• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Hipotesis Pertama

0,70 – 1,00 : Excellent (baik sekali)

Bertanda negatif : Jelek sekali

(Anas Sudijono, 2008 : 389)

Hasil uji daya pembeda soal instrumen penilaian kognitif yang dilakukan

terangkum dalam Tabel 6.

Tabel 6. Rangkuman Hasil Uji Daya Pembeda Soal Instrumen Penilaian Kognitif

dan Kemampuan Awal

Variabel Jumlah

Soal

Kriteria

Jelek Sedang Baik Baik Sekali Jelek Sekali

Soal-soal

kognitif 35 6 24 2 - 3

Soal-soal

kemampuan

awal

35 9 11 9 2 4

E. Teknik Analisis Data

1. Uji Prasyarat Analisis

Sehubungan dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi maka dilakukan

uji prasyarat analisis sebelum uji hipotesis. Uji prasyarat yang digunakan adalah uji

normalitas, uji homogenitas, dan uji keseimbangan.

a. Uji Normalitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel dalam penelitian ini

berdistribusi populasi normal atau tidak. Dalam penelitian ini digunakan metode

Liliefors untuk menentukan normalitasnya. Pada metode Liliefors, setiap data

diubah menjadi simpangan baku. Untuk menguji normalitas dengan metode ini

digunakan prosedur berikut :

1) Hipotesis

H0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H

1

: sampel tidak berasal dari polulasi yang berdistribusi normal

2) Taraf Signifikansi (α) = 0,05

commit to user

3) Statistik Uji

L = maks |F(z

i

) – S(z

i

)|

Dengan F(zi) = P(Z ≤ zi);

Z ~ N (0,1);

S(zi) : proporsi cacah z ≤ zi terhadap seluruh zi

z

i

: skor standar

z ,

X :nilai rata-rata dan s : standar deviasi

4) Daerah Kritik (DK)

DK = {L | L > L

α; n

}dengan n adalah ukuran sampel

5) Keputusan Uji

H

0

ditolak jika L

hitung

DK atau H

0

diterima jika L

hitung

∉ DK

6) Kesimpulan

a) Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika H0 diterima.

b) Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika H0

ditolak.

(Budiyono, 2004 : 170-171)

b. Uji Homogenitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel-sampel berasal dari

populasi sama atau tidak. Salah satu uji homogenitas adalah uji Barlett dengan

rumus :

χ ,c f log RKG f

j

logs

j

Langkah-langkah pengujian homogenitas dengan uji Barlett adalah sebagai

berikut :

1) Menentukan hipotesis

H

0

: semua variansi populasi homogen = σ1

2

= σ2

2

= σ3

2

= … = σk

2

H

1

: variansi populasi tidak homogen = σ1

2

≠σ2

2

≠σ3

2

≠ … ≠σk

2

commit to user

46

 

2) Statistik Uji

,

c f log RKG f

j

logs

j

Dengan

c ∑

RKG = rataan kuadrat galat =

∑ ∑

SS

j

X

j

X

j

n

j

n

j

s

j

S

j

SS

j

n

j

fj = nj – 1 dan k : banyaknya polulasi

3) Taraf signifikansi 5%

4) Daerah kritik

DK = {χ

2

| χ

2

≥χ

2 α; k-1}

5) Kriteria uji

H

0

diterima apabila

χ 2

∈ DK, yang berarti sampel homogen atau H

0

ditolak

apabila

χ 2

∉ DK.

(Budiyono, 2004 : 175 – 178)

2. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan bertujuan untuk menguji kesetaraan antara dua sampel

atau lebih dalam penelitian. Dalam penelitian ini untuk menguji keseimbangan

sampel digunakan anava satu jalan dengan sel tak sama karena sampel yang akan

diuji lebih dari dua. Model dari analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama

adalah sebagai berikut :

X

ij

µ

j

ε

ij

dimana :

Xij : data amatan ke-i pada perlakuan ke-j

µ : rerata dari seluruh data (rerata besar)

commit to user

αj = µ

j

– µ : efek perlakuan ke-j pada variabel terikat

εij : deviasi data X

ij

terhadap rataan populasinya (µ

ij

) yang berdistribusi normal

dengan rataan 0.

i : 1, 2, 3, …. , n

j

j : 1, 2, 3, …. , k

k : cacah populasi (cacah perlakuan, cacah klasifikasi)

(Budiyono, 2004 : 196)

Prosedur dalam pengujian menggunakan analisis variansi satu jalan yaitu :

1) Hipotesis

H0 : µ1 = µ2 = µ3 = …. = µk

H1 : µ1 ≠µ2 ≠µ3≠ …. ≠ µk , paling sedikit ada satu µj yang tidak nol

Hipotesis di atas ekuivalen dengan hipotesis berikut ini :

H0 : tidak terdapat perbedaan rata-rata pretes antara kelas NHT

dilengkapi modul, kelas TPS dilengkapi LKS, dan kelas kontrol.

