• Tidak ada hasil yang ditemukan

SANKSI DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SANKSI DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

SANKSI

DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI

PT Sulaksana Watinsa Indonesia 2016

(2)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta

Pasal 2

1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana Pasal 72

1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima Miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

SANKSI

DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI

Penulis:

Anharudin, dkk

PT Sulaksana Watinsa Indonesia 2016

(4)

ISBN : 978-602-6754-22-6

SANKSI

DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI

Copyright © 2016

Penulis : Anharudin Haryati Murdiatun Mujianto

Editor : DR. Drs. Sigit Pranawa, MSi Desain Layout : Indoyanu Muhamad

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari penulis

Cetakan Pertama diterbitkan dalam Bahasa Indonesia Oleh Penerbit PT. Sulaksana Watinsa Indonesia Citylofts Sudirman Suites 2327-2329

Jl. KH Mas Mansyur 121. Jakarta 10220 Telp/Fax. (021) 86614125

Email : [email protected] Anggota IKAPI No. 499/DKI/14

(5)

Transmigrasi diselenggarakan dengan melibatkan setidaknya empat stakeholder penting, yaitu; Pemerintah, Transmigran, Badan Usaha, dan Kelompok Masyarakat.

Regulasi Ketransmigrasian (UU No. 15/1997 dan UU No.

29/2009, serta PP No. 3/2014) mengatur peran, tugas, dan fungsi sekaligus hak dan kewajiban masing-masing stakeholder terserbut.

Kasus-kasus pelanggaran ketentuan UU Ketransmigrasian relatif sangat sedikit dilakukan, baik oleh pejabat, badan usaha, transmigran maupun kelompok masyarakat. Karena kasus pelanggaran terjadi relatif kecil, maka kasus pemberian sanksi juga sangat kecil. Namun fenomena kecilnya kasus pelanggaran dan penjatuhan

KATA SAMBUTAN

(6)

sanksi, bukan berarti bahwa transmigrasi telah dilakukan dengan tanpa pelanggaran hukum. Namun salah satunya disebabkan oleh adanya pasal-pasal sanksi dalam UU 15/1997, UU No. 29/2009, dan PP No.3/2014, bukan saja lemah secara hukum (sulit diterapkan). Dengan kata lain, tidak adanya kasus pelanggaran, disebabkan dua hal, substansi hukumnya yang lemah dari sisi aturan dan subyek yang diaturnya, juga karena reluktansi (keengganan) aparat di daerah dalam menegakkan sanksi tersebut.

Penelitian ini dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan di tahun 2014 ini, sebagai awal dari kepedulian untuk mengawal penyelenggaraan transmigrasi dari sisi hukum, atau lebih tepatnya hukum administratif dari penyelenggaraan transmigrasi. Studi ini lebih tepatnya membidik persoalan spesifik, atau bagian kecil dari permasalahan hukum ketransmigrasian, yaitu sanksi, atau lebih spesifik lagi adalah sanksi administratif bagi para pihak atau pegiat, pelaku, atau subyek hukum yang terlibat dalam pembangunan transmigrasi.

Kami memberikan apresiasi terhadap buku ini yang telah disusun berdasarkan hasil penelitian, semoga hasil penelitian ini bermanfaat dalam mendukung upaya penyempurnaan kebijakan program pembangunan transmigrasi dimasa depan.

Kepala

Pusat Penelitian dan Pengermbangan Nora Ekaliana Hanafie

NIP. 19580701 198603 2 001

(7)

Kasus-kasus pelanggaran ketentuan UU Ketransmigrasian relatif sangat sedikit dilakukan, baik oleh pejabat, badan usaha, transmigran maupun kelompok masyarakat. Karena kasus pelanggaran terjadi relatif kecil, maka kasus pemberian sanksi juga sangat kecil. Namun fenomena kecilnya kasus pelanggaran dan penjatuhan sanksi, bukan berarti bahwa transmigrasi telah dilakukan dengan tanpa pelanggaran hukum. Namun salah satunya disebabkan oleh adanya pasal-pasal sanksi dalam UU 15/1997, UU No. 29/2009, dan PP No.3/2014, bukan saja lemah secara hukum (sulit diterapkan). Dengan kata lain, tidak adanya kasus pelanggaran, disebabkan dua hal,

KATA PENGANTAR

(8)

substansi hukumnya yang lemah dari sisi aturan dan subyek yang diaturnya, juga karena reluktansi (keengganan) aparat di daerah dalam menegakkan sanksi tersebut.

Bagi pemerintah atau aparat daerah, pasal-pasal sanksi dianggap membingungkan (penuh interpretasi), Antara lain interpretasi tentang apakah pelanggaran itu harus bersifat kumulatif, atau per satuan aturan. Juga apakah pelaanggaran itu bersifat individual atau kolektif (dalam kasus kesalahan pejabat). Karena pasal-pasal dianggap membingungkan, maka upaya (semangat) untuk menegakkannya ditingkat daerah juga menjadi sangat lemah.

Kasus pelanggaran UU yang umum terjadi dilakukan oleh transmigran, dan umumnya indikasinya adalah hanya

“meninggalkan lokasi”. Kasus-kasus transmigran melanggar aturan di lokasi permukiman (tidak dalam bentuk pulang ke daerah asal), hampir tidak pernah terjadi, atau tidak pernah diangkat sebagai masalah hukum.

Semoga buku laporan ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penyusunan kebijakan tentang pembangunan transmigrasi oleh pimpinan di lingkungan Kementerian Pembangunan Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, serta referensi bagi para pihak yang berminat dalam bidang ketransmigrasian.

Penulis

(9)

KATA SAMBUTAN ...i

KATA PENGANTAR ...iii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR TABEL ...vii

BAB I. PENDAHULUAN ...1

BAB II. KERANGKA PEMIKIRAN (TEoRETIK) ...7

BAB III. HASIL PENELITIAN ...15

A. Sanksi Terhadap Pejabat Pemerintah ...16

B. Sanksi Terhadap Badan Usaha ...25

DAFTAR ISI

(10)

C. Sanksi Terhadap Transmigran ...31

D. Sanksi Terhadap Kelompok Masyarakat ...38

E. Hasil Wawancara Dengan Informan ...40

BAB IV. PEMBAHASAN ...45

BAB V KESIMPULAN DAN REKoMENDASI ...49

A. Kesimpulan ...49

B. Rekomendasi ...51

DAFTAR PUSTAKA ...52

(11)

Tabel 1. Kerjasama Badan Usaha di Kawasan Transmigrasi Sampai dengan

Tahun 2014 ...28

DAFTAR TABEL

(12)
(13)

PENDAHULUAN bab i

A. Latar Belakang

Transmigrasi diselenggarakan dengan melibatkan setidaknya empat stakeholder penting, yaitu; Pemerintah, Transmigran, Badan Usaha, dan Kelompok Masyarakat.

Regulasi Ketransmigrasian (UU No. 15/1997 dan UU No.

29/2009, serta PP No. 3/2014) mengatur peran, tugas, dan fungsi sekaligus hak dan kewajiban masing-masing stakeholder terserbut.

Penelitian masalah-masalah ketransmigrasian selama ini lebih banyak dilakukan dari sisi keluaran (output) dan dampak (outcome) positif dari sebuah aktivitas keproyekan (pembangunan), sementara dari sisi proses umumnya

(14)

masih kurang mendapat perhatian di lihat dari aspek penelitian dan pengembangan. Padahal dari sisi proses, penyelenggaraan transmigrasi sesungguhnya merupakan aktivitas yang rentan atas pelanggaran dan/

atau penyimpangan, baik secara konseptual maupun administratif.

Studi-studi ketransmigrasian yang menelaah kepatuhan para pihak yang terlibat di dalamnya (terhadap regulasi ketransmigrasian), serta konsekuensi-konsekuensi hukum (administratif) yang ditimbulkan (yang diterima) dari ketidak patuhan tersebut, masih jarang dilakukan.

Dari aspek inspektorat, audit ketransmigrasian aturan penggunaan finansial sudah mulai dilakukan, termasuk juga audit tentang aspek- aspek teknis dan konseptual.

