BAB I PENDAHULUAN
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat tidak hanya bagi peneliti tetapi juga bagi perusahaan dan juga pihak lain.
1. Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan ketika penulis dimintai pendapatnya tentang pengaruh CAR, NPL, LDR dan BOPO terhadap tingkat profitabilitas (ROA).
2. Memberikan kontribusi positif dalam rangka menyediakan informasi tentang kondisi Bank Syariah Mandiri, dan mensosialisasikan kepada masyarakat.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi dunia perbankan dalam melakukan operasinya selalu menggunakan prinsip kehati-hatian sehingga kinerjanya akan dianggap sehat oleh Bank Indonesia pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4. Penelitian ini bermanfaat untuk menyempurnakan penelitian-penelitian sejenis berikutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis 1. Bank Syariah
a. Pengertian Bank Syariah
Menurut Undang-undang No.10 tahun 1998 bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31 tentang Akuntansi Perbankan (revisi 2007) paragraf pertama bahwa bank merupakan lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang membutuhkan dana, serta lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.
b. Fungsi Bank Syariah
1. Intermediary agent (sama seperti bank konvensional) 2. Fund atau investment manager
3. Penyedia jasa perbankan pada umumnya (sama seperti bank konvensional) sepanjang tidak melanggar syariah
4. Pengelola fungsi sosial (ZISWA)
5. Alat transmisi kebijakan moneter (sama seperti bank Konvensional)
c. Prinsip Bank Syariah
Pada dasarnya prinsip bank syariah menghendaki semua dana yang diperoleh dalam sistem perbankan syariah dikelola dengan integritas tinggi dan sangat hati-hati.
a) Shiddiq, memastikan bahwa pengelolaan bank syariah dilakukan dengan moralitas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dengan nilai ini pengelolaan diperkenankan (halal) serta menjauhi cara-cara yang meragukan (subhat) terlebih lagi yang bersifat dilarang (haram).
b) Tabligh, secara berkesinambungan melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat mengenai prinsip-prinsip, produk dan jasa perbankan syariah. Dalam melakukan sosialisasi sebaiknya tidak hanya mengedepankan pemenuhan prinsip syariah semata, tetapi juga harus mampu mengedukasi masyarakat mengenai manfaat bagi pengguna jasa perbankan syariah.
c) Amanah, menjaga dengan ketat prinsip kehati-hatian dan kejujuran dalam mengelola dana yang diperoleh dari pemilik dana (shahibul maal) sehingga timbul rasa saling percaya antara pemilik dana dan pihak pengelola dana investasi (mudharib).
d) Fathanah, memastikan bahwa pegelolaan bank dilakukan secara profesional dan kompetitif sehingga menghasilkan keuntungan maksimum dalam tingkat risiko yang ditetapkan oleh bank. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan yang penuh dengan kecermatn dan kesantunan (ri’ayah) serta penuh rasa tanggung jawab (mas’uliyah).
d. Produk-Produk Bank Syariah
Dengan prosuder yang didasarkan Hukum Islam, maka bentuk-bentuk usaha dan pinjam-meminjam uang harus mengikuti ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadis yang antara lain (Muhammad, 2005: 9) :
1) Prinsip Simpanan Murni (al’Wadiah)
Prinsip simpanan murni merupakan fasilitas yang diberikan oleh bank Islam untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang kelebihan dana untuk menyimpan dananya dalam bentuk Wadiah. Fasilitas al-Wadiah diberikan untuk tujuan investasi guna mendapatkan keuntungan seperti halnya tabungan, deposito dan giro.
2) Bagi Hasil (Syirkah)
Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana. Pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara bank dengan penyimpan dana, maupun antara bank dengan nasabah penerima dana. Bentuk produk yang berdasarkan prinsip ini adalah mudharabah dan musyarakah.
3) Prinsip Jual Beli (at-Tijarah)
Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan pembelian atas nama bank, kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga beli ditambah keuntungan (margin).
