BAB 2 : Hak Asuh Anak dan Gender
B. Gender dan Keadilan Hukum
2. Sejarah Gerakan Gender Dunia dan Indonesia
Gerakan feminisme merupakan gerakan konflik sosial yang dimotori oleh para pelopor feminisme dengan tujuan mendobrak nilai-nilai lama (patriarkhi) yang selalu dilindungi oleh kokohnya tradisi struktural fungsional. Gerakan
47 Lihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
48 Arskal Salin, dkk, Demi Keadilan dan Kesetaraan (Dokumentasi Program Sensitivitas Gender Hakim Agama di Indonesia), (Jakarta:PUSKUMHAM UIN Syarif Hidayatullah,2009), XII
29
feminism modern di Barat dimulai pada Tahun 1960-an yaitu pada saat timbulnya kesadaran perempuan secara kolektif. Sebagai golongan tertindas, Menurut Skolnick: Some feminists denounced the family as a trap that turned women into slaves (beberapa feminis menuduh keluarga sebagai perangkap yang membuat para perempuan menjadi budak-budak). Gerakan feminisme yang berdasarkan model konflik berkembang menjadi gerakan-gerakan feminisme liberal, radikal, dan sosialis atau Marxisme.
Berdasarkan berbagai literatur dapat disimpulkan bahwa filsafat feminism sangat tidak setuju dengan budaya patriarkhi. Budaya patriarki yang berawal dari keluargalah yang menjadi penyebab adanya ketimpangan gender di tingkat keluarga yang kemudian mengakibatkan ketimpangan gender di tingkat masyarakat. Laki-laki yang sangat diberi hak istimewa oleh budaya patriarki menjadi sentral dari kekuasaan di tingkat keluarga. Hal inilah yang menjadikan ketidaksetaraan dan ketidakadilan bagi kaum perempuan dalam kepemilikian properti, akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan akhirnya kurang memberikan manfaat secara utuh bagi eksistensi perempuan.
Penghapusan sistem patriarki atau struktur vertikal adalah tujuan utama dari semua gerakan feminisme, karena sistem ini yang dilegitimasi oleh model struktural-fungsionalis, memberikan keuntungan laki-laki daripada perempuan. Kesetaraan gender tidak akan pernah dicapai kalau sistem patriarkat ini masih terus berlaku. Oleh karena itu, ciri khas dari gerakan feminisme adalah ingin menghilangkan institusi keluarga, atau paling tidak mengadakan defungsionalisasi keluarga, atau mengurangi peran institusi keluarga dalam kehidupan masyarakat. Untuk memahami konsep feminisme berikut diuraikan berdasarkan sejarah berkembangnya gerakan feminisme yang mencakup dua gelombang:
1. Gerakan Gelombang Pertama lebih pada gerakan filsafat di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet yang pada Tahun 1785, suatu perkumpulan masyarakat ilmiah untuk
30
perempuan pertama kali didirikan di Middelburg (Selatan Belanda).
Seorang aktivis sosialis utopis bernama Charles Fourier pada Tahun 1837 memunculkan istilah feminisme yang kemudian tersebar ke seluruh Eropa dan Benua Amerika. Publikasi John Stuart Mill dari Amerika dengan judul The Subjection of Women pada Tahun 1869 yang melahirkan feminisme Gelombang Pertama.
