Bab IV. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
2. Hasil Temuan Utama
a. Pengaruh Kelompok pada Anggota Kelompok YORC
Kedua subjek yang adalah anggota kelompok ini untuk turun ke jalan dipengaruhi oleh keberadaan orang lain yang berada dekat dengannya. Love Hate Love yang sebelumnya membuat gambar sebatas di tembok sekolahnya, atas ajakan seorang teman untuk membuat gambar di tembok sekolahnya dan kemudian mereka membentuk sebuah kelompok atau kru. Bersama mereka berdua mulai membuat graffiti di banyak tembok di Yogyakarta dan kemudian membentuk YORC dengan jumlah lebih besar. Paws, yang awalnya turun ke jalan untuk meluapkan perasaan, menjadi lebih percaya diri setelah mengenal dan bergabung dengan kelompok.
i. Social Facilitation (meningkatnya performansi saat bekerja dalam kehadiran orang lain.)
Anggota kelompok ini merasa lebih percaya diri dan berada dengan orang lain dalam kelompok ketika menggambar memungkinkan anggotanya untuk membuat gambar lebih baik.
“… opo yo kan nek wis melbu kelompok ki luwih PD nik nggambar, aku mbiyen yo kenalan karo mereka tapi luwih PD nek nggambar,…”(Paws, 9)
Perbedaan terlihat pada hasil gambar, ketika sendirian Love Hate Love membuat tag, sebatas tulisan nama atau inisialnya, sedangkan
45
ketika ada yang menemani Love Hate Love mengaku dapat menghasilkan sebuah karya, yang diistilahkannya “piece”. Lokasi dan situasi juga berpengaruh. Untuk membuat graffiti di tempat yang memiliki resiko lebih besar seperti di kereta, yang harus ada yang menemaninya. Meski kelompok hanya terdiri dari dua sampai tiga orang.
“Alasannya kalo dewean karena aku dewe yo wis istilahe ketika aku pas dewe aku nggarap aku ribet ngowo barang sing okeh, neng kono aku ubek dewe ngono males. Aku luwih seneng nek, aku dewe yo opo sing aku lakukan opo sing ra paling ribet untuk aku ngono wae.” (Love Hate Love, 218)
“Yo ndak no ono dua atau tida orang , bareng-bareng sebelum ketangkep kae selalu bareng-bareng” (Love Hate Love, 344)
Adanya teman ketika menggambar diakuinya dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih maksimal, dengan adanya respon oleh teman lain pada gambar yang dibuat, dan komunikasi saat membuat gambar itu.
“Nek barengan ki tak pikir iso luwih maskimal, karena nek barengan kan ono komunikasi yang luwih berkesinambungan antara satu dengan yang lain. Dan iso saling ada kesamaan bentuk, saling merespon. Nek dewe ki luwih ngomongke dewe
ngono lo luwih ngomongke deke dewe dan ora iso lebih maksimal.” (Love Hate Love, 255)
ii. Social Loafing (kecenderungan untuk mengurangi usaha ketika seseorang mengerahkan usahanya untuk tujuan bersama)
Pembiasan tanggung jawab pada anggota kelompok terjadi ketika mengerjakan sebuah gambar bersama dan peranannya dalam kelompok sudah dilaksanakan.
“Love Hate Love yang sudah selesai dengan karakternya sendiri banyak duduk di seberang jalan sambil melihat kerja teman yang lain, Muck bergabung dengan Love Hate Love. Beberapa saat kemudian mereka berdua meninggalkan lokasi...” (Kelompok, Obs 23 Mei)
“Merf, Love Hate Love, dan Paws tidak banyak menggambar. Setelah menyelesaikan gambarnya mereka tidak membuat gambar lagi. Mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol.” (Kelompok, Obs 26 Mei)
“Merf terlihat banyak duduk-duduk, dia sudah menyelesaikan tulisannya. Paws pamit meninggalkan lokasi. Muck yang sudah selesai membuat grafitinya, becanda dengan Pof…”(Kelompok, Obs 27 Mei)
Berbeda dengan ketika mereka berkolaborasi dalam satu tema, ketika mereka menggambar tanpa ditentukan peran dan temanya,
47
mereka sibuk dengan karya mereka sendiri-sendiri dan dapat menunjukan ciri khas gambarnya.
“Muck, Merf, dan Chalk membuat graffiti nama mereka, yang pada gambar sebelumnya Merf dan Chalk tidak daptat membuat graffiti karena sudah ditentukan pembagian tugasnya. Pof dan Love Hate Love membuat gambar karakternya sendiri dengan cat dan kuas berbeda dengan gambar sebelumnya yang hanya menampilkan karakter tema antasena. Mereka tampak siduk dengan gambar mereka sendiri-sendiri.” (Kelompok, Obs 27 Mei)
iii. Deindividuasi (berkurangnya self-awareness dan meningkatnya identitas sosial.)
