• Tidak ada hasil yang ditemukan

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

103

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

104

kesadaran tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi membentuk materi, intelektual, dan lingkungan budaya, dan kesediaan untuk terlibat dalam isu-isu terkait sains dan isu-sosial, sebagai warga negara reflektif.

Berdasarkan definisi ini, literasi menyangkut dua hal, yaitu pengetahuan ilmiah seseorang dan penggunaan tersebut. Dalam bahasa singkat, literasi sains menyangkut tiga unsur, yaitu konsep sains, proses ilmiah, dan konteks sains. Konsep sains terkait bagaimana memahami fakta dan fenomena. Proses ilmiah merupakan kemampuan memperoleh, menginterpretasikan, dan bertindak berdasarkan bukti. Ada tiga proses utama sains yaitu (i) pengambaran, penjelasan, dan ramalan fenomena ilmiah, (ii) pemahaman penyelidikan ilmiah, dan (iii) meramalkan bukti dan kesimpulan ilmiah. Konteks artinya memahami secara keseluruhan hal yang terjadi baik fenomena sains maupun sosial.

Salah satu contoh soal literasi sains adalah sebagai berikut, Makhluk hidup membutuhkan energi untuk bertahan hidup. Energi yang menopang kehidupan di Bumi berasal dari Matahari, yang memancarkan energi yang begitu panas ke ruang angkasa. Hanya sebagian kecil dari energi ini mencapai Bumi. Atmosfer melindungi dan menjaga suhu di planet bumi, sehingga tidak terlalu panas. Sebagian besar energi radiasi yang berasal dari Matahari melewati atmosfer bumi. Bumi menyerap sebagian dari energi ini, dan sebagian dipantulkan kembali dari permukaan bumi.

Bagian dari energi yang dipantulkan ini diserap oleh atmosfer. Jika tidak ada atmosfer, suhu rata-rata di atas permukaan bumi akan sangat panas.

Atmosfer bumi memiliki efek yang sama sebagai rumah kaca, yang diistilahkan dengan “efek rumah kaca”. Efek rumah kaca menjadi sangat populer pada abad kedua puluh. Adalah sebuah fakta bahwa suhu rata-rata atmosfer bumi telah meningkat. Surat kabar dan laporan berkala melaporkan emisi karbon dioksida meningkat seiring kenaikan suhu sejak abad kedua puluh. Seorang mahasiswa bernama Zaim tertarik untuk meneliti kemungkinan adanya hubungan antara suhu rata-rata atmosfer bumi dan emisi karbon dioksida di Bumi. Di perpustakaan Zaim menemukan menemukan dua grafik (disajikan dua grafik terkait rerata emisi karbon dan suhu atmosfer bumi dari tahun 1860 sampai tahun 1900).

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

105

Dari dua grafik tersebut, Zaim menyimpulkan bahwa peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi ini disebabkan oleh peningkatan emisi karbon dioksida. Menurut Anda, tepatkah kesimpulan Zaim tersebut? Bagian mana yang menunjukkan dukungan terhadap kesimpulan Zaim, jika kamu menundukung kesimpulan Zaim? Dan bagian manakah yang menyanggah kesimpulan Zaim, jika kamu menyanggah kesimpulan Zaim? Jika kamu mempunyai kesimpulan sendiri terhadap dua gambar di atas, kemukakan kesimpulanmu!

Dari contoh soal, kita melihat teks yang disajikan bersifat kontekstual dengan permasalahan yang terjadi yaitu ‗pemanasan global‘, untuk menjawab persoalan yang disajikan diperlukan kemampuan membaca teks panjang sejumlah 171 kata, mencermati grafik, melakukan interpretasi terhadap grafik, membandingkan dua grafik, dan mengevaluasi terhadap pendapat yang dikemukakan (setuju/tidak setuju). Jawaban yang tepat akan didapatkan apabila (1) teks dibaca secara keseluruhan dengan sabar, (2) grafik dipahami sebagai unsur yang mendukung teks yang tersedia bukan sebagai tempelan saja, (3) kedua grafik diamati dengan teliti, dikorelasikan antara satu grafik dengan grafik lainnya juga dengan teks yang tersedia, (4) memposisikan pendapat termasuk menyetujui atau tidak dan menyiapkan pendukung atau sanggahan berdasarkan data-data yang sudah dicermati pada grafik. Seperti inilah literasi sains.

Pendidikan sains selama ini sudah menempatkan hakikat sains sebagai pusat aktifitas. Hakikat sains meliputi sains sebagai konsep, proses, dan sikap. Dalam hal konsep dan proses beririsan dengan literasi sains.

Sikap merupakan bagian penting dalam pembelajaran sains, sikap diambil dari tabiat seorang sainstis yang memiliki rasa ingin tahu tetapi skeptis (tidak mudah percaya), objektif (jujur), teliti dan cermat. Jika ditambahkan literasi sains, maka pendidikan sains meliputi empat hal yaitu sains sebagai konsep, proses, sikap, dan konteks. Pendidikan sains yang diarahkan pada hakikat sains dan literasi sains akan membantu terwujudnya masyarakat madani, sebuah prototipe dari masyarakat konstruktif terhadap pembangunan.

