• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.11 Hasil evaluasi mutu fisik sediaan serum

4.11.7 Hasil Uji Iritasi

Uji iritasi dilakukan terhadap 6 orang sukarelawan masing masing menggunakan 2 jenis konsentrasi formula di bagian belakang telinga kanan dan kiri selama 2 hari berturut-turut. Hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 4.13 dan Lampiran 35 halaman 128.

Tabel 4. 13 Data Hasil Uji Iritasi Sediaan Serum Ekstrak Etanol Biji Markisa dan Minyak Wijen

Formula F0 : blanko (serum tanpa sampel)

Formula F1 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,3% dan minyak wijen 2%

Formula F2 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,5% dan minyak wijen 2%

Formula F3 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,7% dan minyak wijen 2%

Uji iritasi dilakukan untuk mengetahui apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan iritasi atau tidak. Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 6 sukarelawan menunjukkan bahwa semua sukarelawan tidak menunjukkan reaksi

63

terhadap parameter reaksi iritasi yang diamati yaitu adanya eritema, papula, vesikula ataupun edema. Dari hasil uji dapat disimpulkan bahwa sediaan serum kosmetik dari kombinasi ekstrak biji markisa dan minyak wijen aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007).

64 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

a. Ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen dapat dikombinasi dan diformulasikan menjadi bentuk sediaan serum kosmetik yang hasilnya homogen dengan tipe emulsi minyak dalam air, pH 5,0-5,6; viskositas 482,0 – 499,5 stabil selama penyimpanan 12 minggu pada suhu kamar (25⁰- 30⁰C) dan aman digunakan pada kulit.

b. Serum wajah yang diformulasikan memiliki aktivitas antioksidan yang ditandai dengan adanya perubahan warna DPPH dari violet pekat menjadi kuning pucat serta diperoleh nilai IC50 dari ketiga variasi formula sediaan serum berturut-turut sebesar 13,76 μg/mL (formula 1), 13,48 μg/mL (formula 2) dan 12,68 μg/mL (formula 3). Nilai ini menunjukkan kategori aktivitas antioksidan sangat kuat, di mana konsentrasi paling tinggi ditunjukkan oleh Formula 3.

5.2. Saran

Penulis menyarankan peneliti selanjutnya untuk melakukan uji efektivitas menggunakan alat skin analyzer untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal pada kulit.

65

DAFTAR PUSTAKA

Andini,T., Yusriadi, dan Yuliet. 2017. Optimasi Pembentuk Film Polivinil Alkohol dan Humektan Propilen Glikol pada Formula Masker Gel Peel off Sari Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata Duchesne) Sebagai Antioksidan. Jurnal Farmasi Galenika. Vol 3 (2). Halaman166.

Akhila, H. dan Beevy S S. 2015. Quantification of seed oil and evaluation of antioxidant properties in the wild and cultivated species of Sesamum L.

(Pedaliaeae). Internationa Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. Vol. 7 (9). Halaman 136 - 142.

Ansar, Nazaruddin, dan Azis AD. 2019. Effect of Vacuum freeze-drying condition and maltodextrin on the physical sensory characteristics of passion fruit (Passiflora edulis Sims) extract. IOP Conference Series:

Earth and Environmental Science. 355. Halaman : 5.

Astuti, A., dan Fitri, N. 2020. Formulasi Serum Anti-Aging Minyak Atsiri Lada Hitam (Piper Nigrum L.) Dan Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH. Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship. Vol. 5 (1). Halaman : 2.

Barutu, Y. A. P., Rusmarilin, H., dan Lubis, Z. 2018. Karakteristik Kimia Enkapsulasi Ekstrak Biji Jintan Hitam (Nigella sativa) dan Biji Wijen (Sesamum indicum) dengan Metode Fermentasi. J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.6 No.3. Halaman : 534.

Badan POM. 2010. Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Jakarta : Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 297-307, 321, 325 dan 333-336.

Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI. Halaman 10-12.

