BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
mengasumsikan nilai pretes materi stoikiometri sebagai kemampuan kognitif awal, maka ketiga kelas mempunyai kemampuan kognitif awal yang sama.
2. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan analisis variansi adalah distribusi populasinya normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Liliefors. Hasil uji normalitas dengan tingkat signifikansi 0,05 terangkum dalam Tabel 16.
commit to user
Tabel 16. Rangkuman Uji Normalitas Sampel dengan Uji Liliefors
Kelompok L0 Ltabel Kesimpulan
NHT dilengkapi Modul
Pretes 0,138 0,148 Normal
Postes 0,144 0,148 Normal
Kognitif 0,116 0,148 Normal
Kemampuan awal 0,143 0,148 Normal TPS dilengkapi
LKS
Pretes 0,135 0,149 Normal
Postes 0,102 0,149 Normal
Kognitif 0,105 0,149 Normal
Kemampuan awal 0,103 0,149 Normal
Kontrol
Pretes 0,141 0,148 Normal
Postes 0,138 0,148 Normal
Kognitif 0,093 0,148 Normal
Kemampuan awal 0,099 0,148 Normal Prestasi
Kognitif
Kemampuan Tinggi 0,112 0,113 Normal Kemampuan Rendah 0,081 0,130 Normal Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa harga L0 < Ltabel, dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Data selengkapnya mengenai uji normalitas ini dapat dilihat pada Lampiran 18.
3. Uji Homogenitas
Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaan analisis variansi adalah variansi populasi harus homogen. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah variansi-variansi dari sejumlah populasi sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas pada penelitian ini digunakan metode Barlett. Hasil uji homogenitas terangkum dalam Tabel 17.
Tabel 17. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas dengan Metode Barlett
No Sumber χ2obs χ2tabel Kesimpulan
1 Pretes 0,146 5,991 Homogen
2 Postes 0,759 5,991 Homogen
3 Prestasi Kognitif 4,836 5,991 Homogen
4 Kemampuan Awal 4,501 5,991 Homogen
commit to user
Dari Tabel 17 tersebut tampak bahwa nilai statistik uji χ2obs tidak
melampaui harga kritiknya χ2tabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang homogen. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 19.
C. Hasil Pengujian Hipotesis
1. Hasil Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama
Setelah prasyarat analisis terpenuhi, uji dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis variansi dua jalan dengan frekuensi sel tak sama. Perhitungan secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 21.
Hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama terhadap prestasi belajar yaitu selisih nilai pretes-postes materi stoikiometri ditinjau dari variabel- variabel metode pengajaran dan kemampuan awal siswa terangkum dalam Tabel 18 dan Tabel 19.
Tabel 18. Rataan dan Jumlah Rataan Prestasi Belajar Siswa
Kemampuan Awal Tinggi Rendah Total
NHT Modul 45,846 47,652 93,498 (A1)
TPS LKS 39,167 41,455 80,622 (A2)
Kontrol 39,167 33,333 72,500 (A3)
TOTAL 124,18 (B1) 122,44 (B2) 246,620 (G)
Tabel 19. Rangkuman Hasil Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama Prestasi Belajar Siswa
Sumber JK dk RK Fobs Fα Keputusan
Metode (A) 1779,669 2 889,835 9,176 3,07 H0A Ditolak
Kemampuan Awal (B) 8,010 1 8,010 0,083 3,92 H0B Diterima
Interaksi (AB) 329,567 2 164,784 1,699 3,07 H0AB Diterima
Galat 9794,970 101 96,980 - - -
Total 11912,216 106 - - - -
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa :
a. Pada efek utama baris (A) H0 ditolak karena Fobs > Fα. Hal tersebut berarti
commit to user
modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah tanya jawab terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri. Oleh karena itu, diperlukan uji lanjut pasca anava yaitu uji komparasi ganda antar baris (Uji Scheffe).
b. Pada efek utama kolom (B), H0 diterima karena Fobs < Fα. Hal tersebut berarti
tidak terdapat perbedaan pengaruh antara kemampuan awal tinggi dengan kemampuan awal rendah terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri. Oleh karena itu, tidak diperlukan uji lanjut pasca anava.
c. Pada efek interaksi (AB) H0 diterima karena Fobs < Fα. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode NHT dilengkapi modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah tanya jawab dengan kemampuan awal terhadap prestasi kognitif siswa pada materi stoikiometri.
