BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Hasil Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE / Best Linier
4.3.2. Uji Hipotesis Secara Simultan
Untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel bebas terhadap variabel terikat digunakan uji F dengan langkah – langkah sebagai berikut :
Tabel 8: Analisis Varian (ANOVA) Sumber
Varian
Jumlah Kuadrat Df Kuadrat Tengah F hitung F tabel
Regresi 70,607 4 17,652 6,625 3,48
Sisa 26,643 10 2,664
Total 97,250 14
Sumber: Lampiran 3 dan 6
1. Untuk menguji pengaruh secara simultan (serempak) digunakan uji F dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Ho : β1 = β2 = β3 = β4
Secara keseluruhan variabel bebas tidak ada pengaruh terhadap variabel terikat.
= 0
Hi : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4
Secara keseluruhan variabel bebas ada pengaruh terhadap variabel terikat. ≠ 0
df penyebut = 10 c. F tabel (α = 0,05) = 3,48 d. F hitung = Rata - rata kuadrat regresi
Rata - rata kuadrat sisa 17,652
= --- = 6,625 2,664
e. Daerah pengujian
Gambar 10 :
Distribusi Kriteria Penerimaan/Penolakan Hipotesis Secara Simultan atau Keseluruhan
Ho diterima apabila F hitung ≤ 3,48 Ho ditolak apabila F hitung > 3,48 f. Kesimpulan
Oleh karena F hitung = 6,625 > F tabel = 3,48 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa secara keseluruhan faktor–faktor variable bebas yaitu Angkatan Kerja (X1), Pertumbuhan Ekonomi (X2), Upah Minimum Regional (X3),dan Investasi (X4), berpengaruh secara simultan dan nyata terhadap Tingkat Pengangguran (Y).
6,625
3,48
Daerah Penerimaan H0
Daerah Penolakan H0
Angkatan Kerja (X1), Pertumbuhan Ekonomi (X2), Upah Minimum Regional (X3),dan Investasi (X4
Tabel 9 : Hasil Analisis Variabel Angkatan Kerja (X
). Hasil penghitungan tersebut dapat dilihat dalam analisis sebagai berikut :
1), Pertumbuhan Ekonomi (X2), Upah Minimum Regional (X3),dan Investasi (X4
Variabel
) terhadap Tingkat Pengangguran.
Koefisien Regresi T hitung t tabel r2 Parsial Angkatan Kerja (X1) 0,000000194 0,334 2,228 0,011 Pertumbuhan Ekonomi (X2) -0,070 -0,885 2,228 0,072 Upah Minimum Regional (X3) 0,00000521 1,402 2,228 0,164 Investasi(X4) 0,0000000101 1,079 2,228 0,104 Variabel terikat : Tingkat Pengangguran
Konstanta : -1,961
Koefisien Korelasi ( R ) : 0,852 R2 : 0,726 Sumber: Lampiran 3 dan 6
Selanjutnya untuk melihat ada tidaknya pengaruh masing-masing variabel terhadap variable terikatnya, dapat dianalisa melalui uji t dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Pengaruh secara parsial antara Angkatan Kerja (X1
Langkah-langkah pengujian :
) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
i. Ho : β1 Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh) 1 ii. α = 0,05 dengan df = 10 ≠ 0 (ada pengaruh) iii. t hitung = ) (β Se β 1 1 = 0,334
Gambar 11 :
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial
Faktor Angkatan Kerja (X1) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
Sumber : lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 0,334 < t-tabel sebesar 2,228 Ho diterima, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Angkatan Kerja (X1) tidak berpengaruh secara nyata dan positif terhadap Tingkat Pengangguran (Y). Hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Angkatan Kerja (X1
Nilai r
) sebesar 0,745 yang lebih besar dari 0.05.
