BAB III METODE PENELITIAN
3.13 Evaluasi Mutu Fisik
3.13.5 Viskositas
Pengujian viskositas dilakukan dengan menempatkan sampel dalam viskometer hingga spindel terendam. Spindel diatur dengan kecepatan (Hasrawati dkk., 2020) yang sesuai dengan bentuk sediaan. Angka konstan yang ditunjukkan oleh viskometer merupakan nilai viskositas dari sediaan.
39 3.13.6 Uji Stablitas Fisik
Uji stabilitas terhadap sediaan serum dilakukan pada suhu kamar (25-30⁰C) dan dievaluasi parameter-parameter kestabilan seperti bau, warna, bentuk, pH dan viskositas selama penyimpanan 12 minggu (National Health Surveillance Agency, 2015).
3.13.7 Uji Iritasi
Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan serum dengan maksud untuk mengetahui bahwa serum yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Iritasi dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang akan segera timbul sesaat setelah terjadi pelekatan atau penyentuhan pada kulit dan iritasi sekunder yang reaksinya baru timbul beberapa jam setelah penyentuhan dan pelekatan pada kulit (Ditjen POM, 1985).
Teknik yang digunakan pada uji iritasi adalah metode uji tempel terbuka (open patch) pada bagian belakang daun telinga. Uji tempel terbuka dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati reaksi yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 2-3 kali selama 2 hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007).
Sukarelawan yang dijadikan panel pada uji iritasi berjumlah 6 orang dengan masing-masing menggunakan 2 jenis konsentrasi formula dan dengan kriteria sebagai berikut : 1. Wanita/Pria berbadan sehat, 2. Usia antara 20-30 tahun, 3. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi, 4. Bersedia menjadi sukarelawan, 5. Bersedia tidak menggunakan produk lain (Ditjen POM, 1985).
40
Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema, papula, vesikula atau edema. Menurut Ditjen POM (1985), tanda-tanda untuk mencatat reaksi uji tempel adalah sebagai berikut : tidak ada iritasi; eritema; eritema dan papula;
eritema, papula dan vesikula; edema dan vesikula.
41 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Identifikasi Sampel
Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA), menyatakan bahwa sampel yang diteliti adalah Passiflora edulis Sims.
dan Sesamum indicum L. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 69 dan Lampiran 2 halaman 70.
4.2 Hasil Pemeriksaan Sampel biji markisa dan biji wijen
Hasil pemeriksaan makroskopik biji markisa yaitu menunjukkan biji berbentuk oval dengan diameter biji sekitar 2,9 mm, panjang biji sekitar 5,5 mm dan berwarna coklat kehitaman.. Serbuk simplisia biji markisa secara makroskopik berupa serbuk berwarna coklat kehitaman. Gambar makroskopik biji markisa dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 71.
Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia biji markisa menunjukkan adanya sel minyak, sel batu bentuk bulat, berkas pengangkut dan jaringan sklerenkim. Hasil mikroskopik biji markisa kuning dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 72.
Hasil pemeriksaan makroskopik biji wijen yaitu menunjukkan biji berbentuk biji kecil dengan panjang antara 2,5 – 3 mm, tebal 1,5 mm dan berwarna putih kekuningan. Gambar makroskopik biji wijen dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 71.
Hasil pemeriksaan mikroskopik biji wijen menunjukkan adanya sel
42
parenkim testa dan tetes minyak. Hasil mikroskopik biji wijen dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 72.
4.3 Hasil Pembuatan Minyak Wijen
Hasil yang diperoleh dari pengepresan 2000 gram biji wijen didapatkan minyak murni wijen sebanyak 432 g sehingga menghasilkan rendeman sebesar 21,6%. Hasil rendemen dapat dilihat pada Lampiran 30 halaman 123.
