BAB II KERANGKA TEORI
2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengajukan hipotesis dari penelitian ini adalah :
Ho : Tidak terdapat hubungan pengaruh antara persepsi customer bonding pada konsumen terhadap loyalitas pelanggan
Ha : Terdapat hubungan pengaruh antara persepsi customer bonding pada konsumen terhadap loyalitas pelanggan
BAB III
METODE PENELITIAN
Menurut Sugiyono (2013:2), Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Menurut Darmadi (2013:153), Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Penelitian kuantitatif digunakan untuk mengetahui pengaruh ataupun juga hubungan antara dua variabel. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam metode penelitian kuantitatif seperti kuesioner. Penelitian asosiatif menggunakan teknik analisis kuantitatif atau statistik. Kemudian perhitungan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antar variabel antara lain menggunakan perhitungan Regresi Linier Sederhana.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada setiap konsumen Emina yang ada di Kota Medan. Lokasi penelitian yaitu pada store Emina yang berada di Sun Plaza lantai LG yang beralamat di Jl. K. H. Zainul Arifin No. 7, Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan. Waktu penelitian mulai dari tanggal 15 April -15 Juni 2020.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2016:80), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah membeli produk Emina di Kota Medan. Jumlah populasi tidak diketahui dan dapat dikatakan dalam kategori tidak terhingga.
3.3.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2016:81), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling dan menggunakan metode purposive sampling.
Pengambilan sampel secara non probability sampling dimaksudkan adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel (Sugiyono,2011:63). Sedangkan yang dimaksud dengan metode purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Adapun kriteria pelanggan yang digunakan menjadi sampel yaitu orang- orang yang pernah membeli produk Emina minimal 2 kali, usia 15 tahun keatas, penghasilan perbulan kurang dari Rp 1.000.000,- hingga lebih dari R 3.500.000,- . Karena pada penelitian ini besar populasi tidak dapat diketahui berapa jumlah pastinya, maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus sebagai berikut:
n = Z2 4 (Moe)2 Keterangan :
n = Ukuran sampel
Z = 1,96 score pada tingkat signifikansi tertentu (derajat keyakinan ditentukan 95%)
Moe = Margin of error, tingkat kesalahan maksimum adalah 10%
Dengan menggunakan rumus diatas, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:
n = (1,96)2 4 (10%)2
n = 96,04 β 97 atau dibulatkan 100.
Maka sampel penelitian ini adalah 100 orang responden yang merupakan pelanggan Emina yang telah melakukan pembelian ulang di Kota Medan.
3.4 Definisi Operasional
Defenisi operasional adalah penelitian dimaksud untuk memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis instrumen serta sumber pengukuran berasal dari mana. Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Persepsi Customer Bonding (Variabel X)
Persepsi Customer Bonding adalah proses pengenalan, pemilihan, pengorganisasian, dan menginterpretasikan stimuli keadaan suatu gambaran dunia yang berarti menyeluruh terhadap semua aktivitas pemasaran untuk mengikat / mempertahankan pelanggan dengan cara membangun hubungan / kepercayaan
pelanggannya sehingga adanya hubungan yang saling menguntungkan satu sama lainnya. (Ferrinadewi & Dermawan (2004:52) ; Simamora (2004) ; Richard Cross
& Javet Smith (2014) ; Kotler & Armstrong (2008:15) ; Marsudi (2004 : 1)) Berdasarkan defenisi dari persepsi customer bonding diatas, indikator dari persepsi customer bonding adalah sebagai berikut :
1) Awareness Bonding. Awareness Bonding adalah penciptaan suatu pesan secara monolog yang bergerak satu arah dari pemasang iklan ke konsumen.
2) Identity Bonding. Identity bonding terbentuk melalui penghargaan konsumen terhadap tindakan positif perusahan.
3) Relationship Bonding. Relationship Bonding melibatkan interaksi yang lebih tinggi dengan konsumen. Prospek dan konsumen tidak lagi dikenal.
Ketika relationship bonding terbentuk, prospek dan konsumen secara aktif terlibat dalam hubungan dengan pemasar
4) Community Bonding. Community bonding adalah proses atau tingkatan dimana interaksi tidak lagi terbatas antara perusahaan dan pelanggan, tetapi juga di antara pelanggan dengan pelanggan.
