• Tidak ada hasil yang ditemukan

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

59

SCIENTIFIC, SPIRITUALITAS, DAN PENCERAHAN

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

60

keobjektifan pengetahuan, maka lambat laun terciptalah pandangan yang cenderung melakukan penolakan pada unsur-unsur non rasional dan non empiris seperti yang terdapat pada agama. Unsur-unsur semacam itu dianggap sebagai halusinasi saja. Bagaimana proses pengikisan keyakinan ini terjadi melalui sains? Hal ini dapat dipahami dalam penjealasan sebagai berikut:

Yang pertama, bahwa kekeringan spiritual yang melanda Barat dapat dipahami dari cara berpikir dan hidup dalam tradisi mereka yang selalu bertumpu pada kemajuan material. Barat, hidup dalam dunia teknis dan ilmiah. Maka mereka menganggap pikiran dan nilai-nilai hidup yang meminta kepekaan hati sebagai sesuatu yang subyektif dan tidak bermutu.

Barat, dalam pemikirannya cenderung menekankan dunia objektif daripada rasa sehingga hasil pola pemikiran yang demikian membuahkan sains dan tekhnologi.

Yang kedua, dalam warisan intelektual Kebudayaan Barat, sains secara umum dipandang sebagai prestasi tertingginya, dengan demikian memperoleh fondasinya dalam model linier tentang pengetahuan, yang secara implisit juga mengandung gagasan tentang kebenaran dan realitas yang pasti. Sebagaimana dijelaskan Mahmoud Rajabi (2006: 256) bahwa sains modern kemudian memang mendapat tempatnya di Barat, dan lantaran paham materialisiknya yang mengingkari realitas ruhani dan non-materi, mereka memiliki pandangan yang sangat keduniawian. Mereka membatasi makna kesempurnaan, kebahagiaan, dan proses meraihnya pada hal-hal yang bersifat material semata.

Metode Ilmiah dan Spiritualisme

Iqbal (2008: 221) menyatakan bahwa sebenarnya proses ilmiah dengan proses religius, meskipun menggunakan metode-metode yang berbeda, adalah identik tujuannya. Keduanya berhasrat mencapai hakekat yang paling nyata. Pikiran Iqbal secara jelas menunjukkan adanya intersection antara ruang ilmiah dan spiritual. Lebih jauh diuraikan Iqbal bahwa proses ilmiah dan proses religious dalam arti tertentu sejajar satu sama lain dan keduanya merupakan penggambaran tentang dunia yang sama; bedanya hanyalah bahwa dalam proses-proses ilmiah sudut pandang

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

61

ego sebagai keniscayaan harus bersifat ekslusif sedangkan dalam proses-proses religius, ego mengintegrasikan kecenderungan-kecenderungan yang bersaing dan mengembangkan suatu sikap tunggal yang inklusif dalam semacam transfigurasi (perubahan rupa) sintesis dari pengalaman-pengalamannya.

Uraian Iqbal tersebut kalau dicerna lebih jauh, akan menunjukkan benang merah antara proses-proses ilmiah dan spiritualitas atau yang lebih khusus disebut dengan proses religuitas. Bahwa sesungguhnya keduanya saling melengkapi pengalaman manusia memahami realitas. Proses ilmiah menjaga jarak subjektifitas ego, sementara proses religuitas justeru membutuhkan keterlibatan ego secara inheren dalam proses pencerapan realitas. Namun pemikiran itu dikeritik secara tajam oleh kelompok empirisme radikal. Hume misalnya, secara tegas menyatakan bahwa konsep apapun yang bersifat subjektif, tidak memiliki tempat dalam proses ilmiah. Kritik Hume tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk memurnikan proses-proses ilmiah.

Dalam kaitannya dengan uraian di atas, bagaimana Islam melihat krisis spiritual manusia modern? Dapatkah Islam dijadikan sebagai alternatif pencarian-pencarian manusia masa mendatang?

Bagi Islam, dasar spiritual kehidupan merupakan keyakinan, yang dengan mudah sekali dapat dipakai sebagai tempat menyandarkan hidup, sekalipun oleh orang yang masih terbatas pengetahuannya. Prinsip yang paling mendasar dalam pendekatan Islam, juga bagi semua agama, menegaskan bahwa yang material semata tidak mempunyai substansi sebelum kita menggali akarnya dalam ruhani. Ketika manusia terjebak kedalam cara pandang material, yang menganggap bahwa kesempurnaan hanyalah kenikmatan-kenikmatan material dan kesempurnaan duniawi, maka dengan mendapatkan pelbagai kenikmatan tersebut, dia akan merasa senang. Maka bagi mereka, penyakit-penyakit jasmani yang tidak berbahaya sekalipun akan dipandang penting dan menyebabkan mereka berkeluh kesah. Akan tetapi terhadap kemunduran besar spritualitas yang sedang dialaminya, dia sama sekali tak peduli.

