• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Tertib Administrasi Pertanahan

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, definisi tertib adalah aturan, peraturan yang baik. Jika peraturan yang dibuat dapat ditaati semua instansi pemerintah termasuk aparatnya dengan baik pula maka, semua pekerjaan yang dijalankan akan berjalan lancar.

Menurut Handayaningrat (2002:2) bahwa administrasi secara sempit berasal dari kata Administratie (bahasa Belanda) yaitu meliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat

teknis ketatausahaan (clerical work). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan administrasi dalam arti sempit merupakan kegiatan ketatausahaan yang meliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan dan pengarsipan surat serta hal-hal lainnya yang dimaksudkan untuk menyediakan informasi serta mempermudah memperoleh informasi kembali jika dibutuhkan. Apabila tertib atau aturan tidak ditaati (dilanggar) maka, konsekuensinya adalah buruknya administrasi, cara yang bisa ditempuh dengan menetapkan sangsi yang berat bagi yang melanggar.

Tertib administrasi yang ingin penulis tuangkan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah proses secara administrasi kegiatan pembakuan nama rupabumi telah sesuai dengan standar kebijakan.

Definisi administrasi menurut Siagian (2001:63) adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan memanfaatkan sarana dan prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna. Peranan dalam administrasi sangatlah penting, karena administrasi bukan hanya merupakan suatu seni sekaligus proses. Sebagai seni, penerapan administrasi memerlukan kiat tertentu yang sifatnya sangat situasional dan kondisional. Administrasi selalu terikat pada kondisi situasi, waktu dan tempat.

Sebagai proses, dalam penyelenggaraan administrasi terkandung pemikiran yang sangat mendasar yaitu bahwa semakin lama proses administrasi itu berlangsung, harus diupayakan tercapainya tingkat dan mutu pekerjaan yang semakin meningkat.

Menurut Simon (1959:3), administrasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan-kegiatan kelompok kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Selanjutnya, menurut White (1955:1), administrasi adalah suatu proses yang umum ada pada setiap usaha kelompok-kelompok, baik pemerintahan maupun swasta, baik sipil maupun militer, baik dalam ukuran besar maupun kecil.

Menurut Atmosudirjo (1982: 30-40), administrasi merupakan suatu fenomena sosial, yaitu perwujudan tertentu di dalam masyarakat modern.

Eksistensi administrasi ini berkaitan dengan organisasi. Jadi, barang siapa hendak mengetahui adanya administrasi dalam masyarakat ia harus mencari terlebih dahulu suatu organisasi yang masih hidup, disitu terdapat administrasi.

Menurut Gie (1981:9), administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerjasama mencapai tujuan tertentu. Menurut Hadari Nawawi, Administrasi adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan sebagai proses pengendalian usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Fayol (dalam Priyono 2013: 145) administrasi merupakan bagian kegiatan dalam badan usaha. Badan usaha adalah yang melaksanakan ke arah suatu tujuan atau obyektif dengan usaha mendapatkan keuntungan yang optimum dari semua sumber-sumber yang tersedia. Untuk melaksanakan maksud tersebut fungsi utama, dimana administrasi hanyalah salah satu fungsi kegiatan. Menurut Fayol administrasi itu bukan privileges semata atau bukan pertanggungjawaban semata dari kepala atau anggota pimpinan sendiri, tetapi tersebar ke seluruh

organisasi, bahkan pekerja atau buruh ikut serta sesuai dengan tingkatannya dalam kegiatan administrasi. Seperti halnya pada skala hirarki dari atas ke bawah dalam organisasi.

Menurut Fayol (dalam Priyono 2013: 145) adapun ke 6 fungsi kegiatan yang dimaksud adalah:

1. Kegiatan teknis: produksi, pabrik, pengolahan (operations techniques);

2. Kegiatan commercial: jual beli, tukar menukar (operations commerciales);

3. Kegiatan financial: mencari dan menggunakan kapital (operations financiers);

4. Kegiatan keamanan: perlindungan harta kekayaan dan orang (operations de secuite);

5. Kegiatan accounting: inventaris, neraca, nilai harga, statistik (operations de comptabilite);

6. Kegiatan administrasi: perencanaan, organisasi, pembinaan, koordinasi, dan pengawasan (operations administratives).

Administrasi merupakan salah satu kegiatan yang menjadi perhatian Fayol. Menurut Fayol administrasi bukan hanya tanggungjawab pimpinan tetapi juga seluruh anggota organisasi termasuk pekerja di level bawah sesuai dengan tingkatannya dalam kegiatan administrasi. Adapun prinsip-prinsip administrasi yang dikemukakan menurut Fayol (2013: 54), ada 14 (empat belas) prinsip antara lain, yaitu :

1. Pembagian kerja (Division of work) yaitu sernakin mengkhusus manusia dalam pekerjaannya.

2. Otoritas dan tanggung jawab (authority and responsibility) diperoleh melalui perintah dan untuk dapat memberi perintah haruslah dengan wewenang formil. Walaupun demikian wewenang pribadi dapat mernaksa kepatuhan orang lain.