Dewi, C. C., dan Saptarini N. M. 2016. Review Artikel Hidroksi Propil Metil Selulosa Dan Karbomer Serta Sifat Fisikokimianya Sebagai Gelling Agent. Farmaka. Vol 14 No. 3. Halaman : 4.

Ditjen Farmalkes. 2017. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi II. Jakarta Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Halaman : 531.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 8.

Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman : 356.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia . Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Farnsworth, N.R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants.

Journal of Pharmaceutical Science. 55(3): 245, 256,257, 262 dan 264.

Handayani, M., Mita N. dan Ibrahim A. 2015. Formulasi dan optimasi basis emulgel carbopol 940 dan trietanolamin dengan berbagai variasi konsentrasi. Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1. Halaman : 55.

Handjani, S., Manuhara, G. J., dan Anandito, R. B. K. 2010. Pengaruh Suhu Ekstraksi Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia, dan Sensoris Minyak Wijen ( Sesamum indicum L.). Agritech. Vol. 30 (2) : 116.

66

Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tubuhan. Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 147, 259.

Hermanto, C., Indriani, N. L. P., dan Hadiati, S. 2013. Keragaman dan Kekayaan Buah Tropika Nusantara. Jakarta: IAARD Press. Hal. 88-89.

Hidayati, D. N., Sumiarsih, C., dan Mahmudah U. 2018. Standarisasi Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Dan Kulit Batang Berenuk (Crescentia cujete Linn). Jurnal Ilmiah Cendekia Eksata. Vol. 3 No. 1. Halaman :22.

Huda, S. M. N., Wiraguna, AAGP., dan Pangkahila W. 2017. Krim ekstrak biji markisa (Pasiflora edulis) sama efektifnya dengan krim hidrokuinon 4%

dalam menghambat peningkatan jumlah melanin pada kulit marmut jantan (Cavia porcelus) yang dipapar sinar UV-B Jurnal Biomedik. Vol. 9 No. 1.

Halaman : 1-6.

Isnawati, A., dan Arifin, K.M. 2006. Karakterisasi daun kembang sungsang (Gloria superba L.) dari aspek fisiko kimia. Media Litbang Kesehatan.

16(4). Halaman : 13.

Karsinah, R. C., Hutabarat dan Mashur, A. 2010. Markisa Asam (Passiflora edulis Sims.) Buah Eksotik Kaya Manfaat. Solok: Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Halaman 30-35.

Kurniawati, A. Y., dan Wijayanti, E. D. 2018. Karakteristik Sediaan Serum Wajah Dengan Variasi Konsentrasi Sari Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana) Terfermentasi Lactobacillus bulgaricus. Karya Tulis Ilmiah.

Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, Malang.

Kusumah, S. H., Pebrianti, S. A. dan Maryatilah L. 2021. Uji Aktivitas Antioksidan Buah dan Sirup Markisa Ungu Menggunakan Metode DPPH.

Jurnal Fakultas Teknik. Vol. 2 (1). halaman : 26.

Lung, J. K. S. dan Destiani, D. P. 2017. Uji Aktivitas Antioksidan Vitamin A, C, E dengan metode DPPH. Farmaka Jurnal Ilmiah Farmasi Indonesia. Vol 15 (1). Halaman : 57.

Lourith, N., Kanlayavattanakul M., dan Chingunpitak J. 2017. Development of sunscreen products containing passion fruit seed extract. Brazillian Journal of Pharmaceutical Sciences. Vol 53 (1). Halaman : 4.

Maesaroh, K., Kurnia D., dan AlAnshori J. 2018. Perbandingan Metode Uji Aktivitas Antioksidan DPPH, FRAP dan FIC Terhadap Asam Askorbat, Asam Galat dan Kuersetin. Chimica et Natura Acta. Vol. 6 No. 2 Halaman : 94.

Malacrida dan Jorge. 2012. Yellow Passion Fruit Seed Oil (Passiflora edulis f.

flavicarpa): Physical and Chemical Characteristics. Braz. Arch. Biol.

Technol. Vol. 55 No. 1. Halaman : 131-132.

