Bab II. Dasar Teori
C. Pengaruh Kelompok terhadap Individu
Bagaimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh keberadaan orang lain banyak diterangkan dalam psikologi sosial, juga tentang bagaimana perilaku sosial seorang individu melebur dalam perilaku kelompok. Walgito (2001) menyatakan, jika jumlah individu itu banyak, maka individu merasa dirinya cukup kuat untuk menghadapi atau menentang norma-norma yang dianggapnya menjadi penghalang itu. Dengan mereka menjadi satu, orang yang semula takut, ketakutan itu menjadi berkurang atau bahkan hilang, orang yang semula ragu-ragu menjadi tidak ragu-ragu lagi dan akhirnya penghalang tersebut dilanggar, sensor tidak lagi mampu bekerja dengan baik, dan individu merasa bebas.
Johnson dan Johnson (2003) memaparkan 4 penjelasan untuk group influence. Pertama dari Le Bon yang menjelaskan mengapa seeseorang dalam mob kehilangan rasa tanggung jawab. Dengan mengabaikan kualitas individual dalam kelompok mereka menyatu dalam mental crowd, dan bertindak impulsif, tidak beralasan, dan berlebihan. Teori konvergensi kemudian menjelaskan bahwa individu bergabung dengan kelompok karena ada kesamaan kebutuhan dan karakteristik kepribadian. Bergabungnya individu dengan kelompok memungkinkannya untuk memuaskan kebutuhan dan pelampiasan perilaku yang selama ini terkontrol. Ketiga adalah teori emergent-norm oleh Ralph Turner dan Lewis Killian. Dijelaskan bahwa
15
individu dalam crowd berbeda dan heterogen, tidak ada kesatuan mental, namun mereka menyesuaikan norma yang sesuai dengan situasi tertentu saat itu. Ketika berada di dalam kelompok anggota akan conform dan ikut norma yang berlaku. Penjelasan ke-empat adalah Deindividuasi, yaitu sebuah satus psikologis yang berkarakteristik berkurangnya self-awareness dan meningkatnya identitas sosial, dibawa oleh keadaan eksternal seperti menjadi anggota anonymus dari crowd yang besar.
Menurut Santosa (2006), kelompok sosial dapat berpengaruh terhadap kehidupan pribadi secara umum berpengaruh pada persepsi individu, sikap sosialnya, dan tingkah laku individu.
1. Pengaruh terhadap persepsi meliputi organisasi informasi, pemberian ciri-ciri, pemahaman atas sikap, dan bagaimana merespon.
2. Pengaruhnya terhadap sikap meliputi pembentukan dan perubahan sikap. Pembentukan dan perubahan itu dapat terjadi karena interaksi sosial, faktor intern seperti minat, berada pada situasi tertentu, penambahan informasi, dan penekanan atau paksaan.
3. Pengaruh terhadap tingkah laku meliputi perubahan dalam arti psikologis, juga termasuk interaksi yang tampak antara individu dan lingkungannya.
Myers (1983) memaparkan 5 pengaruh kelompok (group influence), yaitu social facilitation, social loafing, deindividuation, group polarization, dan groupthink. Aronson, Wilson, dan Akert (2005) dalam bukunya membagi
kelima pengaruh diatas menjadi Perilaku Individu dan Kelompok yang didalamnya adalah social facilitation, social loafing, deindividuation; dan Keputusan kelompok yang didalamnya ada penjelasan mengenai group polarization, dan groupthink.
1. SocialFacilitation
Pembelajaran mengenai social facilitation menekankan pada pengaruh keberadaan orang lain pada perilaku seorang individu. Allport (1920) menyatakan bahwa performansi lebih baik saat orang bekerja dalam kehadiran orang lain daripada saat mereka sendiri. Menurut Zajonc (1965) pengalaman informal menyatakan bahwa keberadaan orang lain dalam wujud penonton yang tertarik dapat meningkatkan aktivasi atau arousal, dan saat arousal meningkat, tendensi untuk menampilkan respon dominant yaitu yang lebih sering terjadi dalam situasi tertentu, juga meningkat. Orang lain menyebabkan individu menjadi merasa didukung, dikuatkan, terlebih jika perilaku seorang tidak berbeda dari yang lain dan individu tidak dikhususkan. Bertolak belakang dengan penjelasan diatas, keberadaan orang lain juga dapat menyebabkan berkurangnya efektivitas dalam penyelesaian tugas, misalnya mempelajari suku kata aneh, melengkapi sebuah maze, sampai mengerjakan soal perkalian yang rumit (Dashiel, Pesin, & Husband, dalam Myers, 1983).