3. Disiplin (discipline), dalam arti kepatuhan anggota organisasi terhadap aturan dan kesempatan. Kepemimpinan yang baik berperan penting bagi kepatuhan ini dan juga kesepakatan yang adil seperti penghargaan terhadap prestasi serta penerapan sangsi hukum secara adil terhadap yang menyimpang.

4. Kesatuan komando (unity of commad), yang berarti setiap pegawai hanya menerima perintah kerja dari satu orang dan apabila perintah itu datangnya dari dua orang atasan atau lebih akan timbul pertentangan perintah dan kerancuan wewenang yang harus dipatuhi.

5. Kesatuan pengarahan (unity of direction), dalam arti sekelompok kegiatan yang mempunyai tujuan yang sarna yang harus dipimpin oleh seorang manajer dengan satu rencana kerja.

6. Menomorduakan kepentingan perorangan terhadap terhadap kepentingan umum (subordination of individual interest to general interes), yaitu kepentingan perorangan dikalahkan terhadap kepentingan organisasi sebagai satu keseluruhan.

7. Renumerasi personil (renumeration of personnel), dalam arti imbalan yang adil bagi pegawai dan pengusaha.

8. Sentralsiasi (centralisation), dalam arti bahwa tanggung jawab akhir terletak pada atasan dengan tetap memberi wewenang memutuskan kepada bawahan sesuai kebutuhan, sehingga kemungkinan adanya desentralisasi.

9. Rantai skalar (scalar chain), dalam arti adanya garis kewenangan yang tersusun dari tingkat atas sampai ke tingkat terendah seperti tergambar pada bagan organisasi.

10. Tata-tertib (order), dalam arti tertibtnya penempatan barang dan orang pada tempat dan waktu yang tepat.

11. Keadilan (equity), yaitu adanya sikap persaudaraan keadilan para manajer terhadap bawahannya.

12. Stabilitas masa jabatan (stability of penure of personal) dalam arti tidak banyak pergantian pegawai yang ke luar masuk organisasi.

13. Inisiatif (initiative), dengan memberi kebebasan kepada bawahan untuk berprakarsa dalam menyelesaikan pekerjaannya walaupun akan terjadi kesalahan-kesalahan.

14. Semangat korps (esprit de corps), dalam arti meningkatkan semangat berkelompok dan bersatu dengan lebih banyak menggunakan komunikasi langsung daripada komunikasi formal dan tertulis.

Penjelasan definisi tertib dan administrasi, penulis menggabungkan dua

bahwa tertib administrasi adalah tertata dan terlaksana dengan rapi, teratur, menurut aturan terhadap semua kegiatan tata usaha agar tidak terjadi tumpang tindih, sehingga dapat dipertanggungjawabkan serta penyelenggaraannya diwujudkan melalui fungsi-fungsi administrasi.

Jadi, tertib administrasi harus benar-benar dikuasai dan dipahami oleh aparatur di tingkat kota maupun provinsi. Mengingat dengan tercapainya tertib administrasi, maka pemerintahan kota mampu memberikan pertanggungjawaban atas semua kegiatan-kegiatan yang dikelola.

2.5.2 Tertib Administrasi Pertanahan

Administrasi pertanahan termasuk dalam bidang Administrasi Negara (Public Administration). Administrasi Negara adalah sebagai keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh seluruh aparatur Pemerintah dan suatu negara dalam usaha mencapai tujuan Negara. Sedangkan yang dimaksud dengan pertanahan disini adalah merupakan suatu kebijaksanaan yang digariskan oleh pemerintah dalam mengatur hubungan hukum antar tanah dengan orang sebagaimana yang ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan dijabarkan dalam Nomor 5 Tahun 1960 yang dikenal dengan UUPA sehingga menurut hemat kami administrasi pertanahan adalah suatu usaha dan kegiatan suatu organisasi dan manajemen yang berkaitan dengan penyelengaraan kebijaksaan pemerintah di bidang pertanahan dengan mengerahkan sumber daya untuk mencapai tujuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (Murad, 2013:2)

Tertib administrasi pertanahan adalah upaya memperlancar setiap usaha dari masyarakat yang menyangkut tanah terutama dengan pembangunan yang memerlukan sumber informasi bagi yang memerlukan tanah sebagai sumber daya, uang dan modal. Menciptakan suasana pelayanan di bidang pertanahan agar lancar, tertib, murah, cepat dan tidak berbelit-belit dengan berdasarkan pelayanan umum yang adil dan merata (dalam Murad, 2013:39).