Penelitian evaluatif bukanlah audit, sehingga pengawasan kegiatan ketransmigrasian umumnya masih sebatas hanya pada pengawasan terhadap pelaku (pelaksana) agen pemerintah, dan lebih khusus lagi pada aspek akuntabilitas pelaksanaan keuangan. Sementara telaah terhadap implementasi konsep, pelaksanaan hak-hak dan kewajiban sebagai pelayan publik, masih belum banyak dilakukan, baik melalui audit maupun penelitian. Demikian juga pengawasan (audit) kepatuhan stakeholder yang lain (transmigran, badan usaha, dan kelompok-kelompok masyarakat), hampir tidak pernah dilakukan.

oleh karena itu, penelitian tentang kepatuhan para pihak terhadap UU Ketransmigrasian sangat diperlukan untuk dapat mengetahui apakah aturan-aturan ketransmigrasian sudah dilaksanakan/dioptimalkan dengan baik oleh para pihak. Baik UU No. 15/1997, UU No. 29/2009,

(15)

dan PP No.3/2014, mencantumkan pengawasan dan sanksi (hukum administratif) terhadap para pihak (subyek pelaku pembangunan transmigrasi). Semua instrumen perundangan tersebut memuat pasal-pasal yang menjamin kepatuhan (yaitu pasal sanksi terhadap yang melanggarnya). Pasal-pasal sanksi atau tindakan hukum bagi yang melanggar aturan, masih dimunculkan, baiki dalam PP maupun UU. Hal ini jelas merupakan cermin dari semangat para penyelenggara transmigrasi untuk menjamin bahwa aturan, konsep, kebijakan, benar-benar dilaksanakan secara ketat dan disiplin, atau untuk menjamin bahwa transmigrasi diwujudkan dengan baik dan “benar”

bukan saja hasilnya, tetapi juga prosesnya.

Persoalannya adalah, apakah pengawasan terhadap penyelenggaraan transmigrasi itu berjalan sesuai pasal pengawasan dan sanksi dalam UU tersebut?.

Penelitian ini dilakukan Litbangtrans di tahun 2014 ini, sebagai awal dari kepedulian untuk mengawal penyelenggaraan transmigrasi dari sisi hukum, atau lebih tepatnya hukum administratif dari penyelenggaraan transmigrasi. Studi ini lebih tepatnya membidik persoalan spesifik, atau bagian kecil dari permasalahan hukum ketransmigrasian, yaitu sanksi, atau lebih spesifik lagi adalah sanksi administratif bagi para pihak atau pegiat, pelaku, atau subyek hukum yang terlibat dalam pembangunan transmigrasi.

Asumsi-asumsi yang mendasari penelitian ini adalah:

Pertama, bahwa penyelenggaraan transmigrasi di daerah ditengarai adanya kasus- kasus pelanggaran terhadap aturan ketransmigrasian (UU No. 15/1997-UU.

(16)

No. 29/2009, dan PP No. 3/2014), baik pelanggaran kecil ataupun besar, baik yang dilakukan oleh aparat pemerintah (Pusat dan Daerah), maupun oleh badan usaha, transmigran dan kelompok-kelompok masyarakat.

Kedua, Jika demikian maka semestinya telah ada kasus-kasus atau tindakan-tindakan pemberian sanksi terhadap para pelaku pelanggaran tersebut, baik sanksi besar maupun sanksi kecil.

Studi ini sangat penting, untuk mengetahui : (a) apakah para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan (penyelenggaraan) transmigrasi benar-benar memiliki komitmen kepatuhan atas aturan yang berlaku, sehingga ada kepastian hukum, atau (b) apakah sanksi terhadap pelanggar ketentuan perundangan ketransmigrasian benar- benar telah diterapkan.

Memang ada persoalan dalam ketentuan (pasal) mengenai sanksi ini, yaitu perubahan (perbedaan) antara klausul yang terdapat dalam UU dengan yang ada di dalam PP No. 3 Tahun 2014. Jika dalam UU No. 29/2009, pejabat Pemerintah dan Pemerintah Daerah merupakan subyek hukum yang dipandang potensial dapat melakukan pelanggaran atau tindakan menyalahi hukum (UU) sehingga dapat dikenakan sanksi, sementara dalam PP Pejabat Pemerintah tidak lagi dipandang sebagai subyek yang bisa melakukan pelanggaran, malah menjadi lembaga (agen) yang justru berkedudukan sebagai pemberi sanksi.

Pertanyaan. Studi ini dihadapkan pada tantangan besar dalam penelusuran kasus-kasus pelanggaran dan pemberian sanksi, karena dalam ranah inilah kelemahan yang sangat besar dialami pemerintah (Kemenakertrans)

(17)

selama ini. Dengan latar belakang di atas, maka pertanyaan masalah penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah bentuk pelanggaran yang umum dan sering dilakukan subyek hukum (transmigran, badan usaha, dan kelompok masyarakat) dalam penyelenggaraan transmigrasi, dan bagaimana pemberian sanksi yang dilakukan?

2. Bagaimana bentuk kendala penerapan pasal sanksi yang umum dialami oleh pemerintah Pemerintah Daerah, baik kendala hukum maupun kendala sosial (sosiologis dan psikologis)? terkait sanksi terhadap aparat pemerintah, transmigran, badan usaha (korporat), ataupun kelompok masyarakat.

Tujuan. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan (to explain) mengenai: Pertama, bagaimana bentuk penerapan hukum (aspek legal) dari pasal sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi, baik dalam aturan UU maupun PP ketransmigrasian. Kedua, bagaimana aspek sosiologis-psikologis penerapan pasal sanksi oleh Pemerintah (Pemerintah Daerah), terhadap kasus-kasus pelanggaran aturan Ketransmigrasian, baik oleh transmigran, badan usaha dan kelompok masyarakat

Sedangkan sasaran dari penelitian ini adalah terwujudnya suatu konsep masukkan bagi penyusunan instrumen pemberian sanksi yang efektif, yang saat ini tengah dikerjakan oleh Biro Hukum, Kemenakertrans berupa Peraturan Menteri.

Metodologi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Dengan kata lain, baik data primer maupun

(18)

sekunder, diperoleh melalui prosedur penelitian kualitatif.

Data dan informasi primer, diperoleh melalui serangkaian kegiatan kaji- lapang, yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu wawancara mendalam (indepth interview), yang dilakukan terhadap sejumlah informan; instrumen penelitian menggunakan Pedoman Wawancara terbuka;

penyajian data (laporan penelitian) yang ditulis dengan narasi sebagian besar bersifat kualitatif (deskriptif); dan kerangka analisis (interpretasi) data yang juga bersifat kualitatif.

Studi ini dilakukan di dua provinsi, yaitu Kalimantan Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Informasi yang digali di Provinsi Kalimantan Timur mencakup sanksi terhadap Badan Usaha dan Pejabat Pemerintah, sedangkan informasi yang dihimpun di provinsi DIY berkaitan dengan sanksi terhadap Transmigran dan Kelompok Masyarakat.

(19)

Penelitian ini adalah mengenai penerapan hukum administrasi, bukan hukum pidana dan/atau hukum perdata. Karena hukum administrasi, maka yang dimaksud sanksi hukum bukan dalam bentuk hukumam dan atau putusan pengadilan.

Salah satu teori hukum, apa disebut hukum, tidak lain adalah perintah negara melalui penguasa yang harus ditaati dan melekatkan sanksi pada hukum. Antara hukum dan sanksi seakan-akan tidak ada pemisahan, dapat diibaratkan sebuah mata uang logam, di mana sisi yang satu merupakan bagian dari sisi yang lain. Bila suatu norma hukum tidak memiliki sanksi, maka normanya hanya dapat

KERANGKA PEMIKIRAN

bab ii

(20)

dikategorikan sebagai norma moral.

Dalam konteks pemberian sanksi, maka subjek hukum menjadi sangat penting. Subyek hukum diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban yang terdiri dari manusia atau natuurlijke persoon dan badan hukum atau rechtspersoon. Sanksi tidak terlepas dari subjek hukum dan objek hukum (perbuatan hukum). objek hukum berupa perbuatan melawan hukum harus terlebih dahulu dirumuskan unsur- unsurnya dalam suatu undang-undang atau hukum tertulis baru sanksi dapat diterapkan, bila tidak, sulit untuk mencapai kepastian hukum. Sanksi pun harus dituangkan ke dalam suatu rumusan undang-undang atau hukum tertulis demi menjaga pelanggaran hak-hak asasi setiap individu dari penguasa (Tutik, 2006:50- 54).

