BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Penilaian Organoleptik
2.8.1 Panel
Untuk melaksanakan suatu penilaian organoleptik diperlukan panel. Dalam penilaian mutu atau analisa sifat-sifat sensorik suatu komoditi panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Alat ini terdiri dari orang atau kelompok orang yang disebut panel yang bertugas menilai sifat atau mutu benda berdasarkan kesan subjektif. Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis.
Jadi, penilaian makanan secara panel berdasarkan kesan subjektif dari para panelis dengan prosedur sensorik tertentu yang harus dituruti (Soekarto, 1981).
Pengunaan panel ini dapat dibedakan tergantung dari tujuan. Menurut Soekarto (1981) terdapat 6 macam panel yang biasa digunakan dalam penelitian organoleptik yaitu :
a. Panel pencicip perorangan
Pencicip perorangan juga disebut pencicip tradisional digunakan dalam industri-industri makanan seperti pencicip teh, kopi, anggur, es krim atau penguji bau pada industri minyak wangi (parfum). Pencicip ini mempunyai kepekaan yang sangat tinggi jauh melebihi kepekaan rata-rata manusia.
b. Panel pencicip terbatas
Untuk menghindari ketergantungan pada pencicip perorangan maka industri menggunakan 3-5 orang penilai yang mempunyai kepekaan tinggi yang disebut panel pencicip terbatas.
Biasanya panel ini diambil dari personal laboratorium yang sudah mempunyai pengalaman luas akan komoditi tertentu.
c. Panel terlatih
Anggota panel ini lebih besar dari panel diatas yaitu 15-25 orang. Untuk menjadi panel ini perlu diseleksi dan dipilih dan terlatih.
d. Panel tak terlatih
Jika panel terlatih biasanya untuk menguji perbedaan (difference test), maka panel tak terlatih umumnya untuk menguji kesukaan (preference test). Anggota panel tak terlatih tidak tetap.
e. Panel agak terlatih
Panelis dalam katagori ini mengetahui sifat-sifat sensorik dari contoh yang karena mendapat penjelasan atau sekedar latihan. Tetapi latihan-latihan yang diterima tidak cukup intensif dan tidak teratur, karena itu belum mencapai tingkat sebagai panel terlatih. Jumlah untuk panel agak terlatih jumlahnya terletak di antara panelis terlatih dan tidak terlatih. Jumlah itu berkisar antara 15-25 orang. Makin kurang terlatih makin besar jumlah panelis yang diperlukan.
f. Panel konsumen
Panel ini biasanya mempunyai anggota yang besar jumlahnya, dari 30 sampai 1000 orang.
Pengujiannya biasanya mengenai uji kesukaan (preference test) dan dilakukan sebelum pengujian pasar. Hasil uji kesukaan dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu jenis makanan dapat diterima oleh masyarakat. Anggota panel konsumen dapat diambil dari sejumlah orang yang ada dipasar atau dapat pula dilakukan dengan mendatangi rumah konsumen, dalam hal kelompok pertama pengujian dapat diselenggarakan sekaligus, sedangkan dalam hal yang kedua diselenggarakan dengan mendatangi rumah-rumah.
2.8.2 Seleksi Panelis Hedonik
Calon panelis dapat diambil dari orang awam atau dari luar instansi, dapat diambil dari tamu yang berkunjung. Orang yang sudah terlanjur ahli atau kenal betul dengan komoditi itu tidak boleh dijadikan anggota panel hedonik. Jumlah panel hedonik makin besar semakin baik, sebaiknya jumlah itu melebihi 30 orang. Jumlah lebih besar tentu menghasilkan kesimpulan yang
dapat diandalkan. Tetapi biaya penyelenggaraanya terlalu tinggi karena itu biasanya ada kompromi antara jumlah anggota dan biaya penyelenggaraan.
