KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian
2.2 Kajian Pustaka
2.2.2 Identitas Etnis
Istilah identitas etnis secara substansial bermakna sama dengan etnisitas
(ethnicity), konsep diri kultural atau rasial. Istilah-istilah ini kadang-kadang digunakan identik atau punya makna yang sama oleh para ahli (Mulyana & Jalaludin Rahmat, 2005: 151).
Identitas adalah suatu konsep yang abstrak dan beraneka ragam yang memainkan peran yang signifikan dalam seluruh interaksi komunikasi (Lubis, 2012:163). Identitas etnis sendiri sebenarnya merupakan bentuk spesifik dari identitas budaya. Ting-Toomey dalam Rahardjo, mendefinisikan identitas kultural merupakan perasaan (emotional significance) dari seseorang untuk ikut dalam memiliki (sense of belonging) atau berafiliasi dengan kultur tertentu (Rahardjo,2005: 1-2). Sedangkan identitas etnis bisa dilihat sebagai sebuah kumpulan ide tentang satu kepemilikan keanggotaan kelompok etnis.
Memahami tentang identitas, beberapa ahli mengklasifikasikan tentang identitas. Antara lain adalah Turner yang membaginya dalam tiga kategori yaitu identitias manusia, identitas sosial, dan identitas pribadi. Dalam hal ini, identitas manusia merupakan pemahaman yang menghubungkan seseorang dengan seluruh manusia serta memisahkan seseorang tersebut dengan kehidupan lainnya. Identitas sosial adalah hal yang membedakan seseorang berasal dari kelompok sosial tertentu, misalnya tergabung dalam ras, etnisitas, pekerjaan, umur, kampung halaman. Sedangkan identitas pribadi hal istimewa yang dimiliki seseorang dan dapat membedakannya dengan orang lain.
Pemahaman akan identitas adalah aspek yang penting dalam studi dan praktik komunikasi antarbudaya. Perhatian dari studi komunikasi antarbudaya adalah bagaimana identitas mempengaruhi dan menuntun ekspektasi tentang apa peran sosial diri dan orang lain maupun menyediakan tuntunan bagi interaksi komunikasi dengan oang lain (Samovar dkk, 2007: 109-110). Ting Toomey menganggap identitas sebagai konsep diri yang direfleksikan atau gambaran diri bahwa kita berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis, dan proses sosialisasi individu (Samovar dkk, 2010: 184).
Identitas merupakan produk dari keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok. Seperti yang bisa dipahami dari Ting-Tomey yaitu manusia memperoleh dan mengembangkan identitas mereka melalui interaksi dalam kelompok budaya mereka. Selanjutnya perkembangan identitas terdapat dalam proses keluarga dan sosialisasinya dipengaruhi oleh budaya lain dan perkembangan pribadinya (Samovar dkk, 2010: 194). Identitas awal berasal dari keluarga, dimana mulai untuk belajar secara budaya mengenai kepercayaan, nilai, dan peranan sosial.
Phinney menawarkan tiga model tahap-tahap untuk memahami pertumbuhan identitas, yang difokuskan pada identitas etnis. Pertama, ditandai kurangnya eksplorasi terhadap etnisitas. Seseorang tidak tertarik untuk menampilkan identitas mereka. Ketidaktertarikan ini berasal dari keinginan untuk menyembunyikan identitas etnis dalam budaya yang lebih mayoritas. Kedua, pencarian identittas etnis dimulai saat tertarik untuk mempelajari dan memahami identitas etnis mereka sendiri. Adanya pendiskriminasian dapat menggerakkan anggota kelompok minoritas untuk menunjukkan etnis mereka. Ketiga, dalam perkembangan identitas ketika seseorang memilki pemahaman yang jelas dan pasti mengenai identitas budayanya sendiri (Samovar dkk, 2010: 195).
