BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. HASIL PENELITIAN
IV.1.8. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi
Untuk mengetahui hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik digunakan uji regresi linier ganda. Dengan menggunakan uji ini terlihat bahwa fatigue memiliki koefisien yang lebih besar sehingga merupakan variabel yang paling berperan terhadap kualitas hidup pada penderita nyeri kepala
kronik, namun fatigue menunjukkan hubungan negatif yang tidak signikan dengan kualitas hidup dengan kekuatan korelasi sedang (B= -3,639, p=0,100)
Tabel 11. Hubungan antara Fatigue, Nyeri dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Model Koefisien B Koefisien Korelasi p
1 (Constant) Uji Regresi Linier Ganda
Universitas Sumatera Utara
IV.1.9. Hubungan antara Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara fatigue dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,294, p=0,065) (Tabel 10).
Tabel 12. Hubungan antara Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Fatigue
r
p n
-0,294 0,065
40
Uji Korelasi Spearman
IV.1.10. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara nyeri dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi lemah (r=-0,222, p=0,169) (Tabel 11).
Universitas Sumatera Utara
Tabel 13. Hubungan antara Nyeri dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Nyeri r
p n
-0,222 0,169
40
Uji korelasi Spearman
IV.1.11 Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Hasil analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita nyeri kepala kronik dengan nilai kekuatan korelasi sangat lemah (r=-0,154, p=0,344) (Tabel 12).
Tabel 14. Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Penderita Nyeri Kepala Kronik
Kualitas Hidup
Depresi r
p n
-0,154 0,344
40
Uji korelasi Spearman
Universitas Sumatera Utara
IV.2 PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan tujuan untuk melihat hubungan antara fatigue, nyeri dan depresi dengan kualitas hidup pada penderita paska stroke dan nyeri kepala kronik.
Pada penelitian ini subjek penderita paska stroke di anamnese, dilakukan pemeriksaan fisik serta telah dilakukan CT Scan kepala dan subjek dengan nyeri kepala dianamnesa sesuai pertanyaan pada kriteria diagnostik berdasarkan Konsensus Nasional IV PERDOSSI 2013 untuk mendiagnosa jenis nyeri kepala kronik. Kemudian setiap subjek dinilai nilai fatigue dengan menggunakan kuesioner FSS, nilai nyeri dengan menggunakan kuesioner NRS dan nilai depressi dengan menggunakan kuesioner BDI II kemudian dinilai kualitas hidupnya dengan menggunakan kuesioner HRQOL BREF. Pengambilan sampel dilakukan oleh dokter pemeriksa.
IV.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian pada Penderita Paska Stroke
Jumlah keseluruhan subjek penelitian pada penderita paska stroke adalah 80 orang, dengan jumlah laki-laki 48 orang (60,0%) lebih banyak dari perempuan 32 orang (40,0%). Pada penelitian Onabajo GV dkk (2014) didapati subjek penelitian terbanyak adalah juga laki-laki sebanyak 66 orang (66,0%) lebih banyak dari perempuan 34 orang (34%) dan penelitian yang dilakukan oleh Visser MM dkk (2014) didapati subjek penelitian terbanyak juga adalah laki-laki (56,0%) sedangkan perempuan adalah (44,0%).
Universitas Sumatera Utara
Tabel 15. Karakteristik Stroke berdasarkan Jenis Kelamin
Penelitian Tahun Hasil
Onabajo GV dkk 2014 Subjek penelitian terbanyak adalah laki-laki sebanyak 66 orang (66,0%) lebih banyak dari perempuan 34 orang (34%).
Visser MM dkk 2014 subje Subjek penelitian terbanyak juga adalah laki-laki (56,0%) sedangkan perempuan adalah (44,0%).
Penelitian ini 2016 Jumlah keseluruhan subjek penelitian pada penderita paska stroke adalah 80 orang, jumlah laki-laki 48 orang (60,0%) lebih banyak dari perempuan 32 orang (40,0%).
