• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2. Hasil Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur tingkat kekonsistenan tanggapan responden terhadap item pernyataan kuesioner berdasarkan pemahaman responden terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner yang diajukan. Uji Reliabilitas dilakukan dengan metode one shoot. Hasil perhitungan koefisien reliabilitas untuk masing-masing variabel diberikan pada tabel berikut.

Tabel 5.2 Hasil Pengujian Reliabilitas

No Variabel Reliabilitas Koefisien Keterangan

Penggaran Terpadu (Unified

Budget) (X1), Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance

Based Budgeting) (X2), dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) / Medium Term

Expenditure Framework (MTEF)

(X3)

0,964 Reliabel

Sumber : Hasil Pengolahan Data Penelitian

Nilai reliabilitas untuk semua variabel seperti terlihat pada Tabel 5.2 lebih dari 0,7 (nilai batas suatu instrumen penelitian dikatakan dapat digunakan dan nilai reliabilitas masuk dalam kategori dapat diterima/cukup baik) sehingga seluruh item variabel penelitian yang digunakan dalam kuesioner konsisten dan memiliki reliabilitas yang dapat dipercaya.

Hasil uji validitas dan reliabilitas semua pernyataan valid dan reliabel, yang berarti bahwa data penelitian yang diperoleh dari instrumen yang

digunakan layak untuk digunakan mengetahui dan menguji permasalahan yang diteliti.

3. Analisis Deskriptif

Pengisian Kuesioner setiap KPPN dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner kepada setiap satuan kerja mitra KPPN dan dikembalikan pada batas waktu yang ditentukan, dari 120 kuesioner (KPPN Bandung sebanyak 40 satuan kerja, KPPN Bogor sebanyak 40 satuan kerja, KPPN Purwakarta sebanyak 20 satuan kerja, dan KPPN Sumedang sebanyak 20 satuan kerja) yang dibagikan, kuesioner yang kembali adalah sebanyak 103 kuesioner atau 86% dari total kuesioner yang dibagikan. Jumlah tersebut memenuhi syarat minimal yaitu 92 satuan kerja atau 111% dari syarat minimal dan dapat diolah sebagai data penelitian.

Analisis Deskriptif memberikan gambaran atas pelaksanaan dari variabel yang diteliti yaitu Penggaran Terpadu (Unified Budget) (X1), Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) (X2), dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM)/Medium Term Expenditure Framework

(MTEF) (X3) yang akan terlebih dahulu disajikan dalam bentuk grafik. Grafik tersebut akan memberikan gambaran tingkatan pelaksanaan setiap variabel pada satuan kerja.

Setelah penyajian secara grafik maka selanjutnya data hasil penelitian dibagi berdasarkan distribusi capaian pelaksanaannya pada setiap satuan kerja, penyajian data ini dimaksudkan untuk membagi satuan kerja yang pelaksanaan dari setiap variabel yang diteliti pada tingkatan tinggi, sedang, rendah, atau

kurang. Untuk data ordinal atau data interval/ratio yang memiliki distribusi

kuartil pada data diskrit yang berurutan, nilai kuartil I, kuartil II dan kuartil III dapat ditentukan melalui perhitungan sebagai berikut (Cooper, 2006;467):

 Kuartil II (Median) = [ Skor minimum + Skor maksimum] : 2  Kuartil I = [ Skor minimum + Median ] : 2

 Kuartil III = [ Median + Skor maksimum ] : 2

a. Analisis Deskriptif Variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget)

Variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget) diukur dengan 4 (empat) item pertanyaan yang berisi pertanyaan tentang dimensi dari Penganggaran Terpadu (Unified Budget) tersebut yaitu Integrasi belanja rutin dan belanja modal dan Kesatuan Pelaksanaan. Satuan kerja memberi tanda silang pada setiap pernyataan dari kedua dimensi tersebut yang telah sepenuhnya dilaksanakan pada satuan kerja.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dan diolah didapatkan bahwa dari total kondisi ideal skor maksimal dari pelaksanaan Penganggaran Terpadu (Unified

Budget) yang harus

dicapai oleh seluruh sampel adalah berjumlah 927. Hasil olah data

dikumpulkan menunjukkan bahwa capaian dari skor seluruh sampel adalah 503 atau 54% dari skor maksimal, sehingga gap antara kondisi ideal berupa skor maksimal dengan pelaksanaan adalah 424 atau 46%, hal itu menunjukkan bahwa pelaksanaan atas Penganggaran Terpadu (Unified Budget) saat penelitian ini dilakukan belum maksimal dengan nilai pelaksanaan rata-rata setiap satuan kerja sebanyak 54 % dari kondisi ideal (lihat tabel Penganggaran Terpadu dalam skor).

