• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Terhadap Badan Usaha

Dalam dokumen SANKSI DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI (Halaman 37-43)

HASIL PENELITIANbab iii

B. Sanksi Terhadap Badan Usaha

Aturan hukum: Klausul UU No. 29 berkaitan dengan Badan usaha yang tidak taat aturan adalah, bahwa Badan usaha yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), Pasal 9 ayat (2), atau Pasal 35 ayat (3a) dikenakan sanksi administratif berupa: (a) teguran lisan; (b) teguran tertulis; atau (c). pencabutan izin (Pasal 35 C).

SUBYEK BENTUK PELANGGARAN

Badan Usaha a. Tidak melaksanakan kemitraan dengan transmigran Swakarsa Berbantuan

b. Tidak mematuhi perjanjian kerja yang telah disepakati

c. Tindakan illegal (tanpa izin Menteri) Pasal 35 F, berbunyi: Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penjatuhan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 C, Pasal 35 D, dan Pasal 35 E diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Klausul-klausul PP (No. 3/2014) yang berkaitan dengan Sanksi terdapat

pada bab XI (sanski Administratif), yaitu pasal 136-143.

Pasal 136 dan 137 hanya menjelaskan tentang subyek hukum yang mendapat sanksi (Badan Usaha, Transmigran dan Kelompok Masyarakat) dan menjelaskan pemberi sanksi (Menteri, gubernur, atau bupati/walikota). Dalam PP No.3/2014, pasal pemberian sanksi terhadap pejabat pemerintah disunat. Maka bebaslah para pejabat dari ancaman sanksi dalam penyelenggaraan transmigrasi (setidaknya menurut PP No. 3/2014). ayat (6) dikenakan sanksi administratif.

(3) Dalam hal badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan kegiatan tanpa memiliki izin pelaksanaan transmigrasi Pemerintah untuk melibatkan sektor swasta (Dunia Usaha) atau Badan berpartisipasi dalam pembangunan transmigrasi.

Partisipasi Badan Usaha (Dunia Usaha) diwujudkan dalam

bentuk investasi di bidang pengembangan pola usaha transmigrasi, yang terutama adalah pola usaha Perkebunan, yang dilaksanakan dalam bentuk kemitraan usaha antara Perusahaan dengan Transmigran. Bentuknya yang paling umum salah satunya adalah Perkebunan Inti-Rakyat (PIR-Trans). Transmigrasi yang dibangun dengan melibatkan badan usaha (Dunia Usaha) adalah Transmigrasi Swakarsa Berbantuan (TSB).

Kebijakan ini sebetulnya telah diimplementasikan sebelum dikeluarkannya UU No. 15/1997. Bahkan sejak akhir tahun 1980-an, Badan Usaha telah menanamkan modal untuk membangun transmigrasi PIR-Trans di berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Partisipasi swasta pada saat itu bahkan didukung oleh sumber pendanaan dari kredit BLBI (Bantuan Liquiditas Bank Indonesia) dengan bunga yang sangat murah. Investasi yang terbanyak adalah pada bidang perkebunan (sawit dan karet), kehutanan, dan perikanan. Situasi kondusif investasi daerah transmigrasi berjalan hingga akhir 1990-an, dan sejak tahun 2000-an atau masa reformasi, keada2000-an permodal2000-an tidak lagi kondusif sehingga partisipasi dunia usaha semakin menurun. Tentu saja penurunan ini bukan semata- mata faktor ketersediaan pendanaan, tetapi juga ketersediaan lahan transmigrasi yang semakin menipis.

Kasus Di Provinsi Kalimantan Timur

Hingga tahun 2014 (saat penelitian) di seluruh Indonesia jumlah Badan Usaha (Perusahaan Swasta) yang berinvestasi di daerah transmigrasi sebanyak 44 Unit

(Perusahaan) yang tersebar di 9 Propinsi. Dari sekian banyak propinsi di mana terdapat perusahaan-perusahaan swasta berinvestasi (44 unit), Provinsi Kalimantan Timur tercatat sebagai provinsi yang paling banyak didatangi investor (24 unit), yang pada umumnya bergerak di Bidang Perkebunan Sawit, terlihat pada Tabel sebagai berikut.

Tabel 1 :

Kerjasama Badan Usaha di Kawasan Transmigrasi Sampai dengan Tahun 2014

No Provinsi Jumlah

Badan Usaha

Komoditi Tahun IPT

1 NAD 1 Kelapa sawit IPT th 2009

2 Sumatra Utara 1 Kelapa sawit IPT th 1996

3 Sumatra Selatan 4 Kelapa sawit IPT 1996, 2004, 2010 (2) 4. Kepulauan Riau 4 Kelapa sawit 2005 (2 unit), 2007 dan

2011.

