BAB I PENDAHULUAN
1.5 Definisi Konsep
1.5.2 Pengobatan Tradisional
Pengobatan tradisional dapat dinyatakan sebagai suatu tindakan individu sebagai salah satu alternatif dari banyaknya pilihan pengobatan.Obat-obatan tradisional yang terbuat dari tumbuhan tersebut mudah didapat di sekitar tempat tinggal dan juga secara ekonomi terjangkau bila dibandingkan dengan obat dan pengobatan modern saat ini.Selain itu, obat-obat tradisional relatif aman karena tidak dicampur dengan bahan kimia sehingga tidak berefek samping seperti halnya obat-obatan modern.
Pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif adalah salah satu upaya pengobatan ataupun perawatan diluar ilmu kedokteran yang mencakup cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, berguru, magang ataupun pendidikan pelatihan baik yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Dalam konteks penelitian ini pengobatan tradisional yang dimaksud merupakan bentuk pilihan pengobatan yang diminati masyarakat sebagai upaya untuk mendapatkan status sehat kembali.Pengobatan tradisional dianggap mampu menciptakan kualitas penyembuhan yang baik dari berbagai macam penyakit yang diderita oleh masyarakat.Bentuk pengobatan yang dianggap efektif serta mampu memenuhi harapan mereka yang sakit untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala.Sehingga kecenderungan masyarakat dalam melakukan pengobatan pada pengobatan tradisional juga dianggap mampu mengimbangi keberadaan fasilitas pelayanan dan tenaga kesehatan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep PeranSakit
Istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam suatu pertunjukan teater, seseorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam kedudukannya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu.
Peran berarti tindakan seseorang karena memiliki status di dalam masyarakat.Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.Untuk mengobati penyakit, jika penyakit tertentu telah dipastikan, agar sembuh dan sehat seperti sedia kala atau agar penyakit tidak bertambah parah dinamakakan sebagai peran sakit (Muzaham, 1995).Peran sakit dapat dikatakan suatu tindakan atau upaya-upaya yang dilakukan penderita (orang sakit) untuk memperoleh pengobatan sampai dengan kesembuhan.Menurut Kasl dan Cobb dalam Niven (2002), mengemukakan peran sakit (sick role behavior) adalah aktivitas untuk mendapatkan kesejahteraan oleh individu yang sakit.
Dalam kehidupan bermasyarakat, peran merupakan konsekuensi dari status seseorang.Status pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter. Ketika masyarakat masyarakat menjadi pasien karena menderita suatu penyakit maka sebagai konsekuensi dari statusnya sebagai pasien adalah terdapat peran sakit di dalamnya. Dengan berbagai jenis penyakit yang dideritanya, setiap pasien menunjukkan perilaku yang berbeda dihadapan tenaga medis.Perspektifsosiologimenyebutnya sebagai
fenomena peran sakit dalam perilaku kesehatan masyarakat.Biasanya seseorang terlibat dengan kegiatan medis salah satumya dikarenakan alasan untuk mengobati penyakit, jika penyakit tertentu telah dipastikan, agar sembuh dan sehat seperti sedia kala, atau agar penyakit tidak bertambah parah (peran sakit-stick role behavior).Bahwa bagi orang sakit, peran sakit tidak selalu menyangkut kunjungan ataupun konsultasi pada tenaga kesehatan profesional. Sudibyo Supardi merinci enam peran sakit dimasyarakat, yaitu (Sudarma 2008: 66):
1. Sakit sebagai upaya menghindari tekanan. Sebuah keluarga dengan enam anak tinggal di rumah sempit yang kumuh. Suatu hari datang adik-adik suaminya ikut tinggal bersamanya untuk mencari pekerjaan. Istri merasa wajib memberi makan dan tempat tidur yang layak bagi mereka. Namun, pada saat yang sama istri merasakan keterbatasan uang dan ruang gerak aktivitas serta dituntut untuk lebih memerhatikan anaknya. Beberapa hari kemudian ia terbaring sakit di rumahnya. Atas anjuran para saudaranya, maka adik-adik suaminya pindah. Setelah diobati istinya sembuh kembali.
Melalui peran sakit inin , maka keluarga tersebut dapat terhindar dari ketegangan yang dapat merusak lembagakeluarga.
2. Sakit sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian. Masyarakat menekankan pentingnya orang sakit mendapatkan perhatian khusus, tempat khusus, makanan, khusus, dan sebagainya. Bagi orang yang merasa kesepian atau tidak yakin atas penerimaan orang lain akan dirinya, maka salah satu cara pelepasannya dilakukanmelalui peransakit.
Melaporkan sakit kepada pelayanan medis merupakan kebutuhan
lingkungan sosialnya.
3. Sakit sebagai kesempatan untuk istirahat. Bagi orang yang banyak mengalami ketegangan di kantor atau di rumah , peran sakit merupakan salah satu pilihan. Beberapa orang dapat menikmati masa istirahat beberapa hari dan bebas dari ketergantungan rutin melalui rawat inap di rumah sakit dengan biayakantor.
4. Sakit sebagai alasan kegagalan pribadi. Peran sakit juga guan sebagai alasan ketidakmampuan menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan, upaya menghindari tanggung jawab atau pembenaran diri. Seorang karyawan yang diharuskan menyelesaikan tugas pada waktu tertentu, tiba-tiba memilih peran sakit agar atasan atau orang lain dapat memaklumi tugasnya yang tidak selesai.
5. Sakit sebagai penghapus dosa. Masyarakat tertentu percaya bahwa sakit merupakan akibat dosa yang dilakukan sebelumnya. Sakit merupakan hukuman Tuhan untuk menghapus dosa yang telah dibuat hamba-Nya.
Melalui peran sakit, Tuhan memberi kesempatan pada seseorang untuk menyesali dosa yangdiperbuatnya.
6. Sakit untuk mendapatkan alat tukar. Karyawan yang mendapat penggantian ongkos berobat, sering mengumpulkan obat melalui peran sakit. Setelah mendapatkan sejumlah obat berikut aturan pakainya, ia menyimpan obat tersebut untuk digunakan sebagai alat tukar untuk berbagaikeperluannya.
2.2 Konsep PerilakuSakit
Seseorang yang sedang sakit pada umumnya mempunyai perilaku yang berdasarkan sudut pandang sosiologi kesehatan disebut dengan perilaku sakit.
Perilaku sakit mencakup tentang cara seseorang memantau tubuhnya, mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialaminya, melakukan upaya penyembuhan dan menggunakan sistem pelayanan kesehatan. Cara seseorang bereaksi terhadap gejala-gejala penyakit dinamakan sebagai perilaku sakit (illness behavior). Perilaku sakit yaitu aktivitas apapun yang dilakukan oleh individu yang merasa sakit, untuk mendefinisikan keadaan kesehatannya dan untuk menemukan pengobatan mandiri yang tepat (Sudarma, 2008 :53). Perilaku ini dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat terhadap gejala penyakit tersebut dan keyakinan terhadap cara pengobatan yang akan ditempuh mereka. Perilaku ini merupakan manifestasi dari sebuah konsep pikir manusia tentang arti sehat dan sakit.Setiap orang mempunyai konsep sendiri-sendiri tentang apayang disebut sebagai sakit. Konsep sehat dan sakit yang dimiliki oleh orang per orang akan terlihat pada cara mereka mencari pengobatan ( health seeking ) untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Pola pencarian pengobatan setiap orang bisa berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya tentang bidang kesehatan danpengobatan.
Teori Suchman memberikan batasan perilaku sakit sebagai tindakan untuk menghilangkan rasa tidak enak (discomfort) atau rasa sakit sebagai dari timbulnya gejala tertentu. Menurutnya, ada limamacam reaksi dalam proses mencari pengobatan, antara lain:
1. Shopping, yaitu proses mencari altenatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai denganharapan.
2. Fragmentation, yaitu proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama.
3. Procrastination, yaitu proses penundaan pencarian pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudahdirasakan.
4. Self medication, yaitu pengobatan sendiri dengan menggunakan berbagai macam ramuan atau obat-obatan yang dinilai tepatbaginya.