H1 : ada perbedaan rata-rata pretes antara kelas NHT

dilengkapi modul, kelas TPS dilengkapi LKS, dan kelas kontrol.

2) Komputasi

a) Besaran-Besaran

(1)

(2)

∑ X

,

(3) =

b) Jumlah Kuadrat

JKA = (3) – (1)

JKG = (2) – (3)

JKT = (2) – (1)

c) Derajat Kebebasan

dkA = k – 1

commit to user

48

 

dkG = N – k

dkT = N – 1

d) Rataan Kuadrat

RKA RKG

3) Statistik Uji

Fobs =

4) Daerah Kritik

DK = {F | F > F

α; k-1, N-k}

5) Keputusan Uji

H0 ditolak apabila Fobs ∈

DK atau H0 diterima apabila Fobs

DK

6) Rangkuman Analisis

Rangkuman analisis variansi satu arah sel tak sama ditunjukkan dalam Tabel 7.

Tabel 7. Rangkuman Analisis Variansi Satu Jalan Sel Tak Sama

Sumber JK dK RK F

obs

F

α

Perlakuan JKA k – 1 RKA Fa F

*

Galat JKG N – k RKG - -

Total JKT N – 1 - - -

Keterangan F

α

: nilai F yang diperoleh dari tabel.

(Budiyono, 2004 : 197-198)

3. Pengujian Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis digunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak

sama, yang digunakan menguji signifikansi perbedaan pengaruh dua faktor A dan B

serta interaksi AB terhadap variabel terikat. Model dari analisis variansi dua jalan

dengan sel tak sama adalah sebagai berikut :

X

ijk

µ

i j ij

ε

ijk

dimana :

commit to user

µ : rerata dari seluruh dara amatan

αi = µ

i

– µ : efek baris ke-i pada variabel terikat

βi = µ

j

– µ : efek kolom ke-j pada variabel terikat

(αβ)

ij

= µ

j

– (µ + αi + βi) : kombinasi efek baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel

terikat

εijk : deviasi data amatan terhadap rataan populasi (µ

ij

) yang berdistribusi normal

dengan rataan 0. Deviasi amatan rataan populasi juga disebut galat (error).

i : 1, 2, 3, …. , p ; p : banyaknya baris

j : 1, 2, 3, …. , q ; q : banyaknya kolom

k : 1, 2, 3, …. , nij ; nij : banyaknya data amatan pada sel ij.

(Budiyono, 2004 : 207)

Prosedur dalam pengujian menggunakan analisis variansi dua jalan yaitu :

a. Hipotesis

1) H0A : αi = 0 untuk setiap i = 1, 2, 3, …, p

H1A : paling sedikit ada satu αi yang tidak nol

2) H0B : βi = 0 untuk setiap j = 1, 2, 3, …, q

H1B : paling sedikit ada satu βi yang tidak nol

3) H0AB : (αβij) = 0 untuk setiap i = 1, 2, 3, …, p dan j = 1, 2, 3, …, q

H1AB : paling sedikit ada satu (αβij) yang tidak nol

Ketiga pasangan hipotesis di atas ekuivalen dengan tiga pasang hipotesis berikut

ini :

1) H

0A

: tidak ada perbedaan pengaruh antara pembelajaran dengan metode NHT

dilengkapi modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah

terhadap prestasi belajar siswa.

H

1A

: ada perbedaan pengaruh antara pembelajaran dengan metode NHT

dilengkapi modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah

terhadap prestasi belajar siswa.

2) H

0B

: tidak ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal tinggi dan

kemampuan awal rendah terhadap prestasi belajar siswa.

commit to user

50

 

H

1B

: ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal tinggi dan kemampuan

awal rendah terhadap prestasi belajar siswa.

3) H

0AB

: tidak ada interaksi metode pembelajaran dan kemampuan awal

terhadap prestasi belajar siswa.

