• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV INTERPRETASI DATA DAN HASIL PENELITIAN

4.6 Hubungan Agen-Struktur Terhadap Keberadaan Pengobatan

Dalam perubahan sosial yang terjadi di Aek-kanopan terdapat keterlibatan dari pihak-pihak yang menginginkan perubahan.Hal tersebut karena perubahan sosial di Aek-kanopan termasuk perubahan yang prosesnya terjadi dikarenakan keinginan dari masing-masing masyarakat.Pihak yang menyebabkan terjadi perubahan inilah disebut sebagan agen yang memunculkan struktur baru dalam aspek pemilihan jenis pengobatan.

Dalam perubahan sosial ini, terdapat 2 orang yang menjadi agen pencetus perubahan.Agent of change tersebut yakni Bapak AM dan Ibu MM. Kedua orang agen tersebut merupakan hasil dari kondisi struktur awal yang ada di masyarakat Aek-kanopan ketika masih menggunakan pengobatan modern sebagai upaya dalam mendapatkan kesehatan yang kemudian justru merubah struktur tersebut sehingga banyak masyarakat yang beralih kepada jenis pengobatan tradisional.

Agen-agen tersebut dalam melakukan praktik sosialnya merubah pola tindakan masyarakat di Era Modern dalam menggunakan sistem modern di bidang pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh motivasinya yakni ingin memberi pemahaman kepada masyarakat di sekitarnya mengenai manfaat pengobatan tradisional terhadapkesehatan.

Hal ini dibuktikan dari beberapa pengalaman informan.Salah satu informan bernama Ibu DW mengakui alasannya memilih pengobatan tradisional ini adalah dikarenakan dorongan Ibu MM dalam meyakinkannya terhadap keberhasilan pengobatan “Opung”. Seperti yang disampaikan oleh Ibu DW (46) saat wawancara,

“...Ya karna orang pengen sehat, kayak saya aja saya ragu mau operasi makanya saya tanya sama temen saya kemudia saya diketemukan sama bu Marice ini tentang pengobatan yang gak beresiko tinggi. Nah dibawalah saya ke Opung ini. Bu Mice ini yakinkan saya untuk coba pengobatan tradisional kalau takut untuk operasi ke dokter. Karna saya udah sembuh itu kan dek, ada keluarga saya yang dari Kandis, Pekanbaru juga per nah sakit saya saranin ke tempat opung ini...”(wawancara 03 februari 2020)

Argumentasi Giddens mengenai agen dalam perubahan menyatakan bahwa agen perubahan terwujud dari dalam diri individu, bukan berasal dari kehidupan kolektif yang menginginkan perubahan (Giddens (1984), dalam Sztompka 2010:

231). Argumentasi tersebut sebagaimana terjadi pada fenomena perubahan sosial Era Modern di Aek-kanopan terhadap pilihan pelayanan kesehatan,yang mana motivasi agen dalam melakukan perubahan muncul dari dalam diri agen melalui pengetahuannya terhadap pengobatan tradisional yang dilakukan oleh “Opung”

yang baik karena dipengaruhi oleh berbagai masalah dan keluhan masyarakt terhadap pengobatan yang jarang memberikan kesembuhan dalam waktu yang cepat dan tidak menimbulkan efek samping. Seperti yang disampaikan oleh informan bernama Bapak PH (33) yang berhasil sembuh dari penyakit kronis yang dialaminya setelah menjalani perawatan pada pengobatan tradisional “Opung”

saat sesiwawancara.

“...Hampir semua pasien yang datang sama opung itu selalu berhasil. Orang orang yang sakit parah kek saya ini juga bisa sembuh dari penyakitnya. Udah pernah berobat ke pengobatan modern gak ada hasilnya. Habis uang, tenaga sama waktu juga gak ada kemajuan. Makanya kebanyakan orang kanopan ini masih gunai pengobatan tradisional...”(wawancara 06 februari 2020).

Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak TS (45) saat wawancara.

“...Wajarlah pengobatan ini masih banyak dipake masyarakat karna rata- rata orang yang sakit parah pun bisa sehat kalau berobat kesini. Bahkan pesan saya juga kalau bisa mata dunia melihat pengobatan ini lebih daripada medis.saya juga beruntung karen pak alwin selaku kepalalingkungan memperluas informasi pengobatan ini. Dia juga dulu pernaah sakit dan sehat setelah samaopungini ”

Dari tindakan agen terhadap strukturnya tersebut, sehingga struktur yang telah lama ada mengalami perubahan sebagai akibat dari munculnya kesadaran praktis di masyarakat setelah dilakukan pembiasaan oleh agen.Dalam konteks ini, agen dibentuk dan membentuk struktur. Sementara agen dikatakan membentuk struktur karena melalui upaya yang dilakukannya telah membawa kondisi masyarakat yang berada di Era Modern kembali pada back to nature terhadap upaya dalam memperoleh kesehatannya karena adanya reproduksi struktur dengan berbagai praktik sosial baru yang diciptakannya melalui rutinitas kehidupan masyarakat terhadap aspek mendapatkan pelayanan kesehatan.

Dengan meminjam gagasan interaksionisme simbolik Goffman, Giddens mengajukan argumen bahwa sebagai pelaku, kita punya kemampuan untuk introspeksi dan mawas diri (reflexive monitoring of conduct).Perubahan terjadi ketika kapasitas memonitor (mengambil jarak) ini meluas sehingga berlangsung

‘de-rutinisasi’. Derutinisasi menyangkut gejala bahwa skemata yang selama ini menjadi aturan (rules) dan sumber daya (resources) tindakan serta praktik sosial kita tidak lagi memadai untuk dipakai sebagai prinsip pemaknaan dan pengorganisasian berbagai praktik sosial yang sedang berlangsung ataupun yang sedang diperjuangkan agar menjadi praktik sosial yang baru.

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa terdapat praktik sosial

tindakan seperti apa yang telah diperlihatkan oleh agen tersebut. Dengan kata lain, tindakan manusia adalah sebuah proses memproduksi dan mereproduksi sistem- sistem sosial yang beraneka ragam. Sehingga interaksi antar individu dapatmenciptakan struktur yang memiliki range dari masyarakat yang lebih besar dan institusi budaya yang lebih kecil yang masuk dalam hubungan individu itu sendiri. Individu yang menjadi komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada peraturan untuk meraih tujuan mereka dan tanpa sadar menciptakan struktur baru yang mempengaruhi aksi selanjutnya.Hal ini karena pada saat individu itu bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhannya, tindakan tersebut menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences) yang memapankan suatu struktur sosial dan mempengaruhi tindakan individu itu selanjutnya.

Hal ini terlihat berdasarkan pengalaman informan yang memilih pengobatan tradisional dalam mendapatkan kesembuhan terhadap penyakit yang dialami.

Seperti yang telah disampaikan oleh Ibu DW (46) saat wawancara,

“...kayak saya aja saya ragu mau operasi makanya saya tanya sama temen saya kemudian saya diketemukan sama bu Marice ini tentang pengobatan yang gak beresiko tinggi. Nah dibawalah saya ke Opung ini. Bu Mice ini yakinkan saya untuk coba pengobatan tradisional kalau takut untuk operasi ke dokter...”(wawancara 03 februari2020).

Menurut Ibu DW tindakannya dalam memutuskan untuk melakukan pada pengobatan tradisional didasarkan atas motivasi dan dorongan yang dilakukan oleh Ibu MM. Hal ini dikarenakan berdasarkan penuturannya Ibu MM adalah pasien yang berhasil dari penyakit kronisnya karena melakukan penyembuhan penyakit pada pengobatan tradisional Opung. Oleh karena itu beliau merasa terpengaruh dan muncul rasa yakin dalam dirinya bahwa iabisa sembuh apabila

Banyaknya pasien yang berhasil sembuh setelah berobat pada Opung sehingga mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan yang sama pula. Seperti yang dituturkan oleh informan lainnya yaitu Bapak PH (33) saatwawancara,

“...Iya karna udah banyak yang berhasil kan, jadi saya yakin bisa sehat kalau berobat kesini. Karna kan yang berhasil diobati opung bukan hanya satu sampai dua orang saja...”(wawancara 06 februari 2020).

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa tindakan-tindakan yang berulang-ulang dari agen-agen lah yang mereproduksi struktur tersebut.Dimana truktur masyarakat yang berada di Era Modern tidak merasa takut dianggap aneh karena bersikap back to nature dalam mengambil langkah untuk mendapatkan kesehatan dengan berobat pada pengobatan tradisional.Bahwa agen pelaku ini memiliki alasan atas aktivitasnya dan melalui akivitas-aktivitasnya itulah, agen- agen mereproduksi kondisi-kondisi yang memungkinkan dilakukannya aktivitas- aktivitas itu.

Dalam hal ini kesadaran selanjutnya yang terbentuk oleh masyarakat baik secara diskursuf maupun praktis ditunjukkan dalam bentuk mengikuti melakukan pengobatan pada pengobatan tradisional Opung dengan tujuan untuk dapat mendapatkan kesehatan.Selanjutnya, masyarakat dapat mempunyai pengetahuan terhadap manfaat pengobatan tradisional terhadap kesehatan.Hal inilah memunculkan rasa aman dalam menggunakan ramuan obat tradisional masyarakat dapat terbentuk atas pemahaman setelah menjalani perawatan.Namun, tentunya bergantung pada masing-masing pasien. Bentuk kesadaran masyarakat sebagai pasien dalam memahami keberadaan pengobatan tradisional dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan menjadikan pengobatan tradisional sebagai

pilihan mereka dalam mengatasi penyakit ataupun dengan menyebarkan informasi manfaat pengobatan tradisional Opung secara luas kepada masyarakat lainnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Perilaku peran sakit pasien memunculkan realitas keberadaan fungsi maupun fisik dari pengobatan tradisional Opung masih diterima dan digunakan hingga Era modern saat ini.Adanya tindakan yang dilakukan oleh orang sakit mulai dari mencari, menemukan sampai dengan melakukan perawatan pada suatu jenis pengobatan dikarenakan untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan harapan untuk kembali sehat.Minimnya minat masyarakat dalam melakukan pengobatan modern dikarenakan alasan keraguan terhadap medis, rasa jenuh terhadap pelayanan yang diberikan sampai dengan rasa rugi yang didapatkan setelah melakukan perawatan pada sistem pengobatanmodern.

Realitas dari perilaku orang sakit ini menyebabkan eksistensi pengobatan tradisional tidak tergilas keberadaanya meskipun berada di Era Modern seperti sekarang ini.Baik disadari ataupun tidak dengan memilih pelayanan kesehatan seperti pengobatan tradisional Opung sebagai media untuk mengatasi penyakit yang sedang diderita hal tersebut menjadikan pengobatan yang sudah ada sejak zaman dahulu tidak lekang oleh waktu.Dalam kasus ini berbagai upaya yang dilakukan oleh orang sakit mulai dari menggunakan pengobatan modern sampai dengan pengobatan tradisional tujuannya hanya satu yaitu untuk mendapatkan kesehatan. Ketika tidak mendapatkan kesembuhan juga setelah menjalani perawatan pada satu jenis pengobatan maka orang sakit ini akan mencari segala cara hingga menemukan pengobatan yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kemunculan agen yang melakukan motivasi ataupun menyebarkan informasi keberhasilan pengobatan tradisional Opung dalam menangani setiap pasiennya menyebabkan rasa yakin dan percaya orang lainuntuk melakukan penyembuhan penyakit pada pengobatan tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh agen-agen inilah yang menyebakan muncul sikap back to nature masyarakat sehingga pengobatan tradisional terus digunakan oleh penduduk Aek-kanopan dalam mengatasi penyakit yangdiderita.

Aspek-aspek yang menjadi pertimbangan agen tersebut seperti respon masyarakat sekitar terhadap upaya yang dilakukannya serta prediksi dari tindakannya di masa mendatang. Jika dirunut berdasarkan ruang dan waktu, praktik sosial yang dilakukan oleh agen dalam proses perubahan dimulai melalui tahap dimana agen sembuh dari penyakitnya kemudian memberi contoh melalui tindakan yang dilakukan agen secara berulang dan berupa ajakan agen kepada masyarakat sekitarnya, mulai dari lingkup tetangga terdekatnya hingga lingkup yang lebih luas agar mengikuti tindakannya. Penjelasan oleh agen tersebut dimaksudkan agar masyarakat dapat menerima pemikiran dan tindakan yang dicontohkan oleh agen yang didasari keinginan agen tersebut. Agen tersebut tidak akan mudah terpengaruh dengan adanya pihak-pihak yang kontra, tetapi justru mendekati pihak-pihak tersebut secara rutin dan intensif agar kemudian dapat bekerjasama.

Eksistensi pengobatan tradisional Opung di tengah-tengah serbuan obat- obatan modern tetap terjaga.Hal itu terbukti dari sikap masyarakat yang tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam melakukan penyembuhan penyakit.

Pengobatan tradisional Opung dikonsumsi tidak hanya dari penduduk kota Aek-

kanopan saja tetapi dari berbagai luar wilayah Aek-kanopan juga datang untuk melakukan pengobatan. Sementara itu, tren gaya hidup sehat yang saat ini berkembang membuat masyarakat juga semakin yakin dan mengkonsumsi kembali produk yang berasal dari alam. Oleh karena itu, tidak heran bahwa meskipun berada di Era Modern saat ini masih banyak masyarakat yang menggunakan sistem pengobatan tradisional mulai dari berobat pada pengobat tradisional sampai dengan mengkonsumsi sendiri obat herbal seperti jamu atau obat tradisionallainnya.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian mengenai perilaku peran sakit terhadap keberadaan pengobatan tradisional sehingga pada akhirnya saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah sebagaiberikut:

1. Pemerintah

Kepada pemerintah yang dalam hal ini menangani pelayanan kesehatan agar lebih memajukan pelayanan kesehatan tradisional agar dapat diketahui dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.Serta memperhatikan kualitas pelayanan kesehatan modern mulai dari tenaga medis sampai dengan fasilitas medis sehingga tidak lagi muncul ketakutan dan kerugian yang dirasakan oleh masyarakat dalam melakukan pengobatan sehingga kedua sistem pelayanan kesehatan baik modern ataupu tradisional dapat berjalan denganbaik.

2. Tenaga Medis

Untuk tenaga medis agar lebih meningkatkan kualitas diri di bidang ilmu kesehatan dalam mengobati pasien agar kejadian seperti mall praktek

tidaklagi dirasakan oleh masyarakat yang sedang berada dalam kondisi sakit.Sehingga tidak ada lagi keraguan masyarakat terhadap ilmu medis.

3. Dinas Kesehatan Kabupaten LabuhanbatuUtara

Perlu melakukan upaya peningkatan kesadaran tentang efektifitas pengobatan tradisional dalam pengobatan kepada masyarakat serta perlu Meningkatkan Pengawasan terhadap pengobatan tradisional.

4. PenelitiSelanjutnya

Dari penelitian yang telah dilakukan ini, peneliti lain berpeluang melanjutkan penelitian tentang Perilaku Peran Sakit Masyarakat Terhadap Keberadaan Pengobatan Tradisional. Sehingga didapatkan temuan tentang peran mereka sebagai pasien terhadap eksistensi pengobatan tradisional di Era Modern yang selanjutnya bisa dilakukan strategi-strategi intervensi yang mampu menumbuhkan image yang positif bagi pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Aida Vitayala S. Hubeis, 2010. Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa.

IPB Press, Bogor.

Giddens, Anthony :

(2010a). Metode sosiologi: Kaidah-k aidah baru.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(2010b). Teori strukturasi: Dasar-dasarpembentukan struktursosial di masyarakat. Yogyakarta: PustakaPelajar.

(2003). The Constitution of Society : Teori Strukturasi Untuk Ananlisis Sosial.

Pasuruan : Pedati

Gitawati, Nugroho & Winarno. (2008). Gambaran Pemanfaatan Pengobat Tradisional dan Hubungannya dengan Akses Pelayanan Kesehatan di Indonesia.

Laporan Analisis Lanjut. Puslitbang Biomedis dan Farmasi. Depkes. Jakarta Lubis, Syahruddin,D.K.K (1995). PengobatanTradisionalPada Masyarakat Pedesaan Sumatera Utara.Depdikbud

Moleong, Lexy J . (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, Edisi Revisi.

Muzaham Fauzi. (1995). Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan.Jakarta: UniversitasIndonesia

Niven, Neil. (2002). Psikologi Kesehatan: Pengantar untuk Perawat dan Profesional Kesehatan Lain, E/2. EGC: Jakarta

Priyono, H.B. (2003). Anthony Giddens: suatu pengantar. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Ritzer, G dan D.J. Goodman. (2003). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Prenada Media. Diterjemahkan dari Moder Sociological Theory. Sixth Edition Ritzer,George Dan Goodman. (2008). Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Kencana Sudarma, Momon. (2008). Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Suyanto. Sutinah. (2005). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif. Pendekatan. Yogyakarta:Pustaka.

Strauss Anselm Dan Juliet Corbin. (2003). Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syani, A. (2007). Sosiologi skematika, teori, dan terapan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sztompka, P. (2010). Sosiologi perubahan sosial. Jakarta: Prenada.

White, Kevin. (2012). Pengantar Sosiologi Kesehatan Dan Penyakit. Jakarta:

RajawaliPers.

Yusuf Lubis, Akhyar (2014). Postmodernisme: Teori Dan Metode. Jakarta:

RajawaliPers.

Jurnal

Avonina, S.(2006). Apa yang dimaksud dengan pengetahuan tradisional?

Konvergensi. 9: 14-19.

Darni. (2018). Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat Ti.dung Kota Tarakan:Study Kualitatif Kearifan Lokal Bidang Kesehatan. Jurnal pengobatan tradisional 16(1):32.

Ervina Lisna. (2018). Peran Kepercayaan Terhadap Penggunaan Pengobatan Tradisional Pada Penderita Hipertensi Di Kota Bengkulu. Jurnal Perilaku Dan Promosi Kesehatan (1):7.

Jauhari, Utami, dan Padmawati. (2008). Motivasi dan Kepercayaan Pasien untuk Berobat ke Sinse. Berita Kedokteran Masyarakat. 24 (1).

Setiawan Irvan. (2018). Pengobatan Tradisional Di Desa Lemahabang Kulon,Kec.Lemahabang,Kab.Cirebon. Jurnal Pengobatan Tradisional. 10(1):9.

Skripsi

Lifawati.(2015). Praktik Pengobatan Tradisional BIBI Pada Masyarakat Desa Pagergunung Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara (skripsi). Semarang (ID): Universitas Negeri Semaran

LAMPIRAN INTERVIEW GUIDE Profil Informan

Nama :

Usia :

Jenis Kelamin :

Agama :

Pendidikan : Alamat : Pekerjaan :

I. Perilaku Sakit Pasien Untuk Mendapatkan Kesehatan

1. Apa yang membuat anda melakukan penyembuhan penyakit pada pengobatantradisional?

2. Kapan pertama kalinya anda melakukan pengobatantradisional?

3. Apa yang anda rasakan setelah pertama kali melakukan pengobatan tradisional?

4. Apa yang membuat anda melakukan penyembuhan penyakit pada pengobatantradisional?

5. Apa sajakah usaha yang dilakukan anda dalam mendapat status sehat selain melakukan pengobatantradisional?

II. EksistensiPengobatanTradisionalDitengahKecanggihan Pelayanan Kesehatan

1. Mengapa anda memilih melakukan pengobatan tradisional “Opung”

di tengah berbagai kecanggihan pelayanan kesehatan yang ada di Aek- kanopan?

2. Bagaimana cara anda sehingga mengetahui pengobatan tradisional

“Opung”ini?

3. Adakah kendala yang anda alami dalam melakukan pencarian pengobatan tradisional“Opung”?

-Jika ada, kendala apa itu”

-Bagaimana cara anda mengatasi kendala tersebut?

4. Pernahkan anda merasa dirugikan setelah melakukan pengobatan modern sehingga beralih pada pengobatan tradisional“Opung”?

- Apa penyebabnya?

- Bagaimana cara anda menanggapi atas kerugian yang dialami?

5. Adakah perbedaan tingkat keberhasilan pengobatan modern dan pengobatan tradisional yang anda rasakan sebagaipasien?

6. Apakah anda mengetahui keberaadaan pengobatan tradisional

“Opung” ini?

7. Bagaimana tanggapan anda terhadap keberadaan pengobatan tradisional “Opung”?

8. Apakah pengobatan ini sudah tercatat resmi dalam bidang BATTRA di Dinas Kesehatan Laburaini?

9. Apakah pernah ada masyarakat yang melakukan laporan atas

buruknya pengobatan tradisional “Opung”ini?

III. Peran Sakit Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional “Opung”

1. Berapa banyak pasien yang berobat dalam setiapbulannya?

2. Bagaimana tanggapan anda terhadap pasien yang memilih berobat pada pengobatan tradisional dalam membuat keberadaan pengobatan tradisional tetap ada hinggasekarang?

3. Apakah anda menyebarkan informasi pengobatan ini secara luas di masyarakat?

4. Apakah pasien yang datang berobat dikarenakan adanya informasi bahwa pengobatan ini cenderungberhasil?

5. Bagaimana tanggapan anda terhadap pasien yang menyebarkan keberhasilan pengobatan ini kepada masyarakat lainnya?

IV. Metode Pengobatan Yang Dilakukan Oleh“Opung”

1. Apakah semua pasien yang datang beraneka ragam tingkatannnya, seperti penyakit ringan, kronis ataupun penyakitakut?

2. Apakah anda mampu mengatasi semua jenis penyakit yang dikeluhkan oleh setiap pasien yangdatang?

3. Apakah anda memberikan tarif pengobatan pada pasien yangdatang?

4. Apakah pernah ada pasien yang melakukan protes setelah melakukan pengobatan?

5. Bagaimanakah metode atau cara anda dalam melakukan penyembuhan penyakit padapasien?

6. Apakah pasien yang datang tergolong dalam kalangan menegah kebawahsaja?

7. Apakah anda pernah mengalami kesulitan dalam melakukan penyembuhanpenyakit

DOKUMENTASI FOTO

Foto 1: Metode Opung Dalam Mengobati Pasiennya

Foto 2: Wawancara Dengan Pasien Pengobatan Opung

Foto 3: Wawancara Dengan Pasien Yang Beralih Dari Pengobatan Modern Ke Pengobatan Tradisional

Foto 4: Pasien Pengobatan Tradisional Opung

Foto 5: Tanaman Herbal Pengobatan Opung

.

Dokumen terkait