BAB 3 : Perkara Hak Asuh Anak Pada Putusan MA Nomor 376 K/AG/2014
C. Sensitivitas Gender dalam Putusan MA Nomor 376/K/AG/2014 tentang
Sensitivitas gender merupakan suatu kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melihat dan menilai hasil pembangunan dan aspek kehidupan lainnya dari perspektif gender, disesuaikan dengan kepentingan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.84 Sensitivitas gender menuntut kepekaan hakim untuk memberikan perlakuan yang adil non diskriminatif terhadap laki-laki dan perempuan. Ketika budaya sosial menempatkan perempuan pada posisi yang lemah dan terpinggirkan, maka menjadi tugas dan tanggung jawab hakim untuk mengentaskan mereka dari keterpurukan agar memperoleh kedudukan yang setara dan adil dengan laki-laki.
Menurut Mukti Arto,85 seorang hakim melalui putusan-putusannya berperan melakukan pembaruan dan terobosan hukum guna memberi perlindungan hukum dan keadilan kepada kaum perempuan sebagai pihak yang lemah dan terpinggirkan, hakim harus memilki sensitivitas gender demi keadilan. Perkara hak asuh anak merupakan perkara yang erat kaitannya dengan relasi rumah tangga dan gender, sehingga untuk menyelesaikan dan menentukan pembagian masing-masing pihak, diperlukan sikap sensitif gender agar menghasilkan sebuah keputusan yang berkeadilan gender.
84 Sundari Sasongko, ―Konsep dan Teori Gender‖, Dokumen Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), hal. 9
85 Mukti Arto, Pembaruan Hukum Islam Melalui Putusan Hakim, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2015), Hal. 260.
62
Selanjutnya, untuk melihat sikap sensitivitas gender yang dimiliki oleh hakim, peneliti menggunakan parameter yang dapat digunakan untuk mengukur sensitivitas gender para hakim dalam memerikasa dan memutus perkara yang tekait dengan persoalan keluarga. Parameter ini disusun oleh sejumlah hakim di Mahkamah Syar‘iyah Aceh setelah mereka mengikuti training sensitivitas gender dan pendalamannya. Parameter ini semula bersifat kontekstual yang relevansinya hanya dapat digunakan oleh Mahkamah Syar‘iyah Aceh. Namun, secara umum parameter ini dapat diadopsi dan diadaptasikan kedalam konteks lain diluar provinsi Aceh dengan sedikit revisi yang disesuaikan dengan perkembangan pemikiran hukum.86
PARAMETER HAKIM BELUM SENSITIF GENDER DAN HAKIM TELAH SENSITIF GENDER
Hakim belum Sensitif Gender Hakim Telah Sensitif Gender Memandang relasi antara suami isteri
merupakan sesuatu yang statis dimana isteri diberi tanggung jawab untuk mengurus rumah tangga tanpa diberi kesempatan untuk memilih kegiatan lain
Memandang relasi antara suami isteri merupakan sesuatu yang dinamis dengan tujuan menciptakan keluarga yang sejahtera tanpa penindasan;
mengakui bahwa dalam keluarga ada pembagian kerja yang bisa dibicarakan.
Memandang isteri bukan sebagai mitra dalam membina rumah tangga melainkan bawahan dalam membina kehidupan berkeluarga
Memandang isteri sebagai mitra dalam membina rumah tangga (Mu’asaroh Bil Ma’ruf) dan bukan sebagai bawahan suami
Memandang bahwa karena perempuan yang tidak bekerja diluar rumah, hanya
Memandang bahwa peran mengelola rumah tangga sama pentingnya dengan
86 Ibid. Hal. 260
63 sebagai ibu rumah tangga, maka isteri dianggap tidak memiliki andil dalam mencari nafkah.
mencari nafkah, dan kontribusinya dalam mengelola rumah tangga dapat dinilai sama dengan mencari nafkah.