H

1AB

: ada interaksi metode pembelajaran dan kemampuan awal terhadap

prestasi belajar siswa.

b. Komputasi

Notasi dan tata letak data ditunjukkan dalam Tabel 8.

Tabel 8. Notasi dan Tata Letak Data

B

A B

1

B

2

A

1

AB11 AB12

A

2

AB

21

AB

22

A

3

AB31 AB32

Sel AB

ij

memuat : X

ij1

; X

ij2

; X

ij3

; …; X

ijn

Dimana :

A

1

: pembelajaran dengan metode NHT dilengkapi modul

A2 : pembelajaran dengan metode TPS dilengkapi LKS

A3 : pembelajaran dengan metode yang biasa digunakan (metode ceramah).

B1 : kemampuan awal tinggi

B2 : kemampuan awal rendah

Notasi-notasi :

nij : ukuran sel ij (sel pada baris ke-i dan kolom ke-j)

: banyaknya data amatan pada sel ij

: frekuensi sel ij

: rataan harmonik frekuensi seluruh sel =

,

N =

i,j

n

ij

: banyaknya seluruh data amatan

commit to user

AB

ij

: rataan pada sel ij

A

ij

AB

ij

: jumlah rataan pada baris ke-i

B

ji

AB

ij

: jumlah rataan pada kolom ke-j

G ∑ AB

,

: jumlah rataa semua sel

1) Besaran-Besaran

(4)

(4) =

(5)

∑ SS

,

(5) =

∑ AB

,

(6) =

2) Jumlah Kuadrat

JKA = {(3) – (1)}

JKB = {(4) – (1)}

JKAB = {(1) + (5) – (3) – (4)}

JKG = (2)

JKT = JKA + JKB + JKAB + JKG

3) Derajat Kebebasan

dkA = p – 1 dkG = N – pq

dkB = q – 1 dkT = N- 1

dkAB = (p – 1) (q – 1)

4) Rataan Kuadrat

RKA RKB

RKAB RKG

c. Statistik Uji

1) Untuk H

0A

adalah F

a RKARKG

yang merupakan nilai dari variabel random yang

commit to user

52

 

2) Untuk H0B adalah F

b RKBRKG

yang merupakan nilai dari variabel random yang

berdistribusi F dengan derajat kebebasan q – 1 dan N – pq.

3) Untuk H0AB adalah F

ab RKABRKG

yang merupakan nilai dari variabel random

yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan (p-1)(q-1) dan N – pq.

d. Daerah Kritik

Daerah kritik untuk F

a

adalah DK = {F | F > F

α; p-1, N-pq

}

Daerah kritik untuk F

b

adalah DK = {F | F > F

α; q-1, N-pq

}

Daerah kritik untuk F

ab

adalah DK = {F | F > F

α; (p-1)(q-1), N-pq

}

e. Keputusan Uji

H0 ditolak apabila Fobs ∈

DK atau H0 diterima apabila Fobs

DK

(Budiyono, 2004 : 228-230)

f. Rangkuman Analisis

Rangkuman analisis variansi dua arah sel tak sama ditunjukkan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama

Sumber Variansi JK dK RK F

obs

F

α

Baris (A) JKA p – 1 RKA Fa F

*

Kolom (B) JKB q - 1 RKB F

b

F

*

Interaksi (AB) JKAB (p – 1)(q – 1) RKAB Fab F

*

Galat JKG N – pq RKG - -

Total JKT N – 1 - - -

Keterangan Fobs : harga statistik uji dan F

α

: nilai F tang diperoleh dari tabel.

(Budiyono, 2004 : 213)

4. Uji Komparasi Ganda

Uji komparasi ganda merupakan uji tindak lanjut dari analisis variansi apabila

hasil analisis variansi tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak. Untuk uji

lanjutan setelah analisis variansi digunakan metode Sheffe.

a. Komparasi Rataan Antar Baris

F

i j

X

i

X

j

RKG n

i

n

j

commit to user

Dengan :

