program, kejadian, orang, interaksi dan perilaku yang teramati. Penggambaran rinci, pengutipan secara langsung dan dokumentasi kasus dari metode kualitatif dikumpulkan dengan narasi yang dihasilkan dari format pertanyaan terbuka tanpa adanya upaya untuk mencocokkan dalam kegiatan program atau pengalaman orang-orang kedalam hal-hal yang sudah diamsusikan sebelumnya, kategori-kategori yang sudah dibakukan seperti pilihan jawaban yang dibangun dalam kuesioner (Patton, Michael Quinn, 2009).

Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang melibatkan pembaca laporan evaluasi kedalam latar belakang suatu program atau fenomena yang sedang diamati. Hal ini artinya data harus mendalam dan rinci. Data harus tergambar dengan jelas, gambaran yang cukup membuat pembaca dapat memahami apa yang terjadi dan bagaimana hal itu dapat terjadi. Penggambaran

harus faktual, akurat dan menyeluruh tanpa terkacaukan oleh hal-hal kecil dan sepele yang tidak relevan (Patton, Michael Quinn, 2009). Dalam penelitian ini, seluruh data yang dikumpulkan melalui observasi ke lapangan yang meliputi pengambilan data lewat wawancara. Data dikumpulkan kemudian di anlisis untuk mendapatkan hasil yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian berlokasi pada :

1. PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan jalan Imam Bonjol No. 18.

2. Lembaga Monumen Persahabatan Komplek Rajamas No. 8 Pasar III Timur, Medan Marelan.

3. Non-Government Organization of Pilar Indonesia jalan Willem Iskandar Komplek 1 Dosen IAIN-SU Perumahan Al-Fikri No. 6F.

Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, Februari hingga Maret 2018.

3.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari penelitiannya. Oleh karena itu pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Subjek penelitian akan memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian dilakukan. Informan penelitian diharapkan mempunyai banyak pengalaman mengenai latar dari penelitian yang dilakukan.

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:

1. Informan kunci, ( key informan ), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Hal ini yang menjadi Informan kunci peneliti adalah Kepala Tim Bidang CSR PT Bank Sumut Kantor Pusat Medan.

2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Hal ini yang menjadi Informan utama adalah Lembaga Swadaya Masyarakat atau kelompok organisasi masyarakat yang pernah menerima bantuan dari PT Bank Sumut. Pertama, pimpinan Lembaga Monumen Persahabatan. Kedua, Direktur Non-Government Organization of Pilar Indonesia. (Hendarso dalam Suyanto, 2005).

3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dapat dikelompokkan dalam dua kategori yang dapat dilihat dari sumbernya, yaitu:

1. Teknik pengumpulan data primer

Adapun teknik pengambilan data yang dilakukan:

a. Wawancara mendalam yaitu proses Tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan mendalam dengan informan yang dituju dengan pertanyaan yang sudah disiapkan dan disesuaikan. Rumusan masalah yang telah ditetapkan serta menggunakan panduan atau pedoman wawancara dan alat bantu wawancara seperti tape recorder atau catatan kecil.

2. Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung yang dapat diambil dari sumber lain atau instansi yang berkaitan dengan penelitian. Teknik yang dilakukan adalah:

a. Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data melalui buku-buku, makalah, literature terkait yang relevan dengan masalah yang diteliti.

b. Dokumentasi yaitu pengumpulan data berbentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cinderamata, jurnal kegiatan, dan sebagainya.

Data jenis ini mempunyai sifat utama tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi dimasa silam.

c. Penelusuran data online, yaitu data diperoleh dengan akses internet untuk mencari sumber data yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan.

3.5 Teknik Analisis Data

Menurut Mudjiarahardjo dalam Sujarweni (2014) analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga di peroleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Menurut Miles dan Huberman (1994) dan Faisal (2003) dalam Sujarweni (2014) analisis data dilakukan selama pengumpulan data di lapangan dan setelah semua data terkumpul dengan teknis analisis model interaktif. Analisis data berlangsung secarabersama-samadengan proses pengumpulan data dengan alur tahapan sebagai berikut:

Reduksi Data

Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terinci.Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting bagi peneliti.

Penyajian Data

Data yang diperoleh dikategorikan menurut pokok permasalahan dan dibuat dalam bentuk matriks sehingga memudahkan peneliti untuk melihat pola-pola hubungan satu data dengan data lainnya.