2
parsial untuk variabel Angkatan Kerja sebesar 0,011 yang artinya bahwa Angkatan Kerja (X1
b) Pengaruh secara parsial antara Pertumbuhan Ekonomi (X
) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Tingkat Pengangguran (Y) sebesar 1,1 %, sedangkan sisanya 98,9 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
2
Langkah-langkah pengujian :
) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
i. Ho : β2 Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh) 2 ≠ 0 (ada pengaruh)
2,228 -2,228
Daerah Penerimaan Ho
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
iii. t hitung = ) (β Se β 2 2 = - 0,885
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228 v. pengujian
Gambar 12 :
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial faktor Pertumbuhan Ekonomi (X2) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
Sumber : Lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar -0,885 < t tabel sebesar -2,228 maka Ho diterima dan Ha di tolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Pertumbuhan Ekonomi (X2) tidak berpengaruh secara nyata negatif terhadap Tingkat Pengangguran (Y). hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Pertumbuhan Ekonomi (X2
Nilai r
) sebesar 0,397 yang lebih besar dari 0.05. 2
parsial untuk variabel Pertumbuhan Ekonomi sebesar 0,072 yang artinya bahwa Pertumbuhan Ekonomi (X2) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Tingkat Pengangguran(Y) sebesar 7,2 %, sedangkan sisanya 92,8 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
Daerah Penerimaan Ho
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
Langkah-langkah pengujian : i. Ho : β3
Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh) 3 ii. α = 0,05 dengan df = 10 ≠ 0 (ada pengaruh) iii. t hitung = ) (β Se β 3 3 = 1,402
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228 v. pengujian
Gambar 13 :
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial
Upah Minimum Regional (X3) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
Sumber : Lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 1,402 < t tabel sebesar 2,228 maka Ho diterima dan Ha ditolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Upah Minimum Regional (X3) tidak berpengaruh secara nyata positif terhadap Tingkat Pengangguran (Y). hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Upah Minimum Regional (X3
Nilai r
) sebesar 0,191 yang lebih besar dari 0.05. 2
parsial untuk variabel Upah Minimum Regional sebesar 0,164 yang artinya Upah Minimum Regional (X3) secara parsial mampu
2,228 1,402 - 2,228 Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
sedangkan sisanya 83,6 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut. d) Pengaruh secara parsial antara Investasi (X4
Langkah-langkah pengujian :
) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
vi. Ho : β4 Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh) 4 vii.α = 0,05 dengan df = 10 ≠ 0 (ada pengaruh) viii. t hitung = ) (β Se β 4 4 = 1,079
ix. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228 x. pengujian
Gambar 14 :
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Investasi(X4) terhadap Tingkat Pengangguran (Y)
Sumber : Lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 1,079 < t tabel sebesar 2,228 maka Ho di terima dan Ha di tolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Investasi (X4) tidak berpengaruh secara nyata positif terhadap Tingkat Pengangguran (Y). hal ini didukung juga
2,228 1,079 - 2,228 Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
Nilai r besar dari 0.05.
2
parsial untuk variabel Investasi sebesar 0,104 yang artinya Investasi (X4
Kemudian untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh paling dominan empat variabel bebas terhadap Tingkat Pengangguran di Surabaya: Angkatan Kerja (X
) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Tingkat Pengangguran (Y) sebesar 10,4 %, sedangkan sisanya 89,6 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
1), Pertumbuhan Ekonomi (X2), Upah Minimum Regional (X3),dan Investasi (X4) dapat diketahui dengan melihat koefisien determinasi parsial yang paling besar, dimana dalam perhitungan ditunjukkan oleh variabel Upah Minimum Regional dengan koefisien determinasi parsial (r2
4.3.4. Pembahasan
) sebesar 0,164 atau sebesar 16,4 %.
Dengan melihat hasil regresi yang didapat maka peneliti dapt mengambil kesimpulan bahwa untuk Tingkat Pengangguran :
Angkatan Kerja tidak berpengaruh secara nyata (tidak signifikan) terhadap Tingkat Pengangguran. Hal ini disebabkan karena dengan Jumlah Angkatan Kerja yang banyak dan mempunyai kualitas dan kuantitas yang bagus dan pendidikan yang baik dan sesuai bidangnya akan mempengaruhi peningkatan produksi untuk menghasilkan barang, jasa dan sudah banyak angkatan kerja yang membuka lapangan kerja sendiri sehingga akan memperbanyak kesempatan kerja. Sehingga dalam hal ini pengangguran tidak dipengaruhi angkatan kerja melainkan
masa sekarang ataupun selanjutnya, pendidikan perlu diutamakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat agar masyarakat dapat memperoleh pendidikan yang layak sehingga sesuai dengan peluang usaha yang diminta untuk dapat mengurangi pengangguran.
Pertumbuhan Ekonomi tidak berpengaruh secara nyata (tidak signifikan) terhadap Tingkat Pengangguran. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat belum tentu mengurangi jumlah pengangguran karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat hanya meningkatkan pendapatan perkapita atau GDP tetapi tidak di barengi oleh pembangunan ekonomi yang merata di segala bidang maka masih banyak pengangguran yang terjadi saat ini. Pengangguran akan terjadi karena tingkat penyedia lapangan kerja yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan tersebut baik itu yang dikelola pemerintah maupun swasta saat ini sehingga banyak sekali pengangguran yang tidak memenuhi kriteria perusahaan sehingga berdampak terjadinya peningkatan pengangguran hampir di semua sektor baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.