F

i j

: nilai F

obs

pada pembandingan baris ke-i dan baris ke-j

X

i

: rataan pada baris ke-i

X

j

: rataan pada baris ke-j

RKG : rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis variansi

n

i

: ukuran sampel baris ke-i

n

j

: ukuran sampel baris ke-j

Daerah kritik untuk uji ini adalah : DK = {F | F > (p-1) F

α; p-1; N-pq

}

b. Komparasi Rataan Antar Kolom

F

i j

X

i

X

j

RKG n

i

n

j

Daerah kritik untuk uji ini adalah : DK = {F | F > (q-1) F

α; q-1; N-pq}

c. Komparasi Rataaan antar Sel pada Kolom yang Sama

F

ij kj

X

ij

X

kj

RKG n

ij

n

kj

Dengan daerah kritik : DK = {F | F > (pq – 1) F

α; pq-1; N – pq

}

d. Komparasi Rataan antar Sel pada Baris yang Sama

F

ij ik

X

ij

X

ik

RKG n

ij

n

ik

Dengan daerah kritik : DK = {F | F > (pq – 1) F

α; pq-1; N – pq}

commit to user

54

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data

Data dalam penelitian ini adalah data skor kemampuan kognitif siswa pada materi stoikiometri (perhitungan kimia) dan skor kemampuan awal pada materi tata nama senyawa kimia, persamaan reaksi kimia, dan hukum dasar kimia. Data tersebut diperoleh dari masing-masing siswa dalam kelompok sampel penelitian, yaitu diperoleh dari 107 siswa dari kelas X-C, X-F, X-G SMA N 1 Gemolong Tahun Pelajaran 2010/1011, dengan perincian 36 siswa kelas X-C sebagai kelompok kelas kontrol, 35 siswa kelas X-F sebagai kelompok kelas TPS dilengkapi LKS, dan 36 siswa kelas X-G sebagai kelompok kelas NHT dilengkapi modul. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini disajikan deskripsi data penelitian dari masing-masing variabel.

1. Data Nilai Kemampuan Awal Siswa

Data nilai kemampuan awal siswa diperoleh dari metode tes. Data yang diperoleh dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu nilai yang lebih besar dari rata-rata nilai total kemampuan awal termasuk dalam kategori kemampuan awal tinggi dan nilai yang lebih kecil dari rata-rata tersebut termasuk dalam kategori kemampuan awal rendah. Pengelompokan ini didasarkan pada rata-rata nilai total hasil tes kemampuan awal siswa untuk ketiga kelas tersebut. Adapun nilai rata-rata keseluruhan adalah 59,93. Dengan menggunakan kriteria tersebut, 107 siswa yang terdiri dari 36 siswa kelas NHT dilengkapi modul, 35 kelas TPS dilengkapi LKS, dan 36 siswa kelas kontrol terdapat 61 siswa mempunyai kemampuan awal tinggi dan 46 siswa mempunyai kemampuan awal rendah. Secara rinci disajikan dalam Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Jumlah Siswa yang Memiliki Kemampuan Awal Tinggi dan Rendah

Kemampuan Awal Kelas Eksperimen Jumlah Kelas NHT Modul Kelas TPS LKS Kelas Kontrol Tinggi 13 24 24 61 Rendah 23 11 12 46 Jumlah 36 35 36 107

commit to user

Pada kelas eksperimen I yaitu kelas NHT dilengkapi modul, nilai terendah adalah 44 dan nilai tertinggi adalah 76 dengan nilai rata-rata 56. Pada kelas eksperimen II yaitu kelas TPS dilengkapi LKS, nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 80 dengan nilai rata-rata 62,29. Sedangkan pada kelas kontrol yaitu kelas yang diajar dengan metode yang biasa digunakan (ceramah dan tanya jawab), nilai terendah adalah 44 dan nilai tertinggi adalah 72 dengan nilai rata-rata 61,56. Selanjutnya, dari data nilai kemampuan awal siswa tersebut dapat dibuat tabel distribusi frekuensi yang dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Kemampuan Awal Siswa Kelas NHT Dilengkapi Modul, Kelas TPS Dilengkapi LKS, dan Kelas Kontrol

o Kelas Interval

Nilai Tengah

NHT Modul TPS LKS Kontrol Frek %Frek Frek %Frek Frek %Frek

1 2 3 4 5 6 7 40 – 45 46 – 51 52 – 57 58 – 63 64 – 69 70 – 75 76 – 81 42,5 48,5 54,5 60,5 66,5 72,5 78,5 5 3 15 7 4 1 1 14 8 42 19 11 3 3 4 3 4 1 14 6 3 11 9 11 3 40 17 9 1 4 7 3 16 5 0 3 11 19 8 45 14 0 Jumlah 36 100 35 100 36 100