Penyimpulan dan Verifikasi

Kegiatan penyimpulan merupakan langkah lebih lanjut dari kegiatan reduksi dan penyajian data. Data yang sudah direduksi dan disajikan secara sistematis akan disimpulkan sementara. Karena kesimpulan pada tahap awal biasanya kurang jelas, maka perlu diverifikasi pada tahap-tahap selanjutnya.

Kesimpulan Akhir

Kesimpulan akhir diperoleh berdasarkan kesimpulan sementara yang telah diverifikasi.Kesimpulan final ini diharapkan dapat diperoleh setelah pengumpulan data selesai.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan

4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan

Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara didirikan pada tanggal 4 November 1961 dengan sebutan BPDSU. Sesuai dengan ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah Tingkat I Sumatera Utara maka pada tahun 1962 bentuk usaha dirubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan modal dasar pada saat itu sebesar Rp.100 Juta dengan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat II se Sumatera Utara.

Pada tahun 1999, bentuk hukum BPDSU dirubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara atau disingkat PT. Bank Sumut yang berkedudukan dan berkantor pusat di Medan, Jl.

Imam Bonjol No. 18 Medan. Modal dasar pada saat itu menjadi Rp. 400 Milyar yang selanjutnya dengan pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan Bank, di tahun yang sama modal dasar kembali ditingkatkan menjadi Rp. 500 Milyar.

Laju pertumbuhan Bank Sumut kian menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan diliat dari kinerja dan prestasi yang di peroleh dari tahun ke tahun, tercatat total asset Bank Sumut mencapai 10,75 Trilyun pada tahun 2009 dan menjadi 12,76 Trilyun pada tahun 2010. Didukung semangat menjadi Bank Profesional dan tangguh menghadapi persaingan dengan digalakkanya program to be the best yang sejalan dengan road map BPD Regional Champion 2014, tentunya dengan konsekuensi harus memperkuat permodalan yang tidak lagi

membuka akses permodalan lain seperti penerbitan obligasi, untuk itu modal dasar Bank Sumut kembali ditingkatkan dari Rp. 1 Trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp. 2 Trilyun pada tahun 2011 dengan total asset meningkat menjadi 18,95 Trilyun.

4.1.2 Struktur Organisasi PT Bank Sumut

Dalam sebuah perusahaan struktur organisasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas. Struktur organisasi menunjukkan kerangka kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi. Struktur organisasi ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran satuan kerja. Struktur organisasi perusahaan mempunyai peran penting dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, maka struktur organisasi harus dirancang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan keadaan perusahaan. Berikut ini merupakan struktur organisasi PT Bank Sumut.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

4.1.3 Visi Dan Misi PT Bank Sumut

Berikut ini merupakan visi dan misi dari PT Bank Sumut yaitu:

Visi :

Menjadi bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat.

Misi :

Mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance.

4.2 Penyajian Data

Dalam bab ini penelitian akan menyajikan data informan penelitian yang di ambil pada Bulan Januari s/d Maret 2018 dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan judul penelitian ini yaitu “Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility PT Bank Sumut Kantor Pusat dalam Pemberdayaan UMKM Kota Medan” sebagai informan kunci yaitu Pimpinan Bidang CSR PT Bank Sumut, sebagai informan utama adalah pihak lembaga yang mendapatkan bantuan CSR untuk pemberdayaan UMKM.

Berikut Ini merupakan karakteristik informan penelitian yang diklasifikasikan kedalam bentuk tabel karakteristik.

4.2.1 Informan Penelitian Sumber: Hasil wawancara penelitian (2018)

Penjelasan mengenai tabel informan penelitian diatas yaitu:

1. Penelitian menetapkan informan dalam proses wawancara sebanyak 3 orang, dengan rincian 1 orang yang menjadi informan kunci yaitu Bapak

2. Yang menjadi informan utama sebanyak 2 orang yaitu Bapak Wanda sebagai wirausaha dan pimpinan lembaga monumen persahabatan, dan bapak Ismail sebagai Direktur non-government of Pilar Indonesia.