Sebelumnya telah dikutip penjelasan para ahli hukum, bahwa sanksi merupakan syarat mutlak adanya bagi suatu hukum. Dengan paradigma ini, maka setidaknya ada 2 (dua) hal penting dalam hal sanksi, yaitu perbuatan yang dilanggar (perbuatan melawan hukum) dan pelaku atau subjek hukum yang melakukan pelanggaran.

Subjek hukum dapat berupa perseorangan (manusia atau natuurlijke persoon), dan dapat juga sebagai korporasi.

Korporasi dapat berbadan hukum dan non-badan hukum. Badan Hukum terdiri atas Badan Hukum Publik dan Badan Hukum Privat (perdata).

Setiap orang (natuurlijke persoon) sejak lahir sampai dengan meninggalnya sebagai subjek hukum, adalah pendukung hak dan kewajiban. Hukum berurusan dengan hak dan kewajiban ”...Hak dan kewajiban mengandung pengertian pilihan. Seseorang yang mempunyai hak

(21)

menurut hukum, ia diberi kekuasaan untuk mewujudkan haknya itu, yaitu dengan cara meminta kepada pihak lain untuk menjalankan kewajiban tertentu. Di sini terlihat, bahwa tergantung kepada pemegang hak untuk menentukan apakah ia akan mewujudkan haknya itu. Subjek hukum pendukung hak dan kewajiban, dapat melakukan tindakan hukum, kecuali orang yang belum dewasa atau belum sampai umur 18 tahun atau orang yang tidak sehat pikirannya atau berada di bawah pengampuan (Zainuddin, 2008: Ibid).

Subjek hukum (subject van een recht), yaitu ”orang”

yang mempunyai hak, manusia pribadi atau badan hukum yang berhak, berkehendak atau melakukan perbuatan hukum. Badan hukum adalah perkumpulan atau organisasi yang didirikan dan dapat bertindak sebagai subjek hukum, misalnya dapat memiliki kekayaan, mengadakan perjanjian dan sebagainya. Sedangkan perbuatan yang dapat menimbulkan akibat hukum, adalah tindakan seseorang berdasarkan suatu ketentuan hukum yang dapat menimbulkan hubungan hukum, yaitu akibat yang timbul dari hubungan hukum (Soejono Dirdjosisworo, 2008:128).

Salah satu bentuk badan hukum adalah korporasi, yaitu suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai satu subjek hukum tersendiri – suatu personifikasi. Ini berarti bahwa korporasi merupakan badan hukum yang beranggota, tetapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri yang terpisah dari hak dan kewajiban anggota masing-masingnya (Abu A.S, diktat 3, 2008:17).

(22)

Dalam ranah hukum Indonesia, secara umum dikenal sekurang-kurangnya tiga jenis sanksi, yaitu : 1) sanksi hukum pidana; 2) sanksi hukum perdata, dan sanksi administrasi (administrative). Dalam hukum pidana, sanksi hukum disebut hukuman, yang diartikan sebagai “Suatu perasaan tidak enak (sengsara) yang dijatuhkan oleh hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar undang- undang hukum pidana. Istilah hukuman diatur dalam pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yaitu:

Hukuman pokok dan Hukumam Tambahan. Hukuman pokok terdiri atas: a) hukuman mati, b) hukuman penjara, c) hukuman kurungan, dan d) hukuman denda. Hukumam tambahan, terdiri atas (a) pencabutan atas beberapa hak tertentu, (b) perampasan (pensitaan) barang tertentu, dan (c) pengumuman keputusan hakim. Dalam hukum perdata, sanksi hukum dapat berupa kewajiban untuk memenuhi prestasi (kewajiban), atau juga dapat berupa hilangnya suatu keadaan hukum, yang diikuti dengan terciptanya suatu keadaan hukum baru1.

Dalam hukum Administrasi Negara, sanksi administrasi (administratif) adalah sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran administrasi atau ketentuan undang-undang

1Dalam Hukum Perdata, putusan yang dijatuhkan hakim dapat berupa (a) putusan condemnatoir yakni putusan yang bersifat menghukum pihak yang dikalahkan untuk memenuhi prestasi (kewajibannya), misalnya salah satu pihak dihukum untuk membayar kerugian, pihak yang kalah dihukum untuk membayar biaya perkara; (b) putusan declaratoir yakni putusan yang amarnya menciptakan suatu keadaan yang sah menurut hukum. Putusan ini hanya bersifat menerangkan dan menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata. Misalnya, putusan yang menyatakan bahwa penggugat sebagai pemilik yang sah atas tanah sengketa; (c) putusan konstitutif yakni putusan yang menghilangkan suatu keadaan hukum dan menciptakan keadaan hukum baru. Contoh: putusan yang memutuskan suatu ikatan perkawinan.

(23)

yang bersifat administratif. Ketika Ketika bicara sanksi administratif, maka hal ini adalah sanksi yang timbul sebagai spesialitas dari Hukum Administratif Negara, dan sanksi administratif pada umumnya berupa denda, pencabutan izin, dan tindakan administratif lainnya.2

Dalam konteks studi ini, yang dimaksud dengan hukum adalah kaidah- kaidah (hukum tata negara), atau hukum administrasi, dalam klausul-klausul pada UU, yaitu UU No. 15/1997 Jo UU No. 29/2009, dan PP No.

3 Tahun 2014. Dan dalam aturan tersebut sanksi yang dilakukan hanyalah sanksi administratif.

Dalam ranah pemberian sanksi administratif, tindakannya lebih terbatas, antara lain misalnya berupa:

a) Pencabutan atau pembubaran seluruh atau sebagian fasilitas yang telah atau dapat diperoleh perusahaan, atau berupa pencabutan izin; b) Tindakan Tata tertib, berupa penempatan perusahaan di bawah pengampuan;

c) Pembekuan operasional selama waktu tertentu, dan yang paling sederhana dan ringan adalah peringatan atau teguran, baik tertulis maupun lisan.

Klausul-klausul tentang sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi, dalam UU. No. 15/1997, termuat pada bab XI (Pengawasan dan Tindakan Administratif) terdiri atas tiga pasal, yaitu:

2 Banyak kasus sanksi denda, salah satunya misalnya, dalam kasus-kasus yang diatur dalam PP No. 28 Tahun 2008;. Sanksi pembekuan atau pencabutan sertifikat danatau izin, misalnya dalam kasus-kasus yang diatur dalam Permenhut No. KM 26 Tahun 2009; Sanksi Penghentian sementara pelayanan administrasi hingga pengurangan jatah produksi, misalnya dalam kasus-kasus yang diatur dalam Permenhut No. P.39/MENHUT- II/2008 Tahun 2008); Sanksi tindakan administratif, misalnya dalam kasus-kasus yang diatur dalam Keputusan KPPU No. 252/KPPU/KEP/VII/2008 Tahun 2008.

(24)

Menteri melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan transmigrasi. Menteri berwenang mengambil tindakan administratif terhadap semua pihak yang melakukan pelanggaran dalam penyelenggaraan transmigrasi (Pasal 36 dan 37). Ketentuan tentang tata cara pelaksanan pengawasan dan tentang bentuk serta jenis tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dan Pasal 37 diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP).

Klausul-klausul yang berkaitan dengan Sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi

UU. No. 29/2009 terdapat dalam bab X B (sanski Administratif), yaitu pasal 35 (B,C,D,F).

Pasal 35 B: Pejabat Pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), Pasal 14 ayat (1), dan/

atau Pasal 15 ayat (1) dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 35 C: Badan usaha yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), Pasal 9 ayat (2), atau Pasal 35 ayat (3 a) dikenakan sanksi administratif berupa: a) teguran lisan; b) teguran tertulis;

atau c) pencabutan izin.

Pasal 35 D: Transmigran yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dikenakan sanksi administratif berupa: a). teguran lisan;

b). teguran tertulis; atau c. pencabutan status sebagai transmigran.

Pasal 35 E: Kelompok masyarakat yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3 a) dikenakan sanksi administratif berupa : a) teguran lisan; b). teguran tertulis; atau c). pencabutan persetujuan Menteri.