Mardhiani, Y.D., Yulianti H. Azhary D. P. dan Rusdiana T. 2018. Formulasi dan Stabilitas Sediaan Serum Ekstrak Kopi Hijau (Coffea canephora var.

Robusta) sebagai antioksidan. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal. Vol. 2. No. 2. Halaman : 23-29.

Mescher AL. 2010. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas. New York:

McGraw Hill Medical.

Molyneux, P. 2004. The Use of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci.

Technol. 26(2): 211-219.

67

National Health Surveillance Agency. 2005. Cosmetics Products Stability Guide.

Brazil : ANVISA. Halaman : 19

Numberi, A.M., Dewipratiwi, R., dan Gunawan, E. 2020. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Masker Gel dari Ekstrak Alga Merah (Poryphyra sp). Majalah Farmasetika. Vol. 5 (1). Halaman : 1-17.

Patmi, R. W. 2017. Mutu Fisik Sediaan Masker Serbuk Ektrak Biji. Thesis.

Malang : Akademi Farmasi Putera Indonesia Malang. Halaman : 2.

Pratama, W. A. dan Zulkarnain, A. K. 2015. Uji SPF Invitro dan Sifat Fisik Beberapa Produk Tabir Surya yang Beredar di Pasaran. Majalah Farmaseutik. Vol. 1 No. 1. Halaman : 275-281.

Rawlins, E.A. 2003.Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. Edisi XVIII. London:

Bailierre Tindall. Halaman 22 dan 355.

Rahmatullah, Permadi, Y.W., dan Utami D. S. 2019. Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Hand and Body Lotion Ekstrak Kulit Nanas (Ananas comosus (L.)Merr) dengan Metode DPPH. JF FIK UINAM. Vol. 7 No. 1.

Halaman :26-31.

Rowe, R.C., Sheskey P. J. dan Quinn M. E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th Ed. London : The Pharmaceutical Press. Halaman : 283, 441-442, 675-676.

Romadanu, Rachmawati, Hanggita, S. dan Lestari S. D. 2014. Pengujian aktivitas ekstrak bunga lotus (Nelumbo nucifera). Fishtech. Vol. 3 (1). Halaman 1-2.

Romadhona, S., Lutfi, M., dan Yulianingsih, R. 2015. Studi Metode dan Lama Pemanasan pada Ekstraksi Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum L.).

Jurnal Bioproses Komoditas Tropis. Vol. 3(1). Halaman :54.

Rukmana, R.. 1998. Budi Daya Wijen. Yogyakarta : Kanisius.

Rukmana, R. 2003. Usaha Tani Markisa Edisi 1. Yogyakarta : Kanisius.

Sapoetro, M. L. 2020. Optimiasi Carbomer 940 dan Parafin Cair Pada Lotion Antioksidan Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum L.) dengan Metode Desain Faktorial. Skripsi. Fakuktas Farmasi. Universitas Sanata Dharma.

Yogyakarta

Sari, D. K. 2019. Peran Biji Buah Markisa Terhadap Stres Oksidatif dan Profil Lipid. Medan : Usu Press. Halaman : 13-14.

Sari, D. K., Sugihartini, N., dan Yuwono T. 2015. Evaluasi Uji Iritasi dan Sifat Fisik Sediaan Emulgel Minyak Atsiri Bunga Cengkeh (Syzigium aromaticum). Pharmaҫiana. Vol. 5, No. 2. Halaman :117.

Sasmiyandri, B., Samsul, E., dan Indriyanti N. 2019. Efektifitas Serum Lidah Buaya (Aloe vera) terhadap Peningkatan Laju Pertumbuhan Rambut dan Sun Protection. Proc Mul. Pharm. Conf. Vol. 10(1). Halaman : 83.

Sastrawan, I. N., Sangi, M., dan Kamu, V. 2013. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Adas (Foeniculum vulgare) Metode DPPH. Jurnal Ilmiah Sains. Vol. 13 (2). Halaman : 111.