4.2.2 Hasil Temuan Lapangan 4.2.2.1 Informan Kunci

Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan Informan kunci yaitu Bapak Hamid selaku Pimpinan Bidang CSR PT Bank Sumut, yaitu:

A. Implementasi CSR PT Bank Sumut

CSR sudah dianggarkan sejak tahun 2011, namun booming dan aktifnya itu pada tahun 2014. Kenapa? Karena melihat minat dan kepedulian tadi, sudah saatnya perusahaan berkonsentrasi memulai program CSR untuk membantu pemerintah mendorong perekonomian masyarakat. Selama kurun waktu tahun 2011 sampai 2013, perusahaan tetap aktif menjalankan CSR, tapi tidak terlalu berkonsentrasi. Karena bukan bagian konsentrasi perusahaan ada disitu, namun sejak tahun 2014 barulah perusahaan membentuk tim khusus bidang CSR sehingga CSR sendiri ditangani oleh tim tersebut. Kemudian untuk hal ini tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab bersama, yaitu pihak pemberi CSR maupun penerima CSR atau panitia program. Kedua pihak tersebut menjadi penanggung jawab untuk program ini. CSR itukan sifatnya bantuan dari pemerintah melalui perusahaan, contohnya Bank Sumut. Jadi jika pemerintah mempunyai program pemberdayaan UMKM misalnya : bidang pameran, pemberdayaan dll, kita membantu pemerintah untuk mewujudkan program tersebut dengan dana CSR yang telah dicover oleh APBD.

Program CSR itu terkait tiga pilar, yang pertama pilar lingkungan kedua pilar pendidikan dan kewirausahaan dan yang ketiga adalah pilar ekonomi. Bentuk bantuan dari perusahaan sendiri yaitu bantuan pendanaan dan bantuan fisik atau materi. Jadi setiap lembaga atau organisasi masyarakat yang ingin membuat permohonan bantuan, pihak lembaga atau organisasi masyarakat tersebut harus membuat proposal pengajuan. Bentuk bantuan yang diberikan tergantung dengan apa yang diminta oleh lembaga tersebut. Biasanya kami akan melaksanakan pembinaan maupun bantuan tergantung dari permintaan proposal dari pihak lain atau dinas yang mengajukan. Setiap proposal memiliki ADRT, dalam proposal ini harus ada anggaran biaya apa yang ingin dibuat dalam program CSR ini. Apakah dia berbentuk fisik atau pemberdayaan. Permberdayaan ini biasanya sulit, dari sepuluh orang yang kita beri pelatihan, belum tentu semuanya bisa. Jadi setiap program itu case nya berbeda. Tidak semuanya diberi peralatan dan kemudian dilatih, semua tergantung permintaan dari penerima bantuan. Hanya saja secara moral pasti kita memotivasi penerima CSR agar memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik.

Tahapan dalam penyaluran CSR yang kami lakukan terhadap pengajuan proposal UMKM itu yaitu dengan menerima usulan program bantuan terhadap UMKM dari tim koordinasi maupun dari panitia program atau organisasi masyarakat, lalu unit CSR melakukan analisa terhadap kelayakan proposal atau usulan program tersebut. Apabila disetujui maka dilakukan realisasi melalui kantor cabang atau unit CSR langsung ke rekening panitia program atau organisasi masyarakat. Kemudian panitia program atau organisasi masyarakat tersebut dapat membelanjakan dana yang telah diberikan sesuai dengan yang ada

didalam RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang tercantum diproposal, misalnya : dana pembelian steling, pembelian mesin jahit, pembelian meja, dan sebagainya.

Kemudian untuk struktur organisasi dari tim bidang CSR seperti ini : Gambar 4.2

Hasil Temuan Lapangan

Struktur Organisasi Tim Bidang CSR PT Bank Sumut

Jika unit CSR menerima proposal dengan biaya permohonan bantuan diatas Rp. 1 Milyar pertahunnya, maka unit CSR harus meminta persetujuan langsung kepada Direktur Utama. Namun, jika proposal permohonan bantuan yang diterima tim unit CSR PT Bank Sumut dibawah Rp. 1 Milyar, maka tim unit CSR hanya perlu meminta persetujuan kepada Sekretaris Perusahaan. Sedangkan jumlah total nilai CSR yang diberikan oleh PT Bank Sumut berbeda-beda setiap tahunnya, karena dana CSR diambil dari penyisihan biaya tahun buku berjalan dan nilainya lebih kurang Rp. 1 Milyar lebih pertahun. Dan jumlah total dana CSR yang dipersenkan untuk bantuan tergantung kepada keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang besarannya ditentukan langsung oleh

