• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis

Dalam dokumen IKHWANISITA (Halaman 43-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis

2. Hipotesis

Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran, 2006 : 135). Berdasarkan kerangka konseptual yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

H0 : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tidak berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas Bank Syariah Mandiri (Januari 2007 – Desember 2009).

Ha : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas Bank Syariah Mandiri (Januari 2007 – Desember 2009).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Menurut Efferin et al (2008 : 66) “desain kausal digunakan jika peneliti ingin mengetahui adanya penyebab dari suatu fenomena, dimana suatu variabel akan mempengaruhi variabel lainnya”.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006 : 55).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh laporan keuangan bulanan Bank Syariah Mandiri (Januari 2007 – Desember 2009).

Menurut Erlina (2008) “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang digunakan ditentukan dengan menggunakan teknik sensus, yaitu seluruh elemen populasi menjadi data penelitian”.

Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut, maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh laporan keuangan bulanan Bank Syariah Mandiri (Januari 2007 – Desember 2009) sebanyak 36 sampel.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yaitu data yang diukur dalam suatu skala secara numerik. Data yang digunakan merupakan data sekunder, yaitu data primer yang telah diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk tabel, grafik, diagram, gambar, dan sebagainya sehingga lebih informatif jika digunakan oleh pihak lain (Umar, 2003 : 60). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari website Bank Syariah Mandiri yaitu www.syariahmandiri.co.id dan website Bank Indonesia yaitu www.bi.go.id berupa laporan keuangan bulanan selama tahun 2007 sampai tahun 2009.

Menurut waktu pengumpulannya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pooling data. Menurut Jogiyanto (2004 : 54) “Panel data atau pooling data adalah gabungan dari data yang melibatkan satu waktu tertentu (cross sectional) dan data yang melibatkan urutan waktu (time series)”.

D. Metode Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan peneliti untuk memperoleh data sekunder adalah studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder berupa catatan-catatan, laporan keuangan, buku, jurnal maupun informasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini (Erlina, 2008 : 36). Data penelitian ini diperoleh melalui pustaka dan media internet dengan cara men-download laporan keuangan perbankan syariah melalui situs www.syariahmandiri.co.id dan dari www.bi.go.id tahun 2007- 2009.

E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Menurut Jogiyanto (2004 : 62), “Definisi operasional menjelaskan karakteristik dari objek ke dalam elemen-elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionalisasikan dalam riset.”

Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lainnya. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR, NPL, LDR dan BOPO. Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Berikut ini merupakan tabel yang menyajikan konsep dan operasionalisasi dari variabel yang diteliti :

Tabel 3.1

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Jenis Variabel

Nama

Variabel Definisi Pengukuran Skala

Pengukuran kredit yang diberikan deposan kepada bank dengan kata lain NPL merupakan tingkat kredit macet pada bank tersebut. seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan

sebagai sumber

Sumber : Peneliti, 2011

F. Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan program SPSS 18.0.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik. Untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel yang diteliti terhadap profitabilitas, maka penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan terlebih dahulu melakukan pengujian asumsi klasik.

1. Pengujian Asumsi Klasik

Peneliti melakukan uji asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis, antara lain :

a. Uji Normalitas

Ghozali (2006 : 110) mengatakan uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Model regresi yang baik hendaknya memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasi.

kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan.

Rasio

Normalitas data dapat diketahui dengan menggambarkan penyebaran data melalui sebuah grafik. Data yang menyebar di sekitar dan mengikuti arah garis diagonal menandakan bahwa data berdistribusi normal dan memenuhi asumsi normalitas. Uji statistik juga dapat digunakan untuk menguji apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 maka data residual berdistribusi normal.

Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 maka data residual tidak berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas/independen (Ghozali, 2006 : 91). Multikolinearitas adalah situasi adanya korelasi variabel-variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan korelasi di antara variabel independen. Jika nilai VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas di antara variabel independen.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain (Umar, 2008 : 179). Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas.

Heteroskedastisitas dapat dilihat dengan mengamati grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat dengan residualnya.

Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot dengan dasar analisis (Ghozali, 2006:105) :

1) jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas,

2) jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya (Erlina, 2008 : 106).

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan lainnya. Uji autokorelasi dapat menggunakan

Durbin-Watson test, dengan kriteria jika nilai Durbin Watson ≤ 2 maka tidak terdapat gejala autokorelasi (Supramono dan Utami, 2004 : 82).

2. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk menentukan besarnya variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independennya, dengan kisaran nilai antara 0 dan 1 (Ghozali, 2006 : 83). Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, peneliti menggunakan uji signifikansi parsial (t-test) dan uji signifikansi simultan (F-test).

a. Analisis Regresi Berganda

Model regresi yang digunakan yaitu :

Y = α+β1X12X23X34X4+ e Keterangan :

Y = Profitabilitas (%) α = Konstanta (%)

β1...β4 = Koefisien Regresi (%) X1 = Capital Adequacy Ratio (%)

X2 = Non Performing Loan (%) X3 = Loan to Deposit Ratio (%)

X4 = Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (%)

e = error atau variabel pengganggu

b. Uji Signifikansi Parsial (t-test)

Uji t pada dasarnya digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2006 : 84). Variabel independen dikatakan memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen apabila variabel dependen tersebut memiliki nilai signifikansi (sig) di bawah 0.05.

c. Uji Signifikansi Simultan (F-test)

Uji F pada dasarnya digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2006 : 84).

Variabel-variabel independen tersebut dikatakan mempunyai pengaruh secara simultan dan signifikan terhadap variabel dependen apabila memiliki nilai signifikansi (sig) di bawah 0.05.

BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian

1. Gambaran Umum dan Sejarah Singkat Bank Syariah Mandiri

Nilai-nilai perusahaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan integritas telah tertanam kuat pada segenap insan Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak awal pendiriannya. Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998. Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industri perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami krisis luar biasa.

Pemerintah akhirnya mengambil tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia. Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa bank lain serta mengundang investor asing.

Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger) empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo) menjadi satu bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan dan menetapkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemilik mayoritas baru BSB. Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September 1999.

Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No.

1/24/ KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999.

PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di perbankan Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.

2. Visi dan Misi Bank Syariah Mandiri a. Visi

Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha b. Misi

• Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan

• Mengutamakan penghimpunan dana konsumer dan penyaluran pembiayaan pada segmen UMKN

• Merekrut dan mengembangkan pegawai profesional dalam lingkungan kerja yang sehat

• Mengembangkan nilai-nilai syariah universal

• Menyelenggarakan operasional bank sesuai standar perbankan yang sehat

• Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan lain, segenap lapisan masyarakat dan investor asing.

3. Budaya Perusahaan

Bank Syariah Mandiri sebagai bank yang beroperasi atas dasar prinsip syariah Islam menetapkan budaya perusahaan yang mengacu kepada sikap akhlaqul karimah (budi pekerti mulia), yang terangkum dalam lima pilar yang disingkat SIFAT, yaitu :

1. Siddiq (integrasi), Menjaga Martabat dengan Integritas. Awali dengan niat dan hati tulus, berpikir jernih, bicara benar, sikap terpuji dan perilaku teladan.

2. Istiqomah (konsistensi), Konsisten adalah Kunci Menuju Sukses.

Pegang teguh komitmen, sikap optimis, pantang menyerah, kesabaran dan percaya diri.

3. Fathanah (profesionalisme), Profesional adalah Gaya Kerja Kami.

Semangat belajar berkelanjutan, cerdas, inovatif, terampil dan adil.

4. Amanah (tanggung jawab), Terpercaya karena Penuh Tanggung Jawab. Menjadi terpercaya, cepat tanggap, obyektif, akurat dan disiplin.

5. Tabligh (kepemimpinan), Kepemimpinan Berlandaskan Kasih-Sayang. Selalu transparan, membimbing, visioner, komunikatif dan memberdayakan.