Ismaya (2018: 18) menyebutkan Tertib Administrasi Bidang Pertanahan terdiri dari :

a. Tertib Hukum Pertanahan diarahkan pada program:

1) Meningkatkan tingkat kesadaran hukum masyarakat;

2) Melengkapi peraturan perundangan di bidang pertanahan;

3) Menjatuhkan sanksi tegas terhadap pelanggaran yang terjadi;

4) Meningkatkan pengawasan dan koordinasi dalam pelaksanaan hukum agraria.

b. Tertib Administrasi Data Pertanahan diarahkan pada program:

1) Mempercepat proses pelayanan yang menyangkut urusan pertanahan;

2) Menyediakan peta dan data penggunaan tanah, keadaan sosial ekonomi masyarakat sebagai bahan dalam penyusunan perencanaan penggunaan tanah bagi kegiatan-kegiatan pembangunan. Penyusunan data dan daftar pemilik tanah, tanahtanah kelebihan batas maksimum, tanah-tanah absente dan tanah-tanah Negara;

3) Penyusunan data dan daftar pemilik tanah, tanah-tanah kelebihan batas

4) Menyempurnakan daftar-daftar kegiatan baik di Kantor Agraria maupun di kantor PPAT;

5) Mengusahakan pengukuran tanah dalam rangka pensertipikatan hak atas tanah. Dengan adanya tertib administrasi pertanahan dimaksud bahwa data-data setiap bidang tanah tercatat dan diketahui dengan mudah, baik mengenai riwayat, kepemilikan, subjek haknya, keadaan fisik serta ketertiban prosedur dalam setiap urusan yang menyangkut tanah.

c. Tertib Penggunaan Tanah diarahkan pada usaha untuk:

1) Menumbuhkan pengertian mengenai arti pentingnya penggunaan tanah secara berencana dan sesuai dengan kemampuan tanah;

2) Menyusun rencana penggunaan tanah baik tingkat nasional maupun tingkat daerah;

3) Menyusun petunjuk-petunjuk teknis tentang peruntukan dan penggunaan tanah;

4) Melakukan survey sebagai bahan pembuatan peta penggunaan tanah, peta kemampuan dan peta daerah-daerah kritis.

d. Tertib Pemeliharaan Tanah Dan Lingkungan Hidup diarahkan pada usaha:

1) Menyadarkan masyarakat bahwa pemeliharaan tanah merupakan kewajiban setiap pemegang hak atas tanah. Kewajiban memelihara tanah tidak saja dibebankan kepada pemiliknya atau pemegang haknya yang bersangkutan, melainkan menjadi beban setiap orang, badan hukum, atau isntansi yang mempunyai suatu hubungan dengan tanah;

2) Memberikan fatwa tata guna tanah dalam setiap permohonan hak atas tanah dan perubahan penggunaan tanah;

3) Melakukan analisa dampak lingkungan (AMDAL) sebelum usaha industri/pabrik didirikan;

4) Melakukan pemantauan terhadap penggunaan tanah. Yang erat kaitannya dengan bidang tata guna tanah adalah terting penggunaan tanah dan tertib pemeliharaan tanah.

Dari penjelasan tersebut, adapun yang berkaitan dengan Tertib Administrasi Bidang Pertanahan yaitu: (a) Prosedur permohonan hak tanah sampai terbit sertipikat tanda bukti. (b) Penyelesaian tanah-tanah yang terkena ketentuan peraturan landreform. (c) Biaya-biaya mahal dan pungutan-pungutan tambahan. Dalam PP No. 24 Tahun 1997 mengenai tujuan Pendaftaran Tanah untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan sebagaimana dimaksud Pasal 3 huruf c, setiap bidang tanah dan satuan rumah susun termasuk peralihan, pembebanan, dan hapusnya hak atas bidang tanah dan hak milik atas satuan rumah susun wajib didaftarkan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Agraria/ KBPN Nomor 5 Tahun1995 tentang Gerakan Nasional Tertib Pertanahan dicanangkanlah suatu gerakan nasional dengan nama Gerakan Nasional Pemasangan Tanda Batas Pemilikan Tanah, yaitu gerakan kesadaran masyarakat untuk mensukseskan Catur Tertib Pertaanahan. Pemasangan tanda batas pemilikan tanah dilakukan oleh pemilik

tanah yang berdampingan secara bersama-sama yang tergabung dalam wadah Kelompok Mayarakat Sadar Tertib Pertanahan (POKMASDARTIBNAS)

