HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.1.3 Hasil Wawancara dan Pengamatan 1 Informan
Nama : Raunandas
TTL/Usia : 71 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Budha
Alamat : Jl. Cik Ditiro 27 B Jam wawancara : 15.40 - 17.20 WIB
Pak Raunandas adalah informan yang pertama kali peneliti wawancarai. Pak Rau begitu orang-orang memanggilnya. Ia adalah kepala lingkungan (kepling) di Kampung Madras. Ia menjadi kepling sudah lebih dari 30 tahun.
Peneliti menemui Pak Rau di salah satu kafe yang ada di Kampung Madras. Saat ditemui terlihat ia dan beberapa temannya sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Pak Rau menjadi informan pertama dikarena ia adalah seorang kepling yang nantinya peneliti akan membantu peneliti untuk memberi informasi informan-informan selanjutnya.
Pak Rau menetap di Kampung Madras sejak lahir hingga usianya 71 tahun saat ini. Usianya yang terbilang tua itu ia masih terlihat muda dan sehat. Pak Rau adalah sosok yang pekerja keras mudah bergaul dan disenagi oleh banyak orang. Hal itu terbukti dia menjabat sebagai kepling lebih dari 30 tahun. Pak Rau mengatakan saat ini Kampung Madras tidak lagi kawasan asli India Tamil. Masyarakatnya terdiri dari beragam etnis, agama dan budaya. Keberagaman itu membiasakan dirinya untuk bergaul dengan semua orang yang ada disana.
“Ya kalo bergaul kita sudah pasti sama semua orang. Sama semua warga disini. Mau itu orang Tamil atau pun yang bukan karna kan warga saya di Kampung Madras ini beragam etnis, beragam agama ya macam-macamlah. Di sini bukan orang India semuanya. Dulu ini memang tempatnya orang India, tapi kalo sekarang sudah bermacamlah malah orang kita China pun sudah banyak disini, jadi ya berbaurlah dengan semua orang.”
Lingkungan Kampung Madras yang memiliki beragam etnis itu mengakibatkan mulai berkurangnya kebiasaan masyarakat Tamil dalam berbahasa daerah. Hal itu karena masayarakat yang ada disana berkomunikasi lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Saat berkomunikasi dikeluarga pun Pak Rau lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Ia mengaku menggunakan bahasa Tamil dengan istri dan anak-anaknya hanya sesekali saja.
“Kalo dirumah saya dengan istri memang kadang menggunakan bahasa Tamil. Tapi lebih sering kita pake bahasa Indonesia. Kalo dirumah saya dan istri masih bisa bahasa Tamil, baca bisa tulispun bisa. Kalo anak-anak saya sudah tidak begitu bisa lagi. Karna sudah sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Kalo bahasa Tamil sendiri paling sedikit lah. Sekedar mengerti saja lah.”
Masyarakat India Tamil saat ini mulai tidak terbiasa dengan bahasa Tamil bukan karena mereka merasa bahasa daerah mereka itu tidak penting. Menurut Pak Rau bahasa Tamil dan bahasa Indonesia sama pentingnya. Terbiasa dengan bahasa Indonesia dikarenakan masyarakat sudah sangat berbaur di Kampung
Madras dengan semua etnis. Selain itu juga saat tidak ada sekolah yang khusus untuk anak-anak India Tamil. Meskipun lebih sering menggunakan bahasa Indonesia tapi tidak langsung masyarakat Tamil tidak memiliki kemampuan sama sekali tentang bahasa Tamil. Pastilah sebagai masyarakat Tamil mereka tetap bisa menggunakannya walaupun tidak fasih. Hal itu juga yang membuat masyarakat di Kampung Madras tidak pernah terjadi hambatan komunikasi. Menurut Pak Rau tidak pernah ada perselisihan antar masyarakat sesama etnis atau beralinan etnis dikarenakan salah komunikasi.