4) Prinsip Sewa (al-Ijarah)
Prinsip ini secara garis besar terbagi atas dua jenis: (1) Ijarah, sewa murni, seperti halnya penyewaan alat-alat produk (operating lease). Dalam teknis perbankan, bank dapat membeli equipment yang dibutuhkan nasabah kemudian menyewakan dalam waktu dan hanya telah disepakati kepada nasabah. (2) Bai al takjiri atau ijarah almuntahiya bit tamlik merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa (finansial lease).
5) Prinsip jasa/fee (al-Ajr walumullah)
Prinsip ini meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank. Bentuk produk yang berasarkan prinsip ini antara lain Bank Garansi, Kliring, Inkaso, Jasa, Transfer, dll.
e. Sumber Dana Bank Syariah
Bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya dana bank syariah terdiri atas :
a) Modal
Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Modal dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.
b) Titipan (Wadi’ah)
Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c) Investasi (Mudharabah)
Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.
f. Kegiatan Operasional Bank Syariah
Secara umum, kegiatan operasional bank syariah dapat dilihat dari jenis produk yang ditawarkan oleh bank syariah. Produk yang ditawarkan bank syariah secara umum adalah (Muhammad, 2005: 177):
1) Penyaluran Dana (Financing)
a) Pembiayaan dengan prinsip jual beli. Pembiayaan ini dilakukan sehubungan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda.
Berdasarkan bentuk pembayaran dan waktu penyerahan, transaksi jual beli dapat dibedakan menjadi:
i. Pembiayaan (Murabahah al-ba’i bi tsman ajil). Akad ini lebih dikenal dengan murabahah saja. Dalam skema
murabahah, bank bertindak sebagai penjual, sedangkan nasabah bertindak sebagai pembeli. Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan waktu penyerahan. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa bank harus memberitahukan tingkat keuntungan yang diambil bank pada transaksi tersebut.
ii. Pembiayaan Salam. Akad ini merupakan akad transaksi jual beli dengan barang yang bertindak sebagai objek belum ada.
Namun, sebagai syarat transaksi ini adalah bahwa kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secra pasti.
iii. Pembiyaan Istishna’. Akad ini hampir sama dengan akad salam, namun pada akad istishna’, pembayaram yang dilakukan oleh bank dapat dicicil. Pembiayaan ini biasanya dilakukan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
b) Pembiayaan dengan prinsip sewa. Transaksi ijarah didasari atas perpindahan manfaat. Perbedaan prinsip sewa dengan prinsip jual beli terletak pada objek transaksi. Pada prinsip sewa, objek transaksi adalah jasa, sedangkan prinsip jual beli objeknya adalah barang/benda. Terdapat akad sewa yang diikuti dengan perpindahan kepemilikan objek pada akhir masa sewa. Akad ini disebut dengan Ijarah Muntahhiyah Bittamlik (IMBT).
c) Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil
i. Pembiayaan Musyarakah. Akad ini merupakan bentuk umum dari pembiayaan dengan prinsip bagi hasil. Akad musyarakah merupakan perpaduan aset dua pihak atau lebih guna membentuk usaha. Asset yang dipadukan dapat berbentuk berwujud (dana, barang perdagangan, peralatan) maupun tidak berwujud (skill, kewiraswastaan, kepemilikan).
ii. Pembiayaan Mudharabah. Pembiayaan mudharabah terbentuk dengan komposisi pemilik modal (shahib al-maal), dalam hal ini bank, dengan pengelola usaha (mudharib). Dalam bentuk kerjasama ini, proporsi kontribusi modal 100% diberikan oleh shahib al-maal, yaitu bank. Berbeda dengan pembiayaan musyarakah, dimana dana modal dapat berasal dari dua belah pihak atau lebih.
2) Penghimpunan Dana (Funding)
Penghimpunan dana yang dilakukan oleh bank dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito, namun dengan melekatkan prinsip operasional syariah pada penghimpunan dana tersebut, prinsip opersional syariah yang dapat diterapkan pada penghimpunan dana adalah:
a) Prinsip Wadi’ah. Terdapat dua jenis simpanan dengan prinsip wadi’ah, yaitu wadi’ah yad dhamanah dan wadi’ah amanah. Jenis
wadi’ah yad dhamanah merupakan akad yang sering diterapkan pada rekening giro. Dalam prinsip wadi’ah yad dhamanah, nasabah yang menitipkan dana pada bank tersebut tidak dijanjikan imbalan pendapatan, namun juga tidak menanggung kerugian. Keuntungan dan kerugian murni dipegang oleh bank. Bank dapat memberikan bonus pada nasabah, namun tidak boleh dijanjikan pada awal pembentukan akad.
b) Prinsip Mudharabah. Dalam prinsip himpunan dana mudharabah, bank bertindak sebagai mudharib (pengelola) sedangkan nasabah bertindak sebagai shabib al-maal (pemilik modal). Prinsip mudharabah dipublikasikan dalam produk tabungan berjangka dan deposito berjangka.
