HASIL PENELITIANbab iii
C. Sanksi Terhadap Transmigran
Aturan hukum. Pasal sanksi dan pelanggaran oleh transmigran tertuang dalam pasal 16 (UU No.15/1997) tentang kewajiban transmigran. Pasal ini merupakan pasal yang tidak diubah (dalam UU No. 29/2009), yaitu bahwa setiap transmigran berkewajiban untuk : a).
bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi;
b) memelihara kelestarian lingkungan; c) memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna; d) mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya; e) memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan f) mematuhi ketentuan ketransmigrasian.
Dalam praktiknya, pelanggaran pasal ini lebih ditekankan pada pasal ayat 1 (satu), yaitu bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi, dengan kata lain tidak meninggalkan lokasi. Hampir tidak ada kasus di mana transmigran yang menetap di lokasi diberi sanksi administratife, karena misalnya melanggar ayat 2 (tidak memelihara kelestarian lingkungan), ayat 3 (memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna ) atau ayat 4 (mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya), atau ayat berikutnya, tidak memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan tidak mematuhi aturan ketransmigrasian.
Pasal 16 tersebut terdiri atas 6 ayat, dan masing-masing ayat dijelaskan secara lebih detil pada Penjelasan UU,
yaitu :Huruf a Cukup jelas, Huruf b : Setiap transmigran harus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan dan menghindarkan diri dari perbuatan yang merusak alam dan lingkungan agar pemanfaatan sumber daya alam tetap efektif dan berkelanjutan. Huruf c : Setiap kegiatan usaha atau lapangan kerja yang dipilihnya perlu dikelola dengan baik untuk meningkatkan pendapatan. Di samping itu, transmigran berkewajiban juga memelihara prasarana umum dan fasilitas lingkungan dengan sebaik-baiknya agar berfungsi dengan baik.
Huruf d: Semua aset produksi baik yang diberikan Pemerintah dan pihak lain sebagai bantuan atau subsidi aset produksi yang diperolehnya sendiri perlu didayagunakan dan dipelihara serta dikembangkan. Huruf e: Masyarakat transmigrasi dan penduduk sekitar permukiman transmigrasi perlu selalu menjalin, memelihara, dan menghormati budaya dan adat istiadat masing-masing sehingga tercipta suasana yang harmonis penuh keakraban yang ditunjang rasa kekeluargaan yang kental. Huruf f: Setiap transmigran perlu mematuhi ketentuan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah ataupun peraturan yang telah menjadi kesepakatan transmigran dengan badan usaha dalam bentuk perjanjian kerja sama, yang kesemuanya itu pada dasarnya ditujukan bagi upaya peningkatan kesejahteraan transmigran dan kepentingan masyarakat sekitarnya.
Namun dari penjelasan tersebut, tidak ditemukan apakah pelanggaran yang dapat dijatuhkan apabila bersifat kumulatif (melanggar) semua (keenam) ayat, apakah salah satu di antara 6 (enam) ayat tersebut sudah dapat diberikan sanksi. Transmigran yang tidak melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dikenakan sanksi administratif berupa: a). teguran lisan; b). teguran tertulis;
atau c). pencabutan status sebagai transmigran. (Pasal 35 D).
SUBYEK BENTUK PELANGGARAN
Transmigran Tidak melaksanakan kewajiban - kewajiban sebagai berikut:
a. bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi;
b. memelihara kelestarian lingkungan;
c. memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna;
d. mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya;
e. memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan
f. mematuhi ketentuan ketransmigrasian.
Klausul-klausul yang berkaitan dengan Sanksi dalam PP.
