• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Uji Organoleptik

Hasil analisis statistik dari data uji organoleptik terhadap rasa kerupuk sawi dengan menggunakan analisis sidik ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 1,88 lebih kecil dari F tabel = 3,07, ini berarti tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk sawi dengan penambahan berbagai variasi sawi dari penilaian penelis. Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada Tabel 10 halaman 55 dan hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Tabel 11 halaman 58.

Dari histogram nilai kesukaan rasa kerupuk sawi dapat dilihat bahwa nilai kesukaan terhadap rasa kerupuk sawi menunjukkan nilai kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk III, dari hasil penilaian dengan skala hedonik yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,08 ini disukai oleh panelis dibandingkan produk I dan produk II. Histogram nilai kesukaan terhadap rasa kerupuk sawi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Histogram nilai kesukaan rasa kerupuk sawi

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Sawi dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan dalam pembuatan kerupuk.

2. Penambahan sawi dengan variasi sebanyak 200 gram, 400 gram dan 600 gram tidak memberikan pengaruh terhadap rasa kerupuk sawi dari penilaian panelis.

3. Kadar serat tak larut dalam sawi adalah 2,0085% < μ < 2,0369%, dan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan dengan sawi sebanyak 200 gram, 400 gram dan 600 gram berturut-turut sebanyak 0,8922% < μ <

0,8975% , 1,2284% < μ < 1,2466% , dan 1,5749% < μ < 1,5771 %.

4. Panelis suka mengkonsumsi kerupuk sawi.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk membuat produk serat pangan lain misalnya sereal, biskuit dan roti dengan memanfaatkan sawi sebagai bahan tambahan dalam pembuatan produk serat pangan.

DAFTAR PUSTAKA

Birch, G.G. (1985). Analysis of Food Carbohydrate. New York: Elsevier Applied Science Publishers. Hal.278-279.

Departermen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2007). Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Hal 29.

Ferguson,L.R, and Philip J.H.(1999). Wheat Bran and Cancer: The Role of Dietary Fiber. Asia Pasific J Clin Nurt.8 (suppl): S42-43.

Gomez A, Arturo. (1995). Prosedur Statistika Untuk Penelitian Pertanian. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal 47.

Iswari S, Retno. (2006). Biokimia. Semarang: Penerbit Graha Ilmu. Hal 17.

Joseph, G. (2002). Manfaat Serat Bagi Kesehatan Kita. http://www.hayati- ipb.com/users/rudyct/PPs702/DEDIN_FR.htm. Tanggal Akses 19 Januari 2009.

Meloan,C and Pomeranz, Y. (1987). Food Analysis : Theory and Practice. Second Edition, New York: Van Nostrand Reinhold Company. Hal 25,679-680.

Mertens, D.R. (1992). Critical Conditions in Determining Detergent Fibers.

www.foragetesting.org/fap/appendixf.html. Tanggal Akses 7 Maret 2009.

Nainggolan, Olwin. (2005). Diet Sehat dengan Serat. Cermin Dunia Kedokteran No.147. Tanggal Akses 19 Januari 2009.

Nurlidia, (2003). Penetapan Kadar Serat Tak Larut pada Beberapa Sayuran dan Suplemen Serat dengan Metode Analisis NDF. Skripsi. Jurusan farmasi FMIPA USU.

Piliang, W.G. dan S. Djojosoebagio, Al Haj. (1996). Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke-2. UI-Press. Jakarta. Hal 195.

Ruslianti dan Kusharto M. Clara. (2007). Sehat dengan Makanan Berserat. Jakarta:

Agro Media Pustaka. Hal 12.

Soekarto. (1981). Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, Bogor. Hal 45.

Sulistijani, D.A (2001). Sehat dengan Menu Berserat. Cetakan III. Jakarta : Trubus Agriwidya. Hal 4,5,27.