5. Discountinuity, yaitu penghentian prosespengobatan.
Suchman dalam (Sudarma, 2008: 56) yang membagi tindakan mengenai tanggapan atas penyakit atau keadaan sakit:
1. Mencari pertolongan medis dari berbagai sumber atau pemberian layanan, individu bisa saja melakukan pengobatan ke rumah sakit atau ke pengobatantradisional.
2. Melaksanakan perawatan medis disaat orang menerima pelayanan dari berbagai unit tetapi pada lokasi yang sama. Dalam hal ini individu yang sakit dapat melakukan dua upaya pengobatan sekaligus yakni pengobatan modern dan pengobatan tradisional namun tidak dalam tempat yangberjauhan.
3. Melakukan pengobatan sendiri, dalam hal ini individu juga dapat memakai obat modern ataupun obattradisional.
4. Menghentikanpengobatan.
2.3 Teori Agen DanStruktur
Salah satu teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah teori strukturasi yang berusaha mencari ”jalan tengah” mengenai dualisme yang menggejala dalam ilmu-ilmu sosial. Konsep ini menunjukkan bahwa agen manusia secara kontinyu mereproduksi struktur sosial, artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial (Giddens, 2010: 53). Struktur seperti ekspektasi hubungan, kelompok peran dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi sosial baik pengaruh dan mempengaruhi oleh aksi masyarakat.
Struktur-struktur di sini memfasilitasi secara individu dengan aturan-aturan yang memandu aksi mereka, tetapi aksi mereka menciptakan aturan-aturan baru dan mereproduksi yanglama.
Interaksi dan struktur dekat dengan kata lain kita melakukan untuk melengkapi intensi kita tetapi pada waktu yang sama, aksi kita memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences) membangun struktur yang mempengaruhi aksi ke depan kita. Sejatinya yang menjelaskan bagaimana struktur bisaterbentuk melalui perulangan praktik sosial adalah kesadaran.Giddens berpandangan dualisme yang terjadi antara agen-struktur terjadi karna struktural-fungsional, yang menurutnya terjebak pada pandangan naturalistik.Pandangan naturalistik mereduksi aktor dalam stuktur, kemudian sejarah dipandang secara mekanis, dan bukan suatu produk kontingensi dari aktivitas agen.Sedangkan konstruksionisme-fenomenologis, yang baginya disebut sebagai berakhir pada imperialisme subjek. Oleh karenanya iaingin mengakhiri klaim-klaim keduanya dengan cara mempertemukan kedua aliran tersebut.
Konsep ini menyatakan bahwa manusia adalah proses pengambilan dan
meniru beragam sistem sosial. Dengan kata lain, tindakan manusia adalah sebuah proses memproduksi dan mereproduksi sistem-sistem sosial yang beraneka ragam.
Interaksi antar individu dapat menciptakan struktur yang memiliki range dari masyarakat yang lebih besar dan institusi budaya yang lebih kecil yang masuk dalam hubungan individu itu sendiri. Individu yang menjadi komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada peraturan untuk meraih tujuan mereka dan tanpa sadar menciptakan struktur baru yang mempengaruhi aksi selanjutnya.Hal ini karena pada saat individu itu bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhannya, tindakan tersebut menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences) yang memapankan suatu struktur sosial dan mempengaruhi tindakan individu itu selanjutnya.
Struktur dinyatakan seperti hubungan pengharapan, kelompok peran dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi sosial dimana keduanya berpengaruh dan dipengaruhi oleh aksi sosial.Struktur menfasilitasi individu dengan aturan yang membimbing tindakan mereka.Akan tetapi, tindakan mereka juga bertujuan untuk menciptakan aturan-aturan baru dan mereproduksi yang lama. Teori strukturasi memandang, bahwa masyarakat manusia atau sistem-sitem sosial, terus terang tidak akan ada tanpa agensi manusia, namun bukan berarti aktor-aktorlah yang menciptakan sistem sosial, aktor-aktor mereproduksi atau mengubahnya dengan jalan menata kembali apa yang telah ada dalam kontinuitas praksis (Giddens, 2010:212). Manusia menurut teori ini yaitu agen pelaku memiliki alasan-alasan atas aktivitas-aktivitasnya dan mampu menguraikan alasan itu secaraberulang-ulang.
