HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Wawancara
Berikuthasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap tujuh orang informan. Wawancara yang peneliti lakukan dilengkapi peralatan seperti alat perekam suara atas dasar persetujuan narasumber:
Informan I Mohamad Yoenus
Wawancara berlangsung pada tanggal 20 Maret 2015 sekitar pukul 11.30 di ruang rapat kantor Harian Tribun Medan Jalan Wahid Hasyim No 37 Kelurahan Babura, Kecamatan Medan Baru 20154, Sumatera Utara. Yoenus mengawali karirnya di bidang jurnalistik pertama kali di Harian Tribun Medan 2010 lalu, bertepatan dengan lahirnya Harian Tribun Medan, namun Yoenus masuk melalui open recruitmentTribun di Jakarta. Dengan kata lain, Yoenus ikut membangun Tribun dari awal. Laki-laki alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Hubungan Internasional ini aslinya berasal dari Jawa Barat, oleh sebab itu Harian Tribun Medan lah yang pertama memperkenalkannya dengan Kota Medan.
Untuk itu, Yoenus belum mempunyai pengalaman seputar jurnalistik di Medan. Namun, kesan pertama saat ia menginjakkan kaki di Medan ialah image wartawan yang buruk di mata masyarakat, seperti tukang minta uang atau biasa disebut wartawan amplop. (Sambil tersenyum) Yoenus mengatakan bahwa hal ini bukan lah salah wartawan tersebut. Menurutnya, sistem media lah yang membentuknya. Hal ini berbeda dengan Harian Tribun Medan, Yoenus mengatakan Harian Tribun Medan lahir dengan finansial yang lebih baik dari media lain, sehingga menjadikan wartawannya tidak terikat pada pihak lain dan independen saat menuliskan berita. Ia mencontohkan saat seorang wartawan menikah dan mendapatkan hadiah televisi yang tidak jelas dari siapa pengirimnya, maka wartawan tersebut akan melaporkan hal itu kepada kantor dan mengembalikannya. Ini dilakukan untuk menghindari adanya suap dari pihak-pihak lain. Menurutnya, di Medan masyarakat menyamaratakan wartawan yang baik dan buruk.
Diawal wawancara, Yoenus sudah mengatakan untuk santai dan tak terlalu tegang selama wawancara berlangsung. Oleh sebab itu, sepanjang wawancara Yoenus sering tersenyum dan tertawa saat menjawab pertanyaan dari peneliti. Salah satunya saat Yoenus
mengatakan tidak masuk organisasi wartawan apapun selama bergelut di dunia jurnalistik. Ia mengaku tidak tertarik.
Awalnya, untuk mengetahui ritme kerja Harian Tribun Medan, Yoenus harus mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Disitulah dipelajari semua tentang jurnalistik, termasuk juga kode etik dan undang-undang pers. Pengalaman pertama liputan pun dirasakan Yoenus kala itu. Sebuah liputan investigasi tentang polisi yang diduga akali lampu merah. Saat itu, Yoenus dan teman-temannya pun berpencar dan ikut berbaur dengan masyarakat dengan menutupi identitas sebenarnya guna mendapatkan informasi yang valid.
Sebelum menjadi redaktur, Yoenus pernah menjadi asisten redaktur sejak 2012 kemudian menjadi wartawan pada 2010. Saat ini, ia menjadi redaktur di desk kota. Selama menjadi redaktur, ia mengaku memang terjadi beberapa kesalahan. Misalnya, salah dalam menyebutkan nama. Untuk itu, kuncinya hanya satu, yaitu percaya dengan wartawan. Lagi pula, untuk menghindari hak jawab dan hak koreksi. Seharusnya sebuah berita belum bisa dikeluarkana apabila tidak dikonfirmasi semua pihak-pihak yang berkaitan, tapi dengan upaya yang maksimal. Karena sudah dari awal dilakukan upaya agar berita tersebut berimbang, misalnya dengan dihubungi via telpon atau sms, datang ke rumah narasumber, atau datang ke kantor tempatnya bekerja. Biasanya, apabila saat berita itu dinaikan ada pihak yang belum mengkonfirmasi, maka di bawah berita akan dituliskan bahwa yang bersangkutan belum mengkonfirmasi. Salah satu contoh berita yang memuat hak jawab adalah berita tentang jual kursi Universitas Negeri Medan (Unimed). Saat itu, Unimed yang tidak terima tentang pemberitaan yang dimuat Harian Tribun Medan dan melapor pada Dewan Pers. Oleh sebab itu, Dewan Pers meminta Harian Tribun Medan untuk memuat hak jawab dari Unimed di halaman yang sama dengan berita sebelumnya. Biasanya, hak jawab yang dimuat pun harus berimbang dengan melibatkan semua pihak-pihak yang bersangkutan.