4. Shared Value

Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran pegawai sejak pertengahan 2005, lahirlah nilai-nilai perusahaan yang baru yang disepakati bersama untuk di-shared oleh seluruh pegawai Bank Syariah Mandiri yang disebut Shared Values Bank Syariah Mandiri. Shared Values Bank Syariah Mandiri disingkat “ETHIC”.

a. Excellence: berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang terpadu dan berkesinambungan.

b. Teamwork: mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi.

c. Humanity: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan religius.

d. Integrity: menaati kode etik profesi dan berpikir serta berperilaku terpuji.

e. Customer Focus: memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan untuk menjadikan Bank Syariah Mandiri sebagai mitra yang terpercaya dan menguntungkan.

5. Produk Bank Syariah Mandiri a. Pendanaan

1) Tabungan BSM

Tabungan BSM adalah simpanan yang penarikannya berdasarkan syarat-syarat tertentu yang disepakati. Akad yang digunakan adalah akad mudharabah muthlaqah. Mudharabah muthlaqah adalah akad

antara pihak pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib) untuk memperoleh keuntungan, yang kemudian akan dibagikan sesuai nisbah yang disepakati. Dalam hal ini, mudharib (bank) diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola modal atau menentukan arah investasi sesuai syariah.

2) Deposito BSM

Deposito BSM adalah roduk investasi berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan setelah jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan. Akad yang digunakan adalah akad mudharabah muthlaqah Mudharabah muthlaqah adalah akad antara pihak pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib) untuk memperoleh keuntungan, yang kemudian akan dibagikan sesuai nisbah yang disepakati. Dalam hal ini, mudharib (bank) diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola modal atau menentukan arah investasi.

3) Giro BSM

Giro BSM adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau alat perintah bayar lainnya dengan prinsip wadiah yad adh-dhamanah. Akad yang digunakan adalah akad wadi'ah yad adh-dhamanah Wadi'ah yad dhamanah adalah akad penitipan uang antara pihak yang mempunyai uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keutuhan uang, dimana pihak penerima titipan berhak

memanfaatkannya berikut bertanggung jawab atas pengembalian kepada pihak yang menitipkan

4) Obligasi

Obligasi Bank Syariah Mandiri (Mudharabah) adalah Surat berharga jangka panjang berdasar prinsip syariah yang mewajibkan Emiten (bank Syariah Mandiri) untuk membayar Pendapatan Bagi Hasil / Kupon dan membayar kembali Dana Obligasi Syariah pada saat jatuh tempo.

b. Pembiayaan

1) Gadai Emas BSM

Gadai Emas BSM merupakan produk pembiayaan atas dasar jaminan berupa emas sebagai salah satu alternatif memperoleh uang tunai dengan cepat. Akad yang digunakan adalah akad Qardh wal Ijarah. Qardh wal Ijarah adalah akad pemberian pinjaman dari bank untuk nasabah yang disertai dengan penyerahan tugas agar bank menjaga barang jaminan yang diserahkan.

2) Mudharabah BSM

Pembiayaan Mudharabah BSM adalah pembiayaan dimana seluruh modal kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh bank.

Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.

3) Musyarakah BSM

Pembiayaan khusus untuk modal kerja, dimana dana dari bank merupakan bagian dari modal usaha nasabah dan keuntungan dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.

4) Murabahah BSM

Pembiayaan Murabahah BSm adalah pembiayaan berdasarkan akad jual beli antara bank dan nasabah. Bank membeli barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan margin yang disepakati.

c. Jasa

1) Jasa Produk

a. Kartu /ATM BSM

Kartu / ATM BSM merupakan sarana untuk melakukan transaksi pada ATM Syariah Mandiri.

b. BSM SMS Banking

BSM SMS Banking merupakan produk layanan perbankan berbasis teknologi seluler yang memberikan kemudahan melakukan berbagai transaksi perbankan.

2) Jasa Operasional a. Setoran Kliring

Penagihan warkat bank lain di mana lokasi bank tertariknya berada dalam satu wilayah kliring.

b. Inkaso

Penagihan warkat bank lain di mana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikredit ke rekening nasabah.