5) Advocacy Bonding. Advocacy bonding merupakan tingkat tertinggi dalam proses pengikatan konsumen.
2. Loyalitas Pelanggan (Variabel Y)
Loyalitas pelanggan adalah kesetiaan seseorang untuk tetap menjadi pelanggan dari perusahaan tertentu, dimana pelanggan itu mempunyai sikap positif terhadap sebuah merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut dan
menggunakan fasilitas maupun jasa pelayanan yang diberikan. (Richard L. Oliver (2008:122) ; Jill Griffin (2005) ; Gremler & Brown (2014))
Berdasarkan defenisi dari loyalitas pelanggan diatas, indikator dari loyalitas pelanggan adalah sebagai berikut :
1) Melakukan pembelian ulang. Konsumen melakukan pembelian secara continue pada suatu produk tertentu.
2) Melakukan pembelian antar produk dan jasa. Konsumen tidak hanya membeli jasa dan produk utama tetapi konsumen juga membeli lini produk dan jasa dari perusahaan yang sama.
3) Mereferensikan kepada orang lain. Dimana konsumen melakukan komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth) berkenan dengan produk tersebut.
4) Kekebalan terhadap tarikan pesaing. Konsumen menolak untuk menggunakan produk atau jasa alternatif yang ditawarkan oleh pesaing.
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
VARIABEL DEFENISI INDIKATOR SKALA
Persepsi Customer Bonding
(Variabel X)
Persepsi Customer Bonding adalah proses pengenalan, pemilihan, pengorganisasian, dan menginterpretasikan -
1. Awareness Bonding 2. Identity Bonding 3. Relationship Bonding
4. Community Bonding 5. Advocacy Bonding
Likert
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
VARIABEL DEFENISI INDIKATOR SKALA
Persepsi Customer Bonding
(Variabel X)
stimuli keadaan suatu gambaran dunia yang berarti menyeluruh terhadap semua aktivitas
pemasaran untuk mengikat/mempertahankan
pelanggan dengan cara membangun hubungan/
kepercayaan pelanggannya sehingga adanya hubungan
yang saling
menguntungkan satu sama lainnya.
(Ferrinadewi &
Dermawan (2004:52) ; Simamora (2004) ; Richard Cross & Javet Smith (2014) ; Kotler &
Armstrong (2008:15) ; Marsudi (2004
(Richard Cross & Javet Smith (2014))
Likert
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
VARIABEL DEFENISI INDIKATOR SKALA
Loyalitas Pelanggan (Variabel Y)
Loyalitas pelanggan adalah kesetiaan seseorang
untuk tetap menjadi pelanggan dari perusahaan tertentu, dimana pelanggan
itu mempunyai sikap positif terhadap sebuah
merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut dan bermaksud meneruskan pembeliannya
dimasa mendatang, serta tahap menggunakan fasilitas maupun jasa pelayanan yang diberikan.
(Richard L. Oliver (2008:122) ; Jill Griffin (2005) ; Gremler & Brown
(2014))
1. Melakukan pembelian ulang
2. Melakukan pembelian antar produk dan jasa 3. Mereferensikan kepada
orang lain 4. Kekebalan terhadap
tarikan pesaing
(Jill Griffin (2005))
Likert
Sumber : Peneliti (2020)
3.5 Skala Pengukuran Variabel
Skala pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian adalah Skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Tabel 3.2
Skala Likert Pada Pertanyaan β Pertanyaan Tertutup Dalam Kuesioner
Pilihan Jawaban Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Netral 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
Sumber : Peneliti (2020) 3.6 Data dan Teknik Pengumpulan Data 3.6.1 Data
Data merupakan kumpulan fakta yang diperoleh dari suatu pengukuran.
Suatu pengambilan keputusan yang baik merupakan hasil dari penarikan kesimpulan yang didasarkan pada Data/Fakta yang akurat. Untuk mendapatkan Data yang akurat diperlukan suatu Alat Ukur atau yang disebut Instrumen yang baik. Alat Ukur atau Instrumen yang baik adalah Alat Ukur/Instrumen yang VALID dan RELIABEL.
