• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7. Hipotesis Kerja

Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang ada hubungannya dengan masalah penelitian dan belum berdasarkan fakta serta dukungan data yang nyata di lapangan. Hipotesis kerja adalah hipotesis yang bersumber dari kesimpulan teoritik, sebagai pedoman untuk melakukan penelitian (Umar, 2010:38). Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang sebenarnya, yang asli, yang bersumber dari kesimpulan teoritik (Tatang, 2008:84).

Adapun penulis merumuskan hipotesis kerja dalam penelitian ini, yaitu:

Implementasi Kebijakan Proyek Operasi Nasional Agraria (PRONA) dalam rangka Mewujudkan Tertib Administrasi Pertanahan di Kota Binjai meliputi standar dan sasaran kebijakan, sumber daya, komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas, karakteristik agen pelaksana, kondisi sosial, ekonomi dan politik, serta disposisi implementor.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggambarkan permasalahan atau fenomena-fenomena pada saat penelitian dilakukan, berdasarkan fakta-fakta yang ada dilapangan dan dibahas secara sistematis dan mendalam. Metode penelitian deskriptif ini menurut Sugiyono (2007:12), yaitu penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik suatu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan yang lain.

Kondisi yang dimaksudkan dalam Implementasi Kebijakan Proyek Operasi Nasional Agraria (PRONA) Dalam Rangka Mewujudkan Tertib Pertanahan di Kota Binjai yang dilakukan oleh Kantor Wilayah dan Kantor pertanahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Binjai, dirancang untuk menggambarkan fenomena, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagi variabel yang timbul di dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian tersebut.

3.2 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Binjai Jl. Samanhudi No.14,

lokasi penelitian tersebut adalah karena belum tertibnya ketersediaan data implementasi kebijakan PRONA di Kota Binjai. Realisasi program Legalisasi Aset PRONA ini yakni terdapat 920 bidang tanah yang dapat diproses dan telah selesai untuk tahun anggaran 2018. Kantor Pertanahan telah menerima berkas peserta PRONA untuk tahun anggaran 2018 sebanyak 1000 bidang tanah. Namun, berkas tersebut tidak dapat semuanya diproses karena berbagai masalah diantaranya: pemohon yang tidak sesuai dengan kriteria objek hak (pekerjaan PNS, luas bidang yang tidak sesuai, dan lain-lain), berkas telah terdaftar sebelumnya, dan berkas tanah sedang berada dalam konflik sengketa tanah.

Tujuan kegiatan PRONA ini dimaksudkan untuk mewujudkan tertib administrasi pertanahan (Wawancara Pra-Penelitian, 18 November 2019).

3.3 Informan Penelitian

Informan adalah orang yang benar-benar mengetahui atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Menurut Sugiyono (2013:155) penentuan sampel atau informan dalam penelitian kualitatif berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum. Dalam penelitian kualitatif subyek penelitian ditentukan secara sengaja.

Menurut Sugiyono (2016:85) bahwa: “purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.” Alasan menggunakan teknik Purposive Sampling adalah karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti. Oleh karena itu, penulis memilih teknik Purposive Sampling yang menetapkan

pertimbangan-pertimbangan atau kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh sampel-sampel yang digunakan dalam penelitian ini.

Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah memiliki kriteria berupa pegawai terkait Badan Pertanahan Nasional Kota Binjai dan masyarakat yang sudah menerima PRONA dengan menggunakan metode purposive sampling.

Melalui informan diharapkan penelitian ini mendapatkan informasi lebih rinci mengenai implementasi kebijakan proyek operasi nasional agraria dalam rangka mewujudkan tertib pertanahan sebagai layanan yang ditujukan kepada masyarakat. maka dalam hal ini yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Matriks Informan Penelitian

No Informan Informasi yang Dibutuhkan Jumlah 1 Kepala Badan

Pertanahan Nasional Kota Binjai

- Standar dan Sasaran Kebijakan

- Jenis Sumber daya Pendukung Program, Baik Sumber Daya Pendukung Program, Baik Sumber daya fisik Maupun Sumber Daya Non

3 Kepala Seksi

Pendukung Program, Baik Sumber daya fisik Maupun Sumber Daya Non Kepentingan Memberi Dukungan Bagi Implementasi Kebijakan