3) Jasa Investasi

BSM Investa Berimbang adalah reksadana Campuran (Mix Fund / Balanced Fund) berbasis instrument pasar uang, pasar obligasi dan pasar saham dengan ketentuan investasi sesuai Syariah.

6. Sumber Daya Manusia

Pengembangan Sumber Daya Insani, sesuai dengan misinya akan mendukung dan meningkatkan dukungannya secara aktif melalui sebuah sistem yang dapat menjadikan setiap pegawai Bank Syariah Mandiri bangga menjadi bagian dari Bank Syariah Mandiri. Jumlah pegawai Bank Syariah Mandiri pada saat ini sebanyak 7.018 orang (Per September 2010).

B. Analisis Data

1. Statistik Deskriptif

Berikut disajikan statistik secara umum dari data yang digunakan secara keseluruhan:

S

Sumber : Data diolah peneliti, 2011 Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

Melalui analisis statistik deskriptif dapat disimpulkan bahwa:

i. Jumlah populasi yang digunakan adalah 36

ii. Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki nilai minimum 11,35%

dan maksimum 16,50% dengan rata-rata nilai 13,54% serta penyimpangan baku sebesar 1,43%.

iii. Variabel Non Performing Loan (NPL) memiliki nilai minimum 2,66% dan maksimum 16,44% dengan rata-rata nilai 6,75% serta penyimpangan baku sebesar 2,52%.

iv. Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki nilai minimum 13,73%

dan maksimum 99,11% dengan rata-rata nilai 88,22% serta penyimpangan baku sebesar 13,40%.

v. Variabel Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) memiliki nilai minimum 13,74% dan maksimum 92,61% dengan rata-rata nilai 78,95% serta penyimpangan baku sebesar 12,92%.

Descriptive Statistics

vi. Varaiabel Return on Asset (ROA) memiliki nilai minimum 1,49% dan maksimum 3,48% dengan rata-rata nilai 1,98% serta penyimpangan baku 0,40%.

2. Uji Asumsi Klasik

Suatu model regresi linear berganda dapat disebut sebagai model regresi yang baik jika memenuhi uji asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini mencakup uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi, data residual berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis grafik dan uji statistik (Ghozali, 2006 : 110). Uji normalitas dengan analisis grafik dapat dilakukan dengan melihat grafik histogram dan normal probability plot. Berikut ini merupakan grafik normal probability plot dalam model penelitian ini.

Gambar 4.1 Histogram

Dari grafik histogram di atas, terlihat bahwa variabel berdistribusi normal yang ditunjukkan oleh kurva berbentuk lonceng (bell shaped) yang tidak memiliki kecenderungan ke sisi kiri maupun ke sisi kanan.

Gambar 4.2 Grafik P-P Plot

Sumber : Data diolah peneliti, 2011

Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Uji normalitas kemudian dilanjutkan dengan uji statistik untuk melengkapi hasil pengujian sebelumnya. Uji statistik yang digunakan untuk menguji apakah data residual berdistribusi normal atau tidak adalah uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 maka data residual berdistribusi normal.

Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 maka data residual tidak berdistribusi normal.

Tabel 4.2

Uji Kolmogorov-Smirnov

Dari tabel di atas, terlihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0.847 lebih besar daripada 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terdapat korelasi antar variabel independen. Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya (Ghozali, 2006 : 91). Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum digunakan untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai Tolerance < 0.10

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 36

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .23695980

Asymp. Sig. (2-tailed) .847

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

atau sama dengan nilai VIF > 10. Berikut ini merupakan hasil uji multikolinearitas variabel independen dalam penelitian ini.

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Tolerance untuk setiap variabel independen lebih besar dari 0.10 dan nilai VIF dari setiap variabel independen lebih kecil dari 10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

c. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak

terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2006 : 105). Berikut merupakan hasil uji heterokedastisitas dalam bentuk grafik scatterplot.

Gambar 4.2 Scatterplot Sumber : Data diolah peneliti, 2011

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak

Dalam dokumen IKHWANISITA (Halaman 43-0)

Dokumen terkait