Kriteria panelis (Soekarto, 1981):
1. Memiliki kepekaan dan konsistensi yang tinggi
2. Panelis yang digunakan adalah panelis tidak terlatih yang diambil secara acak. Jumlah anggota penelis hedonik semakin besar semakin baik
3. Berbadan sehat
4. Tidak dalam keadaan tertekan
5. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang cara-cara penilaian organoleptik 2.8.3 Laboratorium Penilaian Organoleptik
Suatu laboratorium yang menggunakan manusia sebagai alat ukur berdasarkan kemampuan pengindraanya, yang paling utama dalam laboratorium penilaian organoleptik adalah ruang pencicipan, tempat para anggota panelis dapat melakukan penilaian. Kepada panelis diberikan format evaluasi dimana ada banyak jenisnya. Salah satunya mempunyai kolom untuk sampel dengan penilaian seperti sangat suka, agak suka, tidak suka, agak tidak suka dan sangat tidak suka. Panelis memberi pendapat untuk setiap sampel dan dapat memberikan komentar tambahan. Penilaian diberikan peringkat angka oleh pemimpin uji panel, seperti 5 untuk amat sangat suka menurun hingga 1 untuk tidak suka. Setelah semua format evaluasi lengkap, pemimpin uji panel mentabulasikan dan merata-ratakan hasilnya. Skala peringkat angka untuk rasa dan faktor kualitas yang lain dikenal sebagai skala hedonik (Soekarto, 1981).
Contoh skala hedonik yang umum digunakan:
Skala hedonik Skala numerik Amat sangat suka
Sangat suka Suka Agak suka Tidak suka
5 4 3 2 1
BAB III METODOLOGI
3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan terdiri dari: labu alas bulat 500 ml, pendingin bola, elektromantel, corong Buchner, vakum, statif dan klem, krus porselen, kertas saring, indikator universal, alat tanur (Philips Haris Ltd) , desikator, oven, neraca analitis, mortir dan stemper, dan alat-alat gelas laboratorium lainnya.
3.2 Bahan-bahan
Bahan pereaksi yang digunakan adalah air suling, dan bahan-bahan pereaksi yang berkualitas pro analisis yaitu natrium lauril sulfat, dinatrium etilenadiaminatetraasetat, natrium borat dekahidrat, dinatrium fosfat anhidrat, aseton dan 2-etoksietanol. Bahan pembuatan kerupuk yang digunakan adalah tepung tapioka, garam, penyedap rasa, bawang putih dan terasi.
3.3 Pembuatan Larutan Pereaksi Neutral Detergent Fiber (NDF)
Sebanyak 18,61 gram dinatrium etilenadiaminatetraasetat dan 6,81 gram natrium borat dekahidrat dimasukkan ke gelas beaker, ditambah air suling secukupnya hingga larut, kemudian ditambahkan 30 gram natrium lauril sulfat dan 10 ml 2-etoksietanol (larutan I). Sebanyak 4,56 gram dinatrium fosfat anhidrat dilarutkan dalam air suling secukupnya hingga larut (larutan II). Campur larutan I dan II, kisaran
pH diatur 7,0 dengan larutan NaOH atau HCl. Larutan dipindahkan ke labu tentukur dan ditambah air suling hingga 1000 ml ( Birch, 1987 ).
3.4 Lokasi Pengambilan sampel
Sampel yang digunakan adalah sawi. Sawi diperoleh dari Pasar Sei Sekambing, Medan, Sumatera Utara. Hasil determinasi terhadap sawi yang digunakan dapat lihat pada Lampiran 13 halaman 59.
3.5 Penyiapan Sampel
Sebanyak 500 gram sawi ditimbang, kemudian sawi dicuci, diambil daun sawi, ditimbang dan didapat berat basah daun sawi sebanyak 26,0673 gram. Kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 500 C sampai berat konstan. Daun sawi diserbukkan, didapat berat kering daun sawi sebanyak 4,3560 gram.
3.6 Pembuatan Kerupuk Sawi
Sebanyak 3 kg sawi digunakan dalam pembuatan kerupuk sawi, diambil daunnya, diperoleh berat daun sawi sebanyak 1,3 kg. Sawi dicuci, kemudian diiris tipis-tipis.
Sebanyak 1 kg tepung tapioka, kemudian ditambahkan bumbu penyedap yang terdiri dari bawang putih sebanyak 100 g, terasi 25 g, dan garam 25 g. Terakhir tambahkan air hingga adonan mengental sebanyak 1 L. Kemudian ditambahkan sawi dengan variasi berat sebanyak 200 gram (Produk I), 400 gram (Produk II) dan 600 gram (Produk III). Adonan dimasukkan ke dalam loyang dengan ukuran 30 x 20 cm, dikukus selama 20 menit sampai bagian tengah adonan matang, kemudian
didinginkan dan dipotong dengan ukuran 2 x 3 cm. Kerupuk sawi dijemur sampai kering di bawah sinar matahari. Kerupuk sawi yang sudah kering mudah dipatahkan (wawancara dengan pengusaha kerupuk Bapak Ruslianto). Bagan pembuatan kerupuk dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 32.
