• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris dimana merupakan pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya yang merupakan penjelasan sementara tentang prilaku, fenomena atau keadaan tertentu telah terjadi atau akan terjadi (Erlina, 2011).

Berdasarkan rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tinjauan teoritis, tinjauan penelitian terdahulu, dan kerangka konseptual, maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengaruh Likuiditas terhadap Kebijakan Dividen

Likuiditas merupakan hal yang penting dalam perusahaan yang mencerminkan kemampuan suatu perusahaan dalam membiayai aktifitas perusahaan yang mana sangat berpengaruh bagi keputusan investor karena berpengaruh dalam pembayaran dividen (Syafrida Hani, 2015). Likuiditas dapat diketahui dari posisi laporan keuangan suatu perusahaan sehingga dapat dijadikan acuan investor untuk mengambil keputusan. Sesuai dengan signaling teori bahwa investor akan menentukan keputusan dari hasil laporan keuangan yang akan memberikan signal kepada investor apakah akan berinvestasi atau tidak. Ketika likuiditas suatu perusahaan tinggi maka akan berpengaruh terhadap kebijakan dividen sehingga likuiditas secara teori berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

Hasil penelitian Ahmed (2015) menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Masril (2017) yang menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan

terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 1: Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktursub sektor otomotif tahun 2016-2019.

2. Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Deviden

Profitabilitas merupakan hal yang penting bagi perusahaan yang mencerminkan tingkat laba yang dihasilkan perusahaan. Ketika profitabilitas tinggi maka laba yang dihasilkan akan tinggi sehingga mempengaruhi jumlah dividen yang akan dibagikan kepada investor. Profitabilitas tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang dapat diakses oleh pihak eksternal terutama investor. Sesuai dengan signaling teori bahwa investor akan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang didapatkan dari laporan tahunan perusahaan jika, profitabilitas tinggi tentu dividen yang dibagikan akan semakin besar sehingga, secara teori profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian Arilaha (2009) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Chaidir dan Rita (2015) yang menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 2: Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

39

3. Pengaruh Leverage terhadap Kebijakan Deviden

Salah satu rasio leverage adalah Debt to Equity Ratio (DER). DER mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini menujukkan semakin besar kewajibannya dan semakin rendah rasio ini akan menujukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutangnya. Peningkatan hutang akan mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin rendah kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Semakin besar rasio ini menujukkan semakin besar pula tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pihak eksternal (kreditur) dan semakin besar pula beban biaya hutang yang harus dibayar perusahaan. Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima, karena kewajiban tersebut lebih tinggi maka, kemampuan perusahaan untuk membagi dividen akan semakin rendah. Hasil penelitian Hong dan Nguyen (2014) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Kuswanta (2016) yang menunjukkan bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 3: Leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

4. Pengaruh Aktivitas terhadap Kebijakan Dividen

Supriyanto (2016) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel aktivitas yang diproksikan menggunakanTotal Asset Turn Over (TATO) terhadap kebijakan deviden. Semakin tinggi Total Asset Turn Over (TATO) berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah aset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila Total Asset Turn Over (TATO) ditingkatkan.Menurut Purnami dan Artini(2015) perputaran aktiva yang tinggi akan mencerminkan kinerja perusahaan secara finansial. Semakin tinggi perputaran aktiva perusahaan berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membagikan dividennya.

Total Assets TurnOver (TATO) merupakan perputaran aset yang digunakan untuk mengukur kemampuan aset perusahaan dalam memperoleh pendapatan.

Menurut Prihadi (2012) meningkatnya rasio Total Assets TurnOver (TATO) yang diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan laba, menunjukkan efisiensi penggunaan total aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan, jika perusahaan menghasilkan penjualan yang lebih besar maka rasio Total Assets Turn Over (TATO) semakin besar karena kemampuan memperoleh laba pun semakin besar.Hasil penelitian Susanty dkk. (2017) menunjukkan bahwa Aktivitas yang diproksikan menggunakan TATO berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Handayani dan Hadi (2019) yang menunjukkan bahwa Aktivitas yang diproksikan menggunakan TATO

41

berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 4: Aktivitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

5. Pengaruh Growth terhadap Kebijakan Dividen

Laju pertumbuhan mencerminkan kemampuan suatu perusahaan untuk mempertahankan posisi ekonominya dalam pertumbuhan ekonomi industri.

