• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Markisa

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Markisa

Berdasarkan Farmakope Herbal Indonesia Edisi 2 (2017) Pembuatan ekstrak etanol biji markisa dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%.

Sebanyak 200 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam maserator, ditambahkan pelarut etanol 96% sebanyak 2 L. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi, kemudian diulangi penyarian dengan etanol 96% sebanyak 1L.

Hasil yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator (suhu 40-50⁰) sampai sebagian besar pelarutnya menguap dan dilanjutkan proses penguapan pada oven (suhu 50⁰C) sampai diperoleh ekstrak kental.

26 3.6 Pembuatan Pereaksi

3.6.1 Pereaksi besi (III) klorida 1%

Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air secukupnya hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.2 Pereaksi timbal (II) asetat 0,4 M

Sebanyak 15,17 g timbal (II) asetat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling bebas karbon dioksida sebanyak 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.3 Pereaksi asam klorida 2 N

Sebanyak 17 mL larutan asam klorida pekat ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.4 Pereaksi asam sulfat 2 N

Sebanyak 5,4 mL asam sulfat pekat kemudian diencerkan dengan air suling hingga 100 mL (Ditjen POM, 1979).

3.6.5 Larutan kloralhidrat

Sebanyak 50 g kloralhidrat ditimbang lalu dilarutkan dalam campuran 15 mL air dan 10 mL gliserin (Ditjen POM, 1995).

3.6.6 Pereaksi mayer

Sebanyak 1,4 g air raksa (II) klorida dilarutkan dalam air suling hingga 60 mL, pada wadah lain ditimbang 5 g kalium iodida lalu dilarutkan dalam 10 mL air suling, kedua larutan dicampurkan dan ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.7 Pereaksi dragendorf

Sebanyak 0,8 g bismut (III) nitrat ditimbang, dilarutkan dalam 20 mL asam nitrat pekat, pada wadah lain ditimbang sebanyak 27,2 g kalium iodida,

27

dilarutkan dalam 50 mL air suling. Kedua larutan dicampurkan dan didiamkan sampai memisah sempurna. Larutan yang jernih diambil dan diencekan dengan air suling hingga volume larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.8 Pereaksi bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, dilarutkan dalam air suling secukupnya lalu ditambahkan 2 g iodium kemudian ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.9 Pereaksi molisch

Sebanyak 3 g -naftol ditimbang, dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.6.10 Pereaksi liebermann-burchard

Sebanyak 5 bagian volume asam sulfat pekat dicampurkan dengan 50 bagian volume etanol 95%. Lalu ditambahkan dengan hati-hati 5 bagian volume asam asetat anhidrida ke dalam campuran tersebut dan dinginkan (Depkes RI, 1995).

3.7 Pemeriksaan Makroskopik Biji Markisa dan Biji Wijen

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk, bau, warna,ukuran dan rasa dari biji markisa dan biji wijen.

3.8 Pemeriksaan Mikroskopik Biji Markisa dan Biji Wijen

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia biji markisa dan biji wijen dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia diatas kaca

28

objek yang telah ditetesi dengan kloralhidrat, kemudian ditutup dengan kaca penutup, dipanaskan dan diamati dibawah mikroskop.

3.9 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Biji Markisa, Ekstrak Biji Markisa, Biji Wijen dan Minyak Wijen

3.9.1 Penetapan kadar air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode destilasi toluen (Azeotropi).

Prosedur kerja:

a. Penjenuhan toluen

Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 mL (WHO, 1998).

b. Penetapan kadar air

Sebanyak 5 g sampel yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluen, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen.

Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.

Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998) 3.9.2 Penetapan kadar sari larut air

Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL airkloroform (2,5 mL kloroform dalam air suling 1000 mL) dalam labu bersumbat

29

sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut air (Depkes RI, 1995).

3.9.3 Penetapan kadar sari larut etanol

Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96%

dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut etanol (Depkes RI, 1995).

3.9.4 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g sampel ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijarkan perlahan-lahan pada suhu 550⁰C hingga arang habis, lalu didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung kadar abu total (WHO, 1998).

3.9.5 Penetapan kadar abu tidak larut asam

Abu yang telah diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan, didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar abu tidak larut asam (WHO, 1998).