“Kalo masalah salah saat berkomunikasi ya gak pernah-lah. Karna semua yang di Kampung Madras ini 100 persen udah menggunakan Bahasa Indonesia. Kita orang Tamil pun lancar bahasa Indonesia, jadi ya memang gak pernah salah komunikasi disini. Masyarakat Tamil mudah bergaul, makanya masalah atau konflik pun nggak pernah terjadi disini.”
Pemaparan oleh Pak Rau diatas, ia menjelaskan telah merasakan masyarakat Tamil yang ada di Kampung Madras memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Mereka tidak lagi mempermasalahkan dalam hal bahasa. Hal lain juga dari masyarakat Tamil menurut Pak Rau adalah mudah bergaul. Tampak ia merasa bahwa etnis Tamil memiliki kelebihan hidup dalam keberagaman di Kampung Madras. Pak Rau menilai masyarakat Medan pada umumnya memiliki karakter yang baik juga. Menurutnya Medan merupakan daerah yang sangat tinggi toleransinya. Sama seperti etnis Tamil yang tidak membeda-bedakan etnis.
“Semua etnis itu bagus, pasti bagus. Medan ini lain daerah lain. Medan ini daerah yang tidak panatik. Liat ajalah contohnya Kampung Madraskan semua etnis ada disini, semua agama ada. Semuanya disini berbaur. Orang kita Tamil hormati mereka punya budaya, orang tiu pun begitu, saling menghormati. Maka ada istilah ini Medan bung, semua etnis ada disini dan bisa berbaur dengan sangat baik. “
Beragam etnis tentu beragam kebudayaan juga. Mengenai kebudayaan India Tamil yang ada di Kampung Madras, Pak Rau menjelaskn bahwa sudah tidak kental atau sudah tidak asli lagi. Bagaimana tidak dari jumlah pun masyarakat Tamil di Kampung Madras juga sudah berkurang. Dulu memang daerah ini dipenuhi oleh masyarakat India Tamil. Namun saat ini sudah banyak pendantang seperti Tionghoa, Batak, Melayu, Jawa bahkan Minang.
Meskipun masyarakat sudah saling berbaur satu sama lain masih ada kebudayaan yang tetap dipertahankan oleh masyarakat Tamil. Seperti perayaan hari besar yaitu Deepavali dan Thaipusem. Kedua perayaan itu masih tetap dilaksanakan di Kampung Madras. Perayaan Deepavali dan Thaipusem sama pentingnya dengan perayaan hari besar etnis atau agama lainnya. Deepavali atau yang dibaca Depawali adalah perayaan tahun baru etnis India Tamil. Baik itu agama Hindu dan agama alinnya yang beretnis Tamil menurut Pak Rau masih menjalankannya.
Deepavali itu biasanya sekitar bulan Oktober atau Nopember. Pak Rau mengatakan semua masyarkat India Tamil di Kampung Madras menyambutnya dengan meriah. Mulai dari ramai-rami pergi ke kuil, memasak makanan, dan membeli pakaian baru untuk anak-anaknya. Beda dengan etnis Tamil yang memeluk agama lain, biasannya tidak ikut pergi ke kuil, hanya merayakannya dirumah masing-masing. Pak Rau yang memeluk agama Budah pun masih ikut melaksanakan Deepavali atau Thaipusem dan pergi kuil bersama keluarganya. Mirip dengan perayaan di etnis atau agama lainnya, saat perayaan Deepavali
masyarakat saling mengunjungi. Bukan hanya sesama etnis Tamil, etnis lain pun datang berkunjung kerumah etnis Tamil yang merayakannya. Begitu pun yang bukan etnis Tamil saat masyarakat yang bukan etnis Tamil merayakan peryaan hari besar mereka juga mdatang berkunjung. Di sini dapat terlihat hubungan mereka terjalin baik dengan adanya toleransi diantara mereka yang cukup tinggi.
Saat ada perayaan hari-hari besar etnis Tamil, bisa dilihat wujud kongkret untuk memperlihatkan identitas mereka sebagai masyarakat Tamil. Salah satunya dengan menggunakan pakaian India dan segala atribut yang biasa mereka pakai, seperti pottu, dan gelang. Menurut Pak Rau saat ini pakaian India memang hanya digunakan saat ada hari tertentu saja. Atribut lain yang menjadi kebiasaan etnis Tamil adalah masih memakai pottu dan kalung. Potu salah satu cara mereka memberi tahukan kepada etnis lain bahwa mereka adalah etnis India Tamil. Mengenai pottu biasanya dipakai dikening baik perempuan ataupun laki-laki Tamil.