17
2. SocialLoafing
Berlawanan dengan meningkatnya performa ketika ada kehadiran orang lain, ada kecenderungan seseorang untuk mengurangi usahanya, yaitu ketika seseorang itu mengerahkan usahanya untuk tujuan bersama dimana seseorang tidak diperhitungkan secara individu (Myers, 1983). Myers menyatakan bahwa tidak-diperhatikannya mereka secara individu menyebabkan seseorang untuk cenderung mengendur ketika tidak diawasi dan di beri reward secara individu.
3. Deindividuasi
Deindividuasi adalah sebuah satus psikologis yang berkarakteristik berkurangnya self-awareness dan meningkatnya identitas sosial, dibawa oleh keadaan eksternal seperti menjadi anggota anonymus dari crowd yang besar. Menjadi sebuah anggota anonymous dari sebuah crowd membuat orang merasa kurang bertanggung jawab atau kurang diperhitungkan atas tindakan mereka dan ini menguatkan keliaran, tindakan antisosial (Zimbardo, 1976 dalam Baron, Byrne, & Branscombe, 2006). Shaw menjelaskan bahwa deindividuasi terjadi ketika anggota kelompok tidak memperhatikan individu lain sebagai seorang individu, dan anggota kelompok tidak merasa bahwa mereka di khususkan oleh yang lain di kelompok (Shaw, 1981).
Menurut Marvin E. Shaw (1981), fenomena deindividuasi adalah hasil dari beberapa proses yang berhubungan dalam kelompok, termasuk anonimitas, pembauran tanggung jawab, social facilitation, dan pergeseran norma. Kamus Oxford mengartikan Anonymity sebagai keadaan tidak dikenal untuk kebanyakan orang lain, sedangkan anonymous adalah orang dengan nama yang tidak diketahui atau tidak dipublikasikan. Menjadi anggota anonymus dari crowd dapat membawa pada deindividuasi. Ketika ada hasil negatif dari apa yang kelompok lakukan, mereka percaya bahwa tanggung jawab akan didistribusikan atau dibagi antar anggota kelompok, sehingga terjadi pembauran tanggung jawab.
Ketika kita menjadi bagian dari crowd yang besar, tampaknya kita lebih mematuhi norma kelompok itu dan tidak bertindak atas kepatuhan pada norma lain. Kadang norma dari kelompok tertentu berkonflik dengan norma dari kelompok lain atau sebuah masyarakat luas, dan seseorang akan cencerung bertindak menurut norma kelompoknya daripada norma lain (Postmes & Spears, 1998 dalam Baron, Byrne, & Branscombe, 2006).
4. GroupPolarization
Sebuah diskusi kelompok bisa mengkutubkan keputusan dengan membuat kelompok mengadopsi sebuah posisi lebih ekstrim daripada posisi yang dipegang individu anggota kelompok sebelumya (Johnson &
19
Johnson, 2003). Aronson, Wilson, dan Akert (2005) menjelaskannya sebagai kecenderungan kelompok untuk membuat keputusan yang lebih ekstrim daripada keinginan sebenarnya dari anggotanya secara pribadi.
5. Groupthink
Aronson, Wilson, dan Akert (2005) menjelaskannya sebagai sebuah pemikiran dimana mempertahankan kohesivitas dan solidaritas kelompok lebih penting daripada mempertimbangkan kenyataan atau faktanya. Ada beberapa symptoms menurut Myers (1983) yang mengindikasikan terjadinya groupthink. Ilusi kekebalan, rasionalisasi, kepercayaan kuat terhadap moral kelompok, cara pandang stereotip terhadap lawan, tekanan konformitas, self-cencorship, ilusi kebulatan suara, dan mind guards.
Ilusi akan kekebalan dapat membutakan kelompok terhadap peringatan bahaya, mereka merasa kebal. Rasionalisasi terjadi terhadap keputusan apapun yang diambil kelompok. Moral kelompok yang sudah diyakini dengan kuat membuat kelompok tertutup terhadap cara pandang dari luar, dan mereka memiliki streotip dalam memandang lawan kelompok mereka. Tekanan konformitas menyebabkan individu mengikuti apapun yang menjadi keputusan bersama. Ketidak sepakatan kadang membuat merasa tidak nyaman, dan self-cencorship menghindarkan hal-hal yang membahayakan bagi diri individu. Ilusi kebulatan suara terjadi
karena individu menganggap diskusi adalah sebuah konsensus dari orang-orang cerdas. Mind guards adalah ketika mereka mengabaikan informasi yang dapat mengganggu keefektifan atau moralitas diskusi.