3) Jasa (services)
Jasa perbankan meliputi sharf (forex trading) dan ijarah (sewa).
Sewa dalam hal ini adalah jasa penyewaan kotak simpanan (safe deposit box) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (custodian).
g. Laporan Keuangan Bank Syariah
Laporan keuangan bank syariah ternyata tidak sama dengan laporan bank konvensional, dalam PSAK No.59 (Revisi 2003) tentang Akuntansi Perbankan Syariah dijelaskan pada paragraf 152 bahwa bank syariah yang beroperasi di Indonesia disarankan menyusun laporan keuangannya secara lengkap yang terdiri dari:
Neraca
Laporan Laba Rugi
Laporan Arus Kas
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan
Catatan Atas Laporan Keuangan.
h. Fungsi Laporan Keuangan Bank Syariah
Sebagai bahan informasi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan, laporan keuangan setidaknya harus berfungsi sebagai berikut:
1) Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan. Pihak-pihak yang berkepentingan antara lain: sahibul maal/pemilik dana, kreditur, pembayar zakat, infak, dan sadaqah, pemegang saham, otoritas pengawasan, Bank Indonesia, Pemerintah, Lembaga penjamin simpanan dan masyarakat.
2) Informasi dalam menilai prospek arus kas bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung investor/pemilik dana, kreditur, dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah, aset, dan ketidakpastian dalam penerimaan kas di masa depan atas dividen, bagi hasil, dan hasil
dari penjualan, pelunasan (redemption), dan jatuh tempo dari surat berharga atau pinjaman.
3) Informasi atas sumber daya ekonomi bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomis bank (economic resources), kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham serta kemungkinan terjadinya transaksi, dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut.
4) Informasi mengenai kepatuhan bank terhadap prinsip syariah, serta informasi mengenai pendapatan dan pengeluaran yang tidak sesuai dengan prinsip syariah dan pegelolaan pendapatan dana bank tersebut.
5) Informasi untuk membantu pihak terkait di dalam menentukan zakat bank atau pihak lainnya.
2. Profitabilitas
Laba yang diraih dari kegiatan yang dilakukan merupaan cerminan kinerja sebuah perusahaan dalam menjalankan usahanya. Sebagai salah satu acuan dalam mengukur besarnya laba menjadi begitu penting untuk mengetahui apakah perusahaan telah menjalankan usahanya secara efisien, karena efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut dengan kata lain adalah menghitung profitabilitas.
Menurut Meythi (2005) :
Menjaga tingkat profitabilitas merupakan hal yang penting bagi bank karena profitabilitas yang tinggi merupakan tujuan setiap bank. Jika dilihat dari perkembangan rasio profitabilitas yang menunjukkan suatu peningkatan, hal tersebut menunjukkan kinerja bank efisien. Analisis rasio profitabilitas ini menggunakan ROA dengan alasan ROA sebagai pembina dan pengawas perbankan yang lebih mementingkan aset yang dananya berasal dari masyarakat.
3. Rasio-rasio Keuangan Bank
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui prospek dan tingkat risiko suatu perusahaan. Prospek dapat dilihat dari tingkat keuntungan (profitabilitas) dan risiko dapat dilihat dari kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami kebangkrutan. Analisis terhadap laporan keuangan meliputi perhitungan dan interprestasi rasio keuangan (Zainuddin dan Hartono, 1999). Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analisis keuangan memerlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks yang menghubungkan dua data keuangan antara yang satu dengan yang lainnya.
