HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Hipotesis Pertama
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi prestasi belajar kognitif 0,000 dan afektif 0,000 (<0,05: Ho ditolak) dan 0,154 (>0,05: Ho diterima). Kesimpulkan: ada pengaruh penggunaan model MFI dan POGIL terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, tetapi tidak memberikan pengaruh pada prestasi belajar psikomotorik. Model pembelajaran berpengaruh meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar, yang merupakan tujuan pembelajaran. Model pembelajaran MFI dan POGIL adalah model pembelajaran yang berbasis inquiry/penemuan.
Teori Bruner belajar penemuan yaitu pencarian pengetahuan secara aktif oleh siswa, sehingga akan memberikan hasil yang baik. Piaget dalam teori perkembangan kognitif, pengetahuan dibagi tiga macam yaitu pengetahuan fisis, matematika-logis,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id sosial. Faktor perkembangan kognitif siswa dalam belajar materi elektrolisis meliputi antara lain pengalaman fisik (physical experience) saat observasi melalui interaksi dengan lingkungan, pengamatan pada proses elektrolisis larutan, matematis-logis terjadi pada pemecahan penerapan hukum Faraday, pengalaman sosial terjadi ketika siswa berinteraksi dengan teman/guru saat diskusi. Dari pandangan Bruner dan Piaget membuktikan bahwa melalui model pembelajaran MFI dan POGIL yang berbasis inquiry siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan dan pengalaman, sehingga mampu meningkatkan/berpengaruh terhadap prestasi kognitif. Dapat disimpulkan dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa, berbasis inquiry, siswa akan memperoleh pengetahuan yang ditemukan sendiri, dikonstruksi sendiri, akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna yang akan meningkatkan prestasi kognitif.
Penelitian M Saeed Khan (2011) menyimpulkan metode pengajaran berbasis inquiry dirancang untuk membuat siswa aktif, untuk meningkatkan prestasi dan motivasi siswa jika siswa berperan aktif dalam membangun pengetahuan mereka sendiri dan belajar untuk menggunakan pengetahuan untuk menganalisa proses ilmiah.
Menurut Piaget pula hanya dengan keaktifan mengolah bahan, bertanya secara aktif, mencerna bahan dengan kritis, murid akan dapat menguasai bahan dengan baik. Keaktifan juga akan menumbuhkan karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Terdapat pengaruh model POGIL dan MFI terhadap prestasi afektif, hasil penelitian ini dikuatkan oleh Popham dalam Pengembangan Penilaian Afektif Diknas (2008) menjelaskan ranah afektif
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Penggunaan model POGIL dan model MFI tidak berpengaruh terhadap prestasi psikomotor. Penyebab-penyebab tersebut antara lain: belum berlangsungnya kooperatif yang baik dalam pemecahan masalah melalui kegiatan eksperimen secara kelompok, sikap siswa dalam melakukan pemecahan masalah melalui eksperimen kadang-kadang tidak menunjukkan keasliannya dalam beraktivitas karena siswa mengetahui dirinya sedang diamati sehingga dari penilaian prestasi psikomotorik bagus namun dalam kemampuan memproses informasi (teori Gagne) yang diperoleh dari pengalaman, belum tercapainya fase retensi, pemanggilan dan generelisasi.
Dari Penelitian dari Ibrahim Bilgin (2009) dengan meningkatkan lingkungan belajar melalui inquiry yang dipandu dengan lingkungan pembelajaran kooperatif, kinerja siswa dalam konsep ilmu berkembang lebih baik. Dalam lingkungan belajar individu, siswa hanya belajar saja, tetapi dalam pendekatan kooperatif siswa belajar dengan orang lain dan berbagi ide satu sama lain, memungkinkan siswa untuk bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan interaksi sosial sehingga membantu siswa lebih aktif dan berbicara dengan jelas (Bailey, 2008). Tugas-tugas yang membutuhkan interaksi sosial akan mendorong pembelajaran dan akan memungkinkan siswa untuk mengenali bahwa suatu tindakan harus diambil dengan referensi kepada orang lain. Kesimpulan Bilgin inquiry terbimbing digunakan belajar
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id bersama dengan pendekatan kooperatif dibandingkan dengan pendekatan individu, sikap mahasiswa terhadap instruksi inquiry terbimbing berkembang secara positif.
Menurut Rainer Zawadzki (2010) melalui POGIL siswa memperoleh pemahaman dan pembentukan konsep yang dibangun dari pengetahuan sebelumnya, pengalaman, keterampilan, sikap dan keyakinan melalui siklus eksplorasi. Pemahaman konsep lebih meningkat melalui interaksi dan komunikasi dengan orang lain, terutama teman sebaya.
Berbeda dengan Carl Roger dalam Nana Sudjana (2005) menyatakan seseorang yang telah menguasai tingkat kognitifnya maka perilakunya sudah bisa diramalkan, artinya sebenarnya prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotor selalu berhubungan satu dengan yang lain. Siswa yang berubah tingkat kognisinya sebenarnya dalam keadaan tertentu telah berubah pula sikap dan perilakunya. Jika prestasi kognitif siswa baik maka secara teori dapat diramalkan bahwa prestasi afektif dan psikomotornya akan baik pula yang mana sesuai dengan teori belajar Bruner, belajar melalui inquiry baik dengan MFI maupun POGIL memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Perbandingan prestasi belajar kedua kelas eksperimen pada Tabel 4.23.
Tabel 4.23. Nilai Rerata Prestasi Siswa NILAI
Kognitif Afektif Psikomotorik
MFI 55,3 74.9 80.1
POGIL 71,2 79.5 78.4
Rerata prestasi kognitif kelas yang diberi model POGIL lebih baik dari pada model MFI, hal ini dikarenakan melalui POGIL siswa lebih terarah dalam
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id menentukan pemecahan masalah yang menghasilkan konsep yang baru bagi siswa, akan lebih mudah memahami konsep serta menyelesaian masalah. Model MFI kebebasan diberikan terhadap siswa, dalam pemilihan alat dan bahan dalam memecahkan masalah sesuai lembar kerja siswa (LKS) yang diberikan. Namun kebebasan ini masih membuat bingung sebagian siswa MAN Temanggung. Untuk siswa yang tekun, akan memanfaatkan kebebasan ini dengan antusias dan terlihat semangat melakukan percobaan elektrolisis, namun bagi anak yang kurang tekun hanya diam saja, bahkan menampakkan sikap malas, atau cenderung mengobrol dengan teman. Sehingga sebagian siswa masih belum mampu memperoleh penguasaan konsep elektrolisis secara menyeluruh.
Meskipun secara statistik dalam penelitian ini model tidak mempengaruhi prestasi psikomotorik, akan tetapi penelitian di lapangan prestasi psikomotorik tetap memberikan pengaruh meskipun tidak signifikan, karena dalam proses pembelajaran keduanya lebih banyak kerja di laboratorium yang menuntut keterampilan fisik atau gerakan terampil.