KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Interpretif
2.3.1 Komunikasi Massa
Pengertian komunikasi massa, pada suatu sisi adalah proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi lain diartikan sebagai bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak maupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara rentak dan sesaat.
Pengertian proses komunikasi massa pada hakikatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti, yang dilakukan melalui saluran (channel), biasanya dikenal dengan media printed (press), media auditif (radio), media visual (gambar, lukisan) atau media audio visual (televisi dan film). Yang dimaksud dengan media disini adalah alat yang digunakan untuk mencapai massa (sejumlah orang yang tidak terbatas) (Ardianto, 2004: 31-32).
Komunikasi massa mempunyai titik tekan dan bahasan sendiri. Misalnya, Wilbur Schramm (1958) dalam bukunya Introduction of Mass Communication Research menunjukan, beberapa penelitian yang dilakukan pada 1920-an dan 1930-an memusatkan perhatiannya pada analisis sejarah surat kabar dan majalah atau deskipsi interprestasi pesan media. Bahkan dalam jurnal ilmiah tetua komunikasi Journalism Quarterly dikemukan bahwa wilayah kajian jurnalistik dan komunikasi massa bisa ditekankan pada sejarah, hukum dan analisis isi media (Nurudin, 2003: 1-2).
Komunikasi massa adalah salah satu aktivitas sosial yang berfungsi di masyarakat. Robert K. Merton mengemukakan, bahwa fungsi aktivitas sosial memiliki dua aspek, yaitu fungsi nyata (manifest function) adalah fungsi nyata yang diinginkan, kedua fungsi tidak nyata atau tersembunyi (latent function), adalah fungsi yang tidak diinginkan (Bugin, 2008: 78). Sehingga pada dasarnya setiap fungsi sosial dalam masyarakat itu memiliki efek fungsional dan disfungsional.
Fungsi komunikasi massa di dalam masyarakat amatlah banyak, akan tetapi yang pada umumnya dinilai penting antara lain adalah fungsi surveillance (pengawasan). Bagi masyarakat, fungsi ini antara lain memberitahukan adanya bahaya atau bencana alam seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus dan sebagainya. Komunikasi massa dapat juga memberi atau meningkatkan status sosial anggota masyarakat karena mengetahui berbagai berita yang dimuatnya. Mereka yang mengetahui berita-berita aktual sudah tentu akan menjadi pusat perhatian lingkungannya. Komunikasi massa juga dapat dimanfaatkan oleh pemegang kekuasaan dalam rangka memonitor gejolak atau aktivitas masyarakat, sehingga lebih lanjut
dapat mengatur startegi yang sebaiknya diambil untuk mengendalikan mereka. Sebaliknya, komunikasi massa juga dapat menambah keyakinan kelompok-kelompok masyarakat untuk semakin yakin atas gerakan-gerakan yang diambil dan bergabung dengan kelompok lainnya.
Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa fungsi komunikasi massa, dapat juga negatif, misalnya saja dapat menimbulkan kegelisahan masyarakat karena adanya ancaman perang. Semakin tidak terkendalinya harga-harga pangan dari peredaran dan sejenisnya. Sementara itu, fungsi interprestasi dan preskripsi juga tak kalah pentingnya, terutama berita-berita tentang kejadian yang dapat menimbulkan dampak negatif dan membahayakan masyarakat. Ambillah sebuah contoh berita tentang penganiayaan mahasiswa oleh oknum aparat atau sebaliknya penganiayaan terhadap aparat oleh oknum mahasiswa (Fajar Marhaeni, 2009: 249).
Menurut Ardianto (2004: 48) komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Akan tetapi untuk mengetahui secara tepat dan rinci mengenai kekuatan sosial yang dimiliki oleh komunikasi massa dan hasil yang dapat dicapainya dalam menggerakkan proses sosial tidaklah mudah. Oleh karena itu, efek atau hasil yang dapat dicapai oleh komunikasi yang dilaksanakan media (lisan, tulisan, visual/audio visual) perlu dikaji melalui metode tertentu yang bersifat analisis psikologi dan analisi sosial.
