• Tidak ada hasil yang ditemukan

SENSITIVITAS GENDER HAKIM DALAM PERKARA HAK ASUH ANAK (Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SENSITIVITAS GENDER HAKIM DALAM PERKARA HAK ASUH ANAK (Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014)"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

i

SENSITIVITAS GENDER HAKIM DALAM PERKARA HAK ASUH ANAK (Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh :

MADEWI NABILA DZATIDDINI 11170440000033

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1441 H/ 2020 M

(2)

ii

SENSITIVITAS GENDER HAKIM DALAM PERKARA HAK ASUH ANAK (Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)

Oleh:

MADEWI NABILA DZATIDDINI

NIM: 11170440000033 Dibawah bimbingan

MU’MIN ROUP, MA

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/ 2021 M

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

ABSTRAK

Madewi Nabila Dzatiddini. NIM 11170440000033. SENSITIVITAS GENDER HAKIM DALAM PERKARA HAK ASUH ANAK (Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014). Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/2021 M.

Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan tentang a) Sensitivitas gender hakim dalam memutus perkara hak asuh anak dalam Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014, b) Pertimbangan apa saja yang dijadikan hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014, c) Melihat Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah sensitif gender atau tidak.

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif sedangkan pendekatan penelitian normatif empiris dengan sumber data utama pada Putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 dan triangulasi data berupa wawancara, studi literatur, jurnal serta situs yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa a) Hakim dalam memutus perkara hak asuh anak dalam putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 sudah sensitif gender.

Meskipun muncul perbedaan pendapat, namun terdapat kesamaan dalam faktor yang menentukan seorang orang tua berhak untuk mengasuh anaknya. Penelitian ini mendukung pendapat Naomi Wolf (1990), bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan, namun tetap menolak penyamaan menyeluruh yang berkaitan dengan fungsi organ reproduksi yang berimbas memiliki konsekuensi logis di dalam masyarakat. b) Pertimbangan-pertimbangan yang dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara hak asuh anak dalam putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 memiliki perbedaan di tingkat pertama dan banding, c) bahwa putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah memiliki sensitivitas gender. Hal ini terlihat dari parameter hakim yang telah sensitif gender dan hakim yang belum sensitif gender, sehingga didapatkan pemahaman bahwa hakim-hakim yang memutus perkara hak asuh anak sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai Gender.

Kata Kunci: Hak Asuh Anak, Putusan, Sensitivitas Gender Pembimbing: Mumin Roup, MA.

Daftar Pustaka: 1984 s.d 2020

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, yang telah memberikan rahmat dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul. Sensitivitas Gender Hakim Dalam Perkara Hak Asuh Anak (Putusan MA Nomor 376 K/Ag/2014). Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa ummatnya menuju jalan yang lurus dan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Dalam Penyelesaian skripsi ini banyak hambatan yang datang silih berganti.

Namun berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak maka penulis dapat melewati semuanya tentuanya dengan izin yang Maha Kuasa. Oleh karena itu penulis merasa perlu mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, M.A., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Berikut Para Wakil Dekan I, II, Dan III Fakultas Syariah dan Hukum.

3. Dr. Mesraini, M.Ag., Dan Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum.

4. Mu‘min Roup, MA., selaku dosen pembimbing yang selalu siap sedia dan tak kenal lelah membimbing dan senantiasa mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini, serta menjadi kebangga tersendiri kepada penulis karena telah dibimbing oleh orang hebat seperti beliau.

5. Dr. Masyrofah, S.Ag., M.Si dan Dr. Mesraini, M.Ag., selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan untuk penyempurnaan sistematika penulisan skripsi ini.

(7)

vii

6. Kedua orang tuaku, teruntuk mamaku tersayang Dra. Umu Chabibah yang mendampingi dan memberikan dukungan kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini. Serta ayahku tercinta Alm. Drs. Masugi Mufassir yang telah mendidik dan berjuang untuk kelangsungan pendidikan selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan studi. Tidak lupa terhadap keluargaku yang telah mendoakan dan memberikan dukungan kepada penulis sehingga dimampukan untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Para dosen Fakultas Syariah dan Hukum, yang telah memberikan ilmu dan berbagi pengalamannya sehingga dapat menambah pengetahuan dan pola pikir penulis.

8. Kepala Pengadilan Agama Surabaya dan Hakim Pengadilan Agama Surabaya Drs. Syaiful Iman, S.H., M.H., Dra. Hj. Dzirwah dan Hj. Siti Aisyah. S.Ag., M.H. yang bersedia membantu dalam penelitian ini baik memberikan informasi berupa data maupun wawancara.

9. Keluarga Besar Hukum Keluarga Angkatan 2017.

10. Semua Manusia yang berarti bagi penulis khususnya Raditya Nugroho, Jenzyua Ammadeas, Rania Amalia, Dhea Indy, Resti Safitri, Rosedah SM, Aisy, Yanie, Chanifatur, Dimas Wahyudi, Gika Zanuar, Kevin Dio, Vanny Fadzillah, Nur Laila, Lailaturrizkiyah, Peppy Apriliani, Kamal Arsyad, Virgi Andika, Imam Afwa, Hafiz Akbar, Alvarez, Ananda Putri, Yohana Juwandini, Siti, Fiftahul Rizki, Waya dan teman-teman lainnya.

Jakarta, 12 April 2021

Penulis

(8)

viii

HALAMAN ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

BAB 1 : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Batasan Masalah ... 6

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

F. Kajian Pustaka ... 7

1. Kajian Terdahulu ... 7

2. Kerangka Teoritis ... 11

a. Teori Struktural Fungsional ... 11

b. Teori Sosial-Konflik ... 12

c.Teori Feminis Liberal ... 13

d. Teori Feminisme Marxis – Sosialis ... 13

e. Teori Feminisme Radikal ... 14

f. Teori Psikoanalisa ... 14

3. Kerangka Konseptual ... 14

G. Metode Penelitian ... 15

1. Jenis Penelitian ... 16

2. Pendekatan Penelitian ... 16

(9)

ix

a. Normatif Empiris ... 16

b. Satute Aprroach ... 17

3. Pengumpulan Data ... 17

a. Sumber Data ... 17

b. Teknik Pengumpulan Data ... 18

4. Metode Analisis Data ... 18

5. Teknik Penulisan ... 19

H. Sistematika Penulisan ... 19

BAB 2 : Hak Asuh Anak dan Gender A. Hak Asuh Anak Dalam Hukum Materiil dan Formil ... 21

B. Gender dan Keadilan Hukum ... 26

1. Definisi Gender dan Sensitif Gender ... 26

2. Sejarah Gerakan Gender Dunia dan Indonesia ... 28

3. Teori Keadilan Hukum dan Gender ... 32

BAB 3 : Perkara Hak Asuh Anak Pada Putusan MA Nomor 376 K/AG/2014 A. Deskripsi Putusan tentang Hak Asuh Anak Pada Putusan MA Nomor 376 K/AG/2014 ... 35

B. Data Wawancara Hakim Pengadilan Agama Surabaya ... 42

1. Hasil Wawancara terhadap Drs. Syaiful Iman, S.H., M.H ... 43

2. Hasil Wawancara terhadap Dra. Hj. Dzirwah ... 47

3. Hasil Wawancara terhadap Hj. Siti Asiyah. S.Ag., M.H. ... 49 BAB 4 : Analisis Sensitivitas Gender Hakim Pada Perkara Hak Asuh Anak Pada

