BAB 3 : Perkara Hak Asuh Anak Pada Putusan MA Nomor 376 K/AG/2014
B. Data Wawancara Hakim Pengadilan Agama Surabaya
1. Hasil Wawancara terhadap Drs. Syaiful Iman, S.H., M.H
1. Aksesnya yang berkesempatan yang seluas-luasnya tidak mempermasalahkan gender. sehingga anatara laki-laki dan perempuan.
Mempunyai akses yang terbuka dan tidak tebang pilih antara laki perempuang untuk pengadilan dalam menerima perkara.
2. Menurut saya sudah cukup mumpuni. Hal ini didukuung dengan adanya tempat bermain untuk ibu dan anak. Lalu ada juga tempat ibu menyusui.
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hakim adalah Pertama untuk kepentingan anak sesuai dengan pasal 41 uu no. 1. Th 1974 yakni untuk kepentingan anak. Yang berbunyi ― ibu bapak mendidik anaknya sesusai dengan kepentingan anak‖. Yang kedua, untuk kebutuhan anak. Apakah anak itu sudah ada legal custody dan physical custody. legal custody itu tentang pendidikan, kesehatan terus biaya kehidupan. physical custody yakni kebutuhan anak yang bersifat primer yakni menyusui, mandi, makan, minum dan merawat diri dan mereka harus berjalan secara berimbangan. Untuk masalah orang tua, jika si ibu tidak terbuki melanggar pasal 49 UU No. 1 th 1974, yang berisi bahwa ibu dikatakan dapat dicabut kekuasaannya jika dianggap melalaikan anaknya. Jika si ibu tidak terbukti berkelakuan buruk maka ia tetap berhak untuk mengasuh anaknya sesuai dengan pasal 105 KHI. Menurut saya berkelakuan buruk yakni menelantarkan anak sehingga si anak terancam kehidupannya, memberikan contoh yang buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Seperti si ibu sering keluar malam ke diskotik, mabuk-mabukan. Jika dalam kasus perselingkuhan kita lihat dulu apakah perselingkuhan itu dapat menimbulkan penelantaran pada anak, maka itu termasuk dalam kategori perbuatan
44
buruk. Makanya kami bedakan saat memutus perkara hak asuh anak untuk anak dibawah 12 tahun apakah masih membutuhkan physical custody seperti menyusu. Sehingga saat ada kasus perselingkuhan meskipun pelaku adalah si ibu namun jika anak tersebut masih butuh susuan dari ibunya maka hak asuh anak akan kami berikan kepada ibunya. Kalau anak yang sekitar umur 10tahun sudah terlepas dari physical custody dari ibunya maka hak asuh dapat dipertimbangkan ke ayahnya. Namun, sebagian besar dari kami untuk masalah perselingkuhan tidak menjadi patokan karena tidak ada imbas terhadap kepentingan dari anak. Kalau perselingkuhan sampai ke perzinahan maka akan merusak moral anak. Namun tetap saja dilihat dari physical custody anak tetap terpenuhi. Berdasarkan yurisprudensi putusan MA 126K/Pdt.G/2001 pada tanggal 28 Agustus 2003 yaitu apabila terjadi perceraian anak yang dibawah umur pemeliharaannya seyogyanya diserahkan kepada orang yang paling dekat yakni ibunya. Namun, saya punya pertimbangan seperti saya pernah menangani kasus dimana sang ibu tidak layak. Seperti yang disebutkan di Pasal 49 UU No. 1/1974 bahwa salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaanya terhadap seorang anak apabia ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anak dan berkelakuan buruk sekali. Pasal ini pun diperkuat dalam kitab Kifayatul Ahyar juz 2 hal. 94 tentang syarat seorang yang akan melakukan hadhanah ada 7 macam, yakni merdeka, berakal, islam, menjaga kehormatan, amanah, tinggal di daerah baik dan tidak memiliki suami baru. Dalam aspek tersebut ada klausa menjaga kehormatan yakni iffah, kalau menurut saya batas dari iffah tersebut adalah berzina.
Sehingga perselingkuhan yang sampai kepada tindakan berzina dapat mencoreng iifah tersebut. Selanjutnya, dalam UU No. 23 tahun 2002 pasal 13, anak berhak untuk mendapatkan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi dan penelantaran. Sehingga jika perselingkuhan
45
menimbulkan penelantaran dapat hilang kemampuannya untuk mendapat hak asuh.