Menurut Usman (2003), analisis laporan keuangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan finansial dan posisi finansial perusahaan. Analisis rasio keuangan berguna sebagai analisis intern bagi manajemen perusahaan untuk mengetahui hasil finansial yang telah dicapai guna perencanaan yang akan datang dan juga untuk analisis intern bagi kreditor dan investor untuk menentukan kebijakan pemberian kredit dan penanaman modal suatu perusahaan.
Rasio keuangan sangat penting bagi analisis eksternal yang menilai suatu perusahaan berdasarkan laporan keuangan yang diumumkan. Penilaian ini meliputi masalah likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, efisiensi manajemen, dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, pihak pemerintah dan para pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan perusahaan, tidak terkecuali perusahaan perbankan (Sudarini, 2005).
a. CAR (Capital Adequacy Ratio)
CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain, capital adequacy ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut (Dendawijaya, 2009):
CAR
Menurut Santoso (1997:106) rasio CAR yang tinggi menyebabkan semakin baik posisi modalnya. Modal akan mempengaruhi laba melalui penambahan aktiva yang baik (seperti dalam bentuk aktiva produktif) akan meningkatkan laba. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dinyatakan termasuk sebagai bank sehat harus memiliki CAR paling sedikit
sebesar 8%. Hal ini didasarkan kepada ketentuan yang ditetapkan oleh BIS (Bank for Interntional Settlement).
b. NPL (Non Performing Loan)
Menurut Siamat (2005:358), “Non Performing Loan atau sering disebut kredit bermasalah dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan dan atau karena faktor eksternal di luar kemampuan kendali debitur.” Apabila kredit dikaitkan dengan tingkat kolektibilitasnya, maka yang digolongkan kredit bermasalah adalah kredit yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus (special mention), kurang lancar (substandard), diragukan (doubtful), dan macet (loss).
NPL merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam mengukur risiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur (Mabruroh, 2004). NPL mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit (Masyhud, 2004). Rumus yang digunakan:
Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 maksimal kredit bermasalah (non-performing loan) yang diperkenankan secara neto adalah maksimal 5% dari total kredit.
c. LDR (Loan to Deposit Ratio)
LDR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi. Kewajiban tersebut berupa call money yang harus dipenuhi pada saat adanya kewajiban kliring, dimana pemenuhannya dilakukan dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan (Sudarini, 2005). Sebagaimana rasio likuiditas yang digunakan dalam perusahaan secara umum juga berlaku bagi perbankan. Namun perbedaannya dalam likuiditas perbankan tidak diukur dari acid test ratio maupun current ratio, tetapi terdapat ukuran khusus yang berlaku untuk menentukan likuiditas bank sesuai dengan peraturan Bank Indonesia.
Rasio likuiditas yang lazim digunakan dalam dunia perbankan terutama diukur dari Loan to Deposit Ratio (LDR). Besarnya LDR mengikuti perkembangan kondisi ekonomi Indonesia, dan sejak akhir tahun 2001 bank dianggap sehat apabila besarnya LDR antara 80% sampai dengan 110%.
Besarnya LDR dihitung sebagai berikut :
Dimana KLBI : Kredit Likuiditas Bank Indonesia
Dalam tata cara penilaian tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia menetapkan ketentuan sebagai berikut:
1. Untuk rasio LDR sebesar 110% atau lebih diberi nilai kredit 0, artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat.
2. Untuk rasio LDR di bawah 110% diberi nilai kredit 100, artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat
Menurut Santoso (2000:108), rasio LDR yang tinggi menunjukkan likuiditas yang rendah. Likuiditas yang rendah akan menyebabkan laba yang tinggi (Sinungan,1993:106). Menurut Dendawijaya (2005:117), sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari Loan to Deposit Ratio suatu bank adalah sekitar 80%. Namun, batas toleransi berkisar antara 85%
dan 100%.
d. BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional)
Rasio biaya operasi adalah perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien kinerja bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya efisiensi biaya maka keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar. Menurut Siamat (1999), tingkat BOPO yang menurun menunjukkan semakin tinggi efisiensi operasional yang dicapai perusahaan, hal ini berarti semakin efisien aktiva bank dalam menghasilkan keuntungan.