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai data kemampuan awal siswa kelas NHT dilengkapi modul, kelas TPS dilengkapi LKS, dan kelas kontrol, dibuat histogram kemampuan awal siswa yang dapat dilihat pada Gambar 3. Dari tabel dan histogram tersebut terlihat bahwa pada kelas NHT dilengkapi modul, frekuensi tertinggi adalah 15 pada rentang 52–57 yang termasuk dalam kategori kemampuan awal rendah. Pada kelas TPS dilengkapi LKS, frekuensi tertinggi adalah 14 pada rentang 64–69 yang termasuk dalam kategori kemampuan awal tinggi. Pada kelas kontrol, frekuensi tertinggi adalah 16 pada rentang 64–69 yang termasuk dalam kategori kemampuan awal tinggi.

commit to user

 

Gambar 3. Histogram Skor Kemampuan Awal Siwa Kelas NHT Dilengkapi Modul, Kelas TPS Dilengkapi LKS, dan Kelas Kontrol

2. Data Nilai Prestasi Belajar Siswa

Data mengenai nilai prestasi belajar siswa tercantum dalam Lampiran 17. Data prestasi belajar siswa materi stoikiometri yang dianalisis adalah data selisih nilai pretes dan nilai posttes. Untuk lebih memperjelas gambaran dari masing-masing data, akan disajikan gambaran mengenai nilai prestasi belajar siswa sebagai berikut:

a. Rerata Prestasi Belajar Siswa

Rerata prestasi belajar siswa materi stoikiometri dapat dilihat pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12. Rerata Prestasi Belajar Siswa

Kelompok Siswa Rerata Prestasi Belajar Siswa Faktor Kategori Metode Pembelajaran NHT dilengkapi Modul 47,00 TPS dilengkapi LKS 39,89 Kontrol 37,22

Kemampuan Awal Tinggi 40,59

commit to user

b. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa

1) Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa menurut Metode Pembelajaran Data siswa yang diajar menggunakan metode NHT dilengkapi modul pada materi stoikiometri diperoleh prestasi belajar tertinggi mencapai 64 sedangkan prestasi belajar terendah adalah 32. Untuk siswa yang dikenai pembelajaran dengan menggunakan metode TPS dilengkapi LKS diperoleh prestasi belajar tertinggi mencapai 60 sedangkan prestasi belajar adalah 20. Sedangkan untuk siswa yang dikenai pembelajaran dengan menggunakan metode yang biasa digunakan (ceramah dan tanya jawab) sebagai kelas kontrol diperoleh prestasi belajar tertinggi mencapai 56 sedangkan prestasi belajar terendah adalah 12.

Untuk memudahkan dalam membandingkan prestasi belajar pada materi stoikiometri yang diperoleh siswa pada kelas yang diajar dengan metode NHT dilengkapi modul, TPS dilengkapi LKS, dan kelas ceramah, dibuat tabel distribusi frekuensi yang dapar dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Perbandingan Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Materi Stoikiometri Kelas NHT Dilengkapi Modul, Kelas TPS Dilengkapi LKS, dan Kelas Ceramah

No Kelas Interval

Nilai Tengah

NHT Modul TPS LKS Kontrol Frek %Frek Frek %Frek Frek %Frek

1 2 3 4 5 6 7 8 12 – 18 19 – 25 26 – 32 33 – 39 40 – 46 47 – 53 54 – 60 61 – 67 15 23 29 36 43 50 57 64 0 0 1 4 11 13 6 1 0 0 3 11 30 36 17 3 0 5 7 3 8 8 4 0 0 14 20 9 23 23 11 0 2 2 10 3 13 5 1 0 6 6 27 8 36 14 3 0 Jumlah 36 100 35 100 36 100

Gambaran yang lebih jelas tentang perbandingan prestasi belajar siswa antara kelas dengan metode NHT dilengkapi modul, TPS dilengkapi LKS, dan kelas ceramah dapat dilihat pada histogram Gambar 4.

commit to user

 

Gambar 4. Histogram Prestasi Belajar Kelas NHT Dilengkapi Modul, Kelas TPS Dilengkapi LKS, dan Kelas Ceramah

2) Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa menurut Kemampuan Awal Distribusi frekuensi prestasi belajar siswa ditinjau dari kemampuan awal siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok siswa dengan kemampuan awal tinggi dan kelompok siswa dengan kemampuan awal rendah. Pada kelompok siswa dengan kemampuan awal tinggi, rentang prestasi belajarnya 20 sampai 64. Sedangkan untuk kelompok siswa dengan kemampuan awal rendah, prestasi belajarnya memiliki rentang antara 12 sampai 60.

