• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Analisis Pengaruh Modal Kerja, Usia, Lama Usaha dan Jam Kerja

4.3.3. Uji Hipotesis

Uji F dilakukan untuk mengetahui kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat.Jika nilai signifikan Ftest ˂ 5 persen makan dapat disimpulkan bahwa variabel bebas secara keseluruhan mampu menjadi prediktor dari variabel terikat. Hasil analisis regresi linear berganda dengan SPSS 16 dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4: Hasil Regresi Uji F

ANOVAa

b. Predictors: (Constant), x4, x1, x2, x3

Sumber: Data penelitian diolah menggunakan SPSS 16

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi Ftest < 5% (0,000 < 0,05), maka dapat dikatakan variabel modal kerja, usia, lama usaha, dan jam kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan.

2. Koefisien Determinasi (R2)

Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen. Nilai ) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya terbatas. Sebaliknya, nilai ) yang mendekati satu menandakan variabel-variabel independen

memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh variabel dependen.

Adapun nilai dari hasil perhitungan SPSS 16 terlihat pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5: Hasil Koefisien Determinasi ( )

Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), x4, x1, x2, x3 b. Dependent Variable: y

Sumber: Data penelitian diolah menggunakan SPSS 16

Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa nilai R square sebesar 0.498. Hal ini menandakan hahwa besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan yang dapat diterangkan oleh model persamaan regresi linear berganda sebesar 49.8%, adapun sisanya yaitu sebesar 50.2%

dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi.

3. Uji t (parsial)

Uji t dilakukan untuk membuktikan hipotesis secara parsial masing-masing variabel independen.Hasil uji t dapat dilihat pada tabel coefficients pada kolom sig (significance). Jika probabilitas nilai t atau signifikansi ˂0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Apabila probabilitas nilai t atau signifikansi ˃0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan atara masing-masing variabel bebas terhadap varibel terikat. Berdasarkan hasil analisis parsial pengaruh dari keempat variabel independen yaitu modal kerja, usia, lama usaha, dan jam kerja terhadap pendapatan ditunjukkan pada tabel 4.6 berikut:

55

Tabel 4.6: Hasil Regresi Uji t

Coefficientsa

Sumber: Data penelitian diolah menggunakan SPSS 16

Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat bahwa terdapat 1 variabel independen yaitu modal yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu pendapatan, dengan tingkat signifikan sebesar 0.001.

Sedangkan usia tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan dikarenakan memiliki nilai sig lebih besar daripada 0.05 yaitu masing-masing sebesar 0.460.

Hal ini berarti bahwa hanya hipotesis pertama, ketiga, dan keempat dari hipotesis yang diajukan, dapat diterima. Sedangkan hipotesis kedua ditolak.

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

4.4.1. Pengaruh Modal Kerja Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Variabel Modal Usaha (X1), berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Hal ini dibuktikan dari koefisien regresi sebesar 0,231 dengan tingkat signifikansi dari uji t 0,001 < 0,05. Berdasarkan koefisien regresi tersebut menunjukkan bahwa semakin besar modal usaha, maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Dan

sebaliknya, setiap terjadi penurunan modal usaha akan diikuti oleh penurunan tingkat pendapatan PKL di area Alun-alun Kabupaten Gresik.

Dilihat dari besarnya kontribusi modal usaha terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik, ternyata modal usaha mampu memberikan pengaruh sebesar 34.8% dan merupakan pengaruh yang dominan dalam menentukan tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik apabila dibandingkan dengan tiga variabel bebas lainnya.

Modal atau biaya adalah salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi setiap usaha, baik skala kecil, menengah maupun besar (Tambunan, 2002).

Modal memiliki hubungan positif bagi bertambahnya pendapatan pedagang, dimana modal yang besar akan berpengaruh terhadap meningkatnya kapasitas produksi dan besarnya skala usaha. Tersedianya bahan baku dalam jumlah yang cukup dan berkesinambungan akan memperlancarproduksi yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah produksi serta dapat berpengaruh pada jumlah pendapatan usaha yang diperoleh.

