• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hermeneutika Humanistik Nasr Hamid Abu Zayd

Dalam bab ini penulis akan menjelaskan tentang latar belakang Nasar Hamid Abu Zayd, biografi, karya dan pemikirannya baik

HERMENEUTIKA HUMANIS NASAR HAMID ABU ZAYD DAN PENAFSIRAN AYAT QITÂL

A. Hermeneutika Humanistik Nasr Hamid Abu Zayd

A. Hermeneutika Humanistik Nasr Hamid Abu Zayd

Abu Zayd pada dasarnya mencoba memakai analisa hermeneutika konstruktif dalam kajian al-Qur’an yang dilakukannya. Dia menilai bahwa masalah mendasar dalam kajian Islam adalah masalah penafsiran teks secara umum, teks historis maupun teks keagamaan al-Qur’an.1

Ia menganggap perlunya penekanan pada historitas teks Al-Qur’an, kesadaran sejarahnya serta sikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya. Menyadari hubungan antara pembaca dan teks secara dialektis menjadi sangat penting agar para penafsir tidak terjebak dalam ideologisasi penafsiran. Dari pandangan tersebut kemudian Abu Zayd melahirkan metode interpretasi yang bercorak humanis dan dialogis yang kemudian dikenal “hermeneutika humanistik”. Dalam hal ini Ia menyamakan antara hermeneutika dan ta’wil dalam Islam. Namun ia menganggap ada beda antara tafsir dan ta’wil. Menurutnya tafsir bertugas menyingkap makna

1 Kusmana, “Hermeneutika Humanistik… h. 267

suatu teks, sedang ta’wil bertugas agar makna teks tersebut memiliki keterkaitan fungsional dengan kondisi saat ini. 2

Abu Zayd menganggap bahwa teks agama seperti penafsiran yang ada merupakan teks-teks linguistik, dalam artian bahwa teks tersebut dihasilkan dari struktur kebudayaan dan diproduksi sesuai dengan aturan-aturan dari kultur tersebut dalam hal ini bahasa Arab yang dianggap sebagai sistem semantis yang sentral. 3

Hermeneutika Abu Zayd ini lahir mengkritik atas pembacaan repetitif-tendensius atau pembacaan yang bersifat mengulang gagasan yang telah ada tanpa disertasi proses dialektis. Oleh karenanya Ia menginginkan pembacaan yang terbuka, produktif dan kontekstual.4

Menurut Abu Zayd, teks selalu bersifat netral dan bisa ditafsirkan oleh siapa saja yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan suatu kebenaran. Ini berarti bahwa dalam Islam, teks-teks agama-primer dan sekunder (Al-Qur’an dan Sunnah) terbuka untuk ditafsrikan dalam upaya mendapatkan kebenaran yang otentik.

Karya Nashr Hamid Abu Zayd cukup banyak manarik perhatian di kalangan pemikir Islam kontemporer, terutama ketika ia menawarkan konsep pemikirannya tentang “teks” (nashsh). Teks mempunyai keunikan tersendiri. Di samping mempunyai muatan makna yang tersirat, teks juga mampu memiliki pengaruh di hadapan manusia. Dalam konteks peradaban, menurut Abu Zayd, Islam adalah peradaban teks (hadharah an-nashsh).5

2 Suharmadi Assumi, “Nasr Hamid Abu Zayd dan Metode Hermeneutika”

3 Nashr Hamid Abu Zayd, Kritik Wacana Agama…, h. 211.

4 Hilman Latief, Nasr Hamid Abu Zayd: Kritik Teks Keagamaan.., h. 124-125.

5 Nashr Hamid Abu Zayd, Mafhum an-Nashsh: Dirasah fī ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: al-Markaz ats-Tsaqafi al-Arabi, 1994), h. 9.