Menurut Riyadi (2004:141) besarnya rasio BOPO yang dapat ditolerir oleh perbankan di Indonesia adalah sebesar 93,52 %, hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah bertindak sebagai perantara, yaitu menghimpun
dan menyalurkan dana (misalnya dana masyarakat) maka biaya dan pendapatan operasional didominasi oleh biaya bunga dan pendapatan bunga.
Secara teoritis, menurut Kasmir (2004:110) biaya operasional terdiri dari biaya bunga, biaya umum dan administrasi, biaya kirim, biaya tagih, biaya sewa, biaya iuran, dan biaya lain-lain. Sementara itu, pendapatan operasional sebagian besar diperoleh dari interest income (pendapatan bunga) dari jasa pemberian kredit kepada masyarakat, seperti bunga pinjaman, provisi kredit dan komisi, laba selisih kurs – bersih, keuntungan dari penjualan surat-surat berharga dan obligasi pemerintah, dan pendapatan operasional lain-lain.
Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (Dendawijaya, 2009) :
e. ROA (Return on Asset)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manjemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset (Sudarini, 2005). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (Mabruroh, 2004) :
Terdapat perbedaan kecil dalam mengukur tingkat kesehatan bank antara perhitungan ROA berdasarkan teoretis dan cara perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Secara teoretis, laba yang diperhitungkan adalah laba setelah pajak, sedangkan dalam sistem CAMEL laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum pajak (Dendawijaya, 2009).
Menurut ketentuan Bank Indonesia ROA dikatakan sehat apabila rasio ROA antara 0,99% sampai dengan 1,214%.
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Rincian mengenai penelitian-penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.1
Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu
Nama Judul Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Siagian
Secara parsial kredit yang diberikan berpengaruh positif signifikan, sedangkan
LDR tidak
berpengaruh
Perbankan yang penelitian ini untuk mengatasi masalah
C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi (sesuai ketentuan BI 8%) berarti bank tersebut mampu membiayai operasi bank.
Dengan kata lain semakin tinggi CAR semakin besar kemampuan bank untuk menangani kemungkinan risiko yang terjadi. Dengan demikian bank akan menghasilkan laba yang besar pula.
Bank syariah dirancang untuk melakukan fungsi pelayanan sebagai lembaga keuangan bagi para nasabah dan masyarakat. Untuk itu bank syariah harus mengelola aktiva produktif, yaitu pembiayaan untuk debitur serta
CAR (X1)
NPL (X2)
Profitabilitas (Y)
9 LDR
(X3)
BOPO (X4)
penempatan dana di bank atau diinvestasi lain yang menghasilkan pendapatan dan tidak terjadi kredit macet. Semakin kecil NPL maka bank tersebut akan semakin mengalami keuntungan, sebaliknya bila tingkat NPL tinggi bank tersebut akan mengalami kerugian yang diakibatkan tingkat pengembalian kredit macet.
Selain itu bank syariah juga harus memelihara likuiditas, sehingga bank dapat memenuhi baik kewajiban yang sekarang maupun kewajiban yang akan datang bila terjadi penarikan atau pelunasan asset liability yang sesuai perjanjian ataupun yang tidak terduga. Likuiditas yang tersedia harus cukup, tidak boleh terlalu kecil sehingga mengganggu kebutuhan operasional sehari-hari, tetapi juga tidak boleh terlalu besar karena akan menurunkan efisiensi dan berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas. Maka semakin tinggi LDR, semakin rendah pula profitabilitas dan sebaliknya.
Efisiensi produksi pada suatu lembaga seperti bank syariah dalam mengeluarkan biaya dalam bentuk pembiayaan, merupakan salah satu bentuk mekanisme produksi bank dalam rangka menghasilkan output yang paling tinggi dari suatu investasi. Semakin rendah biaya operasional, berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya efisiensi biaya maka profitabilitas yang diperoleh bank akan semakin besar. Maka semakin rendah BOPO semakin tinggi laba yang dihasilkan, dan sebaliknya semakin tinggi BOPO semakin rendah biaya yang dihasilkan.
2. Hipotesis
Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran, 2006 : 135). Berdasarkan kerangka konseptual yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
H0 : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tidak berpengaruh terhadap
H0 : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tidak berpengaruh terhadap