Lampiran 1. Bagan Pembuatan Kerupuk Sawi

Ditambahkan bumbu penyedap yang terdiri bawang putih, terasi dan garam secukupnya

Ditambahkan air hingga adonan mengental

Ditambahkan daun sawi yang telah diiris-iris Dimasukkan ke dalam loyang

Dikukus selama 20 menit sampai bagian tengah adonan matang

Didinginkan

Dipotong dengan ukuran 2 x 3 cm

Dijemur sampai kering di bawah sinar matahari

1 kg Tepung tapioka

Adonan kental

Adonan matang

Kerupuk sawi

Lampiran 2. Bagan Penetapan Kadar Serat Tak Larut dalam Sawi dan Kerupuk Sawi Metode Analisis NDF

Ditambahkan 100 ml larutan NDF

Direfluks hingga mendidih selama 5 menit Pemanasan dihentikan hingga busa habis Dididihkan kembali selama 60 menit Disaring dengan corong Buchner

Dicuci dengan air suling panas (80-90° C) sebanyak 200 ml Dicuci dengan aseton sebanyak 50 ml

Dikeringkan di oven suhu 105° C selama 9 jam (hingga berat konstan) Didinginkan dalam desikator

Ditimbang

Diabukan pada suhu 800°C selama 3 jam (hingga berat konstan) Ditimbang dihitung berat yang hilang

0,5 gram Sampel

Residu Filtrat

Serat tak larut

Lampiran 3. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi dengan Metode Analisis NDF

Tabel 2. Data Penimbangan Sawi

No Berat sawi

Berat Kertas Saring + Sampel setelah di

Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan

Tabel 3. Data Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi

No W1

Kadar serat tak larut (%)

Keterangan : W1 = Berat residu serat (g) W2= Berat abu (g)

Keterangan : a = Berat sampel kering b = Berat sampel basah Berat sawi basah : 26,0673 g

Berat sawi kering : 4,356 g Contoh Perhitungan Sampel No 1

%NDF = 0,1180 g - 0,0572 g x 100% = 12,16%

0,5000 g

Kadar serat tak larut pada sampel = 4,356 / 26,0673 x 12,16% = 2,0320%

Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel 2 sampai 6.

Kadar serat tak larut pada sampel = a/b x %NDF

% NDF pada kerupuk = W1-W2 x 100%

Berat sampel

Lampiran 4. Data Penimbangan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi sebanyak 200 gram Metode Analisis NDF

Tabel 4. Data Penimbangan Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 200 gram

Berat Kertas Saring + Sampel setelah

Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan Ditambahkan Sawi Sebanyak 200 gram

No W1

Kadar serat tak larut (%)

Keterangan : W1 = Berat residu serat (g) W2= Berat abu (g)

Keterangan : a = Berat 1 kerupuk b = Berat 6 kerupuk Berat 6 kerupuk : 11,8308 g Berat 1 kerupuk : 1,9718 g Contoh Perhitungan 1

%NDF = 0,0645 g - 0,0363 g x 100% = 5,6400%

0,5000

Kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi = 1,9718 g /11,8308 g x 5,6400% = 0,8923%

Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel 2 sampai 6 seperti tabel diatas dan perhitungan yang sama untuk penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 400 gram dan 600 gram.

Kadar serat tak larut pada kerupuk = a/b x %NDF

% NDF pada kerupuk = W1-W2 x 100%

Berat sampel

Lampiran 5. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram dengan Metode Analisis NDF

Tabel 6. Data Penimbangan Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram

Berat Kertas Saring + Sampel setelah di

Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram

W1

Lampiran 6. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram dengan Metode Analisis NDF

Tabel 8. Data Penimbangan Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram

Berat Kertas Saring + Sampel setelah

Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan

Tabel 9. Data Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram

No W1

Kadar serat tak larut (%)

Lampiran 7. Perhitungan Kadar Serat Tak Larut Sebenarnya dalam daun

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0.05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t tabel

t-hitung =

t-hitung data 5 =

Data 3 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 1,2,4,5 dan 6.