Hasil penelitian ini selaras dengan Toni (2016) yang dalam penelitiannya menjelaskan modal usaha mempengaruhi jumlah pendapatan para PKL, dari hasil tersebut menunjukkan bahwa besar kecilnya modal yang digunakan maka akan menentukan jumlah pendapatan yang akan diperoleh. Modal usaha yang digunakan PKL secara langsung menentukan jumlah persediaan barang atau produk yang akan dijual, semakin besarnya modal maka semakin banyak pula barang dagangan yang akan dijual sehingga dapat memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah pendapatan PKL.

Mayoritas PKL di alun-alun Kabupaten Gresik memiliki modal usaha antara 110 ribu hingga 250 ribu saja yaitu sebesar 59% PKL. Dan tidak kurang dari 12%

responden memiliki modal usaha dibawah 100 ribu. Selebihnya responden memiliki modal usaha diatas 250 ribu hingga lebih dari 650 ribu. Banyaknya

57

responden yang memiliki modal usaha kecil karena mayoritas barang dagangan mereka juga tidak membutuhkan modal besar seperti makanan dan minuman serta mainan anak-anak. Para PKL yang membutuhkan modal besar dikarenakan produk yang mereka jual juga membutuhkan modal lebih seperti sepatu, sandal dan pakaian.

4.4.2. Pengaruh Usia Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima

Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Variabel Usia (X2), berhubungan positif tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Hal ini dibuktikan dari koefisien regresi sebesar 982.552 dengan tingkat signifikansi dari uji t 0.460 >

0,05. Berdasarkan koefisien regresi tersebut menunjukkan bahwa semakin dewasa atau berumur para pedagang kaki lima di alun-alun Kabupaten Gresik, maka tidak akan mempengaruhi tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik.

Usia seseorang menggambarkan tingkat produktifitas sehingga dapat mempengaruhi pendapatan PKL. Miller dan Meiners (2000) menyatakan bahwa

“pendapatan meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan masa kerja seseorang; lewat dari batas itu, pertambahan usia akan di iringi dengan penurunan pendapatan. Batas titik puncak diperkirakan ada pada usia empat puluh lima hingga lima puluh lima tahun”.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hariningsih dan Simatupang (2008) menyimpulkan adanya pengaruh positif hubungan umur dengan tingkat pendapatan yang diperoleh. Dan hasil penelitian ini menggambarkan hal yang serupa bahwa usia memiliki pengaruh positif terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Dimana sebagian besar para responden yaitu pedagangan kaki lima di lingkungan alun-alun Kabupaten Gresik memiliki usia 36 hingga 40 tahun dengan jumlah responden yaitu sebesar 23%. Banyaknya

responden yang memiliki usia tersebut yaitu merupakan kelompok usia yang telah memiliki keluarga dan menjadi PKL merupakan salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarganya. Kelompok usia terbanyak kedua adalah kurang dari 30 tahun yakni sebesar 21% kemudian disusul oleh kelompok usia lebih dari 50 tahun sebesar 17%.

Tetapi dalam penelitian ini tidak ada pengaruh signifikan antara usia dengan pendapatan. Tidak adanya pengaruh yang signifikan ini bisa jadi dikarenakan, mereka yang berusia produktif sering meninggalkan pekerjaan berdagangnya saat ada tawaran pekerjaan lain yang penghasilannya lebih banyak atau lebih menguntungkan.

4.4.3. Pengaruh Lama Usaha Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Variabel Lama Usaha (X3), berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Hal ini dibuktikan dari koefisien regresi sebesar 365,302 dengan tingkat signifikansi dari uji t 0,009 < 0,05. Berdasarkan koefisien regresi tersebut menunjukkan bahwa semakin lama usaha dagang PKL tersebut, maka akan semakin meningkatkan pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Dan sebaliknya, semakin muda usia usaha dagang PKL di alun-alun Kabupaten Gresik akan diikuti oleh penurunan pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik.