Pertumbuhan perusahaan diharapkan memberikan sinyal positif dari peluang investasi. Investor memandang pertumbuhan sebagai prospek bagi perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi yang diprakirakan mampu memberikan imbal hasil yang tinggi dimasa mendatang. Growth perusahaan akan mempengaruhi kebijakan dividen (Puspitaningtyas, 2015). Semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan maka, semakin besar pula dana yang dibutuhkan untuk membiayai pertumbuhan tersebut. Kebutuhan dana yang semakin besar akan mendorong perusahaan untuk mengambil keputusan untuk menahan keuntungannya daripada membagikan dividen. Artinya, semakin tinggi pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin rendah pula kebijakan perusahaan dalam membagikan dividen, pasalnya dana yang tersedia cenderung digunakan untuk berinvestasi kembali.

Forti dkk. (2015) membuktikan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari dan Sadjarni (2015) yang memperoleh hasil yang sama. Berdasarkan uraian tersebut maka, dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

Hipotesis 5: Growth berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktursub sektor otomotif tahun 2016-2019.

6. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Kebijakan Dividen

Pertumbuhan penjualan mencerminkan manifestasi keberhasilan investasi periode masa lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator permintaan dan daya saing perusahaan dalam suatu industri. Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan mempertahankan keuntungan dalam mendanai kesempatan-kesempatan pada masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan tinggi maka akan mencerminkan pendapatan meningkat sehingga pembayaran dividen cenderung meningkat. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan per tahun meningkat investor akan percaya terhadap perusahaan bahwa perusahaan akan memberikan keuntungan di masa depan. Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang stabil akan membagikan dividen kas kepada pemegang saham dibandingkan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan tidak stabil (Lusiana dan Saputra, 2015) yang membuktikan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen hal ini, sejalan dengan penelitian Puspitasari (2018) yang menyatakann hasil yang sama.

Hipotesis 6: Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

43

7. Pengaruh Likuiditas terhadap Kebijakan Dividen dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Menurut Kasmir (2014) Ukuran perusahaan mewakili karakteristik keadaan keuangan suatu perusahaan, ketika ukuran perusahaan besar maka modal yang dimiliki perusahaan juga besar dan keuntungan perusahaan juga tinggi sehingga tingkat pembayaran hutang perusahaan juga tinggi sehingga membuat tingkat kepercayaan investor meningkat. Likuiditas merupakan hal yang penting karena menggambarkan tingkat kemampuan perusahaan dalam membiayai aktivitas ekonomi perusahaan terutama dalam pembagian dividen. Ketika ukuran perusahaan besar tentu aset yang dimiliki juga besar sehingga tingkat likuiditas perusahaan tinggi dan, ketika likuiditas tinggi maka tingkat pembagian dividen juga semakin tinggi sehingga likuiditas berpengaruh terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating. Hasil penelitian Andriani (2016) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Lismawaty dan Suryanto (2017) yang menunjukkan bahwa likuiditas dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 6 Likuiditas dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

8. Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Deviden dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Menurut Andrie Kayobi dan Dessy Anggraeni (2012) mengatakan ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar.

Semakin besar total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu.Profitabilitas merupakan hal yang sangat penting karena mencerminkan keadaan suatu perusahaan yang menjadikan tolak ukur investor dalam mengambil keputusan karena semakin tinggi profitabilitas maka, semakin tinggi pula dividen yang akan dibagikan.Ketika ukuran suatu perusahaan besar maka profit yang dihasilkan akan tingggi sehingga berpengaruh terhadap pembagian dividen maka secara teori profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagi variabel moderating. Hasil penelitian Nur (2018) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan signifikan memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Badera (2020) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memperkuat pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 7: Profitabilitas terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

45

9. Pengaruh Leverage terhadap Kebijakan Deviden dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Leverage merupakan besar kebutuhan dana perusahaan yang dibelanjai dengan hutang. Jika tingkat leverage bernilai nol maka perusahaan tidak membiayai kegiatan perusahaan dengan hutang. Rasio leverage diproksikan dengan DER (Debt to Equity Ratio). DER adalah rasio yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio hutang, berarti modal sendiri semakin sedikit dibandingkan dengan hutangnya. Leverage yang semakin tinggi akan menyebabkan kebijakan dividen semakin menurun, begitu pula sebaliknya semakin rendah leverage yang digunakan oleh perusahaan karena menipisnya hutang yang dibayarkan maka dividen yang dapat dibagikan semakin meningkat. Menurut Hardianto dan Herlina (2010) perusahaan yang tidak membayar dividen diprediksi memiliki rasio hutang yang tinggi karena harus berkonsentrasi dalam membayar bunga dan pokok pinjamannya sedangkan, perusahaan yang membayar dividen diperkirakan memiliki rasio hutang yang rendah. Hasil penelitian Kuswanta (2016) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan signifikan memoderasi pengaruh leverage terhadap kebijakan dividen, hal ini didukung juga oleh penelitian Sumantri dan Chandraningrat yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari uraian tersebut maka hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 8:Leverage berpengaruh terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

10. Pengaruh Aktivitas terhadap Kebijakan Deviden dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Aktivitas merupakan rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas manajemen perusahaan dalam mengelola aset perusahaan. Pengelolaa aset-aset perusahaan diharapkan dapat dilakukan secara efektif oleh manajer guna memperoleh laba yang maksimal. Ketika laba yang diperoleh perusahaan tinggi tentu akan dapat mempengaruhi ukuran perusahaan dan juga total deviden yang dibagikan. Artinya ketika ukuran suatu perusahaan besar akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas perusahaan dalam memanfaatkan aset-asetnya sehingga, hal ini akan berdampak pada profit yang diperoleh perusahaan, ketika profit yang diperoleh perusahaan tinggi maka akan berpengaruh pada pembagian deviden (Lumbantobing, 2017).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulaiman dan Sumani pada tahun 2016 yang memperoleh hasil bahwa aktivitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden. Hal ini, didukung juga oleh penelitian Handayani dan Hadi tahun 2019 yang memperoleh hasil yang sama. Hasil penelitian Masril pada tahun 2017 memproleh hasil bahwa ukuran perusahaan memoderasi hubungan pengaruh aktivitas terhadap kebijakan deviden. Berdasarkan penjelasan tersebut makan dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

Hipotesis 9: Aktivitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

47

11. Pengaruh Growth terhadap Kebijakan Deviden dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Growth merupakan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya. Pertumbuhan perusahaan akan memberikan sinyal positif kepada investor tentang prospek pertumbuhan perusahaan tersebut. Pertumbuhan perusahaan ini akan berpengaruh pada ukuran perusahaan ketika pertumbuhan perusahaan berkembang pesat hal ini akan berpengaruh pada semakin besarnya ukuran perusahaan (Puspitaningtyas, 2019).

Perusahaan sedang tumbuh akan mengeluarkan banyak dana. Banyaknya dana tersebut akan mempengaruhi kebijakan dalam pembagian dividen. Semakin perusahaan tersebut tumbuh dan berkembang maka akan memberikan signal bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang menguntungkan dimasa depan yang juga akan berpengaruh pada ukuran perusahaan. Sesuai dengan signaling teori bahwa ketika perusahaan memiliki growth dan ukuran perusahaan yang tinggi maka, akan memberikan signal kepada investor bahwa perusahaan tersebut dimasa yang akan datang akan memberikan keuntungan bagi investor yaitu, pembagian dividen yang besar (Latiefasari, 2011). Hal ini sejalan dengan penelitian Forti dkk. (2015) dan Sulistyowati dkk. (2010) yang memproleh hasil bahwa ukuran perusahaan memoderasi pengaruhgrowth terhadap kebijakan dividen. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis dapat diambil sebagai berikut:

Hipotesis 11: Growth berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktursub sektor otomotif tahun 2016-2019.

12. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Kebijakan Deviden dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating

Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terrhadap Kebijakan Dividen menurut Smith dan Watts (1992) menunjukkan dasar teori pada pengaruh dari ukuran yang diukur melalui pertumbuhan penjualan perusahaan terhadap kebijakan dividen sangat kuat. Perusahaan besar dengan akses pasar yang lebih baik seharusnya membayar dividen yang tinggi kepada pemegang sahamnya sehingga antara pertumbuhan penjualan dan pembayaran dividen memiliki hubungan yang positif (Cleary, 1999).

Andriani (2018) menunjukkan hasil bahwa Pertumbuhan Penjualan dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini sejalan dengan penelitian Kautsar (2014) yang menunjukkan hasil yang sama.

Hipotesis 12: Pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019.

49 49

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif dengan bentuk hubungan kausal.Menurut Sugiyono (2016) Hubungan kausal merupakan hubungan yang sifatnya sebab-akibat, salah satu variabel independenmempengaruhi variabel yang lain dependen. Hal ini berarti penelitian ini berfokus pada pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, Leverage, Aktivitas, Growth, dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Kebijakan Dividen dengan Ukuran Perusahaan sebagai variabel moderating.

Alasan peneliti mengambil ukuran perusahaan sebagai variabel moderating karena semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar pula Likuiditas, Profitabilitas, Leverage, Aktivitas, Growth, dan Pertumbuhan Penjualan sehingga, dapat memoderasi hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Memoderasi (Moderating) artinya apakah variabel tersebut dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen.

4.1.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan Manufaktur sub sektor Otomotif dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2016 sampai dengan 2019. Data dalam penelitian diperoleh dari Annual Report dengan mengakses website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

4.2 Definisi Operasional Variabel

4.2.1 Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen, atau menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel tak bebas dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya (Erlina,2011). Dalam penelitian ini variabel independen adalah Likuiditas, Profitabilitas, Leverage, Aktivitas, Growth, dan Pertumbuhan Penjualan.

4.2.1.1 Likuiditas

Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Kasmir 2012).Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio(CR). Current Ratio adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Current Ratio dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:

πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ

π»π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘₯ 100%

4.2.1.2 Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba sehingga memiliki pengaruh pada keputusan pembagian dividen. Apabila tingkat profitabilitas perusahaan tinggi maka, laba yang dihasilkan perusahaan akan semakin besar dibagikan dalam bentuk dividen (Ginting, 2018).

Dalam penelitian ini profitabilitas diukur menggunakan rasio Return on Asset (ROA) alasan peneliti mengambil ROA dikarenkan ROA menunjukkan

51

kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan dari aset atau aktiva yang digunakan. Untuk mengukur ROA digunakan formula sebagai berikut:

π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘› 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 =𝑁𝑒𝑑 πΌπ‘›π‘π‘œπ‘šπ‘’

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑π‘₯ 100%

4.2.1.3 Leverage

Menurut Gunawan (2013) Rasio leverage mengukur sejauh mana perusahaan mendanai usahanya dengan membandingkan antara dana sendiri (Shareholders Equity) yang telah disetorkan dengan jumlah pinjaman dari para kreditur (Creditors).Dalam penelitian ini Leverage diukur dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), DER merupakan rasio yang digunakan untuk menilai total kewajiban dengan total ekuitas. DER dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐷𝐸𝑅 = 𝐷𝑒𝑏𝑑

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΈπ‘˜π‘’π‘–π‘‘π‘Žπ‘  x 100%

4.2.1.4 Aktivitas

Aktivitas menunjukan kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan harta-harta yang dimilikinya atau perputaran dari aktiva-aktiva tersebut. Dalam penelitian ini aktivitas yang diukur dengan menggunakan Total Assets Turn Over (TATO). Menurut Kasmir (2014:185)Total Assets TurnOver(TATO) merupakan rasio pongelolaan aktiva untuk mengukur perputaran seluruh aset perusahaan dan, dihitung dengan membagi penjualan dengan total aset dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva. TATO dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

𝑇𝐴𝑇𝑂 = π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž

4.2.1.5 Growth

Growth adalah dampak atas arus dana perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh pertumbuhan atau penurunan volume usaha.

