• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SPIRITUALITAS MANETE IN ME

C. Spiritualitas Manete In Me Menurut Konstitusi

Kongregasi Para Suster Sang Timur disetujui oleh Sri Paus Pius IX pada tanggal 12 Mei 1869, sebagai persekutuan religius kepausan. Pada tanggal 15 Juni 1888 Sri Paus Leo XIII mengesahkan konstitusi dan disetujui oleh Takhta Suci pada tanggal 30 Mei 1982. Dalam semangat regula St. Agustinus yang menjiwai Pedoman Hidup Kongregasi ini. Pedoman Hidup tersebut memberikan kepada para suster suatu program hidup bagi persekutuan rohani yang merasul, dengan memperhatikan kembali tugas pendiri Clara Fey. Seperti jemaat yang pertama di Yerusalem para suster harus merupakan suatu kesatuan yang “sehati dan sejiwa”, mereka harus hidup bersatu dengan Kristus sesuai semboyan Manete In Me yang dipilih dan dihidupi oleh Ibu pendiri, mereka harus bekerja bagi pengabdian Gereja dengan mendidik secara kristiani anak-anak dan kaum muda, terutama yang miskin dan terlantar.

Dalam Konstitusi yang dihidupi oleh para Suster Sang Timur begitu banyak artikel yang menjelaskan mengenai spiritualitas Manete In Me, dapat terlihat jelas mulai dari pembukaan yang diambil dari konferensi Ibu Clara Fey tanggal 10 Agustus 1849, di dalam konferensinya beliau mengatakan “O...Seandainya kita menyadari betapa itu sangat menentukan kalau tanpa ragu, penuh dan seutuhnya, kita serahkan diri kepada Tuhan, kalau hanya DIA yang kita cari, kalau kita hidup di hadirat-Nya, tinggal beserta-Nya, selalu bersatu dengan-Nya, mencintai DIA satu-satunya!” (PH, hal. VI).

Renungan yang diambil dari konferensi Ibu Clara Fey ini menunjukkan begitu jelasnya bagaimana perjuangan dan usaha Ibu Clara Fey untuk mengajak para pengikutnya agar lebih dekat dan bahkan berusaha tinggal pada-Nya.

Dalam Pedoman Hidup terdapat kutipan Injil Yoh 15: 4-5 dimana jelas terlihat bagaimana Ibu Clara mau menyatukan kontemplasi dan kegiatan sebagaimana Yesus sendiri:

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (PH, hal. 30). Itulah yang menjadi kekuatan dasar Manete In Me yang selama ini di hidupi oleh Ibu Clara, bahwa kita akan berbuah banyak bila kita selalu bersatu dengan pokoknya yaitu Tuhan sendiri, bagaikan ranting yang tidak dapat hidup bila tidak bersatu dengan pokok anggur.

Hal menyangkut Spiritualitas dalam buku Pedoman Hidup juga bisa ditemui dalam artikel 51 yang isinya sebagai berikut:

Karena kita ingin menjadi rasul, kita berusaha memenuhi amanat Tuhan: “Tinggallah di dalam Aku”. Hanya bila bersatu dengan Dia, kita dapat menjadi utusan-Nya dan ikut serta melaksanakan perutusan-Nya (bdk.PC 6). Kita berpaling dari diri kita, mengarahkan pandangan kepada Yesus Kristus, agar menyerupai Dia dalam tingkah laku, cara berpikir, dan cinta kasih kita. Kita mencoba melihat dengan pandangan mata-Nya, mencintai dengan hati-Nya. Begitulah Ia beserta kita dalam hidup sehari-hari sehingga hidup kita menjadi kontemplasi tiada hentinya.

Di sini begitu jelas bahwa kegiatan dan kontemplasi merupakan dua bentuk ungkapan yang berbeda dari penyerahan diri penuh kasih kepada Tuhan dan kepada sesama, namun keduanya saling menyuburkan satu dengan yang lain karena keduanya bersumber dalam karya Roh Kudus. Kehidupan doa mendorong dan memampukan kita untuk melayani semua orang. Pengabdian penuh kasih menyebabkan kita makin menyelami Tuhan, makin memahami kebenaran-Nya serta makin berkembang di dalam cinta kasih. Dalam hidup keseharian kita, kita dapat semakin bertindak lebih bijaksana karena kita mencoba untuk senantiasa melihat Yesus di dalam diri sesama. Denga n kata lain bahwa hidup kita dikuasai oleh Roh Allah yang dapat memampukan kita berkembang dan berbagi hidup dengan orang lain.

Erat dan mendalamnya persatuan dengan Kristus terutama tergantung pada hidupnya iman kita, sebab dalam imanlah kita secara sadar berjumpa dengan Yesus Kristus. Dalam iman itu Ia dekat dengan kita, hanya dalam iman kita dapat berdoa, dalam iman kita terima kepastian bahwa Ia hadir dalam Ekaristi. Setiap kali kita menyatakan iman kita, kita lebih erat dipersatukan dengan Dia. Bersama dengan Rasul Paulus kita ingin menyatakan: ”Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam diriku. Dan hidup yang kuhayati sekarang dalam daging, itu hidupku dalam iman akan Putera Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untukku (Gal 2:20)” (PH, Art. 3).

Artikel 3 yang diambil dari pedoman hidup para Suster Sang Timur ini mau menjelaskan bahwa bagaimana para suster hidup dalam iman. Manete In Me lebih menjadi bermakna dan nyata dalam Ekaristi. Yesus yang hadir dalam

Ekaristi tinggal dan bersatu dalam hati, membimbing dan mengarahkan hidup para suster setiap hari. Oleh karena itu para Suster Sang Timur menimba kekuatan bagi hidupnya dari Ekaristi, seperti halnya Ibu Clara yang menjadikan Komuni Suci sebagai pusat wawancara pribadinya yang terus menerus dengan Tuhan kekasih jiwanya. Dalam hidup sehari- hari secara pribadi, Ibu Clara juga senantiasa membiasakan diri berkunjung sejenak ke kapel untuk menimba kekuatan baru dari Tuhan yang hadir dalam Tabernakel, dan dalam acara harian komunitas setiap hari selalu memberikan waktu unt uk penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus atau yang biasa disebut adorasi, yang sampai sekarang menjadi tradisi dalam kongregasi Suster Sang Timur.