Aktivitas-aktivitas sosial manusia ini bersifat rekursif dengan tujuan agar
aktivitas-aktivitas sosial itu tidak dilaksanakan oleh pelaku-pelaku sosial tetapi diciptakan untuk mengekspresikan dirinya sebagai aktor ataupun pelaku secara terus menerus dengan mendayagunakan seluruh sumberdaya yang dimilikinya.Dalam hal ini agen menggunakan aturan-aturan untuk memperkuat tindakannya.Dalam satu kelompok yang telah terbentuk strukturnya, masing-masing individu saling membicarakan satu topik tertentu.Dalam strukturasi, hal ini tidaklah direncanakan dan merupakan konsekuensi yang tidak diharapkan dari perilaku dan anggota-anggota kelompok.Norma atau aturan yang ada diinterpretasi oleh tiap individu dan menjadi arahan tingkah laku mereka.
Kekuatan yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan dan mempengaruhi tindakan orang lain.
2.4 PenelitianTerdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang berhubungan dengan pengobatan tradisional diantaranya sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Lifawati (2015) yang berjudul praktik Pengobatan Tradisional Bibi Pada Masyarakat Desa Pagergunung Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pengobatan tradisional Bibi sebagai salah satu pengobatan lokal pada masyarakat Pagergunung. Upaya penyembuhan sakit yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pagergunung sebagian besar datang ke pengobatan tradisonal Bibi. Pengobatan tradisonal ini merupakan salah satu pengobatan lokal yang sudah ada sejak zaman dulu dan turun temurun. Pengobatan ini telah dipercayaimasyarakatsebagai
salah satu upaya penyembuhan sakit yang disebabkan oleh gangguan roh halus maupun kekuatan ghaib lainnya. Adapun faktor yang melatarbelakangi masyarakat Pegargunung berobat ke pengobatan Bibi adalah faktor pengalaman individu danlingkungan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hendy Lesmana (2018) yang berjudul Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat Tidung Kota Tarakan: Study Kualitatif Kearifan Lokal Bidang Kesehatan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa masyarakat Tidung salah satu yang masih menggunakan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Baik dari kategori penyakit ringan, sedang, sampai dengan berat. Kearifan lokal masyarakat Tidung dalam menggunakan pengobatan tradisional dengan menggunakan berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan dan rempah yang merupakan resep turun temurun dari leluhur yang tetap dilestarikan. Tidak hanya memanfaatkan tumbuh-tumbuhan tetapi juga dengan menggunakan supranatural baik dengan menggunakan air putih yang diberikan mantra untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada. Kearifan lokal bidang kesehatan pasien dewasa yang ada di masyarakat tidung Kota Tarakan berupa tindakan ataupun keterampilan adalah pijat/urut yang menggunakan bahan atau ramuan alami dengan menggunakan teknik pijat tertentu. Kemampuan ini biasa didapat dari warisan turun temurun. Cukup banyak kearifan lokal bidang kesehatan pada pasien dewasa yang ada di masyarakat tidung Kota Tarakan berupa ramuan herbal dimana pengobat tradisionalsukutidungbanyakmengetahuibagaimanameramubahanatau
tumbuhan untuk dijadikan obat. Hanya saja belum memiliki takaran atau dosis yang jelas sehingga efektivitas dan efek sampingnya sulit untuk dinilai. Masih dijumpai pengobatan tradisional berupa bacaan, mantra atau doa-doa sesuai syariat islam dengan mengkombinasikan bahan atau ramuan yang disertai jampi-jampi atau doa diyakini dapat menyembuhkan penyakit atau cedera. Masyarakat tidung sangat menjunjung tinggi nilai-nilai sosio-budaya dan kearifan lokal. Dalam tradisi budaya lokal masyarakat tidung juga dikenal dengan ritual-ritual pengobatan yang bertujuan untuk menyembuhkan segala penyakit, baik penyakit yang berasal dari Tuhan maupun penyakit yang berasal dari sendiri dan orang lain. Menurut penelitian ini masyarakat percaya bahwa mereka lahir, hidup dan mati menurut kehendak alam, mereka percaya bahwa kekuatan gaib dapat mempengaruhi hidupnya mereka setiap waktu terutama kesehatannya. Mereka percaya bahwa seseorang menjadi sakit karena perbuatan makhluk halus dan dukun mempunyai mantra-mantra yaitu ucapan yang mengandung kekuatan magis untuk menawarkan kekuatan- kekuatan makhluk halus penyebab seseorang menjadisakit.