Putusan Ma Nomor 376 K/Ag/2014

A. Sensitivitas Gender Hakim Pengadilan Agama Surabaya dalam Memutus Perkara Hak Asuh Anak sesuai Putusan Ma Nomor 376 K/Ag/2014 52

(10)

x

B. Analisis Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Surabya dalam Memutus Perkara hak Asuh Anak pada Putusan MA Nomor 376

K/AG/2014 ... 58

C. Sensitivitas Gender dalam Putusan MA Nomor 376/K/AG/2014 tentang Perkara Hak Asuh Anak ... 61

BAB 5 : PENUTUP A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

LAMPIRAN ... 72

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pengasuhan anak pada dasarnya merupakan hak ibu apabila si anak belum mencapai usia yang cukup mampu membedakan yang baik dan yang buruk atau mumayyiz.1 Saat penetapan perkara hak asuh anak, Hakim pun kerap menjadikan KHI sebagai pedomaan tunggal dalam memutuskan perkara.2 Hal ini karena KHI mengatur secara definitif tentang hak asuh anak yang memudahkan para hakim. Meskipun, hak asuh anak umumnya milik ibu tapi terdapat indikator-indikator yang dapat menggugurkan hak ibu untuk mengasuh anak. Sehingga tidak serta merta hak asuh diberikan kepada ibu. Seperti yang terjadi dalam putusan MA nomor 376 K/Ag/2014, di dalam putusan tersebut hak asuh ditetapkan hanya pada ibu meskipun adanya beberapa bukti yang menunjukkan bahwa si ibu memiliki beberapa hal yang dapat menggugurkan haknya untuk mengasuh anak. Seperti tabiat sang Ibu yang melakukan zina dan berselingkuh dengan pria lain. Sensitivitas mengenai gender tentunya diperlukan hakim agar dapat memutuskan perkara hak asuh anak agar berkeadilan gender.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hampir dari sejuta pasangan, yakni sebanyak 408.202 kasus pada 20183, di Indonesia bercerai. Tentu saja hal ini

1 Lihat Kompilasi Hukum Islam, pasal 105 poin (a)

2 ‘Perindungan Hak-Hak Anak di Peradilan Agama‘, Majalah Peradilan Agama edisi 9 Juni 2016

3 Jayani Dwi Hadya, ―Ramai RUU Ketahanan Keluarga, Berapa Angka Perceraian di Indonesia?‖ 2020, https://databoks.katadata.co.id/. Diakses pada 3 Mei 2020

(12)

2

menimbulkan dampak hukum. Salah satunya yang menyangkut hak asuh anak.4 Kewajiban mengenai hak asuh anak tertuang pada UU No. 16 Tahun 2019 sebagai perubahan terhadap UU No. 1 Tahun 1974 mengenai Perkawinan. Dalam beberapa pasal, UU ini telah mengatur mengenai hak asuh anak apabila terjadi perceraian diantara pasangan suami dan istri. Diantaranya adalah pasal 45 ayat (2), KHI pasal 98, dan pasal 105. Dengan adanya pasal ini diharapkan anak dapat hidup sejahtera dan tumbuh sebagaimana mestinya meskipun kedua orang tuanya telah berpisah.

Pemikiran mengenai hak asuh mutlak pada Ibu didasarkan kecenderungan bahwa Ibu dianggap lebih mampu untuk mengasuh anak karena memiliki sifat keibuan, lemah lembut, mampu mengasuh, memegang ranah domestik dan lain sebagainya. Seakan sifat-sifat tersebut hanya melekat pada diri seorang perempuan yakni Ibu. Padahal pemikiran tersebut tidak mutlak selalu demikian. Pemikiran tersebut tentu saja terbentuk oleh struktur budaya yang ada. Menurut para sosiolog dan psikolog bahwa pengertian ke dalam pembagian ‗masculine‘ dan ‗feminine‘ melalui atribut-atribut yang melekat secara sosial dan psikologi sosial, banyak sosiolog yang menekankan bahwa diskursus tentang ini digunakan ketika diciptakan pembagian secara sosial dalam masyarakat ke dalam kategori siapa yang ‗masculine‘ dan siapa yang

‗feminine.‘5 Yang kita sebut dengan Gender.6 Didalam Women’s Studies Encyclopedia juga dijelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep kultural yang berkembang pada masyarakat dan membuat adanya perbedaan dalam hal peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan.7

Padahal yang mutlak melekat pada diri laki-laki dan perempuan adalah seks yang berhungan dengan alat reproduksi. Manusia berjenis kelamin laki-laki adalah manusia yang memiliki sifat seperti, manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (kalamenjing) dan memproduksi sperma. Kaum perempuan memiliki alat reproduksi

4 Windy Triana dan Milah Karmilah, Gender Awareness in Islamic Legal Education, 2019.

5 Vina Salviana D. Soedarwo, Sosiologi Gender (Jakarta: Universitas Terbuka, 2010).

6 Helen Tierney, Women’s New World Dictionary (New York: Webster‘s New World Clevenland, 1984).

7 Tierney. h., 561

(13)

3

seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki alat vagina dan mempunyai alat menyusui, artinya alat-alat tersebut sepanjang kehidupan manusia akan terus melekat pada manusia berjenis kelamin baik laki-laki maupun pada jenis kelamin perempuan, alat-alat ini tidak dapat diubah dan dipertukarkan karena ini merupakan ketentuan biologi yang merupakan ketentuan Tuhan atau kodrat.8

Pada putusan putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 telah ditetapkan bahwa permohonan kasasi oleh CHD bin BS ditolak. Penolakan ini berdasarkan pertimbangan bahwa alasan pemohon kasasi tidak dapat dibenarkan, karena judex factie tidak keliru dalam menetapkan hukum, peggugat dapat membuktikan dalil gugatan berkenaan adanya percekcokan sebab penggugat yang menjalin hubungan dengan pria lain, usaha untuk mendamaikan penggugat dan tergugat tidak berhasil sehingga memenuhi pasal 39 ayat (2) UU no. 1 Tahun 1974 jis. Pasal 19 huruf (f) PP Nomor 9 Tahun 1975 dan pasal 116 huruf (f) KHI, alasan lainnya adalah mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan tingkat kasasi. Pertimbangan pengambilan keputusan sebagian besar membahas mengenai keabsahan untuk melakukan gugatan perceraian. Namun, perlu diketahui bahwa pembahasana mengenai hak asuh anak tidak disinggung dalam pertimbangan pengambilan keputusan tersebut. Meskipun sebagian besar alasan-alasan yang diajukan pemohon kasasi ialah mengenai hak asuh anak. Padahal hakim diharapkan agar bisa memutus perkara dengan hukum dan keadilan masyarakat.9

Dalam keluarga, peran dan posisi Peran dan posisi sebuah rumah tangga selalu dikatakan bahwa seorang laki-laki/suami memiliki peran sebagai pencari nafkah dan memiliki kewajiban untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, sedangkan seorang perempuan/isteri berperan sebagai ibu rumah tangga yang

8 Soedarwo, Sosiologi Gender. h., 1.3

9 Pasal 27 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970

(14)

4

memiliki kewajiban untuk mengurus keperluan rumah tangga mulai dari keperluan anak, suami, dan sebagainya. Padahal peran untuk merawat dan mengurus keperluan anak bukanlah hal yang bersifat baku, namun dapat berubah dan berganti sesuai dengan keadaan keluarga. Bahkan seringkali pekerjaan mengurus dan memenuhi keperluan anak dibebankan pada salah satu pihak saja. Padahal seharusnya keduanya memiliki andil tanggung jawab yang sama serta saling bekerjasama. Seperti yang ada pada surat al-Baqarah (233) ‗Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan‘. Dalam ayat ini menjelaskan mengenai perintah kepada ibu untuk menyusui anaknya selama maksimal 2tahun. Perintah mengenai hal ini merupakan sebuah anjuran yang sangat ditekankan, tapi bukan kewajiban.

