Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
108
PEMBELAJARAN BERBASIS NILAI
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
109
proses. Dalam standar proses, pendidikan menetapkan kriteria proses pembelajaran sebagai standar minimal yang harus dipenuhi oleh pendidik.
Kriteria pembelajaran bermutu, seperti yang dijelaskan dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 minimal memenuhi prinsip pembelajaran yang terdiri dari peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar; proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah; pembelajaran berbasis kompetensi;
pembelajaran terpadu; pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi; pembelajaran berbasis keterampilan plikatif; peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills; pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat; pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo, membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik; dan suasana belajar menyenangkan dan menantang.
Pembelajaran yang mengacu pada prinsip di atas, dapat dipastikan bahwa peserta didik memperoleh hasil nurturant efect sebagai dampak tidak langsung dari proses pembelajaran. Nurturant efect pembelajaran yang dimaksud adalah berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter.
Dalam implementasi kurikulum 2013 nilai-nilai karakter pada jenjang pendidikan dasar khususnya anak usia MI/SD adalah nilai karakter spiritual dan nilai karakter sosial.
Proporsi capaian pembelajaran pada anak usia MI/SD dititikberatkan pada penanaman karakter pada setiap pembelajaran. Oleh karena itu, dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan, nilai-nilai karakter harus sudah ditetapkan.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
110 Anak Usia Emas
Para ahli psikologi perkembangan meyakini bahwa anak usia MI/SD berada pada usia emas, mereka menyebutnya dengan golden age.
Dari usia kronologis yang diformalisasi dalam peraturan pendidikan di Indonesia anak usia emas berada pada kisaran usia 6-12 tahun. Disebut berada usia emas, secara usia psikologis, karena pada usia tersebut peserta didik memiliki kemampuan kognitif, sosial, emosional, moral dan spiritual yang unik. Keunikan potensi peserta didik tersebut menopang kemampuan meniru (imitasi) dan kreativitas yang unik. Keunikan potensi peserta didik tersebut meniscayakan proses pembelajaran berorientasi pada karakteristik perkembangan peserta didik.
Potensi emas peserta didik tersebut dapat menjadi tidak optimal, manakala proses pembelajaran sebagai bentuk scaffolding perkembangan tidak optimal dilaksanakan oleh pendidik. Padahal, pendidikan dalam bentuk pembelajaran adalah salah satu instrumen penting untuk menginternalisasikan nilai-nilai karakter yang potensial pada peserta didik.
Meninjau konklusi Danil Goleman, bahwa kekuatan nilai-nilai karakter dapat menjadi salah satu penentu kesuksesan hidup peserta didik. Oleh karena itu, penting ditemukan formula teoritik dan formal tentang pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter peserta didik pada anak usia emas.
Model Pembelajaran Berbasis nilai
Organisasi Pendidikan Dunia; UNICEF, merekomendasikan proses pembelajaran yang berkesinambungan dalam prinsip learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together sebagai suatu sistem yang complementer. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis nilai dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran yang dikembangkan oleh UNICEF.
Implementasi Kurikulum 2013 merekomondasikan penerapan pembelajaran scientific dalam mencapai kompentensi pembelajaran. Dalam pembelajaran scientific, dapat menggamit perwujudan integratif dari kompentesi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, nilai karakter yang diharapkan dapat muncul dalam proses pembelajarn secara
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
111
terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran saintifik, baik kegaitan mengamati, bertanya, menalar, mencoba, maupun mengomunikasikan.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
112
INTEGRASI KEILMUAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Oleh ABDUL MUIN
Sekjur Pendidikan Matematika FITK UIN Jakarta
Integrasi keilmuan sesungguhnya telah menjadi tujuan pendidikan nasional sebagaimana dipesankan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan, ―Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab‖.
Jika pernyataan ―…beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa…‖ dalam sudut pandang muslim adalah sebagai aspek keislaman, maka dalam tujuan pendidikan nasional sebagaimana dalam Undang-Undang tersebut mengandung nilai-nilai integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan.