Selanjutnya Barth (1988) dan Zastraw (1989) mengemukakan etnik adalah himpunan manusia karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari ketegori tersebut yang terikat pada sistem nilai budayanya (Liliweri, 2001:335). Zastrow (1969) menjelaskan setiap kelompok etnis merupakan himpunan manusia. Himpunan manusia tersebut dikarenakan kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa atau gabungan dari kategori itu. Kelompok
tersebut memiliki keterikatan etnis yang tinggi melalui sikap etnosentrisme. Sikap tersebut memandang norma dan nilai kelompok budayanya sebagai sesuatu yang dapat digunakan sebagai ukuran terhadap budaya lain (dalam jurnal studi pembangunan, vol.2: 22).
Menurut Naroll (1964), umumnya kelompok etnik dikenal sebagai suatu populasi yang :
1. Secara biologis mampu berkembang biak dan betahan.
2. Mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya.
3. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri.
4. Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.
Secara khusus terdapat dua hal pokok untuk memahami kehadiran kelompok-kelompok etnik yaitu :
1. Kelanggengan unit-unit budaya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya unit budaya.
Barth menyatakan ciri khusus tersebut bukan hanya merupakan ciri kelompok etnik saja, tetapi juga memberikan dampak yang sangat luas, ditambahi dengan asumsi bahwa kelompok etnik memiliki budayanya sendiri (Barth, 1988: 11-12).
Secara sederhana identitias etnis sama halnya dengan identitas sosial yang dapat mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain. Alba menilai identitas etnis sebagai orientasi subjektif seseorang yang mengarahnya pada etnis asalnya (Lubis, 2012: 163). Kemudian Matin dan Thomas (2007) mengemukakan bahwa memiliki sebuah identitas etnis berarti mengalami sebuah perasaan memiliki pada suatu kelompok dan mengetahui sesuatu tentang pengalaman yang dibagi pada anggota kelompok (Lubis, 2012: 164). Identitas etnik adalah bagaimana individu untuk memahami siapa dirinya, merasakan ada ikatan antara individu dan kelompok berfisat emosional. Selain itu ada kepercayaan saat berada dalam kelompok serta komitmen kuat terhadap kelompok, dan bersama-sama melakukan
sama(https://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/download/294 3/2629).
Identitas etnis sebenarnya merupakan bentuk identitas budaya yang dilihat sebagai kumpulan ide tentang kepemilikan keanggotaan kelompok etnis. Identitas etnis secara sederhana yaitu sebagai sense tentang self individu sebagai anggota atau bagian dari suatu kelompok etnik tertentu, sikap maupun perilakunya juga berhubungan dengan sense tersebut. Hal ini identitas etnis menyangkut pengetahuan, kesadaran, komitmen, dan perilaku terkait etnisnya. Artinya, identitas etnis dibangun atas kesadaran akan budaya yang dimiliki, budaya juga mempengaruhi identitas etnis. Bahkan melalui konteks budaya lah, identitas etnis dipertukarkan dan dipelajari dari generasi ke generasi.
Isajiw (1999) menjelaskan bahwa identitas etnik meliputi dua aspek yaitu:
1. Aspek internal yaitu identitas etnik merujuk pada citra (images), ide (ideas), sikap (attitudes), dan perasaan (feeling). Kemudian dibagi dalam empat dimensi yaitu affective (afektif), fiducial (kepercayaan), cognitive
(kognitif), dan moral (moral).
2. Aspek eksternal ditunjukkan oleh perilaku yang dapat diamati (observable behaviours) yang meliputi logat (dialek) bahasa, praktek tradisi etnik, keikutsertaan dalam jaringan kerja etnik tersebut seperti keluarga dan
persahabatan, dan terlibat dalam institusi (https://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/download/29
43/2629).