Upah Minimum Regional tidak berpengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap Tingkat Pengangguran. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya aktivitas ekonomi di dalam masyarakat maka akan menghasilkan nilai produksi sehingga mempengaruhi permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Meningkatnya hal tersebut tidak mempengaruhi tingkat pengangguran dikarenakan masih banyaknya kebutuhan yang lain yang lebih penting atau lebih
Pengangguran hanya terjadi karena tingginya tingkat jumlah penduduk yang tinggi yang disebabkan oleh beberapa faktor misalnya Urbanisasi yang tinggi, tingkat kelahiran yang lebih tinggi daripada kematian. Dengan adanya faktor tersebut yang maka dengan adanya peningkatan jumlah penduduk tersebut yang terjadi adalah tingginya jumlah pengangguran yang ada pada saat ini.
Investasi tidak berpengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap Tingkat Pengangguran. Hal ini disebabkan karena banyak perusahaan hanya menambah tenaga mesin dibandingkan dengan tenaga manusia atau menambah perlengkapan – perlengkapan produksinya. Adanya kebijakan yang diberikan oleh Pemerintah daerah yang memberikan pembinaan terhadap para pelaku UKM (usaha mikro dan kecil) yang berupa pendampingan dan pembinaan manajemen usaha dan perluasan peran dan fungsi perbankan untuk memudahkan memperoleh kredit dari lembaga perbankan yang juga diharapkan Kredit Usaha Rakyat dapat mempermudah UKM dalam mengakses permodalan perbankan, menggerakan sektor produktifitas maupun meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Pengangguran terjadi karena angkatan kerja dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga yang terjadi adalah tingkat pengangguran yang ada saat ini meningkat ditambah juga adanya urbanisasi dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan sehingga menyebabkan tingginya jumlah penduduk yang tinggi dan tingkat pengangguran yang tinggi tanpa diimbangi lowongan yang ada pada saat ini.
86
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Setelah dilakukan uji statistik untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel bebas Angkatan Kerja (X1), Pertumbuhan Ekonomi (X2), Upah Minimum Regional (X3) dan Investasi (X4
2. Pengujian secara parsial atau individu Angkatan Kerja (X
) terhadap variabel terikatnya Tingkat Pengangguran (Y), bahwa secara keseluruhan faktor - faktor variabel bebas berpengaruh secara simultan dan nyata terhadap Tingkat Pengangguran.
1
3. Pengujian secara parsial atau individu Pertumbuhan Ekonomi (X ) terhadap Tingkat Pengangguran (Y) tidak berpengaruh secara nyata dan positif. Hal ini disebabkan karena dengan Jumlah Angkatan Kerja yang banyak dan mempunyai kualitas dan kuantitas yang bagus dan pendidikan yang baik dan sesuai bidangnya akan mempengaruhi peningkatan produksi untuk menghasilkan barang, jasa dan sudah banyak Angkatan Kerja yang membuka lapangan kerja sendiri sehingga akan memperbanyak kesempatan kerja.
2) terhadap Tingkat Pengangguran (Y) tidak berpengaruh secara nyata negatif. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat
ekonomi yang meningkat hanya kenaikan pendapatan perkapita atau GDP tetapi tidak di barengi oleh pembangunan ekonomi yang merata di segala bidang maka masih banyak pengangguran yang terjadi saat ini.
4. Pengujian secara parsial atau individu Upah Minimum Regional (X3
5. Pengujian secara parsial atau individu Investasi (X
) terhadap Tingkat Pengangguran (Y) tidak berpengaruh secara nyata positif. Hal ini disebabakan karena semakin meningkatnya aktivitas ekonomi di dalam masyarakat maka akan menghasilkan nilai produksi sehingga mempengaruhi permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Meningkatnya hal tersebut tidak mempengaruhi tingkat pengangguran dikarenakan masih banyaknya kebutuhan yang lain yang lebih penting atau lebih di dahulukan sehingga tingkat pengangguran masih tetap meningkat. 4) terhadap Tingkat Pengangguran (Y) tidak berpengaruh secara nyata. Hal ini disebabkan karena banyak perusahaan hanya menambah tenaga mesin dibandingkan dengan tenaga manusia atau menambah perlengkapan – perlengkapan produksinya. Adanya kebijakan yang diberikan oleh Pemerintah daerah yang memberikan pembinaan terhadap para pelaku UKM (usaha mikro dan kecil) yang berupa pendampingan dan pembinaan manajemen usaha dan perluasan peran dan fungsi perbankan untuk memudahkan memperoleh kredit dari lembaga perbankan yang juga diharapkan Kredit Usaha Rakyat dapat mempermudah UKM dalam mengakses
meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka berikut ini diketahui beberapa saran sebagai bahan pertimbangan sebagai berikut :
1. Pemerintah membuat kebijakaan untuk menghidupkan sektor rill agar banyak masyarakat yang jadi pengusaha bukan lagi tenaga kerja dan dapat memperluas lapangan pekerjaan.