Memandang isteri kurang layak bertindak sebagai subjek hukum
Memandang isteri layak bertindak sebagai subjek hukum
Memandang isteri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam mengasuh, merawat dan membesarkan anak
Menganggap suami isteri sebagai pihak yang sama-sama bertanggung jawab dalam mengasuh, merawat dan dianggap sebagai peran tambahan, sementara wilayah tugas dan kewajiban suami berada diluar rumah.
Memiliki presepsi bahwa wilayah tugas dan kewajiban isteri bukan hanya didalam rumah, begitu sebaliknya wilayah tugas dan kewajiban suami tidak hanya diluar rumah.
Memandang bahwa isteri tidak layak diberi kepercayaan untuk memelihara harta suami.
Isteri diberi kepercayaan untuk menjaga harta yang diperoleh dalam perkawinannya dan diberi wewenang untuk memutuskan dalam pemanfaatan harta bersama.
Menilik dari parameter hakim yang telah sensitif gender dan hakim yang belum sensitif gender, didapatkan pemahaman bahwa hakim-hakim yang memutus perkara hak asuh anak sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai Gender.
meskipun terdapaat perbedaan dalam pertimbangan putusan di tingat pertama dengan tingkat banding. Hal ini terlihat bahwa hakim telah memandang relasi suami dan isteri merupakan mitra untuk menciptakan keluarga yang sejahtera. Istri juga layak
64
bertindak sebagai subyek hukum dengan dibuktikan pengajuan gugatan dan kasasi yang dilakukan oleh pihak istri. Dalam permasalahan hak asuh anak, kedua belah pihak juga memiliki kewajiban yang sama dalam mengasuh, merawat dan membesarkan anak.
65
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Mengenai Sensitivitas Gender dalam Perkara Hak Asuh Anak yang telah penulis paparkan dalam penulisan ni yaitu dalam putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 penulis dapat menyimpulkan :
1. Penulis menyimpulkan bahwa hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 dengan menggunakan data hasil dari wawancara pribadi kepada hakim di Pengadilan Agama Surabaya sudah sensitif gender. Meskipun muncul perbedaan pendapat, namun terdapat kesamaan dalam faktor yang menentukan seorang orang tua berhak untuk mengasuh anaknya. Faktor tersebut tidak semerta-merta ditentukan oleh jenis kelamin, sebab pada dasarnya antara laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama. Namun, penyerahan hak asuh anak yang kurang dari 12 tahun atau masih kecil lebih berhak ke ibunya. Hal ini disebabkan adanya kebutuhan biologis dari seorang ibu yang dibutuhkan oleh anak salah satunya adalah ASI. Pernyataan ini didukung oleh teori Feminisme Liberal bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan, namun tetap menolak penyamaan menyeluruh yang berkaitan dengan fungsi organ reproduksi yang berimbas memiliki konsekuensi logis didalam masyarakat.
2. Penulis menyimpulkan bahwa pertimbangan-pertimbangan yang dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 memiliki perbedaan di tingkat pertama dan
66
banding. Pada tingkat pertama, hakim mempunyai Argumentasi Yuridis yakni azas lex superior derogat legi inferior, yang berarti aturan yang lebih tinggi harus didahulukan pemberlakuannya daripada aturan dibawahnya.