Di pertengahan, Yoenus menghentikan sebentar wawancaranya dan meminta waktu untuk membalas pesan. Sebenarnya, sedari awal wawancara Yoenus memang sudah memang ponselnya. Kurang lebih lima menit Yoenus sibuk dengan ponselnya. Setelah itu, wawancara kembali dilanjutkan.
Yoenus mengatakan, biasanya berita yang menghasilkan hak jawab adalah berita investigasi serta dugaan korupsi. Kesalahan-kesalahan yang menyebabkan koreksi seperti kesalahan nama jarang terjadi. Biasanya narasumber hanya protes via sms saja, terutama narasumber yang sudah dekat.
Sebelum di desk Kota, Yoenus pernah menjadi redaktur di desk nasional dan daerah. Selain itu, ia juga pernah menjadi wartawan di desk pemerintah kota, otomotif dan seleb.
Tidak ada kebakuan dalam pemindahan desk untuk wartawan atau redaktur. Standar pemutaran rotasi biasanya satu setengah tahun. Tergantung kebijakan kantor.
Penerapan hak koreksi dan hak jawab yang tercantum di UU Pers no 40 tahun 1999 pasal 11 pun diterapkan di Harian Tribun Medan. Namun, menurut Yoenus sekalipun tidak melihat kode etik, hak koreksi dan hak jawab wajib diterapkan. Apalagi hak jawab tersebut sudah sesuai konten, maka hak jawab tersebut bisa dimuat dalam satu hari. Sebenarnya, menurut Yoenus hak jawab dan hak koreksi sangat berkaitan dengan UU Pers pasal 1 tentang pemberitaan yang harus memuat berita fakta, proporsional dan independen. Bila suatu media sudah menerapkan itu semua, maka otomatis tidak perlu ada hak jawab. Biasanya, hak jawab dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang diwawancarai.
Selama menjadi redaktur, Yoenus pernah melakukan hak jawab sekali. Hak jawab tersebut dilontarkan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sebelumnya, Harian Tribun Medan memberitakan tentang beberapa DPRD yang belum mengembalikan mobil dinasnya, padahal sudah pensiun. Salah satu wartawan yang mengambil berita tersebut memotret rumah DPRD setelah mendapat alamat dari sekretaris daerah. Setelah berita tersebut dinaikkan, DPRD tersebut mengaku bahwa rumah yang di foto bukan lah rumah miliknya. Hal itu sempat membinggungkan pihak Harian Tribun Medan, karena alamat tersebut diberikan langsung dari LSM Pemerintahan yang resmi. Sampai Yoenus menarik satu kesimpulan bahwa alamat yang diberikan DPRD tersebut alamat palsu atau LSM pemerintahan yang salah dalam menuliskan alamat atau memberikan alamat palsu pada Harian Tribun Medan. Padahal, sebelum berita dinaikan, wartawan telah berupaya untuk meminta konfirmasi namun selalu ditolak. Hal ini terjadi sekitar setengah tahun yang lalu. Walaupun begitu, Harian Tribun Medan tetap memberikan kesempatan kepada narasumber untuk tetap mengkonfirmasi berita, sekaligus mewawancarai pihak-pihak lain yang terkait seperti sekretaris daerah.
Untuk hak koreksi, ada beberapa kesalahan namun bukan untuk dikoreksi, itu hanya kesalahan-kesalahan yang manusiawi misalnya salah pengetikan atau typo. Sebenarnya ada lagi hak jawab yang diterima Harian Tribun Medan, namun di halaman yang lain.
