• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SPIRITUALITAS MANETE IN ME

D. Spiritualitas Manete In Me dalam Cara Hidup dan Penerapannya

6. Hidup Sesuai Mistik dan Karisma Kongregasi

Spiritualitas Kongregasi Suster Sang Timur merupakan seperangkat unsur nilai obyektif yang juga berpusat pada Yesus sebagai subyeknya, namun lebih spesifik sesuai dengan Mistik, Karisma, Cara hidup dan Perutusan Kongregasi lewat proses interiorisasi yang sudah dibathinkan dan menimbulkan kewajiban moral, yang akan diuraikan di bawah ini:

a. Mistik

Mistik adalah relasi personal atau pribadi dengan Allah yang memampukan manusia untuk menemukan gambaran hidup tentang Allah hingga menumbuhkan keterpesonaan dan cinta. Begitu pula dalam Kongregasi Suster Sang Timur, pengalaman pribadi akan Allah memampukan pendiri Ibu Clara Fey menemukan gambaran akan Allah sebagai seorang Bapa Maha Rahim yang dengan hati penuh kasih, rela mengutus Putera-Nya menjadi manusia dan mengosongkan diri. Oleh karena itu mistik Kongregasi Suster Sang Timur ialah mistik “Keputraan”. Nama Sang Timur pertama-tama mau menekankan bahwa Yesus sebagai Putra Allah, yang rela menjadi Kanak-Kanak yang miskin, maka para Suster Sang Timur berusaha untuk tetap menjalin persatuan dengan Yesus Putra Allah yang miskin yang mau dicintai dan diabdi serta yang dijumpai dalam diri anak-anak dan kaum muda yang miskin. Dengan mengusahakan persatuan dengan Yesus ini akan memampukan setiap pribadi para suster untuk berbagi kasih sayang dan berkat

bagi anak-anak dan kaum muda yang dijumpai dalam hidup setiap hari (Xaveria, 2007: 15).

b. Karisma

Menemukan Allah sebagai daya hidup setelah mengalami mistik karena keterpautan dengan Allah yang ditimbulkan oleh cinta yang makin dalam. Adapun daya hidup Allah yang hendak disetiai oleh pendiri adalah daya hidup Allah. Dalam misteri inkarnasi, terkandung 2 daya hidup Allah yang dirangkum dalam “POKOK ANGGUR” yang meliputi:

1) Daya Pengosongan Diri Kristus yang Menjadi Santapan

Daya pengosongan diri Yesus sampai menderita di salib, untuk menjadi santapan, memampukan Ibu pendiri untuk menyediakan dan mengorbankan diri dalam kasih dan pelayanan sehabis-habisnya, Ibu Clara mampu menjadi santapan bagi yang lain. Layaknya Anggur dan Gandum dalam Perjamuan Ekaristi.

2) Daya Pemberian Diri Kristus yang Menghidupkan, yang Menabur Hidup Daya cinta Keputraan Yesus yang membuat pendiri mampu menabur hidup untuk menyerahkan diri dengan segenap cinta tak terbagi dalam pelayanan menghantar anak-anak pada Yesus. Daya ini tertuang dalam semangat Injili Manete In Me (Xaveria, 2007: 27-37).

Secara institusional personal model kemuridan Sang Timur dapat di rumuskan bahwa masing- masing anggota sebagai murid- murid Yesus mencoba untuk dapat memperjuangkan model hidup Yesus dalam hidup, melalui sikap,

perkataan dan tindakan sehari-hari terlebih di dalam tugas pelayanan kepada sesama, terutama anak-anak dan kaum muda. Yesus menjadi pusat dan teladan bagi perjuangan hidup dalam mencapai tujuan hidup bersatu dengan-Nya.

Dengan mengusahakan persatuan dengan-Nya dan meneladan hidup Yesus sendiri, setiap suster dapat menimba kekuatan untuk menghidupi misteri inkarnasi ini, yaitu pengosongan diri dan menabur hidup bagi orang lain.

c. Perutusan Kongregasi, Visi dan Misi

Berkaitan dengan aktivitas insani yang mulai terlibat/ turut ambil bagian dalam gerak hidup Allah. Inti keprihatinan Yesus yang hendak dipartisipasi oleh Ibu Clara Fey berwujud daya cinta keputraan Yesus yang dalam dorongan Roh Kudus rela memenuhi perutusan Bapa menjelma menjadi manusia, menyerahkan diri seutuhnya kepada Bapa agar dapat dipakai untuk karya keselamatan sesama seperti Allah Putra sendiri rela taat sebagai manusia demi keselamatan dan penebusan seluruh dunia. Dengan mewartakan kabar gembira, hidup baru atau menabur hidup, kekuatan jiwa. Dengan menyediakan diri atau mengorbankan diri sendiri dalam kasih dan pelayanan sehabis-habisnya.