(25)

Pada hakekatnya, sanksi sama dengan penghargaan (reward). Namun jika penghargaan umumnya bersifat positif, tetapi sanksi bersifat negatif, yang diberikan sebagai akibat kesalahan (tindakan ketidak patuhan). Sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi lebih merupakan bagian dari ranah hukum administrasi (bukan hukum pidana atau perdata), karena itu klausul tentang sanksi baik dalam UU maupun PP pada umumnya menyangkut sanksi administratif, berupa teguran, peringatan dan paling tinggi adalah pencabutan hak atau izin.

(26)
(27)

UU Ketransmigrasian (UU No. 15/1997, UU No. 29/2009) termasuk kategori Hukum Adminsitrasi atau Hukum Tata Negara (bukan hukum pidana dan/atau perdata), sehingga pelanggaran terhadap pasal- pasal yang ada di dalamnya merupakan pelanggaran hukum administrasi, dan sanksi yang diberikan kepada subyek hukum yang melanggarnya, adalah sanksi administratif.

Sanksi adminsitratif menyangkut pencabutan hak atau izin, setelah sebelumnya dilakukan peringatan (teguran) tertulis kepada yang bersangkutan.

Berikut merupakan rangkuman (ikhtisar) dari hasil penelitian Puslitbangtrans 2014, tentang Pemberian

HASIL PENELITIAN

bab iii

(28)

Sanksi dalam Pembangunan Transmigrasi, yang mencakup sanksi terhadap Pejabat, Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat.

A. Sanksi Terhadap Pejabat Pemerintah

Aturan hukum: UU No.15/1997, Pasal 36 menyebutkan bahwa: “Menteri melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan transmigrasi”.

Sementara itu pasal 37, menyebutkan bahwa

“Menteri berwenang mengambil tindakan administratif terhadap “ semua pihak yang melakukan pelanggaran dalam penyelenggaraan transmigrasi.”

Penjelasan Pasal 36:

Pengawasan dimaksudkan agar pelaksanaan tugas dan kewajiban dilakukan secara tertib berdasarkan peraturan dan ketentuan yang berlaku untuk meningkatkan tertib manajemen guna mencapai hasil yang berdaya guna dan berhasil guna dalam penyelenggaraan transmigrasi. Pengawasan dimaksud termasuk kegiatan pemeriksaan administratif dan tindak lanjutnya.

Penjelasan Pasal 37:

Tindakan administratif diperlukan untuk memperbaiki dan mendidik para pihak yang melakukan pelanggaran administratif,

(29)

baik aparatur pemerintah, badan usaha, perseorangan maupun kelompok masyarakat.

Tindakan administratif yang diambil harus masih dalam rangka mencapai sasaran pembangunan ketransmigrasian yang optimal.

Dalam UU No. 15/1997 tidak disebutkan secara eksplisit tentang pemberian sanksi terhadap pejabat pemerintah (pemerintah daerah) atas pelanggaran administratif.

Dalam UU tersebut hanya disebutkan semua pihak, yang meskipun di dalamnya termasuk pejabat pemerintah tetapi tidak eksplisit.

Kasus di provinsi Kalimantan Timur (Kaltim)

Hasil wawancara dengan aparat Pemda Kaltim (Dinas Nakertrans) diketahui bahwa pemahaman aparat terhadap klausul sanksi dalam UU No. 15/1997, dan UU No.

29/2009, dan apalagi yang ada di PP No. 3/2014, khususnya di tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) umumnya sangat rendah.

Ketika dilakukan diskusi tentang pasal sanksi, tanpa memegang buku UU tersebut, semua peserta diskusi hampir tidak ada yang hafal atau paham terhadap sanksi administrative bagi dirinya jika melakukan kesalahan administratif dan konseptual dalam penyelenggaraan transmigrasi. Kemudian ketika peserta diskusi bersama- sama menyimak pasal sanksi dalam UU tersebut, maka peserta umumnya mempersoalkan tentang tindakan administratif terhadap semua pihak, yang di dalamnya

(30)

termasuk pejabat Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Ketika kedua pasal tersebut (36 dan 37) dijadikan bahan diskusi tentang tindakan administratif terhadap pejabat pemerintah, hasil dan proses diskusi menunjukkan bahwa dua pasal (36 dan 37) tersebut, umumnya tidak dipahami atau menjadi acuan yang mengikat bagi kerja-kerja penyelenggaraan transmigrasi di daerah. Pasal tersebut hanya dapat dipahami jika aturan-aturan ketransmigrasian dikuasai secara keseluruhan, atau pasal-pasal yang mengatur kietentuan dalam penyelenggaraan transmigrasi.

Bentuk Pelanggaran. Di Provinsi Kalimantan Timur, pelanggaran administratif oleh perjabat pemerintah (pemerintah daerah) yang lebih banyak disorot dan disadari salah satunya adalah dalam hal tidak melakukan pemenuhan hak-hak transmigra.

Hak-hak transmigran yang tertuang dalam UU 15/1997 adalah sebagai berikut. Pelanggaran terhadap pasal ini bisa saja pernah terjadi, tetapi kasusnya selama ini tidak ada.

Kasus dimaksud, misalnya, adanya pejabat pemerintah yang secara sengaja melakukan kesalahan terhadap pasal-pasal yang berisi sangat banyak seperti dalam matrik. Tidak adanya kasus pelanggaran hukum ini, bisa jadi karena tidak ada pihak yang peduli dan berinisiatif melaporkan (mempermasalahkan), mengangkat, atau menjadikan seorang pejabat sebagai pelanggar UU.

(31)

Matriks Hak-Hak Transmigran Transmigran Umum (TU) Pasal 13Transmigran Swakarsa Berbantuan (TSB) Pasal 14Transmigran Swakarsa Mandiri (TSM) Pasal 15 1. perbekalan, pengangkutan, dan penempatan di Permukiman Transmigrasi; 2. lahan usaha dan lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik; 3. sarana produksi; dan 4. catu pangan untuk jangka waktu tertentu.

1. pelayanan perpindahan dan penempatan di Permukiman Transmigrasi; 2. sarana usaha atau lahan usaha dengan status hak milik atau dengan status lain sesuai dengan pola usahanya; 3. lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik; 4. sebagian kebutuhan sarana produksi; dan 5. bimbingan, pengembangan, dan perlindungan hubungan kemitraan usaha.

1. pengurusan perpindahan dan penempatan di Permukiman Transmigrasi; 2. bimbingan untuk mendapatkan lapangan kerja atau lapangan usaha atau fasilitasi mendapatkan lahan usaha; 3. lahan tempat tinggal dengan status hak milik; dan 4. bimbingan, pengembangan, dan perlindungan hubungan kemitraan usaha.

(32)

Sanksi Yang Diberikan. Pasal yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan pengawasan dan tentang bentuk serta jenis tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dan Pasal 37 diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP), yaitu PP No. 3/2014. Pasal yang mengatur hal ini adalah Pasal 35B, menyebutkan

“Pejabat Pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), Pasal 14 ayat (1), dan/atau Pasal 15 ayat (1) dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

(33)

SUBYEK BENTUK PELANGGARAN Pejabat

Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah

Tidak Melaksanakan ketentuan pemberian bantuan kepada Transmigran Umum (pasal 13, ayat 1), berupa:

a. perbekalan, pengangkutan, dan penempatan di Permukiman Transmigrasi;

b. lahan usaha dan lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik;

c. sarana produksi; dan

d. catu pangan untuk jangka waktu tertentu.

Tidak Melaksanakan ketentuan pemberian bantuan kepada Transmigran Swakarsa Berbantuan (pasal 14, ayat 1), berupa:

a. pelayanan perpindahan dan

penempatan di Permukiman Transmigrasi;

b. sarana usaha atau lahan usaha dengan status hak milik atau dengan status lain sesuai dengan pola usahanya;

c. lahan tempat tinggal beserta rumah dengan status hak milik;

d. sebagian kebutuhan sarana produksi; dan e. bimbingan, pengembangan, dan

perlindungan hubungan kemitraan usaha.

Tidak Melaksanakan ketentuan pemberian bantuan kepada Transmigran Swakarsa Mandiri (pasal 15, ayat 1), berupa:

a. pengurusan perpindahan dan penempatan di Permukiman Transmigrasi;

b. bimbingan untuk mendapatkan lapangan kerja atau lapangan usaha atau fasilitasi mendapatkan lahan usaha;

c. lahan tempat tinggal dengan status hak milik;

dan

d. bimbingan, pengembangan, dan

perlindungan hubungan kemitraan usaha.