3 tahun 2014 terdapat pada bab XI (Sanksi Administratif), yaitu pasal 136-143. Pasal 136 dan 137 hanya menjelaskan tentang subyek hukum yang mendapat sanksi (Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat) dan menjelaskan pemberi pemberi sanksi (Menteri, gubernur, atau bupati/walikota). Dalam PP No.3/2014, pasal pemberian sanksi terhadap transmigran diubah menjadi:
Pasal 31, Setiap transmigran dilarang memindahtangankan tanah yang telah diberikan baik kepada Transmigran dan penduduk setempat yang pindah
ke permukiman baru sebagai bagian dari SP-Pugar. Kecuali telah dimiliki paling singkat selama 15 (lima belas) tahun sejak penempatan. Setiap transmigran, termasuk penduduk setempat yang pindah ke permukiman baru sebagai bagian dari SP-Pugar yang melanggar ketentuan Pasal 31 ayat (1) dikenakan sanksi administratif. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a) teguran lisan; b) teguran tertulis; dan/atau c) pencabutan status sebagai transmigran.
UU No. 15/1997, memuat definisi transmigran sebagai warga negara Republik Indonesia yang berpindah secara sukarela ke Wilayah Pengembangan Transmigrasi atau Lokasi Permukiman Transmigrasi melalui pengaturan dan pelayanan pemerintah. Sedangkan UU No. 29/2009, menyebut transmigran sebagai warga negara Republik Indonesia yang berpindah secara sukarela ke kawasan transmigrasi. Perbedaan definisi transmigran dalam kedua UU tersebut tidaklah substansial, perbedaannnya terletak pada tujuan perpindahan, yang pertama ke WPT dan atau LPT, sedangkan yang kedua WPT dan LPT diganti kawasan transmigrasi. Tetapi kedua definisi tersebut sama-sama menyebut trasmigran sebagai warga Negara RI yang melakukan perpindahan.
Pasal 10 UU No. 15/1997 tentang transmigran merupakan pasal yang tidak diubah (diamandemen) dalam UU No. 29/2009 sehingga masih berlaku dan tetap menjadi acuan, yaitu bahwa : 1) Setiap warga negara Republik Indonesia dapat ikut serta sebagai transmigran; 2) Keikutsertaan sebagai transmigran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas kesukarelaan dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan. 3) Transmigran terdiri atas kepala keluarga beserta anggota keluarganya.
Kasus di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Data yang ditemukan di Provisi DIY, khususnya Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, menunjukkan bahwa jumlah transmigran yang meninggalkan lokasi hanya sekitar 5% dari total penempatan. Tapi tidak ada data tentang transmigran yang melanggar ayat-ayat lain, yang meninggalkan lokasi dalam pasal yang sama. Transmigran yang meninggalkan lokasi tidak ditemukan adanya indikasi memindah-tangankan (menjual) tanah atau kapling yang telah diterimanya di lokasi tujuan.
Hasil diskusi dengan pejabat Dinas Nakertrans Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo, diperoleh informasi bahwa di beberapa provinsi, ada kasus transmigran asal kedua kabupaten yang meninggalkan lokasi. Alasan-alasan transmigran meninggalkan lokasi;
seringkali menyangkut realisasi perjanjian KSAD. Dalam naskah KSAD sudah disebutkan bahwa daerah tujuan akan menyediakan lahan sesuai kebutuhan transmigran, misalnya bebas dari tidak tumpang tindih dengan sektor lain, dan memenuhi kriteria kelayakan permukiman, dengan perolehan lahan 2 hektar tiap KK, dan lain lain. Namun demikian f a k t a di lapangan, ternyata jauh dari kenyataan. Di beberapa daerah, transmigran yang ditempatkan belum mendapatkan lahan usaha.
Data mengenai lokasi yang tidak layak, yang menjadi sebab transmigran meninggalkan lokasi, antara lain sebagai berikut.
Provinsi Kalimantan Selatan
Di UPT Cintapuri, alasan warga transmigrasi meninggalkan lokasi penempatan di Kalimantan Selatan, sebagian besar adalah masalah lahan garapan yang kebanjiran, atau lahan garapan tidak cocok. Lokasi UPT yang ditinggalkan warga trans, adalah UPT Cintapuri Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar. Di lokasi ini sejak 2007 ditempatkan 109 KK, dari 109 KK ditempat ini 37 KK, diketahui meninggalkan lahan garapan, dan sisanya 72 KK masih mencoba bertahan.