2. Feminisme Gelombang Kedua dimulai pada Tahun 1960, dengan terjadinya liberalisme gaya baru dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara di parlemen. Era Tahun 1960 merupakan era dengan mulai ditandainya generasi ―baby boom‖ (yaitu generasi yang lahir setelah perang dunia ke-2) menginjak masa remaja akhir dan mulai masuk masa dewasa awal. Pada masa inilah, masa bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut dalam kancah politik kenegaraan.49
Di Indonesia sendiri pada abad XIX gerakan kaum perempuan terfokus pada menuntut untuk hak persamaan dalam bidang pendidikan. Perempuan pada waktu itu terkekang dengan budaya setempat yang tidak membolehkan kaum perempuan untuk memiliki pendidikan yang tinggi seperti kaum laki-laki. Perempuan bertugas menurut pada suami dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya. Perempuan sebagai the second seks yang bahkan tercermin dalam ungkapan-ungkapan yang lebih mengutamakan laki-laki. Ungkapan Suwargo nunut neroko katut, yang berarti bahwa kebahagiaan atau penderitaan istri hanya tergantung pada suami adalah contoh dimana perempuan dianggap tidak berperan dalam kehidupan.
Situasi kebudayaan dengan semangat yang tercermin dalam ungkapan itu sangat dominan hingga pergantian abad ke-20. Sejarah menunjukkan bahwa hal itu harus berakhir karena datangnya kebudayaan modern. Contohnya ketika para pemuda Jawa yang terpelajar sudah tidak tahan pada dengan
49 Herien Puspitawati, Konsep, Teori dan Analisis Gender, (Bogor: Institut Pertanian Bogor), hal. 4
31
kondisi pada waktu itu, kemudian para pemuda tersebut mendirikan Budi Utomo, dan yang terjadi adalah pemberontakan kebudayaan. Pemberontakan tersebut sangat penting dalam sejarah Indonesia, karena menjadi tanda bangkitnya nasionalisme dan sekaligus mundurnya kebudayaan Jawa.
RA. Kartini yang telah berjuang mengangkat kaum perempuan dengan istilah Emansipasi Wanita melalui peningkatan dalam bidang pendidikan, telah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam pergerakan kaum perempuan. Perkembangan tersebut tidak hanya dalam bidang pendidikan saja tetapi dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dengan dibuktikan adanya pergerakan kaum perempuan dalam bidang-bidang tersebut. Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin semua warga negara mempunyai hak dan kedudukan yang sama bagi pergerakan perempuan untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan kedudukannya. Untuk itulah kaum perempuan selalu berupaya melakukan yang terbaik untuk kaumnya, tentunya dengan membentuk organisasi-organisasi wanita.
Tuntutan-tuntutan organisasi tersebut akhirnya didengar oleh pemerintah.
Kepedulian pemerintah terhadap tuntutan pergerakan wanita dibuktikan dengan disediakannya jabatan menter muda urusan Peranan Wanita pada tahun 1978; yang kemudian ditingkatkan menjadi Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Dalam GBHN tahun 1978 menyatakan bahwa wanita mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan pria untuk ikut serta sepenuhnya dalam segala kegiata pembangunan.50 Sekarang ini Kementriannya disebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Berdasarkan pemaparan tersebut di atas bahwa munculnya gender di Indonesia berawal dari adanya tradisi budaya yang kuat yang mengikat kaum perempuan pada waktu itu. Perempuan dianggap sebagai the second seks yang
50 Riant Nugroho, Gender dan Strategi Pengurus Utamanya Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) Hal. 133
32
hanya bertugas membantu suami saja. Hal tersebut yang mendorong adanya pemberontakan oleh kaum perempuan itu sendiri terhadap budaya mereka, dengan munculnya RA Kartini sebagai pelopor pemberontakan tersebut.
Dengan memajukan perempuan dalam bidang pendidikan. Akhirnya muncullah berbagai pergerakan kaum perempuan dalam berbagai bidang seperti, sosial, politik, budaya pertahanan dan sebagainya.
Untuk itulah gerakan perempuan adalah pondasi dasar munculnya gender di Indonesia. Gerakan perempuan adalah salah satu usaha untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat dunia, dan Indonesia khususnya. Tentunya dengan adanya dukungan oleh kaum laki-laki dan wanita dari berbagai generasi, organisasi, dan lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta serta oleh dunia internasional sehingga kaum perempuan mampu hidup adil dan sejahtera.