Sayuti K. dan Yenrina R. 2015. Antioksidan Alami dan Sintetik. Padang : Andalas University Press. Halaman : 76.

Silva , R. M., Placido, G.R., Silva M. A. P., Castro, C. F. S., Lima, M. S., dan Caliari, M. 2015. Chemical Characterization of Passion Fruit (Passiflora edulis f. flavicarpa) seeds. African Journal of Biotechnology. Vol. 14(14) : 1230.

68

Sudarso, D., Budiyanti T., dan Sudjijo. 2006. Petunjuk Teknis Budidaya Markisa.

Solok : Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Halaman : 1.

Susanti, Y., Purba A. V. dan Rahmat D. 2020. Nilai Antioksidan dan SPF dari Kombinasi Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum L.) dan Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.). Majalah Farmaseutik. Vol 16 (1). Halaman : 109.

Tristantini, D., Ismawati, A., Pradana, B. T. dan Jonathan, J. G. 2016. Pengujian Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH pada Daun Tanjung (Mimusops elengi L). Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia

“Kejuangan”. Halaman : 4.

Tranggono, R. I., dan Latifah , F. 2007. Buku Pegangan ilmu pengetahuan kosmetik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Halaman : 93-96.

Undri, R. dan Purwati. 2012. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kalba (Albica falcataria) dengan Metode DPPH (1,1-Difenil-2pikrilhidrazil) dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunderya. J. Molekul. Vol. 7 (1).

Halaman : 36.

Vishwanath, et al. 2012. In Vitro Antioxidant Activity of Sesamum indicum Seeds. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. Halaman : 56 -60.

World Health Organization.1998. Quality Control Methods For Medical Plant Materials. Journal of WHO. 92(4): 25-28.

Yuli, E. dan Ambarwati, N. S. S. 2015. Dasar-Dasar Kosmetika Untuk Tata Rias.

Jakarta : Lembaga Pengembangan dan Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. 1 dan 14.

69

Lampiran 1. Surat hasil identifikasi tumbuhan markisa

70

Lampiran 2. Surat hasil identifikasi tanaman wijen

71

Lampiran 3. Makroskopik biji markisa dan biji wijen Makroskopik biji markisa

Biji markisa

Simplisia biji markisa Makroskopik biji wijen

Biji Wijen

72

Lampiran 4. Gambar mikroskopik serbuk simplisia biji markisa dan biji wijen Mikroskopik serbuk simplisia biji markisa

Keterangan:

a. berkas pembuluh angkut; b. sel skelerenkim; c. sel batu; d. sel minyak Mikroskopik biji wijen

Keterangan : a. sel minyak; b. parenkim testa a

c

b

d

a

b

73

Lampiran 5. Bagan pembuatan ekstrak biji markisa

Biji Markisa

Simplisia (690g)

Serbuk simplisia (200g)

Diambil biji dan dipisahkan dari lendir sari buah, lalu dicuci bersih dengan air mengalir, ditiriskan dan ditimbang berat (berat basah : 753g)

Dikeringkan dalam lemari pengering selama 3 hari

Dihaluskan

Dimasukkan kedalam maserator Ditambahkan 2L etanol 96%

Diaduk selama 6 jam

Dibiarkan selama 18 jam ditempat sejuk, terlindung dari cahaya matahari Difiltrasi

Maserat I Residu

Dibilas dengan 1L etanol 96%

Dibiarkan sehari ditempat sejuk, terlindung dari cahaya matahari sambil sesekali diaduk

Maserat II Residu

Digabung maserat I dan II Dienaptuangkan

Dipekatkan dengan rotary evaporator dengan suhu 50⁰C Dipekatkan kembali dengan oven suhu 50⁰C sampai diperoleh ekstrak kental

Ekstrak kental (berat : 32,65 g, rendemen : 16,32%)

74 Lampiran 6. Bagan pembuatan minyak wijen

Biji wijen (2 kg)

Dimasukkan biji wijen kedalam wadah corong screw press machine

Dijalankan mesin dengan suhu 85⁰C

Minyak kotor Residu (ampas) Diendapkan 2 minggu

Diambil bagian jernihnya Minyak wijen (berat : 432 g, rendemen : 21,6%)

75

Lampiran 7. Bagan pembuatan sediaan serum antioksidan dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan biji wijen

Tween 80 Minyak Wijen 2%

Ekstrak etanol biji markisa 0,3%;0,5%;0,7%

Ditambahkan massa II sedikit demi sedikit kedalam massa I

Diaduk menggunakan stirer sampai homogen

Sediaan serum dari kombinasi ekstrak etanol

biji markisa dan minyak wijen

Tween 80 Blanko

Sediaan serum tanpa sampel (blanko)

Ditambahk an TEA secukupnya sampai didapat massa serum yang diharapkan

Ditambahkan parfum

Ditambahkan sisa aqua DM, diaduk hingga homogen

76

Lampiran 8. Bagan penentuan panjang gelombang maksimum DPPH 10 mg serbuk DPPH

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL

Dicukupkan menggunakan metanol hingga batas garis tanda

Dihomogenkan Larutan blanko DPPH 0,5mM

(konsentrasi 200 μg/mL) Dipipet 2 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL

Dicukupkan menggunakan metanol hingga garis tanda Dihomogenkan

Larutan DPPH (konsentrasi 40 μg/mL)

Panjang Gelombang Maksimum (516 nm)

Diukur pada panjang gelombang 400-800 nm

77

Lampiran 9. Bagan pembuatan larutan baku DPPH dan pengukuran absorbansi larutan DPPH

10 mg serbuk DPPH

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL

Dicukupkan menggunakan metanol hingga garis tanda Dihomogenkan

Larutan blanko DPPH 0,5mM (konsentrasi 200 μg/mL)

Dipipet 2 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL

Dicukupkan menggunakan metanol hingga garis tanda Dihomogenkan

Larutan DPPH (konsentrasi 40 μg/mL)

Nilai absorbansi

Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm

78

Lampiran 10. Bagan penentuan waktu kerja (operating time) Larutan DPPH 40μg/mL

Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm setiap 1 menit selama 60 menit

Diamati waktu larutan mulai menghasilkan absorbansi stabil

Waktu kerja (30 menit)

79

Lampiran 11. Bagan pembuatan larutan baku vitamin C dan pengukuran aktivitas antioksidannya

serbuk vitamin C 25 mg

Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 mL

Dicukupkan menggunakan metanol hingga garis tanda

Dihomogenkan

Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar Larutan baku vitamin C 1000

μg/mL

Dipipet 0,02 mL (2μg/mL); 0,04 mL (4μg/mL); 0,06 mL (6μg/mL) dan 0,08 mL(8μg/mL)

Dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL Ditambahkan 2 mL larutan DPPH 200 μg/mL Ditambahkan metanol sampai garis tanda

Nilai IC50 Dihomogenkan

Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Visbel pada panjang gelombang 516 nm

Diukur persen peredaman dan nilai penentuan IC50

80

Lampiran 12. Bagan pembuatan larutan induk baku sediaan serum antioksidan konsentrasi 0,3%;0,5% dan 0,7%

Sediann serum

Ditimbang sebanyak 8,33 g (0,3%), 5 g (0,5%) dan 3,57 g (0,7%) sediaan serum

Dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL untuk memperoleh konsentrasi 1000 μg/mL

Dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda

Larutan induk sediaan serum

81

Lampiran 13.Pengujian aktivitas antioksidan dengan spektrofotometer UV-Visibel

Sediann serum

Dipipet sebanyak 0,05 mL (5μg/mL) ; 0,10 mL (10μg/mL); 0,15 mL (15μg/mL); 0,20 mL (20μg/mL) dan 0,25 mL(25 μg/mL)

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL Ditambahkan 2 mL larutan DPPH 200 μg/mL Dihomogenkan

Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar

Diukur absorbansi menggunakan

spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm

Diukur persen peredaman dan nilai penentuan IC50

Nilai IC50

82 Lampiran 14. Bagan penelitian

Evaluasi mutu fisik sediaan Uji efektifitas antioksidan

Nilai IC50

- Homogenitas - Tipe emulsi - Stabilitas

(organoleptis) - pH sediaan - Viskositas - Daya sebar Ekstrak Etanol

biji Markisa

Minyak wijen

Formulasi sediaan serum kosmetik

Dibuat variasi konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0%;0,3%; 0,5% dan 0,7%

Disimpan selama 12 minggu

83

Lampiran 15. Perhitungan hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia biji markisa dan ekstrak etanol biji markisa

Serbuk simplisia biji markisa a. Penetapan kadar air

Kadar air =

b. Penetapan kadar sari larut air

Kadar sari larut air =

84 Lampiran 15. (lanjutan)

c. Penetapan kadar sari larut etanol

Kadar sari larut etanol =

d. Penetapan kadar abus total

Kadar abu total =

85 Lampiran 15. (lanjutan)

e. Penetapan kadar abu tidak larut asam

Kadar abu tidak larut asam =

Ekstrak etanol biji markisa a. Penetapan kadar air

Kadar air =

86 Lampiran 15. (lanjutan)

b. Penetapan kadar abu total Kadar abu total =

c. Penetapan kadar abu tidak larut asam Kadar abu tidak larut asam =

87

Lampiran 16. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Biji Wijen dan Minyak Wijen

a. Penetapan kadar air minyak

Kadar air =

b. Penetapan kadar air biji wijen

Kadar air =

88 Lampiran 16. (lanjutan)

c. Penetapan kadar abu total biji wijen

Kadar abu total =

d. Penetapan kadar abu tidak larut asam biji wijen Kadar abu tidak larut asam =

89

Lampiran 17. Data penentuan waktu kerja (operating time)

Time RawData …

0.0000 0.9754 40.0000 0.9826

1.0000 0.9758 41.0000 0.9827

2.0000 0.9764 42.0000 0.9826

3.0000 0.9769 43.0000 0.9827

4.0000 0.9773 44.0000 0.9830

5.0000 0.9779 45.0000 0.9830

6.0000 0.9781 46.0000 0.9831

7.0000 0.9784 47.0000 0.9832

8.0000 0.9795 48.0000 0.9833

9.0000 0.9797 49.0000 0.9833

10.0000 0.9799 50.0000 0.9835

11.0000 0.9801 51.0000 0.9834

12.0000 0.9803 52.0000 0.9837

13.0000 0.9801 53.0000 0.9838

14.0000 0.9802 54.0000 0.9843

15.0000 0.9804 55.0000 0.9844

16.0000 0.9805 56.0000 0.9843

17.0000 0.9803 57.0000 0.9846

18.0000 0.9806 58.0000 0.9849

19.0000 0.9805 59.0000 0.9850

20.0000 0.9807 60.0000 0.9850

21.0000 0.9806

90

Lampiran 18. Perhitungan larutan uji sediaan serum dari kombinasi ekstrak biji markisa dan minyak wijen

Konsentrasi larutan induk 1000 ppm serum formula 0 menggunakan ekstrak etanol biji markisa 0%

= 1000 ppm

Konsentrasi larutan induk 1000 ppm serum formula 1 menggunakan ekstrak etanol biji markisa 0,3%

=

=> X = 8,33 g

Dalam 8,33 g serum formula 1 mengandung 25 mg ekstrak etanol biji markisa

= 1000 ppm

Konsentrasi larutan induk 1000 ppm serum formula 2 menggunakan ekstrak etanol biji markisa 0,5%

=

=> X = 5 g

Dalam 5 g serum formula 2 mengandung 25 mg ekstrak etanol biji markisa

= 1000 ppm

Konsentrasi larutan induk 1000 ppm serum formula 3 menggunakan ekstrak etanol biji markisa 0,7%