4.4 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Biji Markisa dan Ekstrak Etanol Biji Markisa
Hasil karakterisasi serbuk simplisia biji markisa meliputi penetapan kadar air,kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam dapat dilihat pada Lampiran 15 halaman 83. Hasil pemeriksaan serbuk simplisia biji markisa dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4. 1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia Biji Markisa dan Ekstrak Etanol Biji Markisa
No. Parameter Hasil (%)
1. Kadar air simplisia 3,98%
2. Kadar sari larut air 3,17%
3. Kadar sari larut etanol 10,36%
4. Kadar abu total 1,40%
5. Kadar abu tidak larut asam 0,64%
6. Kadar air ekstrak 13,63%
7. Kadar abu total ekstrak 0,57%
8. Kadar abu tidak larut asam ekstrak 0,11%
43
Monografi serbuk simplisa biji markisa tidak terdaftar pada buku Materia Medika Indonesia (MMI) maupun pada Farmakope Herbal Indonesia, sehingga tidak ada acuan dalam menentukan parameternya. Pemeriksaan simplisia biji markisa meliputi penetapan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam.
Hasil penetapan kadar air pada serbuk simplisia biji markisa yang diperoleh adalah 3,98%. Jika dilihat standarisasi kadar air simplisia secara umum memenuhi syarat yaitu lebih kecil dari 10% (Depkes RI, 1995). Sedangkan persen kadar air ekstrak etanol biji markisa diperoleh sebesar 13,63% di mana hasil ini tidak memenuhi persyaratan standar SNI yaitu 14,5% (Ansar dkk., 2019), hal ini dapat terjadi akibat lamanya waktu pengeringan ekstrak yang terlalu lama sehingga penguapan air lebih banyak. Kadar air lebih dari 10% dapat menyebabkan ketidakstabilan serta menjadi media pertumbuhan yang baik untuk jamur atau mikroba lainnya (WHO, 1998).
Penetapan kadar sari dilakukan menggunakan dua pelarut, yaitu air dan etanol. Penetapan kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa kimia bersifat polar yang terkandung di dalam sampel, sedangkan penetapan kadar sari larut etanol dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa larut dalam etanol baik senyawa polar maupun non polar. Hasil pengujian kadar sari larut air didapatkan nilai sebesar 3,17% dan pada pengujian kadar sari larut etanol didapatkan nilai sebesar 10,36%. Hasil penetapan kadar sari menunjukan kadar sari larut etanol lebih besar dari pada kadar sari larut air, hal ini mengindikasikan bahwa zat yang terlarut dalam etanol lebih banyak daripada air (Isnawati dan Arifin, 2006).
44
Hasil pengujian kadar abu total serbuk simplisia biji markisa diperoleh sebesar 1,40% dan ekstrak sebesar 0,57%. Kadar abu tidak larut asam serbuk simplisia biji markisa diperoleh sebesar 0,64% dan ekstrak sebesar 0,11%.
Pengukuran kadar abu ditujukan untuk mengetahui jumlah bahan anorganik atau mineral yang tersisa setelah proses pengabuan. Sifat bahan dapat dipengaruhi oleh adanya kadar senyawa anorganik ataupun mineral (Hidayati dkk., 2018).
Penetapan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar abu yang diperoleh dari faktor eksternal, berasal dari pengotor yang berasal dari pasir atau tanah. Penetapan kadar abu tidak larut asam untuk mengevaluasi bahan dari kontaminasi tanah dan pasir (Hidayati dkk., 2018).