Pengolahan data dilanjutkan dengan mengeksplorasi capaian dari setiap dimensi Penganggaran Terpadu (Unified Budget) tersebut yaitu dimensi

Integrasi belanja rutin dan belanja modal dan Kesatuan Pelaksanaan. Hasil

olah data setiap dimensi menunjukkan capaian setiap dimensi tersebut (disajikan dalam bentuk grafik). Terlihat pada grafik bahwa setiap dimensi dari Penganggaran Terpadu (Unified Budget) tersebut yaitu dimensi Integrasi

belanja rutin dan belanja modal dan Kesatuan Pelaksanaan menunjukkan

bahwa pelaksanaan setiap dimensi masih belum maksimal, hal tersebut terlihat bahwa capaian pelaksanaan dimensi Integrasi belanja rutin dan belanja modal sebanyak 55 % dan Pelak-sanaan dimen-si Kesatuan Pelaksanaan sebanyak 52 %. Setelah pe-nyajian secara

grafik dari setiap dimensi, selanjutnya data hasil penelitian diolah kembali dan dibagi berdasarkan distribusi capaian pelaksanaan pada setiap satuan kerja, penyajian data ini dimaksudkan untuk membagi satuan kerja yang pelaksanaan dari setiap dimensi yang diteliti pada tingkatan tinggi, sedang, rendah, atau kurang. Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, untuk 4 (empat) item sebagai ukuran variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget), nilai kuartil I, Kuartil II dan kuartil III dapat ditentukan melalui perhitungan sebagai berikut:

 Skor minimum = 0  Skor maksimum = 9

 Kuartil II (Median) = [0 + 9] : 2 = 4,5  Kuartil I = [0 +4,5] : 2 = 2,25

 Kuartil III = [4,5 +9] : 2 = 6,75

Hasil yang diperoleh menunjukkan sebagian besar Satuan Kerja yang diteliti menunjukkan variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget) yang dilaksanakan masih kurang yaitu sebanyak 62 satuan kerja atau 60,19 %. Sedangkan sebanyak 21 satuan kerja atau 20,39 % masuk dalam kelompok sedang. Satuan Kerja yang masuk kelompok penilaian terhadap variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget) dalam kategori tinggi ada 19 atau 18,45 %. Sedangkan yang dalam kelompok

penilaian terhadap variabel Penganggaran Terpadu (Unified Budget) masuk dalam kategori rendah ada 1 atau 0,97%.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Penganggaran Terpadu (Unified Budget) secara rata-rata pada satuan kerja pemerintah pusat di Jawa Barat masih tergolong rendah yaitu sebanyak 54% dari kondisi ideal, dimensi Penganggaran Terpadu (Unified Budget) yang memiliki nilai terendah adalah Kesatuan Pelaksanaan (52%), dimensi Penganggaran Terpadu (Unified Budget) yang memiliki nilai tertinggi adalah Integrasi belanja rutin dan belanja modal (55%), penyebaran atas pelaksanaan Penganggaran Terpadu (Unified Budget) pada satuan kerja sebagian besar pada tingkat kurang yaitu sebanyak 62 satuan kerja atau 60,19%.

b. Analisis Deskriptif Variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting)

Variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) diukur dengan 21 (dua puluh satu) item pertanyaan yang berisi pertanyaan tentang di-mensi dari