3.7 Penentuan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi Dengan Metode Analisis Neutral Detergent Fiber (NDF)
Penentuan kadar serat tak larut dalam sawi dengan metode analisis NDF ini berdasarkan Birch, 1987. Ditimbang seksama 0,5 gram sawi, dimasukkan ke dalam labu alas bulat 500 ml, ditambah pereaksi sebanyak 100 ml. Dipanaskan dengan elektromantel, menggunakan pendingin bola. Setelah mendidih selama 5 menit, pemanasan dihentikan hingga busa habis. Kemudian dilakukan pemanasan kembali selama 60 menit, terhitung sejak campuran mulai mendidih. Campuran diaduk, kemudian disaring dengan corong Buchner. Residu dicuci dengan air suling panas pada suhu 80 sampai 90° C sebanyak 200 ml, selanjutnya dicuci dengan aseton sebanyak 50 ml. Hasil penyaringan dikeringkan pada suhu 105° C selama 9 jam, didinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali. Pengeringan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W1). Hasil penimbangan diabukan pada suhu 800° C selama 3 jam. Didinginkan dalam desikator lalu ditimbang. Pengabuan dilakukan lagi selama 1 jam, didinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali. Pengabuan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W2 ). Bagan Penetapan Kadar Serat Tak Larut dalam Sawi dan Kerupuk Sawi dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 33.
Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam sawi dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 34.
3.8 Penentuan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi Dengan Metode Analisis Neutral Detergent Fiber (NDF)
Penentuan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi dengan metode analisis NDF ini berdasarkan Birch, 1987. Ditimbang seksama 0,5 gram kerupuk sawi yang telah dihaluskan, dimasukkan ke dalam labu alas bulat 500 ml, ditambah pereaksi NDF sebanyak 100 ml. Dipanaskan dengan elektromantel, menggunakan pendingin bola.
Setelah mendidih selama 5 menit, pemanasan dihentikan hingga busa habis.
Kemudian dilakukan pemanasan kembali selama 60 menit, terhitung sejak campuran mulai mendidih. Campuran diaduk, kemudian disaring dengan corong Buchner.
Residu dicuci dengan air suling panas pada suhu 80 sampai 90° C sebanyak 200 ml, lalu dicuci dengan aseton, sebanyak 50 ml. Hasil penyaringan dikeringkan pada suhu 105° C selama 9 jam, dinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali.
Pengeringan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W1). Hasil penimbangan diabukan pada suhu 800° C selama 3 jam. Didinginkan dalam desikator lalu ditimbang. Pengabuan dilakukan lagi selama 1 jam, didinginkan dalam desikator lalu ditimbang kembali. Pengabuan ulang ini dilakukan hingga diperoleh berat konstan (W2 ). Data penimbangan dan penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi 200 gram, 400 gram dan 600 gram dapat dilihat pada Lampiran 4, 5 dan 6 halaman 36, 38 dan 39.
3.9 Penggorengan Kerupuk Sawi
Kerupuk sawi digoreng dengan minyak panas, sambil dibalik-balik sampai matang dan kembang.
3.10 Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan dengan metode hedonik (Soekarto, 1981), yaitu analisis menurut uji kesukaan terhadap aroma, rasa dan warna. Panelis diharapkan dapat mengemukakan penilaian suka atau tingkat kesukaan.
Kriteria panelis :
1. Panelis yang digunakan adalah panelis konsumen yang diambil secara acak dengan jumlah anggota panelis seluruhnya 40 orang.
2. Tidak dalam keadaan sakit (dilihat bahwa panelis tidak sedang demam, flu dan batuk).
3. Panelis yang digunakan adalah mahasiswa farmasi.
Langkah-langkah uji organoleptik:
1. Pengujian dilakukan didalam ruangan yang bersih.
2. Kerupuk yang sudah digoreng, kemudian masing-masing diberi kode produk I, II, dan III dengan penambahan sawi berturut-turut sebanyak 200 gram, 400 gram dan 600 gram.
3. Kepada panelis disuguhi kerupuk untuk dicicipi, air putih dan formulir pertanyaan.
Sebelumnya panelis diberikan penjelasan singkat mengenai produk yang diperiksa dan cara penilaian. Formulir pertanyaan dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 53.