4.5 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Biji Wijen dan Minyak Wijen
Hasil karakterisasi biji wijen meliputi penetapan kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam dapat dilihat pada Lampiran 16 halaman 87. Penetapan karakterisasi kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol tidak dilakukan karena proses pengambilan minyak wijen dilakukan menggunakan metode press panas sehingga tidak membutuhkan pelarut air ataupun etanol. Hasil pemeriksaan biji wjen dan minyak wijen dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4. 2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Biji Wijen dan Minyak Wijen
No. Parameter Hasil Syarat(Depkes RI, 2017)
1. Kadar air minyak wijen 0% <0,3% (SNI)
2. Kadar air biji wijen 3,31% <10%
3. Kadar abu total wijen 2,72% <3,6%
4. Kadar abu tidak larut asam wijen 0,16% <0,2%
45
Hasil penetapan kadar air pada minyak wijen yang diperoleh adalah 0%
sedangkan batas maksimal untuk SNI 01-3471-1995 minyak wijen sebesar 0,3%
hal ini berarti kadar air telah memenuhi Standar Nasional Indonesia. Hasil perhitungan kadar air minyak wijen dapat dilihat pada Lampiran 16 halaman 87.
Semakin tinggi kadar air dalam minyak maka kualitas minyak semakin rendah karena air merupakan salah satu katalisator reaksi hidrolisis minyak yang menghasilkan asam lemak bebas (Romadhona dkk., 2015).
Hasil pengujian kadar abu total biji wijen diperoleh kadar abu total sebesar 2,72% dan kadar abu tidak larut asam sebesar 0,16%. Persyaratan kadar yang tertera dalam Farmakope Herbal Indonesia Edisi II (2017) menetapkan kadar abu total biji wijen tidak lebih dari 3,6% dan kadar abu tidak larut asam tidak lebih dari 0,2% sehingga hasil memenuhi persyaratan monografi.
4.6 Hasil Pemeriksaan Skrining Fitokimia Biji Markisa
Penentuan golongan senyawa kimia serbuk simplisia biji markisa dan ekstrak etanol biji markisa dilakukan untuk mendapatkan informasi golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. Adapun pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan golongan senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid. Hasil skrining fitokimia simplisia biji markisa dan ekstrak etanol biji markisa dapat dilihat pada Tabel 4.3.
46
Tabel 4. 3 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Biji Markisa dan Ekstrak Etanol Biji Markisa
No Parameter Serbuk simplisia biji markisa Ekstrak etanol biji markisa
1. Alkaloid + +
2. Flavonoid + +
3. Glikosida + +
4. Saponin + +
5. Tannin + +
6. Triterpenoid + +
Berdasarkan hasil pemeriksaan skrining fitokimia dari serbuk simplisia biji markisa dan ekstrak etanol biji markisa menunjukkan hasil yaitu memiliki kandungan metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, glikosida, tanin, saponin dan triterpenoid.
Pengamatan komponen fitokimia pada serbuk simplisia biji markisa dan ekstrak etanol biji markisa didasarkan adanya perubahan hasil reaksi. Adanya senyawa alkaloida ditandai dengan terbentuknya endapan putih atau kuning setelah ditetesi oleh larutan pereaksi Mayer, endapan cokelat sampai hitam setelah ditetesi oleh larutan pereaksi Bouchardat dan endapan merah atau jingga setelah ditetesi oleh larutan pereaksi Dragendorff. Adanya senyawa flavonoid ditandai dengan timbulnya warna jingga pada lapisan amil alkohol, adanya senyawa glikosida ditandai dengan terbentuknya cincin ungu pada uji glikon, adanya senyawa tanin ditandai dengan timbulnya warna hijau kehitaman , adanya senyawa steroid/triterpenoid ditandai dengan timbulnya warna merah ungu dan lama kelamaan menjadi biru kehijauan, dan adanya senyawa saponin ditandai dengan terbentuknya buih yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm jika dikocok dengan air panas, dan jika dilakukan penambahan HCl 2N buih tersebut tidak hilang.
47
4.7 Skrining Fitokimia Biji Wijen dan Minyak Wijen
Penentuan golongan senyawa kimia biji wijen dilakukan untuk mendapatkan informasi golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. Hasil skrining fitokimia simplisia biji wijen dan minyak wijen dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4. 4 Hasil Skrinning Fitokimia Biji Wijen dan Minyak Wijen
No. Parameter Biji Wijen Minyak Wijen
1. Alkaloid + +
2. Flavonoid + +
4. Saponin - -
5. Tanin - -
6. Steroid/Triterpenoid - -
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa biji wijen dan minyak wijen mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid.