2. Hasil Uji Lanjut Pasca Analisis Variansi
Analisis variansi mempunyai kelemahan yaitu apabila H0 ditolak, peneliti
hanya mengetahui bahwa perlakuan-perlakuan yang diteliti memberikan pengaruh yang berbeda. Peneliti belum bisa mengetahui manakah perlakuan-perlakuan itu secara signifikan berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji lanjut pasca anava yaitu dengan menggunakan Uji Scheffe. Uji lanjut pasca anava dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata populasi yang dibandingkan dan pada rerata populasi yang terbesar menunjukkan adanya perlakuan yang lebih (misal lebih baik) daripada yang lain (Budiyono, 2004 : 201).
Berdasarkan hasil analisis variansi diketahui bahwa hipotesis pertama (H0A) dinyatakan ditolak, hipotesis kedua (H0B) dan hipotesis ketiga (H0AB)
dinyatakan diterima. Oleh karena itu, Uji Scheffe hanya dilakukan untuk komparasi ganda antar baris. Perhitungan Uji Scheffe untuk komparasi ganda antar baris selengkapnya terdapat pada Lampiran 22. Rangkuman hasil Uji lanjut pasca analisis variansi komparasi ganda antar baris disajikan dalam Tabel 20.
commit to user
Tabel 20. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Baris Prestasi Belajar Siswa
Komparasi (Xi - Xj)2 1/ni + 1/nj RKG F Kritik Keputusan
µ1 vs µ2 41,448 0,056 96,980 7,585 6,14 Ditolak
µ2 vs µ3 16,492 0,056 96,980 3,018 6,14 Diterima
µ1 vs µ3 110,229 0,056 96,980 20,459 6,14 Ditolak
Keterangan :
µ1 = Kelas NHT dilengkapi modul
µ2 = Kelas TPS dilengkapi LKS
µ3 = Kelas ceramah tanya jawab
Dari tabel di atas dapat disimpulakan :
a. Prestasi kognitif siswa kelas NHT dilengkapi modul dan kelas TPS dilengkapi LKS menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.
b. Prestasi kognitif siswa kelas TPS dilengkapi LKS dan kelas ceramah tanya jawab tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.
c. Prestasi kognitif siswa kelas NHT dilengkapi modul dan kelas ceramah tanya jawab menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah dilakukan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dengan hasil yaitu dari tiga pengujian hipotesis yang diajukan (H0), hipotesis pertama
ditolak sedangkan hipotesis kedua dan ketiga diterima, dan dilanjutkan dengan satu uji lanjut pasca analisis variansi yaitu uji komparasi ganda antar baris terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri, berikut ini akan dibahas mengenai hipotesis penelitian.
1. Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama menyatakan bahwa prestasi belajar siswa menggunakan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada menggunakan metode TPS dilengkapi LKS pada materi stoikiometri. Hipotesis tersebut diuji dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dan uji lanjut pasca analisis variansi.
Dari hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama hipotesis pertama, diperoleh harga Fobs = 9,18. Harga Ftabel = 3,07 dengan N = 107 pada
commit to user
tersebut berarti terdapat perbedaan pengaruh penggunaan metode NHT dilengkapi modul, metode TPS dilengkapi LKS, dan metode ceramah tanya jawab terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri.