2. Pemerintah daerah harus dapat memberikan modal bagi masyarakat untuk mendirikan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) sehingga tingkat pengangguran akan berkurang dan tingkat lapangan pekerjaan akan meningkat dengan adanya UKM tersebut.
Timur,Surabaya.
_______, 2007, “Statistik Indonesia”, Badan Pusat Statistik Jawa
Timur,Surabaya.
Arfida. 2003, “Ekonomi Sumber Daya Manusia”, Ghalia Indonesia, Jakarta. Boediono, 1999, “Teori Pertumbuhan Ekonomi”, BPFE, Yogyakarta.
Dharendra Wardhana dan Dhanie Nugroho (2006), “Pengangguran Struktural di
Indonesia : Keterangan Dari Analisis Svar Dalam Kerangka
Hysteresis” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol 21 No 4, 2006 Hal 361 – 375.
Djojohadikusumo, Sumitro, 1993, “Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan”, LP3ES, Jakarta.
Dornbusch, Rudiger, dan Fischer, Stanley, 1991, “Makro Ekonomi”, Edisi Keempat, terjemahan J. Mulyadi, Erlangga, Jakarta.
_____________, 1992, “Makro Ekonomi”, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta. _____________, 1997, “Makro Ekonomi”, Erlangga, Jakarta.
Ertiningrum, Rully, 2001, “Peranan Upah Minimum Regional Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Di Sektor Industri Manufaktur Di Jawa Timur”, (FE/IESP), UPN ”Veteran” Surabaya.
Jhingan, ML, 1994, “Ekonomi Pembangunan”, Penerbit Rajawali, Jakarta.
Nopirin. 2000, “Ekonomi Moneter”, Edisi Pertama Cetakan Kesepuluh, Penerbit BPFE UGM, Yogyakarta.
Nugraha Setiawan (2005), “Struktur Umum Serta Tingkat Pendidikan Penganggur Baru Dan Tingkat Pengangguran Di Indonesia” Pusat Penelitian Kependudukan dan Sumber Daya Manusia, Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran
Rosyidi, Suherman, 2002. “Pengantar Teori Ekonomi Pendekatan kepada Teori Ekonomi Mikro & Makro”, Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakrta. _________. 2003, Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori
Ekonomi Mikro dan Makro, Edisi Kesatu, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sudrajat, 1988, “ Mengenal Ekonometrika Pemula”, Cetakan Kedua, Penerbit Armico.
Sukirno, Sadono, 1994, “Pengantar Teori Makro Ekonomi”, Edisi 3, PT Raja Grafindo Persada, Surabaya.
________, 2002, “Makro Ekonomi”, Edisi Kedua, Penerbit PT. Raja Grafisindo Persada, Jakarta.
________, 2004, “Teori Pengantar Makro Ekonomi”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Samuelson, Paul A dan Nordhaus, William D, 1997, “Makro Ekonomi”, Edisi 14, Erlangga, Jakarta.
______________, 2004, “Ilmu Makro Ekonomi”, Edisi Ketujuh belas, PT. Media Globa Edukasi, Jakarta.
Suparmoko, 1990. “Pengantar Ekonomi Makro”, Edisi Keempat, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
__________, 1992, “Ekonomi Makro”, BPFE, Yogayakarta.
Supranto, 1990, “Ekonometrika “, Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, hal.
Supriyati, Saptana, Sumedi, dan Tri Bastuti Purwantini (2002), “Dinamika Ketenegakerjaan, Penyerapan Tenaga Kerja Dan Sistem Tenaga Kerja” Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161
Tambunan, Tulus T.H.. 2001. Transformasi Ekonomi Indonesia Teori dan Penemuan Empiris, Jakarta : PT Salemba Emban Patria.
Usman, Wan. 1988. “Ekonomi Indonesia”, Penerbit Karunika, Jakarta.