=

=> X= 3,57 g

Dalam 3,57g serum formula 3 mengandung 25 mg ekstrak etanol biji markisa

= 1000 ppm

91

Lampiran 19. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol biji markisa, sediaan sediaan serum (formula 0, formula 1, formula 2, dan formula 3) serta pembanding vitamin C konsentrasi 0,1%

a. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol biji markisa Konsentrasi

(μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

b. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan sediaan serum formula 0 Konsentrasi

(μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

c. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan sediaan serum formula 1 Konsentrasi

(μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

92 Lampiran 19. (lanjutan)

d. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan sediaan serum formula 2 Konsentrasi

(μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

e. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan sediaan serum formula 3 Konsentrasi

(μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

f. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan vitamin C konsentrasi 0,1%

Konsentras (μg/mL)

Absorbansi pengukuran ke- Peredaman (%)

I II III I II III

93

Lampiran 20 Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 ekstrak etanol biji markisa

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 5 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

94 Lampiran 20. (lanjutan)

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 5 μg/mL =

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 5 μg/mL =

95 Lampiran 20. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari ekstrak etanol biji markisa

X Y XY X2 Y2

96 Lampiran 20. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 55,605 – 3,44 (12,5) b = 12,53

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 3,44X + 12,53 Nilai IC50 = Y = 3,44X + 12,53

50 = 3,44X + 12,53 X = 10,87 μg/mL

97

Lampiran 21. Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 sediaan serum formula 0

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 20 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

98 Lampiran 21. (lanjutan)

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 20 μg/mL =

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,998

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 20 μg/mL =

99 Lampiran 21. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari sediaan serum formula 0

X Y XY X2 Y2

100 Lampiran 21. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 5,073 – 0,08 (50) b = 1,073

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 0,08X+1,073 Nilai IC50 = Y = 0,08X+1,073

50 = 0,08X+1,073 X = 611,58 μg/mL

101

Lampiran 22. Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 sediaan serum formula 1

Perhitungan persen peredaman

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 5 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

102 Lampiran 22. (lanjutan)

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 5 μg/mL =

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 5 μg/mL =

103 Lampiran 22. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari sediaan serum formula 1

X Y XY X2 Y2

104 Lampiran 22. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 46,06 – 3,12 (12,5) b = 7,06

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 3,12X + 7,06 Nilai IC50 = Y = 3,12X + 7,06

50 = 3,12X + 7,06 X = 13,76 μg/mL

105

Lampiran 23. Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 sediaan serum formula 2

Perhitungan persen peredaman

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 5 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

106 Lampiran 23. (lanjutan)

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 5 μg/mL =

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 5 μg/mL =

107 Lampiran 23. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari sediaan serum formula 2

X Y XY X2 Y2

108 Lampiran 23. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 47,09 – 2,96 (12,5) b = 10,09

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 2,96X + 10,09 Nilai IC50 = Y = 2,96X + 10,09

50 = 2,96X + 10,09 X = 13,48 μg/mL

109

Lampiran 24. Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 sediaan serum formula 3

Perhitungan persen peredaman

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 5 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

110 Lampiran 24. (lanjutan)

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 5 μg/mL =

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,978

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 5 μg/mL =

111 Lampiran 24. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari sediaan serum formula 3

X Y XY X2 Y2

112 Lampiran 24. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 49,4 – 3,23 (12,5) b = 9,025

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 3,23X + 9,025 Nilai IC50 = Y = 3,23X + 9,025

50 = 3,23X + 9,025 X = 12,68 μg/mL

113

Lampiran 25. Perhitungan persen (%) peredaman dan nilai IC50 vitamin C konsentrasi 0,1% sebagai pembanding