Penjelasan yang diberikan kepada panelis:
i. Produk yang diperiksa adalah kerupuk.
ii. Setiap melakukan pencicipan panelis dianjurkan untuk minum, agar panelis dapat menilai secara objektif terhadap setiap produk.
iii. Setelah panelis selesai mencicipi produk yang diperiksa, panelis diminta untuk memberi penilaian berdasarkan tingkat kesukaan sesuai dengan penilaian mereka masing-masing. Gambar panelis sedang melakukan uji organoleptik dapat dilihat pada Gambar 3, Lampiran 12 halaman 54.
4. Untuk penganalisaan, skala hedonik ditransformasi menjadi skala numerik dengan angka menaik sesuai tingkat kesukaan. Dengan data numerik dilakukan analisa satistik.
5. Skala hedonik dan skala numerik yang digunakan sebagai berikut:
Skala hedonik Skala numerik Amat sangat suka
Sangat suka Suka Agak suka Tidak suka
5 4 3 2 1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi Dan Kerupuk Sawi Dengan Metode Analisis Neutral Detergent Fiber
Penetapan kadar serat tak larut dalam sawi, pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 50° C. Hal ini dikarenakan pada pengeringan dengan suhu yang lebih tinggi dari 50° C akan mengakibatkan karbohidrat dan protein membentuk komponen yang tidak larut (Mertens, 1992). Dalam pengerjaan penetapan kadar serat tak larut dalam sawi, waktu refluks harus diperhatikan, waktu refluks yaitu 60 menit setelah mendidih, dikarenakan apabila waktu refluks bertambah maka akan mengurangi jumlah serat tak larut.
Penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi, untuk menghilangkan tepung dalam kerupuk sawi, maka sewaktu proses penyaringan, residu serat tak larut dicuci dengan air suling panas dengan suhu 80 sampai 90o C. Volume air suling yang digunakan lebih banyak dan waktu yang lebih lama untuk menghasilkan ekstraksi komponen larut yang lebih sempurna. Volume air suling panas adalah 200 ml. Begitu juga halnya pencucian dengan aseton yang berguna untuk menghilangkan sisa lemak pada residu serat adalah 50 ml aseton tiap pencucian. Aseton juga digunakan untuk membilas kertas saring.
Residu serat dan kertas saring harus benar-benar bersih dari larutan NDF karena jika tidak, sisa larutan akan melekat pada residu serat dan kertas saring. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada residu serat dan kertas saring saat temperatur 100o C, sehingga ada senyawa organik yang hilang. Keadaan ini mengurangi berat dan dengan demikian akan mempengaruhi kadar serat yang diperoleh (Mertens, 1992).
Menurut Birch (1987), suhu yang digunakan untuk pengabuan adalah 550° C selama 3 jam. Kertas saring yang digunakan harus tidak bersisa agar tidak terikut dalam penetapan kadar. Ternyata pada suhu 550° C selama 3 jam, kertas saring yang digunakan masih meninggalkan sisa, padahal seharusnya pada suhu tersebut kertas saring telah habis karena terbuat dari senyawa selulosa. Ternyata dari percobaan, kertas saring baru habis tak bersisa setelah pengabuan pada suhu 800° C selama 3 jam.
4.2 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi
Dari penetapan kadar serat tak larut dalam sawi diperoleh: 2,0085 % <μ< 2,0369
%, Nainggolan (2005), disebutkan bahwa sayuran seperti sawi mengandung serat tak larut sekitar 2%. Komponen serat tak larut terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Umumnya serat tak larut banyak terdapat di sayur-sayuran hijau seperti sawi.
Perhitungan kadar serat tak larut dalam sawi dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 40.
4.3 Hasil Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi
Dari penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi, diperoleh hasil seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi Produk Jumlah Sawi yang ditambahkan dalam Kerupuk
(gram)
Kadar Serat Tak Larut (%)
I 200 0,8922% < μ < 0,8975%
II 400 1,2284% < μ < 1,2466%
III 600 1,5749% < μ < 1,5771 %
Dari hasil penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi pada Tabel 1 sawi dapat dimanfaatkan sebagai sumber serta pangan dalam pembuatan kerupuk dan sebagai alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan serat setiap harinya. Belum ada patokan baku atas konsumsi serat untuk setiap orang. United States Food and Drugs Association (FDA) menganjurkan Total Dietary Fiber (TDF) 25 sampai 30 gram serat setiap hari. The American Cancer Society, The American Heart Association dan The American Diabetic Association menyarankan 25 sampai 35 gram sehari dari berbagai bahan makanan. Para ahli gizi di Indonesia menyarankan untuk mengkonsumsi 25 sampai 30 gram serat setiap hari, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Perhitungan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 200 gram (Produk I), 400 gram (Produk II) dan 600 gram (Produk III) dapat dilihat pada Lampiran 8, 9 dan 10 halaman 43, 47 dan 50.