Pada konteks identitas etnis, Mead berpendapat bahwa konsep diri individu dihasilkan dari keikutsertaan atau partisipasinya dalam budaya dimana ia dilahirkan atau yang ia terima. Individu memperoleh budaya melalui simbol- simbol yang kemudian bermakna baginya lewat eksperimentasi dan akhirnya
familiarity atau sudah akrab/dekat dengan berbagai situasi. Identitas etnis juga merupakan suatu proses. Identitas etnis atau etnisitas terbentuk lewat interpretasi realitas fisik dan sosial sebagai pemilik atribut-atribut etnis. Identitas etnis berkembang melalui internalisasi pengkhasan diri oleh orang lain yang dianggap penting, tentang siapa aku dan siapa orang lain berdasarkan latar belakang etnis mereka (Mulyana, 2001: 231).
2.2.2.1 Pendekatan Terhadap Identitas Etnis
Ada dua pendekatan terhadap identitas etnis yaitu pendekatan objektif (struktural) dan pendektan subjektif (fenomenologis). Pendekatan objektif melihat sebuah kelompok etnis sebagai kelompok yang bisa dibedakan dari kelompok- kelompok lainnya berdasarkan ciri-ciri budayanya seperti bahasa, agama, atau asal-usul kebangsaan. Sedangkan pendekatan subjektif merumuskan etnisitas (identitas etnis) sebagai suatu proses dalam dimana orang-orang mengalami atau merasakan diri mereka sebagai bagian dari suatu kelompok etnis dan diidentifikasi demikian oleh orang lain dan memusatkan perhatiannya pada keterikatan dan rasa memiliki yang dipersepsi kelompok etnis yang diteliti (Mulyana & Jalaludin, 2005: 152).
Pendekatan objektif didasarkan asumsi dasar ilmu alam seperti ada keteraturan dalam realitas sosial dan juga dalam perilaku manusia. Mencoba mencari hukum umum yang menjelaskan adanya korelasi antar variabel yang satu dengan variabel lainya, kata lainnya ada hukum kausal. Bagi positivis gagasan identitas etnik adalah pendekatan operasional yang mempertanyakan “siapakah aku?”. Pendekatan objektif juga menghubungkan konsep identitas etnik dengan teori konsep diri, dan lagi-lagi menganggapnya adalah sebagai proses (Mulyana dan Jalaludin, 2005: 153).
Pendekatan objektif ini menolak pendapat tentang jiwa, spirit, kemauan, pikiran, instrokpeksi, kesadaran, subjektivitas tidak dapat diamati secara kuantitatif. Karena pendekatan struktural terhadap diri (self) sangat bergantung pada pengamatan ilmiah atas perilaku dari luar (behaviour). Pendekatan struktural ini juga menganggap para individu mengecap diri mereka sendiri dan oleh orang lain dalam dunia sosial, berdasarakan peranan dan lokasi mereka dalam struktur sosial. Hemat kata, pendekatan struktural terhadap identitas etnik beranggapan bahwa identitas etnik adalah pasif dan statik, dimana perilaku luar ditentukan oleh faktor luar individu.
Berbeda dengan pendekatan objektif, pendekatan subjektif lebih memandang manusia adalah sesuatu yang aktif. Pendekatan subjektif (fenomenologis) sedikit mengkritik pendekatan post-positivistik yang memandang kemungkinan ada pembatasan pada perilaku manusia yang dapat dipelajari.
Menurut Phandis (1989) kalangan dengan kaum subjektivis memandang bahwa identitas etnik mengemuka lewat tanda-tanda budaya, mereka menekankan diri dan perasaan identitas yang berbeda berkaitan dengan kelompok dan pengakuannya oleh orang lain (Mulyana dan Jalaludin, 2005: 155).
Secara tradisional, etnisitas dipandang ciri struktural yang membedakan kelompok etnik yang satu dengan yang lainnya. Beberapa penelitian antropolog membahas tentang kelompok etnik agak statik. Namun Barth seperti ingin membuktikan dengan pendapatanya bahwa ciri penting suatu kelompok etnik yaitu hubungan yang diberikan dari kelompok lain sebagai tempat mereka menggunakan identitias etnis sebagai pengklasifikasian diri mereka dan orang lain untuk tujuan interaksi (Barth, 1988: 13-15).