- Bagaimana Respon Implementor Terhadap Kebijakan

- Karakteristik Lembaga yang berkuasa - Tingkat partisipasi dan responsivitas

dari kelompok sasaran

- Masalah dan kesulitan yang dihadapi

12

Jumlah 15

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2005:62) karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data maka teknik pengumpulan data merupakan langkah yang cukup

strategis untuk dilakukan selama penelitian berlangsung. Dalam penelitian tentunya data tidak bisa hanya dari satu informan melainkan banyak informan yang sesuai dengan tujuan peneltian tersebut. Oleh karena itu data-data yang telah didapat dikumpulkan hingga waktunya tiba untuk diolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Wawancara

Bungin (2007:108) mengatakan bahwa wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Sedangkan wawancara bertahap ini adalah dilakukan secara bertahap dan pewawancara tidak harus terlibat dalam kehidupan sosial informan.

b. Observasi

Metode observasi, yaitu metode dengan pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan terhadap objek observasi dengan langsung merasakan serta berada dalam aktivitas kehidupan objek pengamatan. Teknik pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung objek penelitian dengan mencatat gejala-gejala yang ditemukan di lapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik penelitian. (Bungin 2007:115) Peneliti menyusun

pedoman observasi sesuai dengan konsep atau variabel yang ada dalam teori yang digunakan dalam membahas permasalahan penelitian.

c. Dokumentasi

Studi Dokumentasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan atau dokumen-dokumen yang ada di lokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang relevan dengan objek penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan mengamati proses wawancara maupun observasi serta dokumentasi berupa dokumen-dokumen yang diizinkan oleh informan.

Adapun pedoman dokumentasi penulis berupa dokumentasi deskripsi Kota Binjai, deskripsi Kantor Pertanahan Kota Binjai, struktur organisasi, perencanaan program, sosialisasi program serta implementasi program pada masyarakat.

3.5 Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan teknik kualitatif. Menurut Patton (dalam Afrizal, 2014:295) mengemukakan bahwa analisis data kualitatif yang dihimpun dari wawancara mendalam dan catatan lapangan yang berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang dihasilkan pada proses yang paling awal dalam penelitian, pembuatan konseptual, dan fase pertanyaan yang berfokus pada penelitian. Dalam melakukan analisis data, ada langkah-langkah yang dilakukan menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2005:178) yaitu:

a. Reduksi Data

Data yang diperoleh segera oleh peneliti dalam analisis melalui kodifikasi atau reduksi data.Mereduksi berarti mencari tema dan pola, menulis dan merangkum catatan dilapangan, memilih hal-hal yang pokok, mengidentifikasi serta memfokuskan yang penting, hal ini mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

b. Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan dengan pengelompokan atau kategori.

Dengan menyajikan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahaminya tersebut.

c. Penarikan Kesimpulan

Tahap penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan suatu tahap lanjutan dimana pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dari temuan data.Artinya, interpretasi peneliti atas temuan dari suatu wawancara atau sebuah dokumen.

Setelah kesipulan diambil, peneliti kemudian mengecek lagi keshahian interpretasi dengan cara mengecek ulang proses reduksi dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan yang dilakukan. Jadi, teknik analisa terhadap masalah yang ditemukan dilapangan, sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti kemudian menarik kesimpulan.

Dengan demikian, penulis melakukan analisis data dengan terstruktur agar data yang terkumpul dari hasil wawancara, observasi, ataupun kelengkapan dokumen teruji kevalidannya.

3.6 Validitas Data

Teknik yang digunakan untuk memastikan data/informasi lengkap dan validitas dan reliabilitasnya tinggi penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Wirawan (2011:156-158) Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian untuk menjaring data/informasi. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif-sering juga dilakukan dalam metode kuantitatif – untuk mengukur validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif.

Triangulasi merupakan sintesis dan integrasi data dari berbagai sumber-sumber melalui pengumpulan, eksaminasi, perbandingan, dan interpretasi.

Dengan mengumpulkan dan membandingkan multiple dataset satu sama lain, triangulasi membantu meniadakan ancaman bagi setiap validitas dan reliabilitas data. Pendekatan triangulasi yang diterapkan dalam evaluasi program khususnya dan penelitian ilmu sosial telah memperkuat kesimpulan mengenai observasi dan mengurangi risiko interpretasi yang salah dengan mempergunakan berbagai sumber-sumber informasi.