PT BANK SUMUT

DIREKTUR UTAMA

UNIT CSR

SEKRETARIS PERUSAHAAN Persetujuan di

atas 1 milyar

Persetujuan di bawah 1 milyar

Untuk pengawasan penyaluran dana CSR, PT Bank Sumut melakukan cara dengan cek on the spot progress atau turun langsung dalam mengawasi pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh kantor cabang penyalur apabila penyaluran dana CSR melalui kantor cabang. Misalanya ada sebuah lembaga yang mengajukan proposal permohonan bantuan dana CSR kepada PT Bank Sumut, jika proposal lembaga tersebut disetujui maka penyaluran dana bantuan akan dilakukan oleh kantor cabang yang lokasinya berdekatan dengan kantor lembaga tersebut. Apabila tidak ada kantor cabang PT Bank Sumut terdekat, maka bantuan tersebut akan diturunkan langsung oleh Tim CSR PT Bank Sumut Kantor Pusat.

Untuk kuota yang disediakan oleh PT Bank Sumut untuk penerima bantuan CSR kepada pelaku UMKM tidak pasti setiap tahun nya, karena RAB dalam proposal untuk dana bantuan pelaku UMKM berbeda-beda jumlahnya setiap tahun. PT Bank Sumut mempunyai 3 pilar untuk program CSR, yaitu pilar lingkungan, pilar pendidikan dan kewirausahaan dan yang ketiga adalah pilar ekonomi. Jadi, bantuan yang diberikan PT Bank Sumut berdasarkan berapa banyak proposal yang masuk dan berapa proposal yang disetujui. Misalnya tahun ini proposal permohonan bantuan yang masuk kebanyakan mengenai pendidikan, jadi bantuan dana CSR tersebut banyak dialihkan untuk bantuan pendidikan misalnya perbaikan gedung sekolah. Begitu juga halnya dengan kedua pilar lainnya.

Untuk pengelolaan CSR sendiri kendala yang dihadapi PT Bank Sumut dalam memberikan bantuan CSR kepada pelaku UMKM adalah kelengkapan berkas administrasi. Contohnya adalah proposal yang diajukan isinya tidak sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan oleh PT Bank Sumut. Seringkali proposal yang masuk tidak sesuai dengan format yang diinginkan perusahaan, sehingga

lembaga atau organisasi yang mengajukan proposal tersebut harus melakukan revisi untuk mengurus kelengkapan berkas administrasi. Bahkan ada beberapa lembaga yang mengalami delapan kali revisi agar hasilnya sesuai dengan peraturan dan ketetapan dari pihak perusahaan. Jadi itu merupakan suatu kendala dari kita karena harus berkali-kali merevisi kesalahan proposal tersebut. Setiap kerja sama pasti mempunyai masalah, namun pihak PT Bank Sumut dapat mengantisipasi masalah tersebut. Sebelum memulai kerja sama dengan pihak lain, PT Bank Sumut telah membuat sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut diambil dari Standar Operasional Perusahaan (SOP) dan perjanjian kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disetujui oleh kedua pihak.

Jika suatu hari kerja sama antar kedua belah pihak mengalami masalah, maka pihak perusahaan dapat mengatasi nya dengan baik, karena semua ketentuan sudah ada didalam SOP dan MoU. Untuk saat ini apa yang telah diberikan oleh PT Bank Sumut dalam hal memberikan bantuan CSR kepada pelaku UMKM sudah sangat efektif dan optimal. Dan juga sudah sesuai dengan visi PT Bank Sumut yaitu membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian.

Tantangan terberat yang kami hadapi dalam menjalankan tugas selama menjadi pengaawas CSR adalah sulitnya memenuhi laporan pertanggung jawaban dari seluruh pihak yang menerima bantuan CSR pertahunnya karena mengingat banyaknya pihak yang mendapatkan bantuan dengan dana yang berbeda-beda.

B. Pemberdayaan UMKM

Menurut saya, jika dilihat dari sisi asset, UMKM Kota Medan masih perlu penataan dan bimbingan, dari segmentasi usahanya UMKM Kota Medan belum bisa dikatakan baik dan kurang bisa dibimbing. Produk yang dihasilkan