Selanjutnya ibu dan ayah dapat membuat kesepakatan mengenai hal tersebut.10 Sehingga dapat dikatakan bahwa terjadinya kesepakatan dalam hal kepentigan anak merupakan tanggung jawab bersama tanpa melihat gender yang ada. Namun, tetap saja lingkungan masyarakat menganggap bahwa tugas tersebut hanya dibebankan terhadap wanita serta seringkali hanya wanitalah yang memiliki kodrat untuk mengurus rumah tangga dan mengurus anak.

Adapun dalam pandangan agama, khususnya umat Islam, pandangan tentang gender dapat dilihat pada ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadits. Gender dalam Islam terlihat dari ayat-ayat Al-Qur‘an yang tidak membedakan jenis perempuan laki-laki dan relasi suami isteri. Prinsip kesetaraan gender dalam Al-Qur‘an terbagi kedalam dua bentuk: Pertama, Al-Qur‘an menyamakan standar penilaian yang sama dihadapan Allah bagi laki-laki maupun perempuan, artinya Al-Qur‘an tidak mengaitkan agensi moral dengan jenis kelamin tertentu. Kedua, Al‘Quran menyebut laki-laki dan perempuan sebagai pelindung satu sama lain, dengan menyebutkan bahwa keduanya

10 Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2002). Hal. 471

(15)

5

mampu mencapai individualitas moral dan memiliki fungsi penjagaan yang sama terhadap satu sama lain.11

Ajaran yang terkandung pada ayat-ayat suci Al-Qur‘an banyak digunakan oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim salah satunya Indonesia.

Serapan ayat Al-Qur‘an tersebut membentuk ilmu tentang hukum keluarga, perkawinan, perwalian, waris, wakaf, dan sebagainya (yang merupakan kompetensi absolut Pengadilan Agama). Di Indonesia hukum keluarga dikodifikasi kedalam Undang-undang 16 Tahun 2019 sebagai perubahan terhadap Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan INPRES No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam yang saat ini menjadi salah satu rujukan bagi Hakim di Pengadilan Agama.

Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. (Pasal 2 UU No. 3 Tahun 2006).12 Peradilan Agama adalah sebutan resmi bagi salah satu di antara empat lingkungan Peradilan Negara atau Kekuasaan Kehakiman yang sah di Indonesia. Dalam hal ini, Peradilan Agama hanya berwenang dibidang perdata tertentu saja, tidak pidana dan pula hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia, dalam perkara-perkara perdata Islam tertentu, tidak mencakup seluruh perdata Islam.13 Termasuk di antaranya adalah mengenai hak asuh anak atau bisa juga disebut hadhanah.

Sistem yang terbentuk di masyarakat bahwa yang paling berhak untuk mengasuh anak pasca perceraian adalah Ibunya. Hal ini dikarenakan kepercayaan bahwa sifat keibuan, feminimitas, kasih sayang, lemah lembut yang dibutuhkan oleh perkembangan anak menempel pada sang ibu. Sehingga secara tidak langsung seakan

11 Asma Barlas, Cara Qur’an Membebaskan Perempuan (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006). h., 250

12 Roihan A. Rosyid, Hukum Acara Peradilan Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2015). h., 5-7

13 Gani Abdullah dan Abdul, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gema Islam Press, 1994). h., 65

(16)

6

masyarakat menganggap pengasuhan anak mutlak diserahkan pada sang Ibu. Padahal, sifat-sifat seperti itu bukan hanya dimiliki oleh sang ibu tapi bisa pula oleh sang ayah.

Kontruksi sosial sifat berdasarkan gender ini tentu saja berpengaruh pada putusan hakim yang akan menangani perkaran hadhanah, Hakim sebaiknya memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai gender. Sehingga diharapkan agar anak yang diasuh berdasarkan putusan hakim dapat menerima yang terbaik untuk kehidupan kedepannya. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai

―Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.‖

B. Identifikasi masalah

1. Bagaimana sensitivitas gender hakim dalam memutus perkara hak asuh anak?

2. Apakah kesetaraan gender selalu menjadi pertimbangan hakim dalam memutus perkara hak asuh anak?

3. Kendala apa yang ditemukan dalam memutuskan perkara hak asuh anak yang berperspektif gender?

C. Batasan masalah

Batasan masalah dalam ruang lingkup penelitian ini digunakan untuk menghindari terjadinya persepsi lain yang akan dibahas oleh peneliti. Sesuai dengan judul diatas, maka dapat dipahami bahwa dalam hal ini peneliti hanya membatasi masalah pada Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sensitivitas gender hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014?

2. Pertimbangan apa saja yang dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014?

(17)

7

3. Apakah putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah sensitif gender?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Sesuai dengan pokok masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah di atas, Tujuan dari penelitian yang ingin peneliti capai adalah sebagai berikut:

a. Mengetahui Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

b. Mengetahui Pertimbangan yang dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

c. Mengetahui apabila putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah sensitif gender atau tidak.

2. Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Memberikan informasi mengenai Sensitivitas Gender hakim dalam

memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

b. Memberikan informasi mengenai Pertimbangan yang dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara hak asuh anak sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

c. Memberikan informasi apabila putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 tentang perkara hak asuh anak sudah sensitif gender atau tidak

F. Kajian Pustaka

1. Kajian Terdahulu

Pembahasan mengenai Analisis Gender Hakim terhadap Perkara Hak Asuh Anak ini bukanlah kali pertama.sebelumnya sudah terdapat beberapa penulis yang membahas mengenai perkara hak asuh anak. Seperti Studi, berita daring, website resmi Pengadilan baik Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri.

(18)

8

Sebuah Studi yang ditulis oleh Windy Triana dan Milah Karmilah yang berjudul Gender Awareness in Islamic Legal Education yang menghasilkan bahwa Integrasi dari isu gender dalam pendidikan Hukum Islam tidak optimal khususnya di prodi hukum keluarga fakultas syariah dan hukum UIN Jakarta begitu pula di Universitas Malaya. Untuk dapat mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan 3 cara: yakni: 1) mata kuliah spesifik mengenai gender, 2) hukum Islam dan HAM, 3) pembahasan mengenai isu gender yang terkait dengannya.14

Sebuah tulisan yang berjudul Kontekstualisasi Gender Islam dan Budaya oleh Azisah, Siti, Abdillah Mustari, dan Ambo Masse lebih fokus kepada sebuah inovasi dan alat yang diciptakan atas dukungan SILE terkait dengan pelaksanaan program kepemimpinan dalam masyarakat Islam yang disebut Supporting Islamic Leadership in Indonesia/Local Leadership for Development atau disingkat SILE/LLD yang diprakarsai oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dan Pemerintah Kanada melalui bantuan internasional lembaga DFATD.15

Karya yang dibuat oleh Umar Haris Sanjaya yang berjudul Keadilan Hukum Pada Pertimbangan Hakim Dalam Memutus Hak Asuh Anak menghasilkan kesimpullan bahwa putusan-putusan Kasasi No. 226/K/Pdt/2010, No. 232/K/Pdt/2010, dan No. 234/K/AG/2010 sangat dipengaruhi unsur-unsur kepastian hukum. Unsur-unsur ini yang mempengaruhi pertimbangan hakim didalam membuat putusan. Hakim berpegang teguh kepada dasar hukum yang terdapat pada peraturan perundang-undangan baik itu secara materiil maupun formil. Pada intinya hakim mengedepankan aspek legalitas dan procedural

14 Triana dan Karmilah, Gender Awareness in Islamic Legal Education.

15 Siti Azisah, Abdillah Mustari, dan Ambo Masse, Kontekstualisasi Gender Islam dan Budaya (Seri KUM Alauddin Makassar, 2016).