Tabel 4. 5 Hasil Pengujian Flavonoid pada Minyak Wijen Uji
Fitokimia Hasil Keterangan
Uji Flavonoid
sebelum sesudah
Hasil positif terdapat perubahan
warna menjadi kuning/oranye
Minyak wijen memiliki antioksidan natural berupa senyawa sesamol, sesamolin dan asam lenolat yang merupakan bagian dari senyawa fenolik golongan flavonoid (Handajani, 2010).
48
4.8 Hasil Ekstraksi Serbuk Simplisia Biji Markisa
Hasil ekstraksi dari 200 g serbuk simplisia biji markisa dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 3L, kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu ± 50°C lalu dipekatkan menggunakan oven pada suhu ± 50°C sampai diperoleh ekstrak kental sebanyak 32,65 g (Ditjen Farmalkes, 2017). Hasil perhitungan rendemen dapat dilihat pada Lampiran 30 halaman 123.
4.9 Hasil Formulasi Serum Kosmetik dari Ekstrak Etanol Biji Markisa dan Minyak Wijen
Sediaan serum kosmetik dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen diformulasi dengan memodifikasi formula standar Handayani dkk.
(2015).
Formula yang dimodifikasi yaitu penurunan konsentrasi karbopol dari 0,3% menjadi 0,5% karena jika viskositas terlalu tinggi tidak akan memenuhi parameter sifat fisik sediaan yang diharapkan. Selain itu juga terdapat modifikasi TEA dari 1 gram menjadi 5 tetes, dilakukan agar didapatkan hasil pH yang memenuhi persyaratan pH kulit yaitu sebesar 4,5-6,5 ((Handayani dkk., 2015).
Menurut penelitian Andini dkk. (2017) pemberian trietanolamin menaikkan pH karbopol menjadi 5-6 sehingga tidak menyebabkan iritasi pada kulit.
Penggunaan tween 60 dan span 60 mengakibatkan bentuk sediaan berwarna putih. Penggunaan bahan ini diubah karena memberikan tampilan visual kurang menarik ketika ditambahkan ekstrak etanol biji markisa.
Penggunaan bahan digantikan dengan tween 80 agar didapatkan warna bening pada formula basis serum. Tween 80 juga digunakan sebagai agen pengemulsi
49 sediaan (Rowe dkk., 2009).
Modifikasi juga dilakukan pada parafin cair, penggunaan bahan ini ditujukan sebagai fase minyak dari formula sebelumnya , parafin digantikan dengan minyak wijen yang merupakan sampel dari penelitian ini. Konsentrasi yang digunakan untuk minyak wijen sebesar 2% Konsentrasi ini dipilih melalui tahap orientasi dimana untuk hasil 2% telah mampu memberikan efek lembab pada kulit dan rasa nyaman ketika digunakan pada kulit.
Pada sediaan ditambahkan ekstrak etanol biji markisa dengan konsentrasi 0,3%, 0,5% dan 0,7%. Konsentrasi didapat melalui hasil orientasi dan berdasarkan pada nilai DPPH sementara yang didapat dari penelitian sebelumnya yang dikonversikan kedalam bentuk persen. Kenaikan konsentrasi sebesar 0,2% dipilih berdasarkan penelitian terdahulu ekstrak biji markisa oleh Lourith dkk. (2017).
Konsentrasi tertinggi dipilih sebesar 0,7% karena hasil orientasi dengan pertimbangan bentuk visual serum yang tidak terlalu pekat. Sediaan berwarna coklat muda hingga coklat tua dan beraroma parfum.
4.10 Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan Serum Menggunakan Metode DPPH
Hasil uji aktivitas antioksidan serum kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wjen dengan metode pemerangkapan 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visibel.