Tak ada kesulitan yang berarti dalam menerapkan hak jawab dan hak koreksi di Harian Tribun Medan. Malah, ada beberapa narasumber yang mengajukan hak jawab tetap didatangi untuk diwawancarai kembali. Selain itu, ada juga berita yang sudah naik namun belum dikonfirmasi misalnya berita tentang olah food di tanjung morawa dan di medan yang terbit pada hari itu 20 Maret 2015. Hari itu juga, wartawan yang menuliskan berita tersebut sedang berusaha ke perusahaan tersebut untuk melakukan konfirmasi, karena berita tersebut selalu
ada follow-up-nya. Artinya selalu ada kelanjutan dari berita tersebut, apalagi setelah ada konfirmasi.
Diakui Yoenus, hak jawab dan hak koreksi sangat penting, apalagi ditengah-tengah media yang belum sepenuhnya profesional. Seperti tamatan SMP dan SMA yang menjadi wartawan. Disisi lain hak jawab dan hak koreksi ini menjadi salah satu kesempatan untuk klarifikasi dan menjelaskan berita yang telah dimuat di suatu media. Namun, lagi-lagi Yoenus menekankan apabila UU Pers pasal 1 diterapkan maka hak jawab sudah dipastikan tak ada, namun yang terjadi kebanyakan narasumber tidak mengerti sebenarnya apa fungsi media sebagai penyampai informasi, sehingga narsumber berfikiran bahwa wartawan datang hanya untuk meminta uang, apalagi bila berita tersebut menyangkut dugaan korupsi. Untuk itulah pentingnya sebuah rekaman, terutama untuk isu-isu yang penting. Kebanyakan masyarakat sekarang belum mengerti apa itu hak jawab dan hak koreksi, sehingga dia takut untuk diwawancarai.
Hak jawab yang dilayangkan narasumber menjadi tanggung jawab redaktur yang bersangkutan, setelah terlebih dahulu diterima sekretaris redaksi. Setelah itu, hak jawab tersebut akan dibahas terlebih dahulu di rapat budgeting yang dilakukan setiap hari pukul 15.00. Biasanya, rapat tersebut membahas tentang kinerja redaksi dan wartawan yang dibawahi masing-masing redaktur. Bila ada hak jawab yang dilayangkan narasumber maka akan dibahas di rapat tersebut, apakah hak jawab tersebut akan dimuat atau tidak.
Biasanya hak jawab dilakukan oleh redaktur. Tak jarang juga wartawan yang sebelumnya menulis berita diminta mewawancarai kembali narasumber apa hak jawabnya. Jadi hak jawabnya sesuai dengan konsep dan sudut pandang Harian Tribun Medan. Narasumber lebih leluasa menyampaikan hak jawabnya dan Harian Tribun Medan bisa melihat hal tersebut secara komprehensif.
Banyak manfaat yang didapat dalam menerapkan hak koreksi dan hak jawab, yaitu menjaga hubungan baik dengan narasumber. Agar masyarakat tahu bahwa Harian Tribun Medan merupakan media yang independen, dimana semua orang punyak hak untuk menyatakan hak jawabnya. Kemudian, sebagai evaluasi reporter apabila melakukan kesalahan serta bertanggung jawab dengan apa yang telah ditulis. Karena kebanyakan narasumber yang meminta hak jawab adalah narsumber yang takut namanya tercemar, tidak menyangka berita tersebut tetap terbit padahal narasumber tersebut tidak memberikan pernyataan serta takut akan membawa dampak yang besar.
Sejauh ini Harian Tribun Medan tidak pernah mendapat sanksi hukum terkait hak jawab dan hak koreksi, karena ranah hukumnya ada pada Dewan Pers. Dewan Pers bertindak
sebagai polisi tersendiri bagi media cetak. Hal itu pun dilakukan dengan mediasi. Seringnya masalah yang dihadapi Dewan Pers seputar berita yang tidak sesuai. Berbeda dengan kasus suap yang dialami wartawan-wartawan lain yang sudah sampai ke ranah hukum karena termasuk tindak kriminal.