Growth mencerminkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan eksistensi perusahaan sehingga dapat memberikan sinyal positif terhadap investor (Enow dkk., 2018). Pertumbuhan adalah dampak atas arus dana perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh pertumbuhan atau penurunan volume usaha. Pertumbuhan perusahaan sangat diharapkan oleh pihak internal ataupun eksternal perusahaan karena pertumbuhan yang baik memberi tanda bagi perkembangan perusahaan (Jaara dkk., 2018). Untuk mengukur growth dapat digunakan formula sebagai berikut:

πΊπ‘Ÿπ‘œπ‘€π‘‘β„Ž =EATtβˆ’EATtβˆ’1

EATtβˆ’1 x 100%

4.2.1.6Pertumbuhan Penjualan

Pertumbuhan penjualan adalah pertumbuhan penjualan yang diperoleh dari penghasilan penjualan. Data yang digunakan adalah pertumbuhan pada perusahaan manufaktur sub sektor otomotif. Satuan pengukuran pertumbuhan penjualan adalah dalam persentase dengan formula sebagai berikut:

π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘‘π‘’π‘šπ‘π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› =Penjualan tβˆ’Penjualan tβˆ’1

Penjualan tβˆ’1 x 100 % 4.2.2 Variabel Dependen

53

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel sebab atau variabel bebas jadi, variabel dependen merupakan konsekuensi dari variabel independen (Erlina,2011). Dalam penelitian ini variabel dependen adalah Kebijakan Dividen.

4.2.2.1 Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen sering dianggap sebagai bagian dari keputusan pembelanjaan khususnya internal. Pembagian dividen diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kebijakan dividen melibatkan dua pihak yang berkepentingan yaitu, pemegang saham yang mengharapkan dividen dengan kepentingan perusahaan dengan laba ditahan. Dalam penelitian ini kebijakan dividen diukur menggunakan Dividend Payout Ratio (DPR) dengan formula sebagai berikut:

𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 π‘ƒπ‘Žπ‘¦π‘œπ‘’π‘‘ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’

πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘₯ 100%

Kebijakan dividen diukur setelah tahun operasional perusahaan sudah berjalan atau dengan kata lain tahun t + 1 karena dividen akan dibayarkan ditahun depan kepada investor setelah kegiatan operasional perusahaan tahun berjalan sudah selesai atau tutup buku.

4.2.3 Variabel Moderating

Variabel moderating adalah variabel yang mempunyai dampak kontijensi yang kuat pada hubungan variabel independen dan variabel dependen (Erlina,2011). Dalam penelitian ini variabel moderating adalah Ukuran Perusahaan.

4.2.3.1 Ukuran Perusahaan

Ukuran Perusahaan adalah rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun.Ukuran Perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata total penjualan dan, rata-rata total aktiva. Dalam penelitian ini Ukuran Perusahaan diformulasikan sebagai berikut:

πΉπ‘–π‘Ÿπ‘š 𝑆𝑖𝑧𝑒 = 𝐿𝑛 (π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž)

Tabel 4.1. Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel Variabel Definisi

55

Variabel Definisi

4.3. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 4.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek-objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2014). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2019.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi. Hasil penelitian yang menggunakan sampel, maka kesimpulan akan diperlakukan untuk populasi. Oleh sebab itu, sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar mewakili (Erlina, 2011). Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria- kriteria tertentu dengan teknik purposive sampling. Kriteria yang ditetapkan dalam mengambil sampel pada penelitian ini ditentukan sebagai berikut:

57

1. Perusahaan-perusahaan tersebut secara berturut-turut selama periode penelitian termasuk ke dalam perusahaan sub sektor otomotif.

2. Menerbitkanlaporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember di Bursa Efek Indonesia.

Adapun proses pemilihan sampel dapat dilihat dalam tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2. Tabel Kriteria Pemilihan Sampel

Keterangan Jumlah

Jumlah Populasi (Perusahaan manufaktur sub sektor otomotif tahun 2016-2019)

15

Jumlah populasi yang tidak memenuhi kriteria 3

Perusahaan yang menjadi sampel 12

Jumlah sampel penelitian (12 x 4) 48

Berdasarkan kriteria yang ada, sampel yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Berdasarkan kriteria yang ada, sampel yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Dokumen terkait