HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data
E. Keterbatasan Penelitian
Meskipun di dalam penelitian ini telah direncanakan dengan optimal untuk memperoleh data penelitian yang akurat, teliti, representative dan telah dilaksanakan evaluasi, akan tetapi peneliti menyadari sepenuhnya bahwa hasil yang diperoleh mungkin tidak sesuai harapan. Perbedaan antara harapan dan kenyataan ini terjadi karena beberapa faktor yang dapat mempengaruhi atau membatasi hasil penelitian. Menurut peneliti faktor-faktor yang mempengaruhi hasil penelitian ini antara lain
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Penelitian ini dikendalikan oleh sistem sekolah yang membatasi alokasi waktu penelitian, silabus dan RPP yang digunakan. Instrumen pelaksanaan pembelajaran (silabus dan RPP) dan sistem penilaian KTSP disesuaikan dengan aturan Depdiknas (2007). Dalam penelitian ini pun masih terdapat beberapa kekurangan antara lain instrument yang digunakan untuk menilai prestasi afektif siswa yang hanya berupa angket. Menurut Andersen (Depdiknas, 2003) ada dua model yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif yaitu model observasi dan laporan diri. Penggunaan model observasi didasarkan pada asumsi bahwa karakteristik afektif dapat dilihat dari perilaku yang ditampilkan. Model laporan diri didasarkan pada asumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Penggunaan angket sebagai salah satu bentuk model laporan diri menuntut adanya kejujuran dalam pengisian untuk mengungkap karakteristik afektif diri sendiri. Selain itu angket hanya mampu mengukur kecenderungan perilaku (behavioral tendency) belum sampai pada tahapan (behavioral performance). Jawaban siswa dalam angket perlu dicocokan dengan hasil observasi perilaku siswa, sehingga kondisi afektif siswa dapat lebih diketahui dengan tepat.
Pada penelitian terdapat kendala yaitu kendala terbatasnya waktu, misalnya gangguan komunikasi dan gangguan acara yang diselenggarakan oleh sekolah. Hal ini menyebabkan peneliti harus menyiasati agar waktu yang tersedia cukup dan pembelajaran tetap tersampaikan. Instrumen penelitian yang berupa tes kreativitas dan tes prestasi serta observasi tak langsung, peneliti hanya bisa mengantisipasi jawaban siswa tidak berasal dari jawaban temannya atau kerjasama. Peneliti tidak bisa menjamin jawaban siswa benar-benar jujur seperti apa yang ada dalam
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pertanyaan dan pernyataan angket. Sehingga instrumen yang harusnya dapat membedakan kreativitas tinggi dan rendah masih tergantung dari kejujuran anak tentang respon siswa terhadap item dalam tes kreativitas. Kajian teori yang dilakukan pada literatur yang ada terkadang kurang sesuai dengan kondisi di lapangan. Pengulangan hasil yang sama dalam penelitian pendidikan tidak bisa dilakukan. Hasil yang diperoleh dalam rumusan kerangka berpikir yang melandaskan pada penelitian relevan dari jurnal internasional kurang didukung hasil penelitian.
Penelitian ini juga memiliki kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Tahapan membangun kesimpulan ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Siswa masih kelihatan pasif dalam melakukan diskusi untuk menyusun kesimpulan, dalam menyelesaikan LKS sebagian besar siswa mengandalkan kemampuan teman yang lebih tinggi, mereka tidak terlalu antusias untuk menggali konsep secara luas. Pada saat melakukan percobaan sambil melakukan pengamatan, siswa masih mencari kesempatan mengobrol dengan teman. Pada saat salah satu kelompok presentasi hasil eksperimen, kelompok yang lain tidak ada yang menyanggah. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan tidak maksimalnya pelaksanaan model pembelajaran baik MFI maupun POGIL.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh penggunaan model MFI dan POGIL terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, namun tidak untuk psikomotorik.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi prestasi belajar kognitif dan afektif masing-masing 0,000 (<0,05: Ho ditolak) dan 0,154 untuk prestasi belajar psikomotorik. Pada uji hipotesis pertama ini, disimpulkan ada pengaruh penggunaan model MFI dan POGIL terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, tetapi tidak memberikan pengaruh pada hasil belajar psikomotorik 2. Tidak ada pengaruh aktivitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif maupun
psikomotorik, namun ada pengaruh terhadap prestasi belajar afektif.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,109 (>0,05: Ho diterima) pada prestasi belajar kognitif signifikansi 0,000 dan pada prestasi belajar afektif, 0,351 Pada uji hipotesis kedua ini, tidak ada pengaruh aktivitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif maupun psikomotorik, namun ada pengaruh terhadap prestasi belajar afektif.
3. Tidak ada pengaruh kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif , akan tetapi ada pengaruh untuk prestasi psikomotorik.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,418 pada prestasi belajar kognitif dan signifikansi 0,269 (>0,05: Ho diterima) dan 0,000
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pada prestasi belajar afektif. Pada uji hipotesis ketiga ini, disimpulkan tidak ada pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, namun ada pengaruh untuk prestasi belajar psikomotorik.
4. Ada interaksi antara model pembelajaran MFI dan POGIL dengan aktivitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif maupun afektif, tetapi tidak ada interaksi terhadap prestasi belajar psikomotorik.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,000 pada prestasi belajar kognitif dan signifikansi 0,000 pada prestasi belajar afektif, dan 0,47 pada prestasi belajar psikomotorik. Pada uji hipotesis keempat ini, ada interaksi antara model pembelajaran MFI dan POGIL dengan aktivitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif maupun afektif, namun tidak ada interaksi terhadap prestasi belajar psikomotorik.
5. Ada interaksi antara model pembelajaran MFI dan POGIL dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,000 pada prestasi belajar kognitif dan signifikansi 0,001 pada prestasi belajar afektif, serta 0,001 pada prestasi belajar psikomotorik (<0,05: Ho ditolak). Pada uji hipotesis kelima ini, ada interaksi antara model pembelajaran MFI dan POGIL dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif serta prestasi belajar psikomotorik.
6. Tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan ada interaksi pada prestasi belajar afektif maupun psikomotorik.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,320 pada prestasi belajar kognitif dan signifikansi 0,002 pada prestasi belajar afektif, dan 0,000 pada prestasi belajar psikomotorik. Pada uji hipotesis keenam ini tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar pada kognitif dan ada interaksi pada prestasi belajar afektif dan psikomotorik.
7. Ada interaksi antara ada interaksi antara model pembelajaran MFI dan POGIL, dengan aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif serta psikomotorik.
Berdasarkan uji non parametrik Kruskall Wallis, diketahui signifikansi 0,001 pada prestasi belajar kognitif dan signifikansi 0,000 pada prestasi belajar afektif, serta 0,005 pada prestasi belajar psikomotorik (<0,05: Ho ditolak). Pada uji hipotesis ketujuh ini, Ho ditolak yang artinya ada interaksi antara model pembelajaran POGIL dan MFI, dengan aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif maupun psikomotorik.