Dilihat dari besarnya kontribusi lama usaha terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik, ternyata lama usaha mampu memberikan pengaruh sebesar 27,2% dan merupakan pengaruh paling besar ketiga yang menentukan tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik.

Lama usaha para pedagang kaki lima di area alun-alun Kabupaten Gresik dapat dilihat pada gambar di atas. Pedagang kaki lima dengan lama usaha

59

kurang dari satu tahun sebesar 17%. Sedangkan pedagang kaki lima dengan lama usaha antara satu hingga lima tahun sebanyak 50%. Tidak kurang dari 11%

pedagang kaki lima mengakui bahwa mereka telah berdagang sebagai PKL di area alun-alun antara lima tahun hingga sepuluh tahun terakhir. Lama usaha 10 hingga 20 tahun merupakan rentang waktu yang panjang. Sebesar 18% PKL mengaku bahwa mereka telah berdagang di area alun-alun Kabupaten Gresik dalam rentang waktu yang panjang tersebut. Dan tidak kurang dari 4%

responden mengaku bahwa lama usaha mereka bahkan lebih dari 20 tahun.

Lamanya seorang pelaku usaha atau bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya (kemampuan/keahliannya), sehingga dapat menambah efisiensi dan mampu menekan biaya produksi lebih kecil dari pada hasil penjualan. Keahlian keusahawaan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengorganisasikan dan menggunakan faktor-faktor lain dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa yang diperlukan masyarakat (Sukirno, 1994:7). Lama usaha akan menentukan keterampilan dalam melaksanakan suatu tugas tertentu. Lama Usaha dan pengalaman setiap individu dapat berdampak positif terhadap kemampuan kerja seseorang, Rusmanhadi (2013).

Dan hasil penelitian ini menggambarkan hal yang serupa bahwa lama usaha memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik.

4.4.4. Pengaruh Jam Kerja Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima

Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Variabel Jam Kerja (X4), berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik. Hal ini dibuktikan dari koefisien regresi sebesar 12607,982 dengan tingkat signifikansi dari uji t 0,006 < 0,05. Berdasarkan koefisien regresi tersebut menunjukkan bahwa semakin besar jam kerja para pedagang kaki lima, maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten

Gresik. Dan sebaliknya, setiap terjadi penurunan jam kerja akan diikuti oleh penurunan tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik.

Dilihat dari besarnya kontribusi jam kerja terhadap tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik, ternyata jam kerja mampu memberikan pengaruh sebesar 29,8% dan merupakan pengaruh terbesar kedua dalam menentukan tingkat pendapatan PKL di area alun-alun Kabupaten Gresik apabila dibandingkan dengan tiga variabel bebas lainnya.

Jam kerja dalam penelitian ini adalah jumlah atau lamanya waktu yang dipergunakan untuk berdagang atau membuka usaha mereka untuk melayani konsumen setiap harinya. Semakin lama jam kerja yang digunakan pedagang untuk menjalankan usahanya, berdasarkan jumlah barang yang ditawarkan, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Hariningsih dan Simatupang (2008) membuktikan adanya hubungan langsung antara jam kerja dengan tingkat pendapatan. Penentuan jam kerja dalam memasarkan barang dagangan berpengaruh terhadap pendapatan bersih yang akan diterima.

Pedagang kaki lima harus menetapkan jam kerja yang tepat sesuai dengan karakteristik produk mereka agar dapat menjual barang dagangannya dan mendapatkan margin keuntungan yang maksimal.

Lama bekerjanya para pedagang kaki lima di area alun-alun Kabupaten Gresik bervariasi antara kurang dari 5 jam per hari hingga lebih dari 20 jam.

Namun para PKL rata-rata bekerja antara lima hingga sepuluh jam per hari. Hal ini diperkuat oleh jawaban dari 88% responden yang mengaku bahwa lama mereka berjualan di area alun-alun Kabupaten Gresik adalah antara lima jam hingga sepuluh jam per hari.