30

3.10 Skrining Fitokimia Simplisia Biji Markisa, Ekstrak Biji Markisa, Biji Wijen dan Minyak Wijen

Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi : 3.10.1 Alkaloida

Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring.

Filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:

a. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kuning.

b. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

c. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan diatas (Depkes RI, 1995).

3.10.2 Flavonoida

Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 20 mL air panas, dididihkan selama 10 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 mL filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 mL asam klorida pekat dan 2 mL amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).

Menurut penelitian terdahulu Sapoetro (2020) uji flavonoid pada minyak wijen dapat dibuktikan dengan penambahan NaOH dan HCl pada 2 mL minyak wijen yang telah diuapkan selama 2 jam di atas waterbath menunjukkan warna kuning atau oranye adanya kandungan flavonoid.

31 3.10.3 Tanin

Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 mL air suling kemudian disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Jika terjadi warna hijau, biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).

3.10.4 Saponin

Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan busa tersebut tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, maka hasil tersebut menunjukkan terdapatnya saponin (Depkes RI, 1995).

3.10.5 Steroid/Triterpenoid

Sebanyak 1 g serbuk simplisia di maserasi dengan 20 mL n-heksan selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan beberapa tetes pereaksi Liebermenn-Burchard. Timbulnya warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harborne, 1996).

3.10.6 Glikosida

Sebanyak 3 g sampel disari dengan 30 mL campuran etanol 96% dengan air suling (7:3), ditambahkan asam sulfat pekat hingga diperoleh pH 2, kemudian direfluks selama 10 menit, didinginkan dan disaring. Sebanyak 20 mL filtrat ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Kumpulan

32

sari air diuapkan dengan temperatur tidak lebih dari 50⁰C. Sisanya dilarutkan dalam 2 mL metanol.

a. Sari air dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu diuapkan di atas penangas air, pada sisa ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch. Tambahkan hatihati 2 mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan, menunjukkan adanya ikatan gula.

b. Sari pelarut organik diuapkan di atas penangas air. Larutkan sisa dalam 5 mL asam asetat anhidrat. Tambahkan 10 tetes asam sulfat pekat, akan terjadi warna biru atau hijau, menunjukkan adanya glikosida (Depkes RI, 1995).

3.11 Formula sediaan serum 3.11.1 Formula standar

Formula standar yang digunakan pada penelitian sebelumnya Handayani dkk. (2015).

R/ Carbopol 0,5

TEA 1

Methylparaben 0,06 Prophylparaben 0,03

Tween 60 5

Span 60 5

Paraffin Cair 5 Propilenglikol 10

Aquadest ad 100

33

3.11.2 Formula modifikasi serum kosmetik dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen

Tabel 3. 1 Formulasi Modifikasi Sediaan Serum Ekstrak Etanol Biji Markisa dan Minyak Wijen

Bahan Serum Formula (%v/v)

F0 F1 F2 F3

Formula F0 : blanko (serum tanpa sampel)

Formula F1 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,3% dan minyak wijen 2%

Formula F2 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,5% dan minyak wijen 2%

Formula F3 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,7% dan minyak wijen 2%

3.11.3 Pembuatan sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak biji wiijen

Semua bahan yang diperlukan ditimbang. Pembuatan awal dimulai dengan melarutkan nipagin dan nipasol kedalam sebagian aqua DM panas di beaker gelas, kemudian setelah semua larut ditambahkan karbopol. Karbopol dikembangkan dengan cara diaduk menggunakan digital stirer hingga larut sempurna, kemudian ditambahkan sorbitol (massa 1). Pada beaker gelas berbeda dimasukkan tween 80, minyak wijen dan ekstrak etanol biji markisa (massa II), kemudian diaduk sampai

34

homogen setelah itu digabung massa II kedalam massa I sedikit demi sedikit sampai semua larut sempurna kemudian di tambahkan sisa aqua DM diaduk kembali. Terakhir, ditambahkan TEA secukupnya sampai diperoleh konsistensi serum yang diharapkan dan ditambahkan juga parfum secukupnya.

3.12 Pengujian Aktivitas Antioksidan menggunakan Metode DPPH

Metode pengujian antioksidan yang digunakan yaitu radikal bebas 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Serum digunakan sebagai sampel uji dan vitamin C digunakan sebagai pembanding.

3.12.1 Pembuatan larutan induk baku DPPH 0,5mM

Sebanyak 10 mg serbuk DPPH dilarutkan dengan metanol hingga 50 mL.

Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 μg/mL (Molyneux, 2004).

3.12.2 Pembuatan larutan blanko

Sebanyak 2 mL larutan DPPH 0,5 mM dipipet kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL, dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40μg/mL).

3.12.3 Pengukuran panjang gelombang serapan maksimum DPPH

Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL dihomogenkan. Diukur absorbansi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang 400-800 nm (Molyneux, 2004).

3.12.4 Penentuan waktu kerja (operating time)

Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL diukur serapannya untuk menentukan operating time larutan DPPH dalam metanol sampai menit ke- 60.

35

3.12.5 Pembuatan larutan induk baku ekstrak etanol biji markisa

Sebanyak 25 mg ekstrak dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan ekstrak dengan konsentrasi 1000 μg/mL. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 90.

3.12.6 Pembuatan larutan induk baku sediaan serum formula 0

Sebanyak 25 mg sediaan serum dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan induk serum dengan konsentrasi 1000 μg/mL.

Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18.

3.12.7 Pembuatan larutan induk baku sediaan serum formula 1

Sebanyak 8,33 g sediaan serum dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan induk serum dengan konsentrasi 1000 μg/mL.

Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 90.

3.12.8 Pembuatan larutan induk baku sediaan serum formula 2

Sebanyak 5 g sediaan serum dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan induk serum dengan konsentrasi 1000 μg/mL.

Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 90.

3.12.9 Pembuatan larutan induk baku sediaan serum formula 3

Sebanyak 3,57 g sediaan serum dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan induk serum dengan konsentrasi 1000 μg/mL.

Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 90.

3.12.10 Pembuatan larutan induk baku vitamin C konsentrasi 0,1%

Sebanyak 25 mg vitamin C dilarutkan dalam labu tentukur 25 mL lalu dicukupkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan konsentrasi 1000 μg/mL. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 90.

36

3.12.11 Pembuatan larutan uji serum formula 0

Sebanyak 0,2 mL; 0,4 mL; 0,6 mL; 0,8 mL dan 1,0 ml larutan induk serum dipipet dan ditambahkan 2 mL larutan induk DPPH (konsentrasi 200 μg/mL) kemudian ditambahkan metanol hingga 10 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi masing-masing 20 μg/mL, 40 μg/mL, 60 μg/mL, 80 μg/mL dan 100 μg/mL. Diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansi masing-masing konsentrasi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang visibel 516 nm.

3.12.12 Pembuatan larutan uji ekstrak, serum formula 1, formula 2 dan formula 3

Sebanyak 0,05 mL; 0,10 mL; 0,15 mL; 0,20 mL dan 0,25 ml larutan induk serum dipipet dan ditambahkan 2 mL larutan induk DPPH (konsentrasi 200 μg/mL) kemudian ditambahkan metanol hingga 10 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi masing-masing 5 μg/mL, 10 μg/mL, 15 μg/mL, 20 μg/mL dan 25 μg/mL. Diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansi masing-masing konsentrasi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang visibel 516 nm.

3.12.13 Pembuatan larutan uji vitamin C

Sebanyak 0,02 mL, 0,04 mL, 0,06 mL dan 0,08 mL larutan induk baku vitamin C dipipet, ditambahkan 2 mL larutan induk DPPH (konsentrasi 200 μg/mL) kemudian ditambahkan metanol hingga 10 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi masing-masing 2 μg/m, 4 μg/mL, 6 μg/mL dan 8 μg/mL.

Diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansi masing-masing konsentrasi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang visibel 516 nm.

37

3.12.14 Penentuan persen peredaman radikal bebas DPPH

Penentuan persen peredaman radikal bebas oleh serum kosmetik dihitung menggunakan rumus (Molyneux, 2004).

Aktivitas Peredaman (%) =

x100 % 3.12.15 Penentuan nilai IC50

Penentuan hasil dari metode peredaman DPPH adalah dengan menghitung IC50, nilai ini menunjukkan bahwa sampel uji dapat menyebabkan peredaman sebanyak 50% dari aktivitas DPPH, hal ini dapat dilihat juga dari perubahan warna dari sampel uji yang berwarna ungu pekat ketika ditambahkan DPPH akan berubah menjadi kekuningan. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi sampel (μg/mL) sebagai absis (sumbu x) dan nilai persen aktivitas peredaman sebagai ordinat (sumbu Y) (Molyneux, 2004).