Peradaban Islam sesungguhnya memiliki minat yang besar kepada ilmu pengatahuan dibanding dengan peradaban lainnya yang kita kenal,

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

62

seperti peradaban Barat. Semenjak masa-masa awalnya, peradaban ini telah berjalan dengan aktifitas ilmiah yang pesat. Hal ini ditopang oleh bukti-bukti historis yang otentik. Sebagaimana diketahui bahwa ketika Eropa pada abad pertengahan mengalami zaman kegelapan (Dark Ages), negeri-negeri Muslim justeru sedang memulai masa pencerahan budaya, sepanjang Cina di Timur, Asia Barat, Afrika Utara, dan Eropa Barat Daya, hingga pantai-pantai Samudra Atlantik. Hampir lima abad lamanya, sejak awal abad ke delapan hingga pertengahan abad ke 12, kaum Muslimin memegang kepemimpinan intelektual dengan perkembangan yang sangat mengagumkan, bahkan belum pernah terjadi pada masa-masa kejayaan Yunani sebelumnya.

Sejarah kebangkitan intelektual kaum Muslimin dalam kurun waktu tersebut sungguh menarik dan tidak mungkin dapat diuraikan dalam tulisan sederhana ini. Namun hal yang penting untuk dicatat dalam pesan historis tersebut adalah bagaimana kemudian Imperium Islam ketika itu memulai era budaya dan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya tidak saja dipersembahkan untuk komunitas Islam tetapi untuk seluruh umat manusia.

Jejak sejarah tersebut menunjukkan bahwa kunci kesuksesan peradaban Islam dalam periode yang sering disebut ‖zaman keemasan‖ tersebut yaitu tumbuh suburnya tradisi ilmiah di kalangan ilmuwan yang tidak memandang agama ataupun ras. Kegiatan penterjemahan dan riset mendapatkan dorongan dan dukungan yang kuat dari Khalifah yang didukung oleh keuangan negara. Para penguasa ketika itu mengerahkan seluruh akses yang dimiliki untuk mengembangkan kegairahan yang luar biasa dalam mengejar ilmu pengetahuan.

Maka yang tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana kaum muslimin sendiri mengaktualisasikan ajaran Islam secara kaffah sehingga menjadi sebuah dakwah kontekstual yang menggambarkan kesatuan kebenaran inheren antara Islam sebagai Agama yang haq dengan kebenaran pelaksanaan ajaran Islam oleh para pemeluknya. Hanya dengan cara ini, stereotif keliru terhadap Islam dapat diatasi. Dan untuk hal ini, Woods dan Grant telah menginsyaratkan dalam kritiknya terhadap Barat bahwa:

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

63

“Ketika orang-orang di Barat bicara tentang fundamentalisme religious, tahayul dan ekstrimisme, mereka biasanya menunjuk pada Islam. Pada kenyataannya, progpaganda intensif terhadap Islam adalah suatu kedok idiologis yang kasar, yang menutupi kepura-puraan dan kesombongan imperialisme, khususnya imperialisme Amerika Serikat, yang berusaha mendominasi seluruh dunia dan menundukkannya kepada penghisapan tanpa ampun.”

Kegusaran Woods dan Grant di atas kecil kemungkinan dalam tujuan membela Islam karena memang mereka bukan penganut Islam.

Pernyataannya tersebut adalah sebuah bentuk kedongkolan seorang ilmuwan melihat fenomena keserakahan suatu paham, yaitu kaptalisme, yang dimotori Amerika Serikat dan siap mengantarkan seluruh kehidupan manusia kepada jurang krisis yang luar biasa.

Maka Islam dituntut memposisikan diri secara tepat dalam lingkaran krisis spritualitas karena Islam ketika dimaknai dan diaktualisasikan secara tepat dan tentu dengan sebuah keikhlasan yang mutlak, ia mampu memberikan tawaran pencerahan sepanjang zaman baik dalam peradaban Barat maupun peradaban Timur. Islam menawarkan jalan tengah. Memberikan ruang bagi indera penglihatan (Bashar) dan Bashariah (mata hati) sebagai intrumen untuk menuju kepada pencapaian kebenaran.

Keduanya diikat oleh akal. Itulah modalitas manusia untuk menyingkap fenomena yang telah Allah hamparkan di sepanjang ufuk dunia dan dalam diri manusia itu sendiri.

Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta

64