Dalam konteks al-Qur’an, teks Al-Qur’an telah mendasari dirinya sebagai landasan ad-din (Syari’at dan jalan hidup) umat muslim.6 Tulistulisan Abu Zayd berkenaan dengan kajian Al-Qur’an, seperti Mafhum an-Nashsh, dianggap sebagai horison baru dalam hermeneutika Al-Qur’an kontemporer.7

Menurut Abu Zayd, dalam pembacaan teks Al- Qur’an perlu ditradisikan model pembacaan produktif (qira’ah muntijah) yang dapat menepikan model pembacaan repetitif (qira’ah tiqrariyyah) maupun pembacaan tendensius (qira’ah mughridah).8

Abu Zayd memahami Al-Qur’an sebagai “teks” (mafhum annashsh), dalam artian bahwa teks, apa pun bentuknya, adalah produk budaya, yaitu bahwa teks-teks Al-Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya selama kurun waktu 20 tahun. Abu Zayd menekankan bahwa teks-teks Al-Qur’an hidup dalam konteks-teks sosial dan budaya pada waktu itu, sehingga kontekstualisasi dan aktualisasi sangat penting untuk dilakukan dengan merujuk aspek historisitasnya.9

Abu Zayd memandang al-Qur’an mewujud dalam konteks kehidupan sehari-hari, sehingga ia tidak hanya bertutur dengan bahasa Arab

6 Nashr Hamid Abu Zayd, Teks, Otoritas, Kebenaran (Yogyakarta: LKiS, 2003), h. 5

7 Nur Kholis Setiawan, “Nashr Hamid Abu Zayd: Beberapa Pembacaan terhadap Turats Arab”, pengantar buku Nashr Hamid Abu Zayd, Hemeneutika Inklusif: Mengatasi Problematika Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan (Jakarta:

ICIP, 2004), h. 57

8 Ketiga model pembacaan ini diuraikan Abu Zayd dalam An-Nashsh as-Sulthah, al-Haqiqah; sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Teks, Otoritas, Kebenaran, (Yogyakarta: LKiS, 2003), h. 100

9Moch Nur Ichwan “Meretas Kesarjanaan Kritis..., h. 155-159. Dalam buku Nur Ichwan ini, Abu Zayd mengatakan bahwa realitas adalah awal dari terbentuknya teks (Qur’an), dan dari bahasa dan budayanya dan juga di tengah pergerakannya dengan interaksi dengan manusia. Maka Abu Zayd berkesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya (muntaj ats-tsaqafi) sebelum pada akhirnya teks itu berubah menjadi sebuah produsen budaya (muntij ats-tsaqafi) yang akan menciptakan budaya baru sesuai pandangan dan kultur dunianya.

di mana wahyu diturunkan, tetapi juga mempengaruhi pemikiran dan kebudayaan penerimanya. Dia melacak pengaruh tersebut dalam implementasi rukun Islam, budaya filantropi Muslim, perhatian Muslim terhadap yatim piatu, tentang makanan dan minuman, tentang implikasi kodrat perempuan, tentang manusia sebagai individu dan masyarakat, komunikasi sehari-hari dan bahasa yang digunakan, presentasi dan kerajinan artistik dan kehidupan spiritual Muslim.10

Abu Zayd menjelaskan bahwa pembacaan ini tentang makna hidup dan hal ini mesti secara demokratik menawarkan hermeneutika terbuka.

Dalam implementasinya kita dituntut untuk membebaskan pemikiran dari manipulasi kekuasaan, baik kekuasaan politik, sosial, atau agama agar kita dapat mengembalikan formulasi makna pada masyarakat beriman. Untuk itu kita perlu mengkontruksi hermeneutika demokratik terbuka yaitu hermeneutika humanistik.11

Dalam karyanya yang cukup monumental an-Nashsh, as-Sulthah, al-Haqiqah, Abu Zayd menolak otoritas apa pun antara teks dan kebenaran.

Yang terpenting bagi Abu Zayd dalam menafsirkan teks-teks keagamaan adalah selalu melibatkan dua aspek historis dan konteks dari teks itu sendiri.

Aspeks historis berarti bahwa seseorang perlu mempertimbangkan historisitas teks, dari mana teks itu berasal, sejauh mana teks itu otentik sehingga teks dapat diterima oleh masyarakat. Sedangkan aspek kedua berarti mempertimbangkan konteks dari sebuah teks, untuk dikembangkan dan dikontekstualisasikan pada realitas sosial dan seterusnya.

