HASIL PENELITIANbab iii
E. Hasil Wawancara Dengan Informan
Perjalanan transmigrasi pernah ditandai oleh begitu besar minat masyarakat bukan saja untuk bertransmigrasi, tetapi untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan transmigrasi, terutama di daerah asal. Partisipasi masyarakat (terutama kelompok masyarakat sipil, swadaya masyarakat) terutama dalam hal pelayanan perpindahan atau penyiapan tenaga transmigran. Data mengenai lembaga-lembaga masyarakat yang telah (pernah) bekerjasama dengan pemerintah (Kementerian Urusan Transmigrasi) tidak tertulis dengan baik, karena itu deskripsi yang ditampilkan di sini sangat singkat. Di tahun 1990-an, lembaga-lembaga masyarakat (khususnya Yayasan) yang pernah bekerjasama dengan Pemerintah dapat disebutkan antara lain sebagai berikut.
Hasil wawancara dengan mantan pejabat transmigrasi di Pusat, diperoleh informasi tentang pengalaman transmigrasi (Pemerintah), bekerjasama dengan kelompok- kelompok masyarakat, dan pengalaman itulah yang kemudian mendasari perumusan klausul (pasal-pasal) dalam UU No. 15/1997. Beberapa kelompok masyarakat (yayasan) yang pernah bekerja sama dengan Pemerintah adalah sebagai berikut.
Pertama, Yayasan Dharmais, sebuah Yayasan Islam yang berkedudukan di Jakarta. Lembaga ini pernah menjadi agen penyedia para da’i transmigran. Lembaga ini merekrut, melatih dan memberangkatkan transmigran ke berbagai daerah. Para da’i yang dikirim berkedudukan sebagai transmigran sehingga mendapat sarana produksi berupa lahan, rumah, jaminan hidup bahkan untuk beberapa bulan, Yayasan tersebut memberikan gaji setelah para
transmigran bertempat tinggal di lokasi transmigrasi.
Namun karena alasan yang tidak terlalu jelas, lembaga ini kemudian mengakhiri kegiatan ini pada tahun 2000-an, setelah terjadi reformasi.
Kedua, Yayasan Sugiyopranoto, sebuah Yayasan Katolik yang berkedudukan di Semarang. Lembaga ini juga pernah menjadi agen pemberangkatan transmigran dari Jawa Tengah ke Sumatera Selatan. Beberapa transmigran direkrut, dilatih, dan diberi perbekalan dan kemudian diberangkatkan ke lokasi transmigrasi, tentu saja dengan bekerjasama dengan Dinas (Kanwil) Transmigrasi Jawa Tengah. Lembaga ini juga telah berhenti melakukan kerjasama pemberangkatan transmigran di akhir tahun 1990-an. Sebuah Yayasan di Sukabumi, yaitu Yayasan Sadagori, juga pernah bekerjsama mengembangkan kawasan transmigrasi di Kalimantan, tetapi tidak (belum) berlanjut secara kontinyu.
Ketiga, Pesantren Nurul Islam, Paiton, Probolonggo, dan Pesantren Nurul Huda Cijantung. Kerjasama dunia pesantren ini semula berorientasi pada sebuah gagasan tentang “bedol pesantren”, atau membuat pesantren filial di lokasi transmigrasi. Namun karena gagasan ini sangat berat dari sisi SDM dan anggaran, maka rencana ini belum sempat direalisasi secara massal. Kegiatan yang dapat dilakukan baru sebatas pada pengiriman santri yang sudah tamat dari kedua pesantren tersebut sebagai transmigran reguler, antara lain ke Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat.
Selain dari ketiga lembaga di atas, ada banyak informasi mengenai lembaga-lembaga yang pernah terbentuk tetapi
tidak dapat berjalan dengan lancar, misalnya Forum Transmigrasi Pesantren (Fortrans) yang pernah didirikan oleh Dawam Rahardjo (di tahun 1990-an), Forum Pesantren Transmigrasi, yang diprakarsai oleh Rozi Munir, Said Agil Sirad dan Mustafa Juhad, para aktivis Nahdatul Ulama, yang kemudian juga tidak menghasilkan aktivitas yang signifikan. Terakhir adalah kerjasama Pesantren At-Tahiriyah yang diprakarsai oleh Kyai Haji Qosim Nurseha di Kebon Jeruk yang tidak lagi berlanjut.