(19)

9

hukum. Oleh Karena itu pertimbangan yang dilakukan hakim mencerminkan unsur kepastian hukum dan hukum procedural.16

Sebuah Studi dari BAPPENAS karya Suryadi, Ace, dan Banu Pratitis berjudul Analisis Gender Dalam Pembangunan Pendidikan lebih fokus Gender Analysis Pathway (GAP) merupakan alat analisis gender yang dikembangkan oleh Direktorat Kependudukan, Kemasyarakatan, dan Pemberdayaan Perempuan-BAPPENAS bekerjasama dengan Women's Support Project Phase U-CIDA dan ILO. Dalam proses perkembangannya, GAP telah diujicobakan di 5 (lima) sektor pembangunan, yaitu ketenagakerjaan, pendidikan, hukum, pertanian, serta koperasi dan usaha kecil menengah (KUKM).17

Pada sebuah Studi yang ditulis oleh Marzuki dengan Studi tentang Kesetaraan Gender dalam Berbagai Aspek lebih fokus Pemikiran masyarakat mengenai gender dan kestaraan gender. Dapat disimpulkan bahwa Gender adalah serangkaian karakteristik yang terikat kepada dan memebedakan maskulinitas dan femininitas seks digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, sedang gender lebih banyak berkontraksi kepada aspek sosial, budaya, dan aspek-aspek nonbiologi lainnya, Secara umum perempuan selalu di munculkan sebagai sosok yang bermasalah ketika dikaitkan dengan organorgan tubuhnya, Kesetaraan gender dalam bidang pendidikan menjadi sangat penting mengingat sektor pendidikan merupakan sektor yang sangat strategis untuk memperjuangkan kesetaraan gender.18

Dari Fakultas Syari‘ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh oleh Mansari yang berjudul Pertimbangan Hakim Memberikan Hak Asuh Anak Kepada Ayah: Suatu Kajian Empiris Di Mahkamah Syar‘iyah Banda

16 Umar Haris Sanjaya`, Keadilan Hukum Pada Pertimbangan Hakim Dalam Memutus Hak Asuh Anak (Surabaya: Yuridika, 2015).

17 Ace Suryadi dan Banu Pratitis, Analisis Gender Dalam Pembangunan Pendidikan (BAPPENAS, 2001).

18 Marzuki Marzuki, Studi tentang Kesetaraan Gender dalam Berbagai Aspek, t.t.

(20)

10

Aceh yaitu Aspek yang menjadi prioritas penting dalam syari‘at Islam dalam upaya merealisasikan kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child) adalah kemashlahatan bagi dirinya.19

Sebuah Tesis yang dibuat oleh Mohammad Hifni berjudul Hak Asuh Anak Pasca Perceraian Suami Istri Dalam Perspektif Hukum Islam menghasilkan temuan berupa tidak selamanya hak hadhanah itu jatuh kepada ibu, sang bapak pun berhak mempunyai hak yang sama dengan ibu, bila syarat-syarat penentuan ibu tidak memenuhi krieteria untuk memberikan kepentingan anak.20

Fajria Ningsih dalam skripsinya yang berjudul Pro kontra Gugur Tidaknya Hak asuh anak karena pernikahan Ibu dari UIN Banda Aceh mendapatkan hasil bahwa Mengenai pendapat hak asuh anak yang gugur karena pernikahan sang ibu. Terdapat perbedaan pendapat saat seorang ibu menikah lagi dengan laki-laki, 1) Pengasuham gugur secara mutlak ini adalah pendapat ini adalah Syafi‘i, Maliki, Abu Hanifah dan beberapa pendapat dari madzhab 2) hak asuh anak tidak gugur dengan pernikahandan tidak ada perbedaan dalam pengasuhan, Hasan al- basri dan pendapat Abu Muhammad Hazm 3) jika anak perempuan, maka hak pengasuhan tidak gugur, namun jika pengasuhan anak laki-laki maka hak pengasuhan gugur. Pendapat ini dikemukakan oleh salah dari dua riwayat Ahmad yang disebutkan olej Muhanna bin Yahya asy-Syami. 4) Apabila menikah dengan kerabat-kerabat anaknya maka hak pengasuhan tidak gugur.21

Sebuah skripsi yang berjudul Pelimpahan Hak Asuh Anak kepada Bapak oleh Ahmad Zamahsyari menghasilkan bahwa kewajiban bapak setelah putusan hak asuh anak yang dilimpahkan kepadanya dan seteah putusnya perkawinan,

19 Mansari, ―Pertimbangan Hakim Memberikan Hak Asuh Anak Kepada Ayah: Suatu Kajian Empiris Di Mahkamah Syar‘iyah Banda Aceh,‖ https://jurnal.ar-raniry.ac.id/, 2016.

20 Muhammad Hifni, Hak Asuh Anak Pasca Perceraian Suami Istri Dalam Perspektif Hukum Islam (Banten: Tesis IAIN SMH Banten, 2016).

21 Fajria Ningsih, Pro kontra Gugur Tidaknya Hak asuh anak karena pernikahan Ibu (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2017).

(21)

11

kewajiban bapak selaku orang tua berkewajiban memelihara, merawat, serta memberikan pendidikan atau pengajaran sampai dewasa agar menjadi manusia yang punya kecakapan dalam menatap masa depan dengan optimis dan kreatif.22 Perbedaan dari kesebelas penelitian tersebut dengan skripsi ini adalah mengenai objek kajian dari penelitian. Yakni mengenai pemahaman Hakim terhadap gender dalam memutus perkara Hadhanah dan mengambil penelitian empiris yang mengambil sampel Pada putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

2. Kerangka Teoritis

Secara khusus tidak ditemukan teori yang khusus membahas mengenai teori Gender. Sehingga teori-teori ini umumnya diadopsi dari teori–teoori yang dikembangkan para ahli dalam bidang-bidang yang terkait dengan permasalahan gender, terutama bidang sosial kemasyarakatan dan kejiwaan.23

Berikut adalah beberapa teori Gender yang menjadi pembatasan pada skripsi ini :

a. Teori Struktural-Fungsional

Teori Struktural-Fungsional Teori atau pendekatan struktural- fungsional merupakan teori sosiologi yang diterapkan dalam melihat institusi keluarga. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas beberapa bagian yang saling memengaruhi. Teori ini mencari unsur- unsur mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap unsur, dan menerangkan bagaimana fungsi unsur-unsur tersebut dalam masyarakat. Banyak sosiolog yang mengembangkan teori ini dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20, di antaranya adalah William F. Ogburn dan Talcott Parsons.