(34)

Pelanggaran administratif oleh pejabat pemerintah (pemerintah daerah) dalam UU No.15, (tertuang dalam pasal 13, 14, 15 pasal yang tidak diubah).

Kasus Pelanggaran dan Pemberian Sanksi. Hasil diskusi dengan narasumber (pejabat daerah) di Kalimantan Timur, diperoleh informasi bahwa ada kesulitan- kesulitan dalam mengangkat kasus pelanggaran administratif yang dilakukan oleh pejabat pemerintah daerah dalam pembangunan transmigrasi. Kesulitan pertama yang dihadapi adalah menyangkut persoalan hukum itu sendiri.

Dari pembahasan (diskusi) terhadap aspek legal yang mengatur pemberian sanksi atau dugaan pelanggaran oleh pejabat, ditemukan persoalan hokum sebagai berikut : 1. Layanan perpindahan baik kepada transmigran TU, TSB

maupun TSM. Pasal ini, terutama yang menyangkut layanan perpindahan bagi TSM, juga bermasalah, karena TSM biaya perpindahannya adalah ditanggung yang bersangkutan. oleh karena itu sulit untuk menjatuhkan sanksi bagi pejabat pemerintah terhadap pasal ini, dan terbukti hampir tidak ada kasus pejabat pemerintah (pemerintah daerah) yang mendapat sanksi administratif atas kasus ini.

2. Layanan pemberian lahan tempat tinggal dengan status hak milik, yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk sertifikat Hak Milik (HM) atas lahan pekarangan dan atau lahan usaha kepada transmigran. Kasus-kasus belum diurusnya sertifikat HM dalam pembangunan transmigrasi saat ini masih begitu banyak, dan jika hal ini dipersoalkan maka sesungguhnya dapat menjadi kasus pelanggaran administratif pejabat, bukan saja

(35)

pejabat daerah tetapi justru pejabat pusat, karena pemenuhan hak ini merupakan tanggung jawab kewajiban pemerintah pusat.

3. Pembinaan pasca penempatan. Bagi transmigran umum, klausul mengenai hak pembinaan transmigran justru tidak ada, sehingga tidak mungkin adanya pelanggaran administratif. Sementara TSB dan TSM memiliki hak pembinaan. Namun karena jumlah penempatan (transmigrasi) TSB dan TSM saat ini sudah sangat sedikit, maka kemungkinan pelanggaran administratif pada jenis transmigrasi ini sangat kecil. oleh sebab itu kasus pelanggaran pejabat pemerintah (pemerintah daerah) terhadap klausul pembinaan bagi TSB dan TSM hampir tidak ada.

4. Pemenuhan hak atas catu pangan (jadup) transmigran bagi transmigran TU. Kasus pelanggaran di mana transmigran tidak diberi Jadup hampir tidak ada, karena hampir semua lokasi (SP atau UPT) dalam perencanaan program penempatan selalu diikuti dengan perencanaan jaminan hidup. K a r e n a n y a Maka kasus pelanggaran administrafif terhadap klausul ini (hak jadup) tidak tidak ada (tidak ditemukan).

5. Pemberian hak atas pemenuhan infrastruktur permukiman transmigrasi (lahan, rumah, RTJK) dalam klausul KSAD, yang ini terjadi di daerah tujuan transmigrasi, yang kemudian korbannya adalah transmigran. Kesalahan ini dilakukan oleh pejabat pemerintah daerah tujuan.

Kasus-kasus semacam ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum ketransmigrasian.

(36)

Semua bentuk pelanggaran administratif oleh pejabat pemerintah (pemerintah daerah) di atas, saat ini mestinya dapat diangkat sebagai pelanggaran administratif, tetapi dalam kenyataan (dalam praktiknya) tidak pernah ada.

Di Provinsi Kalimantan Timur, kasus paling penting dari semua pelanggaran adalah kasus sertifikasi lahan transmigran, baik lahan pekarangan dan atau lahan usaha, sekalipun pihak pejabat tidak juga hafal berapa hak-hak ini telah “dilanggar”. Pada tingkat nasional, data dari Direktorat Peta-Trans, menujukkan bahwa hingga saat ini Pemerintah masih memiliki tunggakan sertifikasi lahan (tanah) transmigran (Hak Milik) sekitar 4000 bidang yang tersebar di berbagai lokasi trans. Di Kaltim ada sekitar 900 bidang sertifikat transmigran yang belum terselesaikan.

Hal ini jelas dapat disebut sebagai bentuk pelanggaran adminsitratif pejabat pemerintah (dan terutama adalah pemerintah Pusat).

Selain sertifikasi, adalah lahan usaha transmigran.

Contoh kasus di Kalimantan Timur adalah UPT Rapak Lembur, yang sampai saat ini lahan usaha transmigran belum dipenuhi. Dalam kasus seperti ini, siapa yang harus diberi sanksi. Hingga saat ini belum pernah diangkat, dan belum pernah ada pejabat yang dijatuhi sanksi administratif.

Kasus ini tidak (belum) dapat diangkat sebagai pelanggaran pejabat (pelanggaran atau kesalahan dalam implementasi konsep), karena masalah ini melibatkan begitu banyak pejabat, baik Pusat maupun daerah. Dengan kata lain, kesalahan pada kasus ini merupakan kesalahan kolektif, sehingga sulit bagi penegak hukum untuk menjatuhkan sanksi terhadap pelaku kesalahan tersebut.

(37)

Kasus-kasus pelanggaran hukum yang melibatkan pejabat, di Provinsi Kaltim yang pernah terjadi umumnya bukan dalam hal pelanggaran implementasi konsep, tetapi lebih pada pelanggaran atas penggunaan dana pembangunan, dan kasus semacam ini merupakan ranah hukum pidana, dan yang terkena selama ini adalah pejabat proyek (Pimpro).

B. Sanksi Terhadap Badan Usaha

Aturan hukum: Klausul UU No. 29 berkaitan dengan Badan usaha yang tidak taat aturan adalah, bahwa Badan usaha yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), Pasal 9 ayat (2), atau Pasal 35 ayat (3a) dikenakan sanksi administratif berupa: (a) teguran lisan; (b) teguran tertulis; atau (c). pencabutan izin (Pasal 35 C).

SUBYEK BENTUK PELANGGARAN

Badan Usaha a. Tidak melaksanakan kemitraan dengan transmigran Swakarsa Berbantuan

b. Tidak mematuhi perjanjian kerja yang telah disepakati

c. Tindakan illegal (tanpa izin Menteri) Pasal 35 F, berbunyi: Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penjatuhan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 C, Pasal 35 D, dan Pasal 35 E diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Klausul-klausul PP (No. 3/2014) yang berkaitan dengan Sanksi terdapat

(38)

pada bab XI (sanski Administratif), yaitu pasal 136-143.

Pasal 136 dan 137 hanya menjelaskan tentang subyek hukum yang mendapat sanksi (Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat) dan menjelaskan pemberi sanksi (Menteri, gubernur, atau bupati/walikota). Dalam PP No.3/2014, pasal pemberian sanksi terhadap pejabat pemerintah disunat. Maka bebaslah para pejabat dari ancaman sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi (setidaknya menurut PP No. 3/2014).

PASAL BUNYI PASAL BENTUK

PELANGGARAN

138 (1) Setiap badan usaha yang melanggar ketentuan Pasal 119 ayat (3), Pasal 121 ayat (4) dan ayat (5), Pasal 123 ayat (5), atau Pasal 125 ayat (6) dikenakan sanksi administratif.

(2) Sanksi administratif

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: (a) teguran lisan; (b) teguran tertulis;

dan/atau (c) pencabutan izin.

(3) Dalam hal badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan kegiatan tanpa memiliki izin pelaksanaan transmigrasi dikenakan sanksi berupa penghentian kegiatan.

a. Tidak seizin Menteri b. Tidak menjalin kerja

sama kemitraan dengan masyarakat transmigrasi.

c. Tidak membantu perolehan modal usaha dan tidak bertindak sebagai penjamin

UU No. 15/1997, telah memberikan peluang bagi Pemerintah untuk melibatkan sektor swasta (Dunia Usaha) atau Badan berpartisipasi dalam pembangunan transmigrasi.