1. Data Primer
Menurut Hasan (2004), data primer ialah data yang diperoleh atau
yang bersangkutan yang memerlukannya. Data primer di dapat dari sumber informan yaitu individu atau perseorangan seperti hasil kuesioner & observasi lapangan yang dilakukan oleh peneliti.
2. Data Sekunder
Menurut Hasan (2004), data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini digunakan untuk mendukung informasi primer yang telah diperoleh. Pada penelitian ini data sekunder diperoleh berasal dari jurnal penelitian terdahulu, skripsi, tesis, buku-buku dan artikel yang relevan berkaitan dengan variabel-variabel yang akan diteliti.
3.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Salah satu hal yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian adalah kualitas data yang di kumpulkan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara.. Ada 2 sumber data:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang langsung di ambil dari sumbernya. Ada 2 cara pengumpulan data primer dalam penelitian ini, yaitu:
1) Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis terhadap responden untuk di jawab. Data yang di hasilkan adalah data yang kuantitatif.
2) Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung ditempat penelitian. Data yang di hasilkan adalah data yang kualitatif.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada, yaitu :
1) Jurnal penelitian terdahulu
2) Dokumen-dokumen yang dimiliki perusahaan
3) Buku-buku dan artikel yang relevan berkaitan dengan variabel-variabel yang akan diteliti.
3.7 Teknik Analisis Data 3.7.1 Uji Instrumen
Penyusunan sebuah kuesioner harus benar-benar dapat menggambarkan tujuan dari peneliti tersebut (valid) dan juga dapat konsisten bila pertanyaan tersebut dijawab dalam waktu yang berbeda (reliable). Sugiyono (2011:01) hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang teliti. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.
Sebelum pengambilan data melalui kuesioner, terlebih dahulu dilakukan uji validitas, uji reliabilitas dan uji asumsi klasik.
3.7.1.1 Uji Validitas
Menurut Arikunto (2013:211) Uji Vadilitas yaitu suatu ukuran yang
bersangkutan mampu mengukur apa yang diukur. Suatu instrumen yang valid atau sah mempunyai validitas tinggi. Sebaiknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah. Syarat kevaliditasan suatu item adalah apabila
rhitung > rtabel pada taraf signifikan (Ξ± = 0,01 atau 0,05) maka instrumen itu
dianggap valid dan jika rterhitung < rtabel maka instrumen di anggap tidak valid.
3.7.1.2 Uji Reliabilitas
Menurut Arikunto (2013:211) Reliabilitas menunjukkan pada suatu tingkat keterandalan sesuatu. Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Instumen data yang dapat dipercaya menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
Adapun kriteria dari pengujian reliabilitas adalah:
1. Jika nilai koefisien reliabilitas > 0,5, maka instrumen yang diuji memiliki reliabilitas yang baik / reliabel / terpercaya.
2. Jika nilai koefisien reliabilitas < 0,5 maka instrumen yang diuji tersebut tidak reliabel.
3.7.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk melihat atau menguji suatu model yang termasuk layak atau tidak layak digunakan dalam penelitian.
1.7.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas adalah untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Metode yang dapat dipakai untuk uji normalitas yaitu analisis grafik dan analisis statistik. Jika data menyebar
disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi penelitian merupakan data normal atau mendekati normal.
3.7.3 Metode Regresi Linier Sederhana
Metode Regresi Linear Sederhana adalah metode statistik yang berfungsi untuk menguji sejauh mana hubungan sebab akibat antara variabel faktor penyebab (X) terhadap variabel akibatnya (Y).
Berikut rumus untuk melihat analisis linear sederhana:
Y = a + bX Keterangan:
Y = Variabel Response atau Variabel Akibat (Dependent)
X = Variabel Predictor atau Variabel Faktor Penyebab (Independent) a = Konstanta
b = Koefisien regresi (kemiringan); besaran Response yang ditimbulkan oleh predictor.
Metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui pengaruh masing- masing variabel menggunakan metode regresi linier sederhana. Metode ini dipilih peneliti karena untuk mengetahui pengaruh persepsi customer bonding (X) terhadap loyalitas pelanggan (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi customer bonding (X), sedangkan yang menjadi variabel terikatnya yaitu loyalitas pelanggan (Y) Emina di Kota Medan.