22 Ahmad Zamahsyari, Pelimpahan Hak Asuh Anak kepada Bapak (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011).

23 Marzuki, ―Kajian Awal Tentang Teori-Teori Gender,‖ Universitas Negeri Yogyakarta, t.t.

(22)

12

Teori struktural-fungsional mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan menentukan keragaman fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Struktur dan fungsi dalam sebuah organisasi ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya, norma, dan nilai-nilai yang melandasi sistem masyarakat.

Terkait dengan peran gender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra industri yang terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter) dan perempuan sebagai peramu (gatherer).

Sebagai pemburu, laki-laki lebih banyak berada di luar rumah dan bertanggung jawab untuk membawa makanan kepada keluarga. Peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dalam urusan reproduksi, seperti mengandung, memelihara, dan menyusui anak. Pembagian kerja seperti ini telah berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil. Dalam masyarakat ini stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh seks (jenis kelamin).

b. Teori Sosial-Konflik

Dalam masalah gender, teori sosial-konflik terkadang diidentikkan dengan teori Marx, karena begitu kuatnya pengaruh Marx di dalamnya.

Marx yang kemudian dilengkapi oleh F. Engels, mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Hubungan laki-laki perempuan (suami- isteri) tidak ubahnya dengan hubungan ploretar dan borjuis, hamba dan tuan, atau pemeras dan yang diperas. Dengan kata lain, ketimpangan peran gender dalam masyarakat bukan karena kodrat dari Tuhan, tetapi karena

(23)

13

konstruksi masyarakat. Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh para pengikut Marx seperti F. Engels, R. Dahrendorf, dan Randall Collins.

c. Teori Feminis Liberal

Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu perempuan harus mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Meskipun demikian, kelompok feminis liberal menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan.

Dalam beberapa hal masih tetap ada pembedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun juga, fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekuensi logis dalam kehidupan bermasyarakat.

Teori kelompok ini termasuk paling moderat di antara teori-teori feminisme. Pengikut teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian, tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan.

Organ reproduksi bukan merupakan penghalang bagi perempuan untuk memasuki peran-peran di sektor publik.

d. Teori Feminisme Marxix-Sosialis

Feminisme ini bertujuan mengadakan restrukturisasi masyarakat agar tercapai kesetaraan gender. Ketimpangan gender disebabkan oleh sistem kapitalisme yang menimbulkan kelas-kelas dan division of labour, termasuk di dalam keluarga. Gerakan kelompok ini mengadopsi teori praxis Marxisme, yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas, agar kaum perempuan sadar bahwa mereka merupakan ‗kelas‘ yang tidak diuntungkan.

Proses penyadaran ini adalah usaha untuk membangkitkan rasa emosi para perempuan agar bangkit untuk merubah keadaan Berbeda dengan teori sosial-konflik, teori ini tidak terlalu menekankan pada faktor akumulasi modal atau pemilikan harta pribadi sebagai kerangka dasar ideologi. Teori ini lebih menyoroti faktor seksualitas dan gender dalam kerangka dasar ideologinya.

(24)

14 e. Teori Feminisme Radikal

Teori ini berkembang pesat di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an. Meskipun teori ini hampir sama dengan teori feminisme Marxis-sosialis, teori ini lebih memfokuskan serangannya pada keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki), sehingga perempuan tertindas. Feminisme ini cenderung membenci laki-laki sebagai individu dan mengajak perempuan untuk mandiri, bahkan tanpa perlu keberadaan laki-laki dalam kehidupan perempuan. Elsa Gidlow mengemukakan teori bahwa menjadi lesbian adalah telah terbebas dari dominasi laki-laki, baik internal maupun eksternal. Martha Shelley selanjutnya memperkuat bahwa perempuan lesbian perlu dijadikan model sebagai perempuan mandiri.

f. Teori Psikoanalisa

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856- 1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud menjelaskan kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego. Tingkah laku seseorang menurut Freud ditentukan oleh interaksi ketiga struktur itu. Id sebagai pembawaan sifat-sifat fisik biologis sejak lahir. Id bagaikan sumber energi yang memberikan kekuatan terhadap kedua sumber lainnya. Ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial.

Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian dan selalu mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id.

3. Kerangka Konseptual

Batasan-batasan serta pengertian yang akan digunakan peneliti dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

(25)

15

Batasan-batasan serta pengertian yang akan digunakan oleh penulis dalam skripsi ini agar tidak terjadi perbedaan pemahaman antara peneliti dengan pembaca adalah :

a. Sensitivitas Gender terdiri dari 2 kata gabungan, yakni sensitivitas dan gender. Sensitivitas adalah kepekaan24. Sedangkan Gender adalah Gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh factor social budaya masyarakat, sehingga lahirlah beberapa anggapan tentang peran social dan budaya laki-laki dan perempuan.25 Jadi dapat ddipahami bahwa sensitivitas gender adalah kepekaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sifat yang melekat pada diri manusia yang dipengaruhi oleh sosial budaya masyarakat.

b. Pengasuhan Anak adalah pemeliharaan anak yang masih kecil setelah terjadinya putus perkawinan. Hal ini dibicarakan dalam fikih karena secara praktis antara suami dan istri telah terjadi perpisahan sedangkan anak-anak memerlukan bantuan dari ayah dan/atau ibunya.26

c. Hakim Pengadilan Agama adalah seseorang pejabat yang melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman dalam ranah Pengadilan Agama.27

d. Teori Gender adalah Pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan yang didukung data dan argumentasi28 yang berkenaan dengan Gender.

G. Metode Penelitian

Penelitian menurut Woody adalah suatu penyelidikan atau suatu upaya penemuan (inquiry) yang dilakukan secara hati-hati dan/atau secara kritis mencari

24 Lihat KBBI

25 nyoman sukerti dan ayu agung Ariani, Buku Ajar Gender dalam Hukum (tabanan bali:

putaka ekspresi, 2016). H., 2

26 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006). H., 327-328

27 Lihat UU no. 7 Th., 1989 Tentang Peradilan Agama, t.t. Pasal 11

28 Lihat KBBI

(26)

16

fakta dan prinsip-prinsip suatu penyidikan yang sangat cerdik untuk menetapkan sesuatu29. Dalam sebuah metode penelitian, metode penelitian merupakan suatu sistem yang harus dicantumkan dan dilaksanakan selama proses penelitian tersebut berlangsung30. Oleh karena itu untuk memudahkan dan demi terciptanya tujuan dari penelitian ini maka metode penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah:

a. Penelitian normatif yaitu penelitian terhadap Sensitivitas Gender Hakim terhadap Perkara Hak Asuh Anak Pada putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

Selain itu ditinjau dari segi tempatnya, penelitian yang akan peneliti lakukan ini termasuk penelitian lapangan (field research), dimana peneliti langsung terjun ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data informasi yang telah ditentukan.31 Oleh karena itu dari pengumpulan triangulasi data yang diinginkan akan dideskripsikan mengenai bagaimana Sensitivitas Gender Hakim dalam Perkara Hak Asuh Anak.

b. Penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang kajiannya dilakukan dengan menelusuri dan menelaah sebuah literatur atau penelitian yang difokuskan pada bahan-bahan pustaka. Sumber-sumber data diperoleh dari berbagai karya tulis seperti jurnal, artikel, studi, berita, skripsi dan tesis yang secara langsung mapun tidak langsung berikaitan dengan penelitian, begitu pula dengan wawancara terhadap subjek yang diteliti.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan beberapa pendekatan, yakni:

a. Normatif Empiris

29 Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, vol.