Dalam komunikasi massa kita juga membutuhkan gatekeeper (pentapis infomasi atau palang pintu) yakni beberapa individu atau kelompok yang bertugas menyampaikan atau mengirimkan infomasi dari individu ke individu yang lain melalui media massa. Definisi yang dikemukan oleh Bittne di atas menekankan akan arti pentingnya gatekeeper dalam proses komunikasi massa. Inti dari pendapat itu bisa dikatakan begini, dalam proses komunikasi massa disamping melibatkan unsur-unsur komunikasi sebagaimana umumnya, ia membutuhkan peran media massa sebagai alat untuk menyampaikan atau menyebarkan informasi. Media massa tidak berdiri sendiri. Di dalamnya ada beberapa individu yang bertugas melakukan pengelolahan informasi sebelum informasi itu sampai kepada audience-nya. Mereka yang bertugas itu sering disebut gatekeeper. Jadi, informasi yang diterima audience dalam komunikasi massa sebenarnya sudah diolah oleh gatekeeper dan disesuaikan dengan misi, visi media yang bersangkutan, khalayak sasaran dan orientasi bisnis atau ideal yang menyertainya. Bahkan, sering pula disesuaikan dengan kepentingan penanam modal atau aparat pemerintah yang tidak jarang ikut campur tangan dalam sebuah penerbitan (Nurudin, 2003: 5-6).
Satu kenyataan yang tak terbantah dan sangat memengaruhi proses komunikasi dalam masyarakat modern sekarang ini adalah keberadaan media massa (cetak maupun elektronik).Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini. Bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Jika Anda hidup pada masyarakat modern seperti saat ini, akan sulit Anda menghindar dari peran media mulai dari bangun pagi sampai tidur di malam hari. Ketergantungan yang tinggi pada media massa tersebut akan mendudukkan media sebagai alat yang akan ikut membentuk apa dan bagaimana masyarakat.
Arti penting dari media massa, menurut Dennis McQuail (1987) dalam (Nurudin (2003: 31-32) pernah menyodorkan beberapa asumsi pokok:
1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lain yang terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya.
2. Media massa merupakan sumber kekuatan – alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.
3. Media merupakan lokasi (atau norma) yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
4. Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
Nurudin (2003: 8) mengatakanAlaxis S Tan (1981) mencoba untuk memberikan sifat khusus yang dipunyai oleh komunikasi massa. Ia memberikan ciri komunikasi massa dengan membandingkannya dengan interpersonal communication. “Jika kita bisa membedakan
komunikasi massa dengan interpersonal communication kita akan mengetahui apa itu komunikasi massa,” katanya.
Ciri khusus yang bisa membedakan keduanya terletak pada penerima pesannya (audience). Di awal perkembangannya, defenisi komunikasi massa sebagai sebuah studi ilmiah terletak pada mass society sebagai audience komunikasi. Konsep mass society ini memang istilah yang sering dipakai dalam lapangan sosiologi yang mendeskripsikan orang-orang institusi mereka dalam sebuah negara industri maju.
Kemudian istilah itu digunakan pula dalam komunikasi massa. Herbet Blumer (1939) kemudian menggunakan konsep ini (yang berasal dari mass society) untuk menyebutkan mass audience (penerima pesan dalam komunikasi massa). Yang disebut dalam penerima komunikasi massa itu paling tidak mempunyai heterogenitas susunan anggotanya yang berasal dari berbagai kelompok lapisan masyarakat, berisi individu yang tidak saling mengenal dan terpisah satu sama lain (tidak mengumpul) serta tidak berinteraksi satu sama lain pula dan tidak mempunyai pemimpin atau organisasi formal.
Bagi Nabeel Jurdi dalam bukunya Readings in Mass Comunnication (1983) disebutkan bahwa “in mass communication, there in no face-to-face contact (dalam komunikasi massa, tidak ada tatap muka antar penerima pesan).