3.7.4 Uji Hipotesis
Uji Hipotesis adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan tujuan memutuskan apakah menerima atau menolak hipotesis itu. Dalam pengujian
bisa benar atau salah, sehingga menimbulkan risiko. Besar kecilnya risiko dinyatakan dalam bentuk probabilitas.
3.7.4.1 Uji Signifikan Parsial (Uji-T)
Menurut Sujawerni (2015:229), Uji T menunjukkan seberapa jauh pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Dalam penelitian ini untuk membuktikan apakah Persepsi Customer Bonding pada konsumen Emina di Kota Medan berpengaruh terhadap Loyalitas Pelanggan. Adapun kriteria pengambilan keputusan yaitu sebagai berikut:
1. Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima 2. Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak 3.7.4.2 Uji Koefisien Determinasi (π π )
Menurut Ghozali dalam Wiratna (2015:228) Koefisien Determinasi (π 2) merupakan suatu ukuran yang penting dalam regresi. Determinasi mencerminkan kemampuan variabel dependen. Tujuan analisis ini adalah untuk menghitung besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil output SPSS pada model summary khususnya, angka yang terdapat pada kolom π 2 digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen dengan cara menghitung rumus sebagai berikut:
KD = π 2 x 100%
Keterangan:
KD = Koefisien Determinasi π 2 = Koefisien Korelasi Produk
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Penelitian
4.1.1 Profil PT Paragon Technology and Innovation
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 28 februari 1985 dengan nama awal PT. Pusaka Tradisi Ibu. Perusahaan ini didirikan oleh pasangan suami istri Drs. H.
Subakat Hadi, M.Sc dan Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. Di tahun 2011, perusahaan ini baru berganti nama menjadi PT. Paragon Technology and Innovation. Perusahaan ini telah menciptakan brand produk kecantikan seperti Wardah, Make Over, & Emina dengan sertifikasi GMP (Good Manufacturing Practice) dan HAS (Sistem Jaminan Halal). Perusahaan memiliki lebih dari 7500 karyawan diseluruh Indonesia dan produksi tahunan mencapai 95 juta keping, sehingga menjadi produsen kosmetik terbesar di Indonesia.
Visi & Misi PT Paragon Technology and Innovation : 1. Visi :
βMenjadi perusahaan yang berkomitmen untuk memiliki pengelolaan terbaik dan berkembang terus menerus dengan bersamasama menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin melalui produk berkualitas yang memberikan manfaat bagi paragonian, mitra, masyarakat, dan lingkungan.β
2. Misi :
a. Mengembangkan paragonian
b. Menciptakan kebaikan untuk pelanggan c. Perbaikan berkesinambungan
e. Memelihara bumi
f. Mendukung pendidikan dan kesehatan bangsa g. Mengembangkan bisnis
4.1.2 Profil Emina
Emina merupakan salah satu brand kosmetik lokal dari PT Paragon Technology & Innovation yang diluncurkan di pasaran Indonesia pada tanggal 13 Maret 2015. Melalui tagline βBorn To Be Lovedβ Emina mengingatkan bahwa setiap wanita memiliki keunikan dan kecantikannya masing-masing. Tidak ada yang perlu ditutupi atau pun diperbaiki dari penampilan fisik seseorang, Emina hanya membantu menonjolkan kecantikan itu sendiri dengan make up yang chic, simple dan playful. Selain itu Emina juga menanamkan pesan positif kepada para wanita agar menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjadi diri sendiri, karena keunikan yang masing-masing orang miliki itu lah yang membuat diri mereka menjadi lovable. Selain itu Emina Juga memiliki filosofi Love, Joy, dan Dream yang memiliki arti seperti pada gambar berikut.
Gambar 4.1
Filosofi Love, Joy, dan Dream Emina
Sumber : www.eminacosmetics.com (2020)
Gambar 4.2 Logo Emina
Sumber : www.eminacosmetics.com (2020)
Ada berbagai kegiatan mengikat pelanggan (Customer Bonding) yang dilakukan Emina untuk mendapatkan loyalitas pelanggannya, antara lain sebagai berikut:
1. Produk Emina memiliki berbagai macam produk dengan kesan yang chic, simple, & playful, ringan untuk dipakai sehari-hari serta harganya yang terjangkau. Selain itu store Emina juga memiliki desain dan interior yang chic, simple, & playful juga.