Ada lagi kalung yang khusus digunakan untuk perempuan Tamil. Hal itu memiliki arti perempuan yang menggunakannya maka ia memiliki suami. Kalung
tersebut terbuat dari bahan benang yang berukuran besar. Perempuan yang ditinggal pergi atau meninggal suaminya, maka ia harus melepaskan kalung tersebut.
“Kalo soal kalung itu kayak tali benang yang besar itu kan untuk perempuan yang mempunyai suami. Itu tandanya ikatan dengan suami. Jadi kan kita kan jadi gak sembarang kalo mislanya mau lihat orang. Tali ato kalung itu bukan kayak kalug emas dia kayak tali benang tapi lebih besar-lah. Kalo potu juga orang kita Tamil di Kampung Madras masih pake potu yang dijidat itu kalo masalah warna sekarang ini sudah sama aja. Yang penting itukan identitas kita sebagai orang India Tamil.”
Menurut Pak Rau ada lagi kebiasaan masayarakat Tamil yang mereka kelan dengan istilah cucuk hidung bagi perempuan dan cucuk telinga untuk laki- laki. Cucuk hidung dan cucuk telinga itu memeliki arti yang sama yaitu anak-anak yang akan menjadi dewasa atau aqil balikh. Namun, saat ini tak semua etnis Tamil melakukannya. Salah satunya Pak Rau sendiri tidak melakukan cucuk telinga. Pak Rau menganggap karena itu bisa dilakukan bisa tidak tergantung orangnya. Apalagi menurutnya ia juga tidak tinggal di India.
Dari penjelasan Pak Rau itu adalah salah satu yang menunjukkan mulai hilagnya kebudayaan India Tamil yang ada di Kampung Madras. Penyebab lain juga dikarenakan anak muda dan orang tua sekarang ini sudah kurang peduli dengan kebudayaan mereka sendiri. Pak Rau menjelaskan salah satu kebudayaan yang didapatkan oleh masayarakat Tamil adalah secara turun-temurun. Pak Rau juga memberitahu bagaiamana kebudayaan Tamil kepada anak-anaknya. Cara berpakaian ketika beribadah, membiasakan mamakai pottu. Bahasa Tamil pun ia ajarkan keapada anak-anaknya, meski mereka tak menguasainya dengan fasih.
“Sudah kurang peduli-lah. Nggak ada kayaknya berusaha tetap mencari tahu kebudayaan asli mereka. Padahal kan sekloah juga nggak ada sekeloh Inida. Apa yang diajarkan ya diterima saja, dan juga sudah mulai mengikuti kebudayaan lain. Tapi kan itu juga karena perkembangan teknologi juga jadi lupa sama budaya.”
Mengenai in-group dan out-group menurut Pak Rau tidak lagi dibeda- bedakan. In-group atau pun out-group masyarakat Tamil merupakan salah satu bagian dari wujud identitas etnis. Masyarakat Etnis India Tamil yang tinggal di
Kampung Madras sebagai orang Tamil mereka juga asli Medan. Sehingga bagaimana sikap mereka sesama etnis Tamil begitu juga kepada etnis lain. Kesamaan juga terlihat dari pakaian dan makanan yang tidak menjadi perbedaan. Masyarakat Tamil juga sudah terbiasa dengan masakan orang-orang Medan. Kehidupan sehari-ahri juga mereka tidak menggunakan pakaian India.
Begitupun tentang out-group etnis Tamil yang dipertahankan di Kampung Madras, bisa terlihat dari kebiasaan dengan segala atribut mereka. Cara etnis Tamil menunjukkan bahwa mereka masyarakat India Tamil yaitu antara lain seperti pottu, kalung, dan gelang.