3.13 Evaluasi Mutu Fisik 3.13.1 Pemeriksaan homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan cara meneteskan 3 tetes sediaan serum pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).

3.13.2 Pemeriksaan tipe emulsi

Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan penambahan 1 tetes biru metil ke dalam 3 tetes sediaan serum, jika larut sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut adalah tipe m/a (Ditjen POM, 1985).

38 3.13.3 Uji Daya Sebar

Ditimbang 1 gram serum, kemudian diletakan diantara lempeng kaca berdiameter 15 cm. Lempeng kaca bagian atas ditimbang terlebih dahulu kemudian diletakan diatas serum dan dibiarkan 1 menit. Diatasnya diberi 50 gram beban tambahan, dibiarkan 1 menit dan diukur diameter sebarnya. Kemudian ditambah kembali beban dengan berat 100 gram beban tambahan, dibiarkan 1 menit dan diukur diameternya sebarnya.Kemudian tambahkan kembali beban dengan maksimum 150 gram dan diukur kembali diameter sebarnya (Numberi dkk., 2020).

3.13.4 Pengukuran pH

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar pH netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tisu. Sampel dilihat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam larutan 100 mL aquadest. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditujukan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).

3.13.5 Viskositas

Pengujian viskositas dilakukan dengan menempatkan sampel dalam viskometer hingga spindel terendam. Spindel diatur dengan kecepatan (Hasrawati dkk., 2020) yang sesuai dengan bentuk sediaan. Angka konstan yang ditunjukkan oleh viskometer merupakan nilai viskositas dari sediaan.

39 3.13.6 Uji Stablitas Fisik

Uji stabilitas terhadap sediaan serum dilakukan pada suhu kamar (25-30⁰C) dan dievaluasi parameter-parameter kestabilan seperti bau, warna, bentuk, pH dan viskositas selama penyimpanan 12 minggu (National Health Surveillance Agency, 2015).

3.13.7 Uji Iritasi

Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan serum dengan maksud untuk mengetahui bahwa serum yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Iritasi dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang akan segera timbul sesaat setelah terjadi pelekatan atau penyentuhan pada kulit dan iritasi sekunder yang reaksinya baru timbul beberapa jam setelah penyentuhan dan pelekatan pada kulit (Ditjen POM, 1985).

Teknik yang digunakan pada uji iritasi adalah metode uji tempel terbuka (open patch) pada bagian belakang daun telinga. Uji tempel terbuka dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati reaksi yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 2-3 kali selama 2 hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007).

Sukarelawan yang dijadikan panel pada uji iritasi berjumlah 6 orang dengan masing-masing menggunakan 2 jenis konsentrasi formula dan dengan kriteria sebagai berikut : 1. Wanita/Pria berbadan sehat, 2. Usia antara 20-30 tahun, 3. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi, 4. Bersedia menjadi sukarelawan, 5. Bersedia tidak menggunakan produk lain (Ditjen POM, 1985).

40

Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema, papula, vesikula atau edema. Menurut Ditjen POM (1985), tanda-tanda untuk mencatat reaksi uji tempel adalah sebagai berikut : tidak ada iritasi; eritema; eritema dan papula;

eritema, papula dan vesikula; edema dan vesikula.

41 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi Sampel

Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA), menyatakan bahwa sampel yang diteliti adalah Passiflora edulis Sims.

dan Sesamum indicum L. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 69 dan Lampiran 2 halaman 70.

4.2 Hasil Pemeriksaan Sampel biji markisa dan biji wijen

Hasil pemeriksaan makroskopik biji markisa yaitu menunjukkan biji berbentuk oval dengan diameter biji sekitar 2,9 mm, panjang biji sekitar 5,5 mm dan berwarna coklat kehitaman.. Serbuk simplisia biji markisa secara makroskopik berupa serbuk berwarna coklat kehitaman. Gambar makroskopik biji markisa dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 71.

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia biji markisa menunjukkan adanya sel minyak, sel batu bentuk bulat, berkas pengangkut dan jaringan sklerenkim. Hasil mikroskopik biji markisa kuning dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 72.