Rerata umur keseluruhan subjek pada penelitian ini adalah 57,64 ± 8,09 tahun, dimana rerata umur untuk penderita stroke iskemik adalah 58,27 ± 8,32 tahun dan rerata umur untuk penderita stroke hemoragik adalah 55, 86 ± 7, 28 tahun. Pada penelitian yang dilakukan oleh Haacke C dkk (2006) ditemukan rerata umur pada stroke iskemik adalah 70,6 ± 7,9 tahun, sedangkan pada stroke hemoragik 73,9 ± 8,6 tahun. Pada penelitian yang dilakukan Onabajo GV dkk (2014) diperoleh rerata umur untuk penderita paska stroke adalah 55,32 ± 13,9 tahun.
Tabel 16. Karakteristik Stroke berdasarkan Umur
Penelitian Tahun Hasil
Haacke C dkk 2006 Rerata umur pada stroke iskemik adalah 70,6 ± 7,9 tahun, sedangkan pada stroke hemoragik 73,9 ± 8,6 tahun.
Onabajo GV dkk 2014 rerata Rerata umur untuk penderita paska stroke adalah 55,32 ± 13,9 tahun.
Penelitian ini 2016 Rerata umur keseluruhan subjek ini adalah 57,64 ± 8,09 tahun, rerata umur untuk penderita stroke iskemik adalah 58,27 ± 8,32 tahun dan rerata umur untuk penderita stroke hemoragik adalah 55, 86 ± 7, 28 tahun.
Universitas Sumatera Utara
Pada penelitian ini pendidikan yang terbanyak adalah SLTA yaitu 29 orang (36,3%). Pada penderita stroke iskemik terdapat 19 orang (32,2%) yang berpendidikan SLTA. Sedangkan pada penderita stroke hemoragik terdapat 10 orang (47,6%) yang memiliki pendidikan SLTA. Pada penelitian Froes KS dkk (2011) pendidikan yang terbanyak pada subjek penderita paska stroke adalah yang berpendidikan 9 tahun yaitu sebanyak 37 orang (57,8%). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Onabajo GV dkk (2014) ditemukan subjek penderita stroke yang paling banyak adalah yang berpendidikan 13 tahun sebanyak 35 orang (35%).
Pada penelitian ini didapati bahwa subjek penelitian yang mengalami fatigue adalah 24 orang (30,0%). Pada penderita stroke iskemik terdapat 18 orang (30,5%) yang mengalami fatigue. Sedangkan pada penderita stroke hemoragik terdapat 6 orang (28,6%) yang mengalami fatigue. Menurut penelitian Christensen D dkk (2008) dikatakan bahwa fatigue adalah merupakan keluhan yang sering terjadi pada penderita stroke, dilaporkan terdapat fatigue pada 40-74% pada pasien paska stroke. Pada penelitian yang dilakukan oleh Naess H dkk (2012) dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 40%
pasien mengalami fatigue.
Tabel 17. Fatigue pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Christensen D 2008 Terdapat fatigue pada 40-74% pada pasien paska stroke.
Naess H dkk 2012 rerata Dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 40% pasien mengalami fatigue
Penelitian ini 2016 Subjek penelitian yang mengalami fatigue 24 orang (30,0%), stroke iskemik terdapat 18 orang (30,5%) yang mengalami fatigue. Sedangkan stroke hemoragik terdapat 6 orang (28,6%) yang
Universitas Sumatera Utara
mengalami fatigue.
Pada penelitian ini dari keseluruhan subjek penelitian didapati nyeri ringan 26 orang (32,5%), nyeri sedang 14 orang (17,5%) dan yang tidak nyeri dijumpai paling banyak yaitu 40 orang (50,0%). Pada penderita stroke iskemik ditemukan nyeri ringan 17 orang (28,8%) dan nyeri sedang 10 orang (16,9%).