Banyak diantara para pedagang yang datang ke area alun-alun sekitar jam tiga sore. Mereka mulai membuka lapak berjualan pada jam tiga karena

61

pengunjung alun-alun juga rata-rata baru berdatangan sekitar jam empat sore.

Dan sekitar jam sepuluh malam, para pedagang kaki lima sudah berkemas untuk pulang.

62 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel apa saja yang mempunyai pengaruh pada pendapatan pedagang kaki lima dan untuk mengetahui variabel yang paling dominan terhadap pendapatan pedagang kaki lima di alun-alun Kabupaten Gresik. Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dibahas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengaruh modal pedagang terhadap pendapatan, bahwa modal pedagang berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pedagang kaki lima.

Pada penelitian ini modal diperoleh dari berbagai sumber. Sebagian berasal dari pinjaman dan sebagian dari modal sendiri. Semakin besar modal yang digunakan maka akan semakin bertambah pula pendapatan yang diperoleh, karena dengan adanya modal yang besar maka akan semakin banyak produk yang diperjualbelikan.

2. Pengaruh usia terhadap pendapatan pedagang pada penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan usia terhadap pendapatan pedagang kaki lima. Dikarena pedagang yang masuk usia produktif akan meninggalkan usaha berdagangnya apabila ada tawaran kerja yang lebih banyak pendapatannya atau lebih menguntungkan.

3. Pengaruh lama usaha terhadap pendapatan pedagang adalah positif dan signifikan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan lama usaha akan meningkatkan pendapatan pedagang. Lamanya seorang pelaku usaha

63

atau bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya (kemampuan/keahliannya), sehingga dapat menambah efisiensi dan mampu menekan biaya produksi lebih kecil dari pada hasil penjualan.

4. Pengaruh jam kerja terhadap pendapatan pedagang adalah positif dan signifikan. Semakin lama jam kerja yang digunakan pedagang untuk menjalankan usahanya, berdasarkan jumlah barang yang ditawarkan, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

5. Berdasarkan pada hasil uji didapatkan bahwa variabel modal mempunyai nilai koefisien beta yang paling besar. Sehingga variabel modal mempunyai pengaruh yang paling kuat dan berarti juga paling dominan dibandingkan dengan variabel yang lainnya

5.2 SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi PKL, maupun bagi pihak-pihak lain yang terkait dalam penelitian ini. Adapun saran yang diberikan sebagai berikut:

1. Pemilik pedagang kaki lima harus berupaya untuk mengembangkan usaha yang dilakukan yaitu dengan mencari tambahan modal yang digunakan untuk menjalankan usaha yang dilakukan. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mencari tambahan modal dengan menggunakan fasilitas kredit dengan bunga yang rendah, misalnya menggunakan fasilitas dari KUR (Kredit Usaha Rakyat).

2. Dikarenakan variabel modal memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap pendapatan pedagang kaki lima (PKL) maka peneliti menyarankan

kepada bank atau instansi terkait untuk memperbanyak program kredit usaha rakyat agar para PKL yang akan memulai usaha dapat melakukan peminjaman modal dengan mudah tanpa menyulitkan para pedagang dalam proses peminjaman.

3. Pemilik PKL diharapkan untuk mengikuti segala bentuk pelatihan dan pendidikan yang dilakukan oleh Dinas yang berwenang sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam proses pengelolaan usaha yang dilakukan.

4. Mengakui keberadaan PKL dengan menuangkannya di dalam produk-produk tata ruang karena jumlah PKL yang semakin hari meningkat sehingga perlu adanya penanganan dan penataan secara riil. Sebagai contoh keberhasilan penataan PKL di Kota Surakarta yang mengunakan pendekan humanis tanpa kekerasan, dimana semua PKL tanpa ada yang perotes dengan adanya relokasi.