2.5.3 Tujuan Administrasi Pertanahan

Adapun tujuan dari administrasi pertanahan menurut Tjahyo Widianto (2014:76), yaitu:

1. Komponen yuridis memegang kendali utama dalam administrasi pertanahan untuk mendapatkan kepastian hak atas tanah.

2. Komponen regular yang penting untuk dihubungkan dengan pembangunan dan penggunaan lahan. Hal ini termasuk pembangunan lahan dan ketatnya penggunaan pajak melalui mekasnisme yang berlaku.

3. Komponen fiskal lebih mengutamakan pada pemberian pajak lahan yang menunjang perekonomian. Proses ini digunakan untuk mendukung naiknya nilai pengumpulan dan produksi, serta sebagai insentif untuk mendistribusikan lahan terhadap tujuan-tujuankhusus lainnya.

4. Manajemen informasi, untuk memberi berbagai kelengkapan data yang memuat tiga aspek di atas yaitu fiskal kadaster dalam nilai dan pajak, dan pembagian wilayah dari sistem informasi yang lain dalam perencanaan dan pematuhan peraturan yang berkaitan.

2.5.4 Manfaat Administrasi Pertanahan

Adapun manfaat administari pertanahan yang juga menurut Cahyo Widianto dalam (http://eleveners.wordpress.com diakses pada hari Rabu, 6 November 2019) adalah sebagai berikut:

1. Memberikan jaminan atas kepastian hak, maksud semakin jelas penentuan hak milik seorang akan mempermudah untuk orang tersebut mempertahankan haknya atas klaim dari orang lain.

2. Stabilitas sosial, catatan publik yang tepat akan terlindungi dari pengunjingan mengenai kepemilikan yang sah (bila nantinya ada yang menggugat), dan membantu menyelesaikan masalah-masalah lain dengan cepat sejak batasan dan kepemilikan tanah dibuat.

3. Kredit, catatan publik akan mengurangi ketidakpastian informasi melalui pemberian kewenangan pada kreditor untuk menentukan apakah peminjaman potensial telah memiliki hak untuk pemindahan hak yang diminta menurut apa yang diminta sebagai jaminan peminjam.

4. Proses perbaikan lahan, pembaharuan jaminan atas kepastian hak pemilik akan menaikkan kecenderungan seorang untuk mencari keuntungan ketika akan berinvestasi pada bangunan, peralatan infrastruktur termasuk pengakuan perlindungan lahan. Cara kredit yang sudah diperbaiki menyediakan sumber daya keuangan yang bias mempengaruhi nilai lahan.

5. Produktivitas, factor-faktor seperti nilai guna, perpindahan lahan, kepemilikan, pembangunan, ha katas tanah dan lain-lain dikombinasikan untuk meyakinkan bahwa lahan itu sedang berkembang menuju nilai dan manfaat yang terbaik, misalnya, pertanian komersil dilakukan oleh petani yang cerdik untuk mendapatkan keuntungan dan lahan lebih. Beda dengan petani biasa yang tidak bias mengembangkan lahannya.

6. Likuiditas, ketika hak kepemilikan sudah dapat legalitas formal asset-aset tersebut bias ditukar dengan cepat dalam skala besar dan pada harga yang rendah. Pada negara-negara berkembang, mayoritas hak kepemilikan dalam status informal, oleh karena itu mereka tidak dapat memasuki tempat pasaran formal sebagai aset yang bisa dinegosiasikan.

Pada pelaksaan administrasi pertanahan ada aspek yang penting untuk menjamin kepastian hukum bagi pemilik tanah, yaitu pendaftaran tanah.

Pendaftaran tanah. Pendaftaran tanah ini lebih jelasnya diatur dalam peraturan pemerintah No.24 tahun 1997 tentang pedoman pendaftaran tanah.

Dokumen terkait