• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.2.1 Perspektif Fenomenologi

Fenomenologi adalah aliran atau paham yang menganggap bahwa gejala sumber pengetahuan dan kebenaran. Ia selalu berupaya ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep atau teori umum. (Maksun, 2008: 368).

IP Hinca (2004) mengatakan masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. Kegiatan dimaksud yaitu, memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan pers, dan menyampaikan usulan serta saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.

Berdasarkan pemaparan informan, peneliti menarik kesimpulan bahwa hak jawab dan hak koreksi yang diterapkan di Harian Tribun Medan sudah cukup baik. Ini terbukti dari keterbukaan dan kesiapan dari Harian Tribun Medan terhadap semua hak jawab dan hak koreksi yang diajukan masyarakat. Hak jawab dan hak koreksi yang diajukan masyarakat akan diproses cepat dan akan dimuat secepat-cepatnya dihalaman yang sama apabila hak jawab dan hak koreksi tersebut relevan. Meskipun, terjadi beberapa kelalain pada hak koreksi. Namun, menurut peneliti hal itu karena tak ada sanksi hukum yang tegas tentang hak koreksi dan kewajiban koreksi yang tercantum pada UU Pers. Apalagi, yang terjadi pada hak koreksi adalah narasumber yang protes atau komentar hanya sebatas formalitas, bukan untuk dimuat.

Pada dasarnya, hak jawab dan hak koreksi ini tentu penting untuk diterapkan, selain merupakan hak masyarakat, ini merupakan salah satu cara media untuk membuat citra media tetap baik di masyarakat serta menjaga kredibilitas media tersebut. Fenomena ini menunjukan bahwa dibalik perintah tegas yang tertulis dalam UU Pers untuk menerapkan hak jawab dan hak koreksi, adapula tujuan yang ingin dicapai media tersebut yaitu membangun citra positif media dengan melayani hak jawab dan hak koreksi dengan sebaik mungkin dan sesuai UU Pers. Misalnya, di Harian Tribun Medan selama ini bila ada hak jawab dan hak koreksi masuk akan dibahas terlebih dahulu apakah hak jawab dan hak koreksi itu berkaitan dengan berita sebelumnya dan siapa yang menyampaikan hak jawab dan hak koreksi tersebut. Kemudian, hak jawab yang akan dimuat akan dikonfirmasi ulang kepada penyampai hak jawab atau langsung ditulis poin perpoin seperti yang tertera di surat. Itu semua tergantung kebutuhan. Berdasarkan pemaparan informan hak jawab dan hak koreksi yang diterapkan di Harian Tribun Medan dimuat sesuai dengan UU Pers.

Dari hasil wawancara peneliti, ke tujuh informan sepakat bahwa hak jawab dan hak koreksi itu penting sebagai pertanggungjawaban media dengan apa yang telah media tersebut beritakan. Namun, sayangnya tak semua redaktur mengalami hak jawab dan hak koreksi ini. Tercatat ada dua redaktur yang tidak mengalaminya, yaitu Arifin dan Maulina. Walaupun tak mengalami secara langsung, mereka tetap mempunyai suara dalam memutuskan apakah hak jawab dan hak koreksi tersebut pantas dimuat atau tidak melalui rapat budgeting.

4.2.2 Komunikasi Massa

Dalam Nurudin (2003: 62) fungsi komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) antara lain adalah to inform (menginformasikan), to entertain (memberi hiburan), to persuade (membujuk), dan transmission of the culture (transmisi budaya). Untuk

itu, Harian Tribun Medan sebagai salah satu media massa yang menyampaikan komunikasi massa tersebut berupaya untuk memberikan fungsi tersebut kepada masyarakat.

Lazimnya, setiap media massa selalu memberikan informasi yang benar adanya. Hal ini pula yang dilakukan Harian Tribun Medan dengan menerapkan hak jawab dan hak koreksinya. Haerah mengatakan, sudah menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan berita fakta, untuk itu bila melalui hak jawab dan hak koreksi ada fakta lain yang terungkap maka hal itu harus dilakukan, sebab itulah salah satu fungsi dari hak jawab dan hak koreksi.

Sedangkan dalam fungsi mendidik Harian Tribun Medan pun menerapkannya melalui berita-berita inspiratif seperti berita-berita pada desk ekonomi. Ety juga mengatakan fungsi mendidik itu datang dari kata-kata dan kalimat yang digunakan Harian Tribun Medan dalam menulis atau mengkritik suatu berita. Dengan kata lain, kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang cenderung lebih sopan dan halus, bukan kata-kata kasar yang cenderung digunakan koran kuning.

Selain berita-berita yang berbau politik dan ekonomi, Harian Tribun Medan juga mempunyai berita-berita yang cenderung lebih soft dan menjadi hiburan masyarakat yaitu berita olah raga dan berita khusus seperti kuliner dan lifestyle. Sedangkan dalam fungsi transmisi budaya, diaplikasikan Harian Tribun Medan dengan menyajikan berita-berita yang bukan hanya berasal dari Medan, namun juga daerah seperti Langkat, Siantar dan binjai.

4.2.3 Kode Etik Jurnalistik

Dalam buku UU Pers dan Peraturan-Peraturan Dewan Pers (2012) dikatakan KEJ menjadi rambu-rambu pertama bagi wartawan dalam menentukan apa yang baik dan buruk dalam melaksanakan tugas jurnalistik, termasuk apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Maka pemahaman dan ketaatan terhadap KEJ tidak dapat ditawar-tawar. Nyatanya, dari sejumlah penelitian yang dilakukan berbagai lembaga yang berkaitan dengan pers menyimpulkan, hanya 20 persen wartawan yang pernah mempelajari KEJ. Hal ini tentu saja cukup memprihatinkan. Sebab, KEJ harus mendasari seluruh kerja jurnalistik yang dilakukan wartawan agar berita yang dihasilkan tidak berdampak buruk bagi masyarakat dan wartawan.

Berdasarkan pernyataan diatas, Yoenus mengatakan bahwa hak jawab dan hak koreksi penting adanya. Karena media yang ada sekarang tidak semua media profesional, tentu hal ini berhubungan dengan kualitas wartawannya. Hal yang sama juga dikeluhkan Truly, menurutnya salah satu kendala internalnya semasa menjadi redaktur adalah pengetahuan wartawan tentang KEJ yang rendah. Bahkan Truly mencontohkan ada wartwan yang menuliskan nama korban pemerkosaan, padahal dalam KEJ pasal 5 mengatakan wartawan

Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Walaupun tidak menyebutkannya, wartawan tersebut menuliskan alamat lengkap rumahnya. Menuru Truly, itu sama saja dengan menyiarkan identitasnya.

Yoenus berkata, bila seorang wartawan benar-benar melaksanakan KEJ pasal 1, dimana tertulis bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk, maka Yoenus meyakini hak jawab dan hak koreksi tersebut tidak akan terjadi. Kuncinya ada disitu. Memang, tak dipungkiri ada beberapa narasumber yang tak mengerti fungsinya sebagai penyampai informasi dan menjadi kendala tersendiri dari wartawan.

BAB V

Dokumen terkait