Hasil pemeriksaan makroskopik biji wijen yaitu menunjukkan biji berbentuk biji kecil dengan panjang antara 2,5 – 3 mm, tebal 1,5 mm dan berwarna putih kekuningan. Gambar makroskopik biji wijen dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 71.

Hasil pemeriksaan mikroskopik biji wijen menunjukkan adanya sel

42

parenkim testa dan tetes minyak. Hasil mikroskopik biji wijen dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 72.

4.3 Hasil Pembuatan Minyak Wijen

Hasil yang diperoleh dari pengepresan 2000 gram biji wijen didapatkan minyak murni wijen sebanyak 432 g sehingga menghasilkan rendeman sebesar 21,6%. Hasil rendemen dapat dilihat pada Lampiran 30 halaman 123.

4.4 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Biji Markisa dan Ekstrak Etanol Biji Markisa

Hasil karakterisasi serbuk simplisia biji markisa meliputi penetapan kadar air,kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam dapat dilihat pada Lampiran 15 halaman 83. Hasil pemeriksaan serbuk simplisia biji markisa dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4. 1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia Biji Markisa dan Ekstrak Etanol Biji Markisa

No. Parameter Hasil (%)

1. Kadar air simplisia 3,98%

2. Kadar sari larut air 3,17%

3. Kadar sari larut etanol 10,36%

4. Kadar abu total 1,40%

5. Kadar abu tidak larut asam 0,64%

6. Kadar air ekstrak 13,63%

7. Kadar abu total ekstrak 0,57%

8. Kadar abu tidak larut asam ekstrak 0,11%

43

Monografi serbuk simplisa biji markisa tidak terdaftar pada buku Materia Medika Indonesia (MMI) maupun pada Farmakope Herbal Indonesia, sehingga tidak ada acuan dalam menentukan parameternya. Pemeriksaan simplisia biji markisa meliputi penetapan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam.

Hasil penetapan kadar air pada serbuk simplisia biji markisa yang diperoleh adalah 3,98%. Jika dilihat standarisasi kadar air simplisia secara umum memenuhi syarat yaitu lebih kecil dari 10% (Depkes RI, 1995). Sedangkan persen kadar air ekstrak etanol biji markisa diperoleh sebesar 13,63% di mana hasil ini tidak memenuhi persyaratan standar SNI yaitu 14,5% (Ansar dkk., 2019), hal ini dapat terjadi akibat lamanya waktu pengeringan ekstrak yang terlalu lama sehingga penguapan air lebih banyak. Kadar air lebih dari 10% dapat menyebabkan ketidakstabilan serta menjadi media pertumbuhan yang baik untuk jamur atau mikroba lainnya (WHO, 1998).

Penetapan kadar sari dilakukan menggunakan dua pelarut, yaitu air dan etanol. Penetapan kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa kimia bersifat polar yang terkandung di dalam sampel, sedangkan penetapan kadar sari larut etanol dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa larut dalam etanol baik senyawa polar maupun non polar. Hasil pengujian kadar sari larut air didapatkan nilai sebesar 3,17% dan pada pengujian kadar sari larut etanol didapatkan nilai sebesar 10,36%. Hasil penetapan kadar sari menunjukan kadar sari larut etanol lebih besar dari pada kadar sari larut air, hal ini mengindikasikan bahwa zat yang terlarut dalam etanol lebih banyak daripada air (Isnawati dan Arifin, 2006).

44

Hasil pengujian kadar abu total serbuk simplisia biji markisa diperoleh sebesar 1,40% dan ekstrak sebesar 0,57%. Kadar abu tidak larut asam serbuk simplisia biji markisa diperoleh sebesar 0,64% dan ekstrak sebesar 0,11%.

Pengukuran kadar abu ditujukan untuk mengetahui jumlah bahan anorganik atau mineral yang tersisa setelah proses pengabuan. Sifat bahan dapat dipengaruhi oleh adanya kadar senyawa anorganik ataupun mineral (Hidayati dkk., 2018).

Penetapan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar abu yang diperoleh dari faktor eksternal, berasal dari pengotor yang berasal dari pasir atau tanah. Penetapan kadar abu tidak larut asam untuk mengevaluasi bahan

Penetapan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar abu yang diperoleh dari faktor eksternal, berasal dari pengotor yang berasal dari pasir atau tanah. Penetapan kadar abu tidak larut asam untuk mengevaluasi bahan