Standar mengenai kepentingan anak diatur dalam UU sedangkan KHI pemberlakuannya didasarkan pada Inpres no 1 Tahun 1991. Selanjutnya adanya Argumentasi Sosiologis, dimana anak dipandang sebagai subyek yang bisa berinteraksi secara sosial dan anak masih memiliki masa depan yang panjang, menurut rasa keadilan, maka yang harus dipegang adalah kepentingan anak. Standar ini tidak menjadikan kedudukan jenis kelamin sebagai sebuah pertimbangan dasar dalam menentukan hak asuh anak. Hal ini sejalan dengan teori Feminis Liberal yang menyatakan bahwa memang pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga dapat dikatakan mereka berdua mempunyai hak yang sama, yang mana dalam hal ini adalah dalam pengasuhan anak. Selanjutnya, Hakim pada tingkat banding lebih condong mempertimbangkan bahwa anak yang belum mumayyiz lebih berhak untuk diasuh oleh ibunya. Menurut penulis pemikiran ini menunjukkan bahwa hakim memikirkan bahwa kasih sayang yang diperlukan oleh anak lebih layak untuk diberikan kepada sang ibu. Hal ini bisa dilatarbelakangi oleh teori Struktural fungsional yang mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan menentukan keragaman fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Struktur dan fungsi dalam sebuah organisasi ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya, norma, dan nilai-nilai yang melandasi sistem masyarakat. Ibu dipandang sebagai insan yang mempunyai fungsi dimana terbentuk secara struktur untuk hal-hal yang berurusan dengan reproduksi salah satunya adalah menyusui. Dalam masyarakat umum stratifikasi peran gender ini sangat ditentukan oleh jenis kelamin.
67
3. Penulis menyimpulkan bahwa putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah memiliki sensitivitas gender. Hal ini terlihat dari parameter hakim yang telah sensitif gender dan hakim yang belum sensitif gender, didapatkan pemahaman bahwa hakim-hakim yang memutus perkara hak asuh anak sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai Gender. meskipun terdapaat perbedaan dalam pertimbangan putusan di tingat pertama dengan tingkat banding. Hal ini terlihat bahwa hakim telah memandang relasi suami dan isteri merupakan mitra untuk menciptakan keluarga yang sejahtera. Istri juga layak bertindak sebagai subyek hukum dengan dibuktikan pengajuan gugatan dan kasasi yang dilakukan oleh pihak istri. Dalam permasalahan hak asuh anak, kedua belah pihak juga memiliki kewajiban yang sama dalam mengasuh, merawat dan membesarkan anak.
B. Saran
1. Seluruh lembaga Peradilan khususnya Pengadilan Agama, diharapkan meningkatkan kepedulian terhadap program dan pelatihan yang berkaitan dengan Gender. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan sikap Sensitivitaas Gender pada penegak hukum di Indonesia.
2. Bagi pemegang kebijakan dan penegak hukum, diharapkan juga memiliki keinginan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman tentang gender serta memiliki keberanian untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam pertimbangan hukum di setiap perkara yang memiliki keterkaitan terhadap gender.
3. Lembaga pemerintahan diharapkan melakukan peningaktan terhadap pelatihan berbasis gender, termasuk didalamnya adalah para mahasiswa sebagai calon penegak dan pemegang kebijakan hukum.
68
Daftar Pustaka
———. Metodologi Riset. Yogyakarta: PT Prasetya Widya Pratama, 2000.
Abdulkadir, Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti, t.t.
Arto, Mukti. Pembaruan Hukum Islam Melalui Putusan Hakim, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2015.
Azisah, Siti. dkk. Kontekstualisasi Gender Islam dan Budaya. Seri KUM Alauddin Makassar, 2016.
Bachri, Bachtiar S. Meyakinkan Validitas Data Melalui Triangulasi Pada Penelitian Kualitatif, Universitas Negeri Surabaya.
Bahdar Johan Nasution & Sri Warijati, Hukum Perdata Islam, cet 1, Bandung; CV.
Mandar Maju 1997.
Barlas, Asma. Cara Qur‘an Membebaskan Perempuan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006.
Bintania, Aris. Hukum Acara Peradilan Agama dalam Kerangka Fiqh al-Qadha Jakarta: PT Raja Grafindo, 2012.
Dwi Hadya, Jayani. Ramai RUU Ketahanan Keluarga, Berapa Angka Perceraian di Indonesia?, 2020. https://databoks.katadata.co.id/.
Gani, Abdullah. dan Abdul. Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia,. Jakarta: Gema Islam Press, 1994.