Dalam pandangan Yoenus, hak jawab dan hak koreksi yang dilakukan media lain di Medan beragam. Karena ada beberapa media yang tidak peduli dengan hal itu, apakah narasumber yang takut atau narasumber yang tidak memperhatikan adanya kolom hak jawab dan hak koreksi. Biasanya hak jawab dan hak koreksi yang dilakukan di media lain akan dibuat dalam kolom dan diberi nama ralat. Seringnya, narasumber yang menuntut hak jawab dan hak koreksi melihat terlebih media yang akan memuat hak jawab dan hak koreksi tersebut. Bila medianya besar maka hak jawab dan hak koreksi pun akan langsung dimuat, dan narasumber akan membuat hak jawab dan hak koreksi, sedangkan media kecil, maka hak jawab dan hak koreksinya tidak dimuat dan narasumber pun tidak membuat hak jawab. Biasanya, media yang besar pasti memiliki banyak pembaca dan bila tidak dimuat hak jawab dan hak koreksinya kemungkinan akan membawa dampak yang besar.
Informan II Arifin Al Alamudi
Kurang lebih lima menit setelah wawancara dengan Yoenus selesai. Nurul, sekretaris redaksi yang membimbing peneliti selama penelitian di Harian Tribun Medan mengarahkan peneliti untuk langsung mewawancarai Arifin. Wawancara berlangsung di tempat yang sama dengan Yoenus, ruang rapat redaksi. Di awal peneliti dam Arifin hanya bercerita santai seputar kampus, karena kebetulan Arifin adalah alumni USU jurusan Ilmu Politik dan pernah masuk dalam organisasi yang sama dengan peneliti. Namun hal itu tak berlangsung lama, sekitar sepuluh menit.
Arifin bercerita pengalaman pertama ia menggeluti dunia jurnalistik yaitu saat masih mahasiswa. Arifin pernah bergabung di Pers Mahasiswa. Kemudian awal 2010, Arifin bekerja di KPK Pos mingguan, lalu pada Juni 2010 Arifin bergabung di Harian Tribun Medan. Karena sudah mempunyai cukup pengalaman di kampus, Arifin tak terlalu kesulitan dalam mengikuti ritme media profesional. Ia merasa semuanya adalah hal-hal standar yang juga dilakukannya di kampus. Sejak 2011 lalu, Arifin bergabung di Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Kota Medan dan sekarang menjabat sebagai koordinator serikat pekerja.
Selain itu, ia bergabung di Pewarta Foto Indonesia kota Medan sebagai anggota divisi advokasi sejak 2011 lalu.
Selama menjadi wartawan, Arifin memang pernah melakukan kesalahan. Menurutnya, hal itu wajar terjadi karena semua wartawan yang baik pasti melewati hal itu dan itu juga dapat menguji mental wartawan (sambil tertawa). Kebanyakan kesalahan terjadi tentang persepsi yang dimaksud narasumber berbeda dengan yang ditangkap wartawan. Arifin bilang, komentar dan protes sampai menghasilkan hak jawab lebih sering terjadi dihalaman satu, kalau sudah di halaman selanjutnya tidak terlalu sering. Arifin mencontohkan hak jawab yang sama dengan yang diceritakan Yoenus. Tentang jual beli kursi SNMPTN di Unimed tahun 2013 lalu. Saat itu, peserta yang tidak lulus meminta perangkingannya dan tidak diberikan, oleh sebab itu mahasiswa menggugat minta dibukakan hasilnya karena itu adalah konsumsi publik.
Setelah diadakan sidang atas gugatan dari mahasiswa dengan Komite Informasi Publik sebagai Hakimnya serta mahasiswa sebagai pelapor dan rektorat sebagai dilapor. Hasil persidangan menyatakan bahwa perangkingan itu memang adalah konsumsi publik dan bukan rahasia negara yang tidak boleh dibukakan. Dengan kata lain mahasiswa menang dan rektorat kalah, (sambil tertawa) Arifin mengatakan itu merupakan hal yang unik dan Harian Tribun Medan memutuskan untuk menuliskan beritanya. Namun, pihak Unimed tidak suka dengan pemberitaan yang dibuat Harian Tribun Medan sehingga mengatakan berita tersebut tidak benar. Sekitar lima atau enam bulan setelah berita itu dinaikkan, surat dari Dewan Pers turun terkait tentang hak jawab dari Unimed.