Begitu marak partisipasi masyarakat daalam pembangunan transmigrasi, terutama di era awal tahun 1990-an (masa sebelum dirumuskan UU No. 15/1997), maka UU No. 15/1997 secara sengaja mengatur dan memberikan peluang besar kepada masyarakat (perorangan maupun kelompok) untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan (pelaksanaan) transmigrasi. Gagasan untuk mengatur tentu saja adalah harapan besar agar partisipasi tersebut terus meningkat, sekaligus juga mengantisipasi kemungkinan adanya pelanggaran. Dan partisipasi tersebut diberi kedudukan sebagai hak masyarakat.
Maka dalam Pasal 35 UU tersebut, dirumuskan aturan dengan bunyi pasal sebagai berikut :
(1) Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan transmigrasi.
(2) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara perseorangan dan/atau kelompok masyarakat dan/atau Badan Usaha.
(3) Pemerintah mendorong dan berkewajiban memberikan kemudahan kepada perseorangan, kelompok
masyarakat dan Badan Usaha untuk berperan serta dalam penyelenggaraan transmigrasi.
(4) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan peran serta perseorangan, kelompok masyarakat dan badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
UU No. 29/2009, kemudian merubah pasal 35 tersebut menjadi:
(1) Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam pelaksanaan transmigrasi.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara perseorangan, kelompok masyarakat, atau badan usaha.
(3) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berperan serta dalam pelaksanaan transmigrasi.
(3a) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilakukan berdasarkan persetujuan atau izin dari Menteri.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran serta masyarakat diatur dengan Peraturan Pemerintah
Hasil diskusi dengan pejabat daerah (daerah asal), diperoleh informasi bahwa saat ini kerjasama Dinas dengan kelompok-kelompok masyarakat hampir tidak ada lagi.
Alasannya adalah, menurut pejabat Dinas tersebut adalah bahwa volume pekerjaan ketransmigrasian, khususnya layanan perpindahan semakin berkurang.
Dengan tiadanya kerjasama pemerintah-kelompok masyarakat dan atau perorangan, maka dengan sendirinya tidak ada kasus pelanggaran, atau kasus pemberian sanksi terhadap kelompok masyarakat.
Pemberian sanksi administratif dalam pembangunan transmigrasi merupakan kasus (peristiwa) yang sangat langka, atau jarang terjadi, atau ada reluktansi pemerintah.
Perhatian Pemerintah terhadap bentuk-bentuk pelanggaran administratif oleh berbagai pihak, umumnya sangat lemah.
Penjatuhan sanksi dipandang sebagai “dilema”, karena pemberian sanksi dapat menjadi indikasi adanya “kesalahan”
pihak lain, dan “kesalahan” yang terjadi dianggap sebagai bentuk (indikasi) lemahnya kinerja pemerintahan itu seniri.
PEMBAHASAN
bab iV
No Stakeholders Tahun 2008-2014
Prov. DIY Prov. Kaltim Sanksi
1 Aparat Pemerintah 0 0 0
2 Badan Usaha 0 1 1
3 Transmigran 5 0 0
4 Kelompok Masyarakat 0 0 0
Sumber: Dinas Nakertrans Prov. Kaltim, Kab. Bantul dan Kab. Kulon Progo
Dari sisi aspek legal, atau pasal-pasal tentang tentang sanksi, mengatur pelanggaran yang bersifat jamak (tidak singular). inilah yang menjadi persoalan hukum, apakah pelanggaran itu harus bersifat kumulatif, atau per satuan aturan. Dengan kata lain, apakah penjatuhan sanksi baru bisa dilakukan ketika subyek hukum melakukan pelanggaran yang bersifat kumulatif, atau per satu aturan. Pasal yang bersifat jamak inilah yang menurut petugas (pejabat) daerah sulit untuk ditegakkan, atau diterjemahkan dalam bentuk dugaan pelanggaran administratif oleh pejabat pemerintah.
Problematika pemberian sanksi selain masalah substansi pasal, adalah siapa yang harus menerima saksi. Misalnya dalam kasus sertifikasi Lahan, apakah yang harus menerima saksi adalah pejabat eselon satu (Ditjen P2Ktrans), atau eselon dua (Direktur PetaTrans). Apakah pejabat provinsi dan atau kabupaten terkait juga dapat dijatuhi sanksi, sebagai bagian dari kesalahan kolektif. Kasus mengenai pelanggaran implementasi program, di mana saja, telah terjadi, namun datanya sulit ditemukan. Persoalan lain adalah, bahwa dalam konteks pemberian sanksi, apakah pejabat yang melakukan kesalahan adalah yang masih
aktif (belum pesiun) atau juga termasuk pejabat lama yang terkait (meskipun) sudah pensiun. Sementara tata cara pemberian sanksi ini, belum diatur sepenuhnya (Kepmen tentang pemberian sanksi belum disusun).
Pelanggaran dan penjatuhan sanksi terhadap pejabat Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, adalah hal yang paling lemah dalam konteks penerapan pasal- pasal UU ketransmigrasian. Kesalahan dalam hal implementasi konsep transmigrasi tidak pernah diangkat sebagai persoalan hukum, tetapi lebih banyak diangkat sebagai kelemahan program yang dapat diatasi dengan program. Contoh, pemberian sapi untuk mengganti lahan usaha.
Pelanggaran dan penjatuhan sanksi terhadap Badan Usaha, sekalipun pernah terjadi, tetapi kasusnya sangat kecil. Islah, bukan sanksi, n a m u n dijadikan jalan keluar penyelesaian pelanggaran. Pendekatan islah dapat menjadi peluang bagi aparat untuk melakukan kolusi yang bersifat transaksional. Namun sekalipun kasusnya terjadi, tidak ada yang “berani” mengangkat sebagai persoalan hukum. Hal ini juga menjadi dilema bagi pemerintah daerah, karena jika persoalan ini diangkat, akan menjadi indikasi jeleknya kinerja pejabat setempat.
Pelangaran dan penjatuhan sanksi terhadap transmigran, juga sangat kecil. Pemerintah daerah asal, tidak serta-merta kemudian mengajukan penjatuhan sanksi bagi transmigran yang meninggalkan lokasi, karena kesalahan tidak selalu di pihak transmigran. Dalam banyak kasus, kesalahan justru oleh pihak pemerintah, yang tidak melaksanakan KSAD secara benar. Dalam banyak kasus juga, bahwa transmigran asal yang meninggalkan lokasi
menjadi semacam “berkah” bagi pejabat daerah tujuan, untuk mencarikan transmigran pengganti. Penggantian transmigran juga ada indikasi rawan “transaksional”. Atau bisa saja terjadi praktik-praktik penggantian transmigran dengan menempatkan relasi terdekat pejabat setempat, secara tidak terbuka.
Pelanggaran dan penjatuhan sanksi terhadap perorangan dan atau kelompok masyarakat, sudah sejak lama hampir tidak pernah ada. Pasal ini kemudian menjadi pasal “mati”, atau pasal yang mengatur subyek yang tidak ada. Pasal ini juga menjadi persoalan hukum secara terus menerus, jika tidak diubah atau dihapus. Karena itu, pasal-pasal sanksi secara keseluruhan tampaknya perlu disederhanakan.
A. Kesimpulan
1. Kasus-kasus pelanggaran ketentuan UU Ketransmigrasian relative sangat sedikit dilakukan, baik oleh pejabat, badan usaha, transmigran maupun kelompok masyarakat. Karena kasus pelanggaran terjadi relatif kecil, maka kasus pemberian sanksi juga sangat kecil.
Namun fenomena kecilnya kasus pelanggaran dan penjatuhan sanksi, bukan berarti bahwa transmigrasi telah dilakukan dengan tanpa pelanggaran hukum.
Namun salah satunya disebabkan oleh adanya pasal-pasal sanksi dalam UU 15/1997, UU No. 29/2009, dan