Dari hasil uji lanjut pasca analisis variansi dengan uji Scheffe yaitu uji komparasi ganda antar baris (Tabel 20) menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar kognitif yang signifikan antara kelas NHT dilengkapi modul dengan kelas TPS dilengkapi LKS dan kelas ceramah tanya jawab. Dari rataan marginal antar baris (Lampiran 22) menunjukkan bahwa rataan kelas NHT dilengkapi modul lebih besar dari pada kelas TPS dilengkapi LKS dan kelas ceramah tanya jawab. Hal tersebut menunjukkan prestasi belajar siswa menggunakan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada menggunakan metode TPS dilengkapi LKS pada materi stoikiometri kelas X SMA N 1 Gemolong 2010/2011.
Prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi dibandingkan dengan metode TPS dilengkapi LKS pada materi stoikiometri. Hal tersebut karena materi stoikiometri merupakan materi yang di dalamnya berisi konsep-konsep hitungan kimia dan biasanya soal yang harus diselesaikan adalah soal hitungan. Oleh karena itu, siswa membutuhkan banyak latihan soal sehingga dalam proses pembelajarannya diperlukan keterlibatan siswa secara aktif untuk melakukan sendiri latihan soal tersebut. Dengan melakukan banyak latihan soal sendiri, siswa dengan sendirinya akan menemukan konsep hitungan tersebut yang akan bertahan lama dan memberikan kesan mendalam terhadap latihan soal yang dilakukan. Dengan dilengkapi modul, siswa yang mengikuti pembelajaran akan lebih banyak mendapat kesempatan untuk belajar, membaca uraian materi, mempelajari contoh soal dan penyelesaiannya, dan menjawab soal evaluasi baik secara individu maupun diskusi dalam kelompok.
Pada pembelajaran menggunakan metode TPS, siswa hanya sedikit melakukan latihan soal. Dengan dilengkapi LKS, siswa dituntut berperan aktif dalam mengerjakan soal-soal yang terdapat di LKS secara berkesinambungan baik individu maupun kelompok. Dengan demikian diharapkan siswa dapat memahami konsep materi stoikiometri. Namun saat mengerjakan soal di LKS hanya beberapa siswa yang aktif sedangkan siswa yang lain cenderung pasif dan hanya menyalin
commit to user
pekerjaan teman sebangku. Oleh karena itu, konsep stoikiometri kurang berkesan pada siswa yang pasif. Hal tersebut menyebabkan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode TPS dilengkapi LKS.
Selain hal di atas, kedua metode tersebut menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode yang biasa digunakan (ceramah dan tanya jawab). Dalam pembelajaran dengan metode ceramah, siswa hanya mempelajari materi yang disampaikan oleh guru. Proses pembelajarannya lebih bersifat teacher centered sehingga siswa kurang aktif dalam prosesnya. Oleh karena itu, latihan soal yang diberikan sebagian besar dikerjakan oleh guru sehingga siswa kurang pengalaman dalam mengerjakan soal secara mandiri.
Secara umum, kegiatan belajar mengajar pada kelas NHT dilengkapi modul dan kelas TPS dilengkapi LKS siswa cukup aktif. Pada kelas NHT dilengkapi modul, setelah memberi penjelasan singkat terkait tujuan pembelajaran dan materi yang akan dipelajari, siswa menempatkan diri bersama kelompoknya, dari 36 siswa dibagi menjadi 9 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 4 siswa. Dalam pembelajaran ini siswa berusaha menyelesaikan soal-soal yang diberikan dengan bantuan modul. Meskipun terdapat sebagian siswa yang belum bisa memahami modul masih dapat dibantu teman sekelompoknya yang lebih paham untuk memahami isi modul sehingga semua anggota kelompok dapat menyelesaikan soal dan memahami materi stoikiometri. Hal ini juga didukung dengan dituntutnya tanggung jawab bahwa setiap siswa yang mempunyai nomor harus siap untuk memberikan jawaban dari soal-soal ke seluruh kelas secara individu sehingga terjalin kerjasama antar anggota kelompok untuk memahami materi yang diajarkan.