4.10.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum DPPH Penentuan panjang gelombang serapan maksimum DPPH dengan konsentrasi 40 μg/mL dalam pelarut metanol menggunakan spektrofotometer UV-Visibel yang diukur pada panjang gelombang visibel 400-800 nm menghasilkan
50
panjang gelombang maksimum 516 nm. Hasil pengukuran panjang gelombang serapan maksimum DPPH dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Panjang gelombang 516 nm ini sesuai dengan literatur, dimana DPPH memiliki nilai absorbansi dibawah satu dengan panjang gelombang 515-520 nm (Molyneux, 2004).
Penentuan panjang gelombang maksimum bertujuan untuk mengetahui panjang gelombang yang mempunyai serapan maksimum, yaitu saat senyawa berwarna yang terbentuk telah optimum sehingga diperoleh kepekaan yang maksimum (Undri dan Purwati, 2012).
4.10.2 Hasil Penentuan Operating Time
Gambar 4. 1 Kurva Serapan Maksimum Larutan DPPH 40 μg/mL dalam Metanol Menggunakan Spektofotometer UV-Visibel
0.9740 0.9760 0.9780 0.9800 0.9820 0.9840 0.9860
0 10 20 30 40 50 60 70
Absorbansi
waktu (menit)
Gambar 4. 2 Grafik penentuan operating time DPPH dalam metanol (40 μg/mL)
51
Pada Gambar 4.2 diperoleh hasil penentuan operating time yaitu menunjukkan nilai absorbansi yang stabil pada menit ke-30 sampai menit ke-33 dengan nilai absorbansi secara berturut sebesar 0,9824. Hasil ini sesuai literatur yang menyatakan bahwa secara umum kerja DPPH yang digunakan yaitu selama 30 menit (Molyneux, 2004).
Operating Time digunakan untuk menentukan waku paling tepat larutan uji dalam meredam radikal bebas DPPH. Operating time ini menunjukkan bahwa reaksi antara larutan uji dan DPPH telah sempurna (Undri dan Purwati, 2012).
4.10.3 Hasil analisis aktivitas antioksidan
Aktivitas antioksidan pada ekstrak, sediaan serum formula 1, formula 2 dan formula 3 dilakukan dengan penambahan larutan uji konsentrasi 5 μg/mL, 10 μg/mL, 15 μg/mL, 20 μg/mL dan 25 μg/mL. Untuk formula 0 atau formula basis sediaan serum dilakukan dengan penambahan larutan uji konsentrasi 20 μg/mL, 40 μg/mL, 60 μg/mL, 80 μg/mL dan 100 μg/mL. Untuk vitamin C dilakukan dengan penambahan larutan uji konsentrasi 2 μg/mL, 4 μg/mL, 6 μg/mL dan 8μg/mL. Hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak, sediaan serum dan vitamin C menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi menyebabkan terjadinya penurunan nilai absorbansi. Adanya aktivitas antioksidan dari sampel mengakibatkan perubahan warna violet pekat menjadi kuning pucat. Hasil persentase peredaman DPPH pada tiap variasi konsentrasi serum dapat dilihat pada lampiran 19 halaman 91.
Setelah didapatkan data % peredaman maka dibuat grafik antara konsentrasi (x) dan % peredaman (y) dan didapatkan persamaan regresi lainnya.
Grafik peredaman DPPH terhadap ekstrak etanol biji markisa, keempat variasi
52
formula sediaan serum dan pembanding vitamin C 0,1% dapat dilihat pada gambar.