Di UPT Cerbon, sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) juga meninggalkan lokasi pemukiman, dan mereka kembali ke daerah asal mereka. Alasan transmigran yang pulang kampung, karena lahan garapan terendam air, kemudian warga trans tidak merasa mampu menggarap lahan, dan akhirnya memutuskan pulang. Warga transmigrasi yang meninggalkan lokasi menjual lahan seharga Rp10 juta hingga Rp15 juta per 1,5 hektare.
Provinsi Kalimantan Timur.
Di UPT Kaliorang, setelah menempati lokasi baru sebagai warga, transmigran meninggalkan lokasi transmigrasi yang disebabkan keterlambatan pemberian lahan usaha yang dijanjikan oleh pemerintah, dan adanya intimidasi dari aparat desa yang tidak membolehkan keluar dari wilayah transmigrasi, padahal warga perlu untuk mencari sumber rejeki yang lain di luar dari kerja mereka di wilayah transmigrasi untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dari 15 transmigran, 14 KK di antaranya memilih meninggalkan lokasi transmigrasi dan hanya 1 KK yang bertahan
sebagai transmigran di Kaliorang. Setelah sebelumnya sempat terlantar di Samarinda selama beberapa hari, 14 KK dipekerjakan di perusahaan perkebunan sawit PT Rajawali di Kutai Kartanegara, Kaltim. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2011.
Di UPT Sumber Sari, transmigran juga meninggalkan lokasi karena merasa terisolasi. Jalan menuju permukiman transmigrasi itu hancur hingga warga sulit menjual hasil pertanian mereka. Menurut warga yang masih bertahan di lokasi itu, sudah sekitar tiga tahun jalan yang menuju ke permukiman transmigrasi itu rusak. Para transmigran tersebut umumnya bertanam pisang, sayuran, dan palawija.
Warga yang masih bertahan mengharapkan pemerintah segera memperbaiki jalan yang rusak itu hingga warga betah menempati permukiman mereka. (Tahun 2007).?
Catatan yang ada di Dinas Nakertrans Kab. Kulon Progo diketahui bahwa transmigran yang meninggalkan lokasi disebabkan oleh 3 (tiga) alasan, yaitu:
1. Kesalahan pemerintah daerah tujuan dalam hal penyediaan lahan usaha transmigrasi : a) Tidak ada lahan usaha meskipun ada dalam KSAD; b) Topografi yang ekstrem; c) Pembelian lahan oleh penduduk setempat dengan intimidasi. Kasus-kasus semacam ini dapat dijumpai di:
a. Provinsi Riau, Lokasi Sengkilo: lahan masih milik Perhutani, lahan tidak memenuhi syarat, klaim oleh penduduk setempat.
b. Provinsi Sumatera Selatan, Lokasi Gajah Mati, Simpang Tiga: Kasusnya adalah adanya intimidasi kepada transmigran untuk menjual lahan kepada
oknum yang tidak jelas.
c. Provinsi Kalimantan Tengah, Lokasi Dadahup:
adanya klaim oleh penduduk setempat.
d. Provinsi Sulawesi Selatan, Lokasi Padalere (Konawe Selatan): adanya klaim oleh penduduk setempat.
e. Provinsi Sulawesi Utara, Lokasi Minahasa: adanya klaim oleh penduduk setempat.
2. Transmigran hanya bermotif untuk mengejar bantuan pemerintah daerah asal sebesar Rp. 5.000.000,- yang secara sengaja dilakukan oleh calon transmigran.
3. Karakter pribadi transmigran yang tidak memiliki mental kerja keras. Kasus ini terjadi hampir di semua provinsi daerah tujuan.
Sanksi yang telah diberikan kepada transmigran yang pulang, adalah pencabutan hak mereka sebagai transmigran, dan tidak boleh kembali ke daerah tujuan untuk, misalnya mengambil asset yang telah mereka tinggalkan di sana.
Di Kulon Progo, misalnya, ada sanksi bagi transmigran yang meninggalkan lokasi untuk tidak bisa lagi mendapat (mengurus) KTP di catatan sipil atau dinas kependudukan, karena pihak Dinas Nakertrans tidak lagi mau menerbitkan surat rekomendasi bagi yang bersangkutan.