4.4 Hasil Uji Organoleptik
Hasil analisis statistik dari data uji organoleptik terhadap rasa kerupuk sawi dengan menggunakan analisis sidik ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 1,88 lebih kecil dari F tabel = 3,07, ini berarti tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk sawi dengan penambahan berbagai variasi sawi dari penilaian penelis. Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada Tabel 10 halaman 55 dan hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Tabel 11 halaman 58.
Dari histogram nilai kesukaan rasa kerupuk sawi dapat dilihat bahwa nilai kesukaan terhadap rasa kerupuk sawi menunjukkan nilai kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk III, dari hasil penilaian dengan skala hedonik yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,08 ini disukai oleh panelis dibandingkan produk I dan produk II. Histogram nilai kesukaan terhadap rasa kerupuk sawi dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Histogram nilai kesukaan rasa kerupuk sawi
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Sawi dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan dalam pembuatan kerupuk.
2. Penambahan sawi dengan variasi sebanyak 200 gram, 400 gram dan 600 gram tidak memberikan pengaruh terhadap rasa kerupuk sawi dari penilaian panelis.
3. Kadar serat tak larut dalam sawi adalah 2,0085% < μ < 2,0369%, dan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan dengan sawi sebanyak 200 gram, 400 gram dan 600 gram berturut-turut sebanyak 0,8922% < μ <
0,8975% , 1,2284% < μ < 1,2466% , dan 1,5749% < μ < 1,5771 %.
4. Panelis suka mengkonsumsi kerupuk sawi.
5.2 Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk membuat produk serat pangan lain misalnya sereal, biskuit dan roti dengan memanfaatkan sawi sebagai bahan tambahan dalam pembuatan produk serat pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Birch, G.G. (1985). Analysis of Food Carbohydrate. New York: Elsevier Applied Science Publishers. Hal.278-279.
Departermen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2007). Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Hal 29.
Ferguson,L.R, and Philip J.H.(1999). Wheat Bran and Cancer: The Role of Dietary Fiber. Asia Pasific J Clin Nurt.8 (suppl): S42-43.
Gomez A, Arturo. (1995). Prosedur Statistika Untuk Penelitian Pertanian. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal 47.
Iswari S, Retno. (2006). Biokimia. Semarang: Penerbit Graha Ilmu. Hal 17.
Joseph, G. (2002). Manfaat Serat Bagi Kesehatan Kita. http://www.hayati- ipb.com/users/rudyct/PPs702/DEDIN_FR.htm. Tanggal Akses 19 Januari 2009.
Meloan,C and Pomeranz, Y. (1987). Food Analysis : Theory and Practice. Second Edition, New York: Van Nostrand Reinhold Company. Hal 25,679-680.
Mertens, D.R. (1992). Critical Conditions in Determining Detergent Fibers.
www.foragetesting.org/fap/appendixf.html. Tanggal Akses 7 Maret 2009.
Nainggolan, Olwin. (2005). Diet Sehat dengan Serat. Cermin Dunia Kedokteran No.147. Tanggal Akses 19 Januari 2009.
Nurlidia, (2003). Penetapan Kadar Serat Tak Larut pada Beberapa Sayuran dan Suplemen Serat dengan Metode Analisis NDF. Skripsi. Jurusan farmasi FMIPA USU.
Piliang, W.G. dan S. Djojosoebagio, Al Haj. (1996). Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke-2. UI-Press. Jakarta. Hal 195.
Ruslianti dan Kusharto M. Clara. (2007). Sehat dengan Makanan Berserat. Jakarta:
Agro Media Pustaka. Hal 12.
Soekarto. (1981). Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, Bogor. Hal 45.
Sulistijani, D.A (2001). Sehat dengan Menu Berserat. Cetakan III. Jakarta : Trubus Agriwidya. Hal 4,5,27.