5. Membantu PKL untuk mendatangkan pengunjung dengan cara promosi yang terus menerus melalui kegiatan pameran, wisata jajanan, pemasaran dengan poster, baliho dll

65

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 2015. Berita Resmi Statitik, Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur 2015, Agustus 2015.

Badan Pusat Statistik, 2016. Berita Resmi Statitik, Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2016, November 2016.

Hariningsih, Endang, dan Rintar Agus Simatupang. (2008).”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Usaha Pedagang Eceran (Studi Kasus: Pedagang Kaki Lima Di Kota Yogyakarta)”. Jurnal Bisnis & Manajemen Vol. 4, No. 2, 2008.

Hidayat, 1978. "Peranan Sektor Informal dalam Perekonomian Indonesia", Ekonomi Keuangan Indonesia, Vol. XXVI, No. 4, Desember 1978, hal. 415-443.

Mankiw, N Gregory. 2001. Pengantar Ekonomi. Edisi kedua. (Terjemahan oleh Haris Munandar).Jakarta: Erlangga

Manning, Chris dan Effendi Tadjuddin Noer. 1996. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota. Jakarta : Yayasan OborIndonesia.

Manning, Chris; Effenfi Tadjuddin Noer dan tukiran, 1996. Struktur pekerjaan, sector informal dan kemiskinan di kota.Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada.

Miller, Roger Leroy dan Roger E. Meiners. 2000. Teori Mikroekonomi Intermediate. (Terjemahan oleh Haris Munandar). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Muhammad, Deden Haris. 2011. " Strategi Pengembangan Usaha Sektor Informal Dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Dan Penanggulangan Kemiskinan Di Perkotaan", Proceeding Simposium Nasional Otonomi Daerah 2011, ISBN: 978-602-96848-2-7. LAB-ANE FISIP Untirta

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Nurul Widyaningrum, “Kota Dan Pedagang Kaki Lima” , Jurnal Analisis Sosial Vol 14 No.1

Purwanugraha, H.E. dan Harsiwi, Th. A.M. (2002). “Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keberadaan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Malioboro”.

MODUS: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 14 (1), Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Rahardja, P dan M. Manurung. 2004. Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar Memaksimumkan Laba Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Rahayu MS. 2010. Strategi Pedagang Kaki Lima terhadap Perda No. 3 Tahun 2000. Studi kasus di lapangan Puputan Margarana Denpasar. [skripsi].

Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Riyadi, Salehuddin, dan Subekti, I., (2000), “Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Usaha Pedagang Eceran (Studi Kasus: Pedagang Pakaian Kaki Lima Di Daerah Tk. II Kotamadia Malang),” Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Vol 12 No. 1, Februari.

Rusmanhadi, Endi Pratama, 2013.”Analisis Differensiasi Pendapatan Sektor InformalDi Jalan Jawa Kabupaten Jember”. Skripsi Universitas Jember.

Sadono Sukirno , 2005 , Mikro Ekonomi , Teori Pengantar Edisi Ketiga , PT Raja Grafindo Persada , Jakarta

Setio, Zhafril Pamungkas, 2015. ” Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Kaki Lima Kota Malang (Study Kasus Pedagang Kaki Lima Di Wisata Belanja Tugu Kota Malang).” Skripsi Universitas Brawijaya

Simanjuntak, J Payaman . 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.

Jakarta: LPFE UI

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Suhartono, Toni. 2016. “Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Kaki Lima (Studi kasus di kecamatan Lowokwaru Kota Malang)”.

Skripsi Universitas Brawijaya. Tidak Dipublikasikan

Tambunan, Tulus. 2002. Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta:

Salemba Empat.

67

Todaro, Michael P., 2000, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ke Tiga Edisi Ketujuh Jilid 1, Jakarta:Gramedia Pustaka

Universitas Brawijaya, Fakultas Ekonomi, 1997, pedoman Penulisan Skripsi &

Laporan Praktek Kerja Nyata, Malang.

Winardi. (2000). Kamus Ekonomi (Inggris-Indonesia). Bandung: Mandar Maju, Tarsito.

Dokumen terkait