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0.05, dk 5-1 diperoleh t-tabel = 2,78 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung =

t-hitung data 3 =

Kadar serat tak larut dalam sawi adalah 2,0085 %< μ < 2,0369 %

Lampiran 8. Perhitungan Kadar Serat Tak Larut Sebenarnya dalam Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 200 gram

No. Kadar Serat (%) Xi -X (XiX )2

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung =

t-hitung data 5 =

Data 4 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 1,2,3,5 dan 6

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 5-1 diperoleh t-tabel = 2,78 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung data 1 =

t-hitung data 3 =

Data 4 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 1,2,3 dan 5

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 4-1 diperoleh t-tabel = 3,18 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t- hitung data 1 =

t-hitung data 2 =

Kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 200 gram adalah 0,8922%< μ < 0,8975%

Lampiran 9. Perhitungan Kadar Serat Tak Larut Sebenarnya dalam Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram

No. Kadar Serat (%) Xi -X (XiX )2

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung =

t-hitung data 5 =

Data 1 dan 2 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 3, 4, 5 dan 5

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 4-1 diperoleh t-tabel = 3,18 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung =

t-hitung data 3 =

4 00568 , 0

2375 , 1 2367 ,

1 −

= -0,2817

t-hitung data 4 =

4 00568 , 0

2375 , 1 2400 ,

1 −

= 0,8803

μ = x ± t

n

SD

μ = 1,2375% ± 0,0091%

Kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 400 gram adalah 1,2284%< μ < 1,2466%

Lampiran 10. Perhitungan Kadar Serat Tak Larut Sebenarnya dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram

No. Kadar Serat (%) Xi -X (XiX )2

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung =

t-hitung data 5 =

Data 6 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data 1,2,3,4, dan 5

Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0,05, dk 5-1 diperoleh t-tabel = 2,78 Data diterima jika t-hitung < t-tabel

t-hitung data 1 =

t-hitung data 4 =

5 0086 , 0

5760 , 1 5667 ,

1 −

= -2,4110

t-hitung data 5=

5 0086 , 0

5760 , 1 5867 ,

1 −

= 0,2774

μ = x ± t

n

SD

μ = 1,5760 % ± 0,0011%

Kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 600 gram adalah 1,5749%< μ < 1,5771 %

Lampira 11. Formulir Penilaian Organoleptik

Nama panelis : ……… Tanggal : ………

Nim : ……… Produk : Kerupuk

Berilah tanda dalam kotak di bawah ini sesuai dengan kesan anda setelah mencicip kerupuk

Produk : I II III Amat sangat suka :

Sangat suka :

Suka :

Agak suka :

Tidak suka :

Lampiran 12. Gambar Uji Organoleptik

Gambar 2. Ruangan uji organoleptik

Gambar 3. Panelis melakukan uji organoleptik terhadap rasa kerupuk sawi

Tabel 10. Hasil Uji Organoleptik

Nilai numerik organoleptik 1 = Tidak suka

2 = Agak suka 3 = Suka 4 = Sangat suka 5 = Amat sangat suka

Perhitungan analisis sidik ragam Fk ( Faktor koreksi) = (Y)2/ t x r = (345)2/ 40 x 3 = 991,88

JK total (Jumlah Kuadrat Total) =

 

=

= r

j t

i 1 1

( Y ij )2 – Fk

= [(22 + 32 + 32 …) + (32 + 32 + 42…) + (42 + 22 + 32…)] – 991,88

= 103

JK perlakuan (Jumlah Kuadrat Perlakuan) = (

= t

i 1

Yi 2 ) / r – Fk

= (1072 + 1152 + 1232 ) / 40 – 991,88

= 3,20

JK galat = JK total – JK perlakuan =103 – 3,20

= 99,93

Db (Derajat bebas) Db perlakuan = t – 1 = 3 – 1 = 2 Db galat = t (r-1) = 3 (40 – 1 ) = 117 Db total = (t)(r) – 1

= (3)(40) – 1 = 119

KT perlakuan (kuadrat tengah perlakuan) = JK perlakuan / t -1 = 3,20/ 3 – 1

= 1,60 KT galat = JK galat / t (r-1)

= 99,93/ 3 (40 – 1) = 0,85

F hitung = KT perlakuan / KT galat = 1,60/ 0,85

= 1,88 Keterangan : Y = Total

t = Perlakuan r = Panelis

Tabel 11. Daftar Analisis Sidik Ragam Sumber

keragaman Db JK KT Fhit F 0.05

Perlakuan 2 3,20 1,60 1,88 3,07

Galat 117 99,93 0,85

Total 119 103

Dokumen terkait