• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Implementasi Kebijakan

2.2.1. Model Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan dilakukan berdasarkan transformasi aksi dalam pelaksanaan kebijakan hal ini juga harus memperhatikan implementability agar proyek atau program dapat terlaksana dengan baik. Seperti yang dikemukaan oleh.

Grindle (dalam Agustino, 2008:94) dikatakan bahwa setelah kebijakan ditransformasikan menjadi aksi maupun proyek individual dan biaya telah disediakan, maka implementasi kebijakan dilakukan tetapi ini tidak berjalan mulus, tergantung pada implementability atau kemampuan implementasi dari program itu yang dapat dilihat pada isi dan konteks kebijakannya.

2.2.1.1 Model Implementasi Kebijakan Donald Van Meter dan Carl Van Horn

Van Meter dan Van Horn dalam teorinya ini berawal dari suatu asumsi bahwa proses implementasi akan berbeda-beda sesuai dengan sifat kebijakan yang dilaksanakan. Selanjutnya Van Meter dan Van Horn (dalam Winarno, 2012:155) menawarkan karakteristik dalam proses implementasi yakni, pertama proses kebijakan menyimpang dari kebijakan-kebijakan sebelumnya. Kedua, proses implementasi akan dipengaruhi oleh sejumlah perubahan organisasi yang

kontrol dan kepatuhan bertindak merupakan konsep penting dalam prosedur implementasi.

Sementara itu model implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn (dalam Subarsono, 2005:95) menetapkan beberapa variabel yang diyakini berkaitan dengan implementasi dan kinerja kebijakan. Beberapa variabel tersebut adalah sebagai berikut:

a. Standar dan tujuan kebijakan

Standar dan tujuan kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisisasikan. Apabila standar dan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multiinterpretasi dan mudah menimbulkan konflik diantara para agen implementasi.

b. Sumber daya kebijakan

Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya baik sumber daya manusia (human resources) maupun sumber daya non-manusia (non-human resources). Sumber daya dapat menunjuk kepada seberapa besar dukungan finansial dan sumber daya manusia untuk melaksanakan program atau kebijakan.

c. Komunikasi organisasi

Dalam banyak program, implementasi sebuah program baru perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lainnya. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama antara instansi bagi keberhasilan suatu program dalam mencapai sasaran dan tujuan program.

d. Karateristik organisasi pelaksana

Yang dimaksud karateristik organisasi pelaksana adalah mencakup struktur birokrasi, norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan dipengaruhi implementasi suatu program.

e. Kondisi sosial, politik dan ekonomi

Variabel ini mencakup sumberdaya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan; sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan;

karateristik partisipan, yakni mendukung atau menolak; bagaimana sifat opini publik yang yang ada di lingkungan; dan apakah elite politik mendukung implementasi kebijakan. Ini dapat juga menunjuk bahwa lingkungan dalam ranah implementasi dapat memengaruhi kesuksesan implementasi kebijakan itu sendiri.

f. Disposisi implementor

Disposisi implementor ini mencakup tiga hal yang penting yakni: respons implementor terhadap kebijakan, yang akan memengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan, kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan dan intensitas disposisi implementor, yakni preferensi niali yang dimiliki oleh implementor. Ini menunjuk bahwa sikap pelaksana menjadi variabel penting dalam proses implementasi kebijakan.

Menurut peneliti teori ini sangat tepat untuk digunakan sebagai teori pendukung penelitian ini mengenai implementasi kebijakan PRONA dalam

proses implementasi yang merupakan sebuah abstraksi atau penjelasan paham kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel.

2.2.1.2 Model Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier

Model implementasi kebijakan publik yang lain ditawarkan oleh Mazmanian dan Paul Sabatier. Mazmanian dan Sabatier (dalam Wahab, 2008:81) mengungkapkan bahwa peran penting dari analisis implementasi kebijakan negara ialah mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan forma pada keseluruhan proses implementasi. Variabel-variabel yang dimaksudnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu:

a. Mudah atau tidaknya masalah yang akan digarap, meliputi:

1) Kesukaran- kesukaran teknis

2) Keberagaman perilaku kelompok sasaran

3) Persentase kelompok sasaran dibanding jumlah penduduk 4) Ruang lingkup perubahan perilaku yang diinginkan

b. Kemampuan Kebijaksanaan Menstruktur Proses Implementasi, meliputi:

1) Kejelasan dan konsistensi tujuan 2) Digunakan teori kausal yang memadai 3) Ketepatan alokasi sumber dana

4) Keterdpaduan hierarki dalam dan diantara lembaga pelaksana 5) Aturan-aturan keputusan dari badan-badan pelaksana

6) Rekruitmen pejabat pelaksana 7) Akses formal pihak luar

c. Variabel-Variabel di luar undang-undang yang mempengaruhi implementasi : 1) Kondisi sosial-ekonomi dan teknologi

2) Dukungan publik

3) Sikap dan sumber-sumber yang dimiliki kelompok-kelompok 4) Dukungan dari pejabat atasan

5) Komitmen dan Kemampuan

6) Kepemimpinan pejabat-pejabat pelaksana

Berdasarkan definisi dan pendapat ahli di atas, maka dapat dikemukakan bahwa implementasi kebijakan merupakan pendirian pada perubahan, kontrol dan kepatuhan bertindak merupakan konsep penting dalam prosedur implementasi.