Sebenarnya masih ada juga beberapa hak jawab yang masuk ke Harian Tribun Medan, hanya saja tidak sampai ke Dewan Pers misalnya narasumber protes bahwa tuduhan dalam berita tersebut tidak benar. Memang sebelumnya, Unimed pernah melayangkan hak jawab ke Harian Tribun Medan namun tidak terlalu ditanggapi karena pihak Harian Tribun Medan merasa berita yang ditulis sudah benar dan sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), tidak melanggar apapun. Sampai Dewan Pers memutuskan agar Harian Tribun Medan menaikkan hak jawab dari Unimed. Walaupun begitu, Arifin bilang kesalahan Dewan Pers juga tidak menulis dan menjelaskan keterangan mana yang dituliskan Harian Tribun Medan yang salah, jadi dianggap semua tulisan itu salah sehingga hak jawab dari Unimed dinaikkan.
Padahal seharusnya Dewan Pers memanggil Harian Tribun Medan agar bisa dijelaskan, karena bagaimana pun Harian Tribun Medan juga punya bukti-bukti liputan seperti rekaman dan wawancara. Selain hak jawab di atas, ada juga hak koreksi yang sering dipermasalahkan narasumber, misalnya untuk pangkat Letjen Sunarno. Di kalimat awal sudah ditulis gelarnya,
namun untuk selanjutnya Harian Tribun Medan hanya menuliskan Sunarno, itu akan mendapat protes dari narasumber. Padahal sudah menjadi aturan Harian Tribun Medan. Bahkan, Arifin mengatakan gubernur juga melakukannya. Memang diaturan Harian Tribun Medan gelar tidak dimasukkan dalam penulisan nama kecuali Prof. Namun, yang seperti itu hanya butuh penjelasan dari pihak Harian Tribun Medan dan untuk selanjutnya tidak ada lagi yang protes.
Arifin mengatakan bila itu terjadi kesalahan yang memang fatal dan Harian Tribun Medan sendiri yang melakukan maka akan dibuat koreksi ditulis ulang dengan keterangan yang benar. Apabila hak jawab, maka akan dibahas terlebih dahulu di redaksinya, apakah hak jawab tersebut dinaikkan atau tidak. Karena, biasanya pada hak jawab narasumber seperti mengkonfirmasi, apabila konfirmasinya layak dan berkaitan dengan berita sebelumnya maka hak jawabnya ditanggapi dan dinaikkan. Hak jawab ini juga harus ditelaah terlebih dahulu, bisa saja hak jawab yang dimaksud narasumber sama dengan beritanya, hanya cara penyampaiannya yang berbeda.
Misalnya pemerintahan yang biasanya berfikirnya kaku, yaitu berita yang ada harus menggunakan kata-kata yang sama. Padahal, seringnya kata-kata pemerintahan itu adalah kata-kata yang sulit dipahami masyarakat dan tugasnya media lah yang membuat kata-kata tersebut mudah dimengerti oleh masyarakat. Untuk itu biasanya hak jawabnya tidak ditanggapi karena maksudnya sama, hanya mengubah gaya bahasa Harian Tribun Medan dengan gaya bahasa pemerintahan.
Saat ini, Arifin menjadi redaktur di desk olah raga. Selama menjadi redaktur Arifin mengaku memang ada beberapa kesulitan, namun biasanya masalah eksternal seperti narasumber yang tidak suka diberitakan makanya mengajukan protes, namun tidak membuat hak jawab. Misalnya, beberapa narasumber mengatakan mengapa berita yang buruk-buruk saja yang ditulis. Menurut Arifin, berita itu memang ada dan fakta, bukan sengaja diada-adakan atau dibuat-buat. Disatu sisi memang selalu ada narasumber yang seperti itu, sebenarnya semua media membutuhkannya, agar media tersebut tahu bahwa media mereka dibaca masyarakat.