Perhitungan persen peredaman

1. Tabel data absorbansi pengukuran I

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,993

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran I) - 2 μg/mL =

2. Tabel data absorbansi pengukuran II

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,993

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran II) - 2 μg/mL =

x100% = 24,26%

114 Lampiran 25. (lanjutan)

- 4 μg/mL =

x100% = 45,41%

- 6 μg/mL =

x100% = 70,09%

- 8 μg/mL =

x100% = 89,32%

3. Tabel data absorbansi pengukuran III

No Konsentrasi larutan uji (μg/mL) Absorbansi

1 0 0,993

2 2 0,752

3 4 0,542

4 6 0,297

5 8 0,106

Aktivitas peredaman (%) =

x 100%

Perhitungan persen (%) peredaman (pengukuran III) - 2 μg/mL =

x100% = 24,26%

- 4 μg/mL =

x100% = 45,41%

- 6 μg/mL =

x100% = 70,09%

- 8 μg/mL =

x100% = 89,32%

115 Lampiran 25. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari vitamin C konsentrasi 0,1% sebagai pembanding

X Y XY X2 Y2

116 Lampiran 25. (lanjutan)

b = Y- aX

b = 45,816 - 11,2(4) b = 1,016

Jadi persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah : Y = 11,22X + 1,016 Nilai IC50 = Y = 11,22X + 1,016

50 = 11,22X + 1,016 X = 4,36 μg/mL

117 Lampiran 26. Gambar Hasil Karakterisasi Biji Markisa

Biji Wijen

Kadar sari larut etanol Kadar sari larut air

Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam

Kadar air

Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam

118 Lampiran 27. Gambar Hasil Skrining Fitokimia Simplisia Biji Markisa

Ekstrak Biji Markisa

Alkaloid Steroid/triterpen

Flavonoid Saponin Tanin

Alkaloid Flavonoid Glikosida

Glikosida

119 Lampiran 27. (lanjutan)

Biji Wijen

Triterpenoid

Saponin Tanin

Tannin Saponin Steroid/

triterpenoid

120 Lampiran 27. (lanjutan)

Minyak wijen

Flavonoid Alkaloid

Flavonoid Alkaloid saponin

Steroid/

triterpenoid

tannin

121

Lampiran 28. Gambar hasil uji homogenitas dan tipe emulsi

Uji homogenitas

Uji tipe emulsi

F0 F1 F2 F3

0% 0,3% 0,5% 0,7%

F0 F1 F2 F3

0% 0,3% 0,5% 0,7%

122 Lampiran 29. Gambar alat-alat yang digunakan

pH meter Kepingan kaca dan anak timbangan

viskometer

Screw press machine grinder Rotary evaporator

Magnetic stirer Spektrofotometer visibel

123

Lampiran 30. Perhitungan hasil rendemen ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen

Hasil rendemen ekstrak etanol biji markisa Berat basah biji markisa = 753 gram

Berat simplisia biji markisa = 690 gram Simplisia yang di ekstrak = 200 gram Hasil ekstrak yang diperoleh = 32,654g

% rendemen =

x100%

% rendemen =

x 100% = 16,327%

Hasil rendemen minyak wijen Berat biji wijen = 2000 gram

Berat minyak yang diperoleh = 432 gram

% rendemen =

x100%

% rendemen =

x 100% = 21,6%

124

Lampiran 31. Gambar proses pengepressan minyak biji wijen

Biji wijen Pengepressan minyak wijen

Pengendapan lemak dan zat pengotor minyak

Minyak wijen murni

125

Lampiran 32. Gambar ekstrak etanol biji markisa dan sediaan serum kosmetik

F0 F1 F2 F3

Ekstrak etanol biji markisa

Sediaan serum kosmetik konsentrasi 0%; 0,3%; 0,5% dan 0,7%

126 Lampiran 33. Surat persetujuan komite etik

127 Lampiran 34. Lembar persetujuan sukarelawan

LEMBAR PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT) Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Jenis Kelamin : Usia :

Alamat :

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan PERSETUJUAN

Untuk menggunakan serum antioksidan dari kombinasi ekstrak biji markisa dan minyak wijen setelah saya membaca dan mendapat penjelasan yang terperinci serta memahami sepenuhnya tentang penelitian

Judul Penelitian : Formulasi Serum Kosmetik dari Kombinasi Ekstrak Biji

Judul Penelitian : Formulasi Serum Kosmetik dari Kombinasi Ekstrak Biji