Konsep integrasi keilmuan yang digagas oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai suatu ciri atau ikon kampus ini adalah dinyatakan melalui motto: Integrasi Keilmuan, Keislaman, dan Keindonesiaan‖. Bahkan, pengukuran atas pencapaian kriteria integrasi ini masuk sebagai key performance indicator atau Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas yang kemudian diturunkan (cascading) ke fakultas dan program studi. Tidak heran, jika di dalam kurikulumnya pada setiap program studi di UIN Jakarta dengan keilmuan tertentu (program studi), dibekali muatan substansi keislaman dan keindonesiaan. Muatan subtansi keislaman ini tercermin dalam mata kuliah Studi Islam yang bersifat wajib dengan bobot 4 sks.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
113
Selain itu, ada pula mata kuliah Praktikum Ibadah dan Qiraat yang juga diwajibkan pada semua program studi. Substansi keindonesiaan tercermin dalam mata kuliah Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Kewarganegaraan. Substansi keindonesiaan ini juga terdapat pada universitas-universitas lain di Indodesia. Akan tetapi memadukan keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan inilah yang menjadi motto UIN Jakarta.
Walaupun belum terdefinisi dengan baik (well defined), konsep integrasi secara umum dipahami sebagai keterpaduan di antara keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Meski aspek-aspek keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan merupakan hal yang berbeda satu sama lainnya, akan tetapi ketiganya dapat dipadukan secara selaras. Integrasi tidak berarti mencampuradukkan ketiganya menjadi ―barang‖ baru yang berbeda dari ketiga aspeknya. Integrasi dalam hal ini salah satunya dapat dimodelkan guna mengaitkan keilmuan yang bersifat murni dengan aspek keislaman dalam konteks keindonesiaan. Sebagai contoh, proses reproduksi manusia dimulai dari pembuahan oleh sperma laki-laki pada sel telur perempuan, perkembangan embrio, lahir, sampai dewasa pada tataran ilmu biologi;
dikaitkan dengan Al-Qur‘an surat Al Hujurat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa; dan dikaitkan pula dengan eksistensi suku-suku bangsa di Indonesia. Hal ini adalah merupakan contoh dari model integrasi.
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) merupakan fakultas pendidikan yang bernuansa keislaman. Cukup jelas bahwa didalam hal ini, FITK mempelajari ilmu-ilmu pendidikan serta pengajaran dan pembelajaran.
Aspek keislaman muncul dalam mata kuliah yang sifatnya wajib seperti Ilmu Pendidikan Islam dan Pendidikan Akhlak. Dengan demikian, FITK merupakan salah satu bentuk integrasi keilmuan pendidikan dan keislaman.
Karena mata kuliah Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Kewarganegaraan merupakan muatan keindonesiaan yang menjadi identitas universitas.
Lalu, selain itu dimana lagi aspek keindonesiaannya yang muncul?
Salah satu jawabannya adalah, bahwa FITK berkontribusi dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya melalui riset-riset dan penerapan hasil riset pendidikan dalam pemberdayaan masyarakat.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
114
Beberapa model integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan yang telah dipaparkan sebelumya sifatnya umum dalam tatanan kelembagaan baik universitas maupun fakultas. Selanjutnya, bagaimana konsep integrasi ini turun dalam pembelajaran? Konsep integrasi ini dapat dimodelkan sebagai, mendesain bahan/material ajar dengan memadukan aspek keilmuan yang akan dipelajari dengan konteks keislaman yang sesuai dengan koknteks keindonesiaan. Sebagai contoh integrasi model ini dalam pembelajaran matematika di antaranya dijelaskan pada ilustrasi sebagai berikut:
Aspek keilmuan: konsep Luas Bangun Datar, dan berpikir kreatif matematis
Aspek keislaman: konteks melelang wakaf karpet masjid Aspek keindonesiaan: konteks keberagaman suku bangsa Ilustrasi:
“DKM masjid Al-Ikhlas berada dalam komplek dengan beragam suku di antaranya Betawi, Sunda, Jawa, Batak, dan Padang. Mereka hidup rukun dan saling membantu. Suatu ketika pengurus DKM ingin memasang karpet pada lantai bagian dalam masjid yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 10 m x 15 m. Untuk itu, panitia pengadaan karpet memutuskan untuk melelang wakaf karpet masjid kepada warga yang berminat. Apabila panitia menetapkan tiga kategori wakap yaitu: wakaf karpet dengan luas 1 m2 senilai Rp. 250.000,00;
wakaf karpet dengan luas 10 m2 senilai Rp. 2.250.000,00; dan wakaf karpet dengan luas 20 m2 senilai Rp. 4.250.000,00.