Cetakan 3 (Jakarta: Prenamedia, 2016). Hal. 25

30 Marzuki, Metodologi Riset (Yogyakarta: PT Prasetya Widya Pratama, 2000).

31 Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan (Jakarta:

Remika, 1999).

(27)

17

Yaitu penelitian hukum mengenai pemberlakuan ketentuan hukum normatif (kodifikasi, undang-undang atau kontrak) secara in action pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat.32 Dalam hal ini, penulis menggunakan hukum normatif yakni UU no 16 tahun 2019 sebagai perubahan terhadap UU no. 1 Tahun 1974 dan INPRES No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam mengenai hak asuh anak dan pemberlakuanya pada putusan hakim MA nomor 376 K/Ag/2014 dengan melihat dari Prespektif Teori gender.

b. Statute Aprroach

Pendekatan ini dilakukan penulis untuk mengetahui peraturan perundang-undangan yang dalam penormaannya terdapat penyimpangan dalam hal keadilan. Sehingga hakim yang tidak memiliki sensitivitas gender dapat memicu hasil putusan perkara yang tidak adil gender.

3. Pengumpulan Data a. Sumber Data

1) Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan data yang dibuat dan didapatkan sendiri oleh peneliti dengan maksud menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah putusan MA nomor 376 K/Ag/2014 yang merupakan rujukan utama dalam pembahasan mengenai Sensitivitas Gender Hakim dalam memutus Perkara Hak Asuh Anak Pada putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

2) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang digunakan untuk menunjang peneliti dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang ditangani. Namun, sumber data ini dapat ditemukan dengan singkat yakni berupa wawancara hakim di Pengadilan Agama Surabaya yang ditunjuk

32 Muhammad Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, t.t.).

(28)

18

oleh Ketua Pengadilan Agama Surabaya dengan alasan kesiapan hakim, literatur, studi kasus terdahulu, jurnal serta situs yang berkenaan dengan topik yang sedang dibahas yakni Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

b. Teknik Pengumpulan Data 1) Analisis Putusan

Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya).33 Dalam hal ini peneliti akan melakukan analisis sejauh mana sensitivitas Gender hakim dengan objek putusan MA nomor 376 K/Ag/2014

2) Wawancara (Interview)

Wawancara yakni suatu percakapan dengan tujuan-tujuan tertentu. Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian.34 Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data melalui wawancara dengan hakim untuk mencari trianggulasi data mengenai Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

3) Studi kepustakaan

Studi kepustakaan yaitu pengumpuan data dengan mencari sumber- sumber lliteratur baik melalui jurnal, skripsi, tesis maupun berita.

4. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis data kualitatif adalah pendekatan pengolahan secara mendalam data hasil pengamatan, wawancara,

33 Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

34 Menurut Jexy Lemoeong

(29)

19

data literatur. Kelebihan metode ini dalah kedalaman dari hasil kajiannya. Metode analisis data kualitatif lebih banyak digunakan pada bidang ilmu sosial, hukum, sosiologi, politik. Walaupun tidak mutlak bidang-bidang sosial harus menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif memberikan kelebihan dalam hal kedalaman analisis yang memang diperlukan pada bidang sosial.35 Karena memang dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara secara lebih mendalam kepada narasumber untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari mereka mengenai Sensitivitas Gender hakim dalam memutus perkara Hak Asuh Anak Sesuai putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

5. Teknik Penulisan

Teknik penulisan yang digunakan oleh peneliti mengacu pada buku pedoman penulisan skripsi yag diterbitkan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

H. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini terbagi kedalam lima bab yang berkaitan satu sama lain.

Bab pertama dalam penelitian ini berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang yang menjadi dasar mengapa tulisan ini dibutuhkan, indentifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian studi terdahulu, metode penelitian dan sistematika penulisan

Lalu Bab kedua, membahas secara umum mengenai gender, sejarah gerakan gender di dunia dan Indonesia, Teori Gender dan Teori Keadilan Hukum.

Selanjutnya Bab Ketiga berisi pemahaman hakim mengenai gender yang berimbas pada penyelesaian perkara baik dari latar belakang penciptaannya maupun urgensinya, kronologi perkara, .

Kemudian Bab keempat peneliti akhirnya menjelaskan mengenai hasil Analisis Sensitivitas Gender Hakim terhadap Perkara Hak Asuh Anak dalam

35 Ayat Hidayat Huang, ―Metode Analisis Data,‖ t.t., https://www.en.globalstatistik.com/.

(30)

20

peradilan di Indonesia dan lebih khususnnya Pada putusan MA nomor 376 K/Ag/2014.

Terakhir Bab kelima yang menguraikan mengenai hasil kesimpulan dari penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang diberikan peneliti selanjutnya untuk pengakajian lanjutan penelitian ini.

(31)

21

BAB II

HAK ASUH ANAK DAN GENDER

A. Hak Asuh Anak dalam Hukum Materiil dan Formil

Saat terjadi pemutusan perkawinan karena perceraian, baik ibu maupun bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata demi kepentingan si anak, jika terjadi perselisihan antara suami istri mengenai penguasaan anak-anak mereka, pengadilan akan memutuskan tentang siapa yang akan menguasai anak tersebut.36

Menurut UU 1 Tahun 1974 akibat-akibat putusnya perkawinan karena perceraian diatur dalam pasal 41 Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

1. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak- anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberi keputusannya.

2. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

36 Bahdar Johan Nasution & Sri Warijati, Hukum Perdata Islam, cet 1, (Bandung; CV. Mandar Maju 1997), hal. 35

(32)

22

3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya-biaya penghidupan dan menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.37

Ketentuan dalam UU perkawinan tersebut di atas adalah sejalan dengan ketentuan dalam kompilasi hukum islam yang berdasarkan bahwa kewajiban memelihara dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan oleh ibu dan ayah.38 Dari ketentuan tersebut terlihat bahwa meskipun perkawinan telah bubar, baik ayah dan ibu masih memiliki tanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka semata-mata demi kepentingan anak.

Sedangkan didalam KHI yang diatur pada bab XIV tentang pemeliharaan anak dari pasal 98-106, dan yang mengatur masalah kewajiban pemeliharaan anak jika terjadi perceraian hanya terdapat dalam pasal 105, pasal 105 berbunyi:

a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah dan ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya.

c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.39 Dalam bab XVII tentang akibat putusnya perkawinan bagian ketiga tentang akibat perceraian dalam pasal 156 dijelaskan akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah:

1. Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya, kecuali ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya

37 Soetojo P, Pluralisme dalam Perundang-undangan Perkawinan Indonesia, Cet 3, (Bandung; Airlangga University, 1994), hal. 121

38 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan, cet 1, (Yogyakarta; Liberty, 1997), hal. 127

39 Soetojo P. Pluralisme dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia,cet 1, (Bandung: Rosdakarya, 1990), hal. 122

(33)

23

digantikan oleh: a. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;

b. Ayah; c. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah; d.

Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan; e. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu; f. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.

2. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah dan ibunya.

3. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.

4. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggungan ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).

5. Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah akan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan keputusannya berdasarkan huruf (a),(b),(c) dan (d).

6. Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anakanak yang tidak urut padanya.40

Hal-hal yang mengatur mengenai keuntungan bagi anak-anak terdapat dalam pasal 231. Dengan perceraian hubungan suami istri terputus, tetapi hubungan dengan anak-anak tidak. Maka, sudah sepantasnya jika segala keutuhan bagi

40 Ibid, hal. 216-217

(34)

24

anak-anak yang timbul berhubungan dengan perkawinan orang tuanya tetap ada.41

Dalam proses penyelesaian hak asuh anak dalam Kompilasi Hukum Islam setidaknya ada dua pasal yang menentukan pengasuhan anak yaitu Pasal 105 dan Pasal 156. Pasal 105 menentukan tentang pengasuhan anak pada dua keadaan.