Partisipasi Badan Usaha (Dunia Usaha) diwujudkan dalam

(39)

bentuk investasi di bidang pengembangan pola usaha transmigrasi, yang terutama adalah pola usaha Perkebunan, yang dilaksanakan dalam bentuk kemitraan usaha antara Perusahaan dengan Transmigran. Bentuknya yang paling umum salah satunya adalah Perkebunan Inti-Rakyat (PIR- Trans). Transmigrasi yang dibangun dengan melibatkan badan usaha (Dunia Usaha) adalah Transmigrasi Swakarsa Berbantuan (TSB).

Kebijakan ini sebetulnya telah diimplementasikan sebelum dikeluarkannya UU No. 15/1997. Bahkan sejak akhir tahun 1980-an, Badan Usaha telah menanamkan modal untuk membangun transmigrasi PIR-Trans di berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Partisipasi swasta pada saat itu bahkan didukung oleh sumber pendanaan dari kredit BLBI (Bantuan Liquiditas Bank Indonesia) dengan bunga yang sangat murah. Investasi yang terbanyak adalah pada bidang perkebunan (sawit dan karet), kehutanan, dan perikanan. Situasi kondusif investasi daerah transmigrasi berjalan hingga akhir 1990-an, dan sejak tahun 2000- an atau masa reformasi, keadaan permodalan tidak lagi kondusif sehingga partisipasi dunia usaha semakin menurun. Tentu saja penurunan ini bukan semata- mata faktor ketersediaan pendanaan, tetapi juga ketersediaan lahan transmigrasi yang semakin menipis.

Kasus Di Provinsi Kalimantan Timur

Hingga tahun 2014 (saat penelitian) di seluruh Indonesia jumlah Badan Usaha (Perusahaan Swasta) yang berinvestasi di daerah transmigrasi sebanyak 44 Unit

(40)

(Perusahaan) yang tersebar di 9 Propinsi. Dari sekian banyak propinsi di mana terdapat perusahaan-perusahaan swasta berinvestasi (44 unit), Provinsi Kalimantan Timur tercatat sebagai provinsi yang paling banyak didatangi investor (24 unit), yang pada umumnya bergerak di Bidang Perkebunan Sawit, terlihat pada Tabel sebagai berikut.

Tabel 1 :

Kerjasama Badan Usaha di Kawasan Transmigrasi Sampai dengan Tahun 2014

No Provinsi Jumlah

Badan Usaha

Komoditi Tahun IPT

1 NAD 1 Kelapa sawit IPT th 2009

2 Sumatra Utara 1 Kelapa sawit IPT th 1996

3 Sumatra Selatan 4 Kelapa sawit IPT 1996, 2004, 2010 (2) 4. Kepulauan Riau 4 Kelapa sawit 2005 (2 unit), 2007 dan

2011.

5. Kalimantan

Timur 24 Kelapa sawit 2003 (2), 2007 (2), 2009 (6), 2011 (8), 2012 (1), 2013 (4), 2014 (1).

6. Kalimantan

Selatan 2 Kelapa sawit 2007, 2013

7. Nusa Tenggara

Barat 1 Sisal 2010

8. Gorontalo 1 Tebu 2007

9 Sulawesi Tengah 3 Kelapa sawit 2008, 2011, 2012 Sumber : Dir.Partisipasi Masyarakat, Ditjen.P2KTrans.

Dari tabel di atas dapat dilihat perkembangan investasi Swasta di Kalimantan Timur, bahwa badan usaha yang sudah mendapat IPT sampai dengan tahun 2014, sebanyak 24 unit. Dari 24 Badan Usaha ada, 13 di kabupaten Kutai Timur, selebihnya ada di kabupaten Nunukan, Kab Berau, Bulungan dan di Kutai Barat. Saat ini ada sekitar 57

(41)

perusahaan yang sedang mengajukan permohonan urusan IPT di seluruh Indonesia, dan sebanyak 23 perusahaan mengajukan IPT untuk di Kaltim.

Dalam Permen Nakertrans disebutkan bahwa pihak swasta yang hendak menjalin kerjasama kemitraan dengan Pemerintah, dalam bentuk investasi (modal) di daerah transmigrasi, harus memperoleh izin dari menteri terkait (Menteri Yang menangani Transmigrasi) yaitu Izin Pelaksana Transmigrasi (IPT). Syarat-syarat administratif untuk mendapatkan IPT antara lain, adalah izin lokasi oleh Bupati, Izin perkebunan dari Pertanian, Amdal, dan Izin pemungutan kayu (IPK) dari Kehutanan dan sebagainya.

Kelembagaan Ad hoc yang menerima dan menyeleksi perusahan adalah TP2IPT (Tim Penilai Permohonan Ijin Pelaksanaan Transmigrasi) yang dibentuk secara lintas direktorat dan diberi kewenangan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja badan usaha yang berinvestasi di daerah transmigrasi.

UU No. 15/1997 dan No. 29/2009, di samping memberikan peluang luas kepada dunia usaha untuk berinvestasi, atau menanam modalnya di kawasan transmigrasi, juga memberikan sanksi kepada dunia usaha yang telah mendapat IPT, tetapi tidak mematuhi aturan yang berlaku. Dengan kata lain, meskipun kedua UU tersebut mendorong swasta berinvestasi, tetapi juga mengontrolnya dengan cara memberikan apresiasi (penghargaan) sekaligus sanksi (Punishment) bagi yang tidak taat aturan.

Salah satu aturan berinvestasi adalah kesediaan Badan Usaha untuk melakukan kerjasama dengan

(42)

saling menguntungkan dengan pihak transmigran, atau menjalankan perjanjian kerja yang telah disepakati bersama dengan transmigran.

Hasil wawancara dengan informan di Kalimantan Timur, diperoleh informasi bahwa pemberian sanksi kepada badan usaha dilakukan ketika badan usaha telah melakukan kegiatan bisnis atas dasar IPT. Selama ini, jika ada indikasi adanya pelanggaran adminstratif oleh badan usaha, lebih banyak diselesaikan dengan cara bawah tangan yaitu pemenuhan syarat adminstratif, sehingga yang semula dapat dianggap sebagai pelanggaran adminstratif (dapat dikenakan sanksi), kemudian menjadi tidak lagi bermasalah dalam proses hubungan kemitraan. Misalnya pihak perusahaan menawarkan jalan islah.

Hasil evaluasi TP2IPT tahun 2014, menunjukan bahwa dari ke 44 perusahaan yang saat ini masih bermitra dengan kementerian, terdapat satu perusahaan yang mendapat sanksi administrasi berupa pencabutan izin (IPT) kepada perusahaan. Kasusnya secara kebetulan berada di provinsi Kaltim, yaitu PT berinisial AS. Kasus pelanggarannya adalah perusahaan tersebut tidak mentaati perjanjian kerjasama dalam penggunaan lahan HPL. Kasus ini telah terjadi, dan sanksi administrasi juga telah diberikan oleh Menteri kepada perusahaan tersebut.

Dalam pemberian sanksi terhadap PT AS yang prosesnya juga cukup lama, menurut Pejabat Dinas Kaltim, telah diberikan secara prosedural, dan hal ini merupakan kewenangan Menteri, sementara pihak Dinas provisi hanya memberikan bahan masukkan.

(43)

C. Sanksi Terhadap Transmigran

Aturan hukum. Pasal sanksi dan pelanggaran oleh transmigran tertuang dalam pasal 16 (UU No.15/1997) tentang kewajiban transmigran. Pasal ini merupakan pasal yang tidak diubah (dalam UU No. 29/2009), yaitu bahwa setiap transmigran berkewajiban untuk : a).

bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi;

b) memelihara kelestarian lingkungan; c) memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna; d) mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya; e) memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan f) mematuhi ketentuan ketransmigrasian.

Dalam praktiknya, pelanggaran pasal ini lebih ditekankan pada pasal ayat 1 (satu), yaitu bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi, dengan kata lain tidak meninggalkan lokasi. Hampir tidak ada kasus di mana transmigran yang menetap di lokasi diberi sanksi administratife, karena misalnya melanggar ayat 2 (tidak memelihara kelestarian lingkungan), ayat 3 (memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna ) atau ayat 4 (mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya), atau ayat berikutnya, tidak memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan tidak mematuhi aturan ketransmigrasian.