Anggota kelompok ini tidak semuanya berusaha untuk menutupi identitasnya. Love Hate Love menutupi identitasnya dari publik ketika awal membuat graffiti, tahun 2003 sampai 2006. Alasanya karena menghargai landasan illegal kelompoknya. Subjek tidak menggunakan nama aslinya untuk di bubuhkan dalam setiap karyanya, melainkan menggunakan nama Love Hate Love. Nama kru lebih diutamakan sampai 2006, hal ini karena tujuan utama saat itu lebih pada sosialisasi nama kru dan semangat untuk berkelompok, semangat untuk mengangkat dan menyatakan diri sebagai individu belum ada.
“Biyen aku menutupi diriku dengan, tahun-tahun kuwi kan aku menghargai landasanku mau. Lha saiki kan aku lebih konsenatrasi neng Love Hate Love.” (Love Hate Love, 262)
“Perjalanane ykilc kui yo mung nggede ake jeneng kru dan intine yo ming wong loro aku karo gedek.” (Love Hate Love, 310)
“Yang dilakukan kelompok iki lebih ken gon sosialisasi, filosofine ngono tetepan, nilain kebenarane sosialisasi ke kru. Yang terjadi pada tahun-tahun jamane 2005 2006 lebih ke sosialisasi kru, sosialisasi kru ke ruang publik ngono lo. Karena semangate luwih neng nggon kelompok untuk menyatakan individu belum ono, kemampuan mereka waktu itu.”(Love Hate Love, 146)
Tanpa kelompok atau orang lain, subjek tidak menggambar sendiri di tempat yang berbahaya. Berbahaya dari aparat keamanan, warga sekitar, dan kru lain yang menjadikan tembok tertentu sebagai tempat “pertempuran”, dimana bomber bersaing untuk menunjukan gambar yang terbaik.
“Karena kan untuk sing terjadi neng kene dewe nek nggambar dewe yo, nggambar-tempat tempat safety ngono kae. Nggambar sing istilahe lokasine lebih lokasi-lokasi sing ora terlalu tegang… Tegang dalam arti aman, gampangane ngono. Istilahe ora ajang pertempuran. Koyo neng galeria kae nggambar dewe yo sekirane tetep iso dilakukan no lo. .” (Love Hate Love, 227)
Nama YORC menjadi modal dan pegangan untuk membuat gambar di jalan, anggotanya berangkat dari ilegalnya kelompok tersebut.
49
Rasa takut menghilang dan berganti dengan keberanian yang muncul karena kebersamaan dalam kelompok dan karena memiliki label tertentu seperti nama kelompok YORC.
“Ora ora masalahe piye yo kene spontan wae, wis nggarap kono. Ming modele cah-cah i ming semangat nggambar karo semangat lewat mungkin yo semangat ono luwih luwih ono keberanian karena mereka bareng-bareng.”(Love Hate Love, 483)
“Yen masalah lokalitas warga kui, di nomor duakan, lebih diabaikan kan cah-cah lebih neg nggon siprite deweke sik, spirit nggambare dan untuk hal yang terjadi nanti karo warga ki di nomerke duake, nanti.” (Love Hate Love, 167)
“Kae ki atas dasar cah2 dewe wis kebacut… . nyekel jeneng Yogyakarta Art Crime i lho. Mungkin crime e lewat sing ilegal kui tapi yo emang sak tenane ming ono rasa inisiatf untuk nggawe apik wae. Istilahe walaupun wong ra seneng yo tetep ngomong , no le negur no lo yo omong wae nek kui yo untuk …”(Love Hate Love, 478)
“Sebenere i nganu o yo an nak dari kita masing-masing i muk modal nekat soale karena mengko yang terjadi ki bisa didiskusikan” (Love Hate Love, 470)
“Yang jelas nek bareng2 ki ora wedi, rasa ketakutan berkurang, bareng2, nek masalah ketenangan ki penak dewe nek butuh serius.” (Paws, 131)
“Opo yo nek nggambar bareng2 ki luwih aman, yo seneng wae koncone akeh.” (Paws, 134)
Saat ini kedua subjek lebih membesarkan namanya sendiri, kru dinomor-duakan. Subjek lebih mengutamakan nama Love Hate Love dan Paws sendiri, dan tidak lagi menutupi identitasnya. Baginya tidak menjadi masalah jika ada yang mengenalinya. Menjadi masalah hanya jika ditangkap oleh aparat. Paws menjadikan apa yang dilakukannya di jalan sebagai salah satu media publikasi atas nama dan karyanya. Ketika publik mengenalinya dan hasil karyanya berarti usahanya telah berhasil.