Pertama ketika anak masih dalam keadaan belum mumayyiz (kurang dari 12 tahun) pengasuhan anak ditetapkan kepada ibunya. Kedua ketika anak tersebut mumayyiz (usia 12 tahun ke atas) dapat diberikan hak kepada anak untuk memilih diasuh oleh ayahnya atau ibunya. Pasal 156 mengatur pengasuhan anak ketika ibu kandungnya meninggal dunia dengan memberikan urutan yang berhak mengasuh anaknya. Namun berangkat dari ketentuan tersebut juga seseorang selain dapat mengajukan gugatan cerai juga dapat mengajukan gugatan hak asuh anak. Hak asuh anak sebagaimana tercantum dalam Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dimana menetukan hak asuh bagi anak di bawah umur 12 tahun adalah pada ibunya. Namun ada juga berbagai kasus sengketa hak asuh anak dibawah umur yang akhirnya oleh Putusan Pengadilan Agama diberikan kepada ayahnya.

Hal-hal yang melatarbelakangi hakim memutuskan hak asuh anak di bawah umur ada pada ayahnya antara lain sebagai berikut:

a. Apabila seorang ibu tersebut tidak mampu memberikan penghidupan yang layak bagi anaknya, serta sering berbuat kasar dan tidak mampu mendidik anaknya baik dari materi, jasmani, dan rohani sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan dengan adanya bukti-bukti yang diajukan oleh pihak suami

b. Belum ada aturan yang jelas dan tegas bagi hakim untuk memutuskan siapa yang berhak atas kuasa asuh anak. Karena tiadanya aturan yang jelas maka pada umumnya, secara baku, hakim mempertimbangkan putusan

41 Merry Indah Christanty Tumanggor, Analisis Hukum Terhadap Perlindungan Hak Asuh Anak (Studi Putusan No. 2738/Pdt.G/2018/PA. Kab.Kdr), (Universitas Sumatera Utara: 2020), hal. 27

(35)

25

berdasarkan fakta-fakta dan bukti yang terungkap di persidangan mengenai baik buruknya pola pengasuhan orangtua kepada si anak termasuk dalam hal ini perilaku dari orangtua tersebut serta hal-hal terkait kepentingan si anak baik secara psikologis, materi maupun non materi. Jadi kunci menang kalahnya seorang ibu dalam perebutan hak asuh anak, karena kurangnya argumentasi hukum si ibu untuk menyakinkan hakim tentang pola pengasuhan yang dilakukannya kepada si anak termasuk dalam hal ini perilaku dari orangtua tersebut (seperti si ibu tidak bekerja sampai larut malam, lebih mengutamakan kedekatan kepada si anak, dibandingkan kesibukan di luar rumah, dsb) serta hal-hal terkait kepentingan si anak secara psikologis, materi maupun non materi. 50 Sehingga putusan disini berdasarkan pada keyakinan hakim maksudnya adalah sesuatu yang diakui adanya berdasarkan pada penyelidikan atau dalil, dan sesuatu yang sudah diyakinkan untuk tidak bisa lenyap, kecuali dengan datangnya keyakinan yang lain, atau sesuatu yang menjadi kekuatan atau keputusan hakim didasarkan atau penelitian dari dalil-dalil atau bukti- bukti yang ada.42

c. Mahkamah Agung telah mengambil sikap untuk menetapkan pengasuhan anak, manakalah pasangan suami isteri bercerai dan si isteri kembali ke agamanya semula. Anak tersebut ditetapkan pengasuhannya kepada pihak ayah dengan pertimbangan untuk mempertahankan akidah si anak. Sebagai contoh adalah putusan Nomor : 210K/AG1996 dimana dalam putusan Mahkamah Agung tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah agama/akidah merupakan syarat untuk menentukan gugur tidaknya hak seorang ibu atas pemeliharaan dan pengasuhan terhadap anaknya yang masih belum mumayyiz.43

42 Mardini, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, cet 5, hal 116

43 Syamsuhadi Irsyad, Kapita Selekta Hukum Perdata Agama Pada Tingkat Kasasi, dalam hal.

20 serta Achmad Djunaeni, Putusan Pengadilan Agama dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung hal 149, masing-masing dalam Kapita Selekta Hukum Perdata Agama dan Penerapannya, Mahkamah

(36)

26

d. Penyimpangan terhadap ketentuan normatif tentang sengketa pengasuhan anak. Hakim dalam memutuskan Hak Asuh Anak di bawah umur juga memperhatikan keinginan dari kedua belah pihak suami dan isteri tersebut dimana apabila ada dua anak atau lebih dan masih dibawah umur tidak berdasarkan pada ketentuan pasal 105 Kompilasi Hukum Islam namun pada dasar pertimbangan yang dilakukan pembagian oleh kedua belah pihak tersebut untuk mengasuh anaknya. Sehingga pembagian hak asuh anak tersebut karena adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.

B. Gender dan Keadilan Hukum

1. Definisi Gender dan Sensitif Gender

Untuk lebih memahami konsep gender, terlebih dahulu perlulah untuk memahami pengertian antara kata gender dengan kata seks atau jenis kelamin.

Gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh factor social budaya masyarakat, sehingga lahirlah beberapa anggapan tentang peran social dan budaya laki-laki dan perempuan. Bentukan social atas laki-laki dan perempuan itu antara lain perempuan dikenal sebagai mahluk lemah lembut, cantik emosional, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Sifat-sifat di atas dapat dipertukarkan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.Artinya ada perempuan kuat dan rasional, ada pula laki-laki lembut dan irasional. Perubahan ini dapat terjadi dari waktu – ke waktu dari tempat ke tempat lain. Semua sifat laki-laki dan perempuan dapat berubah juga dapat dipertukarkan itulah yang dimaksud dengan gender. Oleh karena itu, gender adalah suatu konsep social yang membedakan (dalam arti memisahkan) status dan peran tidak ditentukan berdasarkan biologis, melainkan dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan dalam berbagai bidang kehidupan berdasarkan sifat yang dirasakan cocok bagi salah satu jenis kelamin. Misalkan perempuan lembut, dianggap cocok bekerja untuk Agung RI, 2004 dalam penelitian Sugiri Permana, Paradigma Baru dalam Penyelesaian Sengketa Hak Asuh Anak pada Peradilan Agama, hal 4

(37)

27

mengasuh anak, membersihkan rumah, memasak dan lainnya.Sedangkan laki- laki kuat lebih cocok sebagai tukang kayu, menjadi sopir, bekerja diluar rumah mencari nafkah keluarga.44

Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang melekat pada jenis kelamin tertentu, bersifat kodrati, serta sama diseluruh dunia. Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang secara kodrati memiliki fungsi organism dan cirri- ciri yang berbeda.Laki-laki adalah jenis manusia yang memiliki penis, sperma yang berfungsi untuk membuahi, mempunyai jakun, bersuara berat.Perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, dan saluran untuk melahirkan, alat untuk menyusui dan lainnya.Perempuan mempunyai hormon yang berbeda dengan laki-laki, sehingga terjadi menstruasi, perasaan sensitive. Alat-alat biologis dimiliki laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan. Laki-laki tidak bisa hamil karena tidak meliki organ peranakan, sedangkan perempuan tidak dapat bersuara berat karena hormonnya berbeda dengan laki-laki.45