Gambar 4. 5 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 1
Gambar 4. 3 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Ekstrak Etanol Biji Markisa
Gambar 4. 4 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 0 Ekstrak Etanol Biji Markisa
Y = 3,44X + 12,53
53
Gambar 4. 6 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 2
Gambar 4. 7 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 3
Gambar 4. 8 Grafik % Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Pembanding Vitamin C
54
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan persentase peredaman akibat adanya peningkatan konsentrasi senyawa antioksidan. Hal ini disebabkan karena terjadinya penurunan absorbansi yang membuktikan adanya aktivitas pemerangkapan radikal bebas DPPH oleh larutan uji yaitu berupa ekstrak etanol biji markisa, formulasi sediaan serum dengan tiga variasi konsentrasi terdiri dari formula 1, formula 2 dan formula 3 serta larutan uji pembanding berupa vitamin C. Sedangkan pada formula 0 tidak menunjukkan adanya aktivitas antioksidan.
Menurut Novianti (Romadanu dkk., 2014) aktivitas antioksidan dari suatu sampel uji didasarkan pada kemampuannya dalam meredam aktivitas radikal bebas DPPH melalui donasi atom hidrogen elektron. Pendonoran atom hidrogen pada DPPH akan mengubah bentuk DPPH yang radikal menjadi non-radikal yang dapat diamati secara visual melalui perubahan warnanya dan secara kuantitatif melalui absorbansinya pada panjang gelombang 516 nm. Apabila terdonasi atom hidrogen DPPH akan berubah menjadi non-radikal yang ditandai dengan memudarnya warna ungu menjadi lebih muda hingga kuning.
4.10.4 Hasil analisis nilai IC50 sediaan serum
Nilai IC50 dari ekstrak, keempat formula sediaan serum dan vitamin C diperoleh melalui hasil perhitungan persamaan regresi data kurva kalibrasi dengan cara memplotkan konsentrasi larutan uji sebagai sumbu x dan persen peredaman sampel uji sebagai sumbu y. Nilai IC50 merupakan konsentrasi efektif ekstrak yang dibutuhkan untuk meredam 50% dari total DPPH, sehingga nilai 50 disubstitusikan untuk nilai y. Setelah mensubstitusikan nilai 50 pada nilai y, akan didapat nilai x sebagai nilai IC50 (Tristantini dkk., 2016). Perhitungan regresi dan
55
nilai IC50 dapat dilihat pada Lampiran 20-25 halaman 93-113. Hasil dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4. 6 Nilai IC50 Sampel uji dan pembanding
Sampel Persamaan regresi Nilai IC50 (ppm)
Ekstrak etanol biji markisa
Y = 3,44X + 12,53 10,87 Serum Formula 0 Y = 0,08X + 1,073 611,58
Serum Formula 1 Y = 3,12X+7,06 13,76
Serum Formula 2 Y = 2,96X+10,09 13,48
Serum Formula 3 Y = 3,23X+9,025 12,68 Vitamin C 0,1% Y = 11,22X+1,016 4,36
Berdasarkan Tabel 4.6 hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji markisa memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat (<50 ppm) (Lung dan Destiani, 2017) dengan nilai IC50 sebesar 10,87 ppm. Sedangkan Formula 0 atau formula basis sediaan serum menunujukkan tidak adanya aktivitas antioksidan (nilai IC50 : 611,58 ppm < 500 ppm) (Lung dan Destiani, 2017). Adanya penambahan ekstrak kedalam formulasi membuat aktivitas antioksidan ekstrak etanol biji markisa mengalami penurunan, hal ini didapatkan dari perolehan nilai IC50 pada formula 1 (13,76 ppm), fomula 2 (13,48 ppm) dan formula 3 (12,68 ppm). Namun, Nilai IC50 yang diperoleh ini masih masuk kedalam kategori sangat kuat.
Adanya perbedaan konsentrasi ekstrak yang ditambahkan kedalam formulasi sediaan serum mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan maka semakin kecil nilai IC50 nya.
Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif pengukuran aktivitas antioksidan. Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan lebih besar daripada sediaan serum dengan nilai IC50 sebesar 4,36 ppm.
56
Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sediaan tersebut sebagai senyawa penangkap radikal DPPH atau senyawa antioksidan (Rahmatullah dkk., 2019).