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Lissa Ervina (2018) yang berjudul Peran Kepercayan Masyarakat Terhadap Penggunaan Pengobatan Tradisional Pada Pendeita Hipertensi Di Kota Bengkulu. Hasil penelitian ini menemukan bahwa 68,4% penderita hipertensi memiliki kepercayaan tinggi terhadap pengobatan tradisional serta mengungkapkanbahwa81,1%bahwapenderitahipertensiberpendidikan rendah yang memanfaatkan pengobatan tradisional. Selain itu bahwa ada
66,8% penderita hipertensi menggunakan pengobatan tradisional. Sebagian besar responden berumur 55 tahun, berjenis kelamin perempuan dan berpendidikan tinggi. Sebanyak 68,4% penderita hipertensi memiliki kepercayaan tinggi terhadap pengobatan tradisional. Pengalaman keluarga dan biaya murah menjadi alasan yang paling banyak dinyatakan oleh penderita ketika memilih pengobatan tradisional.Selain itu faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan pengobatan tradisional pada penderita hipertensi adalah pendidikan dan kepercayaan. Tetapi disini kepercayaan bukan merupakan variabel yang dominan, melainkan tingkat pendidikan penderita yang mempengaruhi penggunaan pengobatantradisional.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Irvan Setiawan (2018) yang berjudul Pengobatan Tradisional Di Desa Lemahabang Kulon, Kec. Lemahabang, Kab. Cirebon. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa selain kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta pendidikan, kesehatan juga merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena dengan kondisi kesehatan yang baik dan kondisi yang prima, manusia dapat melaksanakan proses kehidupan, tumbuh dan menjalankan aktivitasnya dengan baik. Apabila terjadi suatu keadaan sakit atau gangguan kesehatan, maka obat akan menjadi suatu bagian penting yang berperan aktif dalam upaya pemulihan kondisi sakit tersebut. Dalam hasil penelitian ini dinyatakan bahwa pengobatan tradisional baik dalam bentuk pengobatan herbalmedicine, terapi, pijat,terapipsikis, dan terapi spiritual yang dilakukan oleh para informan di lokasi penelitian menjadi salah satu alternatif penyembuhan
sakit yang diderita pasien. Sistem pengobatan modern yang terkadang membutuhkan biayas cukup besar tidak akan dapat dipenuhi oleh pasien yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Dengan adanya sistem pengobatan tradisional, setidaknya pasien tersebut akan mampu untuk membiayai atau bahkan membuat sendiri ramuan yang dianjurkan oleh pengobattradisional.
Dari ke empat penelitian terdahulu mengenai pengobatan tradisional terdapat banyak faktor yang menjadikan masyarakat memilih pengobatan tradisional seperti adanya faktor kepercayaan, faktor murahnya biaya pengobatan, hingga sampai pada faktor tingkat pendidikan. Sehingga yang membedakan dari penelitian saya adalah, penelitian ini berfokus kepada peran sakit masyarakat terhadap keberadaan pengobatan tradisional. Bentuk peran sakit dalam melakukan pencarian pengobatan yang dianggap masyarakat dapat memenuhi harapan mereka untuk kembali sehat. Dalam penelitian ini pengobatan yang dianggap dapat menyehatkan adalah pengobatan tradisional sehingga hal inilah yang membedakan penelitian saya dengan penelitian-penelitianterdahulu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 JenisPenelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif.Pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan oleh sejumlah individu atau sekelompok orang (Suyanto & Sutinah, 2005:166).