Arifin bercerita pernah ada pemain Persatuan Sepak Bola Medan dan Sekitarnya (PSMS) yang memakan indomie, padahal menurut kebutuhan, mereka adalah seorang atlet yang harusnya memakan makanan yang bergizi. Namun, gaji mereka yang belum dibayar menjadi salah satu alasannya. Untuk itu, pemain PSMS meminta diberitakan terkait gaji yang belum dibayarkan. Ada sekitar 22 orang pemain PSMS yang belum digaji. Pihak menajemen PSMS pun protes dan tak suka terhadap pemberitaan tersebut. Harian Tribun
Medan coba menjelaskan bahwa seperti itulah keadaan yang sebenarnya. Lagipula pemain PSMS sendiri yang mengaku pada Harian Tribun Medan. Arifin tahu bahwa berita seperti ini dapat membuat sponsor tidak datang, sehingga manajemen panik karena dijelek-jelekkan. (Sambil tertawa) Arifin bilang, padahal apabila PSMS menang suatu laga atau dapat penghargaan tidak mungkin Harian Tribun Medan tidak memberitakannya.
Selama menjadi wartawan, Arifin sudah mencoba semua desk terkecuali ekonomi. Hal itu karena selalu ada rotasi di setiap desk, tak ada batasan waktunya. Maksimal satu tahun. Menurutnya, hal itu untuk menghindari wartawan nyaman disatu desk dan sudah terlalu kenal pada narasumbernya, karena kemungkinan wartawan bisa disuap oleh narasumber tersebut.
Sama seperti Yoenus, Arifin juga dikarantina selama tiga bulan semasa awal di Harian Tribun Medan. Pergi dari pukul 9 pagi dan pulang pukul 9 malam. Tak ada waktu untuk bermain-main. Di tiga bulan itulah mereka diajarkan untuk mengikuti ritme keseharian dan gaya penulisan Harian Tribun Medan, hal itu sudah menjadi harga mati. Berbeda bila sudah terjun kelapangan maka wartawan akan menyesuaikan diri dengan lapangan.
Arifin mengatakan penerapan hak jawab dan hak koreksi di Harian Tribun Medan sesuai dengan UU Pers. Menurutnya, semua media memang harus tunduk pada UU Pers tersebut. Untuk itu, Harian Tribun Medan membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin melayangkan protes apabila Harian Tribun Medan melakukan kesalahan. Sebenarnya, Arifin bilang tak semua media menerapkan hak jawab dan hak koreksi ini. Ada beberapa media yang tidak menggubris hal ini. Oleh sebab itu, Harian Tribun Medan yang interatif harus menerapkan hal tersebut.
Arifin mengatakan biasanya hak jawab dan hak koreksi yang diterima Harian Tribun Medan paling lama tiga hari atau seminggu. Namun, ada juga beberapa yang baru melayangkan hak jawab dan hak koreksi setelah dua minggu berita tersebut dinaikkan. Kalau sudah dalam waktu lama seperti itu, biasanya yang melayangkan protes adalah pihak yang tidak berkaitan.
Hak jawab dan hak koreksi ini biasanya menjadi tanggung jawab redaktur, namun yang mengetik ulang apabila ada kesalahan hak jawab adalah wartawan. Tak ada kesulitan dalam menerapkan hak jawab dan hak koreksi di Harian Tribun Medan, sebab narasumber diberi pilihan dalam mengajukan hak jawab dan hak koreksi tersebut. Bisa melalui SMS, surat, komentar, atau langsung datang ke Harian Tribun Medan. Sebelum hak jawab tersebut dinaikkan maka akan diadakan rapat terlebih dahulu. Keputusan rapat lah apakah hak jawab tersebut harus dikonfirmasi ulang atau tidak. Selain itu, hak jawab juga harus diperiksa
kembali bagian mana yang salah. Arifin mengaku cukup senang bila ada komentar, itu membuktikan bahwa media tersebut dibaca orang.
Sejauh ini, Arifin belum pernah melakukan hak jawab dan hak koreksi. Ia mengaku di desk Olah Raga cukup jarang ada hak jawab, seringnya di halaman satu. Memang, ada beberapa narasumber yang protes, namun tidak sampai dimuat hak jawab dan hak koreksi.
Hak jawab dan hak koreksi memiliki fungsi dan manfaat yaitu sebagai cara berinteraksi media dan masyarakat. Selain itu juga membuktikan diri bahwa Harian Tribun Medan merupakan media yang membuka diri kepada masyarakat umum. Salah satu contohnya yaitu hak jawab dan hak koreksi yang dilakukan Harian Tribun Medan secara terbuka. Semua