Buatlah semua kemungkinan dari komposisi jumlah warga yang memilih kategori wakaf yang dilelang panitia agar seluruh bagian lantai dalam masjid tertutupi karpet? Tentukan pula berapa saja kemungkinan biaya total yang diperlukan agar seluruh bagian lantai dalam masjid tersebut tertutupi karpet?
Kemungkinan jawaban:
Luas lantai masjid sebesar 10 m x 15 m = 150 m2. Maka kemungkinan komposisi jumlah warga yang berwakaf adalah:
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
115
1. Jika setiap warga hanya mewakafkan 1 m2 karpet saja maka akan membutuhkan 150 orang dan setiap orang dikenakan biaya sebesar Rp. 250.000,00 jadi total biaya yang dibutuhkan sebesar 150 x 250.000,00 = Rp. 37.500.000,00
2. Jika ada 5 orang yang mewakafkan karpet masing-masing 10 m2 dan sisanya mewakafkan masing-masing 1 m2, maka akan ada 5 orang yang mewakafkan karpet sebanyak 5 x 10 m2 = 50 m2 seharga 5 x Rp. 2.250.000,00 = Rp. 11.250.000,00 dan sisanya dibutuhkan sebanyak 150 – 50 = 100 m2 oleh 100 orang senilai 100 x Rp. 250.000,00 = Rp. 25.000.000,00. Maka total biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 11.250.000,00 + Rp. 25.000.000,00 = Rp.
36.250.000,00
3. Jika ada 5 orang yang mewakafkan karpet masing-masing 10 m2, 2 orang mewakafkan masing-masing 20 m2, dan sisanya mewakafkan masing-masing 1 m2, maka akan ada 5 orang yang mewakafkan karpet sebanyak 5 x 10 m2 = 50 m2 seharga 5 x Rp.
2.250.000,00 = Rp. 11.250.000,00; 2 orang mewakafkan karpet seluas 20 m2 seharga 2 x Rp. 4.250.000,00 = Rp. 8.500.000,00;
dan sisanya dibutuhkan sebanyak 150 – 50 – 40 = 60 m2 oleh 60 orang senilai 60 x Rp. 250.000,00 = Rp. 15.000.000,00. Maka total biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 11.250.000,00 + Rp.
8.500.000,00 + Rp. 15.000.000,00 = Rp. 34.750.000,00 4. Dan lain-lain… (masih banyak lagi kemungkinan lainnya)
Keleluasaan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Guru adalah manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena itu, ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, guru harus meningkatkan wawasan dan kesadaran hukum dan hak azasi manusia. Merupakan keniscayaan bagi guru untuk memahami undang-undang perlindungan anak dan undang-undang terkait lainnya. Kedua, perlu ada advokasi bagi guru yang mengalami masalah hukum terutama yang terkait dengan profesinya.
Ketiga, perlu adanya perlindungan profesi guru dengan payung hukum khusus.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
116
Masalah guru dan kekerasan adalah tantangan dunia pendidikan yang tidak ringan. Tantangan inilah yang harus dijawab oleh pemerhati, pengambil kebijakan, dan lembaga pendidikan, khususnya fakultas keguruan.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
117