Terbentuknya perbedaan gender ini disebabkan oleh banyak hal, misalnya, dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, dikonstruksi secara sosial atau kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan (kodrat), seolah- olah bersifat biologis, yang tidak bisa diubah lagi. Padahal, sesungguhnya sifat-sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat, bukan kodrat.46

Sedangkan menurut KBBI, Kata ―seks mempunyai arti ―jenis kelamin‖, sama dengan arti kata gender. Istilah seks ini lebih banyak berkonsentrasi pada aspek biologis seseorang yang meliputi perbedaan komposisi hormone atau kimia dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis

44 Mansour Fakih. 1996.Analisis Gender & Transportasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 9.

45 Ibid, hal. 8

46 Luh Anik Mayani, “Analisis Gender dan Transformasi Sosial”

(38)

28

lainnya. Sedangkan ―gender‖ lebih banyak berkonotrasi pada aspek sosial budaya, psikologis dan aspekaspek non biologis lainnya.47

Jadi dapat disimpulkan bahwa antara seks dan gender memiliki pengertian yang cukup berbeda. Secara umum gender merupakan sifat yang dikontruksi, baik secara sosial maupun kultural di lingkungan dimana manusia itu berada.

Sifat ini meliputi pembagian peran antara laki-laki dan perempuan maupun sifat dalam menyikapi suatu hal, sedangkan seks lebih terkonsentrasi pada alat reporoduksi yang telah ada sejak lahir. Hal ini merupakan kodrat yang tidak dapat diubah.

Sedangkan yang dimaksud dengan sensitif gender adalah kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melihat dan menilai hasil pembangunan dan aspek kehidupan lainnya dari perspektif gender (disesuaikan dengan kepentingan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan). Tujuan dari sensistif gender adalah untuk mengimplementasikan kesetaraan dan keadilan gender.

meskipun pada kenyataan dilapangan bias gender masih sering mewarnai berbagai instansi pemerintah tidak terkecuali pada lembaga peradilan.

Untuk mengurangi bias gender pada Hakim di Pengadilan ini, diperlukan sebuah perubahan paradigma, cara pandang dan cara membaca posisi perempuan pencari keadilan, dengan mengedepankan spirit sensitivitas gender dalam setiap proses ajudikasi. Sensitivitas gender dimaksudkan sebagai kemampuan memahami ketimpangan gender (gender gap) terutama dalam memproses perkara dan pembuatan keputusan.48

2. Sejarah Gerakan Gender Dunia dan Indonesia

Gerakan feminisme merupakan gerakan konflik sosial yang dimotori oleh para pelopor feminisme dengan tujuan mendobrak nilai-nilai lama (patriarkhi) yang selalu dilindungi oleh kokohnya tradisi struktural fungsional. Gerakan

47 Lihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

48 Arskal Salin, dkk, Demi Keadilan dan Kesetaraan (Dokumentasi Program Sensitivitas Gender Hakim Agama di Indonesia), (Jakarta:PUSKUMHAM UIN Syarif Hidayatullah,2009), XII

(39)

29

feminism modern di Barat dimulai pada Tahun 1960-an yaitu pada saat timbulnya kesadaran perempuan secara kolektif. Sebagai golongan tertindas, Menurut Skolnick: Some feminists denounced the family as a trap that turned women into slaves (beberapa feminis menuduh keluarga sebagai perangkap yang membuat para perempuan menjadi budak-budak). Gerakan feminisme yang berdasarkan model konflik berkembang menjadi gerakan-gerakan feminisme liberal, radikal, dan sosialis atau Marxisme.

Berdasarkan berbagai literatur dapat disimpulkan bahwa filsafat feminism sangat tidak setuju dengan budaya patriarkhi. Budaya patriarki yang berawal dari keluargalah yang menjadi penyebab adanya ketimpangan gender di tingkat keluarga yang kemudian mengakibatkan ketimpangan gender di tingkat masyarakat. Laki-laki yang sangat diberi hak istimewa oleh budaya patriarki menjadi sentral dari kekuasaan di tingkat keluarga. Hal inilah yang menjadikan ketidaksetaraan dan ketidakadilan bagi kaum perempuan dalam kepemilikian properti, akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan akhirnya kurang memberikan manfaat secara utuh bagi eksistensi perempuan.

Penghapusan sistem patriarki atau struktur vertikal adalah tujuan utama dari semua gerakan feminisme, karena sistem ini yang dilegitimasi oleh model struktural-fungsionalis, memberikan keuntungan laki-laki daripada perempuan. Kesetaraan gender tidak akan pernah dicapai kalau sistem patriarkat ini masih terus berlaku. Oleh karena itu, ciri khas dari gerakan feminisme adalah ingin menghilangkan institusi keluarga, atau paling tidak mengadakan defungsionalisasi keluarga, atau mengurangi peran institusi keluarga dalam kehidupan masyarakat. Untuk memahami konsep feminisme berikut diuraikan berdasarkan sejarah berkembangnya gerakan feminisme yang mencakup dua gelombang:

1. Gerakan Gelombang Pertama lebih pada gerakan filsafat di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet yang pada Tahun 1785, suatu perkumpulan masyarakat ilmiah untuk

(40)

30

perempuan pertama kali didirikan di Middelburg (Selatan Belanda).

Seorang aktivis sosialis utopis bernama Charles Fourier pada Tahun 1837 memunculkan istilah feminisme yang kemudian tersebar ke seluruh Eropa dan Benua Amerika. Publikasi John Stuart Mill dari Amerika dengan judul The Subjection of Women pada Tahun 1869 yang melahirkan feminisme Gelombang Pertama.

2. Feminisme Gelombang Kedua dimulai pada Tahun 1960, dengan terjadinya liberalisme gaya baru dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara di parlemen. Era Tahun 1960 merupakan era dengan mulai ditandainya generasi ―baby boom‖ (yaitu generasi yang lahir setelah perang dunia ke-2) menginjak masa remaja akhir dan mulai masuk masa dewasa awal. Pada masa inilah, masa bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut dalam kancah politik kenegaraan.49

Di Indonesia sendiri pada abad XIX gerakan kaum perempuan terfokus pada menuntut untuk hak persamaan dalam bidang pendidikan. Perempuan pada waktu itu terkekang dengan budaya setempat yang tidak membolehkan kaum perempuan untuk memiliki pendidikan yang tinggi seperti kaum laki- laki. Perempuan bertugas menurut pada suami dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya. Perempuan sebagai the second seks yang bahkan tercermin dalam ungkapan-ungkapan yang lebih mengutamakan laki-laki. Ungkapan Suwargo nunut neroko katut, yang berarti bahwa kebahagiaan atau penderitaan istri hanya tergantung pada suami adalah contoh dimana perempuan dianggap tidak berperan dalam kehidupan.

Situasi kebudayaan dengan semangat yang tercermin dalam ungkapan itu sangat dominan hingga pergantian abad ke-20. Sejarah menunjukkan bahwa hal itu harus berakhir karena datangnya kebudayaan modern. Contohnya ketika para pemuda Jawa yang terpelajar sudah tidak tahan pada dengan

49 Herien Puspitawati, Konsep, Teori dan Analisis Gender, (Bogor: Institut Pertanian Bogor), hal. 4

Referensi

Dokumen terkait