4. Menurut saya hal yang utama dalam pertimbangan untuk menentukan hak asuh anak adalah 1) kepentingan anak , 2) sebelum 12 tahun hak ibu, 3) jika ibu bekelakuan buruk sekali yang berpengaruh pada penelantaran anak maka hak asuh dapat jatuh ke ayah namun perlu dilihat lagi mengenai kebutuhan anak yang bersifat dasar yakni physical custody masih bergantung pada ibunya atau tidak (seperti menyusui) maka akan tetap ke ibu. Namun, jika kebutuhannya legal custody saja maka dapat jatuh ke ayah. MA pun tidak memberikan patokan yang pasti mengenai penentuan hak asuh anak ini, sehingga para hakim berijtihad sendiri untuk menentukan hal tersebut. Perlu dilihat apakah ibu memiliki sifat keibuan, sehingga sifat ini tidak melihat gender.
seperti kasus yang pernah saya tangani bahwa ibu sering keluar malam dan sang ayah membuatkan susu sejak bayi. Hal ini berhubungan dengan physical custody yang dipenuhi oleh ayahnya, sehingga saat itu saya berikan hak asuh ke ayahnya.
5. Sebelum memutuskan, kita identifikasi terlebih dahulu perselingkuhan tersebut apakah menyebabkan penelantaran atau tidak. Untuk penyebab perselingkuhan tidak perlu diselidiki apalagi jika perselingkuhan hanya berdasarkan kabar mulut ke mulut yakni testimonium diauditu. Menurut saya perselingkuhan hanya berhubungan dengan etika, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kebutuhan anak tentang phisical custody.
Selanjutnya, untuk menimbang siapa yang berhak mendaptkan hak asuh anak, saya lebih kepada melihat umur anak tersebut. Serta, menurut saya perlu melihat ke pasal 49 UU 1/1974 kalau kelakuan buruk sebagai watak atau tidak yang mengakibatkan penelantaran, pasal 13 UU Perlindungan anak 2003. Karena saya menganggap bahwa perselingkuhan bisa terjadi juga karena kehiklafan semata sehingga
46
dapat diampuni. Seperti dalam hadist yang saya yakini ،ٌءاَّطَخ َمَدآ يِنَب ُّلُك َنوُبا َّوَّتلا َنيِئاَّطَخْلا ُرْيَخ َو bahwa ‖Seluruh anak Adam itu bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah meraka yang senantiasa bertaubat‖
6. Menurut saya merujuk pasal 49 UU 1/1974 Hak asuh anak dapat jatuh ke kekuasaan ayah apabila sang ibu mealalaikan kewajiban terhadap anaknya. Menurut pasal tersebut pun dijelaskan jika ibu tidak berkelakuan baik atau berkelakuan buruk sekali maka dapat menggugarkan haknya untuk mengasuh anaknya. Selanjutnya dikuatkan dalam pasal 13 ayat (1) UU No. 23/2002 tentang Perlindungan anak bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi baik secara ekonomi mapupun seksusal, penelentaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidakadilan serta perlakuan salah lainnya. Jadi, menurut saya hak asuh tidak mutlak jatuh ke ibu seperti yang tertera dalam pasal 105 KHI (Kompilasi Hukum Islam).
7. Menurut kami sebagai praktisi hukum, kita hanya tau bahwa keterangan saksi itu bertentangan satu sama lain. Untuk pengakuan palsu itu diluar ranah hakim hal ini disebabkan adanya asas ―nahnu nahkumu bi aldhawahir wa Allahu yatawalla al-sarair‖ yang artinya bahwa kita menghukum apa yang tampak dan Allah menentukan apa yang tersembunyi dalam hati. Sehingga, semisal terdapat pengakuan palsu, kita hanya akan meneliti bukti-bukti apa saja yang ada di muka muka persidangan tersebut.
8. Menurut saya kadar toleransi perilaku ibu adalah asal ibu tidak menelantarkan anak dan tidak merusak moralitas anak. Menurut saya pribadi penelantaran hidup anak terjadi saat usia dibawah 5 tahun sedangkan untuk perusakan moral diatas 5 tahun. Alasan saya menggunakan patokan umur 5tahun adalah karena pada umur 5tahun itu anak sudah mampu dan mengerti dengan lingkungan sekitar serta bisa
47
merekam memori. Sehingga selama kedua hal tersebut tidak dilanggar maka saya lebih condog menjatuhkan hak asuh anak ke ibunya.