Gambar 4.3 Produk Emina
Sumber : qupas.id (2020)
Emina pertama kali membuka tokonya di wilayah Sumatera Utara yaitu di Medan pada tanggal 12 September 2019 di Sun Plaza lantai LG yang beralamat di Jl. KH. Zainul Arifin No.7, Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan.
Gambar 4.4
Store Emina Sun Plaza Medan
Sumber : Instagram (2020)
2. Emina memiliki website dan media sosial sehingga memudahkan pelanggan dalam mendapatkan informasi seputar produk-produknya.
Gambar 4.5
Official Website & Instagram Emina
\
3. Ikut serta dalam berbagai acara dengan membuka booth Emina sehingga para pelanggan yang hadir pada acara tersebut mengetahui dan dengan mudah mendapatkan produk Emina.
Gambar 4.6
Booth Emina pada acara Business Workshare Project
Sumber : Peneliti (2020)
4. Mengadakan kegiatan-kegiatan seperti Beauty Class (Kelas kecantikan dan tutorial make up), Beauty Bestie Day (Workshop seputar kecantikan yang diadakan di sekolah-sekolah), Emina Girl Gang Ambassador (Kegiatan sekumpulan wanita aktif yang mewakili sekolah atau kampusnya yang nantinya akan menghubungkan emina dengan remaja wanita lainnya), dan kegiatan lainnya.
Gambar 4.7 Beauty Class Emina
Gambar 4.8 Beauty Bestie Day Emina
Sumber : Instagram Emina (2020) Gambar 4.9
Emina Girl Gang Ambassador
Sumber : Instagram Emina (2020)
5. Mengadakan Beauty Demo (Tutorial Make Up) dengan mengundang Beauty Influencer di store Emina saat mengadakan event-event tertentu, serta adanya Beauty Advisor disetiap store Emina untuk membantu para pelanggan dalam memilih produk yang cocok untuk dirinya.
Gambar 4.10
Beauty Demo oleh Beauty Influencer
Sumber : Instagram Emina (2020) Gambar 4.11
Beauty Advisor
Sumber : Instagram Emina (2020)
6. Emina sering mengadakan diskon, giveaway, dan hadiah yang menarik.
Gambar 4.12
Diskon, Giveaway, & Hadiah Emina
Sumber : Instagram Emina (2020)
4.2 Penyajian Data
Pada bagian ini, penulis akan menyajikan data sesuai dengan metode penelitian yang dijelaskan pada bab sebelumnya. Penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuesioner. Untuk mendapatkan data hasil penelitian, kuesioner ini disebar kepada sampel yang memenuhi kriteria penelitian. Sehingga data yang didapatkan lebih dipastikan kebenarannya karena diperoleh dari sumber pertama. Adapun penyajian data hasil penelitian ini akan dijelaskan di bagian berikut.