Hasan: HR. Ahmad (III/198); at-Tirmidzi (no. 2499); Ibnu Majah (no. 4251) dan al-Hakim (IV/244) , dari Sahabat Anas bin Malik RA. Ihat Shahih al-Jami‘ish Shaghir (no. 4515)
Hifni, Muhammad. Hak Asuh Anak Pasca Perceraian Suami Istri Dalam Perspektif Hukum Islam. Banten: Tesis IAIN SMH Banten, 2016.
Huang, Ayat Hidayat. Metode Analisis Data. t.t. https://www.en.globalstatistik.com/.
Manan, Abdul. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradian Agama (Depok: PT Kharisma Putra Utama, 2017)
69
Mansari. ―Pertimbangan Hakim Memberikan Hak Asuh Anak Kepada Ayah: Suatu Kajian Empiris Di Mahkamah Syar‘iyah Banda Aceh.‖ https://jurnal.ar-raniry.ac.id/, 2016.
Mansour Fakih. 1996.Analisis Gender & Transportasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Mardini, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, cet 5
Marzuki, Abdul Ghofur. Gender dalam Prespektif Kesetaraan dan Keadilan. Musawa Vol. 3, No. 2. 2011.
Marzuki. Kajian Awal Tentang Teori-Teori Gender. Universitas Negeri Yogyakarta, t.t.
Marzuki. Studi tentang Kesetaraan Gender dalam Berbagai Aspek, t.t.
Newman, Metodologi Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, Jakarta: 2013
Ningsih, Fajria. Pro kontra Gugur Tidaknya Hak asuh anak karena pernikahan Ibu.
Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2017.
Nyoman Sukerti dan Ayu Agung Ariani, Buku Ajar Gender dalam Hukum Tabanan Bali: Putaka Ekspresi, 2016.
Rosyid, Roihan A. Hukum Acara Peradilan Agama. Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
Sanjaya`, Umar Haris. Keadilan Hukum Pada Pertimbangan Hakim Dalam Memutus Hak Asuh Anak. Surabaya: Yuridika, 2015.
Sasongko, Sundari. Konsep dan Teori Gender. Dokumen Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Shihab, Quraisy. Tafsir Al-Mishbah Volume 1. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Soedarwo, Vina Salviana D. Sosiologi Gender. Jakarta: Universitas Terbuka, 2010.
Soejono, dan Abdurrahman. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan.
Jakarta: Remika, 1999.
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan, cet 1, Yogyakarta;
Liberty, 1997.
Soetojo P, Pluralisme dalam Perundang-undangan Perkawinan Indonesia, Cet 3, Bandung; Airlangga University, 1994.
70
Soetojo P. Pluralisme dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia,cet 1, Bandung: Rosdakarya, 1990.
Sukerti, Nyoman, dan Ayu Agung Ariani. Buku Ajar Gender dalam Hukum. tabanan bali: putaka ekspresi, 2016.
Suryadi, Ace dan Banu Pratitis. Analisis Gender Dalam Pembangunan Pendidikan.
BAPPENAS, 2001.
Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2006.
Tierney, Helen. Women‘s New World Dictionary. New York: Webster‘s New World Clevenland, 1984.
Triana, Windy, dan Milah Karmilah. Gender Awareness in Islamic Legal Education, 2019.
Tumanggor, Merry Indah Christanty. Analisis Hukum Terhadap Perlindungan Hak Asuh Anak (Studi Putusan No. 2738/Pdt.G/2018/PA. Kab.Kdr), Universitas Sumatera Utara: 2020.
Umar N, Argumen Kesetaraan Jender: Prespektif Al-Qur‘an, (Jakarta: Paramadina 1999)
UU no. 7 Th. 1989 Tentang Peradilan Agama, t.t.
Yusuf, Muri. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan.
Vol. Cetakan 3. Jakarta: Prenamedia, 2016.
Zamahsyari, Ahmad. Pelimpahan Hak Asuh Anak kepada Bapak. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.
71
LAMPIRAN - LAMPIRAN
72
73
74