Sedangkan pada penderita stroke hemoragik ditemukan nyeri ringan 9 orang (42,9%), nyeri sedang 4 orang (19,0%). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Naess H dkk (2012) dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 20%-40% pasien mengalami nyeri. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Lundstrom dkk (2009) prevalensi nyeri yang terjadi setelah stroke bervariasi antara 19% dan &74%.
Tabel 18. Nyeri pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Naess H dkk 2012 Dari 328 orang penderita stroke iskemik ditemukan bahwa 20%-40% pasien mengalami nyeri.
Lundstrom dkk 2009 rerata Prevalensi nyeri yang terjadi setelah stroke bervariasi antara 19% dan &74%.
Penelitian ini 2016 Pada penderita stroke iskemik ditemukan nyeri ringan 17 orang (28,8%),nyeri sedang 10 orang (16,9%). Sedangkan pada penderita stroke hemoragik ditemukan nyeri ringan 9 orang (42,9%), nyeri sedang 4 orang (19,0%)
Pada penelitian ini dari keseluruhan subjek penelitian didapati yang paling banyak adalah yang tidak depresi yaitu sebanyak 44 orang (55,0%), depresi ringan 31 orang (38,8,%) dan depresi sedang pada 5 orang (6,0%). Pada penderita stroke iskemik didapati depresi ringan 23 orang (39,0%) dan depresi sedang berjumlah 4 orang (6,8%) sedangkan pada penderita stroke hemoragik didapati depresi ringan 8 orang (38,1%) dan depresi sedang 1 orang (4,8%).
Universitas Sumatera Utara
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Froes KS dkk (2011) terhadap penderita paska stroke, ditemukan bahwa yang paling banyak adalah yang tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 60% dan yang mengalami depresi ringan pada 21,8% subjek penelitian, depresi sedang pada 12,7% subjek penelitian dan depresi berat ditemukan pada 5,5% subjek penelitian. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Altindag O dkk (2008) pada penderita paska stroke ditemukan bahwa yang paling banyak adalah yang mengalami depresi berat yaitu sebanyak 48,7%, depresi ringan pada 12,2% subjek penelitian dan depresi sedang sebanyak 36,6%.
Tabel 19. Depresi pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Froes KS dkk 2011 Depresi ringan pada 21,8% subjek penelitian, depresi sedang pada 12,7% dan depresi berat pada 5,5% subjek penelitian.
Altindag O dkk 2008 Paling banyak ditemukan pada pebderita paska stroke adalah yang depresi berat yaitu sebanyak 48,7%, depresi ringan 12,2% dan depresi sedang 36,6%
Penelitian ini 2016 Pada stroke iskemik didapati depresi ringan 23 orang (39,0%) , depresi sedang 4 orang (6,8%) dan pada penderita stroke hemoragik didapati depresi ringan 8 orang (38,1%), depresi sedang 1 orang (4,8%).
Pada penelitian ini nilai rerata kualitas hidup pada seluruh subjek penelitian adalah 58,88 ± 10,95, dengan nilai rerata kualitas hidup pada stroke iskemik adalah 59,10 ± 11,27 sedangkan pada stroke hemoragik nilai rerata kualitas hidup 58,24 ± 10,23. Pada penelitian Lima ML dkk (2009) ditemukan nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 63,38 ± 3,09. Pada penelitian yang dilakukan oleh Onabajo GV dkk (2014) ditemukan rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 57,92 ±14, 58.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 20. Rerata Kualitas Hidup pada Penderita Paska Stroke
Penelitian Tahun Hasil
Lima ML dkk 2009 Nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 63,38 ± 3,09.
Onabajo GV dkk 2014
rerata Nilai rerata kualitas hidup pada penderita paska stroke adalah 57,92 ±14, 58.
Penelitian ini 2016 Nilai rerata kualitas hidup pada seluruh subjek penelitian adalah 58,88 ± 10,95.