Triangulasi tidak hanya membandingkan data dari berbagai sumber data, akan tetapi juga mempergunakan berbagai teknik dan metode untuk meneliti dan menjaring data/informasi dari fenomena yang sama. Menurut Moleong (2013:64) dalam mengolah data penelitian dapat dipergunakan empat jenis triangulasi, yaitu:

1. Triangulasi data.

Mempergunakan berbagai sumber data/informasi. Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentingan program dan mempergunakannya sebagai sumber data/informasi. Evaluator harus mempergunakan sebanyak mungkin kelompok-kelompok dan para anggota kelompok pemangku kepentingan dalam evaluasi.

2. Triangulasi peneliti.

Dalam teknik triangulasi ini dipergunakan sejumlah evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama – misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok fokus atau informan kunci. Temuan dari setiap evaluator dibandingkan. Jika temuan dari berbagai evaluator menghasilkan kesimpulan yang sama, maka validitas temuan dapat diterapkan. Jika temuan para evaluator berbeda satu sama lain maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan perbedaan tersebut.

3. Triangulasi teori.

Triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai professional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk melalui suatu set data/informasi. Jika evaluator dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi dengan cara yang sama dan mengambil kesimpulan yang sama, maka validitas data/informasi dicapai.

Data/informasi dikumpulkan secara bersama-sama kemudian dimintakan

berbeda. Jika antara para pakar tersebut terdapat kesepakatan jawaban, maka validitas hasil evalusi ditentukan, akan tetapi, dalam banyak hal ini sulit tercapai dengan mudah karena teori ilmu sosial yang dipergunakan evaluator berbeda.

4. Triangulasi metode.

Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode-metode kuantitatif dan/atau metode kualitatif untuk mengevaluasi program. Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian diterapkan. Evaluator juga melakukan observasi, wawancara, kelompok fokus untuk mengumpulkan data/informasi mengenai proses dan akibat perlakuan. Bahkan evaluator dapat melaksanakan eksperimen dengan mengukur kehidupan partisipan sebelum mendapatkan perlakuan dan sesudah mendapatkan perlakuan. Triangulasi metode merupakan triangulasi yang banya digunakan karena akan menghasilkan informasi yang kaya, rinci, dn valid. Akan tetapi, triangulasi ini memerlukan banyak sumber dan waktu penelitian.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi data dimana teknik ini digunakan untuk memastikan keabsahan data yang digunakan oleh peneliti. Keabsahan data diperlukan untuk memastikan bahwa data yang digunakan teruji kebenarannya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Kota Binjai

Kota Binjai sebagai salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara yang hanya berjarak ± 22 Km dari Kota Medan ( ± 30 menit perjalan ), bahkan batas terluar Kota Binjai dengan batas terluar Kota Medan hanya berjarak ± 8 Km. Kota Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang serta berada pada Jalur Transportasi Utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Kota Binjai sebagai Kota jasa, Perindustrian, Perdagangan dan Pemukiman telah berupaya memacu laju pertumbuhan pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Binjai.

4.1.1 Sejarah Singkat Kota Binjai

Kota Binjai dahulunya adalah sebuah kampung kecil yang terletak di tepi sungai Binjai. Binjai sebenarnya adalah nama suatu pohon besar, rindang, tumbuh dengan kokoh di tepi sungai Bingai yang bermuara di Sungai Wampu. Pada tahun 1823 Gubenur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus John Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera Timur dan dari catatannya disebutkan sebuah kampung yang bernama Ba Bingai (menurut buku Mission to The Eastcoast of sumatera-Edinbung 1826). Sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan bandar/pelabuhan hasil pertanian lada yang diekspor berasal dari perkebunan lada di sekitar Kelurahan kebun Lada/Damai.

Perkembangan zaman terus berjalan,pada tahun1864 Daerah Deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama J.Nienkyis dan 1866 didirikan Deli Maatschappiy. Usaha unutuk menguasai Tanah Deli oleh orang Belanda tidak terkecuali dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkatan datuk-datuk. Usaha ini diketahui oleh Datuk Kocik,Datuk Jalil dan Suling Barat yang tidak mau berkerja sama dengan Belanda bahkan melakukan perlawanan. Bersamaan dengan itu, Datuk Sunggal tidak menyetujui pemberian konsensi tanah kepada perusahaan Rotterdenmy oleh Sultan Deli karena tanpa persetujuan.Di bawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyatnya di Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda.