Agar dapat membandingkan selisih nilai kognitif siswa pada kelompok kemampuan awal tinggi dengan kelompok kemampuan rendah, kedua data tersebut dijadikan satu seperti ditunjukkan pada distribusi frekuensi Tabel 14. Gambaran yang lebih jelas tentang perbandingan selisih nilai kognitif siswa ditinjau kemampuan awal siswa dapat dilihat pada histogram Gambar 5.

commit to user

Tabel 14. Perbandingan Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa

No Kelas Interval

Nilai Tengah

Tinggi Rendah

Frek % Frek Frek % Frek

1 2 3 4 5 6 7 8 12 – 18 19 – 25 26 – 32 33 – 39 40 – 46 47 – 53 54 – 60 61 – 67 15 23 29 36 43 50 57 64 0 5 12 7 19 11 6 1 0 8 20 11 31 18 10 2 2 2 6 3 13 15 5 0 4 4 13 7 28 33 11 0 Jumlah 61 100 46 100

Gambar 5. Histogram Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Ditinjau Kemampuan Awal Siswa

B. Pengujian Prasyarat Analisis

Teknik uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis variansi dua jalan dengan frekuensi sel tak sama dengan desain faktorial 3 x 2. Prasyarat minimal yang harus dipenuhi untuk menggunakan anava tersebut adalah populasi harus seimbang, normal, dan homogen yang dapat diketahui dengan

commit to user

 

melakukan uji prasyarat yang terdiri dari uji keseimbangan menggunakan analisis variansi satu jalan dengan frekuensi sel tak sama, uji normalitas dengan metode Liliefors, dan uji homogenitas dengan metode Barlett. Hasil uji prasyarat tersebut sebagai berikut:

1. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan digunakan untuk mengetahui kemampuan kognitif awal antara kelas NHT dilengkapi modul, kelas TPS dilengkapi LKS, dan kelas kontrol. Uji ini dilakukan dengan menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama terhadap nilai pretes pada materi stoikiometri. Adapun hasil rangkuman analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 15 sedangkan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 20.

Tabel 15. Rangkuman Hasil Analisis Variansi Satu Jalan Nilai Pretes

Sumber JK dk RK Fobs Fα Kesimpulan

Metode Mengajar (A) 262,67 2 131,33 1,51 3,07 H0A diterima

Galat (G) 9066,08 104 87,17 - - -

Total 9328,75 106 - - - -

Dari perhitungan diperoleh harga Fobs = 1,51, sedangkan Fα = 3,07. Hal tersebut berarti Fobs = 1,51 ∉ DK atau berada diluar daerah kritik sehingga H0

diterima. Kesimpulannya adalah nilai rata-rata pretes kelas NHT dilengkapi modul, kelas TPS dilengkapi LKS, dan kelas kontrol adalah sama. Dengan mengasumsikan nilai pretes materi stoikiometri sebagai kemampuan kognitif awal, maka ketiga kelas mempunyai kemampuan kognitif awal yang sama.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan analisis variansi adalah distribusi populasinya normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Liliefors. Hasil uji normalitas dengan tingkat signifikansi 0,05 terangkum dalam Tabel 16.

commit to user

Tabel 16. Rangkuman Uji Normalitas Sampel dengan Uji Liliefors

Kelompok L0 Ltabel Kesimpulan

NHT dilengkapi Modul

Pretes 0,138 0,148 Normal

Postes 0,144 0,148 Normal

Kognitif 0,116 0,148 Normal

Kemampuan awal 0,143 0,148 Normal TPS dilengkapi

LKS

Pretes 0,135 0,149 Normal

Postes 0,102 0,149 Normal

Kognitif 0,105 0,149 Normal

Kemampuan awal 0,103 0,149 Normal

Kontrol

Pretes 0,141 0,148 Normal

Postes 0,138 0,148 Normal

Kognitif 0,093 0,148 Normal

Kemampuan awal 0,099 0,148 Normal Prestasi

Kognitif

Kemampuan Tinggi 0,112 0,113 Normal Kemampuan Rendah 0,081 0,130 Normal Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa harga L0 < Ltabel, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Data selengkapnya mengenai uji normalitas ini dapat dilihat pada Lampiran 18.