Pasal 16 tersebut terdiri atas 6 ayat, dan masing-masing ayat dijelaskan secara lebih detil pada Penjelasan UU,

(44)

yaitu :Huruf a Cukup jelas, Huruf b : Setiap transmigran harus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan dan menghindarkan diri dari perbuatan yang merusak alam dan lingkungan agar pemanfaatan sumber daya alam tetap efektif dan berkelanjutan. Huruf c : Setiap kegiatan usaha atau lapangan kerja yang dipilihnya perlu dikelola dengan baik untuk meningkatkan pendapatan. Di samping itu, transmigran berkewajiban juga memelihara prasarana umum dan fasilitas lingkungan dengan sebaik-baiknya agar berfungsi dengan baik.

Huruf d: Semua aset produksi baik yang diberikan Pemerintah dan pihak lain sebagai bantuan atau subsidi aset produksi yang diperolehnya sendiri perlu didayagunakan dan dipelihara serta dikembangkan. Huruf e: Masyarakat transmigrasi dan penduduk sekitar permukiman transmigrasi perlu selalu menjalin, memelihara, dan menghormati budaya dan adat istiadat masing-masing sehingga tercipta suasana yang harmonis penuh keakraban yang ditunjang rasa kekeluargaan yang kental. Huruf f: Setiap transmigran perlu mematuhi ketentuan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah ataupun peraturan yang telah menjadi kesepakatan transmigran dengan badan usaha dalam bentuk perjanjian kerja sama, yang kesemuanya itu pada dasarnya ditujukan bagi upaya peningkatan kesejahteraan transmigran dan kepentingan masyarakat sekitarnya.

Namun dari penjelasan tersebut, tidak ditemukan apakah pelanggaran yang dapat dijatuhkan apabila bersifat kumulatif (melanggar) semua (keenam) ayat, apakah salah satu di antara 6 (enam) ayat tersebut sudah dapat diberikan sanksi. Transmigran yang tidak melaksanakan ketentuan

(45)

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dikenakan sanksi administratif berupa: a). teguran lisan; b). teguran tertulis;

atau c). pencabutan status sebagai transmigran. (Pasal 35 D).

SUBYEK BENTUK PELANGGARAN

Transmigran Tidak melaksanakan kewajiban - kewajiban sebagai berikut:

a. bertempat tinggal menetap di permukiman transmigrasi;

b. memelihara kelestarian lingkungan;

c. memelihara dan mengembangkan kegiatan usahanya secara berdaya guna dan berhasil guna;

d. mempertahankan dan memelihara pemilikan tanah dan aset produksinya;

e. memelihara hubungan yang serasi dengan masyarakat setempat serta menghormati dan memperhatikan adat istiadatnya; dan

f. mematuhi ketentuan ketransmigrasian.

Klausul-klausul yang berkaitan dengan Sanksi dalam PP.

3 tahun 2014 terdapat pada bab XI (Sanksi Administratif), yaitu pasal 136-143. Pasal 136 dan 137 hanya menjelaskan tentang subyek hukum yang mendapat sanksi (Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat) dan menjelaskan pemberi pemberi sanksi (Menteri, gubernur, atau bupati/walikota). Dalam PP No.3/2014, pasal pemberian sanksi terhadap transmigran diubah menjadi:

Pasal 31, Setiap transmigran dilarang memindahtangankan tanah yang telah diberikan baik kepada Transmigran dan penduduk setempat yang pindah

(46)

ke permukiman baru sebagai bagian dari SP-Pugar. Kecuali telah dimiliki paling singkat selama 15 (lima belas) tahun sejak penempatan. Setiap transmigran, termasuk penduduk setempat yang pindah ke permukiman baru sebagai bagian dari SP-Pugar yang melanggar ketentuan Pasal 31 ayat (1) dikenakan sanksi administratif. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a) teguran lisan; b) teguran tertulis; dan/atau c) pencabutan status sebagai transmigran.

UU No. 15/1997, memuat definisi transmigran sebagai warga negara Republik Indonesia yang berpindah secara sukarela ke Wilayah Pengembangan Transmigrasi atau Lokasi Permukiman Transmigrasi melalui pengaturan dan pelayanan pemerintah. Sedangkan UU No. 29/2009, menyebut transmigran sebagai warga negara Republik Indonesia yang berpindah secara sukarela ke kawasan transmigrasi. Perbedaan definisi transmigran dalam kedua UU tersebut tidaklah substansial, perbedaannnya terletak pada tujuan perpindahan, yang pertama ke WPT dan atau LPT, sedangkan yang kedua WPT dan LPT diganti kawasan transmigrasi. Tetapi kedua definisi tersebut sama- sama menyebut trasmigran sebagai warga Negara RI yang melakukan perpindahan.

Pasal 10 UU No. 15/1997 tentang transmigran merupakan pasal yang tidak diubah (diamandemen) dalam UU No. 29/2009 sehingga masih berlaku dan tetap menjadi acuan, yaitu bahwa : 1) Setiap warga negara Republik Indonesia dapat ikut serta sebagai transmigran; 2) Keikutsertaan sebagai transmigran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas kesukarelaan dan memenuhi

(47)

persyaratan yang ditetapkan. 3) Transmigran terdiri atas kepala keluarga beserta anggota keluarganya.

Kasus di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Data yang ditemukan di Provisi DIY, khususnya Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, menunjukkan bahwa jumlah transmigran yang meninggalkan lokasi hanya sekitar 5% dari total penempatan. Tapi tidak ada data tentang transmigran yang melanggar ayat-ayat lain, yang meninggalkan lokasi dalam pasal yang sama. Transmigran yang meninggalkan lokasi tidak ditemukan adanya indikasi memindah-tangankan (menjual) tanah atau kapling yang telah diterimanya di lokasi tujuan.

Hasil diskusi dengan pejabat Dinas Nakertrans Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo, diperoleh informasi bahwa di beberapa provinsi, ada kasus transmigran asal kedua kabupaten yang meninggalkan lokasi. Alasan-alasan transmigran meninggalkan lokasi;

seringkali menyangkut realisasi perjanjian KSAD. Dalam naskah KSAD sudah disebutkan bahwa daerah tujuan akan menyediakan lahan sesuai kebutuhan transmigran, misalnya bebas dari tidak tumpang tindih dengan sektor lain, dan memenuhi kriteria kelayakan permukiman, dengan perolehan lahan 2 hektar tiap KK, dan lain lain. Namun demikian f a k t a di lapangan, ternyata jauh dari kenyataan. Di beberapa daerah, transmigran yang ditempatkan belum mendapatkan lahan usaha.

Data mengenai lokasi yang tidak layak, yang menjadi sebab transmigran meninggalkan lokasi, antara lain sebagai berikut.

(48)

Provinsi Kalimantan Selatan

Di UPT Cintapuri, alasan warga transmigrasi meninggalkan lokasi penempatan di Kalimantan Selatan, sebagian besar adalah masalah lahan garapan yang kebanjiran, atau lahan garapan tidak cocok. Lokasi UPT yang ditinggalkan warga trans, adalah UPT Cintapuri Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar. Di lokasi ini sejak 2007 ditempatkan 109 KK, dari 109 KK ditempat ini 37 KK, diketahui meninggalkan lahan garapan, dan sisanya 72 KK masih mencoba bertahan.

Di UPT Cerbon, sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) juga meninggalkan lokasi pemukiman, dan mereka kembali ke daerah asal mereka. Alasan transmigran yang pulang kampung, karena lahan garapan terendam air, kemudian warga trans tidak merasa mampu menggarap lahan, dan akhirnya memutuskan pulang. Warga transmigrasi yang meninggalkan lokasi menjual lahan seharga Rp10 juta hingga Rp15 juta per 1,5 hektare.

Provinsi Kalimantan Timur.

Di UPT Kaliorang, setelah menempati lokasi baru sebagai warga, transmigran meninggalkan lokasi transmigrasi yang disebabkan keterlambatan pemberian lahan usaha yang dijanjikan oleh pemerintah, dan adanya intimidasi dari aparat desa yang tidak membolehkan keluar dari wilayah transmigrasi, padahal warga perlu untuk mencari sumber rejeki yang lain di luar dari kerja mereka di wilayah transmigrasi untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dari 15 transmigran, 14 KK di antaranya memilih meninggalkan lokasi transmigrasi dan hanya 1 KK yang bertahan

(49)

sebagai transmigran di Kaliorang. Setelah sebelumnya sempat terlantar di Samarinda selama beberapa hari, 14 KK dipekerjakan di perusahaan perkebunan sawit PT Rajawali di Kutai Kartanegara, Kaltim. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2011.