Jika ada keterpesonaan dan keterpautan akan muncul cinta dengan hati yang tak terbagi, oleh karena itu yang menjadi Visi Kongregasi Suster Sang Timur adalah Bersatu dengan Allah Tuhan kita (PH, hal. 87). Setiap karya dan doa senantiasa diarahkan kepada persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan hidup masing- masing anggota.

Misi kongregasi muncul berhadapan dengan eksistensi jeritan umat manusia yang harus ditanggapi, maka Misi Kongregasi Suster Sang Timur adalah

turut ambil bagian dalam daya cinta keputraan Allah yang menabur hidup, mengosongkan diri, menyerahkan diri, mempertaruhkan diri secara utuh/total untuk menghantar anak-anak dan kaum muda yang miskin dan terlantar kepada Yesus.

Menilik tanda-tanda zaman yang timbul dari masa awal pendirian Kongregasi Suster Sang Timur, dan masih bersifat aktual hingga saat ini. Bentuk tindak lanjut konkret ini harus meresapi seluruh perutusan dan gerak kongregasi, untuk itu perlu melalui kontemplasi sehingga menemukan Tuhan di dalamnya.

Cara hidup Para Suster Sang Timur yang lahir dari mistik dan Karisma terangkum dalam Pokok Anggur ialah cara hidup Manete In Me dan Ekaristi. Cara Hidup Manete In Me diartikan sebagai undangan untuk terus menerus tinggal pada-Nya, bersatu dengan-Nya, hidup berpusat pada-Nya yang menjadi santapan bagi kita untuk dimampukan menabur hidup, memberi hidup, mengalirkan hidup dalam doa, karya kerasulan, hidup bersama, hidup religius (penghayatan tiga kaul), dan setiap gerak hidup kita. Cara hidup Manete In Me ini dapat diwujudkan dalam hidup sehari- hari contohnya dengan bersatu dan tinggal pada-Nya kita dimampukan untuk dapat menabur hidup bagi sesama lebih- lebih menyerahkan diri dengan segenap cinta tak terbagi dalam pelayanan menghantar anak-anak dan kaum muda kepada Yesus, Gaya hidup Manete In Me juga diaktualisasikan atau diwujudnyatakan dalam cara berfikir, cara merasa, berdoa, dalam kebersamaan dengan yang lain, dalam berkarya dan dalam penghayatan ke tiga kaul, sedangkan Cara Hidup Ekaristi dapat dimaksudkan agar selalu dapat menghayati hidup ekaristi dan terus menerus mengusahakan, menghayati undangan Yesus tinggal pada-Nya sehingga dapat sepikir, seperasaan, sehati, sepenanggungan,

dapat dikuatkan dan dihidupi oleh Roh Kudus sendiri, dalam mengemban perutusan Bapa bahkan bila perlu sampai mati di salib. Yesus bermaksud melestarikan kenangan akan korban salib dan kebangkitan-Nya, dan tetap menjadi santapan jiwa bagi para murid-Nya dalam Ekaristi Suci (Yoh 6:52-58). Di sana terangkumlah seluruh karya Allah menebus umat manusia dari dosa dan memberi hidup sejati. Dengan mengatakan: “Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu” (Mat, 26:26), Yesus menyerahkan diri demi keselamatan manusia.

Sabda Yesus itu harus menjadi semboyan hidup kita: “Inilah tubuh-Ku!”, artinya: inilah diriku sendiri, seutuhnya! Aku bersedia menyerahkan diri dalam pengabdian kepada sesama. Bila manusia terbuka bagi bimbingan Roh Kudus, ia akan berperan serta juga dalam hidup dan misi Yesus Kristus menyelamatkan sesama umat manusia, contohnya kita bersedia menyerahkan diri dengan mengabdi Tuhan dalam diri sesama yang membutuhkan, mewujudkan cinta kasih dengan membangun paguyuban (kesatuan), bersedia saling mengampuni, rela berkorban, rela dilukai, dan gembira (Xaveria, 2007: 27-37).