Dari pemaparan Pak Rau bisa diartikan bahwa culture shock tidak lagi menjadi masalah untuk masyarakat etnis Tamil yang ada di Kampung Madras. Selama hidup di Kampung Madras sudah banyak kesamaan yang dirasakan oleh Pak Rau sesama atau bahkan lain etnis. Begitupun dalam hal makanan keluarga Pak Rau juga tidak setiap hari makan masakan India. Mereka malah lebih sering mengkonsumsi masakan Medan. Kalau pun konsumsi masakan India mereka hanya makan seperti kari-karian.
Setelah 70 tahun berada di Kampung Madras Pak Rau merasa banyak terjadi perubahan masyarakat Komunitas India Tamil. Mulai dari bahasa, dialeknya pun sudah mengikuti dialek Medan yang agak Melayu. Seperi pengamatan peneliti Pak Rau pun logat atau dialeknya pun sudah persis dengan dialek orang Medan. Bukan hanya itu jumlah masyarakat Tamil yang tidak banyak lagi di Kampung Madras juga lambat-laun mengurangi pengetahuan kebudayaan Tamil. Meskipun begitu Pak Rau mangaku dengan banyaknya kebudayaan yang mewarnai Kampung Madras satu sama lain tetap saling menghargai.
Sesuai paparan Pak Rau hal itu terbukti dengan contohnya jika ada pelaksanaan kegiatan yang menyangkut salah satu etnis tidak pernah ada pihak yang keberatan. Pak Rau juga menjelaskan malah mereka akan saling menghadiri satu sama lain. Hal itu juga membuktikan komunikasi antarbudaya masyarakat Tamil yang ada di Kampung Madras saling terjaga. Itulah yang menjadi harapan Pak Rau agar selalu tetap terjaga, keberagaman tersebut menjadi nilai tambah di Kampung Madras.
4.1.3.2Informan 2
Nama : M. Manogren
TTL/Usia : 03 Maret 1963/ 51 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Hindu
Alamat : Jl. Kebun Bunga No 18 E Jam wawancara : 14.00 - 15.20 WIB
Nama lengkapnya M. Manogren, tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Pak Mano. Pak Mano sejak lahir hingga menginjak usia 51 tahun menetap di Kampung Madras. Bahkan mulai dari kakek, neneknya, dan orang tuanya pun lahir di Kampung Madras.
“Sudah lama-lah. Saya lahir disini, dan mulai kakek, nenek dan orang tua saya juga sudah lahir disini. Saya kira-kira lima puluh satu tahun sudah tinggal disini.”
Kesehariannya Pak Mano sudah tidak bekerja lagi. Ia sedang menikmati masa-masa pensiunannya. Di tambah lagi anak-anak juga sudah bisa hidup mandiri. Mengenai pergaulannya di Kampung Madras, ia bukanlah orang yang hanya dekat dengan sesama etnis Tamil.
“Bergaulnya dengan semua etnislah. Etnis Tamil iya, Etnis lain juga. Disini ada orang kita China, Batak, Tapanuli, Jawa. Semua orang kita kawani. Karena kan kita akan komunikasi dengan semua tetangga kita.”
Terbiasa bergaul dan berkomunikasi dengan semua etnis, dalam hal bahasa Pak Manogren sudah jarang menggunakan Bahasa India Tamil. Ia mengaku dalam keluarga pun jarang berbahasa daerahnya sendiri. Informan yang satu ini sepertinya kurang mempertahankan Bahasa Tamil. Itu dibuktikan dalam keluarga, dan saat berkumpul dengan teman-teman sesama Etnis Tamil pun Pak Manogren dengan yang lainnya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Menurutnya karena di Kampung Madras sudah tak lagi asli semua penduduknya Etnis India Tamil.
“Kalo saya masih lancar Bahasa Tamil, tapi sama keluarga lebih sering pake bahasa Indonesia. Bahasa Tamil dikeluarga saya tidak
begitu dimengerti. Istri dan anak saya hanya mengerti sedikit-sedikit saja. Dan karena memang lebih sering pake bahasa Indonesia. Kalau kami ngumpul atau pun sedang duduk dan ngobrol-ngobrol kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia.”
