BAB III METODE PENELITIAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian dengan menggunakan data Bank Syariah Mandiri mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 menunjukkan bahwa secara parsial, hanya variabel LDR dan BOPO yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (ROA). Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari setiap variabel independen (CAR, NPL, LDR dan BOPO).
ANOVAb
Model Sum of
Squares Df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 3.788 4 .947 14.938 .000a
Residual 1.965 31 .063
Total 5.753 35
a. Predictors: (Constant), BOPO, LDR, NPL, CAR b. Dependent Variable: ROA
Capital Adequacy Ratio (CAR) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan ROA dengan arah negatif, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi dari CAR sebesar 0,228 > 0,05 setelah dilakukan uji t. Dengan thitung >
ttabel (1,229 < 2,039). Hal ini menunjukkan bahwa variabel CAR tidak dapat digunakan untuk memprediksi ROA Bank Syariah Mandiri tahun 2007-2009.
Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini bertolak belakang dengan teori Santoso (1997:106) yang menyatakan bahwa rasio CAR yang tinggi menyebabkan semakin baik posisi modalnya.
Modal yang baik akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap bank, dan modal yang besar memungkinkan bank untuk menciptakan kredit yang lebih besar pula, sehingga akan meningkatkan laba. Selain itu modal yang besar akan menyebabkan semakin besar “alat pencetak laba”. Sehingga akan berpengaruh positif terhadap laba. Yang dimaksud “alat pencetak laba” disini adalah seluruh aktiva yang dapat menghasilkan laba atau sering disebut sebagai aktiva produktif.
Aktiva produktif yang biasa dimiliki bank selain kredit adalah surat-surat berharga, obligasi dan penyertaan bank dalam perusahaan lain.
Besarnya pengaruh yang diberikan oleh variabel CAR terhadap ROA Bank Syariah Mandiri juga dapat disebabkan para nasabah cenderung lebih percaya menitipkan uangnya pada bank-bank yang memiliki CAR yang tinggi karena para penitip uang tetap dapat mengambil uangnya saat terjadi kredit macet di tingkat debitur. Oleh karena itu, jumlah modal yang memadai pada suatu bank menjadi pertimbangan bagi deposan dalam menitipkan uangnya karena para deposan merasa terlindungi.
Hasil penelitian peneliti bertolak belakang dengan hasil penelitian Siagian (2009), Mahardian (2008), Saragih (2008) dan Sebatiningrum (2006) yang menunjukkan bahwa CAR berpengaruh terhadap perubahan ROA dengan arah positif.
Non Performing Loan (NPL) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA dengan arah negatif, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansinya sebesar 0,468 > 0,05. Dengan thitung < ttabel (0,735 < 2,039). Dengan demikian H0
diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel NPL tidak dapat digunakan untuk memprediksi ROA Bank Syariah Mandiri tahun 2007-2009.
Hal ini bertolak belakang dengan teori yang dikemukakan dalam bab II, Almilia dan Herdiningtyas (2005) menyatakan bahwa semakin tinggi rasio NPL maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar yaitu kerugian yang diakibatkan tingkat pengembalian kredit macet. Sebaliknya apabila semakin rendah NPL maka bank tersebut akan semakin mengalami keuntungan. Kredit dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit kepada bank lain.
Namun hasil penelitian peneliti sejalan dengan hasil penelitian Mahardian (2008) yang menunjukkan bahwa NPL tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. Sebaliknya, bertolak belakang dengan hasil penelitian Siagian (2009) yang menunjukkan bahwa NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
Loan to Deposit Ratio (LDR) secara parsial memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan ROA, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansinya sebesar 0,000 < 0,05. Dengan thitung > ttabel (4,552 > 2,039). Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel LDR dapat digunakan untuk memprediksi ROA Bank Syariah Mandiri 2007 – 2009. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan dalam bab II, bahwa tingginya rasio LDR menunjukkan rendahnya likuiditas dan rendahnya likuiditas akan menyebabkan laba meningkat (Dendawijaya,2003:118). Sebaliknya rendahnya rasio LDR menunjukkan tingginya likuiditas dan menyebabkan laba menurun.
Tingginya rasio LDR mengindikasikan bahwa dana deposito dari masyarakat yang tertanam dalam pinjaman semakin besar. Dengan semakin besarnya penanaman kredit maka dalam kondisi yang normal akan menyebabkan laba yang meningkat. Laba ini berasal dari penerimaan bunga pinjaman dari kredit yang disalurkan.
Adanya krisis moneter berkepanjangan juga akan berdampak pada dunia perbankan, dan dampak tersebut terasa sampai tahun pengamatan. Akibat krisis, tingkat pendapatan masyarakat menurun sehingga banyak terjadi kredit macet.
Akibatnya bagi bank-bank yang memiliki nilai LDR tinggi akan menderita kerugian lebih besar dibandingkan dengan bank yang memiliki LDR rendah.
Semakin besar nilai kredit dari suatu bank yang mengalami kemacetan, telah mengakibatkan rendahnya pendapatan bersih dari bank tersebut sehingga laba mengalami penurunan.
Hal ini bertolak belakang dengan penelitian Siagian (2009), Saputra (2009) dan Saragih (2008) yang menunjukkan bahwa LDR tidak berpengaruh terhadap perubahan ROA. Namun hasil penelitian peneliti sejalan dengan hasil penelitian Mahardian (2008) dan Sebatiningrum (2006) yang menunjukkan bahwa LDR berpengaruh terhadap perubahan ROA.
Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansinya sebesar 0,000 < 0,05. Dengan thitung > ttabel (6,464 > 2,039).
Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel BOPO dapat digunakan untuk memprediksi ROA Bank Syariah Mandiri tahun 2007-2009. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Siamat (1999), bahwa tingkat BOPO yang menurun menunjukkan semakin tinggi efisiensi operasional yang dicapai perusahaan, hal ini berarti semakin efisien aktiva bank dalam menghasilkan keuntungan.
Peningkatan biaya operasional bank yang tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan operasional akan berakibat berkurangnya laba bersih sehingga akan menurunkan profitabilitas (ROA). Dengan tingginya biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan keuntungan yang dicapai perusahaan, maka akan mengakibatkan rendahnya efisiensi operasional bank dan selanjutnya berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas yang semakin menurun.
Hasil penelitian peneliti didukung oleh hasil penelitian Mahardian (2008) dan Sebatiningrum (2006) yang menunjukkan bahwa BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap perubahan ROA.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN