Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
138
PERAN PEREMPUAN DALAM RANAH DOMESTIK
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
139
menguasai wilayah domestik saja seperti dapur dan tempat tidur.
Perempuan saat ini dituntut untuk bisa mandiri, independen, keluar dari lingkup domestiknya untuk maju ke wilayah publik. Jika berefleksi dari zaman di mana perempuan mayoritas terkungkung sepenuhnya dalam dominasi laki-laki dan hanya menguasai ranah domestik, maka saat ini bisa dilihat banyak kemajuan yang telah perempuan lakukan.
Perempuan sudah berkembang melangkah ke ranah publik. Profesi yang dulu dominan oleh laki-laki, contohnya pilot, teknisi peasawat, profesi berkaitan dengan teknis, politisi dan profesi lainya saat ini pun perempuan bisa menempatinya. Walaupun tidak memungkiri bahwa tingkat keikutsertaan perempuan di beberapa bidang publik yang identik sebagai bidang maskulin masih rendah. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai kendala, seperti budaya, pendidikan, juga keterikatan perempuan dengan tugas domestiknya. Sehingga perempuan tidak bisa berada di lini yang sama dengan laki-laki untuk transisi ke ranah publik. Untuk itu, perlu adanya perubahan paradigma masyarakat dalam memandang eksistensi perempuan. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk ikut serta dalam ranah publik.
Banyak alasan mengapa perempuan terdorong untuk maju melangkah ke ranah publik dan tidak stagnan di ranah domestik. Jika melihat kebelakang, saat gelombang emansipasi pertama kali didengungkan ketika zaman pergerakan, di situlah titik tonggak perempuan menginginkan keterlibatannya dalam ranah publik. Perempuan mulai dikenalkan pada pendidikan, walaupun tidak semua bisa mengenyam pendidikan karena adanya hegemoni patriarki. Budaya patriarki tidak mengizinkan perempuan untuk melebihi laki-laki walaupun tingkat pendidikan sama. Perempuan pun semakin terjerembab dalam lingkungan patriarki, dengan konsep perempuan konco wingking.
Namun, semakin ke depan, perempuan semakin sadar, bahwa ada yang tidak beres dengan konsep tersebut. Sampai pada era reformasi, dari sinilah awal ketidaksetaraan gender mulai nyaring disuarakan. Paham feminisme bukan lagi menjadi hal yang bisik-bisik untuk dibicarakan. Media, buku, sastra, semua ramai dan tidak ragu mengangkat isu gender dan perempuan. Sehingga semakin mendorong perempuan untuk sadar
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
140
mengenai kesetaraan gender dalam berbagai lini bidang tidak hanya domestik tetapi juga di ranah publik.
Keikutsertaan perempuan dalam wilayah publik bukan tanpa tujuan atau hanya sekadar menyamakan posisi dengan laki-laki. Keberadaan perempuan maju dalam ranah publik, misalnya dalam posisi-posisi penting sebagai pembuat kebijakan, setidaknya diharapkan dapat memajukan tingkat keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik.
Meningkatkan taraf pendidikan dan layanan kesehatan serta program-program lain untuk mempertinggi kualitas hidup dan sumber daya perempuan. Jika perempuan pada posisi pembuat kebijakan maka diharapkan membantu membuat kebijakan-kebijakan yang sadar gender. Di sisi lain, keikutsertaan perempuan dalam ranah publik memiliki tujuan utama, yaitu bekerja, meskipun bekerja bukan menjadi kewajiban perempuan. Akan tetapi, perempuan bekerja karena ia ingin berkembang, ingin mandiri tidak bergantung pada pasangannya.
Perwujudan upaya tersebut tidak mudah bagi perempuan, pasti ada kendalanya. Hambatannya terkait peran dalam keluarga dan tuntutan dari perannya di ranah publik. Pada lingkup domestik, perempuan menjalankan perannya sebagai ibu dan istri, sedangkan dalam lingkup publik, ia memiliki tanggung jawab terkait pekerjaan dan tugas-tugas di ranah publik. Peran ganda adalah risiko yang mau tidak mau harus diambil oleh perempuan ketika terlibat di ranah publik. Apalagi jika pasangan atau suaminya tidak mau berbagi peran ganda tersebut dan tetap menumpahkan peran domestik pada perempuan. Maka, konsekuesinya bisa saja keeratan dalam hubungan anggota keluarga menjadi renggang, misalnya hubungan orang tua dengan anak, anak menjadi kurang perhatian orang tua, karena kedua orang tuanya sibuk.
Perempuan tidak juga harus memilih salah satu, antara domestik maupun publik. Beberapa perempuan tetap memilih menjalankan peran ganda tersebut. Memang peran ganda tersebut tidak bisa dihindarkan, maka dari itu seyogyanya laki-laki menerima berbagi peran domestik tersebut agar tidak semua dibebankan pada perempuan. Jika hal ini terwujud, keterlibatan perempuan dalam lingkup publik akan semakin bertambah. Usaha keikutsertaan perempuan dalam ranah publik maka
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
141
mereka turut serta dalam pembangunan negara ke arah yang lebih baik dan maju.
―Kebebasan Kartini sama dan sebangun dengan kebebasan Kartono. Persis segitiga sama kaki. Mungkin ini harus dinamai pemberdayaan manusia.‖ Sejak gaung emansipasi berkibar di era Kartini, dan akses pendidikan terbuka luas bagi perempuan Indonesia, saat itulah ibaratnya perempuan Indonesia dibangunkan pondasi emansipasi yang terlahir dari inspirasi kaum hawa. Perempuan Indonesia semakin berkembang. Meranah ruang publik, memainkan banyak peran. Sejumlah perempuan menduduki posisi penting, baik di lembaga pemerintah, parlemen, maupun swasta. Tak sedikit perempuan yang tampil di kancah politik, atau menduduki jabatan kepala daerah. Megawati, salah seorang Presiden Republik Indonesia juga seorang perempuan.
Keberadaan perempuan di posisi-posisi penting pembuat kebijakan seperti ini, setidaknya diharapkan dapat memajukan tingkat keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik, meningkatkan taraf pendidikan dan layanan kesehatan serta program-program lain untuk mempertinggi kualitas hidup dan sumberdaya kaum perempuan, meningkatkan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta menyempurnakan perangkat hukum pidana yang lebih lengkap dalam melindungi setiap individu dari kekerasan dalam rumah tangga.
Konstruksi tentang perempuan sering memunculkan dikotomi antara peran domestik dan peran publik. Pada ranah domestik, perempuan mempunyai peran sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ranah publik perempuan juga bekerja dan mencari nafkah. Di era demokrasi, seorang perempuan tidak harus memilih salah satunya, tapi bisa memilih untuk menjalankan keduanya. Tetap berhasil di ruang domestik juga sukses di ruang publik. Jika keduanya dipilih, idealnya kedua peran ini harus bisa berjalan selaras. Mengingat peran domestik adalah pekerjaan yang sama nilainya dengan peran publik.
Dalam konteks peran gender, memang laki-laki dan perempuan seharusnya memiliki hak yang sama. Perbedaan di antara mereka hanya terletak pada fungsi biologis secara kodrati, seperti menstruasi, melahirkan dan menyusui. Selebihnya, tergantung pada kapabilitasnya. Kecerdasan
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
142
berpikir, kemampuan, dan keterampilan menjadi penentu, apakah perempuan atau laki-laki yang layak berperan.
Sayangnya, sosial budaya yang mendarah daging, tak melepaskan para perempuan begitu saja untuk aktif di luar. Kontruksi berpikir masyarakat tentang perempuan yang lemah lembut menjadikan perempuan sebagai sosok yang harus ―diistimewakan‖, sedangkan laki-laki yang tangguh adalah ―pelindung‖. Kontruksi berpikir inilah yang membawa peran perempuan—walaupun berhasil menembus ruang publik—tetap saja hanya bisa bertahan di wilayah abu-abu.
Perjuangan emansipasi sendiri seringkali mengabur oleh para perempuan itu sendiri. Ketika emansipasi kebablasan, rumah tangga menjadi taruhan. Beberapa perempuan disibukkan mengejar karier dan jabatan, hingga lalai bahwa dia juga bertanggung jawab pada keluarga, suami, dan anak-anak. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi ukuran kesuksesan, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjalankan peran ganda, domestik dan publik. Sukses sebagai ibu rumah tangga, pencetus generasi pilihan, dan membentuk keluarga harmonis, lalu sukses di karir. Hal ini bisa menjadi motivasi bagi para perempuan untuk terus berjuang, bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri tegak di tengah-tengah, berperan domestik dan berperan di ruang publik.
Perjuangan ini tentu tak mudah. Dan laki-laki adalah partner terbaik bagi perempuan untuk meraih kesuksesan. Perempuan dan laki-laki semestinya menjadi tim yang solid dan handal, membagi peran bersama dan saling melengkapi. Bagimana pun, setelah berdamai dengan dirinya, perempuan harus menciptakan hubungan gender yang harmonis dengan laki-laki. Akhirnya, kebebasan Kartini sama dan sebangun dengan kebebasan Kartono. Persis segitiga sama kaki. Mungkin ini yang dinamakan pemberdayaan manusia. Perempuan harus memainkan peran yang seimbang di ranah domestik dan publik. Peran sebagai ibu,istri harus seimbang dengan peran perempuan di ranah publik, sebagai guru, dosen, dokter, perawat, polisi, apoteker, akuntan, menteri, maupun sebagai presiden.
Copy Right©2017 | FITK UIN Jakarta
143