Pak Mano sendiri masih mengganggap mempertahankan Bahasa Tamil itu adalah hal yang penting. Namun karena sudah banyak yang tidak mengerti Pak Mano tidak mengharuskan keluarganya untuk bisa berbahasa Tamil. Menurutya bahasa menjadi salah satu identitas etnis Tamil yang dikenal orang dengan Bahasa India Tamil.
“Ya sangat penting-lah. Karena kan itu bahasa daerah kita. Itulah identitas kita, biar orang tau kita orang Tamil.”
Memasuki usia dipertengahan abad, dalam hal berkomunikasi dengan masyarakat yang ada di Kampung Madras tidak pernah ada hambatan. Menurutnya salah pengertian dalam memaknai pesan antara komunikator dengan komunikan tidak pernah terjadi. Hal ini juga dikarenakan masyarakat yang ada di Kampung Madras baik etnis Tamil atau pun non Tamil mereka lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia.
“Gak pernah ada hambatan saat berkomunikasi dengan orang- orang luar Etnis Tamil. Di Kampung Madras ini kan terdiri dari beberapa etnis. Ada China, Jawa, Batak, Tapanuli India tapi semua memiliki toleransi yang sangat baik. Silaturahimnya bagus sekali. Sampai-sampai orang-orang yang bukan orang Tamil ada juga yang bisa mengerti bahasa Tamil. Contohnya beberapa teman saya. Walaupun gak sempurna. Misalnya dengan manggil paman, atau adik dalam bahasa Tamil itu mereka bisalah.”
Salah satu faktor yang menyatukan sesama Etnis Tamil yang ada di Kampung Madras adalah kesamaan etnis. Seperti yang disebutkan dalam sejarah masuknya Etnis Tamil ke Medan khususnya di Kampung Madras itu karena dipekerjakan sebagai buruh. Merasa pendatang minoritas dahulu sekali maka mereka pun membuat sebuah komunitas di Kampung Madras, yang dikenal dengan Komunitas Etnis Tamil. Komunitas adalah wujud masyarakat yang memilki ikatan berdasarkan rasa identitas bersama yang dimiliki.
Di satukan berdasarkan kesamaan etnis tentu memungkin adanya sebuah pertemuan. Menurut pemaparan Pak Mano dulu ada Forum Perkumpulan
Masyarakat Tamil Sumatera Utara Indonesia. Himpunan orang Tamil walaupun beragam agama. Forum tersebut bertujuan untuk menjalin suatu kerukunan diantara masyarakat India Tamil. Bergerak dibidang sosial untuk membantu orang yang membutuhkan seperti membantu anak Etnis India Tamil yang lulus sekolah ingin melanjutkan kuliah ke India, dengan kerja sama dengan India itu juga untuk membantu program pemerintah. Program ini memang kurang sosialisasi dan tidak banyak yang tahu akibatnya sekarang sudah tidak ada lagi. Menurut Pak Mano, pertemuan atau perkumpulan sudah dilaksanakan sesuai dengan agama masing- masing. Itu artinya pertemuan yang dimaksud adalah seperti pertemuan saat di rumah ibadah sesuai agama dan pemuka agamanya masing-masing.
“Perkumpulan paling pas ibadah saja, itupun sesuai agamanya ya. Agama islam beribadah di masjidlah, Kristen atau Protestan di Gereja, Hindu di Kuil dan Budha di Vihara. Pas ibadah itulah mereka kita-kita kumpul, sama pemuka agamanya masing-maisng- lah.”
Hidup dan berkembang di Kampung Madras tentunya tak selamanya mulus. Apa lagi penduduk Kampung Madras saat ini tidak lagi asli masyarakat India Tamil. Sudah banyak penduduk pendatang, yang jelas saja semua berbeda pula cara hidup dan kebudayaanya. Menurut Pak Mano, dahulu sekali saat ia masih kecil pernah terjadi konflik kecil. Ia tidak tahu pasti akar permasalahanya dan sudah diselesaikan dengan orang-orang tua dulu. Namun sampai saat ini tidak pernah terjadi konflik di Kampung Madras.