Lampiran 1. Bagan Pembuatan Kerupuk Sawi
Ditambahkan bumbu penyedap yang terdiri bawang putih, terasi dan garam secukupnya
Ditambahkan air hingga adonan mengental
Ditambahkan daun sawi yang telah diiris-iris Dimasukkan ke dalam loyang
Dikukus selama 20 menit sampai bagian tengah adonan matang
Didinginkan
Dipotong dengan ukuran 2 x 3 cm
Dijemur sampai kering di bawah sinar matahari
1 kg Tepung tapioka
Adonan kental
Adonan matang
Kerupuk sawi
Lampiran 2. Bagan Penetapan Kadar Serat Tak Larut dalam Sawi dan Kerupuk Sawi Metode Analisis NDF
Ditambahkan 100 ml larutan NDF
Direfluks hingga mendidih selama 5 menit Pemanasan dihentikan hingga busa habis Dididihkan kembali selama 60 menit Disaring dengan corong Buchner
Dicuci dengan air suling panas (80-90° C) sebanyak 200 ml Dicuci dengan aseton sebanyak 50 ml
Dikeringkan di oven suhu 105° C selama 9 jam (hingga berat konstan) Didinginkan dalam desikator
Ditimbang
Diabukan pada suhu 800°C selama 3 jam (hingga berat konstan) Ditimbang dihitung berat yang hilang
0,5 gram Sampel
Residu Filtrat
Serat tak larut
Lampiran 3. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi dengan Metode Analisis NDF
Tabel 2. Data Penimbangan Sawi
No Berat sawi
Berat Kertas Saring + Sampel setelah di
Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan
Tabel 3. Data Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Sawi
No W1
Kadar serat tak larut (%)
Keterangan : W1 = Berat residu serat (g) W2= Berat abu (g)
Keterangan : a = Berat sampel kering b = Berat sampel basah Berat sawi basah : 26,0673 g
Berat sawi kering : 4,356 g Contoh Perhitungan Sampel No 1
%NDF = 0,1180 g - 0,0572 g x 100% = 12,16%
0,5000 g
Kadar serat tak larut pada sampel = 4,356 / 26,0673 x 12,16% = 2,0320%
Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel 2 sampai 6.
Kadar serat tak larut pada sampel = a/b x %NDF
% NDF pada kerupuk = W1-W2 x 100%
Berat sampel
Lampiran 4. Data Penimbangan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi sebanyak 200 gram Metode Analisis NDF
Tabel 4. Data Penimbangan Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 200 gram
Berat Kertas Saring + Sampel setelah
Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan Ditambahkan Sawi Sebanyak 200 gram
No W1
Kadar serat tak larut (%)
Keterangan : W1 = Berat residu serat (g) W2= Berat abu (g)
Keterangan : a = Berat 1 kerupuk b = Berat 6 kerupuk Berat 6 kerupuk : 11,8308 g Berat 1 kerupuk : 1,9718 g Contoh Perhitungan 1
%NDF = 0,0645 g - 0,0363 g x 100% = 5,6400%
0,5000
Kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi = 1,9718 g /11,8308 g x 5,6400% = 0,8923%
Dengan cara yang sama diperoleh kadar serat tak larut untuk sampel 2 sampai 6 seperti tabel diatas dan perhitungan yang sama untuk penetapan kadar serat tak larut dalam kerupuk sawi yang ditambahkan sawi sebanyak 400 gram dan 600 gram.
Kadar serat tak larut pada kerupuk = a/b x %NDF
% NDF pada kerupuk = W1-W2 x 100%
Berat sampel
Lampiran 5. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram dengan Metode Analisis NDF
Tabel 6. Data Penimbangan Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram
Berat Kertas Saring + Sampel setelah di
Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan Ditambahkan Sawi Sebanyak 400 gram
W1
Lampiran 6. Data Penimbangan dan Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram dengan Metode Analisis NDF
Tabel 8. Data Penimbangan Kerupuk Sawi Yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram
Berat Kertas Saring + Sampel setelah
Berat Krusibel + Sampel setelah diabukan
Tabel 9. Data Penetapan Kadar Serat Tak Larut Dalam Kerupuk Sawi yang Ditambahkan Sawi Sebanyak 600 gram
No W1
Kadar serat tak larut (%)
Lampiran 7. Perhitungan Kadar Serat Tak Larut Sebenarnya dalam daun
Pada Tingkat kepercayaan 95% dengan nilai α = 0.05, dk 6-1 diperoleh t-tabel = 2,57 Data diterima jika t-hitung < t tabel
t-hitung =
t-hitung data 5 =
Data 3 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data
Data 3 ditolak karena nilai t-hitung > t-tabel, maka data yang dipakai adalah data