Mudah tidaknya masalah yang akan digarap merupakan peninjauan terhadap kesukaran, masalah yang dihadapi. Kemampuan kebijaksanaan menstruktur proses implementasi merupakan kelihaian dalam melihat seluruh potensi yang mempengaruhi kebijakan dan variabel-variabel di luar undang-undang yang mempengaruhi implementasi merupakan suatu yang bersifat eksternal dalam memiliki dampak terhadap suatu kebijakan.

2.2.1.3 Model Merilee S. Grindle

Model implementasi kebijakan selanjutnya dikemukakan oleh Grindle

bahwa setelah kebijakan ditransformasikan, barulah implementasi kebijakan hasilnya ditentukan oleh implementability. (Nugroho, 2008:445). Menurutnya keberhasilan implementasi kebijakan dapat dilihat dari dua hal yaitu:

1. Dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan kebijakan sesuai dengan yang ditentukan (design) dengan merujuk pada aksi kebijakannya.

2. Apakah tujuan kebijakan tercapai. Dimensi ini diukur dengan melihat dua faktor yaitu:

a. Dampak atau efeknya pada masyarakat secara individu dan kelompok b. Tingkat perubahan yang terjadi serta penerimaan kelompok sasaran dan

perubahan yang terjadi.

Menurut Grindle dalam Agustino (2006:1168) keberhasilan implementasi kebijakan juga sangat ditentukan oleh tingkat implementability kebijakan itu sendiri, yaitu terdiri dari Content of policy and Context of Policy.

1. Content of Policy

a. Kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi, berkaitan dengan berbagai kepentingan yang mempengaruhi suatu implementasi kebijakan, indikator ini berargumen bahwa suatu kebijakan dalam pelaksanaannya pasti melibatkan banyak kepentingan, dan sejauhmana kepentingan-kepentingan tersebut membawa pengaruh terhadap implementasinya.

b. Jenis manfaat yang bisa diperoleh. Pada poin Content of Policy berupaya untuk menunjukkan atau menjelaskan bahwa dalam suatu kebijakan harus

terdapat beberapa jenis manfaat yang menunjukkan dampak positif yang dihasilkan oleh pengimplementasian kebijakan yang hendak dilaksanakan.

c. Derajat perubahan yang ingin dicapai. Setiap kebijakan mempunyai target yang hendak dan ingin dicapai. Adapun yang ingin dijelaskan pada poin ini adalah bahwa seberapa besar perubahan yang hendak atau ingin dicapai melalui suatu implementasi kebijakan harus mempunyai skala yang jelas.

d. Letak pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam suatu kebijakan mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan, maka pada bagian ini harus dijelaskan di mana letak pengambilan keputusan dari suatu kebijakan yang hendak diimplementasikan.

e. Pelaksana program. Dalam menjalankan suatu kebijakan atau program harus didukung dengan adanya pelaksana kebijakan yang kompeten dan kapabel demi keberhasilan suatu kebijakan. Hal ini harus terdata atau terpapar dengan baik pada bagian ini.

f. Sumber-sumber daya yang digunakan. Pelaksanaan suatu kebijakan juga harus didukung oleh sumber-sumber daya yang mendukung agar pelaksanaannya berjalan dengan baik.

2. Context of Policy

a. Kekuasaan, kepentingan-kepentingan dan program dari actor yang terlibat.

Dalam suatu kebijakan perlu diperhitungkan pula kekuatan atau kekuasaan, kepentingan-kepentingan serta program yang digunakan oleh

para aktor guna memperlancar jalannya pelaksanaan suatu implementasi kebijakan.

b. Karakteristik lembaga dan rezim yang berkuasa. Lingkungan dimana suatu kebijakan dilaksanakan juga berpengaruh terhadap keberhasilannya, maka pada bagian ini dijelaskan karakteristik dari lembaga yang akan turut mempengaruhi suatu kebijakan.

c. Tingkat kepatuhan dan adanya respon dari pelaksana. Hal lain yang dirasa penting dalam proses pelaksanaan suatu kebijakan adalah kepatuhan dan respon dari para pelaksana. Maka yang hendak dijelaskan pada poin ini, sejauhmana kepatuhan dan respon dari pelaksana dalam menanggapi suatu kebijakan.

Pelaksanaan kebijakan yang ditentukan oleh isi atau konten dan lingkungan atau konteks yang diterapkan, maka akan dapat diketahui apakah para pelaksana kebijakan dalam membuat sebuah kebijakan sesuai dengan apa yang diharapkan, juga dapat diketahui apakah suatu kebijakan dipengaruhi oleh suatu lingkungan, sehingga tingkat perubahan diharapkan terjadi.

Dokumen terkait