Keberhasilan hakikat sains dan literasi sains pada pendidikan sains akan terlihat dari sikap terhadap informasi. Apakah informasi yang

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

106

didapatkan ditelan mentah-mentah atau akan dipandang secara skeptis?

Apakah informasi akan dibagikan begitu saja karena kita suka terhadap informasi atau kita pertimbangkan sisi ‗sosial‘ dan dampak sosial dari yang akan ditimbulkan dari informasi yang dibagikan? Patut dicatat bahwa kemampuan prediksi merupakan bagian dari proses sains. Apakah informasi yang diterima bersumber dari data-data dan fakta-fakta yang valid? Proses ilmiah (saintifik proses) yang terdiri dari mencermati informasi, mengumpulkan informasi, memvalidasi informasi, menyortir informasi, dan membagikan informasi akan dijalani oleh seseeorang yang sudah terdampak pendidikan sains yang mengacu pada hakikat dan literasi sains.

Selama menjalani pendidikan sains proses ilmiah inilah yang dibiasakan dan dibudayakan selama pembelajaran.

Sayangnya, pendidikan sains kita masih lemah di titik ini. Proses ilmiah dalam pendidikan sains umumnya dibiasakan melalui praktikum dan diskusi isu sains di kelas. Dua hal ini kita bahas dalam artikel ini.

Praktikum yang dijalankan pada pendidikan sains banyak yang bersifat ‗verifikasi konsep‘. Misalnya, praktikum bertujuan untuk melihat susunan sel-sel pada tanaman bawang. Peserta didik sudah dibekali dengan LK (Lembar Kerja) berisi alat, bahan, dan langkah kerja seperti resep. Peserta didik seperti robot, hanya mengikuti apa yang tercantum dalam LK, dan terakhir mereka melaporkan dalam bentuk lisan atau tulisan.

Pengajar menilai LK dari sisi keberhasilan mengamati ada tidaknya susunan sel, kalau belum terlihat harus terus diulang-ulang. Jika hasilnya tidak berhasil, karena yang dinilai produk (LK) mereka bisa saja mencontoh dari kelompok teman lain yang berhasil.

Pola praktikum seperti ini hanya memunculkan proses ilmiah dari sisi pengamatan dan pengkomunikasian hasil. Sikap sains yang dimunculkan hanya cermat, terampil, dan berani berkomunikasi, dan mengandung bahaya sikap tidak jujur dan tindak instan. Bandingkan jika praktikum diperluas dengan tujuan mengamati susunan sel-sel berbagai tanaman. Selain tanaman bawang sebagai variabel kontrol, peserta didik dibebaskan untuk mengambil beberapa contoh tanaman lainnya. Alat dan bahan dipersiapkan oleh peserta didik. Peserta didik pun diminta memikirkan dan menuliskan langkah yang harus mereka lakukan dalam

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

107

mengamati susunan sel tanaman-tanaman tersebut. Pada saat pelaporan hasil, boleh jadi ada yang berhasil mengamati dan ada yang tidak. Namun, laporan tidak dinilai dari berhasil atau tidak, tetapi bagaimana mereka mempresentasikan hasil sejujurnya atau seobjektif mungkin berdasarkan apa yang mereka lakukan.

Pengajar menilai proses ilmiah melalui kinerja yang sudah dilakukan peserta didik bukan dari produk. Pengajar menilai mulai dari memilih alat dan bahan, merancang langkah-langkah pengamatan, mengamati objek amatan, mengelompokkan objek amatan, sampai mempresentasikan apa adanya dari apa yang telah mereka lakukan dan amati. Proses ilmiah seperti ini memberikan nilai tambah dalam sikap yaitu enggan berbohong atas hasil (jujur) dan menghargai setiap proses yang dilakukan bukan melulu hasil.

Diskusi isu sains yang dijalankan di banyak kelas sains pun lebih banyak menyalin berita dan mempresentasikannya. Misalnya, ketika topik yang diberikan pencemaran lingkungan. Peserta didik diminta mengumpulkan ragam informasi terkait pencemaran lingkungan, kemudian menyadurnya kembali, dan mempresentasikannya. Dari kegiatan ini, peserta didik hanya mendapatkan konsep-konsep pencemaran lingkungan.

Pada pendidikan sains dasar, ini bagus. Tapi pada pendidikan sains tingkat menengah dan tinggi, seharusnya dikembangkan menjadi diskusi isu sosiosaintifik untuk memecahkan permasalahan lingkungan di sekitarnya.

Misalnya, konteks DKI Jakarta bisa di bahas, ―Apakah reklamasi merupakan solusi bagi teluk Jakarta yang sudah tercemar parah?‖ Informasi pro-kontra akan dicari oleh peserta didik, hasil-hasil riset ekologi akan ditelaah dan dijadikan dukungan argumen, mereka mendiskusikan dan menyatakan sikap terhadap masalah itu berdasarkan sumber-sumber yang valid dan kredibel.

Pembenahan pada aspek praktikum dan diskusi di kelas sains tampaknya perlu dilakukan dalam pendidikan sains, sehingga pendidikan sains bisa berperan dalam mewujudkan warga negara reflektif, warga negara yang selalu cek, re-check, dan cross check terhadap informasi dan tidak ‗latah‘ terhadap informasi hoax!

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

108

PEMBELAJARAN BERBASIS NILAI