Penganggaran Berbasis Ki-nerja

(Perfor-mance Based Budgeting) tersebut yaitu Perumusan Strategi, Perencanaan

Stratejik, Pembuatan Program, dan Penganggaran. Satuan kerja memberi

tanda silang pada setiap pernyataan dari keempat dimensi tersebut yang telah sepenuhnya dilaksanakan pada satuan kerja.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dan diolah didapatkan bahwa dari total kondisi ideal skor maksimal dari pelaksanaan Penganggar-an Berbasis Kinerja (Per-formance Ba-sed Budget-ing) yang

ha-rus dicapai oleh seluruh sampel adalah berjumlah 1.468. Hasil olah data yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa capaian dari skor seluruh sampel adalah 667 atau 46% dari skor maksimal, sehingga gap antara kondisi ideal berupa skor

maksimal dengan pelaksanaan adalah 801 atau 54%, hal itu menunjukkan bahwa pelaksanaan atas Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based

pelaksanaan rata-rata setiap satuan kerja sebanyak 46% dari kondisi ideal (lihat tabel Penganggaran Berbasis Kinerja dalam skor).

Pengolahan data dilanjutkan dengan mengeksplorasi capaian dari setiap dimensi Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) tersebut yaitu dimensi Perumusan Strategi, Perencanaan Stratejik,

Pembuatan Program, dan Penganggaran. Hasil olah data setiap dimensi

menunjukkan capaian setiap dimensi tersebut (disajikan dalam bentuk grafik). Terlihat pada grafik bahwa setiap dimensi dari Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) tersebut yaitu dimensi Perumusan Strategi,

Perencanaan Stratejik, Pembuatan Program, dan Penganggaran

menunjukkan bahwa pelaksanaan setiap dimensi masih belum maksimal, hal tersebut terlihat bahwa capaian pelaksanaan dimensi Perumusan Strategi sebanyak 48%, Pelaksanaan dimensi Perencanaan Stratejik sebanyak 45%, Pelaksanaan Dimensi Pembuatan Program sebanyak 48%, dan Pelaksanaan dimensi Penganggaran sebanyak 43%.

Setelah penyajian secara grafik dari setiap dimensi, selanjutnya data hasil penelitian diolah kembali dan dibagi berdasarkan distribusi capaian pelaksanaan pada setiap satuan kerja, penyajian data ini dimaksudkan untuk membagi satuan kerja yang pelaksanaan dari setiap dimensi yang diteliti pada tingkatan tinggi, sedang, rendah, atau kurang. Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, untuk 21 (dua puluh satu) item sebagai ukuran variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting), nilai kuartil I, Kuartil II dan kuartil III dapat ditentukan melalui perhitungan sebagai berikut:

 Skor minimum = 0  Skor maksimum = 57

 Kuartil II (Median) = [0 + 57] : 2 = 28,5  Kuartil I = [0 +28,5] : 2 = 14,25

 Kuartil III = [28,5 +57] : 2 = 42,75

Hasil yang diperoleh menunjukkan sebagian besar Satuan Kerja yang diteliti menunjukkan variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance

Based Budget-ing) yang

di-laksanakan masih kurang yaitu sebanyak 72 satuan ker-ja atau 69,90 %. Sedangkan sebanyak 20 satuan kerja atau 19,42 % masuk dalam kelompok sedang. Satuan Kerja yang masuk kelompok penilaian terhadap variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) dalam kategori tinggi ada 11 atau 10,68 %. Sedangkan yang dalam kelompok penilaian terhadap variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) masuk dalam kategori rendah tidak ada.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) secara rata-rata pada satuan kerja pemerintah pusat di Jawa Barat masih tergolong rendah yaitu sebanyak 46 % dari kondisi ideal, dimensi Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) yang memiliki nilai tertinggi adalah perumusan strategi dan pembuatan program (48 %), dimensi Penganggaran Berbasis

Kinerja (Performance Based Budgeting) yang memiliki nilai terendah dalam pelaksanaan adalah Penganggaran (43 %), penyebaran atas pelaksanaan Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) pada satuan kerja sebagian besar pada tingkat kurang yaitu sebanyak 72 satuan kerja atau 69,90 %.

c. Analisis Deskriptif Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium

Term Expenditure Framework)

Variabel Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term

Expenditure Framework)

diukur dengan 18 (delapan belas) item pertanyaan yang berisi pertanyaan tentang dimensi dari Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) tersebut yaitu

Kerangka Konseptual, Lingkungan, Prinsip Kerja, serta Tahapan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah. Satuan kerja memberi tanda silang pada

setiap pernyataan dari keempat dimensi tersebut yang telah sepenuhnya dilaksanakan pada satuan kerja.