Pendekatan kualitatif dapat menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan. Pada penelitian kualitatif, teori diartikan sebagai paradigma.Seorang peneliti dalam kegiatan penelitiannya, baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak, menerapkan paradigma tertentu sehingga peneliti menjadi terarah.Penelitian secara kualitatif biasanya terlibat secara intens dengan objek yang ditelitinya.Penelitian secara kualitatif bekerja dalam setting yang alami, yang berupaya untuk memahami, memberi tafsiran pada fenomena yang dilhat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya.
Metode penelitian secara kualitatif berusaha memahami pengalaman pribadi terhadap orang yang bersangkutan. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam mengenai ucapan, tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Pendekatan kualitatif menekankan aspek pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan.
Penelitian kualitatif secara studikasus dimaksudkan
dengan tujuan menyelidiki kegiatan atau proses kompleks yang tidak mudah dipisahkan dari konteks sosial di mana hal itu terjadi.
3.2 LokasiPenelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Aek-Kanopan Lorong VI Kabupaten Labuhanbatu Utara.Adapun alasan peneliti memilih lokasi penelitian ini dikarenakan, peneliti melihat masih banyak masyarakat berobat pada pengobatan tradisional “Opung” di tengah fasilitas kesehatan yang sudah baik di Era Modern ini.Masyarakat terlihat seakan lebih percaya dan yakin bahwa mereka dapat sehat kembali setelah berobat pada pengobatan tradisional “Opung”.
3.3 Unit Analisis DanInforman 3.3.1 UnitAnalisis
Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian. Pemahaman unit analisis adalah fungsi empriris yang tujuan penelitiannya dilakukan dengan berbagai teknik yang ada (Bungin,2014).
Unit analisis dalam penelitian biasanya juga menjadi unit observasi.Unit analisis adalah seluruh hal yang kita teliti untuk mendapatkan penjelasan ringkasan mengenai keseluruhan unit dan untuk menjelaskan berbagai perbedaan diantara unit analisis tersebut. Unit analisis suatu penelitian dapat berupa individu, kelompok, organisasi, benda, dan waktu tertentu sesuai dengan fokus permasalahannya. Penting bagi peneliti untuk menentukan unit analisisnya secara jelas dan lugas, karena terkadang ketidakjelasan unit analisis akan mengakibatkan peneliti tidak dapat
menentukan siapa atau apa yang akan diamatinya. Dalam penelitian ini, yang menjadi unit analisis penelitian adalah peran masyarakat yang menjadi pasienpengobatantradisional dan pengobat tradisional itu sendiri yang berada di Lorong VI Aek- kanopan.
3.3.2 Informan
Informan dalam penelitian kualitatif adalah subyek penelitian yang dapat memberikan informasi mengenai fenomena atau permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Informan merupakan subjek yang memahami permasalahan penelitian (Bungin,2014). Dalam penelitian ini, terdapat dua jenis informan yakni informan kunci dan informan tambahan. Adapun informan kunci adalah informan yang memiliki informasi secara menyeluruh tentang permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti.
Sedangkan informan tambahan adalah adalah orang yang dapat memberikan informasi tambahan sebagai pelengkap analisis dan pembahasan dalam penelitian kualitatif. Penentuan informan didasarkan pada kriteria berikut ini:
1. Masyarakat Aek-kanopan yang pernah menjadi pasien pengobatan tradisional“Opung”.
2. Pengobat tradisional yang tinggal di Lorong VIAek-Kanopan.
3. Masyarakat yang pernah berobat ke rumah sakit kemudian beralih kepada pengobatan tradisional“Opung”.
Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah
masyarakatyang pernah berobat ke rumah sakit kemudian beralih kepada pengobatan tradisional. Sedangkan yang menjadi informan tambahannya adalahpengobattradisional yang biasa dipanggil warga dengan sebutan “opung”
dalam penelitian ini yang diwawancarai setelah informan kunci, agar menjadi bahan konfirmasi jawaban dari informan kunci.
Dalam pemilihan informan, peneliti menggunakan prosedur
Dalam pemilihan informan, peneliti menggunakan prosedur