4.11 Hasil evaluasi mutu fisik sediaan serum 4.11.1 Hasil pemeriksaan homogenitas
Dari hasil pengamatan homogenitas serum dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen , diperoleh bahwa semua sediaan yang dibuat tidak terdapat butiran kasar pada objek gelas, maka semua sediaan dikatakan homogen (Ditjen POM, 1979). Hasil pemeriksaan homogenitas dapat dilihat pada Lampiran 28 halaman 121.
4.11.2 Hasil penentuan tipe emulsi
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, sediaan serum dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen mempunyai tipe emulsi m/a karena biru metil larut dan memberikan warna yang homogen (Ditjen POM, 1985). Hasil dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini
Tabel 4. 7 Data Penentuan Tipe Emulsi Sediaan Serum Ekstrak Etanol Biji Markisa dan Minyak Wijen Menggunakan Biru Metil
No. Formula Kelarutan biru metil pada sediaan
Ya Tidak
Formula F0 : blanko (serum tanpa sampel)
Formula F1 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,3% dan minyak wijen 2%
Formula F2 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,5% dan minyak wijen 2%
Formula F3 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,7% dan minyak wijen 2%
57
Dari hasil pengujian tipe emulsi diperoleh bahwa semua formula serum merupakan emulsi dengan tipe m/a. Hasil penentuan tipe emulsi dapat dilihat pada Lampiran 28 halaman 121.
4.11.3 Hasil uji daya sebar sediaan serum
Pengujian daya sebar dilakukan dengan dua buah kaca dan anak timbangan seberat 50 gram, 100 gram dan 150 gram. Hasil pengukuran diameter daya sebar sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4. 8 Hasil Pengukuran Diameter Daya Sebar Sediaan Serum Ekstrak Etanol Biji Markisa dan Minyak Wijen
Formula Waktu (menit) Beban (g) Ukuran Diameter Daya Sebar Sediaan (cm)
Formula F0 : blanko (serum tanpa sampel)
Formula F1 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,3% dan minyak wijen 2%
Formula F2 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,5% dan minyak wijen 2%
Formula F3 : serum dengan konsentrasi ekstrak etanol biji markisa 0,7% dan minyak wijen 2%
Berdasarkan hasil yang didapat, hasil menunjukkan formula 0 memiliki rentang daya sebar dengan diameter 4,40 – 5,75. Formula 1 sebesar 5,42-6,33;
formula 2 sehesar 5,33- 6,31; dan formula 3 sebesar 5,54- 6,95. Rentang yang didapat telah memenuhi rentang daya sebar topikal dari penelitian terdahulu.
58
Penelitian terdahulu menyebutkan daya sebar yang baik untuk sediaan topikal adalah sekitar 5 – 7 cm (Ulaen, et al., 2012) (Sari dkk., 2015).
Daya sebar sangat berkaitan dengan viskositas, sampel dengan viskositas kecil akan mempunyai daya sebar yang besar. Sediaan sampel dengan daya sebar terlalu kecil maka dalam penggunaannya diperlukan tekanan yang besar untuk mengoleskan sampel tersebut, apabila daya sebar sampel besar maka akan mudah dioleskan tanpa perlu penekanan yang besar selain itu penyebaran bahan aktif pada kulit lebih merata sehingga efek yang ditimbulkan bahan aktif menjadi lebih optimal (Pratama dan Zulkarnain, 2015).
4.11.4 Hasil uji stabilitas fisik
Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan serum dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen meliputi bentuk, warna, yang diamati secara visual dan bau sediaan. Sediaan dinyatakan stabil apabila warna, bau, dan bentuk tidak
Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan serum dari kombinasi ekstrak etanol biji markisa dan minyak wijen meliputi bentuk, warna, yang diamati secara visual dan bau sediaan. Sediaan dinyatakan stabil apabila warna, bau, dan bentuk tidak