“Dulu pernah ada tapi bukan konflik-lah, ada semacam salah tafsiran saja antar warga sini, apa pastinya saya sudah lupa, dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan, dan sekarang udah gak ada lagi. Tak pernah ada masalah di Kampung Madras ini. Semua aman disini, gak ada yang anggar jago.”
Menurut Pak Mano toleransi yang sangat baik di Kampung Madras adalah penyebab tidak terjadi konflik disana. Baik masyarakat Tamil atau pun non Tamil sama-sama saling menghargai. Kemajemukan yang ada dalam Kampung Madras tersebut juga menempah orang-orang yang ada didalamnya memiliki kepribadian yang baik. Pak Mano juga menyebutkan masyarakat India Tamil yang ada di
Medan adalah orang Tamil yang paling baik diseluruh kota yang ada di Indonesia. Hal itu disebabkan karena Kampung Madras terdiri dari beragam etnis, agama dan kebudayaan. Sehingga membiasakan mereka untuk bisa saling menghargai, dan hasilnya mereka memiliki toleransi yang sukup tinggi. Bukan hanya itu Pak Mano juga menilai masyarakat India Tamil adalah orang-orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Walaupun mereka berada di tempat dengan jumlah minoritas namun tetap bisa hidup dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu juga India Tamil menurut Pak Mano tidak terlalu dikekang jika ingin menikah dengan etnis atau agamanapapun. Beda dengan India Syikh yang masih mengharuskan mereka menikah sesama India Syikh. Pak Mano juga memaparkan rasa nasional masyarakat Tamil di Kampung Madrs juga tinggi. Hal itu ditandai dengan lebih seringnya mereka menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Masyarakat Tamil yang ada Medan adalah orang Tamil yang paling baik diseluruh Indonesia. Kita orang Tamil ini pun mudah bergaul, bisa hidup dimana saja. Di Medan hidup dengan beragam budaya, agama. Nah orang Tamil di Medan ditempah dengan kemajemukan itu. Makanya orang Tamil di Medan itu bisa sangat baik dibandingkan didaerah lain. Bisa hidup dengan toleransi yang sangat baik. Orang Tamil disinilan sudah banyak yang menikah dengan agama atau etnis dengan budaya selain Tamil tak ada masalah, tak seperti Syikh. Kalo dibebrapa daerah masih sesama Tamil aja mereka menikah. Rasa nasional orang Tamil itu tinggi di Indonesia, karena dapat berbaur dengan budaya yang ada di Indonesia, begitu juga bahasa Indonesia yang sering digunakan bukan bahasa Tamil. Saya bangga jadi orang Indonesia.”
Berbicara tentang budaya India Tamil di Kampung Madras, menurut Pak Mano sudah tidak kental lagi. Di Kampung Madras saat ini masyarakat India Tamil tidak hanya beragama Hindu. Pak Mano menjelaskan masyarakat Tamil yang beragama Hindu masih selalu berusaha tetap mempertahankan budaya India Tamil. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Tamil yang beragama selain Hindu sudah banyak mengadobsi sesuai agama mereka. Namun beberapa masih mempertahankan peran identitas mereka dengan menjalankan budaya Tamil. Bahkan ada juga yang hanya pindah agama tapi semua kebudayaan India Tamil masih tetap dijalankan.
“Masyarakat Tamil yang agama Hindu masih ada yang kental. Karena masih sering menjalankan budaya-budaya India Tamil. Dari perayaan hari besar, upacara, berpakaian dihari tertentu. Kalo bahasa Tamil memang sudah tidak semua mengerti lagi orang Tamil disini. Tapi selain agama Hindu budaya Tamilnya sudah mulai luntur. Ada yang masih pakai budaya Tamil tapi ada yang tidak. Kebanyakan sih sudah tidak pakai lagi, semua sudah adobsi sesuai agama yang dipeluknya.”
Upaya dalam mempertahankan peran identitas salah satu caranya agar