Di UPT Sumber Sari, transmigran juga meninggalkan lokasi karena merasa terisolasi. Jalan menuju permukiman transmigrasi itu hancur hingga warga sulit menjual hasil pertanian mereka. Menurut warga yang masih bertahan di lokasi itu, sudah sekitar tiga tahun jalan yang menuju ke permukiman transmigrasi itu rusak. Para transmigran tersebut umumnya bertanam pisang, sayuran, dan palawija.

Warga yang masih bertahan mengharapkan pemerintah segera memperbaiki jalan yang rusak itu hingga warga betah menempati permukiman mereka. (Tahun 2007).?

Catatan yang ada di Dinas Nakertrans Kab. Kulon Progo diketahui bahwa transmigran yang meninggalkan lokasi disebabkan oleh 3 (tiga) alasan, yaitu:

1. Kesalahan pemerintah daerah tujuan dalam hal penyediaan lahan usaha transmigrasi : a) Tidak ada lahan usaha meskipun ada dalam KSAD; b) Topografi yang ekstrem; c) Pembelian lahan oleh penduduk setempat dengan intimidasi. Kasus-kasus semacam ini dapat dijumpai di:

a. Provinsi Riau, Lokasi Sengkilo: lahan masih milik Perhutani, lahan tidak memenuhi syarat, klaim oleh penduduk setempat.

b. Provinsi Sumatera Selatan, Lokasi Gajah Mati, Simpang Tiga: Kasusnya adalah adanya intimidasi kepada transmigran untuk menjual lahan kepada

(50)

oknum yang tidak jelas.

c. Provinsi Kalimantan Tengah, Lokasi Dadahup:

adanya klaim oleh penduduk setempat.

d. Provinsi Sulawesi Selatan, Lokasi Padalere (Konawe Selatan): adanya klaim oleh penduduk setempat.

e. Provinsi Sulawesi Utara, Lokasi Minahasa: adanya klaim oleh penduduk setempat.

2. Transmigran hanya bermotif untuk mengejar bantuan pemerintah daerah asal sebesar Rp. 5.000.000,- yang secara sengaja dilakukan oleh calon transmigran.

3. Karakter pribadi transmigran yang tidak memiliki mental kerja keras. Kasus ini terjadi hampir di semua provinsi daerah tujuan.

Sanksi yang telah diberikan kepada transmigran yang pulang, adalah pencabutan hak mereka sebagai transmigran, dan tidak boleh kembali ke daerah tujuan untuk, misalnya mengambil asset yang telah mereka tinggalkan di sana.

Di Kulon Progo, misalnya, ada sanksi bagi transmigran yang meninggalkan lokasi untuk tidak bisa lagi mendapat (mengurus) KTP di catatan sipil atau dinas kependudukan, karena pihak Dinas Nakertrans tidak lagi mau menerbitkan surat rekomendasi bagi yang bersangkutan.

D. Sanksi Terhadap Kelompok Masyarakat

Aturan hukum. Kelompok masyarakat yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3 a) dikenakan sanksi administratif berupa:

a) teguran lisan; b) teguran tertulis; atau c) pencabutan persetujuan Menteri (Pasal 35 E). Klausul-klausul yang

(51)

berkaitan dengan Sanksi. Dalam PP. 3 tahun 2014 terdapat pada bab XI (sanski Administratif), yaitu pasal 136 - 143.

Pasal 136 dan 137 hanya menjelaskan tentang subyek hukum yang mendapat sanksi (Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat) dan menjelaskan pemberi - pemberi sanksi (Menteri, gubernur, atau bupati/walikota).

Dalam PP No.3/2014, pasal pemberian sanksi terhadap kelompok masyarakat dinyatakan sebagai berikut :

PASAL BUNYI PASAL BENTUK PELANGGARAN

140 (1) Setiap kelompok masyarakat yang melanggar ketentuan Pasal 119 ayat (4) dikenakan sanksi administratif.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: (a) teguran lisan; (b) teguran tertulis;

(c) penghentian sementara kegiatan hingga dipenuhinya ketentuan Pasal 119 ayat (4); dan/

atau (d) pencabutan persetujuan.

a. Penyediaan tenaga pelatihan dan

pengembangan masyarakat oleh kelompok masyarakat tidak berdasarkan

persetujuan Menteri.

(52)

E. Hasil Wawancara Dengan Informan

Perjalanan transmigrasi pernah ditandai oleh begitu besar minat masyarakat bukan saja untuk bertransmigrasi, tetapi untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan transmigrasi, terutama di daerah asal. Partisipasi masyarakat (terutama kelompok masyarakat sipil, swadaya masyarakat) terutama dalam hal pelayanan perpindahan atau penyiapan tenaga transmigran. Data mengenai lembaga-lembaga masyarakat yang telah (pernah) bekerjasama dengan pemerintah (Kementerian Urusan Transmigrasi) tidak tertulis dengan baik, karena itu deskripsi yang ditampilkan di sini sangat singkat. Di tahun 1990-an, lembaga-lembaga masyarakat (khususnya Yayasan) yang pernah bekerjasama dengan Pemerintah dapat disebutkan antara lain sebagai berikut.

Hasil wawancara dengan mantan pejabat transmigrasi di Pusat, diperoleh informasi tentang pengalaman transmigrasi (Pemerintah), bekerjasama dengan kelompok- kelompok masyarakat, dan pengalaman itulah yang kemudian mendasari perumusan klausul (pasal-pasal) dalam UU No. 15/1997. Beberapa kelompok masyarakat (yayasan) yang pernah bekerja sama dengan Pemerintah adalah sebagai berikut.

Pertama, Yayasan Dharmais, sebuah Yayasan Islam yang berkedudukan di Jakarta. Lembaga ini pernah menjadi agen penyedia para da’i transmigran. Lembaga ini merekrut, melatih dan memberangkatkan transmigran ke berbagai daerah. Para da’i yang dikirim berkedudukan sebagai transmigran sehingga mendapat sarana produksi berupa lahan, rumah, jaminan hidup bahkan untuk beberapa bulan, Yayasan tersebut memberikan gaji setelah para

(53)

transmigran bertempat tinggal di lokasi transmigrasi.

Namun karena alasan yang tidak terlalu jelas, lembaga ini kemudian mengakhiri kegiatan ini pada tahun 2000-an, setelah terjadi reformasi.

Kedua, Yayasan Sugiyopranoto, sebuah Yayasan Katolik yang berkedudukan di Semarang. Lembaga ini juga pernah menjadi agen pemberangkatan transmigran dari Jawa Tengah ke Sumatera Selatan. Beberapa transmigran direkrut, dilatih, dan diberi perbekalan dan kemudian diberangkatkan ke lokasi transmigrasi, tentu saja dengan bekerjasama dengan Dinas (Kanwil) Transmigrasi Jawa Tengah. Lembaga ini juga telah berhenti melakukan kerjasama pemberangkatan transmigran di akhir tahun 1990-an. Sebuah Yayasan di Sukabumi, yaitu Yayasan Sadagori, juga pernah bekerjsama mengembangkan kawasan transmigrasi di Kalimantan, tetapi tidak (belum) berlanjut secara kontinyu.

Ketiga, Pesantren Nurul Islam, Paiton, Probolonggo, dan Pesantren Nurul Huda Cijantung. Kerjasama dunia pesantren ini semula berorientasi pada sebuah gagasan tentang “bedol pesantren”, atau membuat pesantren filial di lokasi transmigrasi. Namun karena gagasan ini sangat berat dari sisi SDM dan anggaran, maka rencana ini belum sempat direalisasi secara massal. Kegiatan yang dapat dilakukan baru sebatas pada pengiriman santri yang sudah tamat dari kedua pesantren tersebut sebagai transmigran reguler, antara lain ke Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat.

Selain dari ketiga lembaga di atas, ada banyak informasi mengenai lembaga-lembaga yang pernah terbentuk tetapi

Referensi

Dokumen terkait

SKRIPSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK DESA BUMDES STUDY KASUS PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MASYARAKAT MELALUI PEREKONOMIAN KREATIF DI DESA DULOLONG