Dengan tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan Kapten Koops untuk menumpas para datuk yang menentang belanda. Selanjutnya pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/masyarakat dengan Belanda. Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai hari Kota Binjai. Perjuangan para Datuk/rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada 24 Oktober 1872 Datuk Kocik,Datuk Jalil dan Suling barat dapat ditangkap Belanda dan kemudian pada tahun 1873 dibuang ke Cilacap. Pada tahun 1917 oleh pemerintah Belanda dikeluarkan Instelling Ordonantie No.12 Binjai di jadikan Gemente dengan luas 267 Ha.

Pada tahun 1942-1945 Binjai di bawah pemerintahan Jepang dengan kepala pemerintahannya adalah Kagujawa dengan sebutan Guserbu dan tahun

1944 /1945 pemerintahan kota dipimpin oleh ketua Dewan Eksekutif J.Runnanbi dengan anggota Dr. R.M. Djulham Natangsa Sembiring dan Tan Hong Poh.

Pada Tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan Binjai adalah RM.Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T.Amir Hamzah diangkat menjadi residen Langkat oleh komite nasional dan pada masa pendudukan Belanda 1947 Binjai berada di bawah asisten residen J.Bunger dan R.M. Ibnu sebagai wakil wali Kota Binjai pada tahun 1948 -1950 pemerintahan Kota Binjai dipegang oleh ASC More. Tahun 1950-1956 Binjai menjadi kota Administratif Kota Binjai dan sebagai wali kota adalah OK Salamuddin kemudian T.Ubaidullah Tahun 1953-1956. Berdasarkan undang-undang Daruat No.9 Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom dengan wali kota pertama S.S. Parumuhan.

Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sumatera Utara telah melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan peraturan pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah kota daerah Kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23 Km dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubenur Sumatera Utara No.140-1395 /SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 Tentang Pembentukan 6 Desa Persiapan dan Kelurahan Persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan Surat Keputusan Gubenur Sumatera Utara No.146-2624/SK/1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan.

4.1.2 Kondisi Umum Kota Binjai

Kota Binjai sebagai salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara yang hanya berjarak ± 22 Km dari Kota Medan ( ± 30 menit perjalanan ), bahkan batas terluar Kota Binjai dengan batas terluar Kota Medan hanya berjarak ± 8 Km. Kota Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang, serta berada pada Jalur Trasportasi Utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) serta ke Objek Wisata Bukit Lawang Kota Binjai.

Secara geografis Kota Binjai terletak pada posisi 3° 31' 31" - 3° 40' 2" LU dan 98° 27' 3" - 98° 32' 32" BT dan terletak ± 28 M di atas permukaan laut.

Wilayah Kota Binjai seluas 90,23 km2, terletak 28 M di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh Kabupaten Deli Serdang, Batas area disebelah Utara adalah Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kabupaten Langkat.

Kota Binjai adalah daerah yang beriklim tropis dengan 2 (dua) musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di Kecamatan Binjai Selatan curah hujan cukup besar dibanding dengan kecamatan lainnya di Kota Binjai yaitu 214 mm/14 hari hujan, diikuti dengan Kecamatan Binjai Barat 207 mm/8 hari hujan Kota Binjai yang memiliki luas 9.023,62 Ha (± 90,23 Km2) terdiri dari 5 (lima) Kecamatan dan 37 (tiga puluh tujuh) Kelurahan serta mempunyai penduduk

sebanyak 252.263 jiwa yang terdiri dari berbagai etnis anatara lain Melayu,Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun , Jawa, Banten, Minang, Aceh, China dan India dengan pemeluk agama mayoritas Islam dan yang mempunyai kesadaran politik dan keamanan yang tinggi.

Tabel 4.1

Kependudukan Kota Binjai

Kecamatan Penduduk (Jiwa) Rumah Tangga Rata-Rata Anggota Rumah Tangga

Binjai Selatan 56.202 12.134 4,56

Binjai Kota 28.302 7.715 3,71

Binjai Timur 59.910 13.700 4,37

Binjai Utara 78.831 17.932 4,35

Binjai Barat 49.926 10.732 4,58

Total 274.171 62.213 4,35

Sumber : BPS Kota Binjai Tahun 2019

Pada tahun 2019 jumlah penduduk Kota Binjai sebanyak 274.171 jiwa dengan kepadatan 2.798 jiwa/km2 dengan rata-rata 4,35 jiwa per rumah tangga.

Jumlah penduduk terbanyak di kecamatan Binjai Utara sebanyak 78.831 jiwa sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada di kecamatan Binjai Kota sebanyak 28.302 jiwa.