sebenarnya bagus dan kreatif, namun UMKM tersebut kurang dapat ditata dengan baik, kemasan produknya tidak bagus, lokasi penjualan belum baik atau kurang strategis. Bahkan ketika kita ingin membeli oleh-oleh khas Medan, kita tidak tau tujuannya harus kemana. Kita butuh tempat yang dapat meyediakan semua oleh-oleh khas Medan disatu tempat tersebut agar UMKM lebih dapat terarah. Jadi sebenarnya UMKM Kota Medan itu butuh bantuan, namun jika ditelaah lagi UMKM Kota Medan itu jauh lebih memerlukan pembinaan. Jika bantuan pendanaan atau fisik, sebenarnya tanpa bantuan tersebut pun UMKM bisa berdiri dan berjualan, namun tanpa pembinaan dan pemberdayaan, UMKM akan sulit mencari tempat yang baik di Kota Medan. Oleh sebab itu harapan saya sebenarnya UMKM itu harus bisa di tata lagi dari segi pemasaran dan kemasannya supaya menarik.

Perusahaan yang menganggarkan dana CSR mempunyai konsep pembinaan. Konsep pembinaan yang dilakukan perusahaan sebenarnya tidak sampai pada pembinaan pelaku UMKM tersebut, karena untuk bantuan CSR sendiri selama ini dinaungi oleh lembaga/organisasi masyarakat yang melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM. PT Bank Sumut dalam hal ini hanya memberikan bantuan berupa dana/fisik . Ada beberapa kekhawatiran yang akan terjadi apabila perusahaan memberikan bantuan CSR kepada individu, salah satunya adalah tidak optimalnya dana yang digunakan sehingga bantuan ysng diberikan tidak dapat berkembang dengan baik. Namun, PT Bank Sumut juga ikut berpartisipasi dengan cara mengawasi jalannya pembinaan yang dilakukan oleh lembaga/organisasi masyarakat tersebut. Harapan saya bantuan CSR yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik agar dana yang dikeluarkan oleh pihak

perusahaan tidak terbuang sia-sia. Serta harapan kami agar usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan benefit bagi UMKM tersebut. Sehingga apabila masa program CSR telah habis, maka pelaku UMKM dapat mengembangkan usahanya dan bergerak sendiri secara mandiri.

4.2.2.2 Informan Utama

1. Bapak Wanda (Lembaga Monumen Persahabatan)

Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan Informan utama pertama yaitu Bapak Wanda selaku pimpinan Lembaga Monumen Persahabatan, yaitu:

A. Implementasi CSR

Lembaga yang kami jalani sebelumnya tidak pernah menerima bantuan dana CSR kepada perusahaan lain, Terkhusus CSR sendiri, ini adalah yang pertama kalinya. PT Bank Sumut merupakan perusahaan pertama yang memberikan bantuan CSR kepada lembaga ini. Untuk meminta permohonan dana, kami harus membuat proposal. Pembuatan proposal pertama kali itu merupakan ide dari pihak lembaga sendiri mengenai format dan sebagainya, namun setelah diajukan kepada PT Bank Sumut, PT Bank Sumut lah yang melakukan revisi jika ada kesalahan yang dibuat oleh pihak lembaga. Dan sejauh ini, kita sudah mengalami tujuah kali revisian isi proposal. Kami harus cantumkan nama dan data diri dari penerima bantuan CSR agar semuanya menjadi jelas. Data penerima bantuan CSR kemudian RAB yang diajukan harus jelas. Terkhusus untuk kedua data tersebut, PT Bank Sumut yang membina pihak lembaga secara langsung. Dan untuk Feedback sendiri, yang diminta PT Bank Sumut sangat sederhana, yaitu menjadi nasabah mereka. Jadi diharapkan bagi pelaku-pelaku yang mendapatkan

bantuan CSR ini dapat menjadi nasabah dan menabung di Bank Sumut. Berbicara mengenai peranan CSR, Pihak lembaga tentunya mengapresiasi bantuan CSR dari PT Bank Sumut agar masyarakat Kota Medan bisa mandiri dalam menjalankan usaha. Peranan CSR tentunya sangat besar, dengan adanya bantuan CSR masyarakat yang mempunyai ide serta kreatifitas dalam menjalankan usaha tidak perlu terhambat lagi oleh masalah modal. Serta bantuan CSR terhadap UMKM Kota Medan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Kota Medan.

B. Pemberdayaan UMKM

Bantuan CSR yang diberikan dalam bentuk materi oleh PT Bank Sumut.

Dan didalam kasus ini, PT Bank Sumut memberikan bantuan yang sesuai dengan

Dan didalam kasus ini, PT Bank Sumut memberikan bantuan yang sesuai dengan

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh : ZULFADILLAH (Halaman 47-0)

Dokumen terkait