4.2.1 Identitas Responden
Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, penghasilan perbulan, status, dan berapa kali melakukan pembelian produk Emina. Deskripsi karakteristik responden diuraikan sebagai berikut:
1. Kecamatan Tempat Tinggal
Karakteristik responden berdasarkan kecamatan tempat tinggal yaitu sebanyak 15 orang (15%) bertempat tinggal di Medan Selayang dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan kecamatan tempat tinggalnya di Medan Selayang . Berikut karakteristik responden berdasarkan kecamatan tempat tinggal yang disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Kecamatan Tempat Tinggal
No Kecamatan Tempat
Tinggal Jumlah Persentase
1 Medan Selayang 15 15%
2 Medan Baru 11 11%
3 Medan Sunggal 10 10%
4 Medan Johor 9 9%
5 Medan Kota 12 12%
6 Medan Area 3 3%
7 Medan Polonia 2 2%
8 Medan Tembung 10 10%
9 Medan Helvetia 4 4%
10 Medan Labuhan 1 1%
11 Medan Timur 2 2%
12 Medan Deli 2 2%
13 Medan Tuntungan 3 3%
14 Medan Petisah 1 1%
15 Medan Denai 3 3%
16 Medan Amplas 5 5%
17 Medan Perjuangan 1 1%
18 Medan Marelan 1 1%
19 Medan Maimun 2 2%
20 Medan Belawan 1 1%
21 Medan Barat 2 2%
Total 100 100%
Sumber : Peneliti (2020)
2. Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yaitu jenis kelamin wanita sebanyak 100 orang (100%) dan jenis kelamin pria sebanyak 0 orang (0%) dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan berjenis kelamin Wanita. Diketahui bahwa Emina merupakan brand kosmetik bagi para kaum Wanita. Berikut karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang disajikan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase
1 Pria 0 0%
2 Perempuan 100 100%
Total 100 100%
Sumber : Peneliti (2020) 3. Usia
Karakteristik responden berdasarkan usia yaitu usia 15 hingga 24 tahun sebanyak 97 orang (97%) dan usia 25 hingga 34 tahun sebanyak 3 orang (3%) dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan berusia 15 hingga 24 tahun. Diketahui Emina memiliki formula yang ringan sehingga cocok untuk usia mulai dari remaja.
Berikut karakteristik responden berdasarkan usia yang disajikan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah Persentase
1 15 β 24 tahun 97 97%
2 25 β 34 tahun 3 3%
3 35 β 44 tahun 0 0%
4 >45 tahun 0 0%
Total 100 100%
Sumber : Peneliti (2020) 4. Pekerjaan
Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan yaitu pelajar/mahasiswa sebanyak 95 orang (95%), PNS sebanyak 1 orang (1%), wiraswasta sebanyak 2 orang (2%), dosen sebanyak 1 orang (1%), dan guru sebanyak 1 orang (1%) dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan memiliki pekerjaan sebagai Pelajar/Mahasiswa.
Diketahui Emina memiliki kesan yang chic & fun dan juga harganya yang terjangkau sesuai dengan daya beli kalangan pelajar/mahasiswa. Berikut karakteristik responden berdasarkan pekerjaan yang disajikan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Jumlah Persentase
1 Pelajar/Mahasiswa 95 95%
2 PNS 1 1%
3 Wiraswasta 2 2%
4 Dosen 1 1%
5 Guru 1 1%
5. Pendapatan Perbulan
Karakteristik responden berdasarkan pendapatan perbulan yaitu < Rp 1.000.000,- sebanyak 63 orang (63%), Rp 1.000.000,- - Rp 2.000.000,- sebanyak 29 orang (29%), Rp 2.500.000,- - Rp 3.500.000,- sebanyak 2 orang (2%), > Rp 3.500.000, sebanyak 6 orang (6%) dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan memiliki pendapatan perbulan sebesar < Rp 1.000.000,- . Diketahui bahwa produk-produk Emina harganya terjangkau sehingga responden dengan pendapatan < Rp 1.000.000,- dapat membelinya. Berikut karakteristik responden berdasarkan pendapatan perbulan yang disajikan pada tabel 4.5.
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan perbulan
No Pendapatan perbulan Jumlah Persentase
1 < Rp 1.000.000,- 63 63%
2 Rp 1.000.000,-
- Rp 2.000.000,- 29 29%
3 Rp 2.500.000,-
- Rp 3.500.000,- 2 2%
4 >Rp 3.500.000,- 6 6%
Total 100 100%
Sumber : Peneliti (2020) 6. Status
Karakteristik responden berdasarkan status yaitu belum menikah sebanyak 100 orang (100%) dan menikah sebanyak 0 orang (0%) dari jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelanggan Emina di Kota Medan dominan berstatus belum menikah. Diketahui bahwa persepsi responden terhadap
Emina yaitu dikenal sebagai produk yang menargetkan para kaum muda yang mau belajar make up ataupun ingin berkreasi mencoba hal baru dengan cara menyenangkan serta formulanya yang ringan. Berikut karakteristik responden
Emina yaitu dikenal sebagai produk yang menargetkan para kaum muda yang mau belajar make up ataupun ingin berkreasi mencoba hal baru dengan cara menyenangkan serta formulanya yang ringan. Berikut karakteristik responden