Sebagai landasan metodologi yang dibangun oleh Nasr hamid, ia membedakan antara konsep tafsir dan ta’wil. Tafsir memiliki pengertian menyingkap sesuatu yang tersembunyi atau tidak diketahui yang bisa

10 Kusmana, “Hermeneutika Humanistik… 279

11 Kusmana, “Hermeneutika Humanistik… 280

diketahui karena adanya media tafsirah. Sedangkan ta’wil adalah kembali ke asal usul sesuatu untuk mengungkapkan ma’na dan maghza. Ma’na merupakan dalâlah yang dibangun berdasarkan gramatikal teks, sehingga makna yang dihasilkan adalah makna-makna gramatik. Sedangkan maghza menunjukkan pada makna dalam konteks sosio historis. Dalam proses penafsiran kedua hal ini sangat berhubungan kuat satu sama lain, maghza selalu mengikuti ma’na begitupula sebaliknya.12

Dalam pandangan Abu Zayd, pemahaman tanda sesuai dengan makna atau dalâlah. Makna terdiri dari dua bagian: makna historis (târikh) dan makna tetap (da’im mustamir). Makna historis ini berkaitan dengan teologi masyarakat, kondisi sosial, politik, ekonomi, dan moralitas.

Sedangkan makna tetap berhubungan dengan struktur dan sistem makna yang dikandung oleh tanda. Dia berpendapat bahwa teks mempunyai dua makna yaitu ‘am (general) dan khas (spesifik). Makna ‘am dilihat dari sesuatu yang dapat berangsung terus menerus dan dapat diperbaharui dengan pelbagai pembacaan. Sementara makna khas adalah indikasi makna (dalâlah) yang dipahami langsung melalui realitas historis dan budaya yang ada di saat teks diproduksi.13

Penafsiran al-Qur’an sebagai teks bahasa tidak bisa digali hanya dengan menganalisis bahasa secara inheren. Bagaimanapun juga teks al- Qur’an turun bukan dalam masyarakat yang sama sekali tidak memiliki budaya. Paling tidak keberadaan asbâb al-nuzûl merupakan bukti bahwa teks al-Qur’an telah merespon terhadap kondisi masyarakat saat itu. Oleh sebab itu, bagi Nasr Hamid persoalan konteks budaya secara luas (asbab

12 Ali Imron dkk, Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis., h. 125

13 Kusmana, “Hermeneutika Humanistik… h. 273

alnuzûl makro) yang saat itu berkembang merupakan persoalan penting yang tidak bisa ditinggalkan.14

Dalam membangun teori penafsirannya, Nasr Hamid memandang sangat penting persoalan al-siyâq (konteks) dalam memproduksi makna.

Menurutnya di dalam al-Qur’an terdapat beberapa level konteks, yaitu:

konteks sosio cultural, konteks eksternal, konteks internal, konteks linguistic, dan konteks pembacaan atau penakwilan. Penggalian makna hanya dengan menggunakan atau memenuhi kelima konteks ini sudah cukup. Pandangan Nasr Hamid ini pada dasarnya sama dengan kerangka teori yang dibangun semiotika.15 Semiotika memandang fakta-fakta dan fenomena-fenomena masyarakat dan kebudayaan merupakan tanda-tanda yang bermakna, sedangkan bahasa termasuk bagian dari fakta itu. Oleh karena itu, apabila ingin menggali makna suatu teks bahasa tertentu, maka harus dianalisis berbagai macam konteks yang berhubungan dengan teks.

Sebagai langkah-langkah penafsirannya, akan dipaparkan sebagai berikut:

 Menganalisa struktur linguistic ayat-ayat al-Qur’an dan mencari faktafakta sejarah yang mengelilinginya (sabab al-Nuzul makro dan sabab al-Nuzul mikro).

 Menentukan tingkatan makna teks.16

14 Ali Imron dkk, Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis., h. 125

15 Moch Nur Ichwan “Meretas Kesarjanaan Kritis., h. 90

16 Menurut Nasr Hamid, ada tiga tingkatan makna yang perlu diperhatikan dalam teks-teks keagamaan (al-Qur’an), tingkatan yang pertama adalah makna yang menuju kepada fakta-fakta historis, yang tidak dapat diinterpretasikan secara metaforis. Tingkatan yang kedua adalah suatu makna yang dapat diinterpretasikan secara metaforis. Dan tingkatan yang ketiga makna yang bisa diperluas berdasarkan atas “signifikansi” yang dapat diungkap dari konteks sosio cultural di mana teks itu berada. Lihat, Moch. Nur Ichwan “Meretas Kesarjanaan Kritis; Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd”, (Jakarta:

Teraju, 2003), h. 90

 Menentukan makna asli teks (The original Meaning).

 Menentukan makna signifikansi (significance).

Mengkontekstualisasikan makna historis dengan berpijak pada makna yang tidak terkatakan.17

Dokumen terkait