Berdasa rkan data yang

dikumpulkan dan diolah dida-patkan bahwa dari total kondisi ideal skor mak-simal dari pelak-sanaan Kerang-ka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) yang harus dicapai oleh seluruh sampel adalah berjumlah 1.186. Hasil olah data yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa capaian dari skor seluruh sampel adalah 553 atau 48% dari skor maksimal, sehingga gap antara kondisi ideal berupa skor maksimal dengan pelaksanaan adalah 632 atau 52%, hal itu menunjukkan bahwa pelaksanaan atas Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium

Term Expenditure Framework) saat penelitian ini dilakukan belum maksimal

dengan nilai pelaksanaan rata-rata setiap satuan kerja sebanyak 48% dari kondisi ideal (lihat tabel KPJM dalam skor).

Pengolahan data dilanjutkan dengan meng-eksplorasi capaian dari

setiap dimensi Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term

Expenditure Framework) tersebut yaitu dimensi Kerangka Konseptual, dimensi

Lingkungan, dimensi Prinsip Kerja, serta dimensi Tahapan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah. Hasil olah data setiap dimensi menunjukkan capaian setiap dimensi tersebut (disajikan dalam bentuk grafik). Terlihat pada grafik bahwa setiap dimensi dari Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) yaitu Kerangka Konseptual, Lingkungan, Prinsip Kerja, serta Tahapan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah menunjukkan bahwa pelaksanaan setiap dimensi masih belum maksimal, hal tersebut terlihat bahwa capaian pelaksanaan dimensi Kerangka Konseptual sebanyak 41%, Pelaksanaan dimensi Lingkungan sebanyak 49%, Pelaksanaan Dimensi Prinsip Kerja sebanyak 54%, dan Pelaksanaan dimensi Tahapan KPJM sebanyak 48%.

Setelah penyajian secara grafik dari setiap dimensi, selanjutnya data hasil penelitian diolah kembali dan dibagi berdasarkan distribusi capaian pelaksanaan pada setiap satuan kerja, penyajian data ini dimaksudkan untuk membagi satuan kerja yang pelaksanaan dari setiap dimensi yang diteliti pada tingkatan tinggi, sedang, rendah, atau kurang. Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, untuk 18 (delapan belas) item sebagai ukuran variabel Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah, nilai kuartil I, Kuartil II dan kuartil III dapat ditentukan melalui perhitungan sebagai berikut:

 Skor minimum = 0  Skor maksimum = 46

 Kuartil II (Median) = [0 + 46] : 2 = 23  Kuartil I = [0 +23] : 2 = 11,50

 Kuartil III = [23 + 46] : 2 = 34,50

Hasil yang diperoleh menunjukkan sebagian besar Satuan Kerja yang diteliti menun-jukkan variabel Kerangka

Pe-ngeluaran Jangka Mene-ngah yang di-laksanakan masih kurang yaitu sebanyak 82 satuan kerja atau 79,61 %. Sedangkan sebanyak 17 satuan kerja atau 16,50 % masuk dalam kelompok tinggi. Satuan Kerja yang masuk kelompok penilaian terhadap variabel Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah dalam kategori sedang ada 3 atau 2,91 %. Sedangkan yang dalam kelompok penilaian terhadap variabel Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah masuk dalam kategori rendah ada 1 atau 0,97%.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure

Framework) secara rata-rata pada satuan kerja pemerintah pusat di Jawa Barat

masih tergolong rendah yaitu sebanyak 48% dari kondisi ideal, dimensi Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) yang memiliki nilai tertinggi adalah prinsip kerja (54%), dimensi Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) yang memiliki nilai terendah dalam pelaksanaan adalah Kerangka Konseptual (41%), penyebaran atas pelaksanaan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term

Expenditure Framework) pada satuan kerja sebagian besar pada tingkat kurang

yaitu sebanyak 82 satuan kerja atau 79,61 %.

4. Analisis Inferensial

Dokumen terkait