3. Uji Homogenitas

Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaan analisis variansi adalah variansi populasi harus homogen. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah variansi-variansi dari sejumlah populasi sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas pada penelitian ini digunakan metode Barlett. Hasil uji homogenitas terangkum dalam Tabel 17.

Tabel 17. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas dengan Metode Barlett

No Sumber χ2

obs χ2

tabel Kesimpulan

1 Pretes 0,146 5,991 Homogen

2 Postes 0,759 5,991 Homogen

3 Prestasi Kognitif 4,836 5,991 Homogen

4 Kemampuan Awal 4,501 5,991 Homogen

commit to user

 

Dari Tabel 17 tersebut tampak bahwa nilai statistik uji χ2

obs tidak melampaui harga kritiknya χ2

tabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang homogen. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 19.

C. Hasil Pengujian Hipotesis

1. Hasil Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama

Setelah prasyarat analisis terpenuhi, uji dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis variansi dua jalan dengan frekuensi sel tak sama. Perhitungan secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 21.

Hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama terhadap prestasi belajar yaitu selisih nilai pretes-postes materi stoikiometri ditinjau dari variabel-variabel metode pengajaran dan kemampuan awal siswa terangkum dalam Tabel 18 dan Tabel 19.

Tabel 18. Rataan dan Jumlah Rataan Prestasi Belajar Siswa

Kemampuan Awal Tinggi Rendah Total

NHT Modul 45,846 47,652 93,498 (A1)

TPS LKS 39,167 41,455 80,622 (A2)

Kontrol 39,167 33,333 72,500 (A3)

TOTAL 124,18 (B1) 122,44 (B2) 246,620 (G)

Tabel 19. Rangkuman Hasil Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama Prestasi Belajar Siswa

Sumber JK dk RK Fobs Fα Keputusan

Metode (A) 1779,669 2 889,835 9,176 3,07 H0A Ditolak Kemampuan Awal (B) 8,010 1 8,010 0,083 3,92 H0B Diterima Interaksi (AB) 329,567 2 164,784 1,699 3,07 H0AB Diterima

Galat 9794,970 101 96,980 - - -

Total 11912,216 106 - - - -

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa :

a. Pada efek utama baris (A) H0 ditolak karena Fobs > Fα. Hal tersebut berarti terdapat perbedaan pengaruh antara penggunaan metode NHT dilengkapi

commit to user

modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah tanya jawab terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri. Oleh karena itu, diperlukan uji lanjut pasca anava yaitu uji komparasi ganda antar baris (Uji Scheffe).

b. Pada efek utama kolom (B), H0 diterima karena Fobs < Fα. Hal tersebut berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh antara kemampuan awal tinggi dengan kemampuan awal rendah terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri. Oleh karena itu, tidak diperlukan uji lanjut pasca anava.

c. Pada efek interaksi (AB) H0 diterima karena Fobs < Fα. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode NHT dilengkapi modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah tanya jawab dengan kemampuan awal terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri.

 

2. Hasil Uji Lanjut Pasca Analisis Variansi

Analisis variansi mempunyai kelemahan yaitu apabila H0 ditolak, peneliti hanya mengetahui bahwa perlakuan-perlakuan yang diteliti memberikan pengaruh yang berbeda. Peneliti belum bisa mengetahui manakah perlakuan-perlakuan itu secara signifikan berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji lanjut pasca anava yaitu dengan menggunakan Uji Scheffe. Uji lanjut pasca anava dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata populasi yang dibandingkan dan pada rerata populasi yang terbesar menunjukkan adanya perlakuan yang lebih (misal lebih baik) daripada yang lain (Budiyono, 2004 : 201).

Berdasarkan hasil analisis variansi diketahui bahwa hipotesis pertama (H0A) dinyatakan ditolak, hipotesis kedua (H0B) dan hipotesis ketiga (H0AB) dinyatakan diterima. Oleh karena itu, Uji Scheffe hanya dilakukan untuk komparasi ganda antar baris. Perhitungan Uji Scheffe untuk komparasi ganda antar baris selengkapnya terdapat pada Lampiran 22. Rangkuman hasil Uji lanjut pasca analisis variansi komparasi ganda antar baris disajikan dalam Tabel 20.

commit to user

 

Tabel 20. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Baris Prestasi Belajar Siswa

Dokumen terkait