Sedangkan pada kelas TPS dilengkapi LKS, siswa terlebih dahulu diberi penjelasan materi dan contoh soal secara singkat oleh guru kemudian siswa diberi satu soal terkait materi yang baru saja dijelaskan yang terdapat di LKS. Guru meminta siswa memikirkan jawaban soal tersebut secara individu kemudian mendiskusikan jawaban tersebut dengan teman sebangkunya (berpasangan). Dalam diskusi ini siswa berusaha menyelesaikan soal yang diberikan. Dalam
commit to user
pembelajaran ini terdapat pasangan siswa yang mampu menyelesaikan soal dengan benar tapi terdapat pula pasangan siswa yang kesulitan menyelesaikan soal sehingga masih perlu bimbingan guru dalam diskusi.
Kegiatan belajar mengajar di kelas kontrol yaitu menggunakan metode ceramah, siswa bertindak pasif. Guru memberikan penjelasan materi stoikiometri dilanjutkan memberikan contoh soal dan cara menyelesaikan. Bagi siswa yang belum memahami materi dapat bertanya pada guru, namun sebagian besar siswa memilih diam ketika belum memahami penjelasan materi yang disampaikan. Hal tersebut terlihat ketika masih terdapat siswa yang belum bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diyakini bahwa prestasi belajar siswa menggunakan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi dibandingkan dengan metode TPS dilengkapi LKS dan metode ceramah pada materi stoikiometri kelas X semester gasal SMA N 1 Gemolong Tahun Ajaran 2010/2011.
2. Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua menyatakan bahwa prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi lebih tinggi daripada siswa dengan kemampuan awal rendah pada materi stoikiometri. Dari hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama hipotesis kedua, diperoleh harga Fobs = 0,08. Harga Ftabel = 3,92 dengan
N = 107 pada taraf signifikansi 5%. Karena Fobs < Ftabel, maka H0B diterima dan
H1B ditolak. Oleh karena itu, tidak dilakukan uji lanjut pasca analisis variansi
yaitu tidak dilakukan uji komparasi ganda antar kolom. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan awal siswa kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri. Dengan kata lain hal tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa berkemampuan awal tinggi tidak lebih tinggi daripada siswa berkemampuan awal rendah pada materi stoikiometri kelas X SMA N 1 Gemolong 2010/2011.
Pada penelitian ini, kemampuan awal dari materi stoikiometri adalah tata nama senyawa kimia, persamaan reaksi kimia, dan hukum-hukum dasar kimia. Sebelum mempelajari materi stoikiometri, hendaknya siswa terlebih dahulu
commit to user
mempelajari ketiga materi tersebut. Ketiga materi tersebut merupakan materi yang cenderung hafalan dan berkaitan dengan pemahaman konsep. Sedangkan materi stoikiometri lebih ke penerapan rumus, dapat terkait dengan mampu tidaknya siswa menggunakan rumus ataupun kemampuan siswa dalam menghitung. Karakteristik siswa dalam kemampuan kognitif berbeda-beda, ada siswa yang lebih unggul dalam materi hafalan namun ada pula yang lebih unggul dalam materi hitungan. Hal tersebut dapat menyebabkan prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal tidak lebih tinggi daripada siswa dengan kemampuan awal rendah pada materi stoikiometri SMA N 1 Gemolong 2010/2011.
Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang telah diuraikan dalam bab II dapat berpengaruh terhadap hasil tes kemampuan awal yang diberikan siswa. Misalnya keadaan udara dan suhu yang terlalu panas sehingga siswa kurang fokus dan kurang konsentrasi untuk mengerjakan soal yang diberikan. Lagipula, waktu untuk mengerjakan tes kemampuan awal tidak sama tiap kelasnya. Tiap kelas mengerjakan tes kemampuan awal pada siang hari dengan kondisi yang bermacam-macam, seperti lelah, lapar, sakit, kurang konsentrasi dan sebagainya. Kurangnya persiapan yang dilakukan siswa dapat pula menyebabkan hasil tes yang diberikan kurang bagus.
3. Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga menyatakan tidak terdapat interaksi antara metode NHT dilengkapi modul dan metode TPS dilengkapi LKS dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri. Dari hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama hipotesis ketiga, diperoleh harga Fobs =
1,70. Harga Ftabel = 3,07 dengan N = 107 pada taraf signifikansi 5%. Karena Fobs <
Ftabel, maka H0AB diterima dan H1AB ditolak. Oleh karena itu, tidak dilakukan uji
lanjut pasca analisis variansi yaitu tidak dilakukan uji komparasi ganda antar sel. Hal tersebut berarti tidak terdapat interaksi antara metode NHT dilengkapi modul dan metode TPS dilengkapi LKS dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri SMA N 1 Gemolong 2010/2011.
Tidak terdapatnya interaksi antara metode pembelajaran dan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak
commit to user
ada pengaruh perbedaan metode pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa. Metode pembelajaran yang digunakan, baik NHT dilengkapi modul, TPS dilengkapi LKS, maupun metode ceramah, prestasi belajar siswa berkemampuan awal tinggi tidak lebih tinggi daripada siswa berkemampuan awal rendah. Untuk setiap kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah, rataan prestasi belajar siswa metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada rataan prestasi belajar siswa metode TPS dilengkapi LKS. Secara keseluruhan, tanpa memperhatikan kemampuan awal, prestasi belajar prestasi belajar siswa metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada prestasi belajar siswa metode TPS dilengkapi LKS. Untuk setiap metode NHT dilengkapi modul dan metode TPS dilengkapi LKS, rataan prestasi belajar siswa berkemampuan awal tinggi tidak lebih tinggi daripada rataan prestasi belajar siswa berkemampuan awal rendah. secara keseluruhan, tanpa memperhatikan metode, prestasi belajar siswa berkemampuan awal tinggi tidak lebih tinggi daripada prestasi belajar siswa berkemampuan awal rendah.
Dalam penelitian ini, tidak terdapatnya interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan awal dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya keterbatasan kontrol terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar yang berasal dari diri siswa selain kemampuan awal. Hal ini karena masih terdapat banyak faktor-faktor lain seperti bakat, minat, kecerdasan, motivasi, kebiasaan, kemampuan matematik, kemampuan numerik dan sebagainya yang semuanya dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar kognitif siswa pada materi stoikiometri.
Secara keseluruhan, dalam penelitian ini dapat ditemukan perbedaan dan persamaan terkait metode NHT dilengkapi modul dan metode TPS dilengkapi LKS dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa. Perbedaan yang ditemukan yaitu prestasi belajar siswa dengan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada prestasi belajar siswa dengan metode TPS dilengkapi LKS. Persamaan yang ditemukan yaitu, bila menggunakan metode yang berbeda prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi tidak berbeda secara signifikan dengan prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal rendah .
commit to user
70BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian teori dan didukung adanya hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
1. Prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode NHT dilengkapi modul lebih tinggi daripada menggunakan metode TPS dilengkapi LKS pada materi stoikiometri SMA N 1 Gemolong 2010/2011. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji komparasi ganda antar baris dengan harga Fhitung = 7,59 > Ftabel = 6,14.
Selain itu, dapat dilihat dari rataan marginal dari metode NHT dilengkapi modul yang lebih tinggi dari pada rataan marginal metode TPS dilengkapi LKS, yaitu 46,75 > 40,31.
2. Prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi tidak lebih tinggi daripada siswa dengan kemampuan awal rendah pada materi stoikiometri SMA N 1 Gemolong 2010/2011. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis variansi dua jalan sel tak sama dengan harga Fhitung = 0,08 < Ftabel = 3,92 yang
berarti H0 diterima.
3. Tidak terdapat interaksi antara metode NHT dilengkapi modul dan metode TPS dilengkapi LKS dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri SMA N 1 Gemolong 2010/2011. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis variansi dua jalan sel tak sama dengan harga Fhitung = 1,70 <
Ftabel = 3,07 yang berarti H0 diterima.