4.1.3 Visi dan Misi Kota Binjai

Visi Kota Binjai: “Menuju Kota Binjai Idaman yang dinamis, berdaya saing dan nyaman dalam kebersamaan”. Misi Kota Binjai:

1. Membangun Kota Binjai Idaman yang dinamis dan berdaya saing.

2. Membangun dan meningkatkan infrastruktur perekonomian.

3. Membangun masyarkat sehat, cerdas dan berbudaya.

4. Peningkatan Pelayanan Publik yang berkualitas.

5. Membangun dan membina kerukunan hidup beragama.

4.2 Makna Lambang dan Logo Kantor Pertanahan Kota Binjai Gambar 4.1

Lambang dan Logo Kantor Pertanahan Kota Binjai

Sumber: Kantor Badan Pertanahan Nasional, 2019

Makna Lambang/Logo Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional, Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan :

1. Gambar 4 (empat) butir padi melambangkan Kemakmuran dan kesejahteraan. Memaknai atau melambangkan 4 (empat) tujuan Penataan

Pertanahan yang akan dan telah dilakukan BPN RI yaitu kemakmuran, keadilan, kesejahteraan sosial dan keberlanjutan.

2. Gambar Lingkaran bumi melambangkan sumber penghidupan manusia Memaknai atau melambangkan wadah atau untuk berkarya bagi Kementerian ATR/BPN yang berhubungan langsung dengan unsur-unsur yang ada di dalam bumi yang meliputi tanah dan udara.

3. Gambar Gelombang Hijau dan biru, Hijau melambangkan lingkungan yang terjaga, Biru melambangkan warna air memaknai tugas kementerian ATR/BPN yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan ruang ,tanah, dan air.

4. Gambar Sumbu, melambangkan poros keseimbangan, 3 garis lintang dan 3 garis bujur, memaknai pasal 33 ayat 1 mendasari lahirnya UU nomer 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria

5. Gambar Bangunan gedung dan pohon, sebagai simbol kekuatan ,tekad yang bulat, keberlanjutan, dan sinergitas, memaknai pelaksanaan yang konsisten dalam menangani, menyelesaikan, dan mengutamakan hak-hak serta menuntaskan kewajiban dengan konsistensi,tertib disiplin sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Lambang ini juga bermakna penggunaan dan pemanfaatan tanah yang selaras sesuai dengan tata ruang

4.2.1 Sejarah Kantor Pertanahan Kota Binjai

Badan Pertanahan Nasional dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No.

26 tahun 1988. Sebelum badan ini terbentuk dahulu bernama Direktorat Jenderal

Keputusan Presiden No. 10 tahun 2006, Badan Pertanahan Nasional menjadi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN-RI). BPN-RI adalah Lembaga Non Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada presiden dan tugas utamanya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat dibidang pertanahan.

Kantor Pertanahan Kota Binjai dahulu bernama Kantor Agraria Binjai dan berada di bawah waliKota Binjai. Setelah adanya Keputusan Kepala BPN No. 1 Tahun 1989 dan Keputusan Kepala BPN No. 4 tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan di Kabupaten/Kota maka Kantor Agraria Binjai berubah nama menjadi Kantor Pertanahan Kota Binjai yang beralamat di Jalan Samanhudi No. 14 Binjai.

Kantor Pertanahan Kota Binjai adalah Kantor Pertanahan di daerah tingkat II yang berada dibawa Kantor Wilayah Badan Pertanahan Provinsi Sumatera Utara karena sampai saat ini Kantor Pertanahan Kota Binjai bukan merupakan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab ke Pemerintah Kota Binjai Tingkat II seperti lembaga pemerintahan lainnya.

4.2.2 Visi dan Misi Kantor Pertanahan Kota Binjai a. Visi

Mendasari tugas pokok dan fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, maka Kantor Pertanahan Kota Binjai sebagai kantor wilayah tingkat II di kabupaten/kota telah merumuskan Visi sebagai berikut:

“Terselenggaranya pengelolaan pertanahan yang mampu maengembangkan kebijakan pertanahan untuk meningkatkan pemanfaatan

dan pengunaan tanah secara adil, transparan dan produktif dengan mengutamakan hak-hak rakyat setempat, termasuk hak rakyat dan masyarakat adat serta berdasarkan tata ruang wilayah yang serasi dan

dan pengunaan tanah secara adil, transparan dan produktif dengan mengutamakan hak-hak rakyat setempat, termasuk hak rakyat dan masyarakat adat serta berdasarkan tata ruang wilayah yang serasi dan

Dokumen terkait