5. Kalimantan

Timur 24 Kelapa sawit 2003 (2), 2007 (2), 2009 (6), 2011 (8), 2012 (1), 2013 (4), 2014 (1).

6. Kalimantan

Selatan 2 Kelapa sawit 2007, 2013

7. Nusa Tenggara

Barat 1 Sisal 2010

8. Gorontalo 1 Tebu 2007

9 Sulawesi Tengah 3 Kelapa sawit 2008, 2011, 2012 Sumber : Dir.Partisipasi Masyarakat, Ditjen.P2KTrans.

Dari tabel di atas dapat dilihat perkembangan investasi Swasta di Kalimantan Timur, bahwa badan usaha yang sudah mendapat IPT sampai dengan tahun 2014, sebanyak 24 unit. Dari 24 Badan Usaha ada, 13 di kabupaten Kutai Timur, selebihnya ada di kabupaten Nunukan, Kab Berau, Bulungan dan di Kutai Barat. Saat ini ada sekitar 57

perusahaan yang sedang mengajukan permohonan urusan IPT di seluruh Indonesia, dan sebanyak 23 perusahaan mengajukan IPT untuk di Kaltim.

Dalam Permen Nakertrans disebutkan bahwa pihak swasta yang hendak menjalin kerjasama kemitraan dengan Pemerintah, dalam bentuk investasi (modal) di daerah transmigrasi, harus memperoleh izin dari menteri terkait (Menteri Yang menangani Transmigrasi) yaitu Izin Pelaksana Transmigrasi (IPT). Syarat-syarat administratif untuk mendapatkan IPT antara lain, adalah izin lokasi oleh Bupati, Izin perkebunan dari Pertanian, Amdal, dan Izin pemungutan kayu (IPK) dari Kehutanan dan sebagainya.

Kelembagaan Ad hoc yang menerima dan menyeleksi perusahan adalah TP2IPT (Tim Penilai Permohonan Ijin Pelaksanaan Transmigrasi) yang dibentuk secara lintas direktorat dan diberi kewenangan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja badan usaha yang berinvestasi di daerah transmigrasi.

UU No. 15/1997 dan No. 29/2009, di samping memberikan peluang luas kepada dunia usaha untuk berinvestasi, atau menanam modalnya di kawasan transmigrasi, juga memberikan sanksi kepada dunia usaha yang telah mendapat IPT, tetapi tidak mematuhi aturan yang berlaku. Dengan kata lain, meskipun kedua UU tersebut mendorong swasta berinvestasi, tetapi juga mengontrolnya dengan cara memberikan apresiasi (penghargaan) sekaligus sanksi (Punishment) bagi yang tidak taat aturan.

Salah satu aturan berinvestasi adalah kesediaan Badan Usaha untuk melakukan kerjasama dengan

saling menguntungkan dengan pihak transmigran, atau menjalankan perjanjian kerja yang telah disepakati bersama dengan transmigran.

Hasil wawancara dengan informan di Kalimantan Timur, diperoleh informasi bahwa pemberian sanksi kepada badan usaha dilakukan ketika badan usaha telah melakukan kegiatan bisnis atas dasar IPT. Selama ini, jika ada indikasi adanya pelanggaran adminstratif oleh badan usaha, lebih banyak diselesaikan dengan cara bawah tangan yaitu pemenuhan syarat adminstratif, sehingga yang semula dapat dianggap sebagai pelanggaran adminstratif (dapat dikenakan sanksi), kemudian menjadi tidak lagi bermasalah dalam proses hubungan kemitraan. Misalnya pihak perusahaan menawarkan jalan islah.

Hasil evaluasi TP2IPT tahun 2014, menunjukan bahwa dari ke 44 perusahaan yang saat ini masih bermitra dengan kementerian, terdapat satu perusahaan yang mendapat sanksi administrasi berupa pencabutan izin (IPT) kepada perusahaan. Kasusnya secara kebetulan berada di provinsi Kaltim, yaitu PT berinisial AS. Kasus pelanggarannya adalah perusahaan tersebut tidak mentaati perjanjian kerjasama dalam penggunaan lahan HPL. Kasus ini telah terjadi, dan sanksi administrasi juga telah diberikan oleh Menteri kepada perusahaan tersebut.

Dalam pemberian sanksi terhadap PT AS yang prosesnya juga cukup lama, menurut Pejabat Dinas Kaltim, telah diberikan secara prosedural, dan hal ini merupakan kewenangan Menteri, sementara pihak Dinas provisi hanya memberikan bahan masukkan.

Dalam dokumen SANKSI DALAM PEMBANGUNAN TRANSMIGRASI (Halaman 37-43)

Dokumen terkait