“Untuk saat ini lebih ke inisial masing-masing, yen aku ndelok cah-cah saat ini lebih ke, mereka luwih membesarkan nama mereka sendiri individu sendiri, dan kru di sebagaikan nomor dua.” (Love Hate Love, 151)
“Nek aku sendiri yo tetep mlaku ra dadi masalah. Yen dadi masalah penting ming nek kecekel kui dadi masalah penting, karena karyaku sudah banyak dan yo nek dipikir-pikir ana satu sisi sing ra seneng dari pihak hukume wae.” (Love Hate Love, 284)
“… nggambar tok ki uwong iso kenal, nek sekarang kan aku isih nggo jeneng, yo nggo publikasi sih.” (Paws, 155)
51
“Di saat koyo opo yo nggambar ki ternyata yo fungsi.. koyo.. aku nggambar ranjau, ranjauku wis ngenani uwong, dadi uwong ki wis ngerti.” (Paws, 160)
iv. Group Polarizaiton (mengkutubnya keputusan yang membuat kelompok mengadopsi sebuah posisi lebih ekstrim.)
Pada kelompok ini, YORC, mengkutubnya pendapat terjadi ketika ada perbedaan pendapat dalam penentuan lokasi menggambar. Terjadi perpisahan untuk membuat gambar di tempat-tempat yang masing-masing kubu pertahankan. Pada kelompok YORC juga pernah terjadi adanya perbedaan pendapat yang akhirnya memecah kelompok itu menjadi kubu selatan dan utara.
“Perbedaan, perbedaan dalam arahan wae, arahan sing disepakati. Yo mungkin kubu, dadi istilahe njuk kubu-kubu an ngono, ono sing beberapa pongin mlaku neng nggon space iki tapi iki mlaku ning space iki.” (Love Hate Love, 201)
“Yo njuk dadi pergesehan sing ketok ngono lo, cah lor cah lor, cah kidul, ngono lo dadi, ketemune ketemu frontale luwih neng nggon job, upamane cah kidul ono gawean opo njuk cah lor pingin menyainigi.” (Love Hate Love, 361)
v. Groupthink (pemikiran dimana mempertahankan kohesivitas dan solidaritas kelompok lebih penting daripada mempertimbangkan kenyataan atau fakta.)
Ilusi akan kekebalan dapat membutakan kelompok terhadap peringatan bahaya. Dalam proses diskusinya, mereka tetap mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut jalannya mereka dalam membuat graffiti. Pandangan warga sekitar tempat mereka membuat gambar terkadang diabaikan, meskipun dalam diskusinya, kelompok tetap membahas masalah warga sekitar lokasi.
“Ada juga sih..lokasi menyangkut keamanan, tempat aman ga, warga sekitar penak ra.” (Paws, 104)
“Yo misale pinggir dalan, lalu lintas aman ga parkir motor piye, wargane cuek po reseh kan ono uwong nggambar di piye-piye, kadang-kadang ono sing ngono kuwi sih.” (Paws, 106)
Pada akhirnya dalam pelaksanaanya di jalan, anggota kelompok YORC ini tidak mejadikan pandangan masyarakat terhadap graffiti sebagai penghalang mereka membuat graffiti.
“Kita yo suka yo…asal hajar sih nek cah-cah, yo masalah kuwi keri dibahas bareng, yo…ra memikirkan faktor-faktor laen” (Paws, 211)
53
“Yen masalah lokalitas warga kui, di nomor duakan lebih diabaikan, kan cah-cah lebih neg nggon siprite deweke sik, spirit nggambare dan untuk hal yang terjadi nanti karo warga ki di nomerke duake, nanti.” (Love Hate Love, 167)
“… dan tanggapane i ternyata masyarakat sih memandang kuwi kreatif, apik, ono sing mandang sisi eleke karena menggunakan cat semprot kui lho, pilox kuwi. Dadi istilahe latar belakange mesti geng-gengan ngono lho, mengotori. Tapi aku dan Gedhek tidak merasa menjadikan sebuah halangan koyo ngono kui…”(Love Hate Love, 316)
Meskipun keadaan warga diabaikan, dalam diskusinya kelompok tetap mempertimbangkan keadaan-keadaan di luar kelompok. Tetap diadakan survei untuk melihat keadaan lokasi yang akan digambari. Faktor di luar kelompok yang dipertimbangkan dalam diskusi termasuk pembagian tempat atau space, dan keamanan tempat itu dalam arti keselamatan jiwa, seperti jika harus menggambar di ketinggian. Kualitas gambar juga dipertimbangkan, mengingat mereka juga membawa nama kelompok besar YORC, sehingga kualitas gambar mereka berpengaruh pada nama YORC.
“Masalahe untuk koyo ngono perlu survei barang kadang, sebelum.. memang kita tiap hari keliling dolan, piknik, ndelok nggone mengko bengi, memeang ki persiapan, untuk terjun.” (Love Hate Love, 114)
“Safetyne lebih neng nggon kiro-kiro iso di janggkau pora kui ketika digambar, kan ra memungknkan banget ketika kita nggambar neng ketinggian ra nganggo ondo. Ngono barang to, dan kui nggambare neng pinggir jurang . tep dipikirke to.” (Love Hate Love, 165)
“...kadang nggambar kan membawa nama YORC yo kan mempengaruhi YORC juga nama YORC, yo kadang-kadang sharing juga si apike piye warnane piye..njuk keamanane” (Paws, 117)
b. Pengaruh Kelompok pada Anggota Kelompok FSK
Merf mengaku lebih senang dan bahagia, dan pengalaman bersama FSK membuat Merf menjadi jauh lebih berani dari sebelumnya. Anggota lainnya, Muck, menyatakan yang mereka lakukan adalah untuk bersenang-senang. FSK membawanya menjadi orang yang dicari oleh aparat.
i. Social Facilitation (meningkatnya performansi saat bekerja dalam kehadiran orang lain.)
Merf menyatakan bahwa kreasi FSK lebih baik jika dibandingkan dengan karyanya sendiri dan Merf merasa jauh lebih senang bersama teman-temannya karena dapat berbagi rasa. Dengan bersama kelompok Merf mampu menjangkau tempat yang lebih
55
berbahaya. Perbedaan juga terjadi pada hasil gambar yang hanya tagging jika Merf berjalan sendiri.
“… dan kreasi FSK sama saya sendiri lebih baik FSK, soalnya lebih wild dan lebih kaya akan graffiti sendiri, dari segi cat semprot sama cat-cat yang lain. Main cat semprot semua. Kalau saya sendiri mungkin cuma asal cat dan spray aja yang penting graffiti”(Merf, 226)
“Pemilihan tempat di FSK itu jauh lebih besar dan lebih gila ya, kalo bagi saya sendiri.”(Merf, 243)
“Tagging, lebih banyak tagging. Kalau sekarang-sekarang ini ya mas, soalnya kalo bikin saya sendiri, bikin graffiti, memungkinkan untuk pihak polisi untuk menemui saya, terus meminta itu. Jadi, saya cepat tagging aja.”(Merf, 249)
Muck merasa ada yang dapat membantu dan mengoreksi apa yang salah jika berjalan bersama kelompok. Waktu pengerjaan juga memilih ketika masih terang. Meskipun demikian, Muck merasa lebih puas ketika dapat mengerjakan graffiti sendirian.
“Ya kalo sama, kalo bareng-bareng ya ada, ada yang bantu, ngambilin apa, bisa koreksi apa yang salah.” (Muck, 282)
“Mungkin kalo sendiri ya waktunya mungkin ambil yang masih terang lah, sore ato pagi atau siang. Kalo tempatnya yang
mungkin aman, yang mungkin di situ nggak ada masalah lah sama tempat itu.” (Muck, 272)
“Mungkin kalo sendiri lebih, lebih puas lah, puasnya lebih lebih puas. Tapi kalo sama teman ya puas, gitu.” (Muck, 247)
ii. Deindividuasi (berkurangnya self-awareness dan meningkatnya identitas sosial.)
Ketika ada hasil negatif dari apa yang kelompok bomber lakukan, mereka percaya bahwa tanggung jawab akan didistribusikan atau dibagi antar anggota kelompoknya.
“Ya mungkin kalo sama teman gitu mungkin lebih bisa, lebih mungkin bisa dikerjain. Malem, yo seenaknya waktu lah, dan tempat mungkin bisa, bisa di tanggung bareng dan berani di tempat yang agak rame.” (Muck, 273)
Menjadi bagian dari kelompok membuat anggotanya tidak bertindak atas kepatuhan pada norma lain dalam melakukan kegiatannya. Meskipun akhirnya kelompok berkonflik dengan norma dari kelompok lain atau sebuah masyarakat luas.
“Ya di situ, di situ kita lagi nggambar, lagi nggambar lagi ngeblok , kurang nge-line. Waktu itu ada salah satu polsista dateng. Patroli lah, patroli pake senter. Ya mungkin udah lari bertiga dan Bill mungkin ditarik ditangkep. Ya akhirnya turun semua buat mukulin, buat mukulin itu, polsista itu. Buat mukulin,
57
ya udah, di habisin sekalian. Ya udah biar, asal selamat lah. Asal ngga ada tanggungan lain, mending seperti itu, yah, berkelahi. Fight.” (Muck, 221)
Tidak dikenalnya mereka menjadi sebuah keuntungan yang membuat mereka tetap dapat melakukan kegiatannya. Penggunaan nama inisial daripada nama asli membuat mereka tidak dikenal oleh orang lain tapi tetap dikenali oleh bomber-bomber lain.
“Sifat keamanan aja ya mas mungkin, sifat keamanan dan sifat biar orang itu nggak tahu saya sendiri. Soalnya saya coba sembunyikan dari mereka semua kalo saya punya inisial seperti itu dan saya merusak fasilitas yang ada.” (Merf, 260)
“…karena kita disitu belum line, belum nge-line dan belum tahu inisial apa di situ yang mau di torehin. Tapi kita di situ cuma baru ngeblok, untuk grafiti ngeblok, tinggal line, tapi kita belum line, terus kita ketahuan. Untungnya di situ, untunge pas kui lho mas.” (Muck, 234)
iii. Groupthink (Pemikiran dimana mempertahankan kohesivitas dan solidaritas kelompok lebih penting daripada mempertimbangkan kenyataan atau fakta)
Dalam diskusinya kelompok mempertimbangkan apa yang akan mereka gambar dan penggunaan warna, juga hal-hal yang dapat menghalangi kegiatan mereka dan resiko-resiko lainnya.
Mungkin yang dipertimbangkan di situ adalah situasi, keamanan, situasi keamanan dan mungkin spot, spot yang mungkin, visualisasinya bagus apa enggak, dan mungkin sejauh tempat yang yang apa lah, yang mungkin jarak jauh atau dekat dari jangkauan orang mungkin. Dan mungkin warna, ya warna graffiti ya mungkin itu masuk diskusi. (Muck, 193)
Keamanan yo seperti mungkin di situ banyak orang kampung, ya mungkin di situ sering ada patroli, mungkin di situ ada anjing penjaga atau apa lah. (Muck, 197)
O itu sering mas, sering berembug dahulu terus kita patungan itu sering, dalam sebuah grup ya, itu kita sering membuat random jadwal pelaksaaan bombing di suatu tempat kita bertemu sering berbicara ini, efeknya-efeknya, yang ini nggak, yang ini enggak. (Merf, 166)
Ilusi akan kekebalan dapat membutakan kelompok bomber terhadap peringatan bahaya, juga dalam pengambilan sebuah keputusan. Kelompok mereka akan merasionalisasi keputusan yang diambil kelompok.
Ya mungkin itu tetep dipertimbangkan yo seperti kemaren waktu di tugu ada anjing penjaga, dipotas dulu sama anak-anak, sama anak-anak fsk, ya kita, keesokan harinya nggak ada anjingnya, kita bantai. (Muck, 200)
59
Efek yang lebih saya sendiri juga takut, itu efeknya dipukuli preman terus diangkut polisi karena nulis itu karena mengotori. (Merf, 170)
Itu juga sering kita bahas ya mas, tapi kita juga bulatkan tekat kalau kita sendiri lebih kuat daripada mereka, terus kita sendiri lebih berani dan tidak memikirkan semua itu, tidak memikirkan hal negatif semua itu, kita coba berpikir positif terus aja. (Merf, 191)
Perbedaan pendapat dalam kelompok diselesaikan dengan mengingatkan anggota kelompok pada tujuan awal kelompok. Pada akhirnya dalam pelaksanaanya di jalan, mereka tidak mejadikan pandangan masyarakat terhadap graffiti sebagai penghalang mereka membuat graffiti.
Ya namanya manusia, manusia sendiri setiap masalah itu mesti ada, pertentangan, pro dan kontra ya mas. Tapi kita coba satukan visi dan misi aja. Bahwa fsk itu sendiri coba berjalan di denah yang peteng, dalam kegelapan graffiti gitu. (Merf, 215)
O seperti itu ya mungkin itu, emang jalannya kita seperti itu mas. Maksudnya kita emang nggak pernah ngeliat situasi apa yang akan terjadi nanti